cover
Contact Name
M. Arifki Zainaro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
manuju@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Manuju : Malahayati Nursing Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26552728     EISSN : 26554712     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MANUJU : Malahayati Nursing Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan
Articles 1,912 Documents
Determinan Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kepatuhan Perawat Mendokumentasikan Bundle Pencegahan Infeksi Hais di Ruang Rawat Inap Gustyaningtyas, Faradila; Gero, Sabina; Hastuti, Witri
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25065

Abstract

ABSTRACT Healthcare Associated Infections (HAIs) is one of the important indicators of hospital service quality, so documenting HAIs prevention bundles consistently becomes a crucial part of nursing practice. Poor documentation can have an impact on increased risk of infection and decreased patient safety. This study aims to analyze the influence of the caring dimension and nurse behavior system on the documentation of HAIs prevention bundles and identify the dominant factors that influence them. This study used an analytical quantitative design with a cross-sectional approach. The research sample was nurses in the inpatient unit as many as 40 respondents. Data analysis included univariate, bivariate, and multivariate analyses using logistic regression. The results of bivariate analysis showed a significant relationship between several dimensions of caring and nurse behavior systems with the documentation of bundle HAIs. However, the results of the multivariate analysis showed that  the ingestive dimension  was a simultaneous dominant factor for the documentation of HAIs bundles with the influence of  the good category of ingestive factors. This study shows that the success  of documenting HAIs prevention bundles is influenced by various interacting factors, with the ingestive dimension as the main determinant. Therefore, improving the quality of documentation of HAIs bundles needs to be focused on strengthening the cognitive abilities and professional awareness of nurses through continuous training, clinical supervision, and strengthening the culture of patient safety in hospitals. Keywords: Documentation, Caring, Behavior, Bundle HAIs.  ABSTRAK Healthcare Associated Infections (HAIs) merupakan salah satu indikator penting mutu pelayanan rumah sakit, sehingga pendokumentasian bundle pencegahan HAIs secara konsisten menjadi bagian krusial dalam praktik keperawatan. Pendokumentasian yang tidak optimal dapat berdampak pada peningkatan risiko infeksi dan penurunan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dimensi caring dan sistem perilaku perawat terhadap pendokumentasian bundle pencegahan HAIs serta mengidentifikasi faktor dominan yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah perawat di unit rawat inap sebanyak 40 responden. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara beberapa dimensi caring dan sistem perilaku perawat dengan pendokumentasian bundle HAIs. Namun, hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa dimensi ingestif merupakan faktor yang dominan secara simultan terhadap pendokumentasian bundle HAIs dengan pengaruh faktor Ingestif kategori baik. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendokumentasian bundle pencegahan HAIs dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi, dengan dimensi ingestif sebagai determinan utama. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendokumentasian bundle HAIs perlu difokuskan pada penguatan kemampuan kognitif dan kesadaran profesional perawat melalui pelatihan berkelanjutan, supervisi klinis, serta penguatan budaya keselamatan pasien di rumah sakit. Kata Kunci: Pendokumentasian, Caring, Perilaku, bundle HAIs.
Hubungan Aktvitas Fisik, Indek Massa Tubuh terhadap Asma di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur Bengkulu Wijaya, Andri Kusuma; Pratama, Muhamad Rivaldo; Andari, Fatsiwi Nunik
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25346

