Gita Cahya Eka Darma
Prodi Farmasi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Bandung

Published : 40 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Formulasi Lip Scrub Mengandung Minyak Biji Bunga Matahari (Helianthus annuus L.) dan Ampas Kopi sebagai Eksfoliator Indah Maulida Rakhmah; Gita Cahya Eka Darma; Dina Mulyanti
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14687

Abstract

Abstract. Desquamation is a process of sloughing off dead skin cells or keratin in the outermost layer of the epidermis that can accumulate on the skin's surface. Lip scrub is a semi-solid dosage form that contains rather coarse ingredients to remove dead skin cells on the lips, where the hard layer above it will be replaced with a new, healthier layer of cells. Sunflower seed oil contains active compounds that are emollient, namely oleic acid. Emollients generally consist of lipids that work by filling the gaps of inter-corneocyte cluster gaps in desquamated skin to moisturize and increase skin flexibility. Currently, coffee waste is one of the problems that exist in the environment. In this study, coffee grounds are reprocessed as an effort to overcome the environmental impact of coffee waste, which functions as a lip scrub. In this study, lip scrub was prepared in different concentration variations namely 3, 6, 9, and 12% to determine its ability to remove dead skin cells. The final evaluation of the lip scrub includes physicochemical tests, stability, and dead skin cell lifting power. The results of physicochemical evaluation and stability using the cycling test method showed that the physically stable formula was formula B2. The evaluation of the dead skin cell lifting power analyzed by the one-way ANOVA statistical test showed that Formula B2 with 6% coffee grounds concentration, which was able to lift dead skin cells as much as 0.161 grams, provides significantly different dead skin cell lifting power against the control (+) (P<0.05). Abstract. Deskuamasi adalah proses pengelupasan sel kulit mati atau keratin pada lapisan terluar epidermis yang dapat menumpuk pada permukaan kulit. Lip scrub merupakan bentuk sediaan setengah padat yang mengandung bahan agak kasar untuk mengangkat sel kulit mati pada bibir, dimana lapisan keras di atasnya akan digantikan dengan lapisan sel baru yang lebih sehat. Minyak biji bunga matahari mengandung senyawa aktif yang bersifat emolien yaitu asam oleat. Emolien umumnya terdiri dari lipid yang bekerja dengan mengisi celah cluster gap interkorneosit pada kulit yang mengalami deskuamasi untuk melembabkan dan meningkatkan fleksibilitas kulit. Saat ini limbah kopi menjadi salah satu masalah yang ada pada lingkungan. Pada penelitian ini ampas kopi diolah kembali sebagai upaya untuk mengatasi dampak lingkungan limbah kopi, dimana berfungsi sebagai scrub bibir. Pada penelitian ini lip scrub dibuat dalam berbagai variasi konsentrasi yaitu 3, 6, 9, dan 12% untuk mengetahui kemampuannya dalam mengangkat sel kulit mati. Evaluasi akhir lip scrub meliputi uji fisikokimia, stabilitas, dan daya angkat sel kulit mati. Hasil evaluasi fisikokimia dan stabilitas menggunakan metode cycling test menunjukkan formula yang stabil secara fisik yaitu Formula B2. Evaluasi daya angkat sel kulit mati dianalisis menggunakan uji statistik One-Way ANOVA menunjukkan bahwa formula B2 dengan konsentrasi ampas kopi sebesar 6% dimana mampu mengangkat sel kulit mati sebanyak 0,161 gram, memberikan daya angkat sel kulit mati yang berbeda bermakna terhadap kontrol (+) (sig. < α = 0,05).
Formulasi Minuman Kopi Cokelat Herbal Akar Wangi dan Kayu Manis sebagai Peningkat Daya Ingat pada Mencit Adisti; Gita Cahya Eka Darma; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14827

