cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI
ISSN : 25280201     EISSN : 25283278     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
The Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI is a scientific media dissemination of research results in agriculture to support agricultural development. This journal is a national journal containing agricultural research results, routinely published by the Faculty of Agriculture - University of Muhammadiyah Jakarta since 2016
Arjuna Subject : -
Articles 119 Documents
Uji Kemampuan Bacillus subtilis dan Lysinibacillus sp. dalam Campuran Carbon Fiber dan Silica Nano untuk Mengendalikan Nematoda Puru Akar (Meloidogyne spp.) pada Tanaman Tomat Hersanti Hersanti; Siska Rasiska; Refiona Sekar Sari
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.8.1.29-38

Abstract

Penyakit puru akar adalah penyakit yang disebabkan oleh nematoda Meloidogyne spp. yang dapat menurunkan hasil panen tanaman tomat hingga 29%. Alternatif pengendalian penyakit puru akar adalah dengan menggunakan bakteri antagonis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan bakteri antagonis Bacillus subtilis dan Lysinibacillus sp. yang dicampurkan dengan serat karbon dan silika nano untuk menekan Meloidogyne spp. secara in vitro dan mengendalikan penyakit puru akar pada tanaman tomat secara in vivo. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fitopatologi dan Rumah Kaca Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian, Universitas Padjajaran dari bulan Juni sampai Desember 2019. Percobaan terdiri atas uji in vitro terdiri dari 11 perlakuan dan 3 ulangan yang dan uji in vivo dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan yang dilakukan dengan rancangan acak kelompok. Hasil penelitian menujukkan bahwa B. subtilis dan Lysinibacillus dapat menekan populasi Meloidogyne spp. Campuran B. subtilis dengan serat karbon dan silika nano menurunkan populasi Meloidogyne spp. hingga 90% secara in vitro. Formulasi Bacillus subtilis + Lysinibacillus adalah campuran yang paling baik dalam menekan penyakit puru akar pada tanaman tomat.
Patogenisitas Cendawan Colletotrichum musae dan Colletotrichum gloeosporioides Penyebab Penyakit Antraknosa dan Ketahanan Buah Beberapa Kultivar Pisang Dwi Nanda Aulia Situmorang; Hendrival Hendrival; Usnawiyah Usnawiyah; Latifah Latifah; Novita Pramahsari Putri; Muhammad Muaz Munauwar; Baidhawi Baidhawi
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.9.1.36-43

