cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kediri,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kesehatan
ISSN : 23031433     EISSN : 25797301     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmu Kesehatan Akper Dharma Husada Kediri bekerjasama dengan PPNI Kota Kediri merupakan Jurnal yang memuat naskah hasil penelitian maupun artikel ilmiah yang menyajikan informasi di bidang ilmu kesehatan, diterbitkan setiap enam bulan sekali pada bulan Nopember dan Mei
Arjuna Subject : -
Articles 353 Documents
HUBUNGAN ASI EKSKLUSIF DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR PADA ANAK USIA 3-5 TAHUN DI YOGYAKARTA Priliana, Wiwi Kustio; Sumardino, Sumardino; Ulkhasanah, Muzaroah Ermawati
coba Vol 12 No 2 (2024): Mei 2024
Publisher : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32831/jik.v12i2.679

Abstract

Pendahuluan: Masa balita merupakan masa yang mengalami kehidupan yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Masa ini pun anak akan mengalami masa kritis dimana akan mengalami perkembangan bahasa,sosial,emosional dan kecerdasan yang dalam perkembanganya sangat cepat dan hal ini merupakan pondasi dari perkembangan balita selanjutnya. Selama masa perkembangan dan pertumbuhan balita memerlukan nutrisi yang baik, pola asuh yang baik, kasih sayang yang besar dan suatu tindakan stimulasi yang cukup adekuat dari orang tua atau orang dewasa yang mengasuhnya. Nutrisi yang baik pada anak usia 0 sampai 6 bulan yaitu dengan ASI Eksklusif karena memiliki kandungan gizi yang adekuat untuk pertumbuhan bayi. Anak yang nutrisinya tercukupi akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang optimal sehingga mampu untuk melaksakana beberapa tugas perkembangan selanjutnya. Metodologi: Metode penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. responden yang di gunakan adalah balita usia 3-5 tahun sebanyak 66 anak di Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ASI ekslusif dengan motorik kasar pada anak usia 3-5 tahun di Yogyakarta. Hasil: Ada hubungan antara pemberian ASI Ekslusif dengan perkembangan motorik kasar pada anak usia 3-5 tahun yang di buktikan dengan hasil p value sebesar 0.0142 (95 % CI 1.125606 - 11.6129 ). Anak balita yang tidak mendapatkan ASI Eksklusif mempunyai resiko keterlambatan dalam perkembangan motorik kasarnya sebesar 6.02 kali lebih besar daripada anak balita yang di berikan ASI Eksklusif. Diskusi : Berdasarkan besarnya resiko keterlambatan perkembangan motorik kasar pada anak balita yang tidak di beri ASI Eksklusif yaitu sebesar 6.02 kali maka di harapkan tenaga kesehatan lebih meningkatkan edukasi tentang manfaat ASI Eksklusif di masyarakat Kata Kunci: ASI Eksklusif,Balita ,Motorik Kasar
PENGGUNAAN ALOE BERBADENIS MILLEER (ALOE VERA) DALAM PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM IBU POSTPARTUM Miraturrofi'ah, Mira; Darwati, Rita; Irawan, Hengky
coba Vol 12 No 2 (2024): Mei 2024
Publisher : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32831/jik.v12i2.570