Abstract

Abstract. Antioxidants in plants can protect the brain from oxidative stress, which can lead to memory decline. This study aims to develop a herbal coffee chocolate drink formula containing vetiver root and cinnamon, with the potential to enhance memory. The research began by extracting coffee, vetiver root, and cinnamon using a stovetop method with the aid of a moka pot. The final formula selected for testing was Formula 3, consisting of a mixture of 10% coffee, vetiver root, and cinnamon extract, 0.06% stevia liquid, 10% milk, and chocolate to make up 100% of the volume. Memory testing was conducted using the Y-maze method. Test animals were divided into four groups, with three groups previously subjected to stress (except for the negative control group) by being placed in 50 mL centrifuge tubes under alternating dark and light conditions every 2 hours for 7 days. The drink was administered for 14 days, and the parameter measured was the time taken by the mice to find food. The results indicated that the drink had memory-enhancing activity, as evidenced by a significant difference in the latency time to find food between the positive control group and the group receiving the drink. Abstrak. Antioksidan dalam tumbuhan mampu melindungi otak dari stres oksidatif yang bisa mengakibatkan penurunan daya ingat. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formula minuman kopi cokelat herbal akar wangi dan kayu manis yang berpotensi meningkatkan daya ingat. Penelitian dimulai dengan mengekstraksi kopi, akar wangi, dan kayu manis menggunakan metode stove top dengan bantuan alat moka pot. Formula akhir yang dipilih untuk diuji adalah formula 3, yang terdiri dari campuran 10% ekstrak kopi akar wangi kayu manis, 0,06% cairan stevia, 10% susu dan cokelat ad 100%. Pengujian daya ingat dilakukan menggunakan labirin Y. Hewan uji dibagi menjadi empat kelompok yang sebelumnya diinduksi stres (kecuali kelompok kontrol negatif) dengan ditempatkan dalam tabung sentrifuga 50 mL dalam kondisi gelap dan terang secara bergantian setiap 2 jam selama 7 hari. Minuman diberikan selama 14 hari dan parameter yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan mencit untuk menemukan makanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minuman ini memiliki aktivitas peningkat daya ingat, yang ditunjukkan oleh perbedaan signifikan dalam waktu latensi menemukan makanan antara kelompok kontrol positif dan kelompok yang diberikan minuman.
Penapisan Fitokimia dan Penetapan Kadar Polifenol Total Ekstrak Etanol 70% Teh Putih (Camellia sinensis L.) Nurul Siti Aisyah; Sani Ega Priani; Gita Cahya Eka Darma
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15000

Abstract

Abstract. White tea contains many secondary metabolites with the highest secondary metabolite compound being polyphenols. Phytochemical screening was done on alkaloid, flavonoid, polyphenol, tannin, saponin, steroid & triterpenoid, monoterpenoid & sesquiterpenoid, and anthraquinone compounds. Extraction of white tea was carried out by reflux method using 70% ethanol. The total polyphenol content contained in 70% ethanol extract of white tea was measured using the Folin-Ciocalteu method. The results showed that 70% ethanol extract of white tea contained secondary metabolites of alkaloid compounds, flavonoids, polyphenols, tannins, saponins, steroids & triterpenoids, and monoterpenoids & sesquiterpenoids. And has a total polyphenol content of 330,920 ± 4,98 mgGAE/gram or 33,092%. Abstrak. Teh putih diketahui mengandung banyak metabolit sekunder dengan senyawa metabolit sekunder paling tinggi yaitu polifenol. Penapisan fitokimia dilakukan terhadap golongan senyawa alkaloid, flavonoid, polifenol, tannin, saponin, steroid & triterpenoid, monoterpenoid & seskuiterpenoid, dan antrakuinon. Ekstraksi teh putih dilakukan dengan metode refluks menggunakan etanol 70%. Kemudian kadar polifenol total yang terkandung dalam ekstrak 70% etanol teh putih diukur menggunakan metode Folin-Ciocalteu. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol 70% teh putih mengandung metabolit sekunder senyawa alkaloid, flavonoid, polifenol, tannin, saponin, steroid & triterpenoid, dan monoterpenoid & seskuiterpenoid. Serta memiliki kadar polifenol total sebesar 330,920 ± 4,98 mgGAE/gram atau sebesar 33,092%.
Formulasi Nanoemulsi Antioksidan Mengandung Ekstrak Etanol Teh Hijau dan Minyak Calendula Priani, Sani Ega; Putri, Clarisa Ananda; Eka Darma, Gita Cahya; Mulkiya, Kiki; Syafnir, Livia
Majalah Farmasetika Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v9i2.51095

