cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Majalah Kesehatan FKUB
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
This journal uses Open Journal Systems 2.4.7.1, which is open source journal management and publishing software developed, supported, and freely distributed by the Public Knowledge Project under the GNU General Public License.
Arjuna Subject : -
Articles 355 Documents
HUBUNGAN DOSIS NEEM GUM TERHADAP KADAR γ-GLUTAMYLCYSTEINYLGLYCINE (GSH) HEPAR TIKUS WISTAR YANG DIEKSPOS DURSBAN Muhammad Hanif Ar Robbani; Cholis Abrori; Elly Nurus Sakinah; Yuli Hermansyah; Supangat; Pipiet Wulandari
Majalah Kesehatan Vol. 13 No. 1 (2026): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2026.013.01.1

Abstract

Stres oksidatif akibat klorpirifos, yang merupakan zat aktif dari pestisida Dursban, menyebabkan menurunkan produksi γ-glutamylcysteinylglycine atau glutation (GSH) sebuah antioksidan alami yang diproduksi hepar. Neem  gum  dipercaya dapat digunakan sebagai antioksidan protektif untuk meningkatkan produksi GSH. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dosis neem gum dengan kadar GSH hepar tikus Wistar yang diekspos Dursban. Tikus Wistar dibagi menjadi 5 kelompok (pemberian Dursban 5 mg/kg + neem  gum  0 g/kgBB; 1,875 g/kgBB; 3,75 g/kgBB; 7,5 g/kgBB, dan 15 g/kgBB). Perlakukan diberikan selama 28 hari. Pengukuran kadar GSH hepar menggunakan metode Ellman yang dimodifikasi. Hasil menunjukkan bahwa terdapat tren peningkatan kadar GSH hepar seiring dengan peningkatan dosis neem  gum . Hasil uji regresi menunjukkan adanya hubungan antara dosis neem  gum  dengan kadar GSH hepar (R2 = 0,957) dan uji korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan positif kuat (R = 0,609, p = 0,007). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara dosis neem  gum  terhadap kadar GSH hepar tikus wistar yang diekspos Dursban. Peningkatan dosis neem  akan meningkatkan kadar GSH hepar dengan hubungan persamaan kuadratik.
PENGARUH PROGRAM CERIA (CEGAH SANTRI DARI ANEMIA) TERHADAP PENGETAHUAN, ASUPAN ZAT GIZI, DAN PERILAKU PERSONAL HYGIENE TERKAIT ANEMIA SANTRIWATI Ristianingsih, Hanifa; Dieny, Fillah Fithra; Wijayanti, Hartanti Sandi; Noer, Etika Ratna
Majalah Kesehatan Vol. 13 No. 1 (2026): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2026.013.01.510.21776/majalahkesehatan.2026.013.01.5

Abstract

Prevalensi anemia pada remaja putri cukup tinggi akibat kurangnya informasi yang menjadikan pengetahuan tentang anemia dan rendahnya kebersihan diri, sehingga berdampak pada rendahnya asupan gizi yang menyebabkan anemia dan perilaku kebersihan diri. Edukasi dibutuhkan untuk meningkatkan pemahaman tentang anemia dan kebersihan diri, sehingga dapat memperbaiki asupan gizi serta    perilaku kebersihan diri. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh program Ceria terhadap pengetahuan, asupan gizi, dan perilaku kebersihan diri terkait anemia pada santriwati. Penelitian menggunakan metode quasy experimental dengan desain pre-post test control group design. Subjek berjumlah 36 siswi yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok perlakuan diberikan edukasi melalui program Ceria dengan menggunakan ceramah dan booklet, sedangkan kelompok kontrol hanya diberikan booklet. Data pengetahuan tentang anemia dan personal hygiene serta perilaku personal hygiene diperoleh dengan menggunakan kuisioner, data asupan zat gizi dengan menggunakan food recall 3x24 jam dan FFQ. Analisis dilakukan dengan menggunakan uji t berpasangan, uji Wilcoxon, uji t independen, dan Mann-Whitney. Mean dan median skor pengetahuan kelompok perlakuan tentang anemia (3,5), asupan vitamin B6 (0,2 mg), vitamin B12 (0,6 µg), serta perubahan vitamin C (1,3 mg) lebih tinggi dibandingkan kontrol. perubahan mean dan median skor pengetahuan kelompok tentang anemia (1,3), asupan vitamin B6 (-0,2 mg), vitamin B12 (-0,4 µg), serta vitamin C (-13,0 mg). Terdapat perbedaan perubahan pengetahuan tentang anemia (p = 0,007) dan asupan gizi yaitu vitamin B6 (p = 0,005), vitamin B12 (p = 0,030), vitamin C (p = 0,023); Namun tidak terdapat perbedaan perubahan pengetahuan (p = 0,357) dan perilaku kebersihan diri (p = 0,791) antara kedua kelompok. Edukasi melalui program Ceria terbukti lebih baik dalam mengubah pengetahuan, asupan gizi, dan perilaku kebersihan diri terkait anemia dibandingkan hanya menggunakan booklet.  
PERBANDINGAN ZONA HAMBAT ANTARA ANTIBIOTIK TOPIKAL DAN PROBIOTIK Lactobacillus acidophilus TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Cutibacterium acnes PENYEBAB ACNE VULGARIS Evan Christian; Hendra Tarigan Sibero; Novita Carolia; Dwi Indria Anggraini
Majalah Kesehatan Vol. 13 No. 1 (2026): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2026.013.01.2

