Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Agrikultura

Keefektifan Bakteri dan Khamir Asal Air Rendaman Kompos dalam Menekan Perkembangan Penyakit Bercak Coklat (Alternaria solani Sorr.) pada Tomat Noor Istifadah; Putu Ghita Novilaressa; Fitri Widiantini; Sri Hartati
Agrikultura Vol 31, No 1 (2020): April, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.383 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i1.26876

Abstract

Penyakit bercak coklat yang disebabkan oleh jamur Alternaria solani Sorr. merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman tomat. Cara pengendalian penyakit bercak coklat yang biasa dilakukan adalah dengan penyemprotan fungisida sintetik. Mengingat berbagai dampak negatif dari penggunaan pestisida yang terus-menerus, maka perlu dikembangakan cara pengendalian ramah lingkungan seperti pengendalian secara biologi. Bakteri dan jamur merupakan mikrob yang berpotensi sebagai agens biokontrol penyakit tanaman. Salah satu sumber dari agens antagonis patogen tanaman adalah air rendaman kompos. Paper ini mendiskusikan hasil penelitian yang mengevaluasi kemampuan bakteri mikrob yang diisolasi dari air rendaman kompos berbahan dasar kotoran sapi dan domba untuk menghambat pertumbuhan A. solani in vitro dan menekan penyakit yang disebabkan patogen tersebut pada buah dan tanaman tomat. Percobaan secara in vitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap, sementara pengujian pada buah dan tanaman tomat menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Isolasi mikrob dari air rendaman kompos berbahan dasar kotoran sapi dan domba menghasilkan 35 isolat, yang mana 11 isolat (enam isolat bakteri dan lima isolat khamir) dapat menghambat pertumbuhan A. solani secara in vitro sebesar 79,3%-84,2% dengan zona hambat sebesar 0,0-28,3 mm. Pada pengujian secara in vivo, lima isolat non-patogenik (dua isolat bakteri dan tiga isolat khamir) dapat menekan penyakit bercak coklat pada buah tomat sebesar 100% dan pada daun tomat sebesar 77,5%-98,1%. Isolat-isolat ini berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai agens biokontrol penyakit bercak coklat pada tanaman tomat.
Kompatibilitas Vegetatif Fusarium oxysporum dari Beberapa Tanaman Inang Sri Sri Hartati; Ummu Salamah Rustiani; Lindung Tri Puspasari; Wawan Kurniawan
Agrikultura Vol 27, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.943 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i3.10875

Abstract

ABSTRACTVegetatif compatibility of Fusarium oxysporum on various hostsMany strains or race of Fusarium oxysporum can be grouped based on compatibility reproduction from a variety of different strains called Vegetative Compatibility Group (VCG). This study was aimed to determine how the grouping of several isolates of F. oxysporum and grouping of several hosts of the fungus by vegetative compatibility group. Fusarium oxysporum isolated from chickpea plants that showed symptoms of fusarium wilt. The isolates of F. oxysporum of chili and tomatoes obtained from the culture collections of Mycology Laboratory of IPB. Stages of vegetative compatibility testing assayed through recovery of nit mutants, the identification of phenotype of nit mutant, and complementation test. There are 29 mutants isolated from the isolates of F. oxysporum. Nit1 mutant was obtained from all isolates of beans, tomatoes and peppers. NitM and Nit3 mutant isolates were obtained from chickpea 4 and chili sequentially. Two VCG and one single self compatibility (SSC) were assayed from isolates of F. oxysporum based on complementation testing.Keywords: Beans, Fusarium wilt, Nit mutant, SSC, VCGABSTRAKJamur Fusarium oxysporum memiliki banyak forma spesialis dan ras. Jamur ini dapat dikelompokkan berdasarkan kompatibilitas reproduksi dari berbagai strain yang berbeda disebut dengan vegetative compatibility group (VCG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara pengelompokkan F. oxysporum dan pengelompokkan jamur tersebut dari beberapa inang berdasarkan kelompok kompatibilitas vegetatifnya. Isolasi F. oxysporum dilakukan dari tanaman kacang panjang yang menunjukkan gejala layu fusarium. Isolat F. oxysporum dari cabai dan tomat berasal dari koleksi Laboratorium Mikologi IPB. Tahapan pengujian kompatibilitas vegetatif melalui pembiakan nit mutan, identifikasi fenotipe nit mutan, dan pengujian komplementasi. Isolasi mutan F. oxysporum didapatkan 29 mutan. Mutan nit1 didapatkan dari semua isolat yang diperoleh dari semua inang yang berbeda yaitu kacang panjang, tomat dan cabai. Mutan nitM hanya didapatkan dari isolat kacang panjang 4 dan mutan nit3 hanya didapatkan dari isolat cabai. Berdasarkan uji komplementasi F. oxysporum yang diuji terdiri dari dua VCG dan satu single self compatibility (SSC).Kata Kunci: Kacang panjang, Layu fusarium, Nit mutant, SSC, VCG
Penambahan Gula pada Medium Biakan untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Kemampuan Antagonisme Candida tropicalis terhadap Patogen Penyebab Penyakit Layu Fusarium Tomat Sri Hartati; Timotius A. Sumbari; Ceppy Nasahi; Wawan Kurniawan
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.28544