Abstract

Teh hijau diketahui mengandung senyawa polifenol, yang sangat mendukung aktivitas antioksidannya. Aktivitas tersebut membuat ekstrak teh hijau bisa dimanfaatkan secara oral ataupun topikal. Pada penggunaan topikal, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kemampuan penetrasi perkutan, salah satunya dengan pengembangan sediaan nanoemulsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sediaan nanoemulsi antioksidan mengandung ekstrak teh hijau dengan minyak calendula sebagai fase minyak dengan karakteristik yang baik. Teh hijau diekstraksi dengan metode refluks menggunakan etanol 96% sebagai  pelarut. Pengujian aktivitas antioksidan ekstrak dilakukan dengan metode peredaman DPPH. Ekstrak selanjutnya dikembangkan menjadi sediaan nanoemulsi dengan menggunakan surfaktan tween 80 dan kosurfaktan PEG400. Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak etanol teh hijau memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 2,14 ± 0,01 ppm. Ekstrak etanol berhasil dikembangkan menjadi sediaan nanoemulsi dengan menggunakan minyak calendula sebagai fase minyak, pada perbandingan minyak dan Smix (campuran surfaktan dan kosurfaktan) 1:12  dan perbandingan surfaktan dan kosurfaktan 2:1. Sediaan nanoemulsi teh hijau memiliki karakteristik fisik yang baik, ditandai dengan  penampilan yang transparan,  ukuran globul  15,97  ± 0,49 nm dan nilai indeks polidipersitas  0,29 ± 0,01. Sediaan nanoemulsi juga stabil merujuk pada pengujian heating cooling, sentrifugasi, dan  freeze thaw. Telah berhasil dikembangkan sediaan nanoemulsi mengandung minyak calendula dan ekstrak teh hijau dengan karakteristik dan stabilitas fisik yang baik.
Pengaruh Penerapan Teknologi Plasma Pada Sheetmask Sebagai Peningkatan Penjerapan Essence Shafa Savira Vaditya; Gita Cahya Eka Darma; Mentari Luthfika Dewi
Jurnal Riset Farmasi Volume 3, No. 2, Desember 2023, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v3i2.3111

Abstract

Abstract. One of the cosmetic products for skin care is a face mask. Sheet masks have a better absorption and penetration profile because they use the Occlusive Dressing Treatment mechanism. The application of plasma technology to sheetmasks combined with essence can increase the effectiveness. This study aims to determine the effect of plasma treatment on sheetmasks to increase adsorption of essence. In this study, sheetmasks given plasma treatment and not given plasma treatment were evaluated the surface of sheetmask using SEM, dcrease contact angle, and weight test. Then, the sheetmask is soaked in essence and the adsorption evaluation is carried out by means of a weight test. The results of this study. Plasma treatment has been shown to increase essence adsorption by forming pores, decreasing contact angle, increase time of absorption, decreasing weight. Abstrak. Salah satu produk kosmetik untuk perawatan kulit adalah masker wajah. Sheet mask memiliki profil penyerapan dan penetrasi yang lebih baik karena menggunakan mekanisme Occlusive Dressing Treatment. Penerapan teknologi plasma pada sheetmask yang dikombinasikan dengan essence dapat meningkatkan efektivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan plasma pada sheetmask terhadap peningkatan penjerapan essence. Pada penelitian ini sheetmask yang diberi perlakuan plasma dan tidak diberi perlakuan plasma dievaluasi permukaan sheetmask menggunakan SEM, penurunan sudut kontak, dan uji berat. Kemudian sheetmask direndam pada intinya dan evaluasi adsorpsi dilakukan dengan uji bobot. Hasil penelitian ini. Perawatan plasma telah terbukti meningkatkan adsorpsi esensi dengan membentuk pori-pori, mengurangi sudut kontak, meningkatkan waktu penyerapan, menurunkan berat.
Metode Pengolahan Limbah Cair Puskesmas Menggunakan Tahapan Elektrokoagulasi Filtrasi dan Plasma Fahmi Legawa; Gita Cahya Eka Darma; Valentinus Galih Vidia Putra
Jurnal Riset Farmasi Volume 4, No. 1, Juli 2024, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v4i1.3890

