Claim Missing Document
Check
Articles

Implikasi Keberadaan Kampus Universitas Sulawesi Barat Terhadap Perubahan Lahan Di Sekitarnya Ainul Bashirah; Batara Surya; Syafri Syafri
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.9046

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi keberadaan kampus Universitas Sulawesi Barat terhadap dinamika perubahan penggunaan lahan di kawasan sekitarnya. Pendekatan yang digunakan adalah mixed methods yang mengombinasikan analisis kualitatif dan kuantitatif melalui survei serta pemetaan perubahan penggunaan lahan dalam kurun waktu sepuluh tahun (2015–2025). Teknik analisis meliputi analisis peta penggunaan lahan untuk mengidentifikasi tingkat dan pola perubahan, serta analisis regresi linier berganda untuk menguji pengaruh perubahan lahan dan karakteristik spasial terhadap penggunaan lahan. Selain itu, digunakan analisis SWOT sebagai alat untuk menyusun strategi pengembangan kawasan secara terarah. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberadaan Universitas Sulawesi Barat menjadi faktor penentu utama dalam terbentuknya sistem aktivitas perkotaan di wilayah sekitarnya. Perubahan penggunaan lahan terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap dinamika pemanfaatan ruang, sementara karakteristik spasial yang kompleks cenderung berpengaruh negatif sebagai faktor pembatas. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan terpadu antara perubahan lahan dan karakteristik spasial untuk mewujudkan pemanfaatan ruang yang optimal, efisien, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengembangan kawasan yang agresif namun tetap terarah untuk mengoptimalkan potensi wilayah secara berkelanjutan. This research examines the impact of the presence of Universitas Sulawesi Barat on land-use changes in the surrounding area. A mixed-methods approach was employed, integrating both qualitative and quantitative analyses, including survey-based research and land-use change mapping over ten years (2015–2025). The study employs several analytical approaches, including land-use mapping to determine the magnitude and spatial patterns of change; multiple linear regression to assess the influence of land-use transformation and spatial characteristics on land utilization; and SWOT analysis to develop strategic directions for the development of areas surrounding the campus. The results indicate that the presence of Universitas Sulawesi Barat is a primary determinant of the urban activity system in its vicinity. Land-use change has a positive and significant effect on land utilization dynamics, while complex spatial characteristics exhibit a negative influence as a limiting factor. These findings highlight the importance of integrated management of land-use change and spatial characteristics to achieve optimal, efficient, and sustainable land utilization. Therefore, an aggressive yet well-directed development strategy is required to sustainably maximize the existing potential.
Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Di Kampung Bumi Raya, Distrik Nabire Barat Kabupaten Nabire Angka Budhi; Batara Surya; Syafri Syafri
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i1.7634

Abstract

Alih fungsi lahan pertanian menjadi penggunaan non-pertanian merupakan fenomena yang semakin mengkhawatirkan, terutama di wilayah agraris yang berada dalam tekanan pembangunan ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab alih fungsi lahan pertanian dan merumuskan strategi pengendaliannya di Kampung Bumi Raya, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan kombinasi analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan melalui uji Chi-Square dan koefisien kontingensi untuk mengukur pengaruh faktor ekonomi dan sosial terhadap alih fungsi lahan, sedangkan analisis kualitatif digunakan dalam perumusan strategi melalui pendekatan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor ekonomi memiliki pengaruh paling dominan terhadap alih fungsi lahan dengan nilai Chi-Square sebesar 95,77 dan koefisien kontingensi 0,70 (kategori kuat), sedangkan faktor sosial juga berpengaruh signifikan dengan nilai Chi-Square 31,09 dan koefisien kontingensi 0,49 (kategori sedang). Analisis SWOT menempatkan posisi strategi pengendalian pada Kuadran III (Weakness–Threats), sehingga strategi yang direkomendasikan adalah defensive strategy (WT). Strategi ini berfokus pada penguatan sistem pengawasan partisipatif berbasis masyarakat, pemberian insentif dan disinsentif yang konsisten, serta revisi dan penegakan peraturan zonasi yang lebih adaptif terhadap kondisi lokal. Penelitian ini menegaskan bahwa pengendalian alih fungsi lahan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan regulatif, tetapi perlu diintegrasikan dengan pendekatan sosial dan kelembagaan partisipatif untuk mewujudkan perlindungan lahan pertanian yang berkelanjutan di tingkat lokal. The conversion of agricultural land to non-agricultural uses is an increasingly worrying phenomenon, especially in agrarian regions under pressure from spatial development. This research aims to identify the factors causing the conversion of agricultural land and formulate strategies for its control in Kampung Bumi Raya, Nabire Barat District, Nabire Regency. The research used a mixed methods approach, combining quantitative and qualitative analysis. Quantitative analysis was conducted using the Chi-Square test and contingency coefficient to measure the influence of economic and social factors on land conversion, while qualitative analysis was used in formulating strategies thru the SWAT approach. The research results showed that economic factors had the most dominant influence on land conversion, with a Chi-Square value of 95.77 and a contingency coefficient of 0.70 (strong category), while social factors also had a significant influence with a Chi-Square value of 31.09 and a contingency coefficient of 0.49 (moderate category). The SWAT analysis places the strategic control position in Quadrant III (Weakness–Threats), so the recommended strategy is a defensive strategy (WT). This strategy focuses on strengthening community-based participatory monitoring systems, providing consistent incentives and disincentives, and revising and enforcing zoning regulations that are more adaptable to local conditions. This research confirms that controlling the conversion of agricultural land use is not sufficient by relying solely on a regulatory approach; it needs to be integrated with participatory social and institutional approaches to achieve sustainable agricultural land protection at the local level.
Evaluasi Ketersediaan Dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau Pada Perumahan Subsidi: Studi Kasus Kawasan Moncongloe Indonesia Sayyidatul Lutfiyah; Syafri Syafri; Ridwan Ridwan
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i1.7699

