Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PERBEDAAN INFORMASI CITRA ANATOMI SEKUEN SAGITTAL T2 FSE DAN SAGITTAL T2 FSE PROPELLER PADA PEMERIKSAAN MRI CERVICAL DENGAN KASUS CERVICAL ROOT SYNDROME Palar, Gloria Tesalonika Kyrieous; Jeniyanthi, Ni Putu Rita; Sugiantara, I Wayan Ariec
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.35219

Abstract

Cervical Root Syndrome (CRS) adalah kondisi medis yang menyebabkan nyeri, kelemahan, dan gangguan sensorik akibat iritasi atau tekanan pada akar saraf cervical. Untuk diagnosis CRS, Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah teknik yang sangat direkomendasikan karena mampu menghasilkan citra detail tanpa menggunakan radiasi ionisasi. Namun, salah satu tantangan utama dalam MRI cervical adalah motion artifact yang disebabkan oleh gerakan pasien, seperti menelan atau bernapas, ataupun pergerakan CSF yang dapat mempengaruhi informasi citra. Teknik PROPELLER dikembangkan untuk mengatasi masalah ini dengan mengambil sampel k-space dalam strip berputar yang tumpang tindih, sehingga mengurangi distorsi citra akibat gerakan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan informasi citra anatomi yang dihasilkan oleh sekuen Sagittal T2 FSE dan Sagittal T2 FSE PROPELLER pada pemeriksaan MRI cervical, serta menentukan sekuen yang lebih optimal untuk digunakan pada pasien CRS. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan 10 pasien CRS di Instalasi Radiologi Sentra Medika Hospital Minahasa Utara yang menjalani pemeriksaan MRI dengan kedua sekuen tersebut. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan antara Sagittal T2 FSE dan Sagittal T2 FSE PROPELLER yang dapat dilihat pada hasil p valuenya <0,001. Sekuen T2 FSE PROPELLER memberikan informasi citra yang lebih baik dibandingkan Sagittal T2 FSE juga dapat dilihat dari nilai Mean Rank yaitu Spinal Cord (1.00 vs 0.00) dan CSF (5.50 vs 0.00), dan Corpus Vertebrae PROPELLER unggul (4.50 vs 0.00). Kesimpulannya, terdapat perbedaan antara kedua sekuen dan sekuen Sagittal T2 FSE PROPELLER mendapatkan hasil yang lebih optimal serta memberikan informasi citra anatomi yang lebih baik pada pemeriksaan pasien CRS.
ANALISIS PEMERIKSAAN CT SCAN THORAX PADA KASUS TUMOR PARU DI RSUP HASAN SADIKIN Kurnia, Yoktobriyati; Jeniyanthi, Ni Putu Rita; Mahayani, Desak Nyoman
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.35233

Abstract

Tumor paru merupakan jenis tumor yang umum terjadi di dunia dan dapat bersifat baik (jinak) atau ganas. Pemeriksaan CT Scan Thorax dengan kontras adalah salah satu metode yang efektif dalam mendiagnosis tumor paru dan mengevaluasi hubungan anatomi dengan struktur sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prosedur pemeriksaan CT Scan Thorax pada kasus tumor paru di RSUP Hasan Sadikin dan membandingkannya dengan teori. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan 3 radiolog, 3 radiografer, 1 dokter pengirim, dan 3 pasien. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur pemeriksaan di RSUP Hasan Sadikin Bandung sebagian besar suda sesuai dengan teori, namun terdapat perbedaan dalam penggunaan delay time dan slice thickness. Delay time yang digunakan adalah 35 detik sudah cukup untuk untuk kontras mencapai target paru-paru dan pembuluh darah sekitarnyta dan penggunaan slice thickness 5 mm merupakan ukuran seimbang antara mendapatkan detail anatomi yang cukup jelas tanpa memperbesarkan ukuran data berlebihan. Meskipun demikian, parameter ini terbukti efektif dalam menghasilkan gambar yang memadai tanpa meningkatkan dosis radiasi secara signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknik yang digunakan sudah optimal dan dapat diterapkan untuk diagnosis tumor paru dengan mempertimbangkan waktu pemeriksaan yang lebih cepat dan keamanan pasien.
EVALUASI KESESUAIAN CT NUMBER DAN KUALITAS CITRA PADA PERANGKAT CT SCAN : TINJAUAN LITERATUR DI BERBAGAI FASILITAS KESEHATAN Prasticha, Arlin Welda; Jeniyanthi, Ni Putu Rita; Wikanadi, Ni Nyoman Sri
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.35287

