Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Spiritualitas dan Kebijaksanaan dalam Puisi Rumi Love Poems, Ilustration dan Sadi Bustan dan Gulistan: Cinta Illahi, Moralitas dan Makna Hidup Mawaddah, Luthfiyya Fariha; Nurholis Nurholis; Azzahra, Bunga Aulia; Supriatin, D Allya Putri
Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa Vol. 4 No. 3 (2025): Desember : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurribah.v4i3.6271

Abstract

Divine love is the ultimate goal of human life and occupies the highest maqam in the spiritual journey. This love begins from self-love that grows because it always remembers the Creator (Allah), then dissolves in dhikr and deep spiritual contemplation, until a person begins to let go of his attachment to the world and prefers closeness to Allah. Love for Allah is a deep mental condition, in which the beloved (human) is willing to open the veil of his ego in order to welcome the presence of the true Lover (Allah). In this context, Jalaluddin Rumi's thinking is particularly relevant, especially when viewed philosophically as to how Divine love becomes possible to grow in a person. It can also be seen as an answer to the disruptive attempts of Western thought that tend to separate spirituality and human existence. Morality is a principle that is closely related to good and bad in human behavior. Human actions are inseparable from moral judgment, whether they are right or wrong, good or bad. Humans as spiritual beings have an awareness of the meaning and purpose of life, different from other beings who, although intelligent, do not have an existential dimension and transcendent consciousness. This awareness is the basis for the emergence of moral responsibility and the search for the true meaning of life. 
EKSOTISME DAN IDENTITAS ISLAM DALAM SASTRA KONTEMPORER INDIA DAN PAKISTAN Risma Fadilla; Silva Saputri; Nurholis Nurholis
Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa Vol. 5 No. 4 (2024): Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6734/argopuro.v5i4.8884

Abstract

Abstract Exoticism is an important concept in literature, especially in works that depict cultures foreign to their readers. This article explores exoticism in three literary works set in India and Pakistan: The Holy Woman and Typhoon by Qaisra Shahraz, as well as Taj Mahal by John Shors and Taj by Timeri N. Murari. Through a comparative approach, this article analyzes how exoticism functions not only as an aesthetic appeal, but also as a tool to critique social norms. Qaisra Shahraz utilizes exoticism to highlight the injustice of patriarchy in Pakistan, while John Shors and Timeri N. Murari use the historical and architectural exoticism of the Taj Mahal to present a romantic and intriguing narrative. The results of this study show that exoticism in literature can enrich the understanding of other cultures, as well as being an effective medium for social criticism. Keywords: exoticism, literature, India, Pakistan, patriarchy, Taj Mahal. Abstrak Eksotisme adalah konsep penting dalam sastra, terutama dalam karya yang menggambarkan budaya asing bagi pembacanya. Artikel ini mengeksplorasi eksotisme dalam tiga karya sastra yang berlatar India dan Pakistan: The Holy Woman dan Typhoon oleh Qaisra Shahraz, serta Taj Mahal oleh John Shors dan Taj oleh Timeri N. Murari. Melalui pendekatan komparatif, artikel ini menganalisis bagaimana eksotisme tidak hanya berfungsi sebagai daya tarik estetis, tetapi juga sebagai alat untuk mengkritik norma sosial. Qaisra Shahraz memanfaatkan eksotisme untuk menyoroti ketidakadilan patriarki di Pakistan, sementara John Shors dan Timeri N. Murari menggunakan eksotisme sejarah dan arsitektur Taj Mahal untuk menyajikan narasi romantis dan penuh intrik. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa eksotisme dalam karya sastra dapat memperkaya pemahaman tentang budaya lain, sekaligus menjadi media kritik sosial yang efektif. Kata kunci: eksotisme, sastra, India, Pakistan, patriarki, Taj Mahal.
BENTUK DAN STRUKTUR NOVEL 1984 KARYA ORWELL, G. Dhivia Purnama Arsiladeva; Syahla Fatia Zahra; Nurholis Nurholis
Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa Vol. 5 No. 4 (2024): Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6734/argopuro.v5i4.8887