Abstract

Pendahuluan Luka perineum dialami oleh 75% ibu melahirkan pervaginam. Prevalensi wanita yang mengalami robekan perineum pada usia 25-30 tahun (24%) dan wanita usia 32-39 tahun (62%). 26% ibu dengan robekan perineum mengalami penyembuhan luka lambat lebih dari 7 hari. Sejak dahulu aloe vera teridentifikasi sebagai salah satu tanaman yang memiliki banyak manfaat. Aloe vera memiliki senyawa alkaloid, flavonoid, steroid dan saponin yang dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efektifitas aloe vera dalam penyembuhan luka perineum. Metodologi: Merupakan jenis penelitian Quasi Eksperimental dengan desain post test only design with control group, jumlah sampel sebanyak 40 kelompok intervensi aloe vera dan 40 kelompok kontrol perawatan perineum bersih kering. Hasil : Dari penelitian didapatkan penyembuhan luka perineum pada ibu nifas kelompok aloe vera sebagian besar cepat (75%) sedangkan ibu nifas dengan perawatan bersih kering memiliki penyembuhan luka cepat (55%). Dari hasil uji mann whitney rata-rata penyembuhan luka pada kelompok aloe vera adalah 4 hari sedangkan pada kelompok bersih kering 6 hari. Secara statistic nilai ρ-value 0,028 < 0,05 berarti ada pengaruh pemberian gel aloe vera terhadap lama kesembuhan luka perineum pada ibu nifas. Diskusi: Penggunaan aloe berbadenis milleer (aloe vera) lebih efektif dibandingkan dengan kelompok kontrol. Mempertimbangkan sifat aloe vera dan senyawanya, dapat digunakan untuk mempertahankan kelembaban dan regenerasi kulit. Penerapan Aloe Vera sebagai salah satu tata laksana dapat mempercepat penyembuhan luka sehingga meminimalisir ketidaknyamanan ibu postpartum akibat luka perineum. Kata Kunci: Luka Perineum, Aloe Berbadenis Milleer, Post Partum
ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KEJADIAN PENYAKIT SCABIES DI PONDOK PESANTREN NURUL HAYAT TUBAN Sugiarto, Agus; Winarti, Eko
coba Vol 12 No 1 (2023): November 2023
Publisher : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32831/jik.v12i1.556

Abstract

Latar Belakang: Nurul Hayat Tuban merupakan sekolah Islam berasrama dimana santri biasanya tinggal bersama dengan teman-teman dalam satu kamar. Tinggal bersama dengan sekelompok orang seperti di pesantren berisiko mudah tertular berbagai penyakit, khususnya skabies. Skabies kurang diperhatikan oleh para santri di Pondok Pesantren. beberapa penyakit kulit seperti skabies paling sering diakibatkan dari perilaku personal hygiene yang tidak sehat seperti menggantung pakaian dikamar, saling bertukar pakaian dan benda pribadi, seperti sisir dan handuk, dipengaruhi juga oleh pengetahuan yang kurang mengenai kebersihan diri. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui gambaran faktor resiko kejadian scabies dipondok pesantren Nurul Hayat Tuban. Metode Peneitian: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan Deskriptif yaitu suatu metode penulisan yang mengambarkan tentang keadaan yang sebenarnya tentang objek yang diteliti, dan tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel yang lain serta tidak mencari hubungan variabel itu dengan variabel yang lain (Sugiyono, 2013).Kesimpulan: Pengetahuan dan perilaku personal hygiene dipondok pesantren Nurul Hayat Tuban sebagian besar cukup, sedangkan kejadian scabies sebagian besar tidak mengalami scabies. Kata Kunci: Scabies, Personal Hygiene, Pondok Pesantren.
HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN TERJADINYA INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS (ISPA) Asri, Yuni; Patria, Dion Kunto Adi; Priasmoro, Dian Pitaloka; Zakaria, Amin
coba Vol 12 No 2 (2024): Mei 2024
Publisher : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32831/jik.v12i2.677

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) adalah kondisi umum yang mengakibatkan infeksi pada bagian atas sistem pernapasan. Penyebabnya dapat berupa virus atau bakteri. ISPA sering terjadi di seluruh dunia dan dapat mempengaruhi individu dari segala usia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara perilaku merokok dan aktivitas fisik dengan ISPA. Desain dalam penelitian ini adalah cross sectional, teknik pengambilan sample menggunakan proportional sampling dan didapatkan sejumlah 1364 responden. Instrumen pengukuran ini menggunakan kuesioner, dan hasil analisis bivariat menggunakan chi-square. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan, umur, status pernikahan, agama, penghasilan, aktivitas fisik (olah raga), perilaku merokok dengan terjadinya ISPA dengan nilai p-value < 0,05. Pentingnya dalam melakukan kampanye edukasi pada masyarakat dan diharapkan dapat ditemukan solusi yang lebih baik dalam pencegahan, diagnosis, dan pengobatan ISPA untuk meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Kata Kunci: Perilaku merokok, aktivitas fisik, olah raga, status ekonomi, ISPA.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN POST OPERASI BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH) DENGAN INTERVENSI PEMBERIAN AROMA TERAPI LEMON UNTUK MENGURANGI NYERI DI RSUD TOTO KABILA Usman, Rahmawati A.; Syamsuddin, Fadli; Ayuba, Asni
coba Vol 12 No 1 (2023): November 2023
Publisher : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32831/jik.v12i1.553