Abstract

Teknologi CT scan multislice (Computed Tomography) telah menjadi alat diagnostik utama dalam dunia medis berkat kemampuannya menghasilkan gambar rinci tubuh manusia. Kualitas gambar yang optimal sangat penting untuk akurasi diagnosis dan keselamatan pasien, sehingga pengujian kualitas perangkat secara berkala menjadi krusial. Salah satu langkah utama dalam pengujian ini adalah program Quality Control (QC) yang memastikan perangkat CT berfungsi dengan baik.Tinjauan literatur ini mengkaji lima penelitian yang diterbitkan antara 2014 hingga 2024 mengenai uji kesesuaian pada perangkat CT scan. Fokus utama dari penelitian ini adalah evaluasi akurasi dan keseragaman CT number, yang menggambarkan kepadatan jaringan tubuh dalam gambar CT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas gambar yang dihasilkan sangat bergantung pada akurasi dan keseragaman CT number, yang penting untuk diagnosis yang tepat. Beberapa fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit di Bali dan Padang, menunjukkan bahwa mayoritas perangkat CT scan telah memenuhi standar keselamatan yang ditetapkan, meskipun beberapa perangkat masih memerlukan kalibrasi ulang.. Simpulan : studi yang melibatkan kelima jurnal mengenai uji kesesuaian CT scan menunjukkan bahwa evaluasi akurasi dan keseragaman CT Number sangat penting untuk memastikan kualitas citra diagnostik yang optimal serta keselamatan radiasi bagi pasien. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, uji kesesuaian CT Number pada perangkat CT scan dilakukan secara berkala di setiap fasilitas radiologi untuk memastikan kualitas citra diagnostik yang optimal dan keamanan radiasi bagi pasien.
PENGARUH VARIASI BERAT BADAN TERHADAP TEMPERATUR TUBUH DAN NILAI SPECIFIC ABSORPTION RATE (SAR) PADA PEMERIKSAAN MRI KEPALA Nakis, Yetri Putri Melani; Jeniyanthi, Ni Putu Rita; Wirajaya, Wayan Angga
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.35290

Abstract

Penelitian tentang pengaruh variasi berat badan terhadap temperature tubuh dan nilai SAR pada pemeriksaan MRI kepala dengan menggunakan media kontras ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi berat badan terhadap suhu tubuh dan nilai SAR pada pemeriksaan MRI kepala. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan populasi pasien yang menjalani pemeriksaan MRI kepala di RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar, dengan total sampel sebanyak 30 sampel. Variasi berat badan bertindak sebagai variabel independen sedangkan suhu tubuh dan nilai SAR bertindak sebagai variabel dependen. Data dikumpulkan dengan mencatat berat badan, temperature sebelum dan sesudah pemeriksaan serta nilai SAR pada saat melakukan pemeriksaan MRI. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi dengan bantuan software SPSS. Hasil penelitian menunjukan nilai p-value variabel variasi berat badan terhadap kenaikan suhu tubuh sebesar <0.001 < 0.05, sedangkan p-value antara variasi berat badan terhadap nilai SAR sebesar 0.041 < 0.05. Berdasarkan analisis data tersebut p value <0.05 maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara variasi berat badan terhadap kenaikan suhu tubuh dan nilai SAR pada pemeriksaan MRI kepala.  
ANALISA PERBEDAAN SEQUENCE PROTON DENSITY FAT SATURATION DAN T2 SPAIR TERHADAP KUALITAS CITRA PADA PEMERIKSAAN MRI ANKLE JOINT POTONGAN SAGITTAL Jeniyanthi, Ni Putu Rita; Maybet, Fiyo Sandisukma; Negara, I Putu Surya Dharma
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.36615