Abstract

Layu fusarium merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman tomat yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici (FOL) Salah satu agens antagonis yang dapat menghambat pertumbuhan FOL adalah khamir Candida tropicalis. Pertumbuhan dan kemampuan antagonisme khamir dapat ditingkatkan dengan penambahan gula sebagai sumber nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi dan jenis gula yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan antagonisme C. tropicalis terhadap FOL. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas 16 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas jenis gula yang ditambahkan pada medium tumbuh khamir yaitu glukosa, sukrosa, trehalosa, D-xylose, dan D-mannitol dengan konsentrasi masing-masing gula 1%, 2,5%, 5%, dan kontrol (PDA setengah dekstros dan PDA dekstros penuh). Hasil percobaan menunjukkan bahwa D-mannitol 1% mampu meningkatkan panjang koloni C. tropicalis tertinggi sebesar 4,80 cm, dibanding kontrol (4,07 cm). Sukrosa 2,5% mampu meningkatkan lebar koloni tertinggi sebesar 1,47 cm, dibanding kontrol (1,00 cm). Seluruh perlakuan mampu meningkatkan kerapatan sel khamir C. tropicalis.  Kerapatan sel tertinggi dihasilkan oleh trehalosa 1% sebesar 4,27 x 107, sementara pada kontrol 0,1 x 107 sel/ml. Gula trehalosa 2,5% dapat meningkatkan antagonisme khamir dengan daya hambat tertinggi sebesar 23,68%, dibandingkan dengan kontrol PDA dekstros penuh.
Komposisi Komunitas Serangga Aphidophaga dan Coccidophaga pada Agroekosistem Kacang Panjang (Vigna sinensis l.) di Kabupaten Garut Lindung Tri Puspasari; Martua Suhunan Sianipar; Sri Hartati
Agrikultura Vol 27, No 1 (2016): April, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.077 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i1.8474