Abstract

Abstract This research explains the forms and structures in the novel 1984 by George Orwell. The novel presents a dystopian tale set against the backdrop of a totalitarian regime, where the Communist Party, led by Big Brother, exercises strict control over every aspect of society. The story centers on Winston Smith, a low-ranking Party member who works at the Ministry of Truth, where he is tasked with altering historical records to support the Party's narrative. Feeling oppressed by pervasive surveillance and relentless propaganda, Winston secretly rebels by seeking truth and individual freedom. In his quest, he forms a forbidden relationship with Julia, a fellow Party member, and together they savor moments of intimacy and resistance. However, their rebellion is ultimately crushed by the Party's machinery of control. Winston is captured, tortured, and reprogrammed to fully align with the Party's ideology. The novel explores themes of power, identity, and the malleability of truth while highlighting the dangers of surveillance, language manipulation, and the loss of personal autonomy. Through its grim portrayal of a world devoid of individuality and freedom, 1984 serves as a profound warning against totalitarianism and the consequences of unchecked power. Keywords: form, structure, 1984, George Orwell, dystopia, totalitarianism, Big Brother, strict control, Winston Smith, Ministry of Truth. Abstract Penelitian ini berisi tentang penjelasan bentuk dan struktur dalam novel 1984 karya George Orwell. Novel ini berisi tentang sebuah kisah distopia yang berlatar belakang rezim totaliter, dimana Partai Komunis yang dipimpin oleh Big Brother melakukan kontrol ketat terhadap setiap aspek kehidupan masyarakat. Cerita ini berfokus pada Winston Smith, seorang anggota Partai dengan pangkat rendah yang bekerja di Kementerian Kebenaran, di mana dia bertugas mengubah catatan sejarah untuk mendukung narasi Partai. Merasa tertekan oleh pengawasan yang mengikat dan propaganda yang tiada henti, Winston secara diam-diam memberontak dengan mencari kebenaran dan kebebasan individu. Dalam upayanya, dia menjalin hubungan terlarang dengan Julia, sesama anggota Partai, dan mereka menikmati momen-momen keintiman dan perlawanan. Namun, pemberontakan mereka pada akhirnya dihancurkan oleh mesin kontrol Partai. Winston ditangkap, disiksa, dan diprogram ulang agar sepenuhnya sesuai dengan ideologi Partai. Novel ini menyelidiki tema kekuasaan, identitas, dan fleksibilitas kebenaran, serta menyoroti bahaya pengawasan, manipulasi bahasa, dan hilangnya otonomi pribadi. Melalui gambaran suram tentang dunia yang kehilangan individualitas dan kebebasan, 1984 menjadi peringatan yang mendalam terhadap totalitarianisme dan konsekuensi dari kekuasaan yang tidak terkendali. Keywords: bentuk, struktur, 1984, George Orwell, distopia, totalitarianisme, Big Brother, kontrol ketat, Winston Smith, kementerian kebenaran.
IRONI DALAM NOVEL ANIMAL FARM KARYA GEORGE ORWELL Ainan Salsabila; Gibran Hidayaturahman; Laila Qadera Fitria; Salwa Rismilillah Akmalia; Nurholis Nurholis
Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa Vol. 5 No. 4 (2024): Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6734/argopuro.v5i4.8916

