Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

The Peran Perpustakaan PTKI terhadap Literasi Digital : Kajian dalam Mendukung Program Sustainable Development Goal (SDG 4) Pendidikan Berkualitas: Peran Perpustakaan PTKI terhadap Literasi Digital : Kajian dalam Mendukung Program Sustainable Development Goal (SDG 4) Pendidikan Berkualitas Mega Alif Marintan; Khoirul Maslahah; Nushrotul Hasanah Rahmawati; Imam Mahmudi; Nur Husniyatul Adyani
Tik Ilmeu : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol. 10 No. 1 (2026): Tik Ilmeu: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi (Juni)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/tik.v10i1.16748

Abstract

Islamic Religious Colleges (PTKI) are educational institutions that focus on character building and religious understanding. UIN Raden Mas Said Surakarta is required to integrate digital literacy into its educational curriculum. This study aims to explore the programs and strategies implemented by the PTKI library at UIN Raden Mas Said Surakarta to improve digital literacy. It employs a descriptive qualitative approach, with data collected through in-depth interviews, observation, and documentation.The results indicate that the library contributes to the enhancement of digital literacy in alignment with SDG 4, namely quality education, through lifelong learning, quality improvement, and accessibility and inclusivity. Lifelong learning is supported through the utilization of artificial intelligence-based technologies as a strategic effort to strengthen access to learning. The improvement in learning quality is achieved through the provision of relevant collections in both physical and digital formats. Accessibility and inclusivity are promoted through efforts to create an inclusive learning environment, including the development of disability-friendly facilities and collaboration with the Disability Services Center (PSLD) at UIN Raden Mas Said Surakarta. In conclusion, the PTKI library plays a crucial role in supporting digital literacy by integrating technological innovation, resource development, and inclusive practices into its services.
Perawatan dan Pelestarian Bahan Pustaka di UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta Filda Tria Devita; Mega Alif Marintan
Libraria: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 15 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : FPPTI Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66162/lib.v14i1.536

Abstract

Perpustakaan saat ini sangat diperlukan dalam pencarian informasi dan referensi untuk memenuhi kebutuhan pengguna perpustakaan. Namun ada tiga faktor yang dapat menyebabkan kerusakan pada bahan perpustakaan, yaitu faktor lingkungan, faktor manusia, dan faktor biota. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Unit Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta, yang juga dikenal sebagai UIN RMS Surakarta, dalam merawat dan melestarikan bahan perpustakaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Analisis data yang diperoleh mengungkapkan faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan pada bahan perpustakaan, langkah-langkah pemeliharaan yang telah dilakukan untuk mencegah kerusakan bahan perpustakaan di Perpustakaan UIN RMS Surakarta, dan langkah-langkah pelestarian yang telah dilakukan oleh Perpustakaan UIN RMS Surakarta. Untuk mencegah kerusakan pada bahan pustaka, beberapa strategi telah diterapkan, yaitu dengan mengatur kelembaban ruangan sesuai standar yang ada, menyediakan ruangan ber-AC agar bahan pustaka terlindungi dari kerusakan akibat kelembaban tinggi atau rendah, mengatur pencahayaan, melakukan fumigasi dua kali setahun, menetralisir bahan pustaka dengan pengukurannya menggunakan larutan khusus, membersihkan bahan pustaka dari debu dan kotoran, serta melakukan inventarisasi. Setelah menerapkan berbagai metode ini, diharapkan bahan pustaka akan terlindungi dengan baik dan selalu bermanfaat bagi pengguna perpustakaan.
Analisis Keberhasilan Implementasi Kepemimpinan melalui Kearifan Lokal di UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta Nafisa Nur Aini; Marintan, Mega Alif
Buletin Perpustakaan Vol. 9 No. 1 (2026): Buletin Perpustakaan Volume 9 Nomor 1, Mei 2026
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/bpuii.v9i1.45391