Abstract

ABSTRACTComposition of Aphidophaga and Coccidophaga Insect Communities on Long Bean Agroecosystem (Vigna sismensis L.) at Garut RegencyThe research about Aphidophaga and Coccidophaga insect composition comunity on long beans (Vigna sinensis L.) agroecosystems was done in the month of April to November 2011 in Haruman Village, Leles District, Garut Regency. Research was conducted in the form of surveys which were done by collecting insects directly and using various traps ie yellow traps board, fitfall traps, and nets swinging. The dominant insect pest that found was Aphis craccivora which causing percentage of damage to the plants ranging from 20% to 90%. Types of aphidophaga and coccidophaga found were belong to the Order of Coleoptera : Family Coccinellidae Menochilus sexmaculatus, Micraspis sp., Harmonia sp., Verania lineata, Curinus coeruleus, Scymnus sp., Coccinella transversalis); the Order of Diptera : Family Syrphidae namely Ischiodon scutellaris; Neuroptera: Family Hemerobiidae; the Order of Diptera : Family Cecidomyiidae Aphidoletes aphidimyza; and there was also Carabidae beetles of the Order Coleoptera with species diversity index wasl relatively low. The highest abundance of predators of coccidophaga and aphidophaga group was dominated by Ischiodon scutellaris and Menochilus sexmaculatus.Key words: Diversity, Abundance, Dominant species, Insect pestsABSTRAKPenelitian mengenai komposisi komunitas serangga aphidophaga dan coccidophaga pada Agroekosistem kacang panjang (Vigna sinensis (L.) telah dilaksanakan pada Bulan April–November 2011 di Desa Haruman Kecamatan Leles Kabupaten Garut. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei dengan mengoleksi serangga secara langsung, dan menggunakan berbagai perangkap antara lain perangkap papan kuning, fitfall trap, dan jaring ayun. Serangga hama dominan yang ditemukan adalah Aphis craccivora dengan persentase serangan berkisar 20% - 90%. Jenis aphidophaga dan coccidophaga lain yang ditemukan yaitu dari Ordo Coleoptera : Famili Coccinellidae: Menochilus sexmaculatus, Micraspis sp., Harmonia sp., Verania lineata, Curinus coeruleus, Scymnus sp., Coccinella transversalis; Ordo Diptera : Famili Syrphidae yaitu Ischiodon scutellaris; Neuroptera : Famili Hemerobiidae; Ordo Diptera : Famili Cecidomyiidae Aphidoletes aphidimyza; serta terdapat pula kumbang Carabidae dari Ordo Coleoptera dengan indeks keragaman spesies yang masih tergolong rendah. Kelimpahan tertinggi predator dari kelompok aphidophaga dan coccidophaga didominasi oleh spesies Ischiodon scutellaris dan Menochilus sexmaculatus.Kata kunci : Keragaman, Kelimpahan, Spesies dominan, Serangga hama
Identifikasi Isolat Khamir Berpotensi sebagai Agens Antagonis dan Uji Produksi Toksin Hemolisin Sri Hartati; Suryo Wiyono; Sri Hendrastuti Hidayat; Meity Suradji Sinaga
Agrikultura Vol 32, No 2 (2021): Agustus, 2021
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v32i2.33849

Abstract

Identifikasi khamir dapat dilakukan secara konvensional maupun molekuler. Identifikasi secara konvensional membutuhkan waktu yang lama dan interpretasi hasilnya seringkali bersifat subyektif. Sementara identifikasi khamir dengan metode molekuler dapat memberikan hasil yang lebih akurat dan cepat. Khamir yang berperan sebagai agens antagonis harus aman terhadap organisme nontarget agar dapat diaplikasikan di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi isolat-isolat khamir berpotensi antagonis dengan metode molekuler dan mengetahui kemampuan khamir dalam menghasilkan hemolisin sebagai salah satu indikator potensi resiko terhadap mamalia. Identifikasi dan pengujian kemampuan khamir dalam menghasilkan hemolisin dilakukan pada 15 isolat khamir berpotensi antagonis terhadap patogen antraknosa cabai (Colletotrichum acutatum). Identifikasi khamir dilakukan secara molekuler dengan PCR menggunakan primer ITS1 dan ITS4. Penyediaan khamir menggunakan mediaYeast Malt Extract Broth (YMB) dan Potato Dextrose Agar (PDA). Pengujian kemampuan khamir dalam menghasilkan hemolisin menggunakan media blood agar base (Oxoid CM55) ditambah darah domba 5%. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa isolat khamir dapat teramplifikasi dengan primer ITS1 dan ITS4 dengan ukuran  fragmen   produk   antara  500-800 pb. Hasil analisis sekuensing didapatkan 6 spesies khamir yaitu Candida tropicalis, Rhodotorula minuta, Aureobasidium pullulans, Pseudozyma hubeiensis, Pseudozyma aphidis, dan Pseudozyma shanxiensis. Uji kemampuan khamir dalam menghasilkan hemolisin menunjukkan bahwa seluruh khamir yang diuji tidak menghasilkan toksin hemolisin sehingga diduga isolat-isolat tersebut tidak patogenik terhadap manusia.
Penambahan Gula untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Antagonisme Khamir Rhodotorula minuta terhadap Colletotrichum acutatum Penyebab Antraknosa Cabai secara In-vitro Sri Hartati; Wahyu Daradjat Natawigena; Noor Istifadah; Sri Rosmala Dewi
Agrikultura Vol 29, No 2 (2018): Agustus, 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (977.875 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v29i2.19251

