cover
Contact Name
M. Arifki Zainaro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
jka@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Kreativitas PKM
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26150921     EISSN : 26226030     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
Jurnal Kreativitas Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) merupakan jurnal yang bertaraf nasional yang memiliki fokus utama pada pengaplikasian hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dilakukan pada masyarakat dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Lingkup bidang pengabdian kepada masyarakat antara lain meliputi pelatihan, penyuluhan, pendidikan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat berisi berbagai kegiatan penanganan dan pencegahan berbagai potensi, kendala, tantangan, dan masalah kesehatan yang ada di masyarakat. Pelaksanaan kegiatan pengabdian juga melibatkan partisipasi masyarakat dan mitra. Kegiatan pengabdian tersebut disusun dalam suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan kesehatan masyarakat. Tujuan dari publikasi jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan pemikiran konseptual atau ide-ide yang telah dicapai di bidang kesehatan.
Articles 2,400 Documents
Edukasi Kesehatan Vaksinasi Human Papilloma Virus untuk Mencegah Kanker Serviks pada Siswi di Jakarta Timur Dora Samaria; Desmawati Desmawati; Lina Ayu Marcelina; Raras Dwinova; Fauziah Mawaddah; Nevin Zhasmin Mizka
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 7 (2023): Volume 6 No 7 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i7.10105

Abstract

ABSTRAK Human Pappiloma Virus (HPV) adalah penyebab utama yang telah diidentifikasi sebagai etiologi kanker serviks. Vaksinasi HPV terbukti efektif menurunkan risiko wanita terpajan infeksi HPV. Pemerintah telah mewajibkan pemberian vaksinasi HPV gratis bagi anak sekolah untuk mencegah kanker serviks dikemudian hari, namun cakupan vaksinasi ini masih rendah karena penolakan orangtua, mitos seksualitas remaja dan berbagai kendala lainnya. Kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk edukasi kesehatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswi sekolah tentang kanker serviks dan pencegahannya melalui vaksinasi. Edukasi kesehatan diselenggarakan secara offline kepada 30 siswi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Yamas, Halim, Jakarta Timur, dengan menggunakan metode ceramah dan dilanjutkan dengan sesi diskusi. Pengetahuan peserta tentang kanker serviks dan vaksinansi HPV juga dievaluasi, baik sebelum dan sesudah pemberian materi edukasi. Kegiatan edukasi juga diselingi dengan sesi ice breaking. Sebanyak 30 siswi mengikuti kegiatan edukasi kesehatan ini. Sebelum pemberian materi, skor pretest peserta sebesar 27,30 dan terdapat peningkatan pada skor posttest menjadi 77,63 setelah edukasi diberikan. Rentang peningkatan skor pretest ke posttest sebesar 50,33 poin. Hasil paired t test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara rerata skor pretest dengan posttest (p value 0,001, CI 95%). Hasil uji statistik mengindikasikan bahwa terdapat peningkatan skor pengetahuan yang signifikan antara sebelum dengan sesudah pemberian edukasi. Dengan demikian, disimpulkan bahwa kegiatan edukasi kesehatan dapat memfasilitasi peningkatan pengetahuan siswi tentang kanker serviks dan vaksinasi HPV. Tim pengabdian kepada masyarakat mengajukan rekomendasi kepada pihak sekolah agar dapat menyelenggarakan kegiatan promosi kesehatan serupa untuk dapat meningkatkan pengetahuan efikasi diri perempuan remaja untuk mendapatkan vaksinasi HPV. Kata kunci: Kanker Serviks, Vaksinasi, Human Papilloma Virus (HPV), Remaja, Pengetahuan.  ABSTRACT Human Papilloma Virus (HPV) is the main cause that has been identified as the etiology of cervical cancer. HPV vaccination has been shown to be effective in reducing the risk of women being exposed to the HPV infection. The government has made it mandatory to provide free HPV vaccination for school children to prevent cervical cancer in the future, but the vaccination rate of this vaccination is still low due to parental refusal, myths about adolescent sexuality and various other obstacles. This community service activity in the form of health education aims to increase the knowledge of schoolgirls about cervical cancer and its prevention through vaccination. Health education was held offline for 30 female students at Yamas Junior High School (SMP) Yamas, Halim, East Jakarta, using the lecture method and followed by discussion sessions. Participants' knowledge of cervical cancer and HPV vaccination was also evaluated, both before and after giving the educational materials. Educational activities are also interspersed with ice breaking sessions. A total of 30 female students participated in educational activities. Before giving the material, the participant's pretest score was 27.3 and there was an increase in the posttest score to 77.63 after the education was given. The range of increasing pretest to posttest scores was 50.33 points. The results of the paired t test showed that there was a significant difference between the mean pretest and posttest scores (p value 0.001, 95% CI). The results of the statistical tests indicated that there was a significant increase in the knowledge score between before and after the provision of education. Thus, health education activities can facilitate increased knowledge of female students about cervical cancer and HPV vaccination. The community service team submitted recommendations to the school so that they could organize similar health promotion activities to be able to increase the knowledge and confidence or self-efficacy of teenage girls to get the HPV vaccination. Keywords: Cervical Cancer, Vaccination, Human Papilloma Virus (HPV), Adolescents, Knowledge
Peningkatan Rasa Nyaman pada Penderita Stomatitis melalui Penyuluhan Kesehatan tentang Penatalaksanaan Stomatitis dengan Pemberian Madu di Kelurahan Sukajaya Palembang Lela Aini; Lenny Astuti; Shinta Maharani; Fitri Anita
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 6 (2023): Volume 6 No 6 Juni 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i6.9985