Abstract

Penyakit antraknosa merupakan salah satu penyakit pascapanen pada buah pisang saat penyimpanan yang menyebabkan buah akan membusuk dan rusak sebelum matang. Penyakit antraknosa pada buah pisang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum musae dan C. gloeosporioides. Penelitian bertujuan untuk mengetahui patogenisitas isolat C. musae dan C. gloeosporioides serta ketahanan buah beberapa kultivar pisang. Penelitian dilaksanakan pada  November 2021 sampai Januari 2022  di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Malikussaleh. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial. Faktor pertama  yaitu kultivar buah pisang dan faktor kedua yaitu  isolat cendawan.. Parameter yang diamati adalah warna koloni cendawan, periode inkubasi, dan keparahan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koloni C. musae berwarna putih dan C. gloeosporioides berwarna putih keabuan, periode inkubasi paling singkat terjadi pada buah pisang yang diinokulasi C. musae. Berdasarkan nilai keparahan penyakit respons buah pisang dibedakan menjadi sangat rentan ( Tanduk), rentan ( Barangan, Mas, Awak, dan Raja) dan agak tahan (Kepok). Inokulasi isolat C. musae dan C. gloeosporioides pada buah pisang Tanduk dapat meningkatkan keparahan penyakit dan periode  inkubasi yang singkat dibandingkan pada buah pisang Kepok. Isolat C. musae memiliki tingkat patogenisitas lebih tinggi dibandingkan C. gloeosporioides.ABSTRACTAnthracnose disease is one of the post-harvest diseases in bananas during storage that causes the fruit to rot and be damaged before it ripens. Anthracnose disease in bananas is caused by the fungi Colletotrichum musae and C. gloeosporioides. The study aims to determine the pathogenicity of C. musae and C. gloeosporioides isolates and the resistance of several banana cultivars. The study was conducted from November 2021 to January 2022 at the Plant Pests and Diseases Laboratory, Faculty of Agriculture, Malikussaleh University. The experiment was arranged using a Completely Randomized Design with a factorial pattern. The first factor is the banana cultivar and the second factor is the fungal isolate. The parameters observed were the colony color, the incubation period, and the severity of the disease. The results showed that the C. musae colony was white and C. gloeosporioides was grayish white, the shortest incubation period occurred in bananas inoculated with C. musae. Based on the severity of the disease, the response of banana fruit is divided into very susceptible (Tanduk), susceptible (Barangan, Mas, Awak, and Raja) and somewhat resistant (Kepok). Inoculation of C. musae and C. gloeosporioides isolates on Tanduk banana fruit can increase the severity of the disease and the short incubation period compared to Kepok banana fruit. C. musae isolates have a higher pathogenicity level than C. gloeosporioides.
Iradiasi Sinar Gamma untuk Menghasilkan Variasi Fenotipe pada Tanaman Patah Tulang Kriwil (Euphorbia tirucalli) Hoya Curly Rita Tri Puspitasari; Ade Sumiahadi; Dirgahani Putri
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.8.2.61-68

Abstract

Indonesia memiliki biodiversitas yang tinggi, termasuk tanaman. Namun kenyataannya, Indonesia masih banyak mengimpor tanaman  terutama tanaman hias dari luar negeri. Hal tersebut mendorong peneliti untuk mendapatkan jenis-jenis tanaman hias unik dan menarik yang diharapkan dapat diminati. Salah satu cara yang dilakukan adalah mutasi. Mutagen dapat berupa fisik, kimia atau rekayasa genetik. Mutagen secara fisik dengan iradiasi sinar gamma menjadi pilihan yang relatif lebih murah dan cepat dengan potensi keragaman tinggi, yang diharapkan tanaman hias menjadi lebih beragam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari dosis iradiasi yang dapat mengubah fenotipe patah tulang kriwil yang berbeda dari fenotipe aslinya. Penelitian dilaksanakan di nursery Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta, pada bulan Agustus 2022 sampai November 2023. Dosis Iradiasi sinar gamma yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0, 2, 4, 6, 8, 10, dan 12 Gy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis iradiasi sinar gamma yang digunakan pada penelitian ini belum dapat menghasilkan keragaman karakter kuantitatif maupun kualitatif pada tanaman patah tulang kriwil Hoya Curly pada pengamatan 3-6 bulan, namun setelah satu tahun kemudian baru terlihat perubahan karakter kualitatif, yaitu pada perlakuan 4 Gy dan 10 Gy. Pada dosis iradiasi 4 Gy terdapat tanaman dengan ukuran daun lebih kecil, warna daun dan batang menjadi hijau, namun bentuk daun tetap kriwil dengan habitus menjuntai seperti kontrol. Perubahan pada 10 Gy, daun tidak keriting, tangkai daun lebih panjang, ukuran daun lebih besar, namun warna daun tetap putih kehijauan, dan habitus tetap menjuntai seperti kontrol.ABSTRACTIndonesia has high biodiversity, including plants. However, in reality, Indonesia still imports a lot of plants, especially ornamental plants, from abroad. This fact encourages researchers to get unique types of ornamental plants that are expected to be of public interest. One way to do this is mutation. Mutagens can be physical, chemical or genetic engineering. Physical mutagen by gamma irradiation is a relatively cheaper and faster option with high diversity potential, which is expected to increase the diversity of ornamental plants. This study aimed to find an irradiation dose that could change the phenotypic characters of Euphorbia tirucalli Hoya Curly, which was different from the original phenotype. The research was conducted in the nursery of the Faculty of Agriculture, Universitas Muhammadiyah Jakarta, from August to November 2022. The doses of gamma irradiation used in this study were 0, 2, 4, 6, 8, 10, and 12 Gy. The results showed that the doses of gamma irradiation used in this study could not produce a diversity of quantitative or qualitative characters in the Hoya Curly kriwil fracture plant in 3-6 months observation. However, approximately one year later, changes were seen in the qualitative characters, namely in 4 and 10 Gy doses. At an irradiation dose of 4 Gy there were plants with smaller leaf sizes and the colour of the leaves and stems became green, but the leaf shape remained curly with a dangling habitus like the control. Changes at 10 Gy, the leaves did not curl, the ptiole was longer, the leaf size was larger, but the colour of leaves and stem remained greenish white with a dangling habitus like the control.
Pengaruh Biochar Sekam Padi dan Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai pada Entisol Maria Getrudis Yati; Widowati Widowati; Wahyu Fikrinda
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.9.1.1-7