Abstract

ABSTRACTThe addition of sugar to increase the growth and antagonism of Rhodotorula minuta against Colletotrichum acutatum, the causal agent of anthracnose on chilli in-vitroBiocontrol can be used as an alternative in controlling anthracnose disease on chilli caused by Colletotrichum acutatum. One of the antagonistic agents that reported to be able to control anthracnose on chilli is Rhodotorula minuta. Some sugars can be utilized by R. minuta for its growth and antagonism. This research was objected to study the effect of addition of some sugars to increase the growth and antagonism of R. minuta. The experiment was arranged in the completely randomized design with 16 treatments and 3 replications. The treatments were addition of glucose, sucrose, trehalose, D-mannitol, and D-xylose at 1%, 2.5% and 5% each. The results showed that the addition of glucose, sucrose, trehalose, D-mannitol, and D-xylose were able to increase the growth of R. minuta. The addition of glucose, sucrose, trehalose, and D-mannitol increased antagonism of R. minuta. The addition of 1% sucrose was able to stimulate the highest growth rate of R. minuta at the cell density of 3.87 x 107 cells/ml. The addition of trehalosa 2.5% increased the colony growth at 3 and 6 days after treatment. Sucrose 2.5%, D-manitol 5%, and glukosa 2,5% caused the highest relative inhibition of R. minuta against C. acutatum.Key words: antagonistic yeast, glucose, sucrose, trehalose, D-mannitol, D-xyloseABSTRAKPengendalian hayati dapat digunakan sebagai alternatif dalam mengendalikan penyakit antraknosa pada cabai. Salah satu agens antagonis yang telah dilaporkan mampu mengendalikan penyakit antraknosa pada cabai yang disebabkan oleh Colletotrichum acutatum adalah khamir Rhodotorula minuta. Beberapa gula dapat dimanfaatkan oleh R. minuta untuk pertumbuhan dan antagonismenya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan beberapa gula untuk meningkatkan pertumbuhan dan antagonisme R. minuta. Percobaan dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 16 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari penambahan gula glukosa, sukroa, trehalosa, D-mannitol dan D-xylose dengan konsentrasi masing-masing gula 1%, 2,5% dan 5%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penambahan gula glukosa, sukrosa, trehalosa, D-mannitol, dan D-xylose dapat meningkatkan pertumbuhan R. minuta. Penambahan gula glukosa, sukrosa, trehalosa, dan D-mannitol dapat meningkatkan antagonisme R. minuta. Perlakuan penambahan gula sukrosa 1% merupakan perlakuan yang dapat meningkatkan pertumbuhan R. minuta dengan kerapatan sel tertinggi yaitu sebesar 3,87 x 107 sel/ml. Penambahan trehalosa 2,5% dapat meningkatkan pertumbuhan koloni pada 3 HSP dan 6 HSP. Sukrosa 2,5%, D-manitol 5% dan glukosa 2,5% menyebabkan tingkat hambatan relatif R. minuta tertinggi terhadap C. acutatum.Kata kunci : Khamir antagonis, glukosa, sukrosa, trehalosa, D-mannitol, D-xylosa
Arthropoda Permukaan Tanah : Kelimpahan, Keanekaragaman, Komposisi dan Hubungannya dengan Fase Pertumbuhan Tanaman pada Ekosistem Padi Hitam Berpupuk Organik Vira Kusuma Dewi; Rizky Fauzi; Santika Sari; Sri Hartati; Siska Rasiska; Yongki Umam Sandi
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.28654

