cover
Contact Name
muhammad ikhsan
Contact Email
ichsan@uwgm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmm.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jalan KH. Ahmad Dahlan No 1 Pagesangan, Kota Mataram - NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri)
ISSN : 25988158     EISSN : 26145758     DOI : 10.31764/jmm.v4i2.1962
Core Subject : Education,
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) is a journal published by the Mathematics Education Departement of Education Faculty of Muhammadiyah University of Mataram. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) aims to disseminate the results of conceptual thinking and ideas, especially the results of educational research and technology to be realized in the community, including (1) Fields of science, applied, social, economic, cultural, health, ICT development, and administrative services, (2) Training and improvement in the results of educational, agricultural, information and communication, and religious technology (3) Teaching and empowering communities and communities of students, youth, youth and community organizations on an ongoing basis
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 3,203 Documents
PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DAN TATA USAHA RAUDHATUL ATHFAL MENGELOLA DATA LAPORAN KEUANGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT EXCEL Novita BR Ginting; Jejen Jaenudin; Fitria Rachmawati; Dahlia Widhyaestoeti; Yuggo Afrianto; Fithri Muliawati; Didik Setiyadi; Leny Tritanto Ningrum
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.14740

Abstract

Abstrak: Kompetensi guru RA/Tata Usaha di bidang teknologi informasi perlu ditingkatkan terutama dalam mengelola data seperti keuangan, pembelajaran, dan tata kelola sekolah RA. Permasalahan yang dihadapi adalah guru RA/Tata Usaha banyak yang tidak memiliki kompetensi dalam mengelola data-data keuangan dengan menggunakan aplikasi tertentu. Tujuan kegiatan PkM ini untuk meningkatkan kompetensi guru RA/Tata Usaha melalui lokakarya dan pelatihan kerja sama antara IGRA dengan Fakultas Teknik dan Sains. Jumlah 104 peserta. Metode pelaksanaan PkM dilakukan melalui tahapan survei, koordinasi, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil dari pelaksanaan PkM diperoleh hasil pretest bahwa: 1) Guru RA/Tata Usaha telah mengenal teknologi informasi tapi tidak mampu menggunakannya untuk membantu menyelesaikan pekerjaannya sebanyak 30 orang (29%) ; 2) Guru RA/Tata Usaha belum mengetahui aplikasi untuk mengelola data sebanyak 36 orang (35%); 3) Guru RA/Tata Usaha memiliki pengalaman menggunakan teknologi informasi untuk mengelola data keuangan sebanyak 16 orang (15%); 4) Guru RA/Tata Usaha mampu menggunakan fungsi-fungsi Microsoft Excel dan mampu mengimplementasikan untuk mengelola data keuangan sebanyak 22 orang (21%). Hasil post test menunjukkan bahwa ada peningkatan kompetensi para peserta, yaitu semua peserta mengenal teknologi informasi dan mampu menggunakannya untuk menyelesaikan pekerjaan, semua peserta mengetahui aplikasi untuk mengelola data, memiliki pengalaman menggunakan teknologi informasi untuk mengelola data keuangan sebanyak 69 orang (66.35%) , dan mampu menggunakan fungsi-fungsi excel dan mampu mengimplementasikan untuk mengelola data keuangan 35 orang (33.65%).Abstract: The competence of RA/Administration teachers in the field of information technology needs to be improved so that they can use it in managing data such as finance, learning, and RA school governance. The problem faced is that many RA/Administration teachers are not competent in managing financial data using specific applications. The purpose of Pk Mini activities is to improve the competence of RA/Administration teachers through workshops and training in collaboration between IGRA and the Faculty of Engineering and Science, a total of 104 participants. The PkM implementation method is carried out through the stages of survey, coordination, implementation, and evaluation. The results of the PkM implementation obtained pretest results that: 1) RA/Administration teachers were familiar with information technology but were unable to use it to help complete their work as many as 30 people (29%); 2) RA/Administration teachers do not yet know the application to manage data as many as 36 people (35%); 3) RA/Administration teachers have experience using information technology to manage financial data as many as 16 people (15%); 4) RA/Administration teachers can use Microsoft Excel functions and can implement them to manage financial data as many as 22 people (21%). The results of the post-test showed that there was an increase in the competence of the participants, namely, all participants were familiar with information technology and were able to use it to complete their work, all participants knew applications to manage data, had experience using information technology to manage financial data as many as 69 people (66.35%), and were able to use various functions. Excel function can be implemented to manage financial data for 35 people (33.65%).
EDUKASI PERAWATAN LUKA TEKANAN NEGATIF PADA TENAGA KESEHATAN Fadli Robby Amsriza; Rizka Fakhriani
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.14461

