Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Formulasi Krim Lindung Surya Ekstrak Buah Papaya (Caricaa papaya L.) dengan Variasi Konsentrasi Trietanolamin Terhadap Nilai SPF (Sun Protection Factor) Silva, Elfanesya; Rahmawati, Riana Putri; Sukoharjanti, Bintari Tri
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19022

Abstract

Indonesia menjadi salah satu negara dengan paparan sinar matahari yang tinggi dan sebagian besar penduduknya bekerja di luar ruangan sehingga memerlukan suatu perlindungan kulit. Bahan alam sebagai alternatif tabir surya adalah tanaman pepaya (Carica papaya L.). Kandungan buah pepaya sebagian besar terdiri dari air dan karbohidrat, rendah kalori serta kaya akan vitamin dan mineral alami, khususnya vitamin A dan C, asam askorbat dan kalium. Selain itu, mengandung metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antioksidan seperti flavonoid, polifenol, alkoloid, dan tannin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik sediaan dan nilai SPF krim tabir surya ekstrak buah pepaya (Carica papaya L.) pada konsentrasi 10%, 20%, dan 30%. Hasil sifat fisik sediaan krim tabir surya ekstrak buah pepaya pada formula basis, formula 1, 2, dan 3 berupa uji organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, dan daya lekat memenuhi persyaratan uji sifat fisik yang sesuai. Pada formula basis memiliki nilai SPF 2,3506 ± 0,0106 dengan kemampuan minimal sebagai tabir surya. Formula 1 memiliki nilai SPF 2,5331 ± 0,0002 dengan kemampuan minimal sebagai tabir surya berarti sesuai pada penelitian yang dilakukan oleh Yuliastuti et al., (2020). Formula 2 memiliki nilai SPF 3,7754 ± 0,0026 dengan kemampuan minimal sebagai tabir surya. Formula 3 memiliki nilai SPF 5,0815 ± 0,0041 dengan kemampuan sedang sebagai tabir surya. Kontrol positif memiliki nilai SPF 35,1657 ±0,6426 dengan kemampuan ultra sebagai tabir surya berarti tidak sesuai pada kemasan produk yang tertera dipasaran memiliki nilai SPF 50 PA++++.
Formulasi dan Evaluasi Fisik Sediaan Obat Kumur (Mouthwash) Kombinasi Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) dan Daun Sirih (Piper betle L.) sebagai Antiseptik Mulut Muntamah, Muntamah; Setyowati, Endang; Sukoharjanti, Bintari Tri
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19062

Abstract

Formulasi dan evaluasi fisik sediaan obat kumur (mouthwash) ini dibuat dari kombinasi eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan daun sirih (Piper betle). Eceng gondok kaya akan senyawa fenolik dan flavonoid yang berfungsi sebagai agen antibakteri, sedangkan daun sirih kaya akan eugenol, yang juga berfungsi sebagai antiseptik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi dan evaluasi fisik sediaan obat kumur kombinasi ekstrak eceng gondok dengan konsentrasi 5%, 15%, 30% dan daun sirih dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 30%. Penelitian ini menggunakan metode infundasi dan maserasi. Formula sediaan mouthwash kombinasi ekstrak Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) ini kemudian dilakukan pengujian mutu yang meliputi pengujian organoleptik, homogenitas, pH, kejernihan, uji viskositas dan uji tinggi busa. Hasil pengujian evaluasi fisik sediaan obat kumur untuk uji organoleptis F0 berwarna putih keruh, F1, F2, dan F3 berwarna kuning kecokelatan, berbentuk cair, dan memiliki bau khas mint. Uji homogenitas F0 tidak homogen, F1, F2, dan F3 homogen. Uji pH 6,15; 5,82; 5,71; 5.68. Uji kejernihan F0 tidak jernih, F1, F2 dan F3 jernih. Uji viskositas 6,0; 5,36; 6,2; 5,63. Uji tinggi busa 4 cm; 3 cm; 5 cm; 10 cm. Kesimpulan dari uji evaluasi fisik sediaan obat kumur kombinasi ekstrak eceng gondok dengan konsentrasi 5%, 15%, 30% dan daun sirih dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 30% dinyatakan memenuhi persyaratan yang meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, kejernihan, uji viskositas, sedangkan uji tinggi busa F0 dan F1 yang memenuhi persyaratan. Berdasarkan penelitian dari ketiga hasil sediaan obat kumur yang paling baik yaitu F1 karena memenuhi semua syarat uji evaluasi fisik.
EFEKTIVITAS SEDIAAN KRIM EKSTRAK BUNGA SEPATU (Hibiscus rosa-sinensis L) SEBAGAI PENUMBUH RAMBUT PADA KELINCI NEW ZELAND Ashfa, Sayyidati Maulia; Setyowati, Endang; Sukoharjanti, Bintari Tri
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 4 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i4.20853