Abstract

MRI (Magnetic Resonance Imaging) pada sendi pergelangan kaki adalah teknik pencitraan non-invasif yang menggunakan medan magnet dan gelombang radio untuk menghasilkan gambaran detail struktur di dalam sendi pergelangan kaki. Sendi pergelangan kaki memainkan peran penting dalam sistem muskuloskeletal manusia, terdiri dari tibia dan fibula di bagian atas serta talus di bagian bawah. Anatomi aspek distal tibia meliputi malleolus medial, plafon tibialis, dan permukaan lateral nonartikular, dengan beberapa bagian malleolus medial yang dapat divisualisasikan secara arthroscopic. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kualitas citra serta menganalisa perbedaan antara sequence Proton Density Fat Saturation dan T2 SPAIR. Peneliti melakukan penelitian di instalasi radiologi Rumah Sakit Pusat Pertamina dengan menggunakan 10 sampel, penelitian dilakukan pada bulan juni 2024. Peneliti melalukan penggunaan sequence Proton Density Fat Saturation dan T2 SPAIR untuk membandingkan hasil dari keduanya. metode yang digunakan peneliti ialah kuantitatif dengan pendekatan eksperimental tujuannya untuk melihat apakah terdapat perbedaan nilai signal to noise ratio antara Sequence Proton Density Fat Saturation dan T2 SPAIR pada MRI Ankle Joint Setelah observasi yang dilakukan penulis terhadap data yang terdiri dari data primer 10 sampel hasilnya terdapat terdapat nilai signifikansi p value sebesar 0,047. Karena nilai 0,047 < 0,05, Artinya terdapat perbedaan informasi Sequence Proton Density Fat Saturation Dan T2 Spair Terhadap Kualitas Citra Pada Pemeriksaan MRI Ankle Joint  Potongan Sagittal. Dan Sequence yang lebih baik untuk memperlihatkan kualitas citra pada pemeriksaan MRI Ankle joint Potongan Sagital adalah dengan PD Fat Sat karena nilai mean rank nya lebih tinggi yaitu 5,88 dibandingakan mean rank T2 Spair dengan nilai 4.00 Jadi kesimpulannya ada 2 : 1. Ada perbedaan dilihat dari nilai p value lebih kecil dari 0,05, dua mana yg lebih baik dilihat dari nilai mean rank yang lebih tinggi.
ANALISIS DOSIS ORGAN TARGET DAN ORGAN AT RISK PADA BRAKHITERAPI KASUS KANKER ENDOMETRIUM MENGGUNAKAN ALAT APLIKATOR SILINDER DI INSTALASI RADIOTERAPI RSUP PERSAHABATAN Cahyani, rahmawati dwi; Jeniyanthi, Ni Putu Rita; Fikli, Devina
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.37069

Abstract

Penelitian ini menganalisis dosis yang diterima oleh organ target dan organ at risk dalam brakhiterapi kanker endometrium menggunakan aplikator silinder di RSUP Persahabatan. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi apakah dosis yang diterima pasien melebihi batas toleransi yang ditentukan. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif dengan data dari Treatment Planning System (TPS) dan Dose Volume Histogram (DVH) pada 30 pasien. Variabel independen adalah alat aplikator, variabel dependen adalah dosis pada organ target dan organ at risk, dan variabel kontrol adalah dosis total pada organ target dan organ at risk. Alat yang digunakan mencakup pesawat brakhiterapi Saginova, sumber cobalt-60, sistem after loading TPS Bebig, aplikator silinder, komputer TPS, dan alat tulis untuk mencatat dosis. Analisis menggunakan SPSS versi 22 untuk menghitung rata-rata (mean), standar deviasi, dosis maksimum, dan dosis minimum. Hasil menunjukkan bahwa untuk HRCTV D90, dosis rata-rata adalah (82,9190) Gy (SD 3,84622), dengan maksimum (90,47 Gy) dan minimum (78,17) Gy. Dosis rata-rata pada kandung kemih (67,5777) Gy (SD 4,13554) dengan dosis maksimum (73,63) Gy dan nilai minimum adalah (68.68), sedangkan pada rektum, dosis rata-rata (70,0913) Gy (SD 3,32333) dengan maksimum (78,04) Gy dan nilai minimum adalah (65,15). Simpulan ini adalah dosis pada rektum telah melebihi batas toleransi dengan nilai dosis (78,04) yang batas toleransinya adalah tidak boleh melebihi <75 Gy.  Meski rata-rata keseluruhan aman, penting memantau dosis ketat pada tiap untuk meningkatkan keselamatan pasien.
Analisis Pemeriksaan CT Scan Thorax dengan Kontras pada Klinis Tumor Paru di Rs Bhayangkara Makassar Dewi, Rusma; Ni Putu Rita Jeniyanthi; Putu Mira Kristin
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.211

