Transformasi digital membutuhkan guru yang mampu mengembangkan bahan ajar kontekstual, bukan sekadar menggunakan aplikasi. Sekolah Kebangsaan Manjoi 2, Ipoh, Perak, Malaysia memiliki potensi budaya lokal yang kuat, tetapi pemanfaatannya dalam bahan ajar digital belum optimal. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada Senin, 20 Juli 2026, selama satu hari penuh secara luring di Sekolah Kebangsaan Manjoi 2 dan bertujuan memperkuat kapasitas 24 guru dalam merancang bahan ajar digital berbasis etnosains yang terintegrasi dengan Problem-Based Learning (PBL) dan simulasi virtual seperti PhET. Program menggunakan pelatihan partisipatif melalui sosialisasi, pemaparan konsep, eksplorasi budaya lokal, praktik penyusunan bahan ajar, pendampingan, refleksi, dan perencanaan keberlanjutan. Data diperoleh dari observasi, dokumentasi, catatan diskusi, dan telaah artefak awal, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil menunjukkan bahwa guru mulai memetakan hubungan budaya dan konsep pelajaran, menyusun masalah autentik, serta merancang struktur awal bahan ajar digital. Peserta juga memperoleh kerangka untuk memilih teknologi berdasarkan tujuan, akses, keterbacaan, dan kebutuhan peserta didik. Penyerahan dokumen kerja sama memperkuat kesiapan tindak lanjut antara Universitas Mataram dan sekolah mitra. Capaian program terutama berupa penguatan kapasitas awal, artefak desain, dan kesiapan kolaborasi. Program berkontribusi pada SDG 4 melalui penguatan kompetensi guru dan mendukung SDG 17 melalui kemitraan pendidikan lintas negara. Ethnoscience-Based Digital Teaching Material Training for Teachers at Sekolah Kebangsaan Manjoi 2, Malaysia Abstract Digital transformation requires teachers who can develop contextual teaching materials rather than merely operate applications. Sekolah Kebangsaan Manjoi 2 in Ipoh, Perak, Malaysia has rich local cultural potential, yet its use in digital teaching materials remains limited. The community service program was conducted in Monday, 20 July 2026, as a full-day face-to-face program at Sekolah Kebangsaan Manjoi 2 and aimed to strengthen the capacity of 24 teachers to design ethnoscience-based digital teaching materials integrated with Problem-Based Learning (PBL) and virtual simulations such as PhET. A participatory training approach was implemented through socialization, conceptual sessions, local culture exploration, teaching-material design practice, mentoring, reflection, and sustainability planning. Data were obtained from observation, documentation, discussion notes, and review of initial artifacts, and were analyzed qualitatively and descriptively. The results indicate that teachers began to map relationships between cultural contexts and subject concepts, formulate authentic problems, and prepare initial structures for digital teaching materials. Participants also gained a framework for selecting technology based on learning objectives, access, readability, and learner needs. The handover of a cooperation document strengthened readiness for follow-up collaboration between Universitas Mataram and the partner school. The main outcomes were initial capacity building, design artifacts, and partnership readiness. The program contributes to SDG 4 through teacher capacity development and supports SDG 17 through cross-border educational partnership