Abstract

Perpustakaan merupakan lembaga yang berperan melestarikan budaya lokal. Tidak hanya menjaga warisan budaya yang berupa benda saja tetapi juga mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai filosofi hidup yang mendasari konsep kepemimpinan perpustakaan. Diharapkan dari penelitian ini akan menemukan model implementasi kearifan lokal sebagai identitas kepemimpinan. Penelitian ini menganalisis kebijakan dan program kerja UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta melalui nilai kearifan lokal masyarakat. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang bertujuan untuk memahami fenomena sosial tertentu secara menyeluruh. Hasil penelitian menunjukan bahwa kearifan lokal yang diimplementasikan dalam kepemimpinan perpustakaan tersebut meliputi nilai toleransi, sikap legowo, mempermudah urusan orang lain, dan berpikir kritis. Selain itu, perpustakaan juga sebagai lembaga informasi juga menyelenggarakan berbagai kegiatan pelestarian budaya Jawa melalui penyediaan layanan dan koleksi budaya seperti; Javanese Corner, display dolanan Jawa, dan koleksi manuskrip. Upaya promosi dilakukan melalui program kunjungan bagi mahasiswa baru yang bertujuan untuk memperkenalkan perpustakaan sebagai lembaga yang melestarikan nilai budaya dalam bentuk koleksi warisan budaya yang dimiliki.
Akulturasi Islam dengan Budaya Jawa dalam Kilas Balik Gunung Kemukus Anita Dewi Rachmawati; Sholahuddin Al Ayubi; Ismail Maulana Pebiansyah; Mega Alif Marintan
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 186-201
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/fsacp684

Abstract

Eksistensi akulturasi ajaran Islam dengan kebudayaan Jawa saat ini masih berkembang. Akulturasi tersebut tumbuh tanpa menambahi makna dan tujuan dari ajaran agama Islam itu sendiri. Adapun dalam perkembangan agama Islam, kebudayaan tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling beriringan dan berkesinambungan. Salah satu wujud akulturasi yaitu kebudayaan yang ada di Gunung Kemukus yang berada di Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Gunung Kemukus merupakan tempat peristirahatan terakhir seorang pangeran dari Kerajaan Majapahit yaitu Pangeran Samodra. Tokoh Pangeran Samodra dikenal sebagai penyebar agama Islam melalui kebudayaan Jawa seperti pertunjukan wayang . Terdapat sebuah sendang yang disebut Sendang Ontrowulan yang digunakan untuk mensucikan diri sebelum melakukan ziarah. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana akulturasi kebudayaan Jawa dengan ajaran agama Islam tanpa mengurangi dan menambahi pokok ajarannya dalam kilas balik Gunung Kemukus. Metode dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode kualitatif dengan melakukan wawancara terhadap Dinas Pariwisata Kabupaten Sragen selaku pengelola tempat ziarah, juru kunci selaku orang yang dituakan dan dianggap mengerti mengenai cerita Pangeran Samodra, dan pengunjung sekitar Gunung Kemukus yang berasal dari berbagai daerah. Guna mendukung penelitian ini penulis juga menggunakan sumber data sekunder yaitu sumber data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung malalui perantara. Data sekunder diperoleh melalui buku literasi, catatan atau laporan historis yang telah tersusun rapi yang dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan, penelitian terdahulu yang terkait, dan beberapa website yang digunakan sebagai data pendukung dalam penelitian. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa pertama bentuk akulturasi budaya Jawa dan agama Islam terlihat dari sejarah penyebaran agama Islam; kedua perintah mensucikan dari kotoran di Sendang Ontrowulan merupakan konsep thaharah (bersuci) dalam Islam; ketiga akulturasi budaya Jawa dan Islam dilihat dari peringatan hari sakral yang dilakukan.
Toleransi Derma Kebudayaan Pecinan di Kota Solo Siti Habibah Dwi Rahayuningtyas; Andi Yoga Pratama; Nur Fadlilah; Mega Alif Marintan
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 202-228
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/wdv49y82

Abstract

Toleransi saat ini menjadi topik yang sering di kesampingkan dalam kehidupan masyarakat. Toleransi diartikan sebagai sikap menghargai sesama umat manusia tanpa membedakan ras, suku, budaya, maupun agama, baik secara individu atau kelompok. Kehidupan bermasyarakat akan selalu berdampingan dengan sikap toleransi agar tidak menimbulkan banyak perkara antar manusia. Adapun dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa yang hadir di Kota Solo menjunjung tinggi adanya toleransi. Hubungan kontak sosial serta akulturasi kebudayaan yang baik terjadi antar kebudayaan etnis Tionghoa dengan kebudayaan Jawa khususnya di Kota Solo. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana bentuk toleransi dalam Derma Kebudayaan Pecinan di Kota Solo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan pendekatan kualitatif. Peneliti melakukan wawancara kepada tokoh Tionghoa serta observasi langsung ke objek yang dikaji untuk memperkuat data. Selain itu referensi lain dalam bentuk penelitian terdahulu atau artikel yang sejenis juga digunakan. Penelitian ini menunjukan bahwa adanya kontak sosial yang baik antara masyarakat Tionghoa dan masyarakat di Kota Solo. Hasil dari penelitian ini ini yaitu pertama kontribusi kebudayaan etnis Tionghoa dalam kebudayaan Jawa melalui Grebeg Sudiro, kedua toleransi dalam derma Pecinan dapat dilihat dari penampilan Barongsai yang melibatkan warga Solo dalam pementasan, ketiga bentuk toleransi dan akulturasi dapat dilihat dari corak batik yang di kawinkan dengan corak Cina, keempat bentuk akulturasi dilihat dari ragam kuliner seperti kue moho, tahok, lumpia, bakmi, onde-onde, lontong cap go meh, ronde dan masih banyak lagi akulturasi kebudayaan antara etnis Tionghoa dan etnis Jawa.
DIGITIZATION OF JAVANESE MANUSCRIPTS IN THE STUDY OF ARCHIPELAGO MANUSCRIPTS AT THE REKSA PUSTAKA MANGKUNEGARAN SURAKARTA LIBRARY Mega Alif Marintan; Qisthi Faradina Ilma Mahanani; Salsabilla Nathania Arumsasi
Vol. 2 No. 1 (2024): Proceeding of International Conference on Cultures & Language 2024 291-304
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/xsx0k243

