Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Journal of Public Health Concerns

Peningkatan pengetahuan tentang pencegahan stroke dengan gaya hidup sehat di Desa Lamtimpeung Aceh Besar Humaira, Adintya; Baharuddin, Dharina; Fahdhienie, Farrah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i6.1346

Abstract

Background: Stroke is a major public health problem. Globally, stroke is a serious problem, with morbidity and mortality rates higher than those of cardiovascular disease. Sudden stroke can cause physical and mental disability and death, both in productive and elderly individuals. Therefore, efforts are needed to reduce the incidence of stroke through the adoption of a healthy lifestyle, starting with a balanced diet, including plenty of vegetables, fresh fruit, low-fat protein, and fiber-rich foods that are beneficial for blood vessel health, and regular exercise. Purpose: To increase public understanding of stroke risk factors and prevention methods, and to encourage people to adopt healthy lifestyle behaviors to reduce stroke risk. Methods: The activity was conducted in Lamtimpeung Village, Aceh Besar, on July 1, 2025, from 8:30 a.m. to 11:30 a.m. WIB, with 30 participants. The activity used a one-group pre-test and post-test design to determine changes in participants' knowledge before and after the counseling session. The counseling session used posters and interactive discussions. Results: The average knowledge score of participants increased from 7.6 in the pre-test to 9.06 in the post-test, with a mean difference of -1.46. The p-value was 0.0000. The 95% CI for the pre-test ranged from 6.96 to 8.23, while for the post-test it ranged from 8.27 to 9.85, indicating a significant improvement after the counseling session. Conclusion: Counseling sessions using posters and an interactive approach have been shown to improve public understanding of stroke prevention through a healthy lifestyle and significantly increase knowledge about risk factors and prevention methods. This activity also creates a conducive atmosphere and encourages active involvement of participants in the health learning process. Sugesstion: Village officials, health workers, and related agencies can develop visual media-based outreach methods, such as posters and interactive discussions, as alternative ongoing education methods to increase public knowledge about stroke prevention through a healthy lifestyle. This approach can also be expanded to include simple digital platforms to reach a wider and more equitable audience. Keywords: Counseling; Healthy lifestyle; Poster media; Stroke Pendahuluan: Stroke menjadi salah satu masalah kesehatan utama bagi masyarakat. Hampir di seluruh dunia stroke menjadi masalah yang serius dengan angka morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan angka kejadian penyakit kardiovaskuler. Serangan stroke yang mendadak dapat menyebabkan kecacatan fisik dan mental serta kematian, baik pada usia produktif maupun lanjut usia. Untuk itu, perlu dilakukan upaya untuk mengurangi kejadian stroke melalui penerapan gaya hidup sehat, yang dimulai dengan mengkonsumsi gizi seimbang, seperti memperbanyak makan sayur, buah-buahan segar, protein rendah lemak, serta makanan kaya serat yang bermanfaat bagi kesehatan pembuluh darah, dan melakukan olahraga secara teratur. Tujuan: Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang faktor risiko stroke dan cara pencegahannya serta mendorong masyarakat agar mampu menerapkan perilaku hidup sehat guna menurunkan risiko stroke. Metode: Kegiatan dilakukan di Desa Lamtimpeung, Aceh Besar, tanggal 1 Juli 2025, dimulai pukul 08.30 WIB hingga 11.30 WIB, dengan peserta sebanyak 30 orang. Kegiatan menggunakan desain one group pre-test & post-test untuk mengetahui perubahan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan.  Penyuluhan dilakukan dengan media poster dan diskusi interaktif. Hasil: Rata-rata skor pengetahuan peserta mengalami peningkatan dari 7,6 pada saat pre-test menjadi 9,06 pada post-test, dengan selisih rata-rata sebesar -1,46. Nilai p-value sebesar 0,0000. 95% CI  untuk pre-test berada pada kisaran 6,96 hingga 8,23, sementara untuk post-test berada pada 8,27 hingga 9,85, yang mengindikasikan adanya peningkatan yang signifikan setelah dilakukan penyuluhan. Simpulan: Penyuluhan dengan media poster dan pendekatan interaktif terbukti mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan stroke melalui gaya hidup sehat, serta memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan mengenai faktor risiko dan cara pencegahannya. Kegiatan ini juga menciptakan suasana yang kondusif dan mendorong keterlibatan aktif peserta dalam proses pembelajaran kesehatan. Saran: Pihak desa, tenaga kesehatan, dan instansi terkait dapat mengembangkan metode penyuluhan berbasis media visual seperti poster dan diskusi interaktif sebagai alternatif edukasi berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan stroke melalui gaya hidup sehat. Pendekatan ini juga dapat diperluas dengan melibatkan platform digital sederhana guna menjangkau masyarakat secara lebih luas dan merata.
Peningkatan kesadaran masyarakat tentang diabetes mellitus melalui edukasi: Kenali, Cegah, Lawan sejak dini Sibrina, Sibrina; Baharuddin, Dharina; Rinandar, Rinandar
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i6.1370