Abstract

ABSTRAK Stomatitis (sariawan) merupakan suatu lesi atau luka kecil yang dimulai dengan sensasi terbakar atau menyengat di bagian rongga mulut seperti di dalam pipi, lidah maupun bibir (Witadiana et al., 2020). Terapi non-farmakologi pada Stomatitis diberikan sesuai dengan penyebabnya yaitu dengan mengkonsumsi suplemen atau makanan yang banyak mengandung vitamin B, C, zat besi, zinc. Salah satu terapi yang dapat digunakan dalam meningkatkan rasa nyaman pada penderita stomatitis yakni dengan pemberian suplemen madu, madu berperan dalam proses penyembuhan   luka. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang penatalaksanaan non farmakologi dalam meningkatkan rasa nyaman pada penderita stomatitis melalui pemberian madu pada ibu-ibu di Kelurahan Sukajaya khususnya di RT 09 RW 02. Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada tanggal 20 Juli 2022 di Kelurahan Sukajaya Palembang dengan jumlah 25 orang. Metode kegiatan ini adalah pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan kesehatan dengan metode ceramah dan diskusi. Materi yang diberikan memuat tentang peningkatan rasa nyaman pada penderita stomatitis melalui penyuluhan kesehatan tentang penatalaksanaan stomatitis dengan pemberian madu di Kelurahan Sukajaya Palembang. Seluruh (100%) pasien yang berkunjung di Kelurahan Sukajaya Palembang dapat memahami tentang peningkatan rasa nyaman melalui penyuluhan kesehatan tentang penatalaksanaan stomatitis dengan pemberian madu. Melalui kegiatan ini diharapkan kepada ibu-ibu khususnya RT 09 RW 02 untuk lebih memperkaya informasi tentang penatalaksanaan non farmakologi stomatitis dengan mengikuti kegiatan penyuluhan yang secara berkala yang dilakukan oleh tempat pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, meningkatkan kemampuan dalam menjaga kesehatan sistem imunologi dengan menerapkan pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin di pusat pelayanan kesehatan terdekat Kata Kunci: Water Tepid Sponge, Hipertermia, Demam Berdarah Dangue  ABSTRACT Stomatitis (sprue) is a small lesion or sore that begins with a burning or stinging sensation in parts of the oral cavity such as the cheeks, tongue or lips (Witadiana et al., 2020). Non-pharmacological therapy for Stomatitis is given according to the cause, namely by consuming supplements or foods that contain lots of vitamins B, C, iron, zinc. One of the therapies that can be used to increase the feeling of comfort in patients with stomatitis is by giving honey supplements, honey plays a role in the wound healing process. This community service activity aims to provide knowledge and understanding of non-pharmacological management through giving honey to mothers in the Sukajaya Village, especially in RT 09 RW 02. The activity was carried out on July 20 2022 in the Sukajaya Palembang Village with a total of 25 people. The method of this activity is community empowerment through health counseling with lecture and discussion methods. The material provided included increasing the feeling of comfort for stomatitis sufferers through health education about the management of stomatitis by giving honey in the Sukajaya Village, Palembang. All (100%) patients who visited Sukajaya Palembang Village could understand about increasing a sense of comfort through health education about the management of stomatitis by giving honey. Through this activity, it is hoped that mothers, especially RT 09 RW 02, will enrich information about non-pharmacological management of stomatitis by participating in regular counseling activities conducted by health service providers such as health centers, hospitals, increasing their ability to maintain the health of the immunological system by adopting a healthy lifestyle and carrying out routine health checks at the nearest health service center Keywords: Water Tepid Sponge, Hyperthermia, Dengue Hemorrhagic Fever
Edukasi Gizi Seimbang, Penilaian Status Gizi dan Pemberian Pmt Sebagai Upaya Pencegahan Stunting pada Anak Sekolah Dasar di Kabupaten Kupang Astuti Nur; Maria Goreti Pantaleon; Anita Ch Sembiring; Meirina S Loaloka
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 7 (2023): Volume 6 No 7 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i7.10057