Abstract

ABSTRACT Asthma is an obstructive respiratory disease caused by reversible narrowing of the airways (narrowing that resolves spontaneously). Signs and symptoms include episodes of respiratory obstruction between asymptomatic intervals. However, this reversible condition can sometimes become minimally reversible (narrowing that resolves with treatment). Asthma can also be described as a condition characterized by shortness of breath. This condition demonstrates an abnormal response in the respiratory system to various stimuli, resulting in airway narrowing that can spread to other parts of the body. Asthma, in this context, can be defined as a condition characterized by pathological changes that cause airway obstruction, resulting in bronchospasm, hypersecretion of thick mucus, and mucosal edema. Asthma can recur if triggered by several factors, including environmental factors, food, emotions, and cold air. Polluted environments, such as cigarette smoke, dust, and vehicle pollution, can trigger asthma relapses. Another factor that can trigger an asthma relapse is physical activity. Physical activity, in this case, is linked to asthma attacks because when someone engages in physical activity, such as exercising without warming up or doing strenuous work, they breathe more rapidly, which increases the body's oxygen demand. Asthma attacks caused by physical activity are also known as exercise-induced bronchoconstriction. Besides physical activity, another condition that can trigger an asthma relapse is Body Mass Index (BMI). BMI in asthma patients plays a role in the development and treatment of the disease. The strong relationship between BMI and asthma severity is due to early menarche. Obese individuals have a 50% increased risk of developing asthma. Several of these conditions can trigger asthma flare-ups in severe cases. The study aims to determine the relationship between physical activity and body mass index and the severity of asthma in the Lingkar Timur Community Health Center Work Area of Bengkulu City. This research is a quantitative research using a cross-sectional research design where this design is used to see the results of the relationship between physical activity, body mass index and the severity of asthma in the Nusa Indah Community Health Center Work Area, Bengkulu City. The results of the bivariate analysis of this research activity using the chi-square statistical test showed that the relationship between physical activity and the severity of asthma had a p value of 0.000 0.05, while the relationship between body mass index and the severity of asthma had a p value of 0.000 0.05. The conclusion from the results of this research activity is that there is a relationship between physical activity and body mass index with the severity of asthma in the Working Area of the Lingkar Timur Community Health Center, Bengkulu City. Keywords: Asthma, Activity, Physical, BMI.  ABSTRAK Asma adalah penyakit obstruksi pada sistem saluran pernapasan yang disebabkan oleh adanya penyempitan pada saluran pernapasan yang bersifat reversible (penyempitan bisa menghilang dengan sendirinya) adapun tanda dan gejala penyakit ini ialah adanya episode obstruksi pada pernapasan diantara kedua interval asimtomatik. Namun ada beberapa waktunya kondisi reversible ini dapat berubah  menjadi kondisi minim reversible (penyempitan akan berkurang jika mendapatkan pengobatan). Asma dapat juga disebut sebagai kondisi serangan napas pendek. Kondisi ini memperlihatkan bahwasanya terjadi respon yang terjadi bersifat tidak normal pada sistem saluran pernapasan  terhadap berbagai kondisi rangsangan sehingga berdampak pada penyempitan jalan napas yang dapat melebar kebagian tubuh yang lain. Asma dalam hal ini dapat dikatakan sebagai kondisi dimana terjadinya perubahan secara patologis yang menyebabkan adanya sumbatan  pada jalan napas dengan penyebab bronkospasme, hipersekresi mucus yang bersifat kental dan edema mukosa. Asma dapat kambuh jika dipicu oleh beberapa faktor dalam hal ini lingkungan, makanan, emosi dan udara yang sedang dingin. Lingkungan yang penuh dengan polusi seperti halnya keberadaan asap rokok, debu dan polusi kendaraan merupakan kondisi yang dapat memicu kekambuhan asma. Faktor lainya yang dapat memicu kekambuhan asma ialah aktivitas fisik. Aktivitas fisik dalam hal ini memiliki hubungan dengan serangan asma karena saat seseorang melakukan aktivitas fisik misalnya melakukan kegiatan olah raga tanpa adanya pemanasan atau melakukan pekerjaan yang berat seseorang akan bernapas dengan frekuensi yang lebih cepat dan dalam kondisi ini akan menyebabkan bertambahnya kebutuhan oksigen di dalam tubuh. Serangan asma yang disebabkan oleh aktivitas fisik dikenal juga sebagai exercised inducted bronchoconstriction. Selain aktivitas fisik kondisi lainya yang dapat memicu kekambuhan asma ialah Indeks Massa Tubuh (IMT).  Indeks massa tubuh pada pasien asma memiliki peranan dalam perkembangan dan pengobatan penyakit. Hubungan kuat antara indeks massa tubuh terhadap kondisi keparahan penyakit asma  karena adanya proses menarche dini. Seseorang yang mengalami kondisi obesitas berisiko 50 % menderita penyakit asma. Beberapa kondisi ini dapat memicu terjadinya tingkat keparahan asma dalam kondisi yang berat. Penelitian bertujuan untuk diketahui hubungan aktivitas fisik dan indeks massa tubuh terhadap tingkat keparahan asma di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu.  Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian kuantitatif dengan penggunaan rancangan penelitian cross sectional dimana rancangan ini digunakan untuk melihat hasil dari hubungan antara aktivitas fisik, indeks massa tubuh terhadap tingkat keparahan asma di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu.  Hasil analisis bivariat dari kegiatan penelitian ini dengan menggunakan uji statistic chi-square diketahui hubungan aktivitas fisik dengan tingkat keparahan asma didapatkan p value 0,000 0,05, sementara hubungan antara indeks massa tubuh dengan tingkat keparahan asma dengan p value= 0,000 0,05. Kesimpulan dari hasil kegiatan penelitian ini ialah ada hubungan antara aktivitas fisik dan indeks massa tubuh terhadap tingkat keparahan asma di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu. Kata Kunci: Asma, aktivitas, Fisik, IMT.
Hubungan Rasio Lingkar Pinggang Terhadap Tinggi Badan dengan Tekanan Darah Pada Kelompok Usia Dewasa Muda di Perguruan Tinggi Siratunnisak, Nadia; Sigit, Fathimah Sulistyowati; Noviyana, Noviyana; Az-Zahra, Qori
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25176

