cover
Contact Name
Zulkarnain
Contact Email
dzul9787@gmail.com
Phone
+6287832631987
Journal Mail Official
selaparang.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jl. KH. Ahmad Dahlan No.1, Pagesangan, Kec. Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Bar. 83115
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan
ISSN : 26145251     EISSN : 2614526X     DOI : https://doi.org/10.31764/jpmb.v5i1.6393
SELAPARANG : Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan merupakan jurnal yang mendiseminasikan setiap pemikiran dan ide gagasan atas hasil penelitian dan pemanfaatan teknologi untuk diimplementasikan kepada masyarakat mencakup ; (1). Bidang ilmu pengetahuan ; MIPA (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi), Terapan, Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Kesehatan, (2). Pelatihan dan peningkatan hasil pendidikan dan (3). Pengembangan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 2,601 Documents
Pemberdayaan wanita melalui pemanfaatan tahu menjadi produk tahu walik di desa Alai, kecamatan Lembak, kabupaten Muara Enim Kholila Salsabila Lestari; Muhammad Fadhilsyah; Dionisius Eka Saputra; Aisyah Tri Adinda; Amelia Lestari; Mutiara Kemala Ratu; Zenal Mutaqin
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.26121

Abstract

AbstrakDi Desa Alai UMKM mengalami beberapa permasalahan yakni kurangnya modal usaha, keterampilan, dan pengetahuan ibu-ibu dalam mengelola bisnis dan pemasaran. Solusi yang ditawarkan adalah dengan dilaksanakannya program pelatihan dan pendampingan pengolahan tahu walik di Desa Alai, yang diadakan pada 18 Juli 2024 oleh Tim 12 KKN-T UIGM 2024, bertujuan untuk memberdayakan wanita guna mengatasi keterbatasan keterampilan dan pengetahuan ibu-ibu rumah tangga dalam mengolah produk makanan bernilai ekonomis. Program ini menggunakan metode persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi karya untuk meningkatkan kualitas produk dan memperoleh umpan balik dari masyarakat. Hasil dari pelatihan ini menunjukkan partisipasi aktif dari 30 peserta yang sangat antusias, dengan materi pelatihan yang dianggap mudah dipahami dan diterapkan. Selain teknik pengolahan tahu walik, pelatihan juga mencakup aspek manajemen usaha dan pemasaran, yang sangat penting untuk keberlanjutan usaha kecil. Evaluasi menunjukkan bahwa peserta termotivasi dan mampu mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, baik untuk konsumsi pribadi maupun sebagai peluang usaha. Kata kunci: pemberdayaan wanita; pelatihan; tahu walik; UMKM; desa Alai AbstractIn Alai Village, MSMEs experience several problems, namely the lack of business capital, skills, and knowledge of mothers in managing business and marketing. The solution offered is the implementation of a training and mentoring program on walik tofu processing in Alai Village, which was held on July 18, 2024 by Team 12 KKN-T UIGM 2024, aiming to empower women to overcome the limited skills and knowledge of housewives in processing economically valuable food products. The program used methods of preparation, implementation, and evaluation of the work to improve the quality of the products and obtain feedback from the community. The results of this training showed active participation from 30 participants who were very enthusiastic, with training materials that were considered easy to understand and apply. In addition to walik tofu processing techniques, the training also covered aspects of business management and marketing, which are crucial for small business sustainability. Evaluation showed that participants were motivated and able to apply the knowledge and skills acquired, both for personal consumption and as a business opportunity. Keywords: women empowerment; training; walik tofu; MSMEs; Alai village
Emotional demonstration pada ibu menyusui tentang kebutuhan ASI bayi sampai dengan usia 1 bulan Rini Mustikasari Kurnia Pratama; Damayanti Damayanti; Indah Oktari Wijayanti
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.25907