Abstract

Acne vulgaris merupakan satu dari banyak penyakit kulit yang paling sering menyerang remaja dan dewasa muda. Salah satu etiopatogenesis acne vulgaris adalah kolonisasi bakteri Cutibacterium acnes. Penelitian ini bertujuan membandingkan zona hambat yang terbentuk dari pemberian antibiotik topikal dengan probiotik Lactobacillus acidophilus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental secara in vitro. Aktivitas antibakteri klindamisin fosfat 1,2%, eritromisin 2%, dan probiotik L. acidophilus terhadap C. acnes diuji menggunakan metode difusi Kirby–Bauer. Data diameter zona hambat dianalisis menggunakan uji one-way ANOVA dan uji post hoc. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klindamisin fosfat 1,2%, eritromisin 2%, dan probiotik L. acidophilus menghasilkan rerata diameter zona hambat berturut-turut sebesar 32,0±3,4 mm, 22,6±2,3 mm, dan 14,2±1,2 mm. Hasil uji one-way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antar kelompok perlakukan (p = 0,001). Uji post hoc menunjukkan bahwa tiap variabel satu dengan variabel lainnya memiliki perbedaan bermakna dalam menghambat pertumbuhan C. acnes, kecuali pada variabel eritromisin dengan kontrol positif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah zona hambat yang terbentuk pada pemberian klindamisin fosfat 1,2% adalah yang terbesar, menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri yang lebih kuat terhadap C. acnes dibandingkan dengan eritromisin 2% dan probiotik L. acidophilus.  
ANALISIS KUALITATIF FAKTOR PENYEBAB SISA MAKANAN PADA PASIEN ANAK Nindia Syamsi Amali; Yudi Arimba Wani; Arfiani, Eva Putri
Majalah Kesehatan Vol. 13 No. 1 (2026): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2026.013.01.8

Abstract

Jumlah sisa makanan pasien menggambarkan asupan zat gizi seorang pasien di ruang rawat inap. Tingginya persentase sisa makanan pada pasien anak masih kerap terjadi sehingga berisiko dapat meningkatkan kondisi malnutisi yang dapat menghambat penyembuhan penyakit. Penelitian ini bertujuan meneliti secara kualitatif terkait faktor-faktor penyebab dari jumlah sisa makanan pada pasien anak. Penelitian ini merupakan studi kualitatif. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam semi terstruktur kepada pasien berusia 10–18 tahun. Pemilihan informan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Uji keabsahan data pada penelitian ini menggunakan triangulasi sumber. Hasil analisis dari 14 orang pasien anak menunjukkan faktor-faktor penyebab sisa makanan meliputi faktor internal pasien yaitu perilaku makan (preferensi, membeli makanan dari luar, membawa makanan dari rumah), kondisi emosional, kondisi klinis (mual, nafsu makan turun, gangguan indera pengecap, gusi berdarah), jenis pengobatan, dan motivasi diri; faktor makanan yang meliputi mutu sensorik (rasa, aroma, tekstur, warna), porsi, suhu,  penyajian, variasi; dan faktor lingkungan yaitu kondisi lingkungan di mana pasien sedang dirawat serta serta dukungan dari keluarga. Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan temuan penelitian ini, sisa makanan pada pasien anak ditentukan oleh faktor internal pasien, makanan, dan lingkungan rumah sakit. Perlu dilakukan upaya untuk meminimalkan sisa makanan pasien anak dengan meningkatkan mutu pelayanan makanan, edukasi gizi tentang konsumsi makanan, dan mnciptakan ruang rawat inap yang nyaman.  
ANALISIS KEINGINAN DAN KEBUTUHAN REMAJA TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN REMAJA Ratnaningsih, Muliani; Rustam, Muhammad; Adam, Arlin; Hajra; Munadhir; Idris; Nursiah, Andi; Gafur, Abdul; A, Adhyatma; Badwi, Adam; Wulandari Maulana, Mulyanti Ayu
Majalah Kesehatan Vol. 0 No. 00 (2026): Article in Press
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/

