Nicholas Hardi
Department Of Psychiatry And Behavioral Sciences, Faculty Of Medicine And Health Sciences, Atma Jaya Catholic University Of Indonesia, Jakarta

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Cognitive Function and Nutritional Status in Pre-Elderly Individuals with Human Immunodeficiency Virus Putri, Felicia Cahyadi; Vetinly, Vetinly; Ayu, Astri Parawita; Hardi, Nicholas; Kristian, Kevin
Althea Medical Journal Vol 12, No 4 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/amj.v12n4.4179

Abstract

Background: Human immunodeficiency virus (HIV) infection remains a global health issue, particularly in Africa and Asia. Cognitive impairment may early develop in individuals living with HIV and can therefore potentially impact nutritional status. This study aimed to assess the correlation between cognitive function and nutritional status in pre-elderly individuals with HIV.Methods: A cross-sectional study was conducted from March 2023 to October 2024 among individuals living with HIV aged 45–59 years in Jakarta, Indonesia. Cognitive function was measured using the Indonesian version of the Montreal Cognitive Assessment (MoCA-Ina) and nutritional status was evaluated using body mass index (BMI). Data were analyzed using the Chi-square test with Jeffrey’s Amazing Statistics Program (JASP).Results: Of the 157 respondents, most were male (75.2%) with a mean age of 49±4.17 years. The majority were unmarried (44.6%), employed (70.1%), had incomes below the Jakarta minimum wage (74.5%), and had completed senior high school education (56.0%). Mild cognitive impairment was found in 70.7% of participants, whereas normal nutritional status was the most common (45.9%). However, no significant relationship was found between cognitive function and nutritional status (p=0.161).  Conclusion: Mild cognitive impairment is prevalent among pre-elderly individuals with HIV, most of whom have normal nutritional status. Although no significant relationship is observed between cognitive function and nutritional status, these findings highlight the importance of incorporating early cognitive screening into routine HIV care to support healthy aging and timely identification and management of cognitive decline.
Analysis of Vowel Formants and Frequencies for Cognitive Health Assessment: A Preliminary Study Kevin Kristian; Bryan Santoso; Novelya Indrawan; Nicholas Hardi; Djoko Setyanto; Hadi Sutanto; Yvonne Suzy Handajani; Yuda Turana
AKSONA Vol. 6 No. 2 (2026): JULY 2026
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/aksona.v6i2.91890

Abstract

Highlight: Voice parameters did not differ between cognitive impairment groups Combined speech analysis may better assess cognition than voice alone.   ABSTRACT Introduction: Recent studies have shown that, in addition to being cost-effective and non-invasive, voice and speech analysis may play an important role in detecting cognitive impairment, such as dementia. Although numerous studies have investigated this topic, the relationship between voice-related abnormalities and cognitive impairment has not been completely captured. Objective: To investigate the relationship between voice-related abnormalities and cognitive impairment. Methods: A total of 100 participants aged >60 years were selected through purposive sampling. Cognitive function was assessed using the Indonesian version of the Montreal Cognitive Assessment (MoCA-INA), and participants were divided into cognitive impairment and non-cognitive-impairment groups. Acoustic analysis of sustained vowels was conducted using audio analysis software, focusing on formant frequencies, formant centralization ratio, fundamental frequency, and amplitude. Data were analyzed using an independent-samples t-test. Results: The cognitive impairment group demonstrated lower mean values for most formant frequencies. However, no statistically significant differences (p > 0.05) were observed between the groups in formant frequencies, formant centralization ratio, fundamental frequency, or amplitude. Conclusion: No significant association was found between voice-related abnormalities and cognitive impairment. However, subtle variations in voice parameters may still indicate other underlying neurological problems.
Edukasi Kesehatan Mental, Perundungan, dan Pencegahan Perilaku Self-Harm pada Siswa/i di SMPN 1 Babakan Madang, Bogor Nicholas Hardi; Patricia Angelika; Cellina Aurelia Soerianto; Xenia Tamara; Nicholas Francisco Gaverio; Linawati Hananta
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Mitramas, Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v4i1.7129