Abstract

Entisol berstruktur tanah lempung dengan bahan organik rendah. Pemberian bahan organik penting dilakukan dengan pemberian biochar dan pupuk organic cair. Penelitian bertujuan mempelajari pengaruh pemberian biochar sekam padi dan POC terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai di entisol. Penelitian dilaksanakan di Malang pada Maret - Juli 2020. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial dua faktor dan tiga ulangan. Faktor 1 adalah dosis biochar sekam padi (B) terdiri atas 3 taraf yaitu: B0= 0 t/ha (kontrol), B1= 10 t ha-1 (80 g tan-1), B2= 15 t  ha-1 (120g tan-1) dan faktor 2 adalah POC NASA terdiri atas P0= 0 cc L-1 (kontrol), P1= 20 cc L-1, P2 = 40 cc L-1. Pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah brangkasan, jumlah bintil akar, jumlah polong pertanaman, bobot biji pertanaman, bobot 100 biji dan hasil panen. Data dianalisis anova jika nyata dilanjutkan uji Beda Nyata Terkecil taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan (1) Terdapat interaksi nyata dosis biochar dan dosis POC pada parameter bobot basah brangkasan tanaman. (2) Hasil kedelai terbaik terdapat pada dosis 10 ton ha-1, dilihat dari parameter pengamatan tinggi tanaman, jumlah bintil akar dan jumlah polong pertanaman sedangkan pemberian pupuk organik cair belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai.ABSTRACTEntisol has a clay soil structure with low organic matter. It is important to provide organic material by providing biochar and liquid organic fertilizer. The research aims to study the effect of providing rice husk biochar and POC on the growth and yield of soybean plants in entisol. The research was conducted in Malang in March - July 2020. The research used a factorial randomized block design of two factors and three replications. Factor 1 is the dosage of rice husk biochar (B) consisting of 3 levels, namely: B0= control, B1= 10 t ha-1 (80 g ton-1), B2= 15 t ha-1 (120g tan-1) and factor 2 is NASA POC concentration consisting of P0= 0 cc L-1 (control), P1= 20 cc L-1, P2 = 40 cc L-1. Observations included plant height, number of leaves, fresh weight of stover, number of root nodules, number of pods planted, weight of seeds planted, weight of 100 seeds and harvest yield. The data was analyzed by ANOVA if it was real, followed by the Least Significant Difference test at the 5% level. The research results show (1) There is a real interaction between biochar dose and POC dose on the wet weight parameters of plant stover. (2) The best soybean yield was found at a dose of 10 tons ha-1, seen from the observation parameters of plant height, number of root nodules and number of pods planted, while the application of liquid organic fertilizer was not able to increase the growth and yield of soybean plants.
Status Gula dan Hara pada Daun Serta Status Gula pada Buah Manggis Selama Fase Perkembangan Buah Dhika Prita Hapsari; Roedhy Poerwanto; Didy Sopandie; Edi Santosa; Deden Derajat Matra
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.9.1.44-52