Abstract

Abstract This study discusses the use of irony in George Orwell's novel Animal Farm as a tool for social and political criticism of totalitarianism. In this work, irony appears in various forms, including verbal, situational, and dramatic irony, reflecting the betrayal of revolutionary ideals and the corruption of power. Orwell uses irony to expose the injustice and manipulation carried out by the ruling elite, while also demonstrating how the equality promised at the start of the revolution turns into even harsher oppression. Through in-depth analysis, this study highlights the function of irony as a means of delivering criticism of authoritarian political systems. The findings show that irony in Animal Farm not only creates layers of complex meaning, but also serves as a mirror of the social and political realities of society. Thus, this study affirms the relevance of irony as an effective literary tool in critiquing oppressive forms of power and showing their impact on the social order. Additionally, the irony in Animal Farm helps readers understand how propaganda is used to strengthen absolute power. Keywords: Irony, Social Criticism, Totalitarianism, Animal Farm, George Orwell Abstrak Penelitian ini membahas penggunaan ironi dalam novel Animal Farm karya George Orwell sebagai alat kritik sosial dan politik terhadap totalitarianisme. Dalam karya ini, ironi muncul dalam berbagai bentuk, termasuk ironi verbal, situasional, dan dramatis, yang mencerminkan pengkhianatan terhadap cita-cita revolusioner dan korupsi kekuasaan. Orwell memanfaatkan ironi untuk mengungkap ketidakadilan dan manipulasi yang dilakukan oleh elit penguasa, sekaligus menunjukkan bagaimana kesetaraan yang dijanjikan di awal revolusi berubah menjadi penindasan yang lebih kejam.​ ​​​​Melalui analisis mendalam, penelitian ini menyoroti fungsi ironi sebagai sarana menyampaikan kritik terhadap sistem politik otoriter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ironi dalam Animal Farm tidak hanya menciptakan lapisan makna yang kompleks, tetapi juga berfungsi sebagai cermin bagi realitas sosial dan politik di masyarakat. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan relevansi ironi sebagai alat sastra yang efektif dalam mengkritisi bentuk-bentuk kekuasaan yang menindas dan menunjukkan dampaknya terhadap tatanan sosial. Selain itu, ironi dalam Animal Farm juga membantu pembaca memahami bagaimana propaganda digunakan untuk memperkuat kekuasaan absolut. Kata Kunci: Ironi, Kritik Sosial, Totalitarianisme Animal Farm, George Orwell
ISU GENDER DAN SEKSUALITAS DALAM 3 KARYA NOVEL: BAYANG-BAYANG HITAM, MINARET, PEREMPUAN DI TITIK NOL Raga Riswanda; Rhaka Alfian. N; Sinsin Sintya; Ramadha Abuzar Pratama; Rinda Revanita; Nurholis Nurholis
Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa Vol. 5 No. 4 (2024): Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6734/argopuro.v5i4.8924

Abstract

Abstract Gender and sexuality are evolving societal themes, often sparking debates in politics, culture, and health. Gender, shaped by social and cultural norms, differs from biological sex, which categorizes individuals as male or female at birth (Ashaf, 2009). This research explores gender and sexuality through three novels: Bayang-Bayang Hitam by Najib Kaylani, Perempuan di Titik Nol by Nawal El-Saadawi, and Minaret by Layla Abou Layla. Using a qualitative approach, it compares how these works address these issues and their societal impact. By analyzing these themes from diverse perspectives, the study aims to promote equality, raise awareness, and advocate for fair treatment for all, regardless of gender or sexual orientation. Keywords: Literary Works, Novel, Feminism, Gender and Sexuality Abstrak Gender dan seksualitas adalah tema yang terus berkembang dalam masyarakat, sering memicu perdebatan di bidang politik, budaya, dan kesehatan. Gender, yang dibentuk oleh norma sosial dan budaya, berbeda dari jenis kelamin biologis yang mengkategorikan individu sebagai laki-laki atau perempuan sejak lahir (Ashaf, 2009). Penelitian ini membahas gender dan seksualitas melalui tiga novel: Bayang-Bayang Hitam karya Najib Kaylani, Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi, dan Minaret karya Layla Abou Layla. Dengan pendekatan kualitatif, artikel ini membandingkan bagaimana isu-isu tersebut diangkat dalam karya-karya tersebut dan dampaknya terhadap masyarakat. Melalui analisis dari berbagai perspektif, studi ini bertujuan mendorong kesetaraan, meningkatkan kesadaran, dan memperjuangkan perlakuan yang adil bagi semua individu tanpa memandang gender atau orientasi seksual. Kata Kunci: Karya Sastra, Novel, Feminisme, Gender dan Seksualitas
SIMBOL, METAFORA, ALUSI, DAN PARALELISME DALAM NOVEL FRANKENSTEIN KARYA MARY SHELLEY Andhini Aulia Pratiwi; Fathimah Az Zahro; Rizal Nazarudin Firdaus; Nurholis Nurholis
Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa Vol. 5 No. 4 (2024): Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6734/argopuro.v5i4.8938