Abstract

Abstrak: Setiap individu, khususnya tenaga kesehatan perlu menyadari bahwa proses penyembuhan luka terdiri dari beberapa tahapan yang berbeda, sehingga perlu dilakukan perawatan sesuai dengan kondisi luka. Seiring dengan berjalannya waktu, ada banyak inovasi dalam teknik perawatan luka. Salah satunya adalah teknologi Perawatan Luka Tekanan Negatif (PLTN), atau yang lebih dikenal dengan sebutan Negative Pressure Wound Therapy (NPWT). Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan perhatian terhadap tenaga kesehatan dalam upaya mengembangkan pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan tenaga kesehatan agar terampil dalam melakukan perawatan luka baik di rumah sakit maupun home care menggunakan teknik perawatan luka tekanan negatif. Kegiatan ini diikuti oleh 36 tenaga kesehatan RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta. Hasil yang diperoleh yaitu terdapat peningkatan rata-rata nilai pengetahuan pre-test sebesar 6,05, dan post-test sebesar 8.61. Diharapkan melalui adanya kegiatan pemberdayaan ini pengetahuan tenaga kesehatan semakin bertambah dan berkembang sehingga dapat lebih terampil dalam melakukan perawatan luka baik di rumah sakit maupun home care.Abstract: Everyone, especially health workers, must realize that the wound-healing process has several stages. Hence, treatment needs to be carried out according to the wound condition. Over time, there have been many innovations in wound care techniques. One is adverse pressure wound treatment (NPP) technology or negative pressure wound therapy (NPWT). The purpose of this program is to support health workers in an attempt to develop the knowledge, awareness, and ability to be skilled in performing wound care in hospitals and home care using the negative pressure wound care technique. This program was attended by 36 health workers of AMC Hospital Muhammadiyah Yogyakarta. The results obtained were an increase in the average pre-test knowledge score of 6.05 and post-test of 8.61. Through this empowerment program, we hope that health workers' knowledge will increase and they will become more skilled in wound care.
PELATIHAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA PADA KELOMPOK NELAYAN DI KAWASAN PESISIR Zulfikar Lating; Mariene W. Dolang
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.14826

