Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Bertani diantara Himpitan Tambang Itra Itra; Hasniah Hasniah; Abdul Jalil
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 8 No 1 (2024): Volume 8, Nomor 1, Juni 2024
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/kabanti.v8i1.2728

Abstract

This research aims to find out the strategy of farmers in overcoming the problem of mining waste. The results of this study show that the Kiaea community who work as farmers are divided into two, namely field farmers and rice farmers. People who work as field farmers, the location of the plantation close to the mine is forced to leave the land because the plants are covered by dust so that they wither and die. Many residents lost their plantation land due to mining. However, they have a way to keep the land profitable, namely that the mine must compensate, both plants and land. In addition, the presence of mining is certainly a place to accommodate labor and open employment opportunities, such as in the process of building buildings or factories until the stage of mining activities requires a lot of labor. This is what is utilized by residents, especially farmers who have damaged or lost their land. Many people work in the company. The real impact of mining activities that occur in Kiaea Village is environmental damage, air pollution, rivers that were once clear are now murky or mixed with mud so that residents' rice fields are exposed to waste from mining, resulting in a lack of crop yields obtained by farmers and to overcome the problem, several strategies are needed. The strategies made are activating farmer groups, making boreholes, intensive maintenance or spraying, increasing fertilizer application, closing irrigation channels, working as mine laborers. These steps are new solutions to the problems faced and can maintain the rice fields.
Pelatihan Pengolahan Tanaman Rempah-Rempah Menjadi Minyak Urut di Desa Rubia Kecamatan Aere Kabupaten Kolaka Timur Ashmarita Ashmarita; Abdul Jalil; Irma Irma; La Ode Topo Jers; Ahmat Keke
Madaniya Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.1128

Abstract

Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan masyarakat Desa Rubia, Kecamatan Aere, Kabupaten Kolaka Timur dalam pengolahan tanaman rempah-rempah menjadi minyak urut. Pelatihan ini mencakup teknik pengumpulan, pengeringan, dan pengolahan tanaman rempah-rempah yang tepat, serta formulasi dan proses pembuatan minyak urut tradisional. Peserta pelatihan akan mendapatkan pemahaman mendalam tentang manfaat dan khasiat tanaman rempah-rempah lokal, serta cara mengolahnya secara aman dan efektif. Diharapkan, pelatihan ini dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha kecil menengah (UKM) berbasis tanaman rempah-rempah dan memperkenalkan produk minyak urut lokal berkualitas kepada masyarakat luas. Hasil pelatihan akan dievaluasi melalui survei kepuasan peserta dan pemantauan perkembangan usaha minyak urut yang dijalankan oleh para peserta.
Makna Simbolik Tradisi Were Baru Setelah Panen Suku Bugis di Desa Puu Waeya Kecamatan Mata Oleo Kabupaten Bombana Abdul Jalil; Rahmat Sewa Suraya; Nurtikawati Nurtikawati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2973

Abstract

Tradisi Were Baru adalah tradisi pascapanen padi yang dilaksanakan oleh Suku Bugis di Desa Puu Waeya, Kecamatan Mata Oleo, Kabupaten Bombana. Tradisi ini memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat, namun sebagian warga mulai meninggalkannya akibat kurangnya pemahaman terhadap maknanya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses pelaksanaan tradisi Were Baru serta menganalisis makna simbolik alat dan bahan yang digunakan. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce dan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi Were Baru melibatkan tiga tahapan utama: persiapan, pelaksanaan, dan penutupan. Selain itu, setiap benda yang digunakan, seperti bangkung (parang), uring (periuk), penne (piring), dupa, beras, telur, kemenyan, bumbu dapur, dan lauk pauk, memiliki makna simbolik yang merefleksikan nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat Bugis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pelestarian tradisi Were Baru sebagai bagian dari warisan budaya lokal.
Mitologi dan Sistem Penamaan Padi Ladang pada Masyarakat Tolaki: Pendekatan Etno-Ekologi terhadap Kearifan Lokal di Desa Pamandati, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara Zainal; Sarlan Adi Jaya; Laxmi; Erens Elvianus Koodoh; Abdul Jalil; Danial
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1738

Abstract

Penelitian ini mengkaji mitologi dan sistem penamaan padi ladang di kalangan masyarakat Tolaki yang tinggal di Desa Pamandati, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dengan pendekatan etno-ekologi. Dengan menggunakan metode etnografi, penelitian ini mengupas bagaimana mitologi berfungsi sebagai dasar kosmologis untuk praktik pertanian dan sistem pengetahuan tradisional dalam mengklasifikasikan varietas padi lokal. Hasil penelitian mengungkapkan dua temuan utama: Pertama, ada dua narasi mitologis yang saling melengkapi, yaitu mitologi tujuh anak Adam yang menghasilkan tiga jenis padi (putih, ketan, dan hitam) melalui konsep transformasi dan pengorbanan, serta mitologi padi dari pucuk bambu muda yang menekankan pentingnya kerjasama antarspesies antara manusia dan tikus. Kedua mitologi ini berfungsi sebagai charter myth yang memberikan legitimasi pada praktik pertanian dan identitas budaya Tolaki. Kedua, sistem klasifikasi etnobiologi mencakup 71 varietas padi ladang dengan sistem penamaan yang terstruktur berdasarkan enam kategori: asal geografis, karakteristik morfologi, analogi dengan organisme lain, sifat agronomi, nilai budaya, dan nama personal. Sistem penamaan ini berperan sebagai media penyimpanan pengetahuan ekologi tradisional yang menyimpan informasi tentang karakteristik, asal-usul, dan nilai budaya dari setiap varietas. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman akan pentingnya integrasi pengetahuan tradisional dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati dan pelestarian warisan budaya lokal.
PERAN PENYULUH BERBASIS MASYARAKAT DALAM MEMPERTAHANKAN HUTAN JANDA (KAOMBO OHUSII) DI KABUPATEN BUTON SULAWESI TENGGARA Najib Husain; Basrudin; Abdul jalil; Adrian Tawai; Dewi Anggraini
Journal Publicuho Vol. 7 No. 3 (2024): August - October - Journal Publicuho
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35817/publicuho.v7i3.519

Abstract

This study aims to explore the management practices of Widow Forest (Kaombo Ohusii) in Buton Regency through the lens of local wisdom and development communication, by revealing the social, cultural, and environmental dynamics involved in forest management. This study uses a variety of data collection methods. Participant observation allows researchers to be directly involved in Widow Forest management activities, observe the practices carried out, and interact with local communities and other parties involved in natural resource management. In-depth interviews will be conducted with widows, poor women, community leaders, government officials, and non-governmental organizations involved in the management of Widow Forest. The results of the study show that community-based extension by traditional officials in Takimpo Village in the management of Widow Forest (Kaombo Ohusii) is an example of effective local participation in sustainable natural resource management. The involvement of this traditional institution also shows the importance of integrating local values in development, ensuring that decisions taken are in accordance with community expectations, and supporting environmental conservation and community empowerment.