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan dan efektivitas pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan perumahan subsidi Moncongloe, Kabupaten Maros, dengan pendekatan campuran yang menggabungkan analisis spasial dan wawancara partisipatif. Penelitian dilakukan pada dua lokasi utama: Perumahan Subsidi A dan Perumahan Subsidi B, untuk membandingkan pola penyediaan dan pemanfaatan RTH. Data diperoleh melalui interpretasi citra satelit, observasi lapangan, dan wawancara mendalam dengan warga, pengembang, dan aparat pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi RTH masih jauh dari standar nasional 30%, dengan Perumahan Subsidi A memiliki 9% RTH dan Perumahan Subsidi B mencapai 20%. Minimnya vegetasi dan fasilitas pendukung mengakibatkan rendahnya pemanfaatan sosial dan fungsi ekologis RTH. Warga cenderung menggunakan RTH secara terbatas karena kurangnya kenyamanan, sementara pengembang lebih berfokus pada efisiensi lahan. Namun, Perumahan Subsidi B menunjukkan tata ruang yang lebih baik dengan taman di tengah jalan dan area hijau di setiap blok. Diskusi menyoroti perlunya kebijakan tata ruang yang lebih kuat, penerapan insentif bagi pengembang yang menerapkan konsep green infrastructure, serta penguatan partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan RTH. Penelitian ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pengembang, dan warga untuk menciptakan RTH yang fungsional dan berkelanjutan. Implikasi praktis dari studi ini adalah perlunya integrasi pendekatan spasial dan partisipatif dalam perencanaan lingkungan perumahan subsidi di kawasan suburban. This study aims to evaluate the availability and effectiveness of green open space (GOS) utilization in the subsidized housing area of Moncongloe, Maros Regency, using a mixed-method approach that combines spatial analysis and participatory interviews. The research was conducted in two main locations Subsidized Housing A and Subsidized Housing B to compare the patterns of GOS provision and utilization. Data were collected through satellite imagery interpretation, field observations, and in-depth interviews with residents, developers, and government officials. The results show that the proportion of GOS remains far below the national standard of 30%, with Subsidized Housing A having only 9% GOS and Subsidized Housing B reaching 20%. The lack of vegetation and supporting facilities has led to low social and ecological functionality of the GOS. Residents tend to use the GOS minimally due to a lack of comfort, while developers focus more on land-use efficiency. However, Subsidized Housing B demonstrates better spatial planning, with green areas along road medians and small parks in each block. The discussion highlights the need for stronger spatial planning policies, the implementation of incentives for developers who adopt green infrastructure concepts, and greater community participation in GOS maintenance. This study emphasizes the importance of collaboration among the government, developers, and residents to create functional and sustainable GOS. The practical implication of this research lies in the necessity of integrating spatial and participatory approaches in the environmental planning of subsidized housing areas in suburban regions.