Abstract

ABSTRACT Hypertension is a major non-communicable disease with a substantial global epidemiological burden. The World Health Organization estimates that approximately 1.4 billion adults worldwide are living with hypertension. Its prevalence reaches nearly one-third of the adult population and has shown an increasing trend among young adults. In Indonesia, the prevalence of hypertension among individuals aged ≥18 years is 30.8%. One of the main modifiable risk factors is obesity, particularly central obesity, which is characterized by excessive abdominal fat accumulation and has a stronger association with elevated blood pressure than general obesity. The waist-to-height ratio (WHtR) is a simple and effective anthropometric indicator for assessing central obesity and cardiometabolic risk.This study aimed to analyze the association between central obesity, as measured by WHtR, and hypertension among young adults in a university setting. A cross-sectional study design was employed using secondary data obtained from health examinations of first-year university students conducted at a university-based healthcare facility in Depok City. A total of 2,234 respondents were included in the analysis. Central obesity was defined as WHtR ≥0.5, while hypertension was defined as systolic blood pressure ≥140 mmHg and/or diastolic blood pressure ≥90 mmHg. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test. The results showed that the prevalence of hypertension among respondents was 47.1%, while the prevalence of central obesity based on WHtR was 65.4%. The Chi-square test indicated a statistically significant association between central obesity and hypertension among young adults (p 0.001). Respondents with central obesity had 1.82 times higher odds of developing hypertension compared to those without central obesity (OR = 1.82; 95% CI: 1.52–2.18).In conclusion, central obesity as measured by the waist-to-height ratio is significantly associated with hypertension among young adults. Keywords: Central Obesity, Waist-To-Height Ratio, Hypertension, Young Adults.  ABSTRAK Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan beban epidemiologi yang tinggi secara global.  World Health Organization melaporkan bahwa sekitar 1,4 miliar orang dewasa di dunia hidup dengan hipertensi. Dengan prevalensi mencapai sepertiga populasi dewasa dan Cenderung mengalami peningkatan pada usia dewasa muda. Di Indonesia, prevalensi hipertensi mencapai 30,8% pada penduduk usia ≥18 tahun. Salah satu faktor risiko utama yang dapat dimodifikasi adalah obesitas, khususnya obesitas sentral yang ditandai oleh akumulasi lemak abdominal dan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan peningkatan tekanan darah dibandingkan obesitas umum. Rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan (RLPTB) merupakan indikator antropometri yang sederhana dan efektif dalam menilai obesitas sentral serta risiko kardiometabolik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan obesitas sentral berdasarkan RLPTB dengan kejadian hipertensi pada kelompok usia dewasa muda di perguruan tinggi. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang Yang bersumber dari data hasil pemeriksaan kesehatan mahasiswa baru di salah satu fasilitas pelayanan Kesehatan berbasis perguruan tinggi di Kota Depok. Dengan jumlah sampel sebanyak 2.234 responden. Obesitas sentral ditentukan berdasarkan RLPTB ≥0,5, sedangkan kejadian hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi pada responden sebesar 47,1%, dan prevalensi obesitas sentral berdasarkan RLPTB sebesar 65,4%. Berdasarkan uji chi-square menunjukkan bahwa obesitas sentral memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi pada kelompok usia dewasa muda (p 0,001). Responden dengan obesitas sentral memiliki peluang 1,82 kali lebih besar untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan responden yang tidak obesitas (OR = 1,82; 95% CI: 1,52–2,18). Dapat disimpulkan bahwa obesitas sentral berdasarkan RLPTB berhubungan secara signifikan dengan kejadian hipertensi pada kelompok usia dewasa muda. Kata Kunci: Obesitas Sentral, Rasio Lingkar Pinggang Terhadap Tinggi Badan, Hipertensi, Remaja, Dewasa Muda.
Hubungan Implementasi Kebijakan Kesehatan dengan Faktor Penentu Angka Kematian Bayi di Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu Suryanti, Reny; Ningsih, Lisma; Febryanti, Ade; Marwanto, Andriana
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25094

