Holistik Jurnal Kesehatan
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 17, No 3 (2023)"
:
10 Documents
clear
Peningkatan status gizi balita melalui pemberian daun Kelor(moringa oleifera l.) pada masa pandemi Covid19
Indah Sari;
Linawati Novikasari;
Setiawati Setiawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/hjk.v16i7.5180
Background: Data shows that more than half of cases of malnutrition status in the world occurs in Southeast Asia, which is as much as 27.6% or 5.2 million. Based on data from Basic Health Research in 2018 stated the prevalence of malnutrition and malnutrition in toddlers, as many as 3.9% of toddlers with malnutrition and 13.8% undernourished. The prevalence of underweight and very thin toddlers in Lampung Province based in 2018 is 11.8%. According to the Strategic Plan of the West Lampung District Health Office 2017-2022 the percentage of achievement is 1.41%.Purpose: To find out the improvement of the nutritional status of toddlers through the consumption of moringa leaves (Moringa oleifera L.) during the covid19 pandemic.Method: This type of research is Quasi Experiment (pseudo-experimental design) with one group pretest and posttest design. The population in this study was all toddlers who experienced undernutrition status in Suka Jaya Village and the sample was a population that met the inclusion criteria of 20 people.Results: The analysis there is effect of moringa leaves(Moringa oleifera L.)on the increase in nutritional status of children aged 4-5 years before and after the intervention is carried out statistical tests, namely the T-Test One Sample Test. Statistical test results showed the value of p-value = 0.000 (p<0.05) after the intervention of the nutritional status of children increased by 0.9.Conclusion: From the results of the study concluded that it was obtained an increase in nutritional status with the provision of moringa leaves (Moringa oleifera L.).Keywords: Nutritional Status; Moringa Leaves; Toddlers; Covid19 PandemicPendahuluan: Data menunjukkan bahwa lebih dari setengah kasus status gizi kurang di dunia terjadi di Asia Tenggara yaitu sebanyak 27,6% atau 5,2 juta. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyatakan prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada Balita, sebanyak 3,9% balita dengan gizi buruk dan 13,8% gizi kurang. Prevalensi balita kurus dan sangat kurus di Provinsi Lampung berdasarkan Riskesdas 2018 adalah 11,8% . Menurut Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Barat 2017-2022 presentase capaian adalah sebesar 1,41%.Tujuan: Untuk mengetahui peningkatan status gizi balita melalui pemberian daun kelor (Moringa Oleifera L.) pada masa pandemi covid19.Metode :Jenis penelitian ini adalah Kuasi Eksperimen (rancangan eksperimen semu) dengan desain One Group Pretest and Posttest. Populasinya seluruh ibu dan balita yang mengalami status gizi kurang di Desa Suka Jaya dan sampelnya yang memenuhi kriteria inklusi yaitu sebanyak 20 partisipan.Hasil: Ada pengaruh pemberian daun kelor (Moringa Oleifera L.) terhadap kenaikan status gizi anak usia 4-5 tahun sebelum dan sesudah intervensi dilakukan uji statistik yaitu Uji T-Test One Sample Test. Hasil uji statistik menunjukan nilai p value = 0.000 (p<0.05) setelah dilakukan intervensi status gizi anak mengalami kenaikan 0.9.Simpulan: Didapatkan peningkatan status gizi dengan pemberian daun kelor (Moringa Oleifera L.).