Abstract

Abstrak Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bayi yang memiliki kandungan lengkap sesuai kebutuhan bayi. Kebutuhan bayi usia 0-6 bulan dapat terpenuhi gizinya dengan hanya mengonsumsi ASI saja (ASI eksklusif). Pemberian ASI eksklusif menjadi salah satu cara untuk mencegah kejadian stunting di kemudian hari. Tetapi beberapa ibu menyusui merasa bahwa bayinya tidak cukup ASI sehingga menjadi rewel dan khawatir tidak tercukupinya gizi hanya dengan pemberian ASI saja selama 6 bulan. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan mengubah persepsi ibu tentang kebutuhan ASI bayi dengan berfokus pada perut bayi sampai dengan usia 1 bulan melalui pendekatan emotional demonstration menggunakan modul GAIN ‘ASI Saja Cukup”dan memberikan pengetahuan tentang kebutuhan ASI bayi usia 1 hari, 3 hari, 1 minggu, dan 1 bulan. Kegiatan ini dilakukan di Kelurahan Kemumu, Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Bengkulu Utara memiliki risiko stunting sebesar 14,2% dari total keluarga berisiko stunting di Provinsi Bengkulu. Peserta adalah ibu menyusui yang memiliki bayi usia di bawah dua tahun dan kader dengan jumlah peserta sebanyak 28 orang. Kegiatan dilakukan dengan demonstrasi menggunakan alat peraga dan Modul GAIN “ASI Saja Cukup). Pengumpulan data menggunakan kuesioner pre-posttest. Kesimpulan dari kegiatan pengabdian ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan ibu, dan perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan edukasi emotional demonstration pada ibu menyusui tentang kebutuhan ASI bayi sampai dengan usia 1 bulan, dengan p-value 0,001. Bidan desa dan kader dapat bekerja sama untuk memberikan persepsi tentang kebutuhan ASI bayi secara mandiri kepada ibu menyusui menggunakan Modul “ASI Saja Cukup” yang telah disediakan oleh GAIN. Kata kunci: pengabdian; edukasi emo-demo; kebutuhan ASI bayi Abstract Breast milk is the best baby food which contains complete ingredients according to the baby’s needs. The nutritional needs of babies aged 0-6 months can be met by consumsing only breast milk (exlusive breast milk). Exclusive breastfeeding is one way to prevent stunting in the future. However, some breastfeeding mothers feel that their babies do not have enough breast milk, so they become fussy and worry that nutrition will not be met by breastfeeding alone for 6 months. The aim of this community service activity is to increase knowledge and change mothers’ perceptions by focusing on the stomachs of babies up to 1 month old through an emotional demonstration approach using the GAIN module ‘ASI Saja Cukup’ and providing knowledge about the breast milk needs of babies aged 1 day, 3 days, 1 week, and 1 month. This activity was carried out in Kemumu Village, Arma Jaya District, North Bengkulu Regency, Bengkulu Province. North Bengkulu has a stunting risk of 14.2% of the total families at risk of stunting in Bengkulu Province. Participants are breastfeeding who have babies under two years old and cadres with a total of 28 participants. Activities were carried out intensively using props and the GAIN Module “ASI Saja Cukup”. Data collection used a pre-posttest questionnaire. The conclusion of this service activity is that there is an increase in mothers’ knowledge, and the difference before and after the emotional education demonstration was carried out for breastfeeding mothers about the breast milk needs of babies up to 1 month of age, with a p-value of 0.001. Midwives and cadres can work together to provide breastfeeding mothers with an independent perception of their baby’s breast milk needs using the ‘ASI Saja Cukup’ Module provided by GAIN. Keywords: community service; knowledge; educational of emotional demonstration
Peningkatan pengetahuan terhadap sosialisasi dagusibu pada siswa SMA An Namiroh kota Pekanbaru Djohari, Meiriza; Susanti, Adriani; Ulfa, Rodhia; Parina, Ana Bella; Putri, Atika; Fadila, Azhariah; Winekas, Bintang Bayu; Setyowati, Bonita Dwi; Adilla, Dea; Amrianis, Delfi; Farahdilla, Dinda; Rizki, Rahmi Asrina; Ikhwani, Ulfha; Sinulingga, Yori Yunita
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.25929