Abstract

Arthropoda permukaan tanah merupakan bagian penting dari suatu ekosistem di dalam tanah yang berperan dalam proses dekomposisi, aerasi dan siklus nutrisi. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh pupuk organik asal ampas bungkil mimba dan gulma siam terhadap kelimpahan, keanekaragaman dan komposisi arthropoda permukaan tanah dan hubungannya dengan fase pertumbuhan tanaman pada ekosistem sawah padi hitam. Percobaan dilaksanakan di Cinenggang, Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang sejak bulan April – November 2018. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari lima perlakuan yaitu kontrol (tanpa pupuk), pupuk ampas bungkil mimba, kompos gulma siam, pupuk kohe sapi, dan NPK yang diulang sebanyak enam kali. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sembilan famili arthropoda permukaan tanah yang terdiri dari famili Carabidae, Curculionidae, Staphylinidae, Formicidae, Acrididae, Gryllidae, Gryllotalpidae, Nepidae, dan Lycosidae. Pada semua perlakuan, kelimpahan arthropoda permukaan tanah yang mendominasi dari famili (Carabidae, Formicidae) yaitu perlakuan kontrol (117; 31 individu), pupuk ampas bungkil mimba (142; 159 individu), kompos gulma siam (160; 98 individu), pupuk kohe sapi (102; 74 individu) dan pupuk NPK (93; 70 individu). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa perlakuan pupuk ampas bungkil mimba dan kompos gulma siam memperlihatkan kelimpahan karnivor tertinggi, namun tidak berbeda nyata pada herbivor. Keanekaragaman arthropoda permukaan tanah pada semua perlakuan (kontrol, pupuk ampas bungkil mimba, kompos gulma siam, pupuk kohe sapi, pupuk NPK) memiliki nilai indeks keragaman sedang (1,470; 1,310; 1,377; 1,585; 1,638). Selanjutnya, perlakuan ampas bungkil mimba dan kompos gulma siam menunjukkan total arthropoda permukaan tanah tertinggi  pada fase vegetatif bila dibandingkan dengan perlakuan pupuk kohe sapi, NPK dan kontrol. Namun pada fase generatif, perlakuan pupuk kohe sapi yang memperlihatkan total arthropoda permukaan tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya.
Induksi Resistensi dengan Rhodotorula minuta untuk Mengendalikan Antraknosa (Colletotrichum acutatum J. H. Simmonds) Pada Tanaman Cabai Sri Hartati; Linda Tarina; Endah Yulia; Luciana Djaya
Agrikultura Vol 30, No 3 (2019): Desember, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.127 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i3.24874

Abstract

Antraknosa merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman cabai yang menyebabkan kerugian cukup besar. Penggunaan khamir sebagai agens penginduksi resistensi tanaman cabai merupakan salah satu alternatif ramah lingkungan untuk pengendalian penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan khamir R. minuta dalam menginduksi resistensi tanaman cabai untuk mengendalikan penyakit antraknosa cabai. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Proteksi Tanaman dan Rumah Kaca Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran di Jatinangor serta Laboratorium Biorin, PAU, Instititut Pertanian Bogor.  Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 9 perlakuan dan 5 ulangan. Pengaruh induksi resistensi diuji dengan perbedaan waktu inokulasi C. acutatum yaitu 3, 5, 7, dan 10 hari setelah perlakuan induksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa khamir R. minuta memiliki kemampuan menginduksi resistensi tanaman cabai terhadap antraknosa. Luas gejala antraknosa terkecil terjadi pada perlakuan induksi R. minuta dengan waktu inokulasi 7 hari setelah perlakuan yaitu sebesar 0,1125 cm2. Perlakuan R. minuta dengan waktu inokulasi 7 hari setelah perlakuan merupakan respon induksi terbaik dengan tingkat penekanan antraknosa sebesar 47,33%, serta meningkatkan aktivitas enzim peroksidase 1,7 kali yaitu sebesar 0,748 ∆A₄₂₀/menit.μg protein.
Potensi Mikrob Asal Air Rendaman Limbah Jamur Tiram untuk Menghambat Alternaria solani Sorr. in Vitro dan Penyakit Bercak Cokelat pada Tomat Noor Istifadah; Santa Monica; Fitri Widiantini; Sri Hartati
Agrikultura Vol 31, No 3 (2020): Desember, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i3.29198