Abstract

Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L) adalah tanaman banyak tumbuh di indonesia yang mengandung banyak senyawa aktif seperti Flavonoid, Saponin, dan asam amino yang sangat efektif untuk merangsang pertumbuhan rambut. Bagi wanita, rambut adalah mahkota, sedangkan bagi pria, rambut memiliki pengaruh besar terhadap kepercayaan diri. Kebotakan tetap menjadi masalah bagi setiap orang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat efektivitas tanaman bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L) sebagai penumbuh rambut pada kelinci New Zealand. Metode : penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. penelitian ini, dibuat tiga formula krim dengan konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10%. Pelarut yang digunakan yaitu etanol 70% karena memiliki tingkat kepolaran yang sedang. Penelitian ini dilakukan pada empat ekor kelinci New Zealand yang diberi perlakuan selama 21 hari untuk menguji efektivitas krim Hibiscus rosa-sinensis L dalam pertumbuhan rambut. Kemanjuran pertumbuhan rambut diuji pada hari ke-7, 14, 21 dengan mengaplikasikan krim dua kali sehari. Hasil : pengujian Karakteristik fisikokimia sediaan krim uji organoleptis F0 berwarna putih kental, F1, F2, F3 berwarna merah bata; uji Homogenitas keempat sediaan memenuhi syarat atau homogen; uji pH semua sediaan memenuhi syarat. Untuk uji Aktivitas rata rata panjang rambut kelinci (mm) diperoleh kontrol negatif 4,69 mm ; F0 6,70 mm ; F1 7,68 mm ;F3 10,75 mm ; Kontrol positif 14,69 mm. Kesimpulan : pada pengujian Efektivitas sediaan krim ekstrak bunga sepatu sebagai pertumbuhan pada rambut dengan tiga formula krim pada konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10% menunjukkan bahwa krim dengan konsentrasi yang lebih tinggi (F3) memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan panjang rambut, mencapai rata-rata 10,75 mm.
PENGARUH KONSENTRASI VARIASI BASIS CERA ALBA TERHADAP UJI EVALUASI MUTU FISIK SEDIAAN LIP BALM EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) Sukoharjanti, Bintari Tri; Murharyanti, Rika; Hasriyani, Hasriyani; Prastiwi, Oktaviani Setiya
IJF (Indonesia Jurnal Farmasi) Vol 9, No 1 (2024): IJF (Indonesia Jurnal Farmasi)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijf.v9i1.2441

