Claim Missing Document
Check
Articles

Konseling Kultural: Studi Kiai Pandalungan sebagai Cultural Broker Subahri, Bambang; Ulum, Hairul
Jurnal Penyuluhan Agama Jurnal Penyuluhan Agama | Vol. 12 No. 1, 2025
Publisher : Islamic Extension Guidance Study Program (BPI) of the Faculty of Da'wah and Communication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/0vb83g29

Abstract

Abstract: cultural counseling plays an important role in multicultural societies such as Pandalungan who live in the Tapal Kuda area of ​​East Java, which is a blend of Madurese and Javanese cultures with a strong influence of Islamic values. In this context, the kiai plays a role as a cultural broker who bridges religious values ​​and local culture in helping the community face various social problems. This study aims to understand how kiai in Pandalungan carry out this role in culture-based counseling. Using a qualitative approach through a case study method, this study collected data through participatory observation, in-depth interviews with kiai and the community, and document analysis related to cultural counseling practices. The results of the study show that kiai use various strategies in counseling, such as communication based on local wisdom, a pesantren approach that emphasizes religious values, and mediation based on customs and social norms that apply in the community. The role of kiai in counseling not only functions as a provider of religious advice, but also as a mediator in resolving social conflicts and building harmony between individuals and groups in the Pandalungan community. These findings confirm that cultural counseling carried out by kiai contributes significantly to maintaining social stability and overcoming the challenges of community life. The implications of this research indicate the need to strengthen the role of kiai in culture-based counseling and the development of a more systematic counseling model so that it can be adapted in various local community contexts. Abstrak: konseling kultural memiliki peran penting dalam masyarakat multikultural seperti Pandalungan yang tinggal di daerah Tapal Kuda Jawa Timur, merupakan perpaduan budaya Madura dan Jawa dengan pengaruh kuat nilai-nilai Islam. Dalam konteks ini, kiai berperan sebagai cultural broker yang menjembatani nilai-nilai agama dan budaya lokal dalam membantu masyarakat menghadapi berbagai permasalahan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana kiai di Pandalungan menjalankan peran tersebut dalam konseling berbasis budaya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi kasus, penelitian ini mengumpulkan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan kiai dan masyarakat, serta analisis dokumen terkait praktik konseling kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kiai menggunakan berbagai strategi dalam konseling, seperti komunikasi berbasis kearifan lokal, pendekatan pesantren yang menekankan nilai-nilai religius, serta mediasi berbasis adat dan norma sosial yang berlaku di komunitas. Peran kiai dalam konseling tidak hanya berfungsi sebagai pemberi nasihat keagamaan, tetapi juga sebagai mediator dalam menyelesaikan konflik sosial dan membangun harmoni antari ndividu maupun kelompok dalam masyarakat Pandalungan. Temuan ini menegaskan bahwa konseling kultural yang dilakukan oleh kiai berkontribusi signifikan dalam menjaga stabilitas sosial dan mengatasi tantangan kehidupan komunitas. Implikasi penelitian ini menunjukkan perlunya penguatan peran kiai dalam konseling berbasis budaya serta pengembangan model konseling yang lebih sistematis agar dapat diadaptasi dalam berbagai konteks masyarakat lokal. Abstrak: konseling kultural memiliki peran penting dalam masyarakat multikultural seperti Pandalungan yang tinggal di daerah Tapal Kuda Jawa Timur, merupakan perpaduan budaya Madura dan Jawa dengan pengaruh kuat nilai-nilai Islam. Dalam konteks ini, kiai berperan sebagai cultural broker yang menjembatani nilai-nilai agama dan budaya lokal dalam membantu masyarakat menghadapi berbagai permasalahan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana kiai di Pandalungan menjalankan peran tersebut dalam konseling berbasis budaya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi kasus, penelitian ini mengumpulkan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan kiai dan masyarakat, serta analisis dokumen terkait praktik konseling kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kiai menggunakan berbagai strategi dalam konseling, seperti komunikasi berbasis kearifan lokal, pendekatan pesantren yang menekankan nilai-nilai religius, serta mediasi berbasis adat dan norma sosial yang berlaku di komunitas. Peran kiai dalam konseling tidak hanya berfungsi sebagai pemberi nasihat keagamaan, tetapi juga sebagai mediator dalam menyelesaikan konflik sosial dan membangun harmoni antari ndividu maupun kelompok dalam masyarakat Pandalungan. Temuan ini menegaskan bahwa konseling kultural yang dilakukan oleh kiai berkontribusi signifikan dalam menjaga stabilitas sosial dan mengatasi tantangan kehidupan komunitas. Implikasi penelitian ini menunjukkan perlunya penguatan peran kiai dalam konseling berbasis budaya serta pengembangan model konseling yang lebih sistematis agar dapat diadaptasi dalam berbagai konteks masyarakat lokal.  
Participatory Community Based Islamic Boarding School Da'wah Management Strategy to Strengthen Local Islamic Da'wah in Lumajang Safitri, Anis; Subahri, Bambang
IJoIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Vol. 6 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Islamic Studies
Publisher : Civiliza Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59525/ijois.v6i2.1230

