Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Pengaruh Social Comparison dan Gratitude terhadap Body Image pada Dewasa Awal di Karawang Meylani Putri; Arif Rahman Hakim; Muhamad Choirul Ibad
JURNAL PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL (JUPENDIS) Vol. 4 No. 2 (2026): APRIL : JURNAL PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL
Publisher : Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54066/jupendis.v4i2.3849

Abstract

The purpose of this research is to examine the social comparison and gratitude’s effects on body image among early adults in Karawang. This quantitative research used convenience sampling to obtain 384 participants aged 18–25 in Karawang. The Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire-Appearance Scale (MBRSQ-AS), the Physical Appearance Comparison Scale-Revised (PACS-R), and the Gratitude Resentment and Appreciation Test–Short Form (GRAT-Short Form) were used to collect the data. Then, to test the hypotheses, a multiple regression analysis was used. From the findings, it was found that: (1) social comparison gave effects significantly on body image (p = .000 < .05), gratitude had a significant influence on body image (p = .014 < .05), and social comparison and gratitude simultaneously significantly influenced on body image (p = .000 < .05), accounting for 55.4% of the variance (Adjusted R Square = .554). These findings suggest that social comparison functions as a risk factor, while gratitude serves as a protective factor in shaping body image among early adults in Karawang.
PENGARUH KELEKATAN TEMAN SEBAYA DAN REGULASI EMOSI TERHADAP KECENDERUNGAN KECEMASAN SOSIAL SISWA KELAS XI DI SMAN 3 CIKAMPEK: Psikologi Isma Nurul Aulya; Puspa Rahayu Utami Rahman; M. Choirul Ibad
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11344

Abstract

This study aimed to examine the effects of peer attachment and emotion regulation on social anxiety tendencies among eleventh-grade students at SMAN 3 Cikampek, both partially and simultaneously. The study employed a quantitative approach with a correlational-predictive design. The sample consisted of 167 students selected through a combination of stratified sampling and convenience sampling from a population of 313 students. The instruments included the Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) to measure peer attachment, the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) to assess emotion regulation, and the Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) to measure social anxiety. The data were analyzed using multiple linear regression with SPSS version 25. The findings indicated that peer attachment and emotion regulation jointly had a significant effect on social anxiety. Partially, peer attachment had a positive and significant effect on social anxiety, whereas emotion regulation did not show a significant effect. The categorization results revealed that most students had high levels of emotion regulation and social anxiety tendencies, while their peer attachment patterns were mostly not clearly classified. These findings suggest that peer relationships play a more dominant role in explaining social anxiety than emotion regulation. Therefore, schools should strengthen healthy peer relationships, positive social support, group counseling services, and social skills development programs to help reduce students’ social anxiety. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kelekatan teman sebaya dan regulasi emosi terhadap kecenderungan kecemasan sosial pada siswa kelas XI SMAN 3 Cikampek, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional prediktif. Sampel penelitian terdiri atas 167 siswa yang dipilih melalui kombinasi teknik stratified sampling dan convenience sampling dari populasi 313 siswa. Instrumen penelitian meliputi Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) untuk mengukur kelekatan teman sebaya, Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) untuk mengukur regulasi emosi, dan Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) untuk mengukur kecemasan sosial. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelekatan teman sebaya dan regulasi emosi secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kecemasan sosial. Secara parsial, kelekatan teman sebaya berpengaruh positif dan signifikan terhadap kecemasan sosial, sedangkan regulasi emosi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Hasil kategorisasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki regulasi emosi dan kecenderungan kecemasan sosial yang tinggi, sementara pola kelekatan teman sebaya sebagian besar belum terklasifikasi secara jelas. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan dengan teman sebaya memiliki peran lebih dominan dalam menjelaskan kecemasan sosial dibandingkan regulasi emosi. Oleh karena itu, sekolah perlu memperkuat hubungan pertemanan yang sehat, dukungan sosial positif, layanan konseling kelompok, dan program pengembangan keterampilan sosial untuk membantu mengurangi kecemasan sosial siswa.
Work-Life balance and perceived organizational support as predictors of quiet quitting among generation Z employees Theresia Andhika Putri Pradani; Nita Rohayati; M. Choirul Ibad
Empathy : Jurnal Fakultas Psikologi Vol. 9 No. 2 (2026): June Edition
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/empathy.v9i2.32363