Abstract

ABSTRAK Anak usia sekolah merupakan kelompok yang rentan mengalami masalah gizi seperti gizi kurang, stunting dan obesitas. Kabupaten Kupang menempati urutan keempat dengan kejadian stunting tertinggi di Provinsi NTT, dengan 27,4% pada balita pendek  dan 19,8% pada balita yang sangat pendek sehingga diperlukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah tersebut satunya dengan edukasi gizi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan di SD Inpres Batakte Kabupaten Kupang pada bulan mei 2023. Kegiatan     terdiri dari edukasi gizi seimbang menggunakan media food model, penilaian status gizi (TB/U) dan pemberian PMT. Peserta kegiatan ini adalah siswa kelas I-VI. Edukasi gizi menggunakan food model dapat meningkatkan pengetahuan siswa dari 54% dan menjadi 78%. Hasil penilaian status gizi (TB/U) terdapat 19% siswa yang tergolong pendek dan 9,2% siswa yang tergolong sangat pendek pada SD Inpres Batakte yang perlu menjadi perhatian pihak terkait. Rekomendasi kegiatan tindak lanjut adalah memberikan meningkatkan frekuensi edukasi dan pemantauan status gizi serta memberikan intervensi gizi yang lebih optimal untuk meningkatkan status gizi siswa. Kata Kunci: Stunting, Food Model, PMT-AS                                                                                     ABSTRACT School-age children are a group that is vulnerable to nutritional problems such as malnutrition, stunting, and obesity. Kupang Regency is in fourth place with the highest incidence of stunting in the Province of NTT, with a proportion of 27.4% for short toddlers and 19.8% for very short toddlers, so various efforts are needed to overcome this problem, one of which is nutrition education. This community service activity was carried out at SD Inpres Batakte, Kupang Regency, in May 2023. The activity consisted of education on balanced nutrition using the media food model, assessment of nutritional status (TB/U), and provision of PMT. The participants in this activity were students in grades I–VI. Nutrition education using the food model can increase students' knowledge from 54% to 78%. The results of the nutritional status assessment (TB/U) found that 19% of students were classified as short and 9.2% of students were classified as very short at SD Inpres Batakte, which needed to be brought to the attention of related parties. The recommendation for follow-up activities is to provide nutritional interventions in the form of PMT for school children with a more optimal number and frequency to improve students' nutritional status. Keywords: Stunting, Food Model, Supplementary Feeding
Pemberdayaan Remaja dalam Pencegahan IMS/HIV-AIDS melalui PIK-KRR (Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja) Anis Nikmatul Nikmah; dhita kris prasetyanti; Rahma Kusuma Dewi; eko winarti; mayasari putri ardela; alvika awwatiszahro; fauzia laili; zulfatus saadah; elis andaresta
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 6 (2023): Volume 6 No 6 Juni 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i6.9692

Abstract

ABSTRAK Remaja yang mengalami pubertas mempunyai dorongan atau keinginan yang kuat tentang perubahan yang akan terjadi pada tubuhnya yang mulai timbul ketertarikan dengan lawan jenis. Akibat remaja sering melakukan coba-coba dalam hal seksualitas. Kelompok umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk tertular IMS adalah kelompok remaja sampai dewasa muda sekitar usia (15-24 tahun). Berbagai bentuk pendidikan kesehatan telah dilakukan selama ini banyak dilakukan melalui media elektronik maupun media cetak, juga dilakukan secara langsung baik melalui ceramah maupun metode diskusi. Salah satu program yang dilakukan adalah melalui PIK-KKR. Tujuan dalam pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan remaja dlam pencegahan IMS/HIV-AIDS melalui PIK-KKR (Pusat Informasi dan Konseling kesehatan Reproduksi Remaja) Metode pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah pemberdayaan organisasi PIK-KKR, pendampingan PIK-KKR dalam rangka penyebaran dan peningkatan pemahaman remaja tentang pencegahan IMS/HIV-AIDS. Kepengurusan PIK-KKR yang ada di SMA N 1 Kadat Kabupaten Kediri diikuti oleh siswa siswi kelas X dan XI sejumlah 10 anggota.pelaksanaan pendampingan peda kelompok PIK-KKR untuk meningkatkan informasi terkait kesehatan reproduksi khususnya pencegahan IMS-HIV-AIDS pada remaja. Terlaksana kegiatan penyebaran informasi tentang kesehatan reproduksi pada remaja  . Kegiatan positif pada remaja yang terintegrasi di tiap elemen masyarakat, melalui  pembentukan dan pengoptimalan  TIM PIK-KKR di setiap wilayah khususnya di sekolah sebagai salah satu bentuk peningkatan informasi kepada remaja. Kata Kunci: Remaja, PIK-KKR, Kesehatan Reproduksi, IMS, HIV-AIDS  ABSTRACT Adolescents who are experiencing puberty have a strong urge or desire about the changes that will occur in their bodies which begin to arouse interest in the opposite sex. As a result, teenagers often do trial and error in terms of sexuality. The age group that has the highest risk of contracting an STI is the adolescent to young adult age group (15-24 years). Various forms of health education have been carried out so far, mostly through electronic and print media, as well as directly through lectures and discussion methods. One of the programs implemented is through PIK-KKR. The goal in this community service is to increase youth knowledge in IMS/HIV-AIDS prevention through PIK-KKR (Information Center and Youth Reproductive Health Counseling). adolescent understanding of IMS/HIV-AIDS prevention. 10 members of the PIK-KKR management at SMA N 1 Kadat, Kediri Regency were attended by students from grades X and XI. Implementation of mentoring for the PIK-KKR group to increase information related to reproductive health, especially the prevention of STI-HIV-AIDS in adolescents. Implementation of information dissemination activities about reproductive health in adolescents. Positive activities for youth that are integrated in every element of society, through the formation and optimization of the PIK-KKR TEAM in each region, especially in schools as a form of increasing information to youth. Keywords: Adolescents, PIK-KKR, Reproductive Health, IMS, HIV-AIDS
Edukasi dan Pelatihan Pembuatan Minuman Kesehatan Temulawak untuk Peningkatan Imunitas dan Pencegahan Penyakit pada Masyarakat Rizqi Alvian Fabanyo; Irwan Guruh Agung
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 7 (2023): Volume 6 No 7 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i7.9998