Abstract

Produksi manggis dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi yang cukup signifikan akibat terjadinya ketidakseimbangan fotosintat pada tanaman manggis. Pada saat on year buah manggis yang dihasilkan banyak namun berukuran kecil, sebaliknya pada saat off year buah manggis yang dihasilkan sedikit namun berukuran lebih besar. Selain itu, terjadi gugur buah yang cukup tinggi ketika on year akibat tanaman tidak mampu menopang buah yang sangat banyak. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendapatkan informasi mengenai status nutrisi pada tanaman manggis sehingga dapat menjelaskan fluktuasi hara dan gula pada tanaman manggis selama satu periode panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman manggis memiliki rasio jumlah daun dan buah yang tinggi yaitu 142:1. Perubahan kandungan hara daun akibat perkembangan buah manggis paling utama ditemukan pada unsur K, Ca, B, Cu, Zn yang memiliki peran penting dalam proses pembentukan buah. Diduga terjadi hambatan translokasi gula pada fase awal perkembangan buah yang ditunjukkan oleh tingginya kandungan gula pada daun seiring dengan rendahya kandungan gula pada buah manggis. Kandungan glukosa dan fruktosa paling tinggi terdapat pada buah manggis yang memasuki fase pematangan buah.ABSTRACTMangosteen production fluctuates year by year because of imbalance nutrient in plant. Plant produces a lot of fruit with smaller size during “on season”, while few of fruit with bigger size during “off season”. On the other hand, the high fruit drop occurred when “on season” because mangosteen tree is not able to hold too many fruits. This experiment was conducted to obtain the information of nutrient status on mangosteen tree and explain the fluctuation of nutrient and sugar in one harvset period. The result show that mangosteen had a very high ratio between leaves and fruit, i.e 142:1. The changes of nutrient content during fruit development were found in potassium (K) and calcium (Ca), B (boron), Cu (copper), Zn (zinc) which have a critical role in fruit set process. Limitation of sugar translocation in the beginning of fruit development stage was occurred. It shows by the high content of sugar in leaves along with the low content of sugar in mangosteen fruit. The highest glucose and fructose content in mangosteen fruit was found on the beginning of maturation stage.
Efek Pemberian Kompos Ampas Tahu terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Cabai Merah Keriting (Capsicum annum L.) Erlina Rahmayuni; Debi Septiawan; Welly Herman; Elfarisna Elfarisna; Elsa Lolita Putri; Kurniati Kurniati
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.8.2.69-75