Abstract

Pendahuluan: Tindakan pembedahan menyebabkan kerusakan jaringan yang actual dan potensial sehingga seseorang dapat mengalami nyeri. Penatalaksanaan nyeri dapat dilakukan dengan non farmakologi diantaranya pemberian aromaterapi dengan menggunakan aromaterapi lemon, yang bertujuan untuk mengurangi nyeri. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi lemon terhadap penurunan skala nyeri pada pasien post operasi BPH. Metodologi: Jenis desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasy eksperiment dengan rancangan penelitian pre test and post test, Objek dalam studi kasus ini adalah pasien post operasi BPH dengan gangguan rasa aman dan nyaman. Metode pengumpulan pada penelitian ini melalui wawancara dengan menjelaskan manfaat dan tujuan pemberian aroma terapi lemon dan jika responden memenuhi kriteria dan bersedia untuk menjadi responden kemudian mengisi inform concent untuk kesediaan. Hasil: hasil penelitian menunjukan pasien Post Operasi BPH setelah diberikan aromaterapi lemon terjadi penurunan tingkat nyeri. Kata Kunci: BPH, Nyeri, Aroma Terapi Lemon
PENGARUH CHRONIC CARE MANAGEMENT SUPPORT TERHADAP SELF EFFICACY PENDERITA PENYAKIT KRONIS DIKELOMPOK PROLANIS Atmojo, Didik Susetiyanto; Rahayu, Dwi; Quyumi, Elfi; Rinawati, Fajar
coba Vol 12 No 2 (2024): Mei 2024
Publisher : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32831/jik.v12i2.690

Abstract

Pendahuluan: Penyakit kronis telah menjadi salah satu tantangan kesehatan yang paling signifikan di dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menunjukkan bahwa chronic care management support dan self efficacy memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit kronis. Chronic care management support dapat didefinisikan sebagai suatu sistem yang membantu pasien untuk mengatur dan mengelola penyakit kronisnya secara efektif. Sementara itu, self efficacy dapat didefinisikan sebagai kepercayaan seseorang terhadap kemampuan dirinya untuk mengatur dan melaksanakan serangkaian tindakan yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu tugas tertentu, seperti manajemen penyakit kronis.Metodologi: Pendekatan kuantitatif digunakan dalam penelitian ini dengan desain studi cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 50 penderita penyakit kronis yang aktif dalam kegiatan Prolanis di klinik dr chreslina. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang terdiri dari dua bagian utama: pengukuran dukungan manajemen perawatan kronis dan pengukuran tingkat self-efficacy. Hasil: Analisis statistik menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara manajemen perawatan kronis dengan tingkat self-efficacy penderita penyakit kronis. Dukungan yang meliputi edukasi kesehatan, pengawasan medis, dan motivasi berkelanjutan dari tenaga kesehatan berperan penting dalam meningkatkan keyakinan diri pasien dalam mengelola penyakitnya. Responden yang menerima dukungan manajemen perawatan kronis yang tinggi melaporkan self-efficacy yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang menerima dukungan rendah atau sedang.Diskusi: Penelitian ini menyimpulkan bahwa dukungan manajemen perawatan kronis berpengaruh positif terhadap self-efficacy penderita penyakit kronis. Implikasi praktis dari penelitian ini mengindikasikan bahwa penguatan program manajemen perawatan kronis di kelompok Prolanis dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kemampuan dan keyakinan diri pasien dalam mengelola kondisi kronis mereka. Rekomendasi diberikan untuk meningkatkan kualitas dan intensitas dukungan manajemen perawatan kronis yang disediakan oleh fasilitas kesehatan Kata Kunci: Chronic Care Management Support, Self-Efficacy, Penyakit Kronis, Prolanis
HUBUNGAN KETERSEDIAAN RUANG LAKTASI DENGAN PEMANFAATANNYA DI 25 PUSKESMAS KABUPATEN SLEMAN Febriani, Heni; Asda, Patria; Windariani, Windariani
coba Vol 13 No 1 (2024): November 2024
Publisher : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32831/jik.v13i1.515