Abstract

Abstract This article examines the analysis of symbols, metaphors, allusions, and parallelism in Mary Shelley’s novel Frankenstein, a Gothic tale depicting the ambition of a young scientist, Victor Frankenstein, to create life through scientific experimentation. The novel not only explores themes of scientific ethics and the consequences of human actions but also delves into fear, loneliness, and the impact of neglecting responsibility toward creation. This study provides insights into narrative style, Gothic elements, and the novel’s modern relevance, especially regarding technological ethics issues such as artificial intelligence and genetic engineering. Keywords: symbols, metaphors, allusions, parallelism, scientific ethics, Frankenstein. Abstrak Artikel ini membahas analisis simbol, metafora, alusi, dan paralelisme dalam novel Frankenstein karya Mary Shelley, sebuah cerita gotik yang menggambarkan ambisi ilmuwan muda, Victor Frankenstein, dalam menciptakan kehidupan melalui eksperimen ilmiah. Novel ini tidak hanya mengangkat tema-tema etika ilmiah dan konsekuensi dari tindakan manusia, tetapi juga menggambarkan ketakutan, kesepian, serta dampak dari kurangnya tanggung jawab terhadap ciptaan. Kajian ini memberikan wawasan tentang gaya naratif, unsur gotik, serta relevansi novel dalam konteks modern, khususnya terkait isu etika teknologi seperti kecerdasan buatan dan rekayasa genetik. Kata Kunci: simbol, metafora, alusi, paralelisme, etika ilmiah, Frankenstein
KEBIMBANGAN IDENTITAS DALAM SASTRA MUSLIM TURKI DAN IMIGRAN DI EROPA DAN AMERIKA DALAM KARYA MY NAME IS RED OLEH ORHAN PAMUK, LIRIK DARI MUSIK SAMI YUSUF, DAN THE TRANSLATION OF THE QUR'AN OLEH YUSUF ALI Rahma Safira; Ridho Nurfadhilah; Nurholis Nurholis
Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa Vol. 5 No. 5 (2024): Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6734/argopuro.v5i4.8939