Abstract

Abstrak: Warga pesisir yang tinggal di Desa Tengah-Tengah sebagian besar bergantung pada laut. Sebagian besar bekerja sebagai nelayan dan sebagian lainnya bekerja sebagai petani. Desa Tengah-Tengah Kabupaten Maluku Tengah para nelayannya sering mengalami kecelakaan Pada saat bekerja di laut. Terdapat banyak potensi resiko yang dapat terjadi seperti kapal bocor, terluka saat menarik jala, kelebihan muatan, dan tenggelam. Tujuan pengabdian ini agar memberikan pemahaman dan mendorong kesadaran para nelayan di Kawasan Pesisir Desa Tengah-Tengah Kabupaten Maluku Tengah. Mitra dalam kegiatan ini adalah nelayan Kawasan Pesisir Desa Tengah-Tengah 38 orang. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: pemberian PreTest, Pemberian Edukasi, Pemberian Pelatihan, dan Evaluasi. Hasil akhir dari kegiatan ini yang diketahui setelah memberikan kuesioner dimana terdapat peningkatan, pengetahuan nelayan setelah pemberian edukasi tentang kesehatan dan keselamatan kerja dimana sebelum penyuluhan rata-rata skor pemahaman responden 45.2 dan setelah penyuluhan meningkat menjadi 68.4. Evaluasi selama proses juga dilakukan dengan meminta 3 peserta secara acak untuk mengulang kembali gerakan pemberian Bantuan Hidup Dasar dan pemberian balut bidai.Abstract: The coastal residents who live in Tengah-Tengah Village are mostly dependent on the sea. Most work as fishermen and some work as farmers. Tengah-Tengah Village, Central Maluku Regency, its fishermen often experience accidents when working at sea. There are many potential risks that can occur such as a ship leaking, being injured when pulling the nets, being overloaded, and sinking. The purpose of this service is to provide understanding and encourage awareness of the fishermen in the Coastal Area of Tengah-Teng Tengah Village, Central Maluku Regency. Partners in this activity are fishermen from the Coastal Area of Tengah-Teng Tengah Village, 38 people. The implementation of activities is carried out through several stages, namely: giving pretests, providing education, providing training, and evaluating. The final results of this activity are known after giving questionnaires where there is an increase, fishermen's knowledge after providing education about occupational health and safety where before counseling the average respondent's understanding score was 45.2 and after counseling it increased to 68.4. Evaluation during the process was also carried out by randomly asking 3 participants to repeat the movement of giving Basic Life Support and giving splints.
PENINGKATAN PRODUKSI BRIKET ARANG DENGAN METODE TANGSIR PADA UMKM BRIKET ALFARO DI SEKAYU KABUPATEN MUSI BANYUASIN Terttiaavini Terttiaavini; Tedy Setiawan Saputra; Ahmad Sanmorino
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.15129

Abstract

Abstrak: Kelapa sawit merupakan salah satu komuditi hasil bumi di kota Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera selatan. Sisa produksi kelapa sawit menghasilkan tankos. Tankos dapat menjadi limbah, jika tidak dimanfaatkan. Saat ini penanganan limbah tankos dilakukan dengan cara dibakar atau dijadikan pupuk. Namun hal ini menimbulkan permasalahan, yaitu pembakaran tankos dapat menimbulkan polusi udara, untuk menjadi pupuk, tankos dibiarkan sampai membusuk. Proses pembusukan ini dapat mengundang hewan jelata dan serangga. Oleh karena itu penanganan limbah sampah perlu dilakukan dengan cara dikelolah menjadi briket. Tujuan dari kegiatan PKM ini adalah memberikan pelatihan tentang penerapan metode tangsir untuk mempercepat proses karbonisasi pada limbah tankos. Jumlah peserta dari mitra yang mengikuti kegiatan tersebut adalah 5 orang. Selain itu mahasiswa yang dilibatkan akan mendapatkan pengetahuan tentang membangun bisnis pembuatan briket. Evaluasi dilakukan dengan cara penilaian sebelum dan sesudah pelatihan Hasil evaluasi menujukkan adanya peningkatan softskill dan hardskill peserta sebesar 53%. Hal ini menunjukkan bahwa Kegiatan PKM ini memberikan manfaat bagi UMKM Briket Alfaro dan Mahasiswa.Abstract: Oil palm is one of the commodities produced in Sekayu District, Musi Banyuasin Regency, South Sumatra Province. The remaining oil palm production produces tankos. Tankos can become waste, if not utilised. Currently, the handling of tankos waste is done by burning or making fertiliser. However, this causes problems, namely burning tankos can cause air pollution, to become fertiliser, tankos is left to rot. This decomposition process can attract animals and insects. Therefore, waste management needs to be done by processing it into briquettes. The purpose of this PKM activity is to provide training on the application of the tangsir method to speed up the carbonization process in tankos waste. The number of participants from partners who took part in this activity was 4 people. In addition, the students involved will gain knowledge about building a briquette-making business. In evaluation activities, carried out by way of assessment before and after training. The evaluation results showed an increase in soft skills and hard skills of participants by 53%. This right shows that this PKM activity provides benefits for Alfaro Briquette MSMEs and students.
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM PENGOLAHAN SAMPAH MENJADI PUPUK ORGANIK Agus Nugroho Setiawan; Septi Nur Wijayanti
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.14176