Pemenuhan asupan gizi pada masyarakat “suku anak dalam (SAD)” yang menderita penyakit infeksi
Listautin Listautin;
Mila Triana Sari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/hjk.v17i3.10249
Background: Infectious diseases in Jambi Province are still a health problem that is ranked second out of the ten largest diseases. Prevention of infectious diseases still needs to be done to reduce the increase in morbidity, namely by fulfilling nutritional intake.Purpose: To identify the relationship between the compliances of nutritional intake in the "tribe of suku anak dalam (SAD)” community who suffers from infectious diseasesMethod: Quantitative by using cross-sectional design. The population in this study is the inner tribe community with a sample of 33 respondents. Sampling was done by means of Simple Random Sampling. The research was conducted in the Work Area of the Pematang Kabau Health Center, Jambi Province, in October 2022. Data analysis used univariate analysis and bivariate analysis, namely the chi square test.Results: Fulfilment of good nutritional intake for the presence of infectious diseases was found to be less, namely as many as 3 respondents (13.6 percent) than respondents with poor nutritional intake, found as many as 19 respondents (86.4 percent). While the fulfillment of good nutrition in the absence of infectious diseases was 6 respondents (54.5 percent) more than poor nutritional intake in the absence of infectious diseases by 5 respondents (45.5 percent).Conclusion: p-value 0.005 (> 0.05) which means that there is a significant relationship between the fulfillment of nutritional intake and infectious diseases.Keywords: Compliances; Nutritional Intake; Tribe Of Suku Anak Dalam (SAD); Community; Infectious DiseasesPendahuluan: Penyakit infeksi di Provinsi Jambi masih menjadi masalah kesehatan yang menduduki peringkat kedua dari sepuluh penyakit terbesar. Pencegahan penyakit infeksi masih sangat perlu dilakukan untuk menekan bertambahnya angka kesakitan yaitu dengan pemenuhan asupan gizi.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pemenuhan asupan gizi pada masyarakat “suku anak dalam (SAD)” yang menderita penyakit infeksiMetode: Kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah komunitas SAD dengan jumlah sampel 33 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara Simple Random Sampling. Penelitian di lakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Pematang Kabau Provinsi Jambi pada Oktober 2022. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat yaitu uji chi square. Hasil: Pemenuhan asupan gizi baik terhadap adanya penyakit infeksi yang diderita ternyata lebih sedikit yaitu sebanyak 3 responden (13.6 persen) daripada responden dengan asupan gizi tidak baik didapatkan sebanyak 19 responden (86.4 persen). Sedangkan pemenuhan gizi baik terhadap tidak ada penyakit infeksi sebanyak 6 responden (54.5 persen) lebih banyak daripada asupan gizi tidak baik terhadap tidak adanya penyakit infeksi sebanyak 5 responden (45.5 persen). Simpulan: P value 0.005 (>0.05) yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara pemenuhan asupan gizi terhadap penyakit infeksi.
Pemberian ASI eksklusif dan kelengkapan vaksinasi dasar terhadap kejadian stunting
Irwan Ashari;
Eddy Silamat;
Arifah Septiane Mukti;
Lea Ingne Reffita;
Diki Prayugo Wibowo
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/hjk.v17i3.10242
Background: One of the health problems is the high prevalence of stunting in toddlers. The main cause of stunting is nutrition. Early prevention efforts are needed to overcome stunting.Purpose: To determine the effect of exclusive breastfeeding and complete basic vaccination on the incidence of stunting.Method: A cross-sectional design was used in this study. Samples were taken from 80 respondents with purposive sampling techniques. Questionnaires are used as research instruments. The analysis used is the chi-square test.Results: Showed that there was a significant effect between exclusive breastfeeding on the incidence of stunting in toddlers (p = 0.001 and OR = 7.050 CI 95% = 2.150-23.117). There was a significant effect between complete basic vaccination on the incidence of stunting in toddlers (p = 0.039 and OR = 3.667 CI 95% = 1.191-11.285).Conclusion: Toddlers who are stunted are caused by the non-provision of exclusive breastfeeding at the age of 0-6 months and incomplete basic vaccination.Suggestion: To health workers to further educate cadres and the public about the importance of exclusive breastfeeding and complete basic vaccination, as an effort to prevent stunting.Keywords: Stunting; Exclusive Breastfeeding; Basic vaccination; Toddlers.Pendahuluan: Permasalahan kesehatan salah satunya adalah tingginya prevalensi kejadian stunting pada balita. Penyebab utama stunting adalah gizi. Upaya pencegahan sejak dini sangat diperlukan untuk penanggulangan stunting.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pemberian ASI eksklusif dan kelengkapan vaksinasi dasar terhadap kejadian stunting.Metode: Desain cross-sectional digunakan pada penelitian ini dengan sampel diambil sebanyak 80 responden dengan teknik purposive sampling. Kuesioner yang digunakan sebagai instrument penelitian. Analisis yang digunakan adalah uji chi-square.Hasil: Didapatkan ada pengaruh signifikan antara ASI eksklusif terhadap kejadian stunting pada balita (p=0,001 dan POR=7,050 CI 95%=2,150-23,117). Ada pengaruh signifikan antara kelengkapan vaksinasi dasar terhadap kejadian stunting pada balita (p=0,039 dan POR=3,667 CI 95%=1,191-11,285).Simpulan: Balita yang mengalami stunting disebabkan oleh tidak diberikannya ASI eksklusif saat berumur 0-6 bulan dan tidak lengkapnya vaksinasi dasar.Saran: Disarankan kepada tenaga kesehatan untuk lebih meningkatkan edukasi kepada kader dan masyarakat tentang pentingnya memberikan ASI eksklusif dan memberikan vaksinasi dasar secara lengkap, sebagai upaya pencegahan stunting.