Abstract

Libraries have an important role in preserving local wisdom treasures. One of the libraries that is massive in carrying out this role is the Reksa Pustaka Mangkunegaran Surakarta Library. Javanese manuscripts are cultural artifacts that contain valuable knowledge that is useful in life. Based on the benefits of the manuscript for future generations and considering the age of the manuscript, it is necessary to digitize it in an effort to preserve knowledge and add to the treasures of Indonesian manuscript studies. This research aims to describe efforts to digitize ancient Javanese archives at Reksa Pustaka. The research method uses qualitative interviews with librarians, the study of related documents, and also observation. The results of the research show that efforts to digitize Javanese manuscripts are carried out by making copies in the form of digital documents so as to increase the collection with better quality and make it easily accessible to library users. The policy for digitizing ancient manuscripts includes selection, storage, and transliteration. The stages of digitizing ancient manuscripts are pre-digitization, digitization, editing, and finalization, namely checking and printing the manuscript.
REVIEWING GLOCALIZATION OF LIBRARY SERVICES ON THE DIGITAL BUDAYA INDONESIA LIBRARY WEBSITE Za’imatunnisa’ Za’imatunnisa’; Mega Alif Marintan
Vol. 2 No. 1 (2024): Proceeding of International Conference on Cultures & Language 2024 305-317
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/7dxbkh46

Abstract

This article aims to determine efforts to glocalize library services on the Perpustakaan Digital Budaya Indonesia website. The website is a forum for accessing, maintaining and preserving online cultural riches in Indonesia. In the current digital era, libraries must pay more attention to glocalization services through websites because they are easy to access and have many features. Glocalization here refers to combining global and local aspects, where the service meets users local needs but still follows international trends. The research method used is qualitative, which is conducted through content analysis. This writing identifies the glocalization strategies used by the library to increase the accessibility and relevance of its services. The results of the research are that we can find out the glocalization of library services on the Perpustakaan Digital Budaya Indonesia website, making it easier for users to find out about local history and culture in Indonesia so that the library can maintain a balance between globalization and locality in providing services that are appropriate and competitive in this era. The digital era can continue to develop. The content provided on the Perpustakaan Digital Budaya Indonesia website is diverse and rich in Indonesian culture. Implementing glocalization of library services on websites can make it easier for users to find out about cultural diversity by accessing them efficiently and flexibly.
GLOCALIZATION APPROACHES IN LANGUAGE AND MEDIA IN LIBRARY INFORMATION SYSTEMS: AN IMPACT ANALYSIS ON USER ENGAGEMENT Nur Husniyatul Adyani; Mega Alif Marintan
Vol. 2 No. 1 (2024): Proceeding of International Conference on Cultures & Language 2024 318-332
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/wzw6vx91

Abstract

The emergence of the concept of glocalization is a process of adaptation of global products to local markets and cultures. Glocalization significantly influences the quality of the community's political, economic, social, and cultural life to foster innovations in information from various contexts. As one of the information provider institutions, the library has a role in balancing and providing facilities for the information needs of both local and global communities, such as information systems to the community to increase regional productivity using technology. This study intends to identify the principles of the glocalization approach in language and media in library information systems, analyze the most effective strategies to integrate global elements of local values through library information systems, as well as the impact of user engagement to minimize user linguistic challenges in the concept of glocalization in their services with a focus on adapting language diversity in various media. This research is based on the idea of glocalization with the principles of inclusion and accessibility in the information system of a library. This study uses a descriptive qualitative method with a case study approach. Data was collected through interviews with librarians, library user surveys, participatory observations, and library information system usage analysis. A case study was conducted at the Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta, explaining the impact of globalization on library systems and services. The results showed that glocalization approaches in language and media in library information systems significantly impact users' linguistic challenges. Libraries can develop innovations regarding information systems by applying the principle of glocalization, such as language adjustments in the user interface, as well as the use of media by local preferences.
ISLAM WASATHIYAH DALAM GAGASAN POLITIK ISLAM: MENGUAK PEMIKIRAN ISLAM WASATHIYAH KH ABDURRAHMAN WAHID Raha Bistara; Mega Alif Marintan
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 913-931
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/bj6w0381