Abstract

AbstrakIkatan Apoteker Indonesia melakukan edukasi baru yang disebut DAGUSIBU, yang merupakan singkatan dari "Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang". Dengan mengikuti langkah-langkah yang diuraikan dalam program DAGUSIBU yang dimulai dengan perolehan obat-obatan dan diakhiri dengan pembuangannya. Salah satu lapisan masyarakat yang sejak dini harus mengetahui tentang penggunaan obat adalah Siswa SMA. Untuk memastikan siswa tidak melakukan kesalahan dalam menggunakan obat, kegiatan sosialisasi DAGUSIBU dilaksanakan karena siswa masih belum memiliki cukup informasi tentang cara menggunakan obat yang benar.  Siswa SMA An Namiroh Kota Pekanbaru mengikuti sosialisasi DAGUSIBU dengan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah tes untuk mengukur pengetahuan mereka. Sebanyak 50 siswa yang mengikuti sosialisasi menunjukkan terjadinya peningkatan pengetahuan yaitu dari 75% pada pretest menjadi 93,4% pada posttest. Hasil menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap DAGUSIBU dapat meningkat sebesar 18,4% ketika sosialisasi ini diadakan. Kata kunci: dagusibu; pengetahuan; obat. AbstractThe Indonesian Pharmacists Association is conducting a new education program called DAGUSIBU, which stands for “Get, Use, Store, and Dispose”. By following the steps outlined in the DAGUSIBU program that starts with the acquisition of medicines and ends with their disposal. One of the layers of society that should know about the use of medicines from an early age is high school students. To ensure that students do not make mistakes in using medicines, DAGUSIBU socialization activities are carried out because students still do not have enough information about how to use medicines correctly.  Students of An Namiroh High School in Pekanbaru City participated in the DAGUSIBU socialization using pre- and post-test questionnaires to measure their knowledge. A total of 50 students who participated in the socialization showed an increase in knowledge from 75% in the pretest to 93.4% in the posttest. The results show that students' understanding of DAGUSIBU can increase by 18.4% when this socialization is held. Keywords: dagusibu; knowledge, medicine.
Penyuluhan pencegahan resistensi antibiotik pada masyarakat desa Cogreg di kabupaten Tasikmalaya Dichy Nuryadin Zain; Ala Anistia Widya; Nizzar Nazzah Nugraha; Elvira Nadia Dikrama; Intan Puji Sri Rahayu; Nabila Khairunnisa Agustin; Tanty Yulianty
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.25565

Abstract

Abstrak Resistensi antibiotik merupakan salah satu tantangan kesehatan global yang disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Hal ini dapat mengakibatkan infeksi yang sulit diobati dan peningkatan angka kematian. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penggunaan antibiotik yang benar menjadi faktor utama dalam penyebaran resistensi antibiotik, terutama di daerah pedesaan. Oleh karena itu, edukasi masyarakat melalui program penyuluhan menjadi langkah penting untuk mengatasi masalah ini. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Desa Cogreg, Kabupaten Tasikmalaya, mengenai penggunaan antibiotik yang tepat dan mencegah resistensi antibiotik melalui penyuluhan berbasis multimedia. Metode penelitian menggunakan pendekatan penyuluhan dengan tahapan yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Penyuluhan dilakukan dengan fokus pada penggunaan antibiotik yang tepat, menggunakan media ajar berbasis multimedia untuk memaksimalkan pemahaman peserta. Setiap tahapan penyuluhan dirancang secara sistematis, dimulai dari perencanaan yang matang, pelaksanaan kegiatan penyuluhan, hingga evaluasi untuk mengukur efektivitas dan peningkatan pengetahuan peserta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuluhan mengenai penggunaan antibiotik yang tepat di Desa Cogreg telah berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang antibiotik. Hal ini terlihat dari hasil test yang dilakukakan terdapat peningkatan dari 5% menjadi 62%. Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang antibiotik ini membuktikan bahwa pemberian edukasi dapat efektif meningkatkan pemahaman tentang antibiotik. Namun, untuk mencapai perubahan yang diharapkan, pendidikan harus dilakukan secara berkelanjutan hingga terjadi perubahan perilaku masyarakat dalam penggunaan antibiotik. Penyuluhan mengenai penggunaan antibiotik yang tepat di Desa Cogreg telah berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang antibiotik. Kata kunci: antibiotik; infeksi; penyuluhan; resistensi. Abstract Antibiotic resistance is one of the global health challenges caused by the inappropriate use of antibiotics. This can result in difficult-to-treat infections and increased mortality. Lack of public knowledge about the correct use of antibiotics is a major factor in the spread of antibiotic resistance, especially in rural areas. Therefore, community education through counselling programmes is an important step to overcome this problem. This study was conducted to improve the knowledge of the people of Cogreg Village, Tasikmalaya Regency, regarding the proper use of antibiotics and preventing antibiotic resistance through multimedia-based counselling. The research method used an extension approach with stages consisting of planning, implementation, and evaluation. Extension was conducted with a focus on the use of appropriate antibiotics, using multimedia-based teaching media to maximise participants' understanding. Each stage of counselling is designed systematically, starting from careful planning, implementation of counselling activities, to evaluation to measure the effectiveness and improvement of participants' knowledge. The results showed that the counselling on the proper use of antibiotics in Cogreg Village has succeeded in increasing community knowledge about antibiotics. This can be seen from the results of the test conducted there is an increase from 5% to 62%. The increase in community knowledge about antibiotics proves that education can be effective in increasing understanding about antibiotics. However, to achieve the expected changes, education must be carried out continuously until there is a change in people's behaviour in the use of antibiotics. Counselling on the proper use of antibiotics in Cogreg Village has succeeded in increasing people's knowledge about antibiotics. Keywords: antibiotics; infection; education; resistance.
Pembinaan numerasi siswa SMP Tadika Pertiwi untuk meningkatkan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Shelly Morin; Hafsah Adha Diana; Ayu Agustianingsih; Gisela Anastacia Rosalind
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.26222