Abstract

Pendahuluan : Peraturan Menteri kesehatan no.15/2013 menyebutkan bahwa tempat umum termasuk didalamnya fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, ruang publik dan kantor/institusi milik pemerintah/swasta wajib menyediakan ruang laktasi. Ruang laktasi atau pojok ASI merupakan ruangan yang dilengkapi dengan fasilitas untuk pemberian ASI, pemerahan ASI, penyimpanan ASI perah, dan konseling untuk ibu terkait menyusui. Di Kabupaten Sleman, terdapat 25 puskesmas yang sudah memiliki ruang khusus sebagai pojok laktasi, namun fasilitas yang ada belum seluruhnya sesuai standar. Selain itu, ada pula Puskesmas yang belum memiliki catatan kunjungan untuk penggunaan ruang laktasi, maka pemanfaatan ruang laktasi belum terdokumentasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menemukan korelasi ruang laktasi dengan pemanfaatannya di 25 puskesmas Kabupaten Sleman. Metodologi: penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan survey potong lintang. Sampel adalah 25 ruang laktasi pada 25 puskesmas kabupaten Sleman. Data dikumpulkan dengan menggunakan ceklist. Selanjutnya data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat spearman untuk mengetahui korelasi antara ketersediaan dan pemanfaatan ruang laktasi. Diskusi: Dari 25 puskesmas di kabupaten Sleman, 14 puskesmas memiliki ruang laktasi sesuai standar (56%) dan sebanyak 16 puskesmas (64%) pemanfaatan ruang laktasinya masih kurang. Hasil uji korelasi spearman’s rho sig=0,442, yang artinya tidak ditemukannya korelasi antara ketersediaan ruang laktasi dengan pemanfaatannya. Kesimpulan: Masih ada puskesmas yang memiliki ruang laktasi namun fasilitasnya belum sesuai standar, dan sebagian besar ruang laktasi di puskesmas di kabupaten Sleman pemanfaatannya masih kurang. Namun, pada 25 puskesmas kabupaten Sleman, tidak ditemukan korelasi antara ketersediaan ruang laktasi dengan pemanfaatannya. Kata kunci: Ruang laktasi, Puskesmas, Pemanfaatan ruang laktasi
HUBUNGAN PEMBERIAN KOLOSTRUM DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI KABUPATEN KEDIRI Agustin, Lia; Rahmawati, Dian; Komariyah, Siti; Franita Kusumawati, Dhian
coba Vol 13 No 1 (2024): November 2024
Publisher : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32831/jik.v13i1.745

Abstract

Pendahuluan: Pemberian kolostrum yang kaya akan nutrisi dan antibodi penting terbukti berperan dalam mencegah infeksi dan gangguan penyerapan gizi yang dapat menyebabkan stunting pada anak. Ibu yang memberikan kolostrum pada bayinya memiliki peluang lebih besar untuk mendukung tumbuh kembang anak yang optimal, sehingga mengurangi risiko stunting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pemberian kolostrum dengan kejadian stunting pada balita usia 25-59 bulan di kecamatan Ngadiluwih di Kabupaten Kediri. Metodologi :Desain penelitian yang digunakan adalah studi retrospektif dengan total sampel 188 balita stunting, yang dipilih dari populasi 355 balita stunting. Pengumpulan data dilakukan berdasarkan riwayat pemberian kolostrum dan pengukuran status gizi balita. Diskusi: penelitian menunjukkan bahwa balita yang menerima kolostrum memiliki peluang 0.45 kali lebih rendah mengalami stunting dibandingkan dengan balita yang tidak menerima kolostrum (OR = 0.45; CI 95% = 0.29 - 0.69; p = 0.001). Selain itu, ditemukan bahwa mayoritas balita yang mengalami stunting berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah (66.5%) dan ibu dengan pendidikan rendah hingga menengah (74.5%). Kesimpulan: berdasarkan hasil penelitian, pemberian kolostrum secara signifikan berhubungan dengan penurunan kejadian stunting pada balita. Edukasi tentang pentingnya kolostrum dan peningkatan status sosial ekonomi keluarga menjadi strategi penting dalam pencegahan stunting. Kata kunci : Kolostrum, Stunting, Balita
HUBUNGAN POLA PEMBERIAN MAKAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA 1-5 TAHUN Rahmawati, Dian; Agustin, Lia; Nurtika Sari, Aprilia; Nur Tofa’ati, Tika
coba Vol 13 No 1 (2024): November 2024
Publisher : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32831/jik.v13i1.743