Abstract

Ampas tahu merupakan salah satu limbah padat yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik untuk menyediakan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman cabai merah keriting. Kompos ampas tahu mengandung unsur hara seperti N, P, K, dan Mg yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhannya. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui efek pemberian kompos ampas tahu terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai merah keriting (Capsicum annum L.). Penelitian telah dilaksanakan dari bulan Oktober 2020 – Januari 2021 di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta. Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT), dengan lima perlakuan, yang meliputi: Tanpa kompos ampas tahu + 100% Pupuk Anorganik (kontrol), 100g/polybag Kompos Ampas Tahu + 50% Pupuk Anorganik, 200g/polybag Kompos Ampas Tahu + 50% Pupuk Anorganik, 300g/polybag Kompos Ampas Tahu + 50% Pupuk Anorganik dan 400g/polybag Kompos Ampas Tahu + 50% Pupuk Anorganik. Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai merah keriting yang meliputi: tinggi dan diameter batang mulai saat umur 2-7 MST (minggu setelah tanam), umur berbunga, jumlah buah pertanaman, bobot buah pertanaman, bobot perbuah, panjang buah dan diameter buah. Hasil dari penelitian menyatakan bahwa efek penggunaan kompos ampas tahu terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai merah keriting berbeda nyata terhadap tinggi tanaman dan diameter batang. Perlakuan terbaik adalah penggunaan 400g/polybag + 50% pupuk anorganik dan tidak berbeda nyata dengan tanpa kompos ampas tahu + 100% pupuk anorganik.  Parameter umur berbunga, jumlah buah pertanaman, bobot buah pertanaman, bobot perbuah, panjang buah dan diameter buah tidak menunjukkan adanya pengaruh dengan penggunaan kompos ampas tahu.ABSTRACTTofu dregs compost contains essential nutrients such as nitrogen (N), phosphorus (P), potassium (K), and magnesium (Mg), which are crucial for plant growth. The aim of this research was to investigate the impact of applying tofu dregs compost on the growth and production of curly red chili plants (Capsicum annum L.). The study was conducted from October 2020 to January 2021 at the experimental garden of the Faculty of Agriculture, Muhammadiyah University, Jakarta. The research employed a Randomized Complete Group Design (RKLT) with five treatments, including: No tofu dregs compost + 100% inorganic fertilizer (control), 100g/polybag tofu dregs compost + 50% inorganic fertilizer, 200g/polybag tofu dregs compost + 50% inorganic fertilizer, 300g/polybag tofu dregs compost + 50% inorganic fertilizer, and 400g/polybag tofu dregs compost + 50% inorganic fertilizer. Observations were conducted on the growth and production of curly red chili plants, encompassing parameters such as height and stem diameter from 2 to 7 weeks after planting (WAP), flowering age, number of fruits per plant, fruit weight per plant, fruit length, and fruit diameter. The research results indicated that the use of tofu dregs compost significantly affected the plant height and stem diameter of curly red chili plants. The most effective treatment was found to be 400g/polybag + 50% inorganic fertilizer, which did not differ significantly from the control (without tofu dregs compost + 100% inorganic fertilizer). However, parameters such as flowering age, number of fruits per plant, fruit weight per plant, fruit weight, fruit length, and fruit diameter did not exhibit any significant influence with the application of tofu dregs compost.
Hubungan Laju Alih Fungsi Lahan Pertanian dengan Laju Produksi Padi di Jakarta Barat Fathia Inasya Ayuningtyas; Komariah Komariah; Dwi Priyo Ariyanto; Jauhari Syamsiyah
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.9.1.8-17

Abstract

Kota Administrasi Jakarta Barat masih berkontribusi terhadap produktivitas padi, namun produksinya terus mengalami penurunan akibat alih fungsi lahan sawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan laju alih fungsi lahan pertanian terhadap produksi padi serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan pendekatan cross sectional, melalui teknik purposive sampling pada 3 titik utama di Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang sangat kuat antara laju alih fungsi lahan terhadap laju produksi padi (P value < 0,05) dengan kontribusi 97,2%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa laju alih fungsi lahan dalam kurun waktu 17 tahun ternyata cukup tinggi yaitu antara 5,8 hingga 42,7 ha/tahun dengan penurunan rerata produksi padi 1.271,02 ton. ABSTRACTWest Jakarta Administrative City still contributes to rice productivity, but its production continues to decline due to the conversion of paddy fields. This study aims to determine the relationship between the rate of conversion of agricultural land to rice production and the factors that influence it. This study used an exploratory descriptive method with a cross sectional approach, through purposive sampling technique at 3 main points in Kalideres District, West Jakarta. The results showed that there was a very strong relationship between the rate of land conversion and the rate of rice production (P value <0.05) with a contribution of 97.2%. The study concluded that the rate of land conversion within 17 years was quite high, ranging from 5.8 to 42.7 ha/year with an average decrease in rice production of 1,271.02 tonnes.
Studi Korelasi Penciri Karakter Kuantitatif terhadap Produksi Cabai Hibrida IPB di Dataran Rendah Karawang Ilham Dzikrillah; Muhammad Syafi’i; Muhamad Syukur
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.8.2.76-86