Abstract

Abstrak Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) merupakan suatu usaha pemerintah untuk sistem pendidikan Indonesia yang dirancang untuk mengukur kompetensi dasar siswa dalam literasi dan numerasi. AKM tidak hanya untuk mengevaluasi pencapaian akademik siswa, tetapi juga untuk mengukur kesiapan mereka dalam berkontribusi dan berpartisipasi secara efektif dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) melalui pembinaan AKM Numerasi di sekolah SMP Tadika Pertiwi bertujuan untuk melatih penguasaan Numerasi  dengan Model Blended Learning melalui modul dan latihan soal Asesmen Nasional. Metode yang dilakukan meliputi tahap persiapan awal seperti mempersiapkan modul sebagai bahan pembelajaran , tahap pelaksanaan seperti mengadakan sesi tanya jawab dan diskusi baik di google meet ataupun whatsapp, tahap akhir seperti Menyusun laporan akhir hasil pelaksanaan kegiatan. Hasil dari PKM ini menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap soal-soal AKM, kesiapan siswa dalam menghadapi AKM, dan peningkatan kualitas sekolah yang masuk dalam kategori kelas menengah. Berdasarkan kegiatan pembinaan AKM Numerasi di SMP Tadika Pertiwi dapat disimpulkan bahwa (1) program PKM berjalan dengan lancar dan diikuti oleh 23 siswa dari kelas 8 SMP Tadika Pertiwi, (2) siswa lebih memahami soal-soal AKM dan lebih siap mengikuti AKM di sekolah, serta (3) SMP Tadika Pertiwi masuk dalam kelas menengah berdasarkan hasil AKM. Kata kunci: Asesmen Kompetensi Minimum; kurikulum merdeka; sekolah menengah pertama Abstract Minimum Competency Assessment (AKM) is a government effort for the Indonesian education system to measure students' basic competencies in literacy and numeracy. AKM is used to assess students' academic achievements and measure their readiness to contribute and participate effectively in social and economic life. The Community Service Program (PKM), through coaching AKM Numeracy at Tadika Pertiwi Middle School, aims to train Numeracy mastery using the Blended Learning Model through modules and practice on National Assessment questions. The methods used include the initial preparation stage, such as preparing modules as learning materials; the implementation stage, such as holding question and answer sessions and discussions on Google Meet and WhatsApp; and the final stage, such as preparing a final report on the results of the activity implementation. The results of this PKM show an increase in students' understanding of AKM questions, readiness to face AKM, and an increase in the quality of schools that fall into the middle-class category. Based on the AKM Numeracy Development activities at Tadika Pertiwi Middle School, it can be concluded that (1) the PKM event ran smoothly and was attended by 23 grade 8 students at Tadika Pertiwi Middle School, (2) students better understand AKM questions and are better prepared to take part in AKM at school, and (3) Tadika Pertiwi Middle School is included in the middle class based on AKM results. Keywords: Minimum Competency Assessment (AKM); merdeka curriculum; junior high school
Pelatihan pembelajaran berdiferensiasi bagi guru guru SMP Negeri 4 Sukowono Nila Mutia Dewi; Albertus Djoko Lesmono; Ernasari Ernasari
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.25514