Abstract

Background: Diabetes mellitus is a non-communicable disease with a rising global prevalence and is a serious problem in Indonesia, including in rural areas. Low public awareness of risk factors, symptoms, and prevention is a major challenge. Community-based health education has proven effective in increasing knowledge and preventive behaviors. Therefore, an educational intervention was conducted in Kuta Krueng Village to improve public health literacy about diabetes and encourage healthy lifestyle changes. Purpose: To increase community knowledge in identifying and anticipating diabetes mellitus. Methods: The activity was conducted in Kuta Krueng Village, Pidie Jaya, on July 5, 2025, from 9:30 a.m. to 11:30 a.m. WIB, with 30 respondents participating in educational activities and health screenings. This activity used a one-group pre-test and post-test design, with the intervention providing education on recognizing, preventing, and anticipating diabetes mellitus early. Analysis of pre-test and post-test questionnaire data was used to systematically measure changes in community knowledge following the education. Results: The mean age of participants was 37.6 years, with a standard deviation of 13.3 years, and they ranged from 20 to 60 years. The majority of participants were aged 30 to 39, with 10 (33.3%). Most participants were female, with 22 (73.3%). The highest level of education for participants was junior high school or high school, with 17 (56.7%), and the majority of participants were married, with 18 (60.0%). There was an increase in participants' knowledge level, from 5 (16.7%) to 18 (60.0%). The average knowledge score increased to 11.73 after education, with a mean difference of -3.13 and a p-value of 0.000. Conclusion: Diabetes mellitus education activities have been shown to significantly increase participants' knowledge and broaden their understanding of the definition, etiology, risk factors, and prevention, as well as encourage behavioral changes towards a healthy lifestyle. With its easy-to-understand methods, this program is worthy of being used as a model for preventive and promotive education in efforts to control non-communicable diseases in other regions. Suggestion: Diabetes mellitus education needs to be continued and expanded to high-prevalence areas, involving health workers, cadres, and community leaders. The material should be tailored to the local context, delivered in an engaging manner, and supported by ongoing monitoring through Posbindu (Community Health Posts) and routine check-ups to foster a community that is aware and independent in diabetes prevention. Keywords: Diabetes mellitus; Early prevention; Health education; Public awareness Pendahuluan: Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi global yang terus meningkat dan menjadi masalah serius di Indonesia, termasuk di daerah pedesaan. Rendahnya kesadaran masyarakat tentang faktor risiko, gejala, dan pencegahan menjadi tantangan utama. Edukasi kesehatan berbasis komunitas terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan. Oleh karena itu, dilakukan intervensi edukatif di Desa Kuta Krueng untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat tentang diabetes dan mendorong perubahan gaya hidup sehat. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam mengidentifikasi dan mengantisipasi tentang kejadian  diabetes melitus. Metode: Kegiatan dilaksanakan di Desa Kuta Krueng, Pidie Jaya, tanggal 5 Juli 2025, dimulai pukul 09.30 WIB hingga 11.30 WIB, dengan responden sebanyak 30 orang yang mengikuti kegiatan edukatif dan skrining kesehatan. Kegiatan ini menggunakan disain one grup pre-test dan post-test dengan intervensi berupa pemberian edukasi tentang mengenali, cara mencegah dan mengantisipasi kejadian diabetes melitus sejak dini. Analisa data kuesioner pre-test dan post-test digunakan untuk mengukur secara sistematis perubahan pengetahuan masyarakat setelah dilakukan edukasi. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata peserta adalah 37.6 tahun, dengan standar deviasi 13.3 tahun, dan dalam rentang usia 20-60 tahun. Mayoritas peserta berusia 30-39 tahun yaitu sebanyak 10 (33.3%). Sebagian besar peserta berjenis kelamin perempuan sebesar 22 (73.3%). Tingkat pendidikan terakhir peserta paling banyak pada SMP–SMA yaitu 17 (56.7%), dan sebagian besar peserta dengan status menikah 18 (60.0%). Terdapat peningkatan tingkat pengetahuan para peserta dalam kategori baik yaitu dari 5 (16.7%) menjadi 18 (60.0%). Rata-rata skor pengetahuan meningkat menjadi 11.73 setelah edukasi, dengan selisih rata-rata sebesar -3.13 dan mendapatkan pValue=0.000. Simpulan: Kegiatan edukasi diabetes mellitus terbukti secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan memperluas pemahaman peserta tentang definisi, etiologi, faktor risiko, dan pencegahan, serta mendorong perubahan perilaku menuju pola hidup sehat. Dengan metode yang mudah dipahami, program ini layak dijadikan model edukasi preventif dan promotif dalam upaya penanggulangan penyakit tidak menular di wilayah lain. Saran: Edukasi diabetes mellitus perlu dilanjutkan dan diperluas ke wilayah prevalensi tinggi dengan melibatkan tenaga kesehatan, kader, dan tokoh masyarakat; materi disesuaikan konteks lokal, disampaikan secara menarik, serta didukung pemantauan berkelanjutan melalui Posbindu dan pemeriksaan rutin untuk membentuk masyarakat yang sadar dan mandiri dalam pencegahan diabetes.