Abstract

Abstrak: Surodadi merupakan salah satu padukuhan di Donokerto, Turi, Sleman, DIY menghadapi permasalahan sampah yang cukup banyak, yang apabila tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan permasalahan kesehatan, lingkungan, dan sosial. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan kaum perempuan dalam pengelolaan dan pengolahan sampah menjadi pupuk organik, dan mengoptimalkan sumber daya perempuan dalam mengelola sampah. Mitra sasaran pengabdian kepada masyarakat ini adalah ibu–ibu PKK Padukuhan Surodadi berjumlah 25 orang. Pengabdian dilakukan menggunakan berbagai metode antara lain pendidikan masyarakat, fasilitasi, difusi ipteks, dan pendampingan. Hasil pengabdian kepada masyarakat menunjukkan tingkat partisipasi peserta dalam berbagai kegiatan yang dilakukan mencapai >80%, serta pengetahuan dan keterampilan ibu–ibu PKK dalam mengolah sampah menjadi pupuk organik meningkat menjadi >75%. Untuk meningkatkan keberhasilan program perlu ada pembinaan dan pendampingan yang berkelanjutan terutama dari Kepala Dukuh dan Tim Penggerak PKK Padukuhan Surodadi.Abstract: Surodadi is one of the hamlets in Donokerto, Turi, Sleman, DIY; it has a waste problem, which, if not handled properly, will cause health, environmental and social problems. This community service aims to increase women's awareness, knowledge, and skills in managing and processing waste into organic fertilizer and to optimize women's resources in managing waste. The community service partner is the Family Welfare Program (PKK) of Surodadi Hamlet, totaling 25 people. This community service uses various methods, including community education, facilitation, science and technology diffusion, and mentoring. The results of community service show that participants' participation in multiple activities reached >80%, and the knowledge and skills of the Family Welfare Program (PKK) in processing waste into organic fertilizer increased to >75%. There needs to be ongoing guidance and assistance, especially from the Hamlet Head and the Surodadi Family Welfare Program (PKK) Driving Team, to improve the programs.
BAHAYA PENGGUNAAN DRONE PADA AREA KKOP DI SEKITAR BANDARA Fariz Primadi Hirsan; Agus Kurniawan; Rasyid Ridha; Ardi Yuniarman
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.14968

Abstract

Abstrak: Selama beberapa tahun terakhir, drone telah menjadi sangat populer. Drone adalah pesawat udara kecil tanpa awak yang dinavigasi dan dikendalikan dari jarak jauh dengan frekwensi radio. Penggunaan pesawat tanpa awak (drone) kini banyak dilakukan masyarakat sipil untuk berbagai aktivitas salah satunya yang berada di wilayah Sumbawa Besar. Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) khususnya yang berada di sekitar Bandar Udara Sultan Muhammad Kaharuddin III – Sumbawa Besar, merupakan wilayah daratan dan/atau perairan serta ruang udara di sekitar bandar udara yang digunakan untuk kegiatan operasi penerbangan dalam rangka menjamin keselamatan penerbangan itu sendiri. Kawasan ini perlu diperhatikan untuk menjaga keselamatan operasional pesawat udara di sekitar bandar udara. Tujuan dari dilakukannya kegiatan ini adalah untuk memberikan sosialisasi pemahaman kepada seluruh masyarakat tentang bahaya dan risiko dari aktivitas yang dilakukan masyarakat seperti menerbangkan pesawat tanpa awak (drone), pada area operasi penerbangan sekitar bandara. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan sosialisasi dan simulasi yang terstruktur kepada peserta kegiatan yang terdiri dari masyarakat lokal, pemeritah dan penggiat hobi drone sebanyak 20 orang, dimana kegiatan tersebut diperoleh hasil sebanyak 90% berdasarkan hasil questioner dan angket yang diberikan pasca kegiatan sosialisasi, peserta menyepakati bahwa area-area sekitar bandara perlu diberikan penanda larangan dalam menerbangkan benda-benda udara tidak hanya drone tetapi juga benda terbang lainnya seperti layangan dan balon udara, karena sifatnya yang dapat mengganggu aktifitas penerbangan. Selain itu dan juga diinsiasi adanya regulasi daerah berupa Perbup yang mengatur secara mendetail kegiatan masyarakat di sekitar bandara.Abstract: Over the last few years, drones have become very popular. Drones are small, unmanned aircraft that are navigated and controlled remotely by radio frequency. The use of unmanned aerial vehicles (drones) is now widely practiced by civil society for various activities, one of which is in the Sumbawa Besar region. The Flight Operations Safety Area (KKOP), especially those around Sultan Muhammad Kaharuddin III Airport - Sumbawa Besar, is the land area and/or waters as well as the airspace around the airport which is used for flight operations activities in order to ensure flight safety itself. This area needs attention to maintain the safety of aircraft operations around the airport. The purpose of this activity is to provide socialization of understanding to the whole community about the dangers and risks of activities carried out by the community, such as flying unmanned aircraft (drones), in the flight operation area around the airport. The method of implementing the activity was carried out by means of socialization and structured simulation to activity participants consisting of 20 local communities, government and drone hobbyist activists, in which the activity obtained 90% results based on the results of the questionnaires and questionnaires given after the socialization activity, participants agreed that areas around the airport need to be marked prohibiting the flying of air objects not only drones but also other flying objects such as kites and hot air balloons, due to their nature which can disrupt flight activities. Apart from that, a local regulation was initiated in the form of a Perbup which regulates in detail the activities of the community around the airport.
PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGU TANAMAN PADA SISTEM BUDIDAYA HIDROPONIK Iman Suswanto; Indri Hendarti; Rita Kurnia Apindiati; Sarbino Sarbino
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.14508