Dukungan keluarga terhadap kemandirian anak usia dini dengan retardasi mental
Iwal Iwal;
Rahma Elliya;
Teguh Pribadi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/hjk.v17i3.9228
Background: Mentally retarded children need training and guidance so they can carry out activities independently. Families encourage training and guidance from formal education and informal education. Family support provided is very important because it can help independence in fulfilling their needs according to their age level, although it is much different compared to children who have no mental retardation.Purpose: To identify family support for the independence of children with mental retardationMethod: This research was conducted at the Dharma Bhakti Dharma Pertiwi Beringin Raya Bandar Lampung SLB Foundation, and this research was conducted in January 2022, with a total population of 78 respondents whose parents (mothers or fathers) from early childhood (4-6 years) have mental retardation. The questionnaire is as family support and several levels of parental observation of the child's independence in carrying out his daily activities. Data analysis using univariate and bivariate using chi-square tests.Results: Most family support with the good family category is 52 respondents (66.7%). The most independent in the category of doing it right 49 respondents (62.8%).Conclusion: There is a relationship between family support for the independence of children with mental retardation in SLB Dharma Bakti Dharma Pertiwi Kemiling, Bandar Lampung City in 2022 with a p-value of 0.000 (<0.05).Keywords: Family Support; Children; Independence; Mental RetardationPendahuluan: Anak dengan retardasi mental membutuhkan pelatihan dan bimbingan agar mereka dapat melakukan aktivitas secara mandiri. Keluarga mendorong pelatihan dan bimbingan dari pendidikan formal dan pendidikan informal. Dukungan keluarga yang diberikan sangat penting karena dapat membantu kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya sesuai dengan tingkat usianya, walaupun jauh berbeda dengan anak yang tidak mengalami retardasi mental.Tujuan: Mengidentifikasi dukungan keluarga terhadap kemandirian anak dengan retardasi mentalMetode: Penelitian ini dilakukan di SLB Yayasan Dharma Bhakti Dharma Pertiwi Beringin Raya Bandar Lampung, dan penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2022, dengan jumlah populasinya 78 respondennya orangtua (ibu atau ayah) dari anak usia dini (4-6 tahun) yang mengalami mental retardasi. Kuesioner berupa dukungan keluarga dan beberapa tingkat observasi orangtua terhadap kemandirian anak tersebut dalam melakukan aktifitas hariannya. Analisa data menggunakan univariat dan bivariat menggunakan uji chi square.Hasil: Dukungan keluarga terbanyak dengan kategori keluarga baik 52 responden (66,7%).Kemandirian terbanyak dengan kategori melakukan dengan tepat 49 responden (62,8%).Simpulan: Terdapat hubungan dukungan keluarga terhadap kemandirian anak dengan retardasi mental di slb dharma bakti dharma pertiwi kemiling kota bandar lampung tahun 2022 dengan nilai p-value 0,000 (<0.05).