Abstract

This study examined the effects of work–life balance and perceived organizational support on quiet quitting among Generation Z employees in Karawang, Indonesia, from the perspective of person–organization fit theory. As Generation Z increasingly enters the workforce, organizations are experiencing shifts in workplace dynamics and employee expectations, particularly regarding work flexibility, meaningful work, and an inclusive organizational environment. Misalignment between employees' personal values and organizational culture may reduce motivation and emotional engagement, thereby increasing the likelihood of quiet quitting behaviors. A quantitative research design with a causal approach was employed. The participants consisted of 205 Generation Z employees (born between 1997 and 2007) working in Karawang, Indonesia. Data were collected using the Quiet Quitting Scale, the Work–Life Balance Scale, and the Survey of Perceived Organizational Support and were analyzed using multiple linear regression. The findings revealed that work–life balance and perceived organizational support jointly exerted a significant effect on quiet quitting, explaining 24% of the variance. Furthermore, both independent variables individually demonstrated significant negative associations with quiet quitting. These findings suggest that Generation Z employees who experience better work–life balance and stronger organizational support are less likely to engage in quiet quitting behaviors. The study contributes to the organizational behavior literature by extending the application of person–organization fit theory in explaining quiet quitting among Generation Z employees and offers practical implications for organizations seeking to enhance employee well-being and work engagement through supportive organizational practices. 
Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Self Regulated Learning Pada Siswa SMKN 2 Karawang Findi Pramesthi; Randwitya Ayu Ganis Hemasti; M. Choirul Ibad
Jurnal Psikologi dan Konseling West Science Vol 3 No 04 (2025): Jurnal Psikologi dan Konseling West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpkws.v3i04.2569

Abstract

Self regulated learning adalah kemampuan siswa untuk belajar mandiri, seperti menentukan tujuan belajar, membuat rencana belajar, dan mengevaluasi hasil belajar. Rendahnya self regulated learning pada siswa merupakan salah satu masalah yang sering terjadi di lingkungan sekolah, hal tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya yaitu dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial terhadap self regulated learning pada siswa SMKN 2 Karawang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan analisis regresi linear sederhana pada 325 siswa SMKN 2 Karawang dengan menggunakan skala sebagai alat ukur pengumpulan data. Alat ukur yang dipakai adalah skala self regulated learning yang disusun peneliti berdasarkan teori Zimmerman (2015) dan skala dukungan sosial yang merupakan skala adaptasi dari Sulistiani (2022). Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi 0,00 < 0,05, yang membuktikan bahwa adanya pengaruh dari dukungan sosial terhadap self regulated learning siswa di SMKN 2 Karawang. Dukungan sosial yang diberikan oleh teman sebaya, guru, dan keluarga dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam merencanakan strategi belajar, memotivasi diri, dan mengatasi hambatan yang muncul selama proses belajar. Dengan adanya dukungan tersebut, siswa lebih mampu mengatur waktu, menetapkan tujuan belajar, dan mengevaluasi kemajuan mereka secara efektif. Kebaharuan dalam penelitian ini adalah secara khusus menguji pengaruh dukungan sosial terhadap self regulated learning pada siswa SMK. Penelitian sebelumnya lebih banyak dilakukan pada siswa di tingkat pendidikan umum atau universitas. Dengan fokus pada SMK, penelitian ini memberikan wawasan baru dan spesifik yang relevan dengan kebutuhan pendidikan kejuruan.
Mengapa Memilih Pasangan Itu Sulit? Peran Self Esteem dan Attachment Style dalam Kecemasan Memilih Pasangan Lidhea Kayla Putrie; Nita Rohayati; M.Choirul Ibad
Jurnal Psikologi dan Konseling West Science Vol 3 No 04 (2025): Jurnal Psikologi dan Konseling West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpkws.v3i04.2570

Abstract

Pada tahap emerging Adulthood individu merasa cemas untuk mengambil keputusan terutama ketika menetapkan pilihan pasangan. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi bagaimana attachment style dan self esteem mempengaruhi kecemasan memilih pasangan hidup. Penelitian ini menggunakan desain kausalitas dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini yaitu emerging adulthood dengan rentang usia 18-29 tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan convenience sampling dimana penentuan jumlah sampel dilakukan berdasarkan rumus yang dikemukakan oleh Cohen, sehingga dalam penelitian ini didapatkan responden sebanyak 206 orang. Alat ukur penelitian ini menggunakan adopsi skala baku, yaitu Dating Anxiety Scale (DAS), Adult Attachment Scale (AAS), dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES). Hasil penelitian secara partial membuktikan adanya pengaruh negatif (-) self esteem terhadap kecemasan memilih pasangan dan pengaruh positif (+) attachment style terhadap kecemasan memilih pasangan. Secara simultan/bersama-sama self esteem dan attachment style terhadap kecemasan memilih pasangan dengan memberikan kontribusi sebesar 33%. Individu dengan self esteem rendah dan attahment style tinggi cenderung memiliki kecemasan memilih pasangan yang tinggi. Begitupun sebaliknya.
Association between smartphone addiction and learning motivation among junior and senior high school students attending Pasraman Tirta Bhuana I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya; Arif Rahman Hakim; M. Choirul Ibad; Lania Muharsih
Jurnal Sipakatau: Inovasi Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 5 (2026): August
Publisher : PT. Global Research Collaboration