Abstract

This study analyzes the pesantren-based da'wah management strategy at the Miftahul Ulum Islamic Boarding School in Banyuputih Kidul Lumajang, emphasizing the integration of a participatory approach in da'wah management practices. The study uses a descriptive qualitative approach through observation, in-depth interviews, and documentation. The findings show that pesantren da'wah management is carried out through four main functions, namely planning, organizing, implementing, and supervising. Da'wah planning is carried out in a participatory and contextual manner by involving caregivers, ustaz, administrators, and santri, so that the da'wah program is responsive to the internal needs of the pesantren and the surrounding community. Organization is collective and flexible, da'wah implementation is carried out through internal and external da'wah with a persuasive-educational approach, while supervision is carried out continuously even though it has not been formalized administratively. The novelty of this research lies in the formulation of a community-based da'wah management model for Islamic boarding schools that expands the function of da'wah from internal guidance to strengthening social da'wah in the community. Theoretically, these findings enrich the study of da'wah management with a participatory perspective based on Islamic boarding schools, while practically providing an adaptive and applicable model for managing da'wah in Islamic boarding schools as centers for community religious empowerment.
Pendampingan Program Bimbingan dan Konseling pada Layanan Responsif di MA Raudlatul Ulum Subahri, Bambang; Mala, Hayatul; Sugianto, Didik; Sa`diyah, Halimatus; Nur, Shodri MHD
LOYALITAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2025): November 2025
Publisher : Universitas KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30739/loyalitas.v8i2.4577

Abstract

Guidance and counseling (GC or BK in Bahasa Indonesia) services play a strategic role in assisting students in dealing with personal, social, academic, and career-related problems. However, at MA Raudlatul Ulum Sumberanyar, GC services have not been implemented systematically and tend to be replaced by punitive approaches for students who violate school rules. This condition indicates the need to strengthen responsive services through structured mentoring so that the school can establish a GC program foundation that is well-organized and aligned with students’ developmental needs. This mentoring-based study employed a descriptive qualitative method using observation, interviews, direct mentoring, and documentation techniques. The mentoring focused on three forms of responsive services: individual counseling, group counseling, and classical guidance accompanied by social skills training based on collaborative activities. The mentoring activities were conducted to identify students’ main problems and to provide initial interventions relevant to the school context. The results of the mentoring revealed three key findings: (1) low student learning motivation, (2) weak discipline and compliance with school regulations, and (3) the absence of a competent guidance and counseling teacher capable of professionally addressing students’ developmental needs. The mentoring process had a positive impact by increasing students’ understanding of GC services, generating alternative solutions to issues of motivation and discipline, and producing recommendations for the provision of more effective GC services. In conclusion, mentoring the GC program within responsive services at MA Raudlatul Ulum has provided an important foundation for the development of more structured counseling services. The school needs to take follow-up steps by strengthening GC policies and preparing qualified counselors so that responsive services can be implemented sustainably.
STRATEGI PENGKADERAN IPNU IPPNU KABUPATEN LUMAJANG DALAM MENGHADAPI DISRUPSI DIGITAL DAN TANTANGAN GENERASI Z Murad, Mochammad Faisal; Subahri, Bambang
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i1.5767