Abstract

ABSTRACT Infant Mortality Rate (IMR) is one of the primary indicators of public health status and remains a significant health problem in various regions, including Bengkulu City. Efforts to reduce IMR require effective implementation of health policies at the primary healthcare level. This study aimed to analyze the relationship between health policy implementation and the determinants of infant mortality at Pasar Ikan Primary Health Center, Bengkulu City. This research employed a mixed-method approach. Quantitative data were collected through structured questionnaires to analyze the relationship between health policy implementation and the determinants of IMR, while qualitative data were obtained through interviews to support and explain the quantitative findings. The study population consisted of 42 respondents, including the Head of the Primary Health Center, the Head of Administrative Subdivision, medical personnel, healthcare workers, and community members with infants or toddlers, using a total sampling technique. Quantitative data were analyzed using the Spearman correlation test, while qualitative data were analyzed descriptively. The results showed a strong, positive, and statistically significant relationship between health policy implementation and the determinants of infant mortality (r = 0.716; p 0.001). Interview findings indicated that health policy implementation plays a role in strengthening maternal and child health services through improved access to services, enhanced service quality, and better monitoring of maternal and infant health. The study concludes that effective health policy implementation at the primary healthcare level plays an important role in supporting efforts to reduce infant mortality in Bengkulu City. Keywords : Health Policy Implementation, Infant Mortality Rate, Primary Health Center.  ABSTRAK Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator utama derajat kesehatan masyarakat yang masih menjadi permasalahan kesehatan di berbagai daerah, termasuk di Kota Bengkulu. Upaya penurunan AKB memerlukan implementasi kebijakan kesehatan yang efektif di tingkat pelayanan kesehatan primer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara implementasi kebijakan kesehatan dengan faktor-faktor penentu angka kematian bayi di Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed method). Data kuantitatif diperoleh melalui kuesioner terstruktur untuk menganalisis hubungan antara implementasi kebijakan kesehatan dan faktor-faktor penentu AKB, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara untuk memperkuat dan menjelaskan temuan kuantitatif. Populasi penelitian berjumlah 42 responden yang terdiri atas Kepala Puskesmas, Kepala Subbagian Tata Usaha, tenaga medis, tenaga kesehatan puskesmas, serta masyarakat yang memiliki bayi atau balita, dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Analisis data kuantitatif dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman, sedangkan data kualitatif dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang kuat, positif, dan signifikan antara implementasi kebijakan kesehatan dengan faktor-faktor penentu angka kematian bayi (r = 0,716; p 0,001). Hasil wawancara menunjukkan bahwa implementasi kebijakan kesehatan berperan dalam memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui peningkatan akses layanan, kualitas pelayanan, serta pemantauan kesehatan ibu dan bayi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi kebijakan kesehatan yang efektif di tingkat pelayanan primer memiliki peran penting dalam mendukung upaya penurunan angka kematian bayi di Kota Bengkulu. Kata Kunci: Implementasi Kebijakan Kesehatan, Angka Kematian Bayi, Puskesmas. 
Neuropati Optik Toksik Alkohol: Case Report Meida, Nur Shani; Ulhaq, Ghina Ramadhita
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.23895

Abstract

ABSTRACT Alcohol can cause optic nerve damage (toxic optic neuropathy) in the eye. In Indonesia, there is currently a rise in poisoning from mixed liquor (alcohol) that mixes traditional liquor with methanol (a product of alcohol denaturation). This can cause blurred vision complaints which in advanced stages can lead to blindness. This article aims to determine the symptoms of optic nerve damage and its management. The research method is an observation of the case of a 25-year-old man who came to the eye clinic of Purbowangi General Hospital with a complaint of blurred right and left eyes since 10 days ago. The patient admitted to having drunk alcohol on New Year's Eve with his friends. The patient has frequently consumed alcohol for the past 5 years. Upon arrival, ODS visual acuity examination was found to be 1/∞ (no light perception), decreased pupillary reflex, and pale optic nerve papilla. The patient was given systemic corticosteroid medication methylprednisolone 16 mg twice daily in the morning and afternoon, ranitidine twice daily, and mecobalamin 500 mg once daily. The results of the examination after 2 weeks of treatment showed an improvement in ODS vision to 2/60 and after 1 month to 6/20. There was no further improvement in vision after a 2-month follow-up. In conclusion, the presence of blurred vision symptoms with a history of alcohol consumption may indicate toxic alcohol optic neuropathy and requires appropriate and rapid management to restore vision. Education, especially for the younger generation, is needed to avoid and stop alcohol consumption to prevent visual impairment and blindness. Keywords: Alcohol, Toxic Optic Neuropathy, Blurred Vision.  ABSTRAK Alkohol dapat menimbulkan kerusakan saraf optik (neuropati optik toksik) pada mata . Di Indonesia saat ini marak terjadi keracunan minuman keras (miras) oplosan yang mencampur miras tradisional dengan metanol (produk denaturasi alkohol). Akibat hal tersebut dapat menimbulkan keluhan mata kabur yang pada tahap lanjut dapat menimbulkan kebutaan. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui gejala kerusakan saraf optik dan tatalaksananya. Metode penelitian berupa observasi terhadap kasus seorang laki-laki berusia 25 tahun yang datang ke poliklinik mata RSU Purbowangi dengan keluhan mata kanan dan kiri kabur sejak 10 hari yang lalu. Pasien mengaku sempat minum-minuman keras saat malam tahun baru bersama teman-temannya. Pasien sudah sering konsumsi alkohol  5 tahun terakhir. Pada saat datang pemeriksaan visus ODS didapatkan visus 1/∞ (no light perception), reflek pupil menurun, papil saraf optik nampak pucat. Pasien diberikan obat kortikosteroid sistemik methylprednisolone 16 mg sebanyak 2 kali sehari pada pagi dan siang hari, ranitidine 2 kali sehari dan mecobalamin 500 mg 1 kali sehari . Hasil pemeriksaan setelah pengobatan  2 minggu,  terdapat perbaikan visus ODS menjadi 2/60  dan setelah  1 bulan menjadi 6/20 . Tidak ada lagi perbaikan visus setelah follow up 2 bulan. Kesimpulannya adalah adanya gejala keluhan mata kabur dengan riwayat minum alkohol bisa menindikasi adanya neuropati optik toksik alkohol dan perlu penatalaksanaan yang tepat dan cepat untuk memulihkan visus. Perlu edukasi terutama kepada generasi muda untuk menghindari dan menghentikan kebiasaan konsumsi alkohol untuk mencegah gangguan penglihatan dan kebutaan. Kata Kunci: Alkohol, Neuropati Optik Toksik, Mata Kabur.
Hubungan Penggunaan Smartphone dengan Kualitas Tidur Pada Remaja di SMP Negeri 11 Kota Bekasi Ponirah, Ponirah; Yusrini, Yusrini; Ashari, Syafira Tuzzahra
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.22442

