Claim Missing Document
Check
Articles

Implementation of a Radiation Safety Management System in Conventional Spaces in the Radiology Installation Wirajaya, I Wayan Angga; Diartama, Anak Agung Aris; Jeniyanthi, Ni Putu Rita; Sari, Putu Aulia Kartika
Jurnal Ilmiah Manajemen Kesatuan Vol. 12 No. 2 (2024): JIMKES Edisi Maret 2024
Publisher : LPPM Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37641/jimkes.v12i2.2490

Abstract

Klungkung Regional General Hospital is one of the health services owned by the Klungkung district government in the form of a hospital, managed by the Klungkung district government and recorded as a type B hospital. At the Klungkung Regional General Hospital, there are several things that are not in accordance with the radiation safety management system determined by BAPETEN. Some of these things that are not suitable such as the lack of compliance of radiation workers with the standard operating procedures (SOPs) of radiation work in conventional rooms which are often found things outside the provisions, the use of equipment such as aprons and there are doors in the radiological examination room that have leaks, because environmental exposure measurements have been made in the area and leaks were found, and also monitoring the health of radiation workers who have not been optimal. This type of research uses descriptive qualitative research methods with an observational approach from the routine activities of radiation workers at the Radiology Installation of the Klungkung Regional General Hospital. The Radiology Installation of the Klungkung Regional General Hospital has met the BAPETEN Perka standard No.4 of 2020 but there are still some that have not met the standards for the Implementation of the Radiation Safety Management System in the Conventional Room at the Radiology Installation of the Klungkung Regional General Hospital, including the conventional room inspection door to the operator room experiencing a leak, it has been reported to the relevant party in this case for follow-up so that the detected radiation leak can Dealt with immediately.
Thorax CT Scan Examination Procedure In Lung Tumor Cases At Bhayangkara Hospital Makassar Rezki Amalia; Ni Putu Rita Jeniyanthi; I Made Adhi Mahendrayana
Journal Clinical Pharmacy and Pharmaceutical Science Vol. 4 No. 2 (2025): Oktober : Journal of Clinical Pharmacy and Pharmaceutical Science
Publisher : Prodi D3 Farmasi Politeknik Katolik Mangunwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61740/jcp2s.v2i2.44

Abstract

Background: A CT scan is a media imaging tool that uses x-rays to obtain images/photos inside the body. Thorax CT Scan is performed to identify existing conditions in the mediastinum of the lungs. Therefore, the use of Slice Thickness is very influential in looking at the image quality of a Thorax CT Scan. Methods: This research uses qualitative research with a case study research design to investigate phenomena that occur in real life contexts using various sources as evidence. Results: The result of this research is that the use of a Slice Thickness of 3 mm in viewing image quality is good enough to display the structure of the anatomical image so that it can diagnose existing pathology. Conclusions: The Thorax CT Scan examination procedure in lung tumor cases at Bhayangkara Makassar Hospital has followed the applicable SOP. The results of the image quality using a Slice Thickness of 3 mm are quite good in diagnosing the patient's disease.
ANALISIS PERBANDINGAN NILAI SNR PADA PEMERIKSAAN MRI WRIST JOINT SEKUENS T2 TSE SPAIR CORONAL DENGAN MENGGUNAKAN ANKLE-FOOT COIL DAN FLEX COIL Yudha Baskara Ganakin, Gde; Jeniyanthi, Ni Putu Rita
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.33692

Abstract

Pemeriksaan MRI salah satunya yaitu pemeriksaan MRI Wrist Joint. Memvisualisasikan citra yang baik maka diperlukan coil yang tepat. Pada pemeriksaan wrist joint direkomendasikan menggunakan surface coil atau Flex Coil. Ankle-foot coil disebut juga quadratur coil yang mampu meningkatkan SNR. Hal ini untuk mengetahui hasil penggunaan coil yang berbeda terhadap SNR dan untuk mendapatkan citra yang optimal. Jenis penelitian ini merupakan studi kuantitatif. Menggunakan 5 sampel dalam penelitian ini.penelitian ini menggunakan alat MRI 1,5T, ankle-foot coil dan flex coil.Sekuens yang digunakan T2 TSE SPAIR.Data yang didapat dilakukan uji normalitas terlebih dahulu. Jika datanya normal, lanjutkan dengan uji statistic paired Sampel T-Test. Apabila data tidak normal, dilanjutkan dengan uji statistic Wilcoxon. Penelitian ini terdapat perbedaan nilai SNR pada antara penggunaan ankle-foot coil dan flex coil pada pemeriksaan MRI wrist joint. Coil yang optimal pada penelitian ini yakni ankle-foot coil . Berdasarkan hal diatas dapat disimpulkan bahwa antara kedua coil pada penelitian ini terdapat perbedaan hasil SNRnya. Penggunakan coil yang tepat sangat diperlukan untuk mendapatkan kualitas gambar yang optimal
EVALUASI DOSIS RADIASI PADA PEMERIKSAAN RADIOGRAFI THORAX Wulandari, Putu Irma; Jeniyanthi, Ni Putu Rita; Prasetya, I Made Lana; Susanta, I Putu Adi; Juliantara, I Putu Eka; Diartama, A.A Aris
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 7 No. 3 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v7i3.19824