Abstract

Abstrak: Budidaya hidroponik dituntut menghasilkan produk yang lebih unggul dari pertanian konvensional sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Salah satu kendala hidroponik berupa serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Serangan OPT bukan hanya menurunkan produksi, tetapi juga menyebabkan produk hortikultura tidak diterima pasar. Mitra kegiatan ini terdiri atas kelompok pemuda yang memilki ketertarikan pada hidroponik dan Mitra pemilik hidroponik. Masalah utama budidaya hidroponik adalah serangan OPT yang menyebabka produk hortikultura tidak dapat dijual. Tujuan pengabdian masyarakat berupa pengenalan budidaya hidroponik dan penerapan pengendalian OPT. Metode yang dilakukan berupa ceramah/diskusi, praktik, dan evaluasi terhadap 20 orang anggota mitra. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa semua mitra mengenal dengan baik sistem hidroponik dan mengenal OPT di bidang pertanian. Namun demikian secara umum mitra tidak mengetahui keberadaan, tingkat kerugian dan penerapan pengendalian OPT pada sistem hidroponik. Pengetahuan mitra sebelum kegiatan hanya mencapai 12% atau kategori rendah dan meningkat menjadi 100% atau memiliki pengetahuan baik setelah praktek dengan melihat langsung penerapan pengendalian dan gangguan OPT yang terjadi pada sistem hidroponik.Abstract: Hydroponic cultivation is required to produce superior products compared to conventional agriculture in order to have higher market value. One of the challenges in hydroponics is the attack of plant pests and diseases. Pest attacks not only reduce production but also make horticultural products unsellable in the market. The partners in this activity are a group of young people interested in hydroponics and hydroponic owners. The main problem in hydroponic cultivation is pest attacks that make horticultural products unsellable. The aim of this community service is to introduce hydroponic cultivation and the application of pest control. The methods used are lectures/discussions, practices, and evaluations of 20 partner members. The results show that all partners are familiar with the hydroponic system and know about plant pests and diseases in agriculture. However, in general, the partners are not aware of the existence, level of loss, and application of pest control in the hydroponic system. The partners' knowledge before the activity was only 12% or low category and increased to 100% or had good knowledge after practicing and observing the application of pest control and pest attacks that occur in the hydroponic system.
PENYULUHAN STUNTING DAN KEGIATAN POSYANDU SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEWASPADAAN IBU TERHADAP BAHAYA GIZI BURUK Alyssa Ika Hanna Khusuma; Ririh Yudhastuti; Jiwangga Hadi Nata
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.14866