Abstract

ABSTRACT Smartphones represent a technology undergoing fast development. The number of smartphone users in Indonesia is dominated by teenagers. Smartphones has the capability to fulfill the requirements of information acquisition, communication, and social media engagement. The ease of cellphones leads to excessive use among teens, resulting in difficulties with concentration, drowsiness during class, and exposure to blue light, which may disrupt circadian cycles and adversely influence sleep quality.This study aims to determine the relationship between smartphone use and sleep quality in adolescents at SMP Negeri 11 Bekasi City. This research was conducted using a quantitative method of observational analytical type with a cross-sectional approach, a sample of 280 respondents, and a stratified random sampling technique. This study used a smartphone usage questionnaire and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) for assessing sleep quality. The majority of teenagers aged 13-15 years mostly use smartphones for  4 hours and 17 minutes a day, the majority of teenagers often use smartphones for social media, and teenagers with high levels of smartphone use have poor sleep quality (62,7%). The results of the chi-square statistical test obtained a P value = 0.000. P (α = 0.05), it can be concluded that there is a relationship between smartphone use and sleep quality in teenagers at SMP Negeri 11 Bekasi City. Education is necessary for teens on the appropriate timing for smartphone use to enhance rest periods and improve sleep quality. Keywords: Smartphone Use, Sleep Quality, Adolescents.  ABSTRAK Smartphone merupakan teknologi yang sedang berkembang pesat. Jumlah pengguna smartphone di Indonesia didominasi oleh kalangan remaja. Smartphone memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan informasi, komunikasi, dan keterlibatan media sosial. Kemudahan penggunaan smartphone menyebabkan penggunaan berlebihan di kalangan remaja, yang mengakibatkan kesulitan berkonsentrasi, rasa kantuk di kelas, dan paparan cahaya biru, yang dapat mengganggu siklus sirkadian dan berdampak negatif pada kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan smartphone dengan kualitas tidur pada remaja di SMP Negeri 11 Kota Bekasi.  Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif jenis analitik observasional dengan pendekatan cross sectional, dengan sampel sebanyak 280 responden, menggunakan teknik stratified random sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner penggunaan smartphone dan PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Index) untuk menilai kualitas tidur. Mayoritas usia remaja13-15 tahun paling banyak menggunakan smartphone  4 jam 17 menit dalam sehari, mayoritas remaja sering menggunakan smartphone untuk sosial media, serta remaja dengan tingkat penggunaan smartphone kategori tinggi, memiliki kualitas tidur yang buruk (62,7%). Hasil uji statistik chi square didapatkan nilai Pvalue= 0,000. P (α = 0,05), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara penggunaan smartphonedengan kualitas tidur pada remaja di SMP Negeri 11 Kota Bekasi. Edukasi diperlukan bagi remaja tentang waktu yang tepat untuk menggunakan smartphone guna meningkatkan waktu istirahat dan kualitas tidur. Kata Kunci: Penggunaan Smartphone, Kualitas Tidur, Remaja.
Efektivitas Model Psikoedukasi Terhadap Peningkatan Dukungan Keluarga Pada Pasien Skizofrenia: Studi Kuasi Eksperimental Kirana, Wahyu; Safitri, Dewin; Anggreini, Yunita Dwi
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25120