Abstract

Abstract: This study aims to describe and analyze the cadre development strategies implemented by the Branch Leadership (PC) of IPNU IPPNU Lumajang Regency in facing the era of digital disruption and the unique characteristics of Generation Z. As the largest mass-based student organization, IPNU IPPNU is faced with the challenge of declining interest in conventional organizations due to the shift to digital lifestyles. The research method used is descriptive qualitative, with data collection techniques through in-depth interviews, media observation, and documentation. The results show that PC IPNU IPPNU Lumajang has transformed its cadre development through three main channels: (1) Innovation in recruitment media based on creative content on the TikTok and Instagram platforms, (2) Adaptation of formal cadre development materials that are more interactive and relevant to current Gen-Z issues, and (3) Utilization of communication technology for organizational management at the PAC and Branch levels. The main supporting factor is the availability of digitally competent human resources, but this is hampered by the gap in technology access in several geographic areas of Lumajang Regency. This study concludes that hybrid cadre development (a combination of physical and digital) is an effective solution for maintaining the organization's existence in the era of disruption. Keywords: Cadre Development, IPNU IPPNU, Lumajang, Digital Disruption, Generation Z. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis strategi pengkaderan yang diterapkan oleh Pimpinan Cabang (PC) IPNU IPPNU Kabupaten Lumajang dalam menghadapi era disrupsi digital dan karakteristik unik Generasi Z. Sebagai organisasi pelajar berbasis massa terbesar, IPNU IPPNU dihadapkan pada tantangan penurunan minat organisasi secara konvensional akibat pergeseran gaya hidup digital. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi media, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PC IPNU IPPNU Lumajang melakukan transformasi pengkaderan melalui tiga jalur utama: (1) Inovasi media rekrutmen berbasis konten kreatif di platform TikTok dan Instagram, (2) Adaptasi materi kaderisasi formal yang lebih interaktif dan relevan dengan isu-isu terkini Gen-Z, serta (3) Pemanfaatan teknologi komunikasi untuk manajemen organisasi di tingkat PAC hingga Ranting. Faktor pendukung utama adalah ketersediaan sumber daya manusia yang cakap digital, namun terkendala oleh kesenjangan akses teknologi di beberapa wilayah geografis Kabupaten Lumajang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengkaderan hibrida (gabungan fisik dan digital) menjadi solusi efektif dalam menjaga eksistensi organisasi di era disrupsi. Kata Kunci : Kaderisasi, IPNU IPPNU, Lumajang, Disrupsi Digital, Generasi Z.
Ecology-Based Islamic Counseling: A Dynamyc Study of Forest Conservation Actors on The Slopes of Mount Lamongan, Lumajang Hoirina Ramadhanti; Bambang Subahri
Counselia Jurnal Bimbingan Konseling Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/counselia.v7i1.641

Abstract

This article examines forest conservation practices on the slopes of Mount Lamongan, Lumajang Regency, which are taking place amidst ecological pressures such as forest fires, land degradation, and increasing exploitation of natural resources. Amidst these conditions, community-based and individual forest conservation actors have emerged, facing not only technical environmental challenges but also complex psychological, social, and spiritual dynamics. This demonstrates that environmental conservation is a socio-religious practice that demands mental resilience, social legitimacy, and sustained religious meaning. Theoretically, this article combines the Islamic counseling concept developed by Abu Zaid al-Balkhi, particularly the notion of mental health and the balance between psychological, moral, and spiritual dimensions, with Peter L. Berger's social construction theory. This integration of the two perspectives is used to understand forest conservation as a social reality that is constructed, institutionalized, and religiously interpreted by its practitioners. This research employed a qualitative approach with a case study approach. The research location was in Klakah and Ranuyoso Districts, Lumajang Regency. Data were collected through in-depth interviews, field observations, and documentation, with informants selected purposively from forest conservation practitioners, religious leaders, journalists, and the local community. Data validity was maintained through triangulation of sources and techniques. The research results show three main conclusions: first, forest conservation actors experience interrelated psychological, social, and spiritual dynamics; second, Islamic values are interpreted as an ethical and spiritual foundation in conservation practices; and third, ecologically based Islamic counseling is relevant as a holistic mentoring model for the sustainability of community-based forest conservation.
Pola Konseling Kyai Sebagai Upaya Preventif Konflik Sosial di Kecamatan Klakah Siska Amelia; Bambang Subahri
Counselia Jurnal Bimbingan Konseling Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/counselia.v7i1.642