Abstract

Dosis radiasi yang diterima pasien pada pemeriksaan Thorax bisa bervariasi antara satu rumah sakit dengan rumah sakit lainnya. Untuk itu, pemerintah Indonesia melalui BAPETEN telah menetapkan Indonesian Diagnostic Reference Levels tahun 2021 sebagai referensi dosis radiasi dalam pencitraan medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan signifikan pada dosis radiasi pemeriksaan Thorax di rumah sakit yang berbeda, serta membandingkan dosis tersebut dengan referensi IDRL 2021. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen dan survei yang dilaksanakan di 2 rumah sakit pusat rujukan di Bali. Nilai dosis radiasi berupa Entrance Surface Air Kerma (ESAK) dikumpulkan di setiap rumah sakit. Nilai ESAK didapatkan melalui simulasi atau pengukuran dengan menggunakan dosimeter digital yang diletakkan pada permukaan water phantom untuk pemeriksaan Thorax. Adapun parameter pemeriksaan yang dipakai adalah parameter standar untuk pemeriksaan Thorax dewasa pada pasien dengan berat badan 50-70 kg. Secara keseluruhan, 60 nilai ESAK dikumpulkan dari dua rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi signifikan pada dosis radiasi pemeriksaan Thorax di rumah sakit yang berbeda dengan rata-rata dosis sebesar 0,033 mGy untuk RS A, dan 0,03 mGy untuk RS B. Sedangkan nilai median ESAK adalah 0.032 mGy (RS A) dan 0.027 mGy (RS B). Meski demikian, penelitian menunjukkan bahwa nilai median ESAK pemeriksaan Thorax di kedua rumah sakit lokasi penelitian masih dalam batas rekomendasi IDRL 2021 yaitu dibawah 0,4 mGy. Penelitian ini menunjukkan pentingnya upaya optimasi berkelanjutan untuk menjamin keselamatan radiasi pada pasien yang menjalani pemeriksaan radiologi diagnostik.
INFORMASI CITRA MRI KNEE JOINT KASUS RUPTURE ACL SEKUEN PD FATSAT DAN DIXON Masus, Gresaldy Mayori Permata; Jeniyanthi, Ni Putu Rita; Sugiartha, I Putu
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.34557

Abstract

Rupture Anterior Cruciate Ligament adalah kondisi dimana ligament pada sendi lutut mengalami robek, yang dapat disebabkan oleh trauma. Untuk mengoptimalkan anatomi dan patologi maka diperlukan teknik fat saturation untuk mensupresi lemak dan cairan. Penggunaan Dixon relatif lebih lama tetapi dapat menghasilkan empat citra sekaligus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan informasi citra pada pemeriksaan MRI Knee Joint potongan sagital pada kasus Rupture Anterior Cruciate Ligament (ACL) dengan sekuen Proton Density FatSat dan Proton Density Dixon sekaligus mengetahui manakah yang lebih baik diantara kedua teknik tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimental yang menggunakan data prospektif yang  bertujuan untuk mengetahui perbedaan informasi citra Proton Density FatSat dan Proton Density Dixon pemeriksaan MRI Knee Joint potongan sagital. Penelitian ini menerapkan total sampling, dengan menggunakan sampel penelitian sebanyak 10 pasien. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan informasi citra antara sekuen Proton Density FatSat dan Proton Density Dixon pada pemeriksaan Knee Joint potongan sagital dengan nilai p-value ?(?0,05) dengan nilai mean rank pada sekuen Proton Density FatSat (70,50) dengan nilai p-value (<0,001) dan nilai mean rank pada sekuen Proton Density Dixon (0) dengan nilai p-value (000). Pada anatomi Anterior Cruciate Ligament dengan nilai p-value (0,002) dan anatomi Posterior Cruciate Ligament dengan nilai p-value (0,002). Sekuen Proton Density FatSat lebih bagus dalam menunjukkan informasi anatomi pada pemeriksaan MRI Knee Joint Potongan Sagital dibandingkan dengan sekuen Proton Density Dixon, karena penekanan lemak yang lebih homogen pada anatomi Anterior Cruciate Ligament dan Posterior Cruciate Ligament
ANALISIS PEMERIKSAAN MAGNETIC RESONANCE IMAGING (MRI) BRAIN DENGAN KLINIS EPILEPSI DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR HASAN SADIKIN BANDUNG Aprilia, Helen Prisca; Jeniyanthi, Ni Putu Rita; Supriyani, Nyoman
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.35091