Abstract

ABSTRACT Schizophrenia is a chronic psychotic disorder with a high risk of relapse, in which family support plays a crucial protective role. This study aimed to evaluate the effectiveness of a structured psychoeducation model in increasing family support as a relapse prevention measure in schizophrenia patients. The study used a quasi-experimental design with a pre-test and post-test approach without a control group. A total of 30 families of outpatients with schizophrenia at the West Kalimantan Provincial Mental Hospital were selected using a purposive sampling technique. The intervention consisted of a systematically developed psychoeducation model focusing on strengthening emotional, informational, instrumental, and reward support. Family support was measured using a questionnaire with proven validity and reliability with a Cronbach's Alpha of 0.935. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed-rank test. The study showed a significant increase in family support after the intervention (p-value 0.05). These findings indicate that a structured psychoeducational model is effective in increasing family support as a relapse prevention measure in patients with schizophrenia. Keywords: Family Support, Psychoeducational Model, Schizophrenia.  ABSTRAK Skizofrenia merupakan gangguan psikotik kronis dengan risiko kekambuhan yang tinggi, di mana dukungan keluarga berperan sebagai faktor protektif penting.   Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas model psikoedukasi terstruktur dalam meningkatkan dukungan keluarga sebagai upaya pencegahan kekambuhan pada pasien skizofrenia.Penelitian menggunakan desain kuasi eksperimental dengan pendekatan pre-test dan post-test without control group. Sebanyak 30 keluarga pasien skizofrenia rawat jalan di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa model psikoedukasi yang dikembangkan secara sistematis dengan fokus pada penguatan dukungan emosional, informasional, instrumental dan penghargaan. Dukungan keluarga diukur menggunakan kuesioner yang telah teruji validitas dan reliabilitas dengan Cronbach’s Alpha = 0,935. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-rank. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan dukungan keluarga yang signifikan setelah intervensi (p value  0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa model psikoedukasi terstruktur efektif meningkatkan dukungan keluarga sebagai upaya pencegahan kekambuhan pada pasien skizofrenia. Kata Kunci: Dukungan Keluarga, Model Psikoedukasi, Skizofrenia.
Pelatihan Kader Kesehatan Jiwa dalam Perawatan Pasien Skizofrenia : a Scoping Review Darti, Darti; Mubin, M.Fatkhul; Samiasih, Armin; Machmudah, Machmudah; Ernawati, Ernawati
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25076

Abstract

ABSTRACT Schizophrenia is a severe mental disorder that requires long-term care and sustained support at the community level. Limited mental health workforce resources and the high burden experienced by families highlight the importance of involving mental health cadres as a key strategy in community-based mental health services. Training for mental health cadres has been reported to enhance their capacity to support the care of patients with schizophrenia; however, the available scientific evidence on this intervention remains scattered and heterogeneous. This scoping review aimed to map the existing scientific evidence on training for mental health cadres in the care of patients with schizophrenia, including the types of interventions, study designs, and reported outcomes. This study employed a scoping review design following the Arksey and O’Malley framework and the Joanna Briggs Institute (JBI) guidelines, with reporting in accordance with PRISMA-ScR. A literature search was conducted across five databases: PubMed, ProQuest, ScienceDirect, DOAJ, and Garuda. Inclusion criteria comprised studies that examined training, education, or capacity-building interventions for mental health cadres within the context of schizophrenia care. The selection process resulted in eight articles, which were analyzed using descriptive and narrative synthesis. The synthesis revealed that most studies employed quasi-experimental and pre-experimental designs. The most common interventions were mental health cadre training and psychoeducation, with outcomes including improvements in cadres’ knowledge, attitudes, skills, perceptions, and self-efficacy. Several studies also reported positive effects on the quality of patient care, medication adherence, and reductions in family burden. Training for mental health cadres and community-based psychoeducational interventions are effective in enhancing cadres’ capacity to support the care of patients with schizophrenia. Nevertheless, limitations in study design indicate the need for further research using more robust methodologies to evaluate the long-term effectiveness of cadre-based interventions. Keywords: Mental Health Cadres, Training, Schizophrenia.  ABSTRAK Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang memerlukan perawatan jangka panjang dan dukungan berkelanjutan di tingkat komunitas. Keterbatasan sumber daya tenaga kesehatan jiwa serta tingginya beban keluarga menjadikan keterlibatan kader kesehatan jiwa sebagai strategi penting dalam pelayanan kesehatan jiwa berbasis masyarakat. Pelatihan kader kesehatan jiwa dilaporkan berpotensi meningkatkan kapasitas kader dalam mendukung perawatan pasien skizofrenia, namun bukti ilmiah terkait intervensi ini masih tersebar dan beragam. Scoping review ini bertujuan untuk memetakan bukti ilmiah terkait pelatihan kader kesehatan jiwa dalam perawatan pasien skizofrenia, termasuk jenis intervensi, desain penelitian, serta luaran yang dilaporkan. Penelitian ini menggunakan desain scoping review mengikuti kerangka Arksey dan O’Malley serta pedoman JBI, dengan pelaporan sesuai PRISMA-ScR. Pencarian literatur dilakukan pada lima basis data, yaitu PubMed, ProQuest, ScienceDirect, DOAJ, dan Garuda. Kriteria inklusi meliputi studi yang membahas pelatihan, pendidikan, atau capacity building kader kesehatan jiwa dalam konteks perawatan pasien skizofrenia. Proses seleksi menghasilkan delapan artikel yang dianalisis secara deskriptif dan naratif. Hasil sintesis menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian menggunakan desain quasi-eksperimental dan pre-eksperimental. Intervensi yang paling dominan adalah pelatihan kader kesehatan jiwa dan psikoedukasi, dengan luaran berupa peningkatan pengetahuan, sikap, keterampilan, persepsi, dan self-efficacy kader. Beberapa studi juga melaporkan dampak positif terhadap kualitas perawatan pasien, kepatuhan pengobatan, serta penurunan beban keluarga. Pelatihan kader kesehatan jiwa dan intervensi psikoedukasi berbasis komunitas terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas kader dalam mendukung perawatan pasien skizofrenia. Meskipun demikian, keterbatasan desain penelitian menunjukkan perlunya studi lanjutan dengan metodologi yang lebih kuat untuk menilai efektivitas jangka panjang intervensi berbasis kader. Kata Kunci: Kader, Pelatihan, Skizofrenia.
Penerapan Aromaterapi Chamomile Terhadap Kecemasan Pasien Pre-Pci di Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung Haryanti, Richta Puspita; Baidhowy, Arief Shofyan; Andini, Sandra; Aji, Prima Trisna
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25449