Abstract

Abstrak: Stunting merupakan kegagalan pertumbuhan akibat akumulasi dari ketidakcukupan nutrisi. Program Posyandu yang dilakukan di lokasi pengabdian hanya berupa pengukuran antropometri bayi dan balita serta imunisasi saja. Edukasi atau penyuluhan belum dilakukan dikarenakan kurangnya sumber daya. Pengabdian masyarakat ini bertujuan sebagai upaya untuk meningkatkan kewaspadaan ibu terhadap gizi buruk pada anak. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh mahasiswa tim KKN-BBM Universitas Airlangga yang berjumlah 9 orang yang bekerja sama dengan 2 petugas Puskesmas Pembantu Pucakwangi serta 6 kader Posyandu Desa Pucakwangi sebagai mitra. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah memberikan penyuluhan stunting serta melaksanakan kegiatan posyandu, yakni pengukuran tinggi/panjang badan serta berat badan bayi dan balita. Sasaran pada kegiatan ini adalah ibu dari bayi dan balita di Desa Pucakwangi. Berdasarkan hasil observasi, kegiatan sudah memenuhi indikator keberhasilan dengan kehadiran yang melebihi target, antusiasme yang tinggi dari peserta pada saat kegiatan berlangsung, serta peningkatan pengetahuan peserta terhadap stunting sebesar 50%.Abstract: Stunting is a growth failure due to the accumulation of nutritional inadequacies. The Posyandu program carried out at the service location is only in the form of anthropometric measurements of infants and toddlres and immunizations. Education or counseling has not been carried out due to lack of resources. This community services aims to increase mothers’ awareness of malnutrition among children. This comgiatamunity service activity was carried out by 9 students of the KKN-BBM team of Universitas Airlangga in collaboration with 2 officers of the Pucakwangi Public Health Center and 6 Posyandu cadres of Pucakwangi Village as partners. The community service activities carried out are conducting stunting counseling and carrying out Posyandu activities, namely measuring the height/length and weight of infants and toddlers. The targets of this activity were mothers of infants and toddlers in Pucakwangi Village. Based on the evaluation results, the activity has met the success indicators with attendance exceeding the target and high enthusiasm from the participants during the activity.
EDUKASI DAN DEMO MASAK MAKANAN TAMBAHAN UNTUK BALITA SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING Shaffa Qalby Fanisyach
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.14706

Abstract

Abstrak: Angka stunting di Indonesia berada pada peringkat kelima di dunia. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia tahun 2022 menunjukkan angka stunting sebesar 21,6%. Angka tersebut mengalami penurunan yang tidak signifikan dari tahun sebelumnya. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran terkait pentingnya asupan gizi yang cukup selama hamil, pemberian ASI eksklusif yang tidak optimal dan pemberian makanan tambahan yang tidak tepat menjadi penyebab terjadinya stunting di Desa Randupadangan. Tujuan pengabdian ini untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan para ibu balita di Desa Randupadangan terkait stunting serta pentingnya asupan gizi yang memadai. Metode pengabdian ini berupa sosialisasi (edukasi) terkait pencegahan stunting dan demo masak makanan tambahan untuk balita. Pelaksanaan kegiatan pada pukul 08.00–selesai di balai Desa Randupadangan, bersamaan dengan jadwal posyandu balita. Mitra kegiatan ini adalah 40 ibu balita. Kegiatan ini berjalan dengan baik, hal ini terlihat bahwa 100% kegiatan dilakukan sesuai dengan jadwal dan rundown acara yang telah ditentukan, 100% ibu balita menghadiri serangkaian kegiatan (40 ibu balita) dan 75% hasil post-test meningkat.Abstract: The stunting rate in Indonesia is ranked fifth in the world. Based on the results of the Indonesian Nutrition Status Survey in 2022, the stunting rate was 21.6%. This rate has decreased insignificantly from the previous year. Lack of knowledge and awareness about the importance of adequate nutritional intake during pregnancy, non-optimal exclusive breastfeeding and inappropriate supplementary feeding are the causes of stunting in Randupadangan Village. The purpose of this community service is to increase awareness and knowledge of mothers of toddlers in Randupadangan Village about stunting and the importance of adequate nutritional intake. This community service method are socialization (education) about stunting prevention and cooking demonstrations of supplementary food for toddlers. The implementation of activities at 08.00 until finish at the Randupadangan Village hall, along with the toddler posyandu schedule. The partners of this activity are 40 mothers of toddlers. This activity went well, it can be seen that 100% of the activities were carried out in accordance with the predetermined schedule and event rundown, 100% of mothers of toddlers attended a series of activities (40 mothers of toddlers) and 75% of post-test results increased.
PENGUATAN KELOMPOK TANI MELALUI UPAYA PEMAHAMAN HAKIKAT KELOMPOK TANI Fabianus Gangkur; Astried Priscilla Cordanis; Inosensius Harmin Jandu
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.14887