Abstract

Konflik sosial merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam masyarakat religius yang secara normatif diharapkan mampu menjaga keharmonisan melalui nilai-nilai keagamaan. Namun, realitas menunjukkan bahwa konflik tetap muncul dalam bentuk ketegangan laten, kesalahpahaman, dan emosi negatif yang berpotensi berkembang menjadi kekerasan apabila tidak dikelola secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola konseling kiai sebagai upaya preventif konflik sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola konseling kiai bersifat fleksibel, kontekstual, dan nonformal melalui konseling personal, pengajian, dialog informal, serta mediasi sosial. Konseling tidak hanya berfungsi sebagai penyelesaian konflik, tetapi juga sebagai upaya preventif melalui penanaman nilai-nilai keislaman seperti kesabaran, toleransi, dan persaudaraan. Selain itu, konseling kiai terbukti mampu meredam konflik yang berpotensi berkembang menjadi kekerasan melalui pendekatan spiritual dan emosional. Dalam perspektif tazkiyatun nafs, konseling kiai mencerminkan pembinaan jiwa, sedangkan dalam teori konflik sosial berfungsi sebagai mekanisme konstruktif dalam mengelola konflik. Dengan demikian, konseling kiai menjadi model preventif berbasis religius-kultural dalam menjaga keharmonisan masyarakat.
Dinamika Post-Traumatic Stress pada Masyarakat Penyintas Bencana di Hunian Tetap Bumi Semeru Damai (BSD) Ahmad Faisol; Bambang Subahri
MUKADIMAH: Jurnal Pendidikan, Sejarah, dan Ilmu-ilmu Sosial Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Sumatera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/mkd.v10i1.13188

Abstract

Natural disasters in the Semeru region have resulted not only in physical destruction but also in long-term psychological consequences for affected communities, particularly in the form of Post-Traumatic Stress (PTS). Although survivors have been relocated to permanent housing, traumatic stress often persists and fluctuates during the post-relocation phase. This study aims to explore the dynamics of Post-Traumatic Stress and the factors influencing its persistence among disaster survivors living in the Bumi Semeru Damai (BSD) permanent housing complex in Lumajang. This study employed a qualitative approach using a case study design and involved four disaster survivors with diverse ages and life backgrounds. Data were collected through in-depth interviews, direct observations, and documentation, and analyzed thematically using the Conservation of Resources (COR) theory. The findings indicate that Post-Traumatic Stress among survivors is dynamic and non-linear, with symptom intensity changing over time. The persistence of Post-Traumatic Stress (PTS) is strongly associated with the loss of critical resources, while social support functions as a protective factor that facilitates psychological adaptation. These findings highlight the need for post-disaster recovery strategies that prioritize long-term psychosocial support and resource strengthening.
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Preferensi Zakat Profesi Pada ASN Di Kabupaten Lumajang Ahmad Zarkasyi; Muhammad Masyhuri; Basuki Kurniawan; Nur Yasin; Bambang Subahri; M. Agus Syaifullah
iltizamat Vol 5 No 1 (2025): Desember
Publisher : Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Miftahul Ulum Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/iltizamat.v5i1.2545