Abstract

Abstrak Masalah yang dihadapi para guru ini adalah merancang pembelajaran yang mampu memenuhi kebutuhan karakterisik belajar siswa yang beragam, baik yang regular maupun anak berkebutuhan khusus. Salah satu strategi yang bisa dilakukan untuk mengupayakan hal tersebut di era Merdeka Belajar ini adalah dengan Pembelajaran Differensiasi. Pelaksanaan pembelajaran berdiferesnsiasi melibatkan unsur yang menjadi fokus pembelajaran abad 21. Tujuan kegiatan pelatihan ini untuk meningkatkan pengetahuan mengenai pembelajaran berdiferensiasi sehingga kualitas pembelajaran sesuai tuntutan abad 21 dapat terpenuhi dalam era merdeka belajar ini. Metode pelaksanaan meliputi pemberian materi oleh narasumber, diskusi serta tanya jawab antara peserta dengan narasumber, pendampingan, dan evaluasi. Pelatihan dilakukan pada 9 guru SMP Negeri 4 Sukowono pada Mei , Juni dan Juli 2024. Pada akhir pelatihan, peserta melakukan posttest  dan mengisi survei melalui angket respon yang hasilnya diukur menggunakan Skala Likert, dan diperoleh nilai rata-rata 80 dan skor 87% untuk komponen pengetahuan peserta. Berdasarkan data yang diperoleh dari isian posttest dan angket respon menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan peserta pelatihan mengenai pembelajaran berdiferensiasi. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mengikuti keseluruhan kegiatan pelatihan. Kata kunci: pelatihan; guru; pembelajaran diferensiasi. Abstract The problem faced by these teachers is designing learning that is able to meet the needs of the diverse learning characteristics of students, both regular and children with special needs. One strategy that can be used to achieve this in this era of Independent Learning is Differentiated Learning. The implementation of differentiated learning involves elements that are the focus of 21st century learning. The aim of this training activity is to increase knowledge about differentiated learning so that the quality of learning according to the demands of the 21st century can be met in this era of independent learning. Implementation methods include providing material by resource persons, discussions and questions and answers between participants and resource persons, mentoring and evaluation. The training was conducted on 9 teachers at SMP Negeri 4 Sukowono in May and June 2024. At the end of the training, participants took a posttest and filled out a survey via a response questionnaire, the results of which were measured using a Likert Scale, and obtained an average score of 80 and a score of 87% for the participants' knowledge component. Based on data obtained from the posttest and response questionnaire, it shows that there has been an increase in the training participants' knowledge regarding differentiated learning. The enthusiasm of the participants can be seen from their active participation in all training activities. Keywords: training; teachers; differentiated learning.
Peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja di pondok pesantren Ibnu Taimiyah Sedau kota Singkawang Selatan Linda Suwarni; Abdul Haris Jauhari; Septi Widyasari
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.26176

Abstract

Abstrak Remaja di Pondok Pesantren masih terbatas pengetahuan tentang kesehatan reproduksi karena lebih fokus pada pelajaran keagamaan. Pondok Pesantren Ibnu Taimiyah sebagai mitra dalam kegiatan pengabdian ini menyatakan belum pernah ada edukasi tentang kesehatan reproduksi remaja. Pengetahuan para santri dan santriwati masih minim terkait kesehatan reproduksi. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan santri dan santriwati di Pondok Pesantren Ibnu Taimiyah melalui penyuluhan kesehatan. Metode pelaksanaan dilakukan melalui penyuluhan kesehatan. Peserta yang mengikuti pengadian ini sebanyak 90 orang yang terdiri dari santri dan santriwati. Monitoring dan Evaluasi kegiatan ini dilakukan untuk mengukur keberhasilan kegiatan pengabdian yang dilakukan. Hasil pengabdian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan para santri dan santriwati tentang kesehatan reproduksi sebesar 70%. Masih tabu dalam membicarakan masalah tentang kesehatan reproduksi, termasuk seksualitas menjadi kendala yang dihadapi padahal hal ini sangat penting diketahui oleh para remaja. Kegiatan Komunikasi Informasi dan Edukasi sejenis tentang kesehatan reproduksi perlu dilakukan secara kontinue dan menjangkau lebih luas lagi, khususnya para remaja yang menempuh pendidikan di sekolah keagamaan. Kata kunci: penyuluhan; kesehatan reproduksi; pondok pesantren; pengetahuan Abstract Adolescents in Islamic boarding schools still have limited knowledge about reproductive health because they focus more on religious studies. Ibnu Taimiyah Islamic Boarding School, as a partner in this service activity, stated that there had never been any education about adolescent reproductive health. The knowledge of Santri and female students is still minimal regarding reproductive health. The aim of this service activity is to increase the knowledge of Santri and female students at the Ibnu Taimiyah Islamic Boarding School through health education. The implementation method is carried out through health education. There were 90 participants who took part in this trial, consisting of Islamic boarding school students and female students. Monitoring and evaluation of this activity is carried out to measure the success of the service activities carried out. The results of this service show that there has been an increase in the knowledge of female students about reproductive health by 70%. It is still taboo to discuss reproductive health issues, including sexuality, which is an obstacle faced even though it is very important for teenagers to know about this. Similar information, communication, and education activities regarding reproductive health need to be carried out continuously and reach more widely, especially among teenagers studying in religious schools. Keywords: counseling; reproduction health; islamic boarding school; knowledge
Pelatihan penggunaan primavera dalam pengabdian masyarakat : meningkatkan efisiensi sistem informasi manajemen konstruksi Revianty Nurmeyliandari; Febriyanti Panjaitan; Mukhlis Nahriri Bastam; Ratih Baniva; Saskia Malikha Putri
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.23238

