Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

NILAI PENDIDIKAN SOSIAL DAN SOLIDARITAS SOSIAL PADA TRADISI PONAN (STUDI DI DESA POTO DAN BERARE KECAMATAN MOYO HILIR KABUPATEN SUMBAWA) Merdita, Rita; Syafruddin; Suud
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 04 (2024): Volume 09, Nomor 04, Desember 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i04.19539

Abstract

This research aims to identify and analyze the value of social education and the value of social solidarity in the Ponan tradition in Poto and Berare Villages, Moyo Hilir District, Sumbawa Regency. This study uses a qualitative approach using ethnographic methods. The types of data used are primary data and secondary data. Data is collected through observation, interviews, documentation, and data is analyzed by means of data reduction, data presentation, and conclusion drawn. The results of this study show that activities in the Ponan tradition have several stages, namely the initial stage such as conducting a meeting to determine the Ponan day and the formation of the Ponan executive committee, making snacks, and preparing the event venue, the implementation stage of the women bringing snacks to the location of Ponan, remarks, chanting prayers, tahlil, tahmid, dhikr and prayers together asking for the salvation of the hereafter and rice plants to avoid disease. the distribution of snacks and eating snacks together, the closing stage of giving rice medicine from Ponan snack leaf waste in the rice fields around the Ponan location and the hospitality of the residents. The Ponan tradition in Poto and Berare Villages has social education values, namely: 1) service, namely community use garden and rice field products as a form of gratitude to Allah. 2) Please help, namely relatives help provide ingredients to make snacks. Family, namely the attendees followed the hospitality of the residents and when they returned home, they were given Ponan snacks. 4) Kettian is praying together. The value of social solidarity in the Ponan tradition is related to mechanical solidarity according to Emile Durkheim, namely: 1) strong collective awareness, namely mutual cooperation at the Ponan location. 2) the normative pattern is to conduct deliberations on the determination of the day of Ponan. 3) low individuality, namely mothers help receive trays and pack snacks.
PENERAPAN METODE ACTIVE LEARNING TIPE TEAM QUIZ BERBANTUAN APLIKASI KAHOOT DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI IPS 3 DI SMA NEGERI 1 NARMADA Erik, Septi Hariadi; Ni Made Novi Suryanti; Suud; Masyhuri
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 04 (2024): Volume 09, No. 04 Desember 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i4.19641

Abstract

This research aims to improve the learning outcomes of students in grade XI IPS 3 SMA Negeri 1 Narmada by applying a team quiz-type active learning method assisted by a kahoot application. This learning is a class action research (PTK) that lasts for 2 cycles, each cycle consists of 4 stages, namely planning, implementation, observation, and evaluation. One cycle is carried out 3 times. The results of this study can be concluded that the active learning method of team quiz type assisted by kahoot application in cycle I was implemented by 80% and in cycle II it was carried out by 100% so that there was an increase of 20%. This has an impact on the level of completeness of student learning outcomes, which was initially in the first cycle of 52.8%, increased in the second cycle to 77.8%, surpassing the performance indicator of 75% of students achieving KKTP 75. This means that the application of the team quiz type active learning learning method assisted by the kahoot application can improve student learning outcomes in class XI IPS 3 in sociology subjects at SMA NEGERI 1 Narmada.
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNINGDALAM MENGEMBANGKAN KEAKTIFAN SISWA PADA MATA PELAJARAN SOSIOLOGI DI KELAS XI IPS MA AS-SYAFI’IYAH NW TAREKAT JANAPRIA LOMBOK TENGAH Dede Alfian; Masyhuri; Suud
Journal of Social Education Sasambo Vol 2 No 01 (2024): Journal of Social Education Sasambo (SOCED SASAMBO)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Mataram - Sociology Education Program Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/socedsasambo.v2i01.5401