Abstract

Remaja merupakan fase perkembangan yang penting dalam membentuk identitas seseorang. Pengalaman yang kurang baik pada fase ini seperti perundungan, dapat menjadi cikal bakal dan berhubungan dengan masalah perkembangan yang dapat timbul di kemudian hari, seperti perilaku mencederai diri (self-harm) sebagai bentuk mekanisme koping untuk masalah yang dirasakan kurang nyaman. Kesadaran siswa/i SMPN 1 Babakan Madang, Bogor akan perundungan dan dampaknya bagi kesehatan mental diketahui masih kurang, sehingga upaya intervensi untuk meningkatkan kesadaran akan tema ini menjadi penting. Kegiatan pengabdian masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa/i SMPN 1 Babakan Madang, Bogor dengan memberikan edukasi terkait perundungan dan memperkenalkan berbagai mekanisme koping adaptif sebagai langkah pencegahan terhadap perilaku self-harm yang merupakan salah satu dampak dari perundungan. Evaluasi kegiatan PkM dengan melihat perbandingan nilai pre-test dan post-test serta hasil survei kepuasan kegiatan. Secara umum, kegiatan PkM ini telah berjalan dengan baik dan dapat memberikan peningkatan pengetahuan sebesar 2,17% mengenai kesehatan mental, perundungan dan mekanisme koping. Dengan demikian, kegiatan serupa di kemudian hari dapat dipertimbangkan dan disempurnakan agar lebih bermanfaat dan berdampak bagi masyarakat sekitar.
Edukasi Kesehatan Mental, Perundungan, dan Pencegahan Perilaku Self-Harm pada Siswa/i di SMPN 1 Babakan Madang, Bogor Nicholas Hardi; Patricia Angelika; Cellina Aurelia Soerianto; Xenia Tamara; Nicholas Francisco Gaverio; Linawati Hananta
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Mitramas, Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v4i1.7129

Abstract

Remaja merupakan fase perkembangan yang penting dalam membentuk identitas seseorang. Pengalaman yang kurang baik pada fase ini seperti perundungan, dapat menjadi cikal bakal dan berhubungan dengan masalah perkembangan yang dapat timbul di kemudian hari, seperti perilaku mencederai diri (self-harm) sebagai bentuk mekanisme koping untuk masalah yang dirasakan kurang nyaman. Kesadaran siswa/i SMPN 1 Babakan Madang, Bogor akan perundungan dan dampaknya bagi kesehatan mental diketahui masih kurang, sehingga upaya intervensi untuk meningkatkan kesadaran akan tema ini menjadi penting. Kegiatan pengabdian masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa/i SMPN 1 Babakan Madang, Bogor dengan memberikan edukasi terkait perundungan dan memperkenalkan berbagai mekanisme koping adaptif sebagai langkah pencegahan terhadap perilaku self-harm yang merupakan salah satu dampak dari perundungan. Evaluasi kegiatan PkM dengan melihat perbandingan nilai pre-test dan post-test serta hasil survei kepuasan kegiatan. Secara umum, kegiatan PkM ini telah berjalan dengan baik dan dapat memberikan peningkatan pengetahuan sebesar 2,17% mengenai kesehatan mental, perundungan dan mekanisme koping. Dengan demikian, kegiatan serupa di kemudian hari dapat dipertimbangkan dan disempurnakan agar lebih bermanfaat dan berdampak bagi masyarakat sekitar.
Identification and Treatment for Depressive Disorder: Descriptive Study from Indonesia Dharmady Agus; Nicholas Hardi; Fransisca Theresia; Aila Johanna; Rima Sisca Fanuela; Ika Suswanti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 21 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang in collaboration with Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI Tingkat Pusat) and Jejaring Nasional Pendidikan Kesehatan (JNPK)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v21i1.14298