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemeriksaan CT Scan Thorax dengan kontras pada pasien dengan klinis tumor paru di RS Bhayangkara Makassar. CT Scan merupakan metode radiodiagnostik yang efektif untuk mendeteksi berbagai kondisi patologis, termasuk tumor paru. Studi ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media kontras meningkatkan akurasi diagnosis tumor paru, dengan prosedur pemeriksaan yang meliputi persiapan pasien, penggunaan alat CT Scan Toshiba 80 Slice, dan teknik pemantauan yang tepat. Temuan ini diharapkan dapat memberikan informasi berharga untuk praktik radiologi dan perencanaan terapi pasien.
Hubungan Jenis Kelamin dan Riwayat Merokok Terhadap Kasus Tumor Paru Berdasarkan Hasil CT Scan Kouwe, Jihan Rahima; Jeniyanthi, Ni Putu Rita; Mahayani, Desak Nyoman
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i1.17544

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara jenis kelamin dan riwayat merokok terhadap kasus tumor paru berdasarkan hasil CT-Scan. Tumor paru merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker di seluruh dunia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi observasional retrospektif, melibatkan 30 pasien yang telah menjalani CT-Scan di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Data yang dikumpulkan mencakup informasi mengenai jenis kelamin, riwayat merokok, dan hasil CT-Scan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square untuk mengevaluasi hubungan antara variabel independen dan dependen. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun terdapat lebih banyak kasus tumor ganas pada perokok aktif dibandingkan perokok pasif, tidak ditemukan hubungan signifikan antara jenis kelamin dan jenis tumor. Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang faktor risiko yang berkontribusi terhadap perkembangan tumor paru dan pentingnya upaya pencegahan merokok untuk mengurangi insiden kanker paru.
Analisis Pemeriksaan CT Scan Thorax dengan Kontras pada Klinis Tumor Paru di Rs Bhayangkara Makassar Dewi, Rusma; Ni Putu Rita Jeniyanthi; Putu Mira Kristin
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.211

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemeriksaan CT Scan Thorax dengan kontras pada pasien dengan klinis tumor paru di RS Bhayangkara Makassar. CT Scan merupakan metode radiodiagnostik yang efektif untuk mendeteksi berbagai kondisi patologis, termasuk tumor paru. Studi ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media kontras meningkatkan akurasi diagnosis tumor paru, dengan prosedur pemeriksaan yang meliputi persiapan pasien, penggunaan alat CT Scan Toshiba 80 Slice, dan teknik pemantauan yang tepat. Temuan ini diharapkan dapat memberikan informasi berharga untuk praktik radiologi dan perencanaan terapi pasien.
Peranan Sekuen Diffusion Weighted Imaging (DWI) Pada Pemeriksaan MRI Soft Tissue Leher Kasus Kanker Nasofaring (Studi Literatur) Zefanya G. Pandelaki; Annila Suryo Saputro; Ni Putu Rita Jeniyanthi
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 4 No. 1 (2024): Maret : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v4i1.2638