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66314/sipakatau.v3i5.1287

Abstract

This cross-sectional correlational study examined the association between smartphone addiction and learning motivation among adolescents attending Pasraman Tirta Bhuana, a nonformal Hindu religious education institution in Bekasi, Indonesia. The accessible population comprised 223 students aged 12-18 years, and 205 complete responses were included in the analysis (91.9% of the population). Smartphone-addiction symptoms were measured using the 21-item Indonesian modification of the Smartphone Addiction Scale, while learning motivation was assessed with a 24-item questionnaire organized around intrinsic motivation, extrinsic motivation, and amotivation. Preliminary instrument evaluation yielded Cronbach's alpha coefficients of .842 and .883, respectively. After residual normality, linearity, and homoscedasticity checks, simple linear regression showed a significant inverse association between smartphone-addiction and learning-motivation scores (B = −0.334; R = 0.525; R² = 0.276; p < 0.05). Thus, higher smartphone-addiction scores were associated with lower learning motivation, and the model accounted for 27.6% of the observed variance. Self-Determination Theory provides a plausible interpretive framework, although autonomy, competence, and relatedness were not measured directly. The findings support context-sensitive digital self-regulation strategies and longitudinal research rather than causal conclusions from cross-sectional data.
Manakah yang Lebih Berpengaruh? Adult Attachment dan Self-Esteem terhadap Fear of Intimacy pada Emerging Adulthood Helmi Salma Napisa; Nita Rohayati; Choirul Ibad
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 5: Agustus 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i5.18428

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh adult attachment dan self-esteem terhadap fear of intimacy pada individu yang berada pada fase emerging adulthood. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Data diperoleh dari responden yang berdomisili di Jawa Barat melalui teknik convenience sampling. Karakteristik responden dalam penelitian ini adalah laki-laki dan perempuan berusia 18–29 tahun yang sedang atau pernah menjalani hubungan romantis. Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus Lemeshow. Instrumen penelitian terdiri atas Fear of Intimacy Components Questionnaire (FICQ) untuk mengukur fear of intimacy, Experiences in Close Relationship Scale Short Form (ECR-Short Form) untuk mengukur adult attachment, serta Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) untuk mengukur self-esteem. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adult attachment dan self-esteem secara simultan berpengaruh signifikan terhadap fear of intimacy pada individu emerging adulthood. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kedua variabel tersebut memiliki peran penting dalam menjelaskan fear of intimacy pada individu yang berada pada fase emerging adulthood.
Interpersonal Trust dalam Hubungan Romantis Dewasa Awal: Partner Phubbing dan Social Media Surveillance sebagai Prediktor Hernawati Hernawati; Nita Rohayati; M Choirul Ibad
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 5: Agustus 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i5.20871

Abstract

Penelitian ini mengkaji interpersonal trust dalam hubungan romantis dewasa awal dengan menempatkan partner phubbing dan social media surveillance sebagai prediktor. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan 402 responden berusia 18–29 tahun di Jawa Barat yang sedang menjalani hubungan romantis dan dipilih melalui convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan Trust in Close Relationship Scale (TICR), Partner Phubbing Scale (PPS), dan Interpersonal Electronic Surveillance Scale (IESS), kemudian dianalisis dengan regresi linear berganda menggunakan SPSS versi 27. Hasil analisis menunjukkan bahwa partner phubbing dan social media surveillance secara simultan berpengaruh signifikan terhadap interpersonal trust. Secara parsial, partner phubbing berpengaruh negatif dan signifikan terhadap interpersonal trust, sedangkan social media surveillance tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan penggunaan smartphone dan media sosial secara bijak agar kualitas interaksi dan kepercayaan dalam hubungan romantis tetap terjaga.