Abstract

ABSTRACT Coronary heart disease is one of the leading causes of mortality worldwide. Patients with ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) who are scheduled to undergo Percutaneous Coronary Intervention (PCI) often experience high levels of anxiety, which may worsen hemodynamic conditions and compromise clinical stability. One potential intervention to address this issue is the administration of chamomile aromatherapy. To analyze the effect of chamomile aromatherapy on anxiety levels in patients during the preoperative phase of PCI at Abdul Moeloek Hospital, Bandar Lampung. This study employed a quasi-experimental design with a pretest-posttest approach. A total of 10 respondents were selected using purposive sampling. Anxiety levels were measured using the State-Trait Anxiety Inventory (STAI). The intervention consisted of inhalation of chamomile aromatherapy for approximately 8 hours at night over a period of three days. The study was conducted from January 25 to February 20, 2026. The findings showed that the mean anxiety score decreased from 44.60 to 34.80. Paired t-test analysis indicated a statistically significant difference (p = 0.000). Chamomile aromatherapy is effective in reducing anxiety levels among patients undergoing PCI in the preoperative phase. Keywords: Chamomile Aromatherapy, Anxiety, STEMI, PCI, Coronary Heart Disease.  ABSTRAK Penyakit jantung koroner termasuk salah satu penyebab utama kematian di dunia. Pasien dengan STEMI yang akan menjalani tindakan PCI sering mengalami kecemasan tinggi yang dapat memperburuk kondisi hemodinamik dan mengganggu stabilitas klinis pasien. Salah satu intervensi untuk mengatasi itu adalah dengan pemberian aromaterapi chamomile. Untuk menganalisis pengaruh aromaterapi chamomile terhadap tingkat kecemasan pasien pada fase preoperatif PCI di RS Abdul Moeloek Bandar Lampung. Desain penelitian menggunakan quasi-eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest. Sampel sebanyak 10 responden dipilih secara purposive sampling. Pengukuran kecemasan menggunakan State-Trait Anxiety Inventory (STAI). Intervensi diberikan berupa inhalasi aromaterapi chamomile selama ±8 jam pada malam hari selama 3 hari. Periode penelitian berlangsung antara 25 Januari 2026 – 20 Februari 2026. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor kecemasan menurun dari 44,60 menjadi 34,80. Uji paired t-test menunjukkan hasil signifikan (p = 0,000). Aromaterapi chamomile efektif dalam menurunkan kecemasan pasien preoperatif PCI. Kata Kunci: Chamomile Aromatherapy, Kecemasan, STEMI, PCI, Penyakit Jantung Koroner.
Pengaruh Pola Asuh dari Berbagai Budaya Internasional Terhadap Perkembangan Psikososial pada Usia Anak - Anak dan Remaja: A Scoping Review Amira, Iceu; Hendrawati, Hendrawati
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.22857