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui: (1) Proses implementasi model pembelajaran Problem based learning dalam mengembangkan keaktifan siswa pada mata pelajaran sosiologi di kelas XI IPS MA As-Syafi’iyah NW Tarekat Janapria Lombok Tengah; (2) Kendala guru sosiologi dalam implementasi model pembelajaran Problem based learning dalam mengembangkan keaktifan siswa pada mata pelajaran sosiologi di kelas XI IPS MA As-Syafi’iyah NW Tarekat Janapria Lombok Tengah; (3) Upaya guru sosiologi dalam mengatasi kendala dari implementasi model pembelajaran Problem based learning dalam mengembangkan keaktifan siswa pada mata pelajaran sosiologi di kelas XI IPS MA As-Syafi’iyah NW Tarekat Janapria Lombok Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi sedangan Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Hubberman. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Dalam proses implementasi model pembelajaran problem-based learning dalam pembelajaran sosiologi telah terbukti mendorong keaktifan siswa melalui diskusi kelompok, debat, presentasi, Tanya jawab, pengamatan dan pengumpulan data, serta refleksi dan evaluasi; (2). Kendala dalam implementasi model pembelajaran problem based learning dalam mengembangkan keaktifan siswa pada mata pelajaran sosiologi terdiri atas kendala internal yaitu guru sosiologi mengalami dalam menyusun RPP, menentukan metode dan media pembelajaran yang sesuai, keterbatasan waktu pembelajaran, sedangkan kendala eksternal yaitu daya tangkap siswa atau pemahamannya lambat, kurangnya minat belajar siswa dan diskusi didominasi oleh siswa tertentu: (3). Upaya guru sosiologi untuk mengatasi kendala dari implementasi model pembelajaran proble-based learning dalam mengembangkan keaktifan siswa pada mata pelajaran sosiologi terdiri dari upaya guru dari sudut pandang internal yaitu guru mengikuti pelatihan-pelatihan atau workshop yang telah diadakan baik di sekolah maupun diluar sekolah terkait dengan penyusunan RPP yang sesuai dengan model pembelajaran yang diterapkan, memaksimalkan penyampaian materi serta menetapkan batasan waktu pada saat diskusi. Sedangkan upaya guru dari sudut pandang eksternal yaitu guru berupaya terus untuk melakukan improvisasi dengan mencari metode yang bisa membangun minat atau semangat siswa salah satunya dengan ice breaking. Kata kunci: Problem based learning, Keaktifan Siswa, Mata pelajaran Sosiologi    
POLA KOMUNIKAISI KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH PEREMPUAN DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI SMAN 5 MATARAM Khaerun Nisa; Ni Made Novi Suryanti; Hairil Wadi; Suud
Journal of Social Education Sasambo Vol 3 No 02 (2025): Journal of Social Education Sasambo (SOCED SASAMBO)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Mataram - Sociology Education Program Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/socedsasambo.v3i2`.5494

Abstract

Penelitian bertujuan ini mengetahui (1) bagaimana pola kepemimpinan komunikasi kepala sekolah perempuan dalam meningkatkan kinerja guru di SMAN 5 Mataram (2) bagaimana hambatan komunikasi kepemimpinan kepala sekolah perempuan dalam meningkatkan kinerja guru di SMAN 5 Mataram (3) bagaimana upaya kepemimpinan kepala sekolah perempuan mengatasi hambatan komunikasi dalam meningkatkan kinerja guru di SMAN 5 Mataram. Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Jenis data penelitian yaitu data primer dan sekunder. Sumber data penelitian adalah subjek dan informan penelitian. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi & dokumentasi. Data dianalisis dengan teknik analisis data Miles dan Huberman dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian (1) pola komunikasi kepemimpinan kepala sekolah perempuan dalam meningkatkan kinerja guru di SMAN 5 Mataram menggunakan 3 pola yaitu pola komunikasi roda, rantai dan bintang (2) hambatan komunikasi kepemimpinan kepala sekolah perempuan dalam meningkatkan kinerja guru di SMAN 5 Mataram yaitu terjadi karena perbedaan karakter dan kepribadian serta perbedaan pendapat dan pemikiran antara guru dengan kepala sekolah , (3) upaya kepemimpinan kepala sekolah perempuan mengatasi hambatan komunikasi dalam meningkatkan kinerja guru di SMAN 5 Mataram yaitu dengan kepala sekolah menyederhanakan bahasa, adanya perasaan empati dan guru menyimak secara efektif.
MAKNA SIMBOLIK DALAM UPACARA SORONG SERAH AJI KERAME PADA PERKAWINAN ADAT SASAK DI DESA PERINA Isa Al-ansoriy; Syafruddin; Suud
Journal of Social Education Sasambo Vol 3 No 4 (2025): Journal of Social Education Sasambo (SOCED SASAMBO)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Mataram - Sociology Education Program Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/socedsasambo.v3i4.10853