Abstract

Abstrak: Pemerintah Kabupaten Manggarai terus berupaya untuk meningkatkan posisi tawar petani melalui kelompok tani. Melalui program strategis sistem manajemen pertanian terintegrasi (SIMANTI), pemerintah Kabupaten Manggarai mendorong petani untuk membentuk kelompok tani simantri yang bergerak di bidang hortikultura sejak tahun 2017. Namun upaya pemerintah tersebut belum memberikan hasil kemandirian petani dalam mengorganisir dirinya dalam kelembagaan kelompok tani. Berdasarkan survey awal dan hasil kajian menunjukkan bahwa kualitas kelompok tani simantri di Manggarai masih rendah. Tingkat keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok masih rendah. Rendahnya tingkat partisipasi tersebut, selain disebabkan oleh tingkat pengetahuan petani yang masih rendah, tetapi juga dipengaruhi oleh motivasi ekstrinsik yakni sebagai persyaratan administrasi penerimaan bantuan pemerintah. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dipandang perlu memberikan penyuluhan dan edukasi tentang hakikat kelompok tani sebagai lembaga yang dibentuk atas inisiatif petani sendiri sekaligus untuk meningkatkan pemahaman dan motivasi intrinsik kesatuan kelompok. Penyuluhan ini juga diberikan untuk merevitalisasi karakteristik kesamaan visi dasar pembentukan kelompok tani. Penyuluhan diberikan kepada 40 orang petani di kelompok tani simantri Desa Compang Dalo dan Desa Compang Namut, di mana kedua kelompok tani tersebut merupakan kelompok tani kelas pemula. Sistem evaluasi yang digunakan adalah mengukur tingkat kehadiran dalam kegiatan kelompok tani dan pengukuran persepsi petani terkait hakikat kelompok tani. Setelah pelaksanaan penyuluhan diperoleh (a) tingkat kehadiran anggota kelompok mencapai 87,5%; (b) pengukuran persepsi petani terkait dengan pemahaman hakikat kelompok tani penting dalam peningkatan kesejahteraan petani mencapai 90%.Abstract: Through farmer associations, the Manggarai Regency Government continues to work to increase farmers' bargaining power. Since 2017, the Manggarai Regency administration has encouraged farmers to form Simantri farmer groups involved in horticulture through the integrated agricultural management system (SIMANTRI) strategic initiative. The government's efforts to support farmers' independence in organizing themselves in farmer group institutions, however, have not been successful. The first survey and the study's findings suggest that the Simantri farmer groups in Manggarai continue to have poor quality. Members still don't participate much in group activities. In addition to being a result of the farmers' limited understanding, the low level of engagement is also driven by extrinsic motivation, specifically as a prerequisite for getting government support. As a result of these issues, it is regarded necessary to offer extention and education about the nature of farmer groups as organizations established at the initiative of farmers as well as to foster greater knowledge and intrinsic motivation of group cohesion. Additionally, this extention was provided to revive the fundamental aspects of the shared idea of establishing farmer communities. In Compang Dalo Village and Compang Namut Village, where the two farmer groups were novice class farmer groups, extention was provided to 40 farmers in the simantri farmer group. The evaluation system is designed to gauge both farmer impressions of the nature of farmer groups and the degree of participation in farmer group activities. After extention began, it was discovered that: (a) group members' attendance had increased to 87.5%; and (b) farmer opinions of the nature of significant farmer groups in enhancing farmer welfare had increased to 90%.