Abstract

ABSTRAK Saat ini Indonesia tengah dihadapkan dengan beban tiga kali lipat berbagai masalah penyakit, mulai dari penyakit infeksi new emerging dan re-emerging, penyakit menular lama yang belum diatasi, dan penyakit tidak menular. Sehingga perlunya peningkatan kesehatan masyarakat melalui berbagai cara yang positif sebagai upaya pencegahan penyakit dan peningkatan imunitas tubuh. Salah satu cara yang dapat dilakukan yakni dengan cara tradisional berupa memanfaatkan tanaman obat seperti temulawak. Temulawak adalah tanaman obat yang telah terbukti dapat meningkatkan imunitas tubuh dan mencegah penyakit. Kegiatan pengabdian untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat tentang pemanfaatan temulawak sebagai peningkat imunitas tubuh dan pencegah penyakit secara mandiri. Dengan pemberian edukasi dan pelatihan pembuatan minuman kesehatan temulawak. Jumlah peserta sebanyak 50 warga di wilayah kerja Puskesmas Sorong Barat. Kegiatan dilaksanakan selama 1 hari diikuti dengan kegiatan follow up 7 hari setelah pemberian edukasi dan pelatihan. Berdasarkan hasil evaluasi pengetahuan terjadi peningkatan pengetahuan dari 50 peserta setelah diberikan edukasi dan pelatihan yakni sebanyak 37 (74%) dengan pengetahuan baik, 13 (25%) dengan pengetahuan cukup dan tidak terdapat peserta dengan pengetahuan kurang. Sedangkan untuk hasil evaluasi keterampilan terjadi peningkatan keterampilan yang baik  pada peserta ditandai dengan peserta mencoba membuat minuman kesehatan di rumah dengan paket minuman kesehatan temulawak yang dibagikan, dan beberapa masyarakat telah mencoba menerapkan untuk dikonsumsi sehari-hari. Kegiatan pengabdian berjalan dengan baik dan lancar. kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat tentang pemanfaatan temulawak dan pembuatan minuman kesehatan temulawak secara mandiri. Kata Kunci: Temulawak, Minuman Kesehatan, Peningkat Imunitas  ABSTRACT Currently, Indonesia is facing the triple burden of various disease problems, ranging from new emerging and re-emerging infectious diseases, old infectious diseases that have not been treated, and non-communicable diseases. That’s necessary to improve public health through various positive ways as an effort to prevent disease and increase immunity. One way that can be done is the traditional way of utilizing herbal plants such as temulawak. Temulawak is an herbal plant that has been proven to increase immunity and prevent disease. To increase community knowledge and skills regarding the use of temulawak as an immune booster and disease prevention. By giving education and training for making temulawak healthy drinks. The number of participants was 50 residents in the working area of the West Sorong Community Health Center. The activity was carried out for 1 day followed by a 7-day follow-up after giving education and training. Based on the results of the knowledge evaluation, there was an increase in the knowledge of 50 participants after being given education and training, namely 37 (74%) had good knowledge, 13 (25%) had sufficient knowledge and there were no participants with poor knowledge. As for the results of the skills evaluation, there was a good increase in the skills of the participants as indicated by the participants trying to make healthy drinks at home with the temulawak health drink packages that were distributed, and some communities have tried to apply them for daily consumption. This activities run well and smoothly. This activity can increase the community's knowledge and skills regarding the use of temulawak and the making of temulawak health drinks independently. Keywords: Temulawak, Healthy Drinks, Immune Booster
Hubungan Faktor Perilaku Terhadap Peningkatan Pencegahan Kanker Serviks Melalui Test Iva di Lapas Perempuan II A Kota Bandar Lampung Wayan Aryawati; Suharman Suharman; Fitri Eka Sari Siregar; Angkas Mandala Putra; Evi Herlinda
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 7 (2023): Volume 6 No 7 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i7.9713