Abstract

Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang penting peranannya dari berbagai aspek, meskipun demikian produksi cabai merah di Kabupaten Karawang tergolong rendah dibandingkan dengan daerah lainnya di Jawa Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antar penciri karakter kuantitatif terhadap produksi cabai hibrida IPB di dataran rendah Karawang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2022 sampai Agustus 2022 di lahan Perusahan Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri), Desa Sirnabaya, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang. Metode penelitan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal terdiri dari 10 perlakuan dan 3 ulangan, sehingga terdapat 30 satuan percobaan dan setiap satuan percobaan terdiri dari 20 tanaman. Perlakuan terdiri dari F1074005 (G1), F1074003 (G2), F1374005 (G3), F1374005 (G4), CH3 (G5), Baja (G6), Balebat (G7), Elegance (G8), Imperal 10 (G9) dan Gada (G10). Data yang diperoleh akan dianalisis korelasi dengan aplikasi SPSS. Hasil penelitian menunjukkan nilai korelasi positif tertinggi dengan produksi, beberapa diantaranya yaitu, produksi dengan jumlah buah per tanaman (0,895), produksi dengan tebal daging buah (0,559), dan produksi dengan persentase tanaman hidup (0,499).ABSTRACTRed chili (Capsicum annuum L.) is one of the important horticultural crops from various ascpects, but red chili production in Karawang regency is still low compared to other areas in West Java. The purpose of this study was to determine the correlation between quantitative character traits on the production of IPB hybrid chili in the lowlands of Karawang. This research was conducted in April 2022 until August 2022 on the land of Perusahaan Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri), Sirnabaya Village, East Telukjambe District, Karawang Regency. The research method used a single factor Randomized Block Design (RBD) consisting of 10 treatments and 3 replications, so there were 30 experimental units and each experimental unit consisted of 20 plants. The treatment consisted of F1074005 (G1), F1074003 (G2), F1374005 (G3), F1374003 (G4), CH3 (G5), Baja (G6), Balebat (G7), Elegance (G8), Imperial 10 (G9), and Gada (G10). The data obtained will be analyzed for correlation with the SPSS application. The results showed the highest positive correlation with production, some of which were production with the number of fruits per plant (0,895), production with the thickness of the fruit flesh (0,559), and production with the percentage of live plants (0,499).
Teknologi Kultur in vitro untuk Meningkatkan Produksi Metabolit Sekunder pada Berbagai Tanaman Obat Muhamad Kadapi; Cipto Sunarso; Meisyela Salsabila Erizon; Nazhara Dhiya Maharani; Maulidatinnisa Saukina Hakim; Isra Hamidah Az Zahra
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.9.1.18-29