Abstract

Kosmetik lip balm merupakan bahan pemakaian bagian luar tubuh  terutama pemakaian pada bibir. Lip balm terkenal melembabkan area pemakainya. Kulit buah naga merah dipakai sebagai ekstrak dan bahan aktif  inovasi bahan alam yang dapat dijadikan sediaan lip balm dengan basis cera alba berbeda. Kulit buah naga memiliki manfaat seperti flavonoid, tanin, dan alkaloid yang diketahui memiliki senyawa antioksidan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi konsentrasi basis cera alba dan evaluasi mutu fisik yang baik dengan formulasi tepat memenuhi persyaratan lip balm. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental untuk melihat basis tepat diantara ketiga formula basis konsentrasi yang dipakai 5%, 15%, 25% dengan parameter uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya lekat, uji daya sebar. Pengujian selanjutnya yaitu uji topikal dan uji iritasi pada manusia. Metode ekstraksi maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Analisis dengan SPSS 25. Hasil Formula basis cera alba variasi basis F1 5%, F2 15% dan F3 25%, ekstrak kulit buah naga 14,5%. Hasil mutu fisik menunjukkan ketiga formula berwarna coklat, khas ekstrak dan mawar, tekstur lembut, F3 bertekstur keras,  F2 semi padat, F1 mudah hancur. Uji pH F1, F2, F3 memiliki rentang stabil pH-6. Daya lekat F1, F2, F3 memenuhi persyaratan 1 detik, kecuali uji homogenitas dan daya sebar. Uji topikal pada manusia didapatkan hasil merata, pada uji iritasi tidak ada gejala apapun sehingga aman digunakan. Secara karakteristik formula-2 memenuhi persyaratan sebagai sediaan lip balm yang baik dan aman digunakan.  Kata Kunci : Cera alba, uji evaluasi mutu fisik, kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus), lip balm.
PENGARUH PEMBERIAN DOSIS EKSTRAK ETANOL DAUN MELINJO (Gnetum gnemon L.) Sukoharjanti, Bintari Tri; Sabaan, Wahid; Setyowati, Endang; Isnaini, Ratna Dewi; Anggraini, Novia Putri
IJF (Indonesia Jurnal Farmasi) Vol 8, No 1 (2023): Indonesia Jurnal Farmasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijf.v8i1.2098

Abstract

ABSTRAKDemam didefinisikan sebagai suhu maksimum untuk suhu tubuh, yaitu 36–37°C. Suhu ini dicapai saat fajar dengan badan yang turun seiring turunnya suhu tubuh sehingga timbul kemerahan pada permukaan kulit. Tanaman Melinjo mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai penghambat siklooksigenase. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan dosis ekstrak daun melinjo sekitar 100, 200, dan 300 mg, serta menggunakan mencit sebagai hewan uji. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis pemberian ekstrak etanol daun melinjo terhadap efektivitas antipiretik yang diinduksi pepton pada jantan putih. Hasil Penelitian didapatkan kontrol positif parasetamol terdapat penurunan suhu 0,6oC, dosis I ekstrak daun melinjo 100mg/KgBB terdapat penurunan suhu 0,2oC, dosis II ekstrak daun melinjo sebesar 200mg/KgBB terdapat penurunan suhu 0,4oC, dosis III ekstrak daun melinjo sebesar 300mg/KgBB terdapat penurunan suhu 0,6oC, hasil penurunan suhu kontrol positif setara dengan dosis III yaitu 0,6oC, dilanjutkan dengan uji ANOVA yang memperoleh besaran nilai signifikasi 0,05 yaitu nilai sig. 0,024. Kesimpulan, ekstrak etanol daun melinjo dapat berfungsi sebagai antipiretik pada kasus mencit putih jantan yang diobati dengan pepton; dosis paling efektif adalah 300 mg, yang dapat mengurangi infeksi saluran kemih pada tingkat yang kira-kira sama dengan parasetamol. Kata Kunci: Antipiretik, Ekstrak Etanol Daun Melinjo, Mencit Putih Jantan, Pepton.
Development of Wonosoco Village as a Fair, Healthy, and Productive Tourism Village in Kudus Regency Jauhar, Muhamad; Fanani, Zaenal; Etikasari, Ria; Maulana, Bonnix Hedy; Novitasari, Arina; Putra, M. Adib Jaharii Dwi; Pusparatri, Edita; Sukoharjanti, Bintari Tri; Nasriyah, Nasriyah; Ariyanto, Andhika; Muslim, Ahmad Suriyadi
DIKDIMAS : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2024): DIKDIMAS : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT  VOL 3 NO 1 APRIL 2024
Publisher : Asosiasi Profesi Multimedia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58723/dikdimas.v3i1.257