Abstract

Epilepsi adalah gangguan otak yang dicirikan oleh kecenderungan mengalami serangan epilepsi berulang, yang mempengaruhi faktor neurobiologis, kognitif, psikologis, dan sosial. MRI membantu melihat penyebab dari kejang dan memprediksi kemungkinan kejang berulang setelah kejadian kejang pertama. MRI dapat mengungkapkan penyebab kejang pertama kali sekitar 28% dan paling sensitif pada pasien dengan kejang fokal. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. dengan metode Observasi, wawancara dan Dokumentasi kemudian data diolah dengan cara reduksi data dalam bentuk tabel kategorisasi dan coding terbuka, disajikan dalam bentuk kuotasi kemudian dapat diambil kesimpulan. Dari hasil observasi Langkah pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan dengan sequence rutin localizer Axial, Sagittal, Coronal, pre contrast menggunakan Sag T1 SE, axial T2 FLAIR, axial T2 SE, coronal T2 SE, axial T1 SE, axial DWI, axial SWI, 3D TIR axial dan coronal. Selanjutnya Post contrast menggunakan sequence Sag T1 SE, Axial T1 SE dan Cor T1 SE. sekuen TIR menjadi salah satu sequence penting pada pemeriksaan MRI Brain pada klinis epilepsi karena bertujuan untuk menghilangkan sinyal dari white matter yang dapat memberikan citra kontras yang tinggi antara grey/white matter pada daerah hippocampus. Tujuan dari penggunaan sekuens TIR tegak lurus Hippocampus yaitu untuk menampilkan gambaran anatomi yang simetri pada area cortical dan area hippocampus pada lobus temporalis.
ANALISIS PEMERIKSAAN MSCT ABDOMEN DENGAN KLINIS CA RECTUM DI INSTALASI RADIOLOGI RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG Darawia, Inggrid Anjali; Jeniyanthi, Ni Putu Rita; Wikanadi, Ni Komang Sri
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.35103

Abstract

Abdomen merupakan rongga terbesar pada tubuh manusia yang berbentuk lonjong dan meluas dari diafragma hingga pelvis. Kanker rektum merupakan pertumbuhan sel abnormal yang berasal dari mukosa usus besar bagian bawah, yang sering kali menimbulkan gejala seperti perdarahan pada rektum, perubahan kebiasaan buang air besar, dan penurunan berat badan. Multi Slice Computed Tomography (MSCT) merupakan sebuah modalitas imejing yang sangat penting dalam membantu penegakan diagnosa dan staging kanker rektum, serta dapat mengidentifikasi metastasis dan komplikasi seperti perforasi dan pembentukan fistula. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus dengan mengambil 3 pasien dengan klinis kanker rectum. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung, wawancara dan dokumentasi. Prosedur pemeriksaan MSCT Abdomen pada klinis Ca rectum memiliki serangkaian persiapan diantaranya pasien cek ureum dan kreatinin, puasa 4-6 jam sebelum pemeriksaan, posisi pasien supine feet first dengan tangan di atas kepala. Pemasukan media kontras dilakukan dengan cara oral, rectal, intravena sebanyak 80 ml dengan flowrate 2,5 ml/detik. Tahapan scanning pre dan post contrast.Teknik Pemeriksaan menggunkan oral, rectal dan intravena ini sudah cukup untuk mendiagnosa dan waktu pemeriksaan menjadi lebih singkat karena tidak dilakukan 3 fase pada pemeriksaan ini. hanya saja kurang memberikan informasi yang detail seperti vaskularisasi tumor dan metastasis mikro yang mungkin terlihat pada fase-fase tertentu.
ANALISIS PERBEDAAN INFORMASI CITRA ANATOMI SEKUEN SAGITTAL T2 FSE DAN SAGITTAL T2 FSE PROPELLER PADA PEMERIKSAAN MRI CERVICAL DENGAN KASUS CERVICAL ROOT SYNDROME Palar, Gloria Tesalonika Kyrieous; Jeniyanthi, Ni Putu Rita; Sugiantara, I Wayan Ariec
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.35219