Abstract

ABSTRACT Currently, cervical cancer is a health problem with a high number of cases in the world, including in Indonesia. The prevalence of cervical cancer in various regions in Indonesia varies, several behavioral factors that increase cancer prevention include education, employment, medical history, environmental factors, personal hygiene, knowledge, health support, and attitudes. The community service carried out aims to educate prison inmates regarding prevention that can be carried out for cervical cancer and conduct an analysis to see whether the factors considered related to other research are also related to community service carried out in the Bandar Lampung women's prison. Community service is carried out by providing counseling to residents regarding prevention carried out to reduce cervical cancer cases. By using power point as a medium for making presentations presented by Masters students. Furthermore, citizens are also given the opportunity to ask questions about cervical cancer and its prevention. Giving a questionnaire as one of the feedback regarding what was explained, as well as to see the extent of preventive behavior that has been carried out by citizens. It was found that prison residents got new benefits, namely knowledge related to cervical cancer with the education provided. From the data analysis conducted, it is known that there is no relationship between education, employment, medical history, environmental factors, personal hygiene, knowledge, support, and attitudes of citizens with cervical cancer prevention behavior. Conclusions and suggestions: cervical cancer is a non-communicable disease that has a high number of cases and can cause death in women, so the prevention that must be done is to improve women's behavior to reduce the risk of cervical cancer. Keywords: Cervical Cancer, Behavior, Prevention  ABSTRAK Saat ini kanker serviks merupakan masalah kesehatan dengan angka kasus yang cukup tinggi di dunia termasuk juga di Indonesia. Prevalensi kanker serviks di berbagai daerah di Indonesia berbeda-beda, beberapa faktor perilaku yang meningkatkan pencegahan kanker diantaranya seperti pendidikan, pekerjaan, riwayat kesehatan, faktor lingkungan, personal hygine, pengetahuan, dukungan nakes, dan sikap. Pada pengabdian masyarakat yang dilakukan bertujuan untuk melakukan edukasi terhadap penghuni lapas terkait pencegahan yang dalat dilakukan untuk penyakit kanker serviks serta melakukan analisis untuk melihat apakah faktor-faktor yang dinilai berhubungan pada penelitan lainnya juga berhubungan pada pengabdian masyarakat yang dilakukan di lapas wanita Bandar Lampung. Pengabdian masyarakat dilakukan dengan memberikan penyuluhan kepada warga lapas terkait pencegahan yang dilakukan untuk menurunkan kasus kanker serviks. Dengan menggunakan power point sebagai media untuk melakukan presentasi yang paparkan oleh mahasiswa S2. Selanjutnya warga lapas juga diberikan kesempatan untuk bertanya seputar kanker serviks dan pencegahannya. Memberikan kuesioner sebagai salah satu timbal balik terkait apa yang di jelaskan, serta untuk melihat sejauh mana perilaku pencegahan yang telah dilakukan oleh warga lapas. Didapatkan bahwa warga lapas mendaptkan manfaat baru yaitu pengetahuan terkait kanker serviks dengan edukasi yang diberikan. Dari analisis data yang dilakukan diketahui bahwa tidak terdapat hubungan antara pendidikan, pekerjaan, riwayat kesehatan, faktor lingkungan, personal hygine, pengetahuan, dukungan nakes, dan sikap warga lapas dengan perilaku pencegahan kanker serviks. Kanker serviks adalah salah satu penyakit tidak menular yang memiliki angka kasus tinggi dan dapat menyebabkan kematian untuk wanita, maka pencegahan yang harus dilakukan adalah dengan meningkatkan perilaku wanita untuk mengurangi resiko terkena kanker serviks. Kata Kunci: Kanker Serviks, Perilaku, Pencegahan
Optimalisasi SDIDTK melalui Peningkatan Literasi Kesehatan Mental Maternal di Posyandu Melati Kabupaten Bogor Nurulicha Nurulicha; Perwitasari Perwitasari; Sinta Dwi Juwita; Dina Martha Fitri
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 7 (2023): Volume 6 No 7 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i7.10153

Abstract

ABSTRAK Periode kritis untuk pertumbuhan dan perkembangan anak berada pada usia 0-6 tahun, sehingga masa tersebut disebut periode usia emas. Masalah tumbuh kembang pada anak-anak yang tinggal di negara berkembang menjadi pusat kesehatan dunia, khususnya masalah sunting. Masalah kesehatan di komunitas  muncul setelah dilaksanakan penelitian di wilayah dimana pengabdian masyarakat ini dilakukan. Hasil penelitian melaporkan lebih dari 40% bayi usia 0-36 bulan pada penelitian ini mengalami masalah perkembangan. Skrining tersebut dilakukan dengan menggunakan instrumen KPSP. Untuk mengurangi masalah tersebut, pengabdian masyarakat dilakukan dengan tujuan meningkatkan literasi kesehatan mental maternal dalam upaya meningkatkan pengetahuan tentang SDIDTK (Stimulasi, Deteksi, Intervensi Dini Tumbuh Kembang). Metode pelaksanaan kegiatan ini yaitu memberikan penyuluhan tentang kesehatan mental maternal dan SDIDTK pada 10 ibu yang memiliki anak usia 0-5 tahun di wilayah Posyandu Melati Desa Citapen Bogor. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan yaitu kuesioner pre-test dan post-test. Hasil pengabdian masyarakat yang menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang pertumbuhan dan perkembangan dari skor rata-rata 8.4 menjadi 8.6. dan tingkat pengetahuan ibu tentang kesehatan mental  juga meningkat dari skor rata-rata 8.7 menjadi 9.3. Dari kegiatan penyuluhan ini diharapkan mampu meningkatkan literasi kesehatan mental dan pengetahuan SDIDTK pada peserta agar para ibu dapat memiliki kesadaran tinggi untuk mengontrol pertumbuhan dan perkembangan anaknya melalui Posyandu/Puskesmas sehingga kasus setunting di Kabupaten Bogor dapat dicegah. Disarankan pada kegiatan pengabdian masyarakat selanjutnya agar menjangkau sasaran lebih luas. Kata Kunci: Tumbuh Kembang Anak, Kesehatan Mental, Maternal  ABSTRACT Critical period for child growth and development occur between age 0- 6 years old, thus this stage is known as golden age  period.  Growth and development issues   among children  living in  developing countries  are considered as global health   focus, especially stunting issue. The health problem  in the community emerged after a study  had been conducted in the area where community service took place. The study result reported that  more than  fourty percent of the babies aged 0-36 who took part  in the study  were   having developmental  problems. The screening was carried out with the use of KPSP instrument. To reduce this problem, the community service which aimed at enhancing maternal mental health literacy and improving  knowledge on  SDIDTK were implemented. The implementation method was education about maternal mental health and SDIDTK to 10 mothers who have baby age 0-5 years old at Posyandu Melati Citapen Village Bogor. To assess level of knowledge, pre and post-test questionnaire were distributed. The result showed that level of mother knowledge on child’s growth and development increased from 8.4  to 8.6, and knowledge on mental health rose from 8.7 to 9.3. It is expected that this community service could enhance maternal mental health literacy and SDIDTK knowldge thus mothers have high awareness to monitor their children’s growth and development through Posyandu/Puskesmas (community health center) in hope that the  cases of stunting  in Bogor Regency  could be averted. Future similar community service should be able to reach wider community.  Keywords: Child Growth And Development, Maternal, Mental Health
Kemandirian Masyarakat dalam Pencegahan dan Deteksi Dini Diabetic Foot Ulcer (DFU) pada Penderita Diabetes Melitus di Desa Pulau Lemukutan Kecamatan Sungai Raya Kepulauan Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat Defa Arisandi; Mimi Amaludin; Debby Hatmalyakin; Fauzan Alfikrie; Uti Rusdian Hidayat; Ali Akbar; Nurpratiwi Nurpratiwi
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 7 (2023): Volume 6 No 7 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i7.10091