Abstract

Salah satu manfaat dari tanaman adalah terdapatnya kandungan kimia yang berupa hasil metabolit sekunder, tanaman ini disebut sebagai tanaman obat. Pemanfaatan tanaman obat dipandang memiliki beberapa keuntungan bagi kesehatan manusia karena memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan dengan obat-obatan yang berasal dari bahan sintetik.  Akhir-akhir ini, teknologi dalam bidang pertanian dapat membantu produksi tanaman agar kuantitas, kualitas dan kontinuitas dari tanaman obat ini untuk memenuhi kebutuhan manusia. Teknologi itu adalah in vitro atau lebih dikenal dengan teknik kultur jaringan. Penggunaan teknik ini memiliki beberapa kelebihan, di antaranya adalah dapat memproduksi bahan tanam dengan kualitas yang seragam dan tidak banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Artikel ini akan mereview senyawa metabolit sekunder dan manfaatnya bagi kesehatan, perbanyakan tanaman obat secara in vitro dan faktor utama yang memengaruhi produksi metabolit sekunder secara in vitro dengan metode studi literatur melalui mesin browsing Google scholar dan perpustakaan atau kumpulan artikel-artikel pada Pubmed menggunakan keywords in vitro, kultur jaringan dan tanaman obat. Pada beberapa penelitian yang sudah berjalan melaporkan bahwa teknik in vitro sangat potensial untuk menghasilkan metabolit sekunder yang bermanfaat untuk dunia kesehatan, walaupun terdapat beberapa faktor penentu keberhasilan teknik ini yaitu seperti jenis media dan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) yang digunakan.ABSTRACTOne of the plants benefits is containing of the chemical compounds that produce from secondary metabolites of plants, then known as medicinal plants. The lower side effects for human health of medicinal plants as sources of medicine is one of advantageous compared to the drugs derived from synthetic materials. Recently, agricultural technology may robust the production of these medicinal plants to meet human needs for quantity, quality, and continuity. This technology is known as in vitro or tissue culture technique that has several advantages such the uniform quality of plants which is less influenced by the environment during production. This article will review secondary metabolite compounds and their benefits for health, the propagation of medicinal plants in vitro and the main factors that influence the production of secondary metabolites in vitro using literature study methods. through literature study methods using Google scholar search engine and a collection of articles on PubMed using keywords such as in vitro, tissue culture, and medicinal plants.Current studies  reported that in vitro techniques have great potential to produce secondary metabolites that are beneficial for health. Although, there are several factors that determine the success of this technique, such as the type of media and PGR (Plant Growth Regulator).
Pengendalian Athelia rolfsii Penyebab Busuk Pangkal Batang Pada Kacang Tanah Arachis hypogea. L Dengan Fungisida Nabati Dan Agensia Hayati (Review) Herwita Idris; Anthoni Agustien; Mansyurdin Mansyurdin
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.8.2.87-93

Abstract

Athelia rolfsii, Curzi adalah bentuk seksualitas dari spesies Sclerotium rolfsii, Sacc, salah satu spesies jamur patogen yang dapat menyebabkan beberapa penyakit mematikan pada tanaman seperti busuk batang, layu dan rebah kecambah. Jamur ini merupakan jamur tular tanah yang dapat bertahan lama dan membentuk sklerotia di dalam tanah. Biasanya serangan dari patogen A. rolfsii, Curzi, ini masyarakat petani cenderung mengendalikannya dengan pemakaian pestisida yang berbahan aktif kimia. Hasil monitoring pengendalian yang memakai fungisida sintetis dalam mengendalikan patogen menimbulkan dampak negatif, akibat dari residu pestisida pada produk pertanian, serta resistensi dan resurgensi penyakit. Oleh sebab itu perlu dicari pestisida sebagai pengendali yang tidak mempunyai dampak negatif. Diantaranya adalah pemakaian pestisida yang bahan aktif tanaman ataupun hayati. Dari hasil beberapa penelitian yang telah dilakukan, setiap bahan baku yang berbeda akan mempunyai daya hambat yang berbeda pula. Untuk itu akan diuraikan dibawah ini hasil-hasil penelitian sebagai pengendali A. rolfsii Cruzi dari golongan fungisida nabati dan agens hayati.ABSTRACTAthelia rolfsii, Curzi is a form of sexuality from the species Sclerotium rolfsii, Sacc, one of the pathogenic fungal species that can cause several deadly diseases in plants such as stem rot, wilting and drooping of sprouts. This fungus is a soil-borne fungus that can survive for a long time and form sclerotia in the soil. Usually the attack is from the pathogen A. rolfsii, Curzi, the farming community tends to control it by using pesticides with active chemical ingredients. The results of monitoring control using synthetic chemical fungicides in controlling pathogens have a negative impact, as a result of pesticide residues in agricultural products, as well as disease resistance and resurgence. Therefore it is necessary to look for pesticides as controllers that do not have a negative impact. Among them is the use of pesticides with active plant or biological ingredients. From the results of several studies that have been carried out, each different raw material will have a different inhibition power. For this reason, the results of research as controllers for A. rolfsii Cruzi will be described below from the class of botanical fungicides and biological agents.

Page 10 of 12 | Total Record : 119