Abstract

Abstract. The high level of water pollution has become a serious problem in various regions, and health centers are one of the main sources of wastewater. Treating the liquid waste from health centers is crucial to reduce its negative impact on the environment and public health. This research aims to evaluate the influence of three treatment methods, namely electrocoagulation, filtration, and plasma, on the effluent quality standards. The results of the study show that the electrocoagulation process effectively reduces the values of BOD, COD, TSS, and pH in the health center's wastewater. Additionally, the filtration process proves to be effective in reducing BOD and COD values in the wastewater. Filtration successfully removes dissolved and bound organic matter in the wastewater, thereby decreasing the BOD and COD load in the treated water. Meanwhile, the plasma process also has a positive impact by reducing COD and pH values in the wastewater. The combined use of these methods is expected to meet the effluent quality standards set by environmental regulations and contribute to maintaining the environmental and public health. Treating health center wastewater with these methods proves to be an effective solution in reducing water pollution and safeguarding valuable water resources. Abstrak. Tingginya tingkat pencemaran air menjadi masalah serius di berbagai daerah, dan puskesmas merupakan salah satu sumber utama limbah. Pengolahan limbah cair dari puskesmas menjadi penting untuk mengurangi dampak negatifnya pada lingkungan dan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh tiga tahapan metode pengolahan yaitu elektrokoagulasi, filtrasi, dan plasma terhadap standar baku mutu limbah cair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses elektrokoagulasi dapat menurunkan nilai BOD, COD, TSS, dan pH dalam limbah cair puskesmas. Selanjutnya, proses filtrasi juga terbukti efektif dalam menurunkan nilai BOD dan COD dalam limbah cair. Filtrasi berhasil menyaring dan menghilangkan materi organik terlarut dan terikat dalam air limbah, sehingga mengurangi beban BOD dan COD dalam air limbah yang diolah. Sementara itu, proses plasma juga memberikan pengaruh positif dalam mengurangi nilai COD dan pH dalam limbah cair. Penggunaan kombinasi metode ini diharapkan dapat memenuhi standar baku mutu limbah cair yang ditetapkan oleh regulasi lingkungan dan berkontribusi pada menjaga kesehatan lingkungan dan masyarakat. Pengolahan limbah cair puskesmas dengan metode-metode ini menjadi solusi efektif untuk mengurangi pencemaran air dan melindungi sumber daya air yang berharga. Kata Kunci: Elektrokoagulasi, Filtrasi,  Plasma
Pengaruh Perlakuan Plasma Dingin terhadap Cemaran Mikroba Susu Sapi Segar Arini Gania Shapira; Gita Cahya Eka Darma; Sani Ega Priani
Jurnal Riset Farmasi Volume 4, No. 2, Desember 2024, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v4i2.5201