Abstract

ABSTRAK         Deteksi dini risiko DFU dapat dilakukan dengan memeriksa kaki secara teratur dan mendeteksi jika terdapat luka atau sesuatu yang mencurigakan. Dengan demikian, hal tersebut dapat mencegah munculnya luka bahkan meminimalisir terjadinya luka yang berkembang menjadi ulkus. Lemukutan merupakan daerah pesisir yang mayorits masyarakat berprofesi sebagai nelayan yang mana konsep ini berarti masyarakat sangat memanfaatkan potensi laut untuk kehidupan sehari dan peningkatan kesejahteraan yang sejalan dengan negara Indonesia sebagai negara kemaritiman. Salah satu yang paling berpengaruh masyarakat pulau lemukutan cenderung mengkonsumsi hanya hasil lautan salah satunya rumput laut yang dibikin manisan yang jelas mengandung kadar gula yang tinggi yang merupakan salah satu faktor penyebab diabetes melitus. Tujuan pengabdian kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan dalam melakukan upaya pencegahan dan deteksi dini sehingga menimalisir resiko terjadinya penyakit tersebut. Metode palaksanaan pengabdian kepada masyarakat adalah penyuluhan tentang pencegahan dan deteksi dini diabetic foot ulcer (DFU) kepada masyarakat Desa Pulau Lemukutan. Hasil pengabdian kepada masyarakat didapatkan data sebelum diberikan edukasi dan latihan tentang kemandirian masyarakat dalam pencegahan dan deteksi dini diabetic foot ulcer  (DFU) pada penderita diabetes melitus sebagian besar peserta memiliki pengetahuan dan kemampuan pada kategori rendah yaitu 86,6%, kategori sedang yaitu 13,3% dan kategori tinggi yaitu 0 %. Sedangkan setelah diberikan edukasi dan latihan tentang kemandirian masyarakat dalam pencegahan dan deteksi dini diabetic foot ulcer (DFU) pada penderita diabetes melitus diperoleh pengetahuan dan kemampuan pada kategori sedang yaitu 73,3,7% dan kategori tinggi yaitu 16,6 % dan kategori rendah yaitu 10%. Hasil pengabdian kepada masyarakat menjelaskan bahwa kemandirian masyarakat dalam pencegahan dan deteksi dini diabetic foot ulcer  (DFU) pada penderita diabetes mellitus dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat. Kata Kunci : Diabetic Foot Ulcer (DFU), Deteksi Dini, Edukasi,  Pengetahuan    ABSTRACT Early detection of the risk of DFU can be done by checking the feet regularly and detecting if there is a wound or something suspicious. Thus, it can prevent the appearance of wounds and even minimize the occurrence of wounds that develop into ulcers. Lemukutan is a coastal area where the majority of people work as fishermen, which means that the community utilizes the potential of the sea for daily life and welfare improvement in line with Indonesia as a maritime country. One of the most influential people on the island of Lemukutan tends to consume only marine products, one of which is seaweed made into sweets which clearly contains high sugar levels which is one of the factors causing diabetes mellitus. The purpose of community service is to increase awareness and ability to make prevention and early detection efforts so as to minimize the risk of the disease. The method of implementing community service is counseling on the prevention and early detection of diabetic foot ulcer (DFU) to the people of Lemukutan Village. The results of community service obtained data before being given education and training about community independence in the prevention and early detection of diabetic foot ulcers (DFU) in patients with diabetes mellitus most participants had knowledge and abilities in the low category, namely 86.6%, medium category, namely 13.3% and high category, namely 0%. Meanwhile, after being given education and training on community independence in the prevention and early detection of diabetic foot ulcer (DFU) in patients with diabetes mellitus, knowledge and abilities were obtained in the moderate category, namely 73.3.7% and the high category, namely 16.6% and the low category, namely 10%. The results of community service explain that community independence in the prevention and early detection of diabetic foot ulcer (DFU) in patients with diabetes mellitus can increase community knowledge and abilities. Keywords: Diabetic Foot Ulcer (DFU), Early Detection, Education, Knowledge
Implementasi Edukasi dan Senam Hipertensi pada Keluarga Binaan Vera Iriani Abdullah; Endang Jayanti Rumayomi; Rizqi Alvian Fabanyo
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 6 (2023): Volume 6 No 6 Juni 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i6.9981