Faktor genetik dan kebiasaan merokok terhadap kejadian hipertensi
Sumarni Sumarni;
Lisa Mustika Sari;
Haidir Syafrullah;
Nurul Jannatul Wahidah;
Antonius Rino Vanchapo
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/hjk.v17i3.10246
Background: Hypertension is still a health problem in Indonesia, especially in Bandung. The increase in hypertension cases can be caused by unhealthy lifestyles.Purpose: To determine the genetic factors and smoking habits on the incidence of hypertension.Method: This study used a cross-sectional design. The population of this study is a productive age community, which is between 15-60 years. The sample technique in this study used accidental sampling techniques and obtained samples of 67 people. The instrument used is a questionnaire. Data analysis using chi-square test.Results: More than half of respondents smoke (53.7 percent), most respondents have no family history of hypertension (55.2 percent), and more than half of respondents suffer from hypertension (52.2 percent). The variables that affect the incidence of hypertension are smoking (p = 0.005 and OR = 4.773 (1.696-13.427) and history of hypertension (p = 0.033 and OR = 2.933 (1.075-8.001).Conclusion: Smoking habits are at risk of suffering from hypertension by 4.7 times greater than people who do not smoke and people who have a genetic of hypertension are at risk of suffering from hypertension by 2.9 times greater than people who have no family history of hypertension.Suggestion: It is recommended to people who smoke in order to stop smoking. Mainly are those who have a family history of hypertension.Keywords: Hypertension; Smoking; History of Hypertension.Pendahuluan: Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, khususnya di Kota Bandung. Peningkatan kasus hipertensi dapat disebabkan oleh gaya hidup masyarakat yang tidak sehat.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh faktor genetik dan kebiasaan merokok terhadap kejadian hipertensiMetode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan populasinya adalah masyarakat usia produktif yaitu antara 15-60 tahun. Teknik sampel pada penelitian ini menggunakan Teknik accidental sampling dan didapatkan sampel sebanyak 67 orang. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi-square.Hasil: Lebih dari setengah responden merokok (53,7 persen), sebagian besar responden tidak memiliki faktor genetik hipertensi dalam keluarga (55,2 persen), dan lebih dari setengah responden menderita hipertensi (52,2 persen). Variabel yang berpengaruh terhadap kejadian hipertensi adalah merokok (p=0,005 dan OR=4,773 (1,696-13,427) dan faktor genetik hipertensi (p=0,033 dan OR=2,933 (1,075-8,001).Simpulan: Orang merokok berisiko menderita hipertensi sebesar 4,7 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak merokok dan orang yang ada faktor genetik berisiko menderita hipertensi sebesar 2,9 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak ada faktor genetik hipertensi pada keluarga.Saran: Disarankan kepada masyarakat yang merokok agar dapat berhenti merokok. Utamanya adalah mereka yang memiliki faktor genetik hipertensi pada keluarga.
Kecemasan pada warga binaan pemasyarakatan menjelang bebas: Literatur review
Neli Hartini;
Nur Oktavia Hidayati;
Iceu Amira
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/hjk.v17i3.9401
Background: Anxiety is a feeling where a person feels uncomfortable and afraid of a situation in the future. Anxiety can also be felt by inmates of the penitentiary before being released due to the bad stigma from society so they are afraid to return to society.Purpose: To find out the anxiety of prisoners in prison (WBP) before being released.Method: The research method uses literature studies, article searches through PubMed and Google Scholar, with the keywords anxiety, prison inmates and before being released. The inclusion criteria were articles published between 2010-2022.Results: Found seven articles that match the inclusion criteria. The anxiety felt by prisoners before being released is caused by their status as former prisoners, so that individuals feel ashamed and worried. Inmates will lose their role in the family as well as in the social environment so that inmates think it will be difficult to return to their role and to get a job after they are released from their sentence.Conclusion: Most of the articles stated that the anxiety of prisoners still greatly affects the live of prisoners in facing their freedom, so that guidance and nursing interventions are needed to reduce the anxiety of prisoners before being released as well as guidance and motivation to prepare themselves back to society.Keywords: Anxiety; Discharge; Prisoners.Pendahuluan: Kecemasan adalah suatu perasaan dimana seseorang merasa tidak nyaman dan ketakutan pada suatu keadaan di masa mendatang. Kecemasan bisa dirasakan juga oleh para warga binaan pemasyarakatan menjelang bebas dikarenakan oleh stigma yang buruk dari masyarakat sehingga mereka takut untuk kembali ke lingkungan masyarakat.Tujuan: Untuk mengetahui kecemasan pada warga binaan pemasyarakatan (WBP) menjelang bebas.Metode: Menggunakan studi literatur, pencarian artikel melalui PubMed dan Google Scholar, dengan kata kunci kecemasan, warga binaan pemasyarakatan dan menjelang bebas. Kriteria inklusi adalah artikel yang dipublikasikan antara tahun 2010-2022.Hasil: Ditemukan tujuh artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi. Kecemasan yang dirasakan warga binaan pemasyarakatan menjelang bebas diakibatkan oleh status sebagai mantan warga binaan pemasyarakatan, sehingga individu merasa malu dan khawatir. Warga binaan akan kehilangan perannya di dalam keluarga juga di lingkungan sosial sehingga warga binaan beranggapan akan sulit untuk mengembalikan perannya dan untuk mendapatkan pekerjaan setelah mereka terbebas dari masa hukumannya.Simpulan: Sebagian besar artikel menyatakan kecemasan pada warga binaan pemasyarakatan masih sangat mempengaruhi kehidupan warga binaan pemasyarakatan dalam menghadapi kebebasannya, sehingga sangat diperlukan bimbingan dan intervensi keperawatan untuk menurunkan kecemasan warga binaan pemasyarakatan menjelang bebas serta bimbingan dan motivasi untuk mempersiapkan diri kembali ke masyarakat.