Abstract

Masa remaja adalah sebuah periode pada usia 10-19 tahun. Seperenam dari populasi global adalah remaja dengan peningkatan 1,2 miliar per tahun. Sekitar 1,1 juta remaja meninggal setiap tahunnya. Sebagian besar kematian dan kesakitan remaja dapat dicegah atau diobati, namun remaja menghadapi hambatan khusus dalam mengakses informasi dan layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan dan keinginan remaja terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas dan Posyandu. Metode penelitian menggunakan rancangan cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 443 remaja di lima kecamatan dengan kepadatan penduduk yang tinggi di Kota Makassar. Penelitian ini menemukan bahwa dua kebutuhan yang paling banyak diminati baik di puskesmas maupun di posyandu adalah PKHS dan konseling. Adapun keinginan pelayanan berhubungan secara bermakna dengan jenis kelamin, umur, dan tingkat pendidikan, namun hampir sebagian besar remaja menginginkan adanya ruangan pelayanan khusus untuk pemeriksaan yang komprehensif serta waktu pelayanan di akhir pekan. Penelitian ini menyarankan agar tenaga kesehatan diberikan pelatihan tentang pelayanan kesehatan ramah remaja yang menjaga kerahasiaan dan tidak diskriminatif, serta perlunya penyesuaian jadwal layanan di luar jam sekolah untuk meningkatkan aksesibilitas remaja.
PENGGUNAAN TEZEPELUMAB DALAM TERAPI ASMA BERAT Asseggaf, Syarifah Nurul Yanti Rizki Syahab; Edmond Daniel Beltsazar; Salsabila, Tasya; Vita Yulia Andini
Majalah Kesehatan Vol. 0 No. 00 (2026): Article in Press
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/

Abstract

Asma adalah penyakit inflamasi kronis pada saluran nafas dan banyak pasien asma berat mengalami eksaserbasi meskipun telah melakukan pengobatan dengan kortikosteroid inhalasi (ICS) dosis sedang hingga tinggi dan Long-Acting β2 Agonist (LABA). Oleh karena itu, dibutuhkan terapi tambahan yang aman dan efektif untuk mengobati asma. Tezepelumab adalah antibodi monoklonal manusia yang menghambat thymic stromal lymphopoietin (TSLP), suatu sitokin turunan sel epitel yang terlibat dalam patogenesis asma. Review artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi manfaat tezepelumab dalam terapi asma berat. Kajian pustaka dilakukan dengan pengumpulan artikel riset berbahasa Inggris dari tahun 2014-2023 yang sebagian besar merupakan artikel uji klinis. Pencarian menggunakan mesin pencari PubMed dan Google Scholar dengan kata kunci 'asthma', 'tezepelumab', dan 'TSLP'. Selanjutnya dilakukan screening untuk mendapatkan artikel yang sesuai kriteria inklusi. Tezepelumab dapat mengurangi tingkat kejadian eksaserbasi parah, dan meningkatkan kualitas hidup, fungsi paru-paru, serta kontrol gejala, terlepas dari status alergi pasien. Secara umum, tezepelumab dapat ditoleransi dengan baik pada pasien asma berat dan tidak ada perbedaan klinis yang signifikan dalam kejadian efek samping antara kelompok perlakuan dan kelompok plasebo. Dapat disimpulkan, tezepelumab direkomendasikan sebagai terapi tambahan dalam kombinasi dengan ICS-LABA dosis tinggi bagi pasien dengan asma berat berusia ≥12 tahun terutama bagi pasien yang memiliki baseline eosinofil darah yang tinggi atau FeNO yang tinggi.
PENINGKATAN KONDISI SPIRITUALITAS DAPAT MENURUNKAN TINGKAT KECEMASAN PADA TENAGA KESEHATAN DI RUANG ICU Fatoni, Arie Zainul; Jihan, Farhanaz; Ulya, Zuhrotun
Majalah Kesehatan Vol. 0 No. 00 (2026): Article in Press
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/