Abstract

The development of Wonosoco Village as a fair, healthy, and productive tourist village in Kudus Regency has the potential to provide benefits for the community and enrich the tourism industry in the area. This activity aims to understand policies, clean and healthy living behavior, and marketing strategies, and empowerment of community businesses in tourist villages. This activity was carried out in November 2023 in Wonosoco Village, Undaan District, Kudus Regency. This activity was attended by 16 people consisting of village government, health cadres, youth groups, tourism awareness groups, and religious leaders. Delivery of material uses interactive lecture and focus group discussions in 3 sessions of 30 minutes/session. The material provided includes tourism village development policies, clean and healthy living behavior in public places, marketing strategies, and empowerment of community businesses in tourist villages. Service providers carry out assessments and evaluations using questionnaires on knowledge of clean and healthy living behavior in public places and perceptions of community participation in developing tourist villages. Data analysis is interpreted descriptively. The majority of the community has good knowledge about clean and healthy living behavior in public places (87%) and a perception of community participation in developing Wonosoco Village as a Tourism Village (50%). This activity is the first step in developing a just, healthy, and productive tourist village so it requires follow-up from local stakeholders. This follow-up takes the form of assisting in the development of tourist villages, monitoring and evaluating the success of developing tourist villages that are just, healthy, and productive.
Pengaruh Biji Kopi dalam Formulasi Sabun Padat Aromaterapi sebagai Produk Perawatan Kulit Sukoharjanti, Bintari Tri; Sholikhati, Anisa; Mundiyastutik, Yayuk; Janatullaili, Anisa Luthfia
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 4 (2025)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i4.110096

Abstract

Biji kopi berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan alami dalam produk perawatan kulit karena aroma khas dan teksturnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan serbuk biji kopi (Coffea sp.) dan menentukan formulasi optimal sabun padat yang mengintegrasikan serbuk biji kopi aromaterapi berbasis minyak zaitun dan Virgin Coconut Oil (VCO). Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan tiga variasi konsentrasi serbuk biji kopi yaitu 15%, 30%, dan 45%. Evaluasi meliputi pengamatan organoleptik, homogenitas, pH, tinggi busa, hedonik. Efek aromaterapi dinilai berdasarkan kestabilan aroma dan respons sensoris selama pemakaian. Hasil menunjukkan seluruh formula memiliki mutu fisik yang baik, pH sesuai untuk sabun mandi. Seluruh formula memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI 3532:2016) untuk sabun padat, dengan nilai pH yang berada dalam rentang aman (9,0–11,0) dan homogenitas yang baik. Formula F2 (30%) menghasilkan kinerja optimal. Aroma kopi tetap stabil dan memberikan sensasi nyaman bagi pengguna. Dapat disimpulkan bahwa sabun padat aromaterapi berbahan biji kopi aman digunakan dan berpotensi dikembangkan sebagai produk perawatan kulit berbasis bahan alami. Disimpulkan bahwa konsentrasi biji kopi F2 (30%) adalah titik keseimbangan terbaik untuk menghasilkan sabun aromaterapi yang berkualitas, aman, dan dapat diterima secara sensoris.
REVIEW OF PHARMACOLOGY ACTIVITY JOURNAL CLABET SEEDS (Trigonella foenum graceum L) Sukoharjanti, Bintari Tri; Widodo, Gunawan Pamudji; Purwidyaningrum, Ika Ika
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i1.116310

Abstract

Biji klabet nama latin Trigonella foenum graecum L. Tanaman yang telah banyak diteliti mengenai manfaat dalam bagian tumbuhannya, terutama bagian biji. Tinjauan ini bertujuan memberikan informasi data ilmiah berbagai aktivitas farmakologi. Metode yang digunakan adalah literature review untuk mengetahui aktivitas farmakologi biji klabet dengan menggunakan tinjauan pustaka (literature review) Kriteria inklusi-eksklusi, search engine dan kata kunci juga ditetapkan sehingga diperoleh hasil studi yang relevan. Pada tinjauan ini data primer dikumpulkan dengan secara online, berupa jurnal nasional maupun jurnal internasional.Hasil kajian yang didapatkan dari beberapa jurnal dan sumber lainnya dapat diungkap potensi biji klabet memiliki kandungan senyawa kimia yang terdapat didalam biji klabet antara lain kuersetin (flavonoid), 4-dihidroksiisoleusin (asam amino), trigonillin (alkaloid), diosgenin (saponin). Biji klabet bisa dimanfaatkan sebagai obat herbal, juga memiliki aktivitas sebagai antidiabetes, antioksidan, antiinflamasi, antikanker, dan antibakteri. Kata kunci: Trigonella foenum graecum L, Aktivitas Farmakologi, Review