Hubungan literasi kesehatan mental dengan trend self-diagnosis pada remaja akhir
Cinta Komala;
Akhmad Faozi;
Delli Yuliana Rahmat;
Popi Sopiah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/hjk.v17i3.10125
Background: Mental health is mentally and psychologically healthy without any disturbances, knowledge about mental health must be increased to minimize the occurrence of mental health disorders, especially among adolescents who are in the transitional phase towards adulthood, one way to increase knowledge is by carrying out health literacy mental health so that they can add insight and be able to manage mental health properly so as to avoid the tendency to self-diagnose.Purpose: To determine the relationship between mental health literacy and self-diagnose in late adolescents.Method: The research design used is quantitative with a correlation approach. Respondents in this study were 117 people. Data collection used a mental health literacy questionnaire with a validity and reliability test value of Cronbach's Alpha α = 0.764 and a self-diagnosis questionnaire with a validity and reliability test value of Cronbach's Alpha α = 0.852. Then a correlation analysis was performed using the Chi-Square test.Results: Most of the 74.4 percent of mental health literacy was in the good category, and in carrying out self-diagnose, most of the 58.1 percent were in the strong category. The results of the Chi-Square test on mental health literacy and self-diagnose are <0.000, which means there is a significant relationship.Conclusion: There is a relationship between mental health literacy and self-diagnose, meaning that good mental health literacy does not guarantee that adolescents do not carry out self-diagnosis.Keywords: Mental Health; Mental Health Literacy; Self-Diagnose; Late AdolescentsPendahuluan: Kesehatan mental merupakan sehat secara jiwa dan psikis tanpa adanya gangguan, pengetahuan mengenai kesehatan mental harus ditingkatkan untuk meminimalisir terjadinya gangguan kesehatan mental, terlebih pada kalangan remaja yang merupakan fase peralihan menuju dewasa, salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan yaitu dengan melakukan literasi kesehatan mental sehingga dapat menambah wawasan dan mampu mengelola kesehatan mental dengan baik agar menghindari kecenderungan mendiagnosa diri sendiri.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan literasi kesehatan mental dengan self-diagnosis pada remaja akhir.Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan korelasi. Responden dalam penelitian ini sebanyak 117 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner literasi kesehatan mental dengan nilai uji validitas dan reliabilitas Alpha Cronbach’s α =0,764 dan kuesioner self-diagnosis dengan nilai uji validitas dan reliabilitas Alpha Cronbach’s α = 0,852. Kemudian dilakukan analisis korelasi menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Sebagian besar 74,4 persen literasi kesehatan mental dalam kategori baik, dan dalam melakukan self-diagnosis sebagian besar 58,1 persen berkategori kuat. Hasil uji Chi-Square literasi kesehatan mental dan self-diagnosis yaitu < 0,000 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan.Simpulan: Terdapat hubungan literasi kesehatan mental dengan self-diagnosis, artinya literasi kesehatan mental yang baik tidak menjamin remaja untuk tidak melakukan self-diagnosis.