Abstract

Abstract This paper explores the identity confusion experienced by Muslim communities, particularly from Turkey and Muslim immigrants in Europe and America, as reflected in their literature and art. The identity of the Muslim diaspora often stands at the crossroads between Islamic tradition and secular Western modernity. Through the analysis of works such as My Name Is Red by Orhan Pamuk, the lyrics of Sami Yusuf's music, and the translation of the Qur'an by Yusuf Ali, this study delves into how Muslim artists articulate their identity struggles in their works. A sociological literature approach is used to examine how social and political dynamics shape the identity formation of the Muslim diaspora. Keywords: Literature, Identity, Muslim Literature, immigrants Abstrak Jurnal ini mengeksplorasi kebimbangan identitas yang dialami oleh komunitas Muslim, khususnya dari Turki dan imigran Muslim di Eropa dan Amerika, yang tercermin dalam karya sastra dan seni. Identitas diaspora Muslim sering kali berada di persimpangan antara tradisi Islam dan modernitas Barat yang sekuler. Melalui analisis karya seperti "My Name Is Red" karya Orhan Pamuk, lirik musik Sami Yusuf, dan terjemahan Al-Qur'an oleh Yusuf Ali, penelitian ini menggali bagaimana para seniman Muslim mengartikulasikan kebimbangan identitas dalam karya mereka. Pendekatan sosiologi sastra digunakan untuk mengkaji bagaimana dinamika sosial dan politik memengaruhi pembentukan identitas Muslim diaspora. Kata Kunci: Karya Sastra , Identitas , Sastra Muslim, Imigran
NARRATIVE STRUCTURE AND NARRATIVE TRUTH OF THE ADVENTURES OF HUCKLEBERRY FIN BY MARK TWAIN Andini Khairunisa Sulaiman; Reza Juliansa; Shifa Achmadah Syauqi; Nurholis Nurholis
Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa Vol. 5 No. 5 (2024): Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak The Adventures of Huckleberry Finn karya Mark Twain (2010, Collins Classics) adalah novel yang menggambarkan perjalanan seorang anak muda bernama Huck Finn bersama seorang budak pelarian bernama Jim di sepanjang Sungai Mississippi. Melalui sudut pandang Huck, Twain mengeksplorasi tema-tema penting seperti kebebasan, perbudakan, dan moralitas dalam konteks masyarakat Amerika sebelum Perang Saudara. Narasi picaresque yang mengikuti berbagai petualangan mereka mencakup aspek kehidupan sosial, budaya, dan politik pada masa itu. Novel ini juga mengupas konflik batin yang dihadapi Huck ketika harus membuat keputusan moral antara mengikuti kata hatinya atau mematuhi norma-norma sosial yang merendahkan Jim sebagai budak. Twain menggabungkan humor, kritik sosial, dan bahasa daerah untuk menyampaikan pesan yang kuat tentang kemanusiaan dan keadilan. Karya ini diakui sebagai salah satu karya penting dalam sastra Amerika berkat narasinya yang bermakna dan relevansi moral yang abadi. Kata Kunci : kebebasan, perbudakan, moralitas, Mark Twain, The adventure of Huckleberry Finn
POLITIK DAN ISU EKONOMI, GENDER, KELAS, DAN RAS DALAM NOVEL 1984 KARYA GEORGE ORWELL Riffa Taufik Hidayatullah; Sara Samrotul Atkia; Nurholis Nurholis
Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa Vol. 5 No. 5 (2024): Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6734/argopuro.v5i5.9120

Abstract

Abstrak Novel "1984" karya George Orwell menyajikan gambaran mencekam tentang masyarakat totaliter yang dikendalikan oleh Partai. Karya ini mengeksplorasi bagaimana rezim memanipulasi aspek politik, ekonomi, gender, kelas, dan ras untuk menjaga kekuasaan mereka. Dengan analisis yang mendalam terhadap karakter, alur cerita, dan simbolisme, makalah ini bertujuan untuk mengungkap mekanisme kontrol sosial yang diterapkan oleh Partai dan pengaruhnya terhadap individu dalam masyarakat. Kata Kunci: Politik dan Isu Ekonomi, Gender, Kelas, dan Ras
IRONI DALAM NOVEL FRANKENSTEIN KARYA MARY SHELLEY Alisha Mulya Wardhani; Laela Tusa’adah; Safira Aulia; Nurholis Nurholis
Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa Vol. 5 No. 6 (2024): Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6734/argopuro.v5i5.9121

Abstract

Abstract Frankenstein karya Mary Shelley merupakan sebuah eksplorasi ambisi manusia dan konsekuensinya. Penelitian ini berfokus pada analisis ironi yang dialami oleh karakter-karakter utama dalam novel, terutama Victor Frankenstein dan makhluk ciptaannya. Dengan menggunakan teori sastra, penelitian ini akan mengungkap bagaimana ironi membentuk karakteristik, motivasi, dan nasib para tokoh. Selain itu, penelitian ini juga akan membahas bagaimana ironi menjadi alat bagi Shelley untuk mengkritik pandangan masyarakat pada zamannya tentang ilmu pengetahuan dan penciptaan. Kata kunci: Ironi , Penciptaan ,frankenstein,mary shelley. Kata kunci: Ironi ,Perkembangan Karakter, Monster,frankenstein,mary shelley.