Abstract

Cervical Root Syndrome (CRS) adalah kondisi medis yang menyebabkan nyeri, kelemahan, dan gangguan sensorik akibat iritasi atau tekanan pada akar saraf cervical. Untuk diagnosis CRS, Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah teknik yang sangat direkomendasikan karena mampu menghasilkan citra detail tanpa menggunakan radiasi ionisasi. Namun, salah satu tantangan utama dalam MRI cervical adalah motion artifact yang disebabkan oleh gerakan pasien, seperti menelan atau bernapas, ataupun pergerakan CSF yang dapat mempengaruhi informasi citra. Teknik PROPELLER dikembangkan untuk mengatasi masalah ini dengan mengambil sampel k-space dalam strip berputar yang tumpang tindih, sehingga mengurangi distorsi citra akibat gerakan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan informasi citra anatomi yang dihasilkan oleh sekuen Sagittal T2 FSE dan Sagittal T2 FSE PROPELLER pada pemeriksaan MRI cervical, serta menentukan sekuen yang lebih optimal untuk digunakan pada pasien CRS. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan 10 pasien CRS di Instalasi Radiologi Sentra Medika Hospital Minahasa Utara yang menjalani pemeriksaan MRI dengan kedua sekuen tersebut. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan antara Sagittal T2 FSE dan Sagittal T2 FSE PROPELLER yang dapat dilihat pada hasil p valuenya <0,001. Sekuen T2 FSE PROPELLER memberikan informasi citra yang lebih baik dibandingkan Sagittal T2 FSE juga dapat dilihat dari nilai Mean Rank yaitu Spinal Cord (1.00 vs 0.00) dan CSF (5.50 vs 0.00), dan Corpus Vertebrae PROPELLER unggul (4.50 vs 0.00). Kesimpulannya, terdapat perbedaan antara kedua sekuen dan sekuen Sagittal T2 FSE PROPELLER mendapatkan hasil yang lebih optimal serta memberikan informasi citra anatomi yang lebih baik pada pemeriksaan pasien CRS.
ANALISIS PEMERIKSAAN CT SCAN THORAX PADA KASUS TUMOR PARU DI RSUP HASAN SADIKIN Kurnia, Yoktobriyati; Jeniyanthi, Ni Putu Rita; Mahayani, Desak Nyoman
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.35233

Abstract

Tumor paru merupakan jenis tumor yang umum terjadi di dunia dan dapat bersifat baik (jinak) atau ganas. Pemeriksaan CT Scan Thorax dengan kontras adalah salah satu metode yang efektif dalam mendiagnosis tumor paru dan mengevaluasi hubungan anatomi dengan struktur sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prosedur pemeriksaan CT Scan Thorax pada kasus tumor paru di RSUP Hasan Sadikin dan membandingkannya dengan teori. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan 3 radiolog, 3 radiografer, 1 dokter pengirim, dan 3 pasien. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur pemeriksaan di RSUP Hasan Sadikin Bandung sebagian besar suda sesuai dengan teori, namun terdapat perbedaan dalam penggunaan delay time dan slice thickness. Delay time yang digunakan adalah 35 detik sudah cukup untuk untuk kontras mencapai target paru-paru dan pembuluh darah sekitarnyta dan penggunaan slice thickness 5 mm merupakan ukuran seimbang antara mendapatkan detail anatomi yang cukup jelas tanpa memperbesarkan ukuran data berlebihan. Meskipun demikian, parameter ini terbukti efektif dalam menghasilkan gambar yang memadai tanpa meningkatkan dosis radiasi secara signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknik yang digunakan sudah optimal dan dapat diterapkan untuk diagnosis tumor paru dengan mempertimbangkan waktu pemeriksaan yang lebih cepat dan keamanan pasien.
EVALUASI KESESUAIAN CT NUMBER DAN KUALITAS CITRA PADA PERANGKAT CT SCAN : TINJAUAN LITERATUR DI BERBAGAI FASILITAS KESEHATAN Prasticha, Arlin Welda; Jeniyanthi, Ni Putu Rita; Wikanadi, Ni Nyoman Sri
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.35287