Pola asuh orang tua dengan keberhasilan toilet training pada anak usia pra sekolah
Putri Maysaroh;
Andri Yulianto;
Yusnita Yusnita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/hjk.v17i3.9864
Background: Parenting is a rule made by parents and applied to their children to form positive children's character and behavior, one of which is parenting for toilet training programs for children. Toilet training is an effort to make children independent and direct children to defecate and urinate in their proper place, namely the toilet, as well as teach children to be disciplined and responsible for themselves. The success of toilet training cannot be separated from the role of parenting, with proper parenting, children will be faster to be independent and succeed in toilet training.Purpose: To determine the relationship between parenting and improving the efficacy of an established toilet training program for pre-school-age childrenMethod: Quantitative with sectional crass design. The research sample was 43 respondents at Tunas Harapan PAUD. Data analysis used the chi-square test, which is a non-parametric comparative statistical test conducted to test the effect of two variables or measure the strength of the relationship between one variable and another.Results: The p-value = 0.012 <0.05 means that in this study there is a significant relationship between parenting style and improving the efficacy of an established toilet training program for pre-school-age children. Democratic parenting has a greater percentage of success in toilet training in preschool children, namely 77.8 percent. This shows that parenting style has an important role in shaping children's independence in implementing toilet training.Conclusion: There is a relationship between parenting parents and the success of toilet training in preschool-aged children in Early Childhood Education Tunas Harapan, Kedatuan Village, Bekri District, Central Lampung Regency.Keywords: Parenting; Toilet Training; Pre-School Children.Pendahuluan: Pola asuh merupakan peraturan yang dibuat oleh orang tua dan diterapkan kepada anaknya untuk membentuk karakter dan perilaku anak yang positif salah satunya pola asuh untuk program toilet training pada anak. Toilet training upaya dalam memandirikan dan mengarahkan anak untuk buang air besar dan kecil pada tempatnya yaitu toilet serta mengajarkan anak untuk disiplin dan bertanggungjawab atas dirinya. Keberhasilan toilet training tidak terlepas dari peran pola asuh orang tua dengan pola asuh yang tepat, anak akan lebih cepat untuk mandiri dan berhasil dalam toilet training.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan keberhasilan toilet training pada anak usia pra sekolah di Paud Tunas Harapan Desa Kedatuan Kecamatan Bekri Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2022.Metode: Kuantitatif dengan desain crass sectional. Sampel penelitian sebanyak 43 responden di PAUD Tunas Harapan. Analisis data yang digunakan uji chi square yaitu uji statistik komparatif non parametrik yang dilakukan untuk menguji pengaruh dua variabel atau mengukur kekuatan hubungan antara variabel satu dan dengan yang lain.Hasil: Didapatkan nilai p-value = 0.012 < 0.05 artinya penelitian ini ada hubungan yang signifikan pola asuh dengan keberhasilan toilet training pada anak usia pra sekolah di Paud Tunas Harapan. Pola asuh demokratis mempunyai persentase lebih besar berhasilnya terhadap toilet training pada anak usia pra sekolah yaitu 77.8 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pola asuh orang tua mempunyai peran penting dalam membentuk kemandirian anak dalam menerapkan toilet training. Simpulan: Adanya hubungan pola asuh orang tua dengan keberhasilan toilet training pada anak usia pra sekolah di Paud Tunas Harapan Desa Kedatuan Kecamatan Bekri Kabupaten Lampung Tengah.
Tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku kepala keluarga terhadap pemberantasan sarang nyamuk
Wahyudi Wahyudi;
Riski Dwi Prameswari;
Indra Surya Permana;
Devin Mahendika;
Matheus Aba
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/hjk.v17i3.10282
Background: Bandung City is a dengue-endemic city and one of the cities with the highest morbidity rate in Indonesia. Human behavior contributes greatly in controlling these mosquito breeding sites and reducing the number of mosquito populations.Purpose: To determine the level of knowledge, attitude, and behavior of head of household about mosquito nest eradicationMethod: The study design was cross-sectional and conducted at the Public health Center Ujungberung. Samples of 47 heads of household were taken using purposive sampling techniques with inclusion criteria: aged 18-60 years. The instrument used is a questionnaire, and data analysis using a chi-square test.Results: The variable that was significantly related to mosquito nest eradication behavior (p = 0.024). POR=5.6, good knowledge heads of households are 5.6 times more likely to engage in mosquito nest eradication