Abstract

Penyakit bercak cokelat yang disebabkan oleh Alternaria solani Sorr. merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman tomat. Salah satu cara pengendalian yang ramah lingkungan adalah pengendalian biologi. Bahan organik termasuk limbah jamur tiram merupakan salah satu sumber yang potensial untuk mendapatkan mikrob yang bersifat antagonistik terhadap patogen tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan mikrob dari air rendaman limbah jamur tiram yang dapat menghambat pertumbuhan Alternaria solani secara in vitro dan menekan penyakit bercak cokelat pada buah dan daun tomat. Percobaan terdiri dari beberapa tahap antara lain isolasi mikrob dari air rendaman limbah jamur tiram, seleksi awal dan uji lanjutan kemampuan isolat mikrob untuk menghambat pertumbuhan A. solani secara in vitro dengan metode dual culture. Isolat hasil seleksi in vitro diuji kemungkinan patogensitasnya pada buah tomat dan isolat non patogenik yang dapat menghambat infeksi A. solani diuji lebih lanjut pada tanaman tomat. Hasil percobaan menunjukkan bahwa di antara 23 isolat mikrob yang diperoleh dari air rendaman limbah jamur tiram terdapat delapan isolat yang dapat menghambat pertumbuhan A. solani  secara in vitro dengan tingkat penghambatan berkisar antara 70,1% sampai  81,2%.  Pada pengujian di buah tomat, dua isolat jamur berhifa (Rhizopus spp.) bersifat patogenik dan tiga isolat mikrob non patogenik dapat menghambat infeksi A solani pada buah tomat sebesar  78,4% dan 83,7%. Pada percobaan di tanaman tomat, hanya dua isolat (isolat jamur TJ4 dan isolat bakteri TB25) yang dapat menekan penyakit bercak cokelat masing-masing sebesar 54,8% dan 37,9%.
Pengaruh Induksi Resistensi oleh Khamir Candida tropicalis terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai Terinfeksi Colletotrichum acutatum Sri Hartati; Linda Tarina; Endah Yulia; Luciana Djaya
Agrikultura Vol 30, No 1 (2019): April, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.314 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i1.22699

Abstract

ABSTRACTEffect of induced resistance by Candida tropicalis on the growth of chili plants infected by Colletotrichum acutatumColletotrichum acutatum is a major pathogen of chili that causes a big yield loss. Candida tropicalis has been reported as a biocontrol agent antagonistic to C. acutatum. The research was objected tofind out the effect of induced resistance by C. tropicalis on the growth of chili plants infected by C. acutatum. The application of the yeast was carried out by seed dipping and seedling spraying methods. As treatments, C. acutatum, the pathogen was inoculated at different time, i.e. A = inoculation at 3 days after the induction (dai) by C. tropicalis, B = inoculation at 7 dai, C = inoculation at 10 dai, D = positive control on inoculation at 3 dai, E = positive control on inoculation at 7 dai, F = positive control on inoculation at 10 dai, G = negative control with no induction nor inoculation. The results showed that the induction by C. tropicalis was able to increase the plant height, leaf number, and dry weight. The highest increase of plant height of 30.72% was caused by induction of C. tropicalis inoculated at 7 dai. Induction of C. tropicalis inoculated at 3 dai increased the leaf number by 49.47%, and the plant dry weight by 50%. C. tropicalis has a potency to be developed as plant growth inducer.Keywords: Antagonist, Inoculation, Fungi, YeastABSTRAKJamur Colletotrichum acutatum merupakan patogen penyebab kehilangan hasil panen yang cukup besar pada tanaman cabai. Salah satu mikrob antagonis jamur ini yang telah dilaporkan adalah khamir Candida tropicalis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh induksi resistensioleh C. tropicalis terhadap pertumbuhan tanaman cabai terinfeksi C. acutatum. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan teknik perendaman benih dan penyiraman bibit tanaman cabaimenggunakan suspensi C. tropicalis dengan waktu inokulasi patogen C. acutatum yang berbeda. Perlakuan tersebut adalah A = Inokulasi C. acutatum 3 hari setelah perlakuan induksi C. tropicalis (hsp), B = Inokulasi C. acutatum 7 hsp, C = Inokulasi C. acutatum 10 hsp, D = Kontrol (+) dengan inokulasi C. acutatum 3 hsp, E = Kontrol (+) dengan inokulasi C. acutatum 7 hsp, F = Kontrol (+) dengan inokulasi C. acutatum 10 hsp, G = Kontrol (-) tanpa induksi dan inokulasi. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa perlakuan induksi resistensi oleh khamir C. tropicalis mampu meningkatkan tinggi, jumlah daun, dan bobot kering tanaman cabai. Kemampuan meningkatkan tinggi tanamancabai tertinggi terjadi pada perlakuan C. tropicalis dengan waktu inokulasi 7 hsp yaitu sebesar 30,72%. Perlakuan khamir C. tropicalis dengan inokulasi patogen 3 hsp mampu meningkatkan jumlah daun tanaman cabai sebesar 49,47%. Perlakuan C. tropicalis dengan waktu inokulasi 3 hsp mampu meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 50%. Khamir C. tropicalis berpotensi untuk dikembangkan sebagai agens pemacu pertumbuhan tanaman.Kata Kunci: Antagonis, Inokulasi, Jamur, Patogen