Abstract

World Health Organization (WHO) telah menetapkan COVID-19 sebagai pandemi global, yang berdampak signifikan pada kesehatan mental tenaga kesehatan, terutama dalam hal kecemasan. Spiritualitas secara umum dianggap sebagai salah satu elemen penting dalam kesehatan mental seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara spiritualitas dan tingkat kecemasan pada tenaga kesehatan yang bekerja di ICU COVID-19 dan ICU reguler. Studi cross-sectional dilakukan pada tenaga kesehatan di RSUD Dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang, dengan menggunakan Daily Spiritual Experience Scale (DSES) untuk mengukur tingkat spiritualitas dan Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7) untuk mengukur kecemasan. Analisis komparatif dilakukan dengan uji alternatif 2x>2 menggunakan post hoc Mann Whitney. Korelasi Spearman digunakan untuk mengetahui kekuatan dan arah hubungan antara kedua variabel. Pada dua kelompok tercatat spiritualitas tenaga kesehatan dalam level “tinggi” (ICU COVID-19 vs ICU Reguler; 70,8% vs 80,8%). Hal serupa juga terdapat pada tingkat kecemasan, di mana kedua kelompok memiliki tingkat kecemasan “minimal” (ICU COVID-19 vs ICU Reguler; 68,8% vs 86,5%).  Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan signifikan dengan arah negatif antara spiritualitas dan kecemasan pada tenaga kesehatan di ICU COVID-19 dan ICU reguler RSSA dengan koefisien Korelasi = -0,279 (p = 0,005). Semakin tinggi spiritualitas tenaga kesehatan, semakin rendah tingkat kecemasannya. Dengan demikian, peningkatan spiritualitas dapat berkontribusi dalam mengurangi kecemasan pada tenaga kesehatan.  
EKSPRESI BETATROPHIN (ANGPTL8) DAN PENANDA CEDERA HATI PADA PASIEN HEPATOSELULER KARSINOMA AKIBAT HEPATITIS C KRONIS Sholeh, Moch; Susanto, Hendra; Pratomo, Bogi; Susianti, Hani; Handaya, Adeodatus Yuda; Mardiah, Ainul; Endharti, Agustina Tri
Majalah Kesehatan Vol. 0 No. 00 (2026): Article in Press
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/

Abstract

Hepatoseluler karsinoma (HCC) adalah jenis kanker yang agresif dan penyebab utama kematian terkait kanker di seluruh dunia. Insiden HCC yang disebabkan oleh hepatitis C kronis (CHC) masih cukup tinggi, sehingga diperlukan upaya deteksi dini melalui pengembangan biomarker potensial. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kadar betatrophin (ANGPTL8) dan penanda kerusakan hati (AST dan ALT) serta usia pada pasien dengan hepatoseluler karsinoma akibat hepatitis C kronis di Indonesia. Studi ini merupakan studi analitik dengan desain cross-sectional berbasis laboratorium. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan mengukur konsentrasi betatrophin menggunakan metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA), kemudian menganalisis hubungannya dengan usia dan parameter kerusakan hati, yaitu aspartate aminotransferase (AST) dan alanine aminotransferase (ALT). Analisis statistik dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan variasi kadar betatrophin pada kelompok usia yang berbeda. Beberapa sampel dengan kadar AST dan ALT tinggi (>70 U/L) juga menunjukkan kadar betatrophin yang relatif lebih tinggi (>4 ng/mL). Analisis korelasi menunjukkan kecenderungan adanya hubungan positif antara kadar betatrophin dengan AST dan ALT, tetapi hubungan ini tidak signifikan secara statistik (p > 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perubahan kadar betatrophin pada pasien HCC yang disebabkan oleh CHC, dengan kecenderungan adanya hubungan positif dengan penanda kerusakan hati. Namun, temuan ini tidak signifikan secara statistik, sehingga penelitian lebih lanjut dengan ukuran sampel yang lebih besar diperlukan untuk mengkonfirmasi potensi betatrophin sebagai biomarker.
EXPERIENCE OF TYPE 2 DIABETES MELLITUS PATIENTS WITH NON-PHARMACOLOGICAL APPROACHES IN SUMBERSUKO VILLAGE: A QUALITATIVE STUDY Utomo, Dhamarriyo; Dewi, Putu Ayu Sintya; Akbar, Reyhan Maulana Fila; Basukresna, Damien; Njotokusumo, Kevin; Rachmi, Siti Nurluthfia; Soenarti, Sri; Pawestri, Aulia Rahmi
Majalah Kesehatan Vol. 0 No. 00 (2026): Article in Press
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/