Abstract

The purpose of this study was to determine the process of the sorong serah aji krame ceremony in Perina Village and to analyze the symbolic meaning of the properties contained in the process of the sorong serah aji krame ceremony in Perina Village. This study used a qualitative approach with an ethnographic study method. The research location is in Perina Village, Jonggat District, Central Lombok Regency. Primary data were obtained through non-participant observation and semi-structured interviews with research informants, while secondary data were obtained through books, articles, scientific journals, government institution profiles, and statistical data. Data analysis in this study was carried out through the stages of data reduction, data presentation, verification, and drawing conclusions. The results showed that in the sorong serah process there are three stages, namely: 1) preparation of the belongings, 2) preparing the penyorong, and 3) implementation of the sorong serah process or customary session. Furthermore, the symbolic meaning of the traditional properties used was found, including napak lemah, olen-olen, salin dede, pelengkak, otak beli, and pemegat. Suggestions based on the results of this study are: 1) for the village government, especially the village head, to better demonstrate and maintain the sustainability of existing traditional culture, and 2) the people of Perina Village are expected to continue to preserve the existing culture and develop it in their daily lives.
PENGUATAN NILAI TOLERANSI SISWA MELALUI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL PADA MATA PELAJARAN SOSIOLOGI, PENDIDIKAN PANCASILA KEWARGANEGARAAN (PPKN), DAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SMAN 1 LINGSAR Tia Septiana; Hamidsyukrie; Suud; Mashyuri
Journal of Social Education Sasambo Vol 3 No 1 (2025): Journal of Social Education Sasambo (SOCED SASAMBO)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Mataram - Sociology Education Program Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/socedsasambo.v3i1.10919

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis lebih dalam bentuk-bentuk penguatan nilai toleransi siswa melalui pendidikan multikultural pada mata pelajaran sosiologi, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN), dan Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMAN 1 Lingsar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menemukan beberapa bentuk penguatan toleransi melalui pendidikan multikultural pada ketiga mata pelajaran tersebut yaitu pertama, dengan memberikan kemerdekaan/kebebasan kepada siswa, baik kebebasan dalam berpendapat atau kebebasan dalam menentukan sebuah pilihan. Kedua, dengan mengajarkan siswa untuk mengakui hak setiap orang yang diinternalisasikan melalui materi pelajaran dan melalui perilaku keseharian siswa. Ketiga, dengan mengajarkan kepada siswa untuk selalu menghormati keyakinan orang lain, baik dalam pembelajaran di kelas maupun kegiatan di luar kelas. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa penguatan nilai toleransi siswa melalui tiga mata pelajaran tersebut dapat memberdayakan dan meningkatkan nilai toleransi siswa, seperti terciptanya sikap keterbukaan siswa, meningkatnya rasa saling memahami dan menghargai antar siswa, sehingga terciptanya anti diskriminasi atau konflik antar siswa.
POLA KEJASAMA KELOMPOK SADAR WISATA (POKDARWIS) DENGAN KELOMPOK MASYARAKAT PENGAWAS (POKMASWAS) DALAM PENGEMBANGAN EKOWISATA BALE MANGROVE DI DESA JEROWARU Yonik Oktaviani; Mashyuri; Suud; Nursaptini
Journal of Social Education Sasambo Vol 3 No 4 (2025): Journal of Social Education Sasambo (SOCED SASAMBO)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Mataram - Sociology Education Program Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/socedsasambo.v3i4.10923