behavior. The attitude (p = 0.001). POR=11.4, of heads of household who have a supportive attitude, are 11.4 times more likely to engage in the behavior of mosquito nest eradication.Conclusion: Lack of knowledge and poor attitude f the head of the household can cause bad behavior of the head of the household about mosquito nest eradicationSuggestion: It is also recommended that regular health education programs to promote and promote mosquito nest eradication activities as a control vector for dengue transmission.Keywords: Eradication of Mosquito Nests; Dengue; Knowledge; Attitude; Behaviour.Pendahuluan: Kota Bandung merupakan kota endemik dengue dan salah satu Kota dengan angka keterjangkitan tertinggi di Indonesia. Perilaku dan pola hidup manusia berkontribusi besar dalam pengendalian perkembangbiakan yang dapat mengurangi jumlah populasi nyamuk.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku pemberantasan sarang nyamuk.Metode: Desain studi adalah cross-sectional dilakukan di Puskesmas Ujungberung. Sampel sebanyak 47 kepala keluarga diambil menggunakan Teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi: berumur 18-60 tahun tanpa riwayat penyakit mental, dan tinggal menetap di wilayah kerja Puskesmas Ujungberung. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi-square.Hasil: Variabel yang berhubungan signifikan dengan perilaku pemberantasan sarang nyamuk adalah pengetahuan (p=0,024). POR=5,6, kepala keluarga yang berpengetahuan baik berpeluang 5,6 kali melakukan perilaku PSN dibandingkan dengan kepala keluarga yang memiliki pengetahuan kurang. Sikap berhubungan dengan pemberantasan sarang nyamuk (p=0,001). POR=11,4, kepala keluarga yang memiliki sikap mendukung berpeluang 11,4 kali melakukan perilaku PSN dibandingkan dengan kepala keluarga yang memiliki sikap kurang mendukung.Simpulan: Berprilaku yang buruk terhadap pemberantasan sarang nyamuk dapat disebabkan kurangnya pengetahuan dan didukung oleh sikap kepala keluarga yang negatif.Saran:Direkomendasikan juga agar program pendidikan kesehatan secara rutin kepada masyarakat dan menggalakkan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk sebagai pengendalian vector penularan dengue.
Konsumsi gula pasir dan konsumsi serat terhadap kejadian Diabetes Melitus
Rima January Putri Ridwan Gani;
Rahmah Rahmah;
Nini Niatullah Aliyati;
Juandri Seprianto Tusi;
Priyo Sasmito
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/hjk.v17i3.10289
Background: The incidence of diabetes in Bandung City was 43,761 cases. The high number of cases can be caused by an unhealthy lifestyle, one of which is a bad diet.Purpose: To determine the effect of sugar consumption and fiber consumption on the incidence of diabetes mellitus.Method: A case-control research design with the population of cases was people with diabetes mellitus, while the control population was people with other non-communicable diseases. The number of samples in this study was 50 case groups and 50 control groups. The sampling technique used is systematic random sampling. The data collection instrument used is a questionnaire. Data analysis using chi-square test.Results: The study respondents were excessive in consuming sugar at 58%, and more than half of respondents were consuming enough fiber at 53%. There is an effect of sugar consumption on the incidence of diabetes mellitus (p = 0.008). And there is an effect of fiber consumption on the incidence of diabetes mellitus (p = 0.005).Conclusion: The incidence of diabetes mellitus can be influenced by excessive sugar consumption and low fiber consumption.Suggestion: It is recommended to health workers to further increase education about the importance of a healthy diet.Keywords: Diabetes Mellitus; Diet; Sugar Consumption; Fiber Consumption.Pendahuluan: Kejadian diabetes di Kota Bandung sebanyak 43.761 kasus. Tingginya jumlah kasus dapat disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, salah satunya adalah pola makan yang tidak baik.Tujuan: Untuk mengetahui kebiasaan konsumsi gula pasir berlebih dan konsumsi serat terhadap kejadian diabetes melitus.Metode: Penelitian case control. Populasi kasus adalah penderita diabetes melitus, sedangkan populasi kontrolnya adalah penderita penyakit tidak menular lainnya. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 50 kelompok kasus dan 50 kelompok kontrol. Teknik sampling yang digunakan adalah systematic random sampling. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi square.Hasil: Sebagian besar responden penelitian berlebih dalam mengkonsumsi gula yaitu 58%, dan lebih dari setengah responden yang cukup konsumsi serat yaitu 53%. Kebiasaan konsumsi gula berlebih dengan kejadian diabetes melitus (p=0,008). Dan ada konsumsi serat dengan kejadian diabetes melitus (p=0,005).Simpulan: Kejadian diabetes melitus dapat dipengaruhi oleh konsumsi gula yang berlebih dan konsumsi rendah serat.Saran: Kepada tenaga kesehatan untuk lebih meningkatkan edukasi tentang pentingnya pola makan sehat.