Abstract

Teknologi CT scan multislice (Computed Tomography) telah menjadi alat diagnostik utama dalam dunia medis berkat kemampuannya menghasilkan gambar rinci tubuh manusia. Kualitas gambar yang optimal sangat penting untuk akurasi diagnosis dan keselamatan pasien, sehingga pengujian kualitas perangkat secara berkala menjadi krusial. Salah satu langkah utama dalam pengujian ini adalah program Quality Control (QC) yang memastikan perangkat CT berfungsi dengan baik.Tinjauan literatur ini mengkaji lima penelitian yang diterbitkan antara 2014 hingga 2024 mengenai uji kesesuaian pada perangkat CT scan. Fokus utama dari penelitian ini adalah evaluasi akurasi dan keseragaman CT number, yang menggambarkan kepadatan jaringan tubuh dalam gambar CT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas gambar yang dihasilkan sangat bergantung pada akurasi dan keseragaman CT number, yang penting untuk diagnosis yang tepat. Beberapa fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit di Bali dan Padang, menunjukkan bahwa mayoritas perangkat CT scan telah memenuhi standar keselamatan yang ditetapkan, meskipun beberapa perangkat masih memerlukan kalibrasi ulang.. Simpulan : studi yang melibatkan kelima jurnal mengenai uji kesesuaian CT scan menunjukkan bahwa evaluasi akurasi dan keseragaman CT Number sangat penting untuk memastikan kualitas citra diagnostik yang optimal serta keselamatan radiasi bagi pasien. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, uji kesesuaian CT Number pada perangkat CT scan dilakukan secara berkala di setiap fasilitas radiologi untuk memastikan kualitas citra diagnostik yang optimal dan keamanan radiasi bagi pasien.
Co-Authors Alifah Rizky Octavia Anak Agung Aris Diartama Annila Suryo Saputro Aprilia, Helen Prisca Aris Diartama, Anak Agung Arywidiastuti, Cokorda Istri Cahyani, rahmawati dwi Cokorda Istri Ariwidiastuti Cokorda Istri Ary Widiastuti Cokorda Istri Arywidiastuti Cokorda Istri Arywidiastuti Darawia, Inggrid Anjali Darmita, I Made Purwa Denita Puspita Sari Dewi, Rusma Dian Indrayani Solong Diartama, A.A Aris Diartama, Anak Agung Aris Donny Kristanto Mulyantoro Donny Kristanto Mulyantoro Donny Kristanto Mulyantoro Faisal Amri Faisal Amri Faisal Amri Fikli, Devina Ganapati, Ngakan Putu Daksa Hildaimawanti Hildaimawanti I Bagus Gede Dharmawan I Bagus Gede Dharmawan I Gusti Putu Agung Wisnu Putra I Kadek Sukadana I Made Adhi Mahendrayana I Made Lana Prasetya I Made Purwa Darmita I Putu Eka Juliantara Irma Rizky Kadek Agus Cahya Pramana Khasanah, Nurul Sarifatul Kouwe, Jihan Rahima Kristin, Putu Mira Kurnia, Yoktobriyati Leny Latifah Leny Latifah Leny Latifah Mahayani, Desak Nyoman Maria Adriana Rawi Masus, Gresaldy Mayori Permata Maybet, Fiyo Sandisukma Mohammad Agus Pribowo Mughnie, Burlian Nakis, Yetri Putri Melani Negara, I Putu Surya Dharma Ngakan Putu Daksa Ganapati Ni Luh Putu Sari Widari Ni Luh Putu Sari Widari nirma, Nirmala Nur Rahman, Muhammad Farid Novrie Nurmajila Nurmajila Nurul Sarifatul Khasanah Nurwahidah Iskandar, Andi Palan, Gawi Roland Palar, Gloria Tesalonika Kyrieous Prasticha, Arlin Welda Prima, Regitha Debiesga Puspaningrum, Sania Putri, Ni Putu Vera Sintya Amanda Putu Mira Kristin Rezki Amalia Riadi, Komang Reza Sania Puspaningrum Sari, Putu Aulia Kartika Sri Marleni, Sagung Ngurah Sudiyono Sudiyono Sudiyono Sudiyono Sudiyono Sudiyono Sugiantara, I Wayan Ariec Sugiartha, I Putu Supriyani, Nyoman Susanta, I Putu Adi Triningsih Triningsih Triningsih Triningsih Tripaldy Battola Toding Widari, Ni Luh Putu Sari Widiatmika, Alit Hardy Wikanadi, Ni Komang Sri Wikanadi, Ni Nyoman Sri Wikanadi, Nyoman Sri Winatra, I Komang Yogi Winda Yuliani Wirajaya, I Wayan Angga Wirajaya, Wayan Angga Wulandari, Putu Irma Yudha Baskara Ganakin, Gde Yuliani, Winda Zainal Abidin AR Malasugi Zefanya G. Pandelaki