Abstract

Access to professional mental health services was low worldwide, especially in lower-middle-income countries. Indonesia encounters several challenges in providing adequate mental health care. Poor detection could reduce the treatment coverage. This study aimed to determine how many individuals with depression recognize their condition or receive an appropriate diagnosis, as well as the types of treatments they receive. We analyzed secondary data from the Indonesian Family Life Survey 5th edition (IFLS-5), which included socio-demographic data, levels of well-being, subjective experiences of mental health issues, and treatment information. We found that 6,645 respondents (22.8%) exhibited significant depressive symptoms, yet only 15 respondents (0.1%) reported having a lifetime psychiatric disorder that met the criteria for depression. Most lifetime psychiatric diagnoses (LPD) were made by doctors (93.3%). A significant portion of respondents with a history of psychiatric disorders did not receive any treatment (70.5%), and among those who did, medication was the most common approach. There was considerable gap between the identified significant depressive symptoms and LPD, warranting further exploration. Low detection rates and stigma, potentially linked to Indonesian culture and perceptions of mental health, may underlie these issues. A variety of treatment options must be available and accepted to be beneficial for patients.
Gangguan Kognitif dan Depresi: Studi Potong Lintang pada Lansia yang Menjalani Hemodialisis Shella Thea; Monica Sari Devy; Nicholas Hardi
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan yang dialami oleh pasien hemodialisis tidak terbatas pada gangguan fisik, namun juga gangguan mental. Gangguan Neuropsikiatri umum terjadi pada pasien hemodialisis, dimana gangguan kognitif dan depresi adalah gangguan yang paling sering terjadi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prevalensi dan mengidentifikasi hubungan antara gangguan kognitif dan depresi pada lanjut usia (lansia) yang menjalani hemodialisis. Penelitian dilakukan pada 50 lansia yang menjalani hemodialisis selama lebih dari 1 bulan di Ciputra Hospital. Desain yang digunakan adalah potong lintang dan sampel diambil secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yaitu Mini-Mental State Examination (MMSE) dan Geriatric Depression Scale (GDS). Data dianalisa menggunakan SPSS 23 dengan uji komparatif. Didapatkan median usia responden adalah 67 tahun, responden perempuan sebanyak 52%, dan median lama menjalani hemodialisis adalah 19,5 bulan. Sebanyak 17 orang responden (34%) mengalami gangguan kognitif, 25 orang responden (50%) mengalami depresi, dan 13 orang (26%) yang mengalami keduanya. Faktor yang berhubungan dengan gangguan kognitif adalah pendidikan yang rendah (p=0.009), usia yang lebih tua (p=0.006). Selebihnya, didapatkan depresi berhubungan dengan gangguan kognitif (p=0.004), begitu pula sebaliknya (p=0.009). Kesimpulan penelitian ini adalah gangguan kognitif dan depresi terjadi lebih dari sepertiga responden, dan terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan kognitif dan depresi.
The association of PM 2.5 and sun exposure with depression in Jakarta, Indonesia Victor Labaran; Robi Irawan; Vetinly; Nicholas Hardi; Yunisa Astiarani
Public Health and Preventive Medicine Archive Vol. 13 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53638/phpma.2025.v13.i2.p03

Abstract

Background and purpose: Depression is a mental disorder with a high prevalence among young adults in Indonesia. Environmental factors such as sunlight and PM2.5 potentially influencing risk of depression. This study aimed to determine the levels of sunlight and PM2.5 exposure and their association with depression among young adults in urban Jakarta. Methods: This study used a cross-sectional design conducted in Penjaringan, North Jakarta during December 2023 to November 2024. Sample was 90 young adults recruited using consecutive sampling methods. Data were collected using structured questionnaire to assess sun exposure and the Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) to assess depression. The PM2.5 air-quality monitoring data was obtained from the World Air Quality Index (AQICN) platform. Data were analyzed descriptively and analytically using frequency distributions and the Chi-square test. Results: The mean age of respondent were 21.92 years old, 62.2% were male and 75.6% were working. Overall, 45.6% had high PM2.5 exposure, while 53.3% had low sun exposure and 45.6% had depression. PM2.5 exposure was significantly associated with depression (OR=2.66; 95%CI: 1.13–6.25), whereas sun exposure was not (OR=1.47; 95%CI: 0.64–3.39). Conclusion: The study identified substantial PM2.5 exposure and depressive symptoms among young adults, with higher PM2.5 exposure significantly associated with depression. Public health interventions should prioritize reducing air pollution and promoting healthier urban environments alongside mental health programs