Abstract

Abstrak Kurangnya pemahaman karyawan tentang konsep manajemen proyek dan penggunakan Primavera menurunkan efisiensi proyek, terutama dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang konsep-konsep manajemen proyek dan mengembangkan keterampilan praktis dalam menggunakan aplikasi Primavera. Direktur CV KEINARRA menyadari pentingnya meningkatkan efisiensi dalam manajemen proyek, sehingga tim pengabdian diberi tugas untuk melatih sejumlah karyawan, terutama dalam penguasaan aplikasi Primavera. Metode pelatihan meliputi demonstrasi praktis, dan latihan langsung dengan studi kasus yang relevan. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta, dengan nilai pretest rata-rata sebesar 68.79% dan posttest sebesar 88.46%. Peserta mampu merancang jadwal proyek yang realistis, mengelola sumber daya dengan lebih efektif, dan membuat keputusan yang lebih baik dalam menghadapi perubahan dan risiko. Selain itu, pelatihan ini juga bertujuan untuk memperkuat kolaborasi tim, membangun kemampuan analitis, dan meningkatkan kualitas serta kesuksesan keseluruhan proyek konstruksi yang mereka kelola. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini tidak hanya memberikan pengetahuan baru kepada peserta, tetapi juga memastikan bahwa mereka dapat mengimplementasikan langsung materi yang telah dipelajari, sehingga membantu meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan proyek di CV KEINARRA. Kata kunci: sistem informasi; manajemen proyek; penjadwalan; primavera; pelatihan Abstract The lack of employee understanding of project management and Primavera software hinders project efficiency, especially in planning and decision-making. This community service activity aims to provide a deep understanding of project management concepts and develop practical skills using the Primavera application. The director of CV KEINARRA recognizes the importance of improving project management efficiency; thus, the service team is tasked with training several employees, especially in mastering the Primavera application. Training methods include practical demonstrations and hands-on exercises with relevant case studies. The results show a significant improvement in participants' understanding, with an average pretest score of 68.79% and a posttest score of 88.46%. Participants are able to design realistic project schedules, manage resources more effectively, and make better decisions when facing changes and risks. Additionally, this training aims to strengthen team collaboration, build analytical skills, and enhance the quality and overall success of the construction projects they manage. Thus, this community service activity not only provides new knowledge to participants but also ensures they can directly implement the learned material, thereby improving the efficiency and effectiveness of project management at CV KEINARRA. Keywords: information system; project management; scheduling; primavera; training
Edukasi teknik pengendalian hama terpadu menggunakan yellow trap dan bangkai keong mas pada budidaya tanaman pertanian Ari Handriatni; Heri Ariadi; Farchan Mushaf Al Ramadhani; Sajuri Sajuri; Bony Samego; Putri Isti Amalia
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.25321