Abstract

Pendahuluan: Pola pemberian makan merupakan perilaku atau pola asuh orang tua dalam memberikan makanan kepada anak-anak, terutama balita. Pola ini mencakup jenis makanan, jumlah makanan, serta frekuensi pemberian makanan yang disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi anak untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal. Stunting atau pendek merupakan kondisi gagal tumbuh pada bayi 0-11 bulan dan anak balita 12-59 bulan, di mana tinggi badan balita di bawah standart pertumbuhan yang ditetapkan oleh WHO (TB/U < -2SD). Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola pemberian makan dengan kejadian stunting pada balita usia 1-5 tahun di RW 2 Desa Tegaron Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk. Metodologi: Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita usia 1-5 tahun, dengan tehnik simple random sampling didapatkan sampel sebanyak 46 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah pola pemberian makan. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian stunting. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan stunting diukur berdasarkan tinggi badan. Data dianalisis menggunakan uji fisheer exact dengan signifikansi α=0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 43 responden (93,5%) memiliki pola pemberian makan tepat dan balita stunting sebanyak 13 responden (28,3%). Diskusi: Dari hasil uji fisher exact menunjukkan bahwa p>α yaitu 0,840>0,05, sehingga tidak ada hubungan antara pola pemberian makan dengan kejadian stunting. Meskipun hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan, akan tetapi meningkatkan dan mempertahankan kualitas nutrisi bagi balita diperlukan program pelatihan dan edukasi bagi orang tua tentang pola pemberian makan balita.
STRATEGI KASATRIA (EDUKASI SENAM TRIAS DM) DALAM OPTIMALISASI PERAN KELUARGA DENGAN DIABETES MELLITUS Kustantii, Cecilya; Wulandari, Barkah; Pratiwi, Etik; Taukhit, Taukhit
coba Vol 13 No 1 (2024): November 2024
Publisher : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32831/jik.v13i1.649

Abstract

Pendahuluan: Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu golongan penyakit kronik yang saat ini banyak dialami masyarakat Diabetes tipe 2 (T2DM) adalah bentuk diabetes yang paling umum dan mempengaruhi lebih dari 90% penderita diabetes. Selain kecenderungan genetik, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, dan kebiasaan makan yang tidak sehat merupakan faktor risiko yang signifikan untuk orang dengan diabetes mellitus. Penelitian ini bertujuan mengetahui pemahaman edukasi dan pengetahuan senam DM dan peran keluarga dengan DM. Metodologi: penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan pendekatan deskriptif kuantitatif.Peneliti melakukan pengumpulan data dalam bentuk kuesioner mengenai aktivitas olah raga pada lansia khususnya senam kaki Diabetikum dan juga melakukan kegiatan screening gejala DM (Trias P). Pemilihan sample menggunakan purposive sampling dilaksanakan pada bulan Maret 2023 di Kawasan RSUD Wates Kulon Progo. Peserta kegiatan ini sebanyak 51 orang dengan tehnik pengambilan sample total sampling. Peneliti melakukan kegiatan senam kaki diabetikum yang terdiri dari 10 langkah-langkah setelah dilakukan screening. Diskusi : Hasil demografi menunjukkan jenis kelamin mayoritas lansia adalah pria, usia rata-rata mayoritas adalah 60-70 tahun sebanyak 48,07%. Tingkat Pendidikan mayoritas adalah SMA yakni 38,46 %. Hasil Screening menunjukkan mayoritas klien memiliki resiko DM sebanyak 78,89%. Pasien menunjuukan 60 % sangat memahami mengenai prosedur pelaksanaan senam DM, 40 %memahami Edukasi senam dan Trias DM. Kesimpulan : Skreening diabetes mellitus cukup penting dilakukan di kalangan masyarakat guna deteksi awal gejala Diabetes Mellitus. Hasil riset telah menemukan bahwa kontrol glukosa darah yang ketat dapat secara efektif mengurangi risiko komplikasi pada pasien. Kata Kunci: Edukasi Senam, Trias DM, Peran keluarga