Abstract

Abstract. Fresh cow's milk has many benefits for the body such as preventing heart disease, vascular disorders, preventing osteoporosis and others. However, fresh cow's milk can be susceptible to bacterial contamination during milking, distribution or storage. To kill bacteria in fresh cow's milk, cold plasma treatment was carried out on fresh cow's milk for 5 minutes and 10 minutes. The cold plasma was generated in air with a voltage of 30 kV and a distance between electrodes of 3 cm. Then, the cold plasma-treated fresh cow's milk was tested for Total Plate Count (TPC) and the percentage of bacteria reduction in fresh cow's milk plasma for 5 minutes and 10 minutes was 96% and 97%. In the organoleptical test, fresh cow's milk treated with cold plasma for 5 minutes and 10 minutes did not change colour, odour and taste. While in the pH test of fresh plasma cow milk, the pH obtained was 6.64 ± 0.01 and 6.66 ± 0.01. Abstrak. Susu sapi segar memiliki banyak manfaat bagi tubuh seperti mencegah penyakit jantung, gangguan pembuluh darah, mencegah osteoporosis dan lainnya. Akan tetapi, susu sapi segar dapat rentan terkontaminasi bakteri pada saat pemerahan, distribusi atau penyimpanan. Untuk membunuh bakteri pada susu sapi segar, dilakukan perlakuan plasma dingin pada susu sapi segar selama 5 menit dan 10 menit. Plasma dingin tersebut dibangkitkan di udara dengan tegangan sebesar 30 kV dan jarak antar elektroda 3 cm. Kemudian, terhadap susu sapi segar yang telah diberi perlakuan plasma dingin dilakukan Uji Angka Lempeng Total (ALT) dan diperoleh persentase penurunan bakteri pada susu sapi segar plasma selama 5 menit dan 10 menit sebesar 96% dan 97%. Selain itu dilakukan uji organoleptis dan uji pH. Pada uji organoleptis susu sapi segar yang di beri perlakuan plasma dingin selama 5 menit dan 10 menit tidak mengalami perubahan warna, bau dan rasa. Sedangkan pada uji pH susu sapi segar plasma, pH yang diperoleh sebesar 6,64 ± 0,01 dan 6,66 ± 0,01.
Formulasi dan Evaluasi Fitosom Mengandung Ekstrak Teh Putih (Camellia sinensis L.) Priani, Sani Ega; Aisyah, Nurul Siti; Darma, Gita Cahya Eka
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 1 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i1.770

Abstract

Teh putih adalah salah satu jenis teh dengan kandungan polifenol yang tinggi. Senyawa polifenol sudah terbukti memiliki banyak khasiat untuk kesehatan, seperti sebagai agen sitotoksik. Polifenol teh putih bersifat hidrofil sehingga memiliki keterbatasan dalam menembus membran lipid. Sistem fitosom diketahui dapat membantu meningkatkan permeasi membran dari fitokonstituen yang bersifat hidrofilik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan formula fitosom yang optimum mengandung ekstrak teh putih serta mengetahui karakteristik fitosom yang dihasilkan. Teh putih diekstraksi dengan metode refluks menggunakan etanol 70%. Terhadap ekstrak dilakukan pengukuran kadar polifenol total dengan metode Follin-Ciocalteu. Ekstrak selanjutnya dikembangkan menjadi sistem fitosom menggunakan metode hidrasi lapis tipis, dengan variasi perbandingan ekstrak dan fosfatidilkolin. Hasil penelitian menunjukkan formula terbaik untuk fitosom teh putih diperoleh pada perbandingan ekstrak dan fosfatidilkolin (2:3), dengan nilai efisiensi penjerapan sebesar 91,31 % ± 0,29, ukuran partikel sebesar 423,67 ± 3,88 nm, indeks polidispersitas sebesar 0,50 ± 0,07, dan potensial zeta sebesar -25,20 ± 14,50 mV. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak teh putih telah berhasil dikembangkan menjadi sistem fitosom dengan karakteristik yang baik. Penelitian lanjutan terkait pengaruh pengembangan fitosom teh putih pada aktivitas sitotoksis perlu dilakukan.
Analisis, pengembangan, dan sertifikasi produk madu trigona hasil budidaya masyarakat Fakih, Taufik Muhammad; Hidayat, Aulia Fikri; Soewondo, Budi Prabowo; Darma, Gita Cahya Eka; Nuzulfikri, Rizki; Radina, Faqih; Prayitno, Robby
Jurnal Inovasi Hasil Pengabdian Masyarakat (JIPEMAS) Vol 6 No 3 (2023)
Publisher : University of Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jipemas.v6i3.19680