Abstract

Diabetes is a major public health concern that has a detrimental impact on health and quality of life. Prior meta-analyses have shown that non-pharmacological approaches such as physical activity, nutrition, herbal medicine, and sleep quality can effectively reduce HbA1c and fasting blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM). Unfortunately, public awareness of these strategies remains limited, leading to poor disease control, a higher risk of complications, and increased strain on the healthcare system. This study aimed to understand the experiences and perceptions of patients with type 2 diabetes in Sumbersuko Village, Malang Regency, as they managed their condition through non-pharmacological approaches. A qualitative descriptive study was conducted in Sumbersuko Village in 2024, using purposive sampling. Ten informants in this study were patients diagnosed with T2DM, with no additional interviews conducted with family members or caregivers. Data were collected through face-to-face, in-depth, and semi-structured interviews using a phenomenological method, and then analyzed using thematic analysis. Of the ten participants, eight managed their condition by controlling their nutritional intake, four used herbal medicine, and one reported poor sleep quality. Most participants engaged in physical activity, primarily low-intensity activities such as walking, with a duration of approximately 15 to 30 minutes per session. In conclusion, the integration of nutrition, physical activity, traditional medicine, and sleep quality plays a vital role in the management and prevention of T2DM, so it is necessary to highlight a holistic treatment approach.
SLEEP QUALITY AND STRESS AMONG PRE-CLINICAL MEDICAL STUDENTS: A CROSS-SECTIONAL STUDY Warih Andan Puspitosari; Pebriansyah Alldin; Nusaibah Mar'atush Shalihah
Majalah Kesehatan Vol. 0 No. 00 (2026): Article in Press
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/

Abstract

Sleep quality and stress are critical issues among medical students at the end of the pre-clinical phase, who face high academic and psychological demands that place them at greater risk of sleep disturbances and increased stress. This study aimed to analyse the relationship between sleep quality and stress levels in medical students. A cross-sectional study was conducted among active sixth-semester medical students at Universitas Muhammadiyah Yogyakarta who agreed to participate; students who did not complete the questionnaire were excluded from the analysis. Purposive sampling was applied. Sleep quality was measured using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), while stress levels were assessed using the Depression Anxiety Stress Scales-42 (DASS-42). Data were analysed using univariate and bivariate methods, and the association between sleep quality and stress levels was assessed using Spearman’s rho. A total of 141 students participated, most of whom were female (62.4%). The majority of participants had poor sleep quality (74.5%), and 24.8% experienced stress ranging from mild to very severe. Spearman’s rho test showed a statistically significant positive correlation between sleep quality and stress levels (r = 0.184; p < 0.05), indicating a weak correlation. These findings suggest that poor sleep quality is common among pre-clinical medical students and is associated with higher stress levels.

Filter by Year

2014 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 1 (2026): Majalah Kesehatan Vol. 0 No. 00 (2026): Article in Press Vol. 12 No. 4 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 3 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 4 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 3 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 4 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 3 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 4 (2022): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 3 (2022): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2022): Majalah Kesehatan Vol 8, No 3 (2021): Majalah Kesehatan Vol 8, No 2 (2021): Majalah Kesehatan Vol 8, No 1 (2021): Majalah Kesehatan Vol 7, No 4 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 3 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 1 (2020): Majalah Kesehatan Vol. 6 No. 4 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 4 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 3 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 2 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 1 (2019): Majalah Kesehatan Vol 5, No 4 (2018): Majalah Kesehatan Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan Vol 5, No 2 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Vol 5, No 1 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Vol 4, No 4 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 3 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 2 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 1 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 3, No 4 (2016): MAJALAH KESEHATAN Vol 3, No 3 (2016): MAJALAH KESEHATAN Vol 3, No 2 (2016) Vol 3, No 1 (2016) Vol 2, No 4 (2015) Vol 2, No 3 (2015) Vol 2, No 2 (2015) Vol 2, No 1 (2015) Vol 1, No 4 (2014) Vol 1, No 3 (2014) Vol 1, No 2 (2014) Vol 1, No 1 (2014) More Issue