Abstract

The aim of this research is to determine the role of the Diffusion Weighted Imaging (DWI) sequence in Soft Tissue MRI examinations of the neck in cases of nasopharyngeal cancer and to determine the advantages of using the Diffusion Weighted Imaging (DWI) sequence in MRI Soft Tissue examinations of the neck in cases of nasopharyngeal cancer. The research method used was a descriptive qualitative research method with a literature study method. The results of the literature review research showed: 1) Nasopharyngeal cancer, especially squamous cell carcinoma, can be treated with radiation therapy where treatment failure is still a serious problem, especially in advanced cases. DWI and ADC are imaging methods that utilize the movement of water inside. DWI provides additional information regarding response to treatment in hard-to-reach cases of nasopharyngeal cancer. plays an important role in detection, evaluation of response to treatment, and early monitoring of chemoradiotherapy therapy. DWI also provides information that helps distinguish between tissue experiencing post-RTH fibrosis and areas that may contain active cancer cells. DWI and ADC are also useful in tumor staging, delineation of target volumes, and detection of tumor recurrence. Elevated ADC may be indicative of a favorable response to therapy, whereas low pretreatment ADC values ​​may predict a favorable response. In the diagnosis of nasopharyngeal cancer, DWI and ADC also help differentiate squamous cell carcinoma subtypes, predict response to chemoradiation therapy, and determine the appropriate time for alternative treatment regimens. 2) DWI and ADC provide advantages in the diagnosis and monitoring of nasopharyngeal cancer. DWI can image restrictions on water diffusion within tissue, helping to detect areas of high cell density associated with tumors. Its advantages include sensitivity to microenvironmental changes and the ability to early identify recurrence or secondary cancer post-radiation therapy.
Co-Authors Alifah Rizky Octavia Anak Agung Aris Diartama Annila Suryo Saputro Aprilia, Helen Prisca Aris Diartama, Anak Agung Arywidiastuti, Cokorda Istri Cahyani, rahmawati dwi Cokorda Istri Ariwidiastuti Cokorda Istri Ary Widiastuti Cokorda Istri Arywidiastuti Cokorda Istri Arywidiastuti Darawia, Inggrid Anjali Darmita, I Made Purwa Denita Puspita Sari Dewi, Rusma Dian Indrayani Solong Diartama, A.A Aris Diartama, Anak Agung Aris Donny Kristanto Mulyantoro Donny Kristanto Mulyantoro Donny Kristanto Mulyantoro Faisal Amri Faisal Amri Faisal Amri Fikli, Devina Ganapati, Ngakan Putu Daksa Hildaimawanti Hildaimawanti I Bagus Gede Dharmawan I Bagus Gede Dharmawan I Gusti Putu Agung Wisnu Putra I Kadek Sukadana I Made Adhi Mahendrayana I Made Lana Prasetya I Made Purwa Darmita I Putu Eka Juliantara Irma Rizky Kadek Agus Cahya Pramana Khasanah, Nurul Sarifatul Kouwe, Jihan Rahima Kristin, Putu Mira Kurnia, Yoktobriyati Leny Latifah Leny Latifah Leny Latifah Mahayani, Desak Nyoman Maria Adriana Rawi Masus, Gresaldy Mayori Permata Maybet, Fiyo Sandisukma Mohammad Agus Pribowo Mughnie, Burlian Nakis, Yetri Putri Melani Negara, I Putu Surya Dharma Ngakan Putu Daksa Ganapati Ni Luh Putu Sari Widari Ni Luh Putu Sari Widari nirma, Nirmala Nur Rahman, Muhammad Farid Novrie Nurmajila Nurmajila Nurul Sarifatul Khasanah Nurwahidah Iskandar, Andi Palan, Gawi Roland Palar, Gloria Tesalonika Kyrieous Prasticha, Arlin Welda Puspaningrum, Sania Putri, Ni Putu Vera Sintya Amanda Putu Mira Kristin Rezki Amalia Riadi, Komang Reza Sania Puspaningrum Sari, Putu Aulia Kartika Sri Marleni, Sagung Ngurah Sudiyono Sudiyono Sudiyono Sudiyono Sudiyono Sudiyono Sugiantara, I Wayan Ariec Sugiartha, I Putu Supriyani, Nyoman Susanta, I Putu Adi Triningsih Triningsih Triningsih Triningsih Tripaldy Battola Toding Widari, Ni Luh Putu Sari Widiatmika, Alit Hardy Wikanadi, Ni Komang Sri Wikanadi, Ni Nyoman Sri Wikanadi, Nyoman Sri Winatra, I Komang Yogi Winda Yuliani Wirajaya, I Wayan Angga Wirajaya, Wayan Angga Wulandari, Putu Irma Yudha Baskara Ganakin, Gde Yuliani, Winda Zainal Abidin AR Malasugi Zefanya G. Pandelaki