Abstract

Permasalahan pokok yang dihadapi oleh Desa Tenjolaya, yang menjadi mitra dalam Program Pengembangan Produk Unggulan Mitra (P3UM), melibatkan tantangan terkait praktik budi daya lebah madu serta mendapatkan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-PIRT) dan Sertifikat Halal dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Dalam rangka mencapai hasil yang diharapkan, rencana kegiatan P3UM telah dirancang dan melibatkan beberapa tahap penting, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap pengajuan produk yang telah bersertifikat, tahap pemantauan dan evaluasi aktivitas, serta tahap pelaporan. Berdasarkan pelaksanaan kegiatan tersebut, sejumlah pencapaian signifikan telah berhasil diperoleh. Pertama, melalui proses identifikasi lebah madu, spesies lebah tersebut diidentifikasi sebagai Tetragonula drescheri. Selanjutnya, dalam analisis kualitas madu dari sampel Madu Trigona, hasil menunjukkan bahwa produk ini memenuhi standar kualitas madu budidaya sesuai dengan ketentuan SNI 8664:2018. Selain itu, pelatihan dalam rangka membangun pengetahuan tentang Budidaya Lebah Madu Trigona diadakan, dengan fokus pada potensi wirausaha di bidang ini. Terakhir, produk Madu Trigona dinamai MAZALI dan telah melewati proses pengemasan serta berhasil mendapatkan SPP-PIRT dengan nomor pendaftaran P-IRT 1073204010491-27. Semua pencapaian ini mendukung aspirasi agar produk MAZALI mampu menjadi salah satu produk unggulan yang mewakili Desa Tenjolaya.
In Silico Coformer Screening for Mefenamic Acid Cocrystallization Hidayat, Aulia Fikri; Fakih, Taufik Muhammad; Darma, Gita Cahya Eka; Choesrina, Ratu
JURNAL INFO KESEHATAN Vol 22 No 1 (2024): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Research and Community Service Unit, Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/infokes.Vol22.Iss1.1375

Abstract

Cocrystallization is a widely used approach to enhance the solubility and dissolution characteristics of poorly soluble drugs. A pharmaceutical cocrystal is a multicomponent system composed of a solid active pharmaceutical ingredient (API) and a coformer, governed by non-covalent interactions. Screening for suitable coformers is essential to obtain an optimal cocrystal for specific drugs. This study aims to determine the drug-coformer interactions to select the most suitable coformer for cocrystal formation using the molecular docking method. Mefenamic acid, classified as a class II drug in the biopharmaceutical classification system (BCS), was used as the model drug. Two-dimensional structures of mefenamic acid (PubChem CID: 4044) and potential coformers were sourced from PubChem. Geometric optimization of all compounds was performed using GaussView 5.0.8 and Gaussian09 with the 3-21G basis set and Density Functional Theory (DFT) B3LYP method. The optimized compounds were prepared by adding hydrogen atoms and calculating Kollman partial charges using AutoDock 4.2. A grid box of size 40 Å × 40 Å × 40 Å was generated, with a maximum radius of 0.375 Å set as the surface distance in each simulation. A hundred conformations were run using the Lamarckian Genetic Algorithm. Interaction types and binding energies were analyzed using VMD 1.9.2 and BIOVIA Discovery Studio 2020 to compare interactions between mefenamic acid and each coformer. The results revealed that most coformer compounds formed interactions with mefenamic acid via hydrogen bonding and π–interactions. Saccharin demonstrated the most optimal interaction with mefenamic acid, with a binding free energy of –3.1 kcal/mol. Saccharin was identified as the most suitable coformer for mefenamic acid cocrystal formation based on the molecular docking study. Further experimental validation of saccharin is recommended to confirm its effectiveness in cocrystallization with mefenamic acid.