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui pola kerjasama kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dengan kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) dalam pengembangan ekowisata bale mangrove di Desa Jerowaru; (2) Mengetahui kendala yang dihadapi oleh kedua kelompok dalam melakukan pengembangan ekowisata bale mangrove di Desa Jerowaru dan (3) mengetahui solusi dalam mengatasi kendala kedua kelompok dalam pengembangan ekowisata bale mangrove di Desa Jerowaru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Adapun jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Sumber data berupa subjek dan informan penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data pada penelitian ini yaitu teknik analisis kualitatif model Miles dan Huberman dengan prosedur yakni reduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Terdapat 2 pola kerjasama antara kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dengan kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) dalam pengembangan ekowisata bale mangrove di Desa Jerowaru, yaitu pola kerukunan/gotong rooyong dan pola koalisi; (2) Terdapat 3 kendala yang dihadapi oleh kedua kelompok dalam melakukan pengembangan ekowisata bale mangrove di Desa Jerowaru, yaitu SDM yang masih terbatas, kurangnya sarana dan prasarana dan kurangnya konektivitas/kerjasama; (3) Terdapat 4 solusi untuk mengatasi kendala kedua kelompok dalam pengembangan ekowisata bale mangrove di Desa Jerowaru yaitu, meningkatkan kualitas SDM, memperkuat kerjasama, Memperbaiki sarana dan prasarana infrastruktur dan peningkatan promosi pariwisata
Peran Komunitas Gelar Hidup Sekolah Perjumpaan Dalam Menanamkan Nilai Solidaritas Sosial Remaja Di Desa Mantang Lombok Tengah Malik, Martoni Ira; Wadi, Hairil; Suud; Masyhuri
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 2 (2026): May
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/vrtzm983

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena kerentanan remaja di DesaMantang terhadap konflik horizontal antar-dusun yang dipicu oleh sentimen ego kelompok, sehingga bertujuan untuk menganalisis peranKomunitas Gelar Hidup Sekolah Perjumpaan dalam menginternalisasinilai-nilai solidaritas sosial. Menggunakan pendekatan kualitatif denganmetode studi kasus deskriptif, penelitian ini melibatkan pengelolakomunitas dan remaja sebagai subjek penelitian, dengan pengumpulandata melalui instrumen observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas inisecara efektif menjalankan peran ideal sebagai laboratorium karakter, peran yang diharapkan melalui penyediaan ruang dialog yang inklusif, serta peran nyata melalui aksi anjangsana dan tradisi duduk melingkar. Proses tersebut berhasil menanamkan aspek kolektivitas pada nilaikebersamaan, ikatan emosional pada nilai persaudaraan, tanggung jawabkolektif pada nilai gotong royong, distribusi peran pada nilai berbagi, serta koordinasi yang solid pada nilai kerjasama. Dengan demikian, disimpulkan bahwa peran strategis komunitas ini berhasil merekonstruksiperilaku sosial remaja dan meruntuhkan sekat primordial antar-dusundemi terwujudnya integrasi sosial yang harmonis dan berkelanjutan di Desa Mantang.
Makna Simbolik Tradisi Bayar Niat pada Masyarakat Desa Mura Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat Nurfadli, Idham; Wadi, Hairil; Suud; Syafruddin
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 2 (2026): May
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/avsgnz07