Abstract

ABSTRAK Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang menjadi masalah kesehatan yang sangat serius saat ini. Hipertensi yang tidak terkontrol dan ditangani dengan tepat dapat berkomplikasi dan menyebabkan kematian. Upaya Penanganan hipertensi dapat dilakukan dengan terapi farmakologis dan non farmakologis. Terapi  non farmakologis yaitu dengan menjaga pola makan, mengurangi kelebihan berat badan dan perubahan gaya hidup  seperti  melakukan olahraga, salah satunya  dengan senam hipertensi yang bertujuan  membantu memperlancar aliran oksigen otot jantung sehingga membantu menurunkan tekanan darah. Rendahnya pengetahuan masyarakat berpengaruh terhadap perilaku masyarakat dalam menangani hipertensi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hipertensi dan senam hipertensi serta memampukan masyarakat melakukan senam hipertensi secara mandiri. Pemberian edukasi dengan penyuluhan tentang hipertensi dan  demonstrasi langsung senam hipertensi bersama masyarakat. Kegiatan dilaksanakan  selama 1 hari dengan melibatkan 50 orang masyarakat yang merupakan keluarga binaan. Secara signifikan kegiatan ini meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit hipertensi serta bagaimana penanganannya dengan senam hipertensi. Kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat dan memampukan masyarakat secara mandiri melakukan senam hipertensi. Serta disarankan kepada masyarakat untuk rutin melakukan pemeriksaan tekanan darah ke puskesmas, jika terdiagnosis meminum obat secara teratur dan melakukan senam hipertensi minimal  2x seminggu secara mandiri. Kata Kunci: Hipertensi, Edukasi, Senam Hipertensi   ABSTRACT Hypertension is a non-communicable disease which is a very serious health problem today. Hypertension that is not controlled and handled properly can be complicated and cause death. Efforts to treat hypertension can be done with pharmacological and non-pharmacological therapy. Non-pharmacological therapy, namely by maintaining a diet, reducing excess weight and lifestyle changes such as doing sports, like hypertension gymnastics which aims to help facilitate the flow of oxygen to the heart muscle so that it helps reduce blood pressure. Low public knowledge influences people's behavior in dealing with hypertension. This community service activity is to increase public knowledge about hypertension and hypertension gymnastics and enable people to do hypertension gymnastics independently. Providing education with counseling about hypertension and direct demonstrations of hypertension gymnastics with the community. The activity was carried out for 1 day involving 50 community members who were fostered families. Significantly this activity increases public knowledge about hypertension and how to handle it with hypertension gymnastics. This activity can increase people's knowledge and enable people to independently do hypertension exercises. It is also suggested to the public to routinely check blood pressure at the health center, if diagnosed, take medication regularly and do hypertension exercises at least 2x a week independently. Keywords: Hypertension, Education, Hypertension Gymnastics
Model Pembelajaran Tari dalam Program “Belajar Bersama Maestro” untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa Mellany Octa Salsabila Sugiarto; Setyo Yanuartuti; Indar Sabri
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 7 (2023): Volume 6 No 7 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i7.10337

Abstract

ABSTRAK Belajar Bersama Maestro merupakan sebuah program pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara langsung dari maestro atau seseorang yang memiliki kompetensi di bidang seni. Program ini memungkinkan siswa untuk terlibat dalam proses pembelajaran secara kreatif. Tujuan penelitian ini untuk memaparkan model pembelajaran tari dan kreativitas siswa dalam program Belajar Bersama Maestro. Metode yang digunakan deskriptif kualitatif dengan sumber data diperoleh dari ibu Retno Maruti dan siswa yang mengikuti program tersebut. Analisis data menggunakan pengumpulan data, pengelompokan data dan pemeriksaan keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran menggunakan ekspositori dan berbasis proyek untuk mencapai hasil yang optimal. Dalam menggunakan model pembelajaran ekspositori, siswa belajar gerakan dasar tari Rantaya dan tari Kumolo Bumi dengan cara yang sistematis dan terstruktur. Maestro sebagai instruktur menyampaikan materi dengan jelas dan bertahap kepada siswa. Sementara itu, model pembelajaran berbasis proyek diimplementasikan melalui pementasan akhir program. Pementasan ini melibatkan penggunaan materi yang telah diajarkan oleh maestro, serta penampilan tarian daerah masing-masing siswa. Model pembelajaran ini berhasil mendorong kreativitas siswa untuk tetap mengapresiasi seni. Bukti keberhasilannya terlihat dari statistik peserta program Belajar Bersama Maestro, 30% siswa memilih melanjutkan pendidikan tinggi di bidang seni, 20% siswa tetap aktif dalam kegiatan seni setelah program berakhir, dan 50% siswa terus mengapresiasi dan menikmati seni. Program Belajar Bersama Maestro mampu memotivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan dalam bidang seni, tetap terlibat secara aktif dalam kegiatan seni, atau menjadi penggemar seni yang menghargai karya-karya seni. Kata Kunci: Model Pembelajaran, Tari, Belajar Bersama Maestro, Kreativitas  ABSTRACT Belajar Bersama Maestro is an educational program that provides students with the opportunity to learn directly from maestros or individuals who are competent in the field of arts. This program enables students to engage in the learning process creatively. The purpose of this research is to describe the dance learning model and the creativity of students in the Belajar Bersama Maestro program. The research method used is qualitative descriptive with data sources obtained from Ms. Retno Maruti and the students participating in the program. Data analysis involves data collection, data grouping, and data validity checking. The research findings show that the learning model utilizes both expository and project-based approaches to achieve optimal results. In the expository learning model, students learn the basic movements of Rantaya and Kumolo Bumi dances in a systematic and structured manner. The maestro, as the instructor, delivers the material clearly and gradually to the students. On the other hand, the project-based learning model is implemented through the final performance of the program. This performance involves the utilization of the material taught by the maestro, as well as the presentation of regional dances by the students. This learning model successfully stimulates students' creativity and encourages them to appreciate art. The success of the program is evident in the statistics of Belajar Bersama Maestro participants: 30% of students choose to pursue higher education in the field of arts, 20% remain actively involved in artistic activities after the program ends, and 50% continue to appreciate and enjoy art. The Belajar Bersama Maestro program motivates students to pursue education in the arts, actively engage in artistic activities, or become art enthusiasts who appreciate artistic works. Keywords: Learning Model, Dance, Belajar Bersama Maestro, Creativity

Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 1 (2026): Volume 9 Nomor 1 (2026) Vol 8, No 12 (2025): Volume 8 No 12 (2025) Vol 8, No 11 (2025): Volume 8 No 11 (2025) Vol 8, No 10 (2025): Volume 8 No 10 (2025) Vol 8, No 9 (2025): Volume 8 No 9 (2025) Vol 8, No 8 (2025): Volume 8 No 8 (2025) Vol 8, No 7 (2025): Volume 8 No 7 (2025) Vol 8, No 6 (2025): Volume 8 No 6 (2025) Vol 8, No 5 (2025): Volume 8 No 5 (2025) Vol 8, No 4 (2025): Volume 8 No 4 (2025) Vol 8, No 3 (2025): Volume 8 No 3 (2025) Vol 8, No 2 (2025): Volume 8 No 2 (2025) Vol 8, No 1 (2025): Volume 8 No 1 (2025) Vol 7, No 12 (2024): Volume 7 No 12 (2024) Vol 7, No 11 (2024): Volume 7 No 11 (2024) Vol 7, No 10 (2024): Volume 7 No 10 (2024) Vol 7, No 9 (2024): Volume 7 No 9 (2024) Vol 7, No 8 (2024): Volume 7 No 8 (2024) Vol 7, No 7 (2024): Volume 7 No 7 2024 Vol 7, No 6 (2024): Volume 7 No 6 2024 Vol 7, No 5 (2024): Volume 7 No 5 2024 Vol 7, No 4 (2024): Volume 7 No 4 2024 Vol 7, No 3 (2024): Volume 7 No 3 2024 Vol 7, No 2 (2024): Volume 7 No 2 2024 Vol 7, No 1 (2024): Volume 7 No 1 2024 Vol 6, No 12 (2023): Volume 6 No 12 2023 Vol 6, No 11 (2023): Volume 6 No 11 2023 Vol 6, No 10 (2023): Volume 6 No 10 2023 Vol 6, No 9 (2023): Volume 6 No 9 2023 Vol 6, No 8 (2023): Volume 6 No 8 2023 Vol 6, No 7 (2023): Volume 6 No 7 2023 Vol 6, No 6 (2023): Volume 6 No 6 Juni 2023 Vol 6, No 5 (2023): Volume 6 No 5 Mei 2023 Vol 6, No 4 (2023): Volume 6 No 4 April 2023 Vol 6, No 3 (2023): Volume 6 No 3 Maret 2023 Vol 6, No 2 (2023): Volume 6 No 2 Februari 2023 Vol 6, No 1 (2023): Volume 6 No 1 Januari 2023 Vol 5, No 12 (2022): Volume 5 No 12 Desember 2022 Vol 5, No 11 (2022): Volume 5 No 11 November 2022 Vol 5, No 10 (2022): Volume 5 No 10 Oktober 2022 Vol 5, No 9 (2022): Volume 5 No 9 September 2022 Vol 5, No 8 (2022): Volume 5 No 8 Agustus 2022 Vol 5, No 7 (2022): Volume 5 No 7 Juli 2022 Vol 5, No 6 (2022): Volume 5 No 6 Juni 2022 Vol 5, No 5 (2022): Volume 5 No 5 Mei 2022 Vol 5, No 4 (2022): Volume 5 No 4 April 2022 Vol 5, No 3 (2022): Volume 5 No 3 Maret 2022 Vol 5, No 2 (2022): Volume 5 No 2 Februari 2022 Vol 5, No 1 (2022): Volume 5 No 1 Januari 2022 Volume 4 Nomor 6 Desember 2021 Volume 4 Nomor 5 Oktober 2021 Volume 4 Nomor 4 Agustus 2021 Volume 4 Nomor 3 Juni 2021 Volume 4 Nomor 2 April 2021 Volume 4 Nomor 1 Februari 2021 Volume 3 Nomor 2 Oktober 2020 Volume 3 Nomor 1 April 2020 Volume 2 Nomor 2 Oktober 2019 Volume 2 Nomor 1 April 2019 Volume 1 Nomor 2 Oktober 2018 Volume 1 Nomor 1 April 2018 More Issue