Abstract

AbstrakYellow trap dan bangkai keong mas merupakan alternatif media yang dapat digunakan sebagai pengendali hama di tanaman. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk memberikan edukasi tentang metode pengendalian hama tanaman menggunakan yellow trap dan bangkai keong mas kepada ibu-ibu kelompok wanita tani di Desa Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan. Metode pengabdian yang digunakan adalah edukasi kelompok yang dibarengi dengan praktik langsung. Penilaian tingkat keberhasilan pengabdian dilakukan dengan menyebar angket survey. Hasil pelaksanaan pengabdian menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan tentang pengendalian hama oleh responden sebesar 100%. Pengetahuan tentang penggunaan yellow trap dan pemanfaatan bangkai keong mas untuk pengendalian hama tanaman juga meningkat dari 0% menjadi 100%. Dari hasil survey juga ditunjukkan adanya peningkatan komitmen pengetahuan yang didapatkan selama pengabdian dalam praktik langsung sebesar 90% (dari 13% menjadi 93%). Untuk kebermanfaatan program pengabdian, secara mutlak 100% responden menyatakan kegiatan pengabdian ini sangat bermanfaat. Hasil kesimpulan dari pengabdian ini yang dapat disampaikan bahwa proses edukasi terkait pemanfaatan yellow trap dan penggunaan bangkai keong mas untuk media pengendali hama penyakit pada tanaman dinilai sangat berhasil berdasarkan tingginya progres capaian pasca kegiatan pengabdian berlangsung. Kata kunci: agrobisnis; insekta; panen; petani; sawah AbstractYellow traps and golden snail carcasses are alternative media that can be used to control pests in plants. This service activity aims to provide education about methods of controlling plant pests using yellow traps and carcasses of golden snails to the women of the women's farmer group in Wonopringgo Village, Pekalongan Regency. The service method used is group education combined with direct practice. Assessment of the level of service success is carried out by distributing survey questionnaires. The results of the service implementation showed that respondents' knowledge of pest control had increased by 100%. Knowledge about the use of yellow traps and the use of golden snail carcasses to control plant pests also increased from 0% to 100%. The survey results also show an increase in commitment to knowledge gained during service in direct practice by 90% (from 13% to 93%). Regarding the service program's usefulness, 100% of respondents stated that this service activity was beneficial. This service concludes that the educational process related to yellow traps and golden snail carcasses as a medium for controlling pests and diseases in plants is very successful based on the high progress achieved after the service activities. Keywords: agribusiness; insecta; harvest; farmer; ricefield
Optimalisasi aplikasi e-commerce terasi serbuk udang guna peningkatan ekonomi lokal berkelanjutan Lesi Hertati; Husni Mubarat; Evi Purnamasari; Hafiz Hidayatullah; Leksi Saputra
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.22639

Abstract

Abstrak Permasalahan yang terjadi pada UMKM Mutiara Laut terasi serbuk udang barebai dapat mengatasi  zero hunger didaerah Sungsang Banyuasin-Sumsel. Tujuan pemberdaya masyarakat untuk mengasah soft skill hingga hard skill keduanya mendukung memproses pembuatan terasi serbuk udang Barebai. Metode pelatihan dihadiri sekitar 51 orang yaitu petani udang dan ibu-ibu rumah tangga, cara menggunakan aplikasi e-commerce dan kemasan saset terasi udang serbuk guna meningkatkan penjualan produk lokal. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini dengan FGD, wawancara dan mengisi angket kuisioner pertanyaan dimulai dari teknik produksi, pengemasan saset, strategi pemasaran digital. Hasil pelatihan menunjukkan Mitra  Mutiara Laut mengalami peningkatan soft skill dan hard skill keduanya membuktikan peningkatan pengetahuan, penjualan produk setelah pelatihan aplikasi e-commerce mulai dari 65% meningkat ke 90%. Evaluasi pelatihan bahwa  aplikasi e-commerce solusi peningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mencapai tujuan Zero Hunger memberikan dampak jangka panjang bagi ekonomi marginal dan berkelanjutan. Kata Kunci: zero hunge; aplikasi; e.commerce; ekonomi lokal; berkelanjutan. Abstract Problems that occur in Mutiara Laut UMKM shrimp paste powder barebai can overcome zero hunger in the Sungsang Banyuasin-South Sumatra area. The purpose of community empowerment is to hone soft skills to hard skills both support the process of making shrimp paste powder Barebai. The training method was attended by around 51 people, namely shrimp farmers and housewives, how to use e-commerce applications and shrimp paste powder sachet packaging to increase sales of local products. The method used in this activity with FGD, interviews and filling out questionnaires starting from production techniques, sachet packaging, digital marketing strategies. The results of the training showed that Mitra Mutiara Laut experienced an increase in soft skills and hard skills, both of which proved an increase in knowledge, product sales after e-commerce application training starting from 65% increased to 90%. The training evaluation that the e-commerce application solution to improve community welfare and achieve the goal of Zero Hunger has a long-term impact on the marginal and sustainable economy. Keywords: zero hunger; application; e.commerce; local economy; sustainable.