Abstract

Penelitian ini menjelaskan anteseden level Persepsi tentang zakat, Pengetahuan dan Pemahaman, Faktor Ekonomi dan Finansial, Kepercayaan Kepada Lembaga Pengelola Zakat, dan Faktor Kebijakan dan Regulasi terhadap minat membayar zakat Aparatur Sipil Negara Kabupaten Lumajang pada BAZNAS Kabupaten Lumajang. Penelitian ini dilakukan pada bulan 23 Juli hingga 27 Oktober 2025 dengan menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Sampel yang digunakan berjumlah 185 responden yang diambil dari Aparatur Sipil Negara di Kabupaten Lumajang. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dengan skala pengukuran scale likert dan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain teknik analisis data kuantitatif dan teknik analisis data deskriptif. persepsi tentang zakat merupakan indicator utama dalam mengukur preferensi zakat bagi Aparatur Sipil Negara di Kabupaten Lumajang dengan nilai mean 3.41 yang ditunjukkan melalui pemahaman bahwa zakat profesi merupakan kewajiban agama bagi ASN muslim. Sedangkan nilai rata-rata terendah adalah factor ekonomi dan finansial dengan nilai mean 2.08 yang ditunjukkan dari beban kebutuhan sehari-hari membuat para ASN kesulitan membayar zakat profesi.
Optimalisasi Peran Masjid Jami’ Nu Darul Muqomah Kabupaten Lumajang Sebagai Pusat Ibadah, Pendidikan, Dan Sosial Masyarakat Isdianah Alda Rain; Bambang Subahri
Tarbawi : Jurnal Studi Pendidikan Islami Vol. 13 No. 2 (2025): Tarbawi : Jurnal Studi Pendidikan Islami (Oktober)
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55757/tarbawi.v13i2.1083

Abstract

Abstract Purpose – Masjid memiliki peran strategis tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan sosial masyarakat. Namun, dalam praktiknya, fungsi masjid sering kali belum dioptimalkan secara menyeluruh dan masih berfokus pada aktivitas ibadah ritual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis optimalisasi fungsi Masjid Jami’ NU Darul Muqomah Kabupaten Lumajang sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan sosial, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya. Design/methodology/approach - Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dengan pengurus masjid dan jamaah, serta studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Research limitations/implications – Pembahasan menegaskan bahwa optimalisasi fungsi masjid dipengaruhi oleh manajemen masjid, kualitas sumber daya manusia, dan partisipasi jamaah. Findings – Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Jami’ NU Darul Muqomah telah menjalankan fungsi ibadah secara konsisten, serta mengembangkan fungsi pendidikan melalui pengajian dan pembinaan keagamaan. Fungsi sosial masjid juga diwujudkan melalui kegiatan sosial dan pelayanan umat, meskipun pelaksanaannya belum sepenuhnya terintegrasi dan berkelanjutan. Originality/value – Simpulan penelitian ini menekankan pentingnya pengelolaan masjid yang terencana, partisipatif, dan integratif agar masjid mampu berperan secara optimal sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan sosial masyarakat.
Beyond Normative Preaching: How TikTok Reconstructs Local Wisdom-Based Da’wah in the Nahdlatul Ulama Community Subahri, Bambang; Rachman, Rio Febriannur
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 9 No. 1 (2026): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/muharrik.v9i1.9906

Abstract

This study examines how Islamic education grounded in local wisdom is constructed and disseminated through the TikTok account of NU Lumajang. The research draws on the theoretical perspectives of the mediatization of religion and on Clifford Geertz's concept of religion as a cultural system to explain the interaction among media logic, religious authority, and local cultural values in digital environments. Employing a qualitative netnographic approach, the study investigates the production, circulation, and audience engagement of religious content on social media. Data were collected through the observation and documentation of 87 TikTok videos uploaded throughout 2025, analysis of user interactions in the comment sections, and in-depth interviews with account managers and selected followers to strengthen the interpretation of online findings. The findings reveal that Islamic education on TikTok NU Lumajang is communicated through short, visually engaging videos that integrate normative Islamic teachings with local traditions, cultural symbols, and regional languages. This strategy enables Islamic values to be conveyed in a contextual, inclusive, and accessible manner while reinforcing local cultural identity. The study concludes that TikTok NU Lumajang functions as a digital space where religious authority, local wisdom, and platform logics are continuously negotiated. The article contributes to the growing scholarship on digital religion by demonstrating how Islamic organizations utilize social media not only to disseminate religious teachings but also to preserve and recontextualize local cultural traditions within contemporary digital communication practices.