Abstract

Indonesia sebagai negara yang majemuk dan memiliki berbagai macam budaya, suku,ras, agama dan lain sebagainya. Menjadikanya negara yang plural dan penting untuk menjagakesatuan dan persatuan bangsa. Dalam menghadapi kemajemukan konsep Islam wasathiyahmenjadi penting untuk di implementasikan dimasa sekarang. Telebih lagi mengenaipermasalahan politik khususnya Islam akan lebih kompleks. Melihat tersebut AbdurramanWahid sebagai cendekiawan muslim memberikan perhatian untuk menciptakan suasana damaiditengah perbedaan. Dengan menggunakan metode kualiatif dan pendekatan library reaserch.Berarti penelitian ini merupakan penelitian pustaka, yang mana sumber data bersumber daripustaka. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan historis, hal tersebut bergunauntuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai konsep Islam wasathiyahAbdurrahman Wahid. Hasil penelitian ini menemukan bahwa dipaparkan AbdurrahmanWahid merupakan tokoh cendekiawan muslim yang berasal dari lingkungan pesantren. Keduakakenya merupakan ulama yang cukup terkenal dan Kyai sepuh Nahdlatul Ulama (NU).Sebagai orang yang lahir dari keluarga pesantren ia paham betul mengenai ilmu kegamaan.Salah satunya ia berpendapat bahwa Islam washatiyah merupakan tengah-tengah, tidakbersikap ektrim. Konsep Islam washatiyah ini penting diterapkan di Indonesia yang plural.Gagasan politik Islam Abdurrahaman wahid juga sangat relevan diterapkan di Indonesia. Haltersebut dimaksudkan untuk membendung gerakan-gerakan politik Islam yang inginmenerapkan sistem khilafah Islamiah. Sistem yang sebetulnya tidak cocok untuk diterapkan diIndonesia. Walaupun Indonesia menjadi negara dengan mayoritas umat muslim. Namun tidakdapat dipungkiri masih ada umat agama lain yang hidup di Indonesia. Sehingga bersikapmoderat dan berlaku adil dalam hidup berbangsa dan bernegara menjadi syarat wajib dalamupaya menjaga perdamaian di Indonesia khususnya dan perdamaian dunia pada umumnya.
REPRESENTATION OF INDONESIAN CULTURE THROUGH SOCIAL MEDIA AS AN EFFORT TO PRESERVE LOCAL CULTURE: CONTENT ANALYSIS OF TIKTOK ACCOOUNT KIKI NASUTION @sabda.bumi Nur Husniyatul Adyani; Mega Alif Marintan; Toti Nova Amalia
Vol. 3 No. 1 (2025): Proceeding of International Conference on Cultures & Languages 2025 155-169
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstracts : The phenomenon of globalization presents a significant challenge to a nation's cultural resilience. Indonesia, a country rich in local cultural diversity, faces the risk of losing its cultural wealth if there are no adaptive conservation efforts. In this context, social media, particularly TikTok, presents a strategic opportunity to counter the trend of cultural homogenization. The platform offers creators the opportunity to represent local culture in an engaging and accessible way to a diverse community, packaged in digital content. This study aims to identify the form of Indonesian cultural representation on TikTok creator accounts, analyze the cultural values that appear in the content produced by @sabda.bumi creators, and explore how the contribution of cultural content on TikTok can help implement cultural resilience efforts and improve people's digital literacy. The method used in this study is a descriptive qualitative approach that identifies patterns, themes, and relationships within content from TikTok creators, specifically Kiki Nasution, through content analysis. The study's results show that Kiki Nasution's account content has a distinctive focus and approach in representing Indonesian culture through social media. This research also demonstrates that the presence of cultural content on TikTok serves not only as entertainment but also as a form of culture-based digital literacy, directly contributing to cultural resilience. This creator has proven to be able to make TikTok an alternative media for cultural preservation that adapts to digital dynamics, while building cultural awareness among the younger generation.