Abstract

Masyarakat Desa Mura, Kecamatan Brang Ene, Kabupaten Sumbawa Barat, hingga saat ini masih mempertahankan tradisi bayar niat sebagai warisan budaya lokal yang sarat dengan nilai-nilai spiritual dan sosial. Tradisi ini dilaksanakan sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terhindarnya seseorang dari penyakit atau musibah, serta sebagai bentuk pemenuhan nazar yang telah diucapkan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbolik yang terkandung dalam tradisi bayar niat pada masyarakat Desa Mura, Kecamatan Brang Ene, Kabupaten Sumbawa Barat. Tradisi bayar niat ini merupakan ritual adat sebagai wujud syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terhindarnya seseorang dari penyakit atau musibah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Sumber data diperoleh melalui wawancara tidak terstuktur, observasi non-partisipan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi bayar niat mengandung empat dimensi makna simbolik: (1) makna denotatif, yaitu pemenuhan janji atau nazar spiritual melalui serangkaian tahapan ritual
NILAI SOLIDARITAS SOSIAL DAN RELIGI DALAM TRADISI BEGAWE MUSIM KEMBALIT DI DESA SAKRA KECAMATAN SAKRA LOMBOK TIMUR Trisna Insani; Syafruddin; Suud; NI Made Novi Suryanti
Jurnal Pendidikan Sosial Keberagaman Vol. 11 No. 2 (2024): Juridiksiam: Jurnal Pendidikan Sosial Keberagaman
Publisher : Jurusan P. IPS, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan kegiatan dalam tradisi begawe musim kembalit dan mengidentifikasi serta  menganalisis nilai solidaritas sosial dan religi dalam Tradisi Begawe Musim Kembalit. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode etnografi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data dari Spradly dengan analisis domain, analisis taksonomi, komponensial dan analisis tema budaya. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ada 3 tahapan yang dilakukan dalam proses Tradisi Begawe Musim Kembalit yaitu: (1) Persiapan, dimana akan dilakukan musyawarah masyarakat terutama tokoh adat, pemerintah desa untuk sama-sama menyepakati hari pelaksanaan tradisi; mengumpulkan banjar; memasak bersama; membuat jajanan; menyusun isian dulang dengan yang sudah masyarakat persiapkan sebelumnya. (2) Pelaksanaan, yaitu prosesi ponggok dulang; sorong serah dulang; zikir bersama dan Pepaosan. (3) Penutup, dengan makan bersama dan pameran kesenian tradisional khas sasak berupa peresean, tarian-tarian, dan pameran artefak lainnya. Nilai solidaritas dalam tradisi begawe musim kembalit dilihat dari beberapa indikator yang ditemukan dalam prosesi yaitu (1) kesadaran kolektif yang kuat ditandai dengan masyarakat melakukan persiapan begawe hingga selesai secara  bersama-sama tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. (2) hukum represif dominan ditandai dengan masyarakat melaksanakan tradisi berdasarkan hasil musyawarah yang sudah disepakati bersama. (3) pembagian kerja rendah ditandai dengan masyarakat saling tolong menolong dan bahu membahu dalam melakukan persiapan,pelaksanaan dan penutupan tradisi.  (4) konsensus terhadap pola normatif penting ditandai dengan adanya pemberian sanksi sosial terhadap masyarakat yang berlaku onar selama tradisi berlangsung.  Kemudian nilai religi yang ditemukan  dalam Tradisi Begawe Musim Kembalit yaitu  (1) Sistem Keyakinan yang ditandai dengan adanya kepercayaan masyarakat pada saat melaksanakan tradisi akan mendapatkan kesejahteraan dari tuhan yang maha esa selama musim kembalit berlangsung  (3) Ritus dan Upacara yang ditandai dengan prosesi zikir dan pepaosan yang merupakan cara meminta keberkahan,pertolongan serta rizki yang cukup di musim kembalit  (4) Peralatan Ritus dan Upacara yang ditandai dengan adanya peralatan khusus untuk pepaosan berupa air dalam wadah penginang kuning,tembakau,kapur dan sirih, jarum, benang dan lain sebagainya. Kata Kunci: Proses Tradisi; Nilai Solidaritas; Nilai Religi