Abstract

ABSTRACT Parenting styles are very important for the psychosocial development of children and adolescents, yet many psychosocial problems still indicate a lack of understanding of effective parenting styles. This research aims to examine the influence of cross-cultural parenting styles on psychosocial development. This research method uses a Scoping Review to analyze Indonesian and English articles from PubMed, Google Scholar, and Springer over the past 10 years. Thirteen English and Indonesian articles were obtained according to the inclusion criteria, and the review results showed that parenting style has a significant impact on psychosocial development. Authoritarian parenting styles are often associated with increased social anxiety, depression, self-harm, and emotional-behavioral problems. Conversely, democratic and warm parenting styles tend to reduce social anxiety, depression, and behavioral issues, while also improving emotional regulation, self-esteem, and psychological adjustment. A father's warmth reduces anxiety, while a mother's overprotection can actually increase it. Cultural context also influences the effectiveness of parenting styles. Self-esteem, resilience, parental support, and the mother's part-time work are other important factors. Generally, culturally influenced parenting styles have a significant impact, with authoritarian styles often being negative, and democratic/authoritative styles tending to be positive. Additionally, further research is needed to specifically understand how various cultural dimensions (besides traditional values) influence the effectiveness of different parenting styles. Based on the presentation of the thirteen articles reviewed, it can be concluded that parental parenting styles play a significant role in shaping the mental health, emotional regulation, and social behavior of children and adolescents. Keywords: Parenting Styles, Culture, Psychosocial Development, Adolescent Children, Mental Health Nursing.  ABSTRAK Pola asuh sangat penting bagi perkembangan psikososial anak dan remaja, namun masih banyak masalah psikososial yang menunjukkan kurangnya pemahaman pola asuh efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pola asuh lintas budaya terhadap perkembangan psikososial. Metode penelitian ini menggunakan Scoping Review untuk menganalisis  artikel berbahasa Indonesia dan Inggris dari PubMed, Google Scholar, dan Springer dalam 10 tahun terakhir. Didapatkan 13 artikel berbahasa Inggris dan Indonesia sesuai dengan kriteria inklusi, hasill tinjauan menunjukkan bahwa pola asuh memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan psikososial. Pola asuh otoriter seringkali dikaitkan dengan peningkatan kecemasan sosial, depresi, self-harm, dan masalah emosional-perilaku. Sebaliknya, pola asuh demokratis dan hangat cenderung mengurangi kecemasan sosial, depresi, dan masalah perilaku, sekaligus meningkatkan regulasi emosi, harga diri, serta penyesuaian psikologis. Kehangatan ayah mengurangi kecemasan, sedangkan overproteksi ibu justru bisa meningkatkannya. Konteks budaya juga memengaruhi efektivitas pola asuh. Harga diri, resiliensi, dukungan orang tua, dan pekerjaan ibu paruh waktu adalah faktor-faktor penting lainnya. Secara umum, pola asuh yang dipengaruhi budaya berdampak   signifikan,  dengan  gaya  otoriter  sering negatif,  dan demokratis/autoritatif cenderung positif. Selain itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami secara spesifik bagaimana berbagai dimensi budaya (selain nilai tradisi) memengaruhi efektivitas gaya pengasuhan yang berbeda. Berdasarkan pemaparan tiga belas artikel yang dikaji, dapat disimpulkan bahwa gaya pengasuhan orang tua secara signifikan berperan dalam pembentukan kesehatan mental, regulasi emosi, serta perilaku sosial anak dan remaja.  Kata Kunci: Pola Asuh, Budaya, Perkembangan Psikososial, Anak Remaja, Keperawatan Kesehatan Jiwa.

Filter by Year

2019 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026) Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026) Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026) Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026) Vol 8, No 1 (2026): Volume 8 Nomor 1 (2026) Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025) Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025) Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025) Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025) Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025) Vol 7, No 7 (2025): Volume 7 Nomor 7 (2025) Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025) Vol 7, No 5 (2025): Volume 7 Nomor 5 (2025) Vol 7, No 4 (2025): Volume 7 Nomor 4 (2025) Vol 7, No 3 (2025): Volume 7 Nomor 3 (2025) Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025) Vol 7, No 1 (2025): Volume 7 Nomor 1 (2025) Vol 6, No 12 (2024): Volume 6 Nomor 12 (2024) Vol 6, No 11 (2024): Volume 6 Nomor 11 (2024) Vol 6, No 10 (2024): Volume 6 Nomor 10 (2024) Vol 6, No 9 (2024): Volume 6 Nomor 9 (2024) Vol 6, No 8 (2024): Volume 6 Nomor 8 (2024) Vol 6, No 7 (2024): Volume 6 Nomor 7 2024 Vol 6, No 6 (2024): Volume 6 Nomor 6 2024 Vol 6, No 5 (2024): Volume 6 Nomor 5 2024 Vol 6, No 4 (2024): Volume 6 Nomor 4 2024 Vol 6, No 3 (2024): Volume 6 Nomor 3 2024 Vol 6, No 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 2024 Vol 6, No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 2024 Vol 5, No 12 (2023): Volume 5 Nomor 12 2023 Vol 5, No 11 (2023): Volume 5 Nomor 11 2023 Vol 5, No 10 (2023): Volume 5 Nomor 10 2023 Vol 5, No 9 (2023): Volume 5 Nomor 9 2023 Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023 Vol 5, No 7 (2023): Volume 5 Nomor 7 2023 Vol 5, No 6 (2023): Volume 5 Nomor 6 2023 Vol 5, No 5 (2023): Volume 5 Nomor 5 2023 Vol 5, No 4 (2023): Volume 5 Nomor 4 2023 Vol 5, No 3 (2023): Volume 5 Nomor 3 2023 Vol 5, No 2 (2023): Volume 5 Nomor 2 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 Januari 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 2023 Vol 4, No 12 (2022): Volume 4 Nomor 12 2022 Vol 4, No 11 (2022): Volume 4 Nomor 11 2022 Vol 4, No 10 (2022): Volume 4 Nomor 10 2022 Vol 4, No 9 (2022): Volume 4 Nomor 9 2022 Vol 4, No 8 (2022): Volume 4 Nomor 8 2022 Vol 4, No 7 (2022): Volume 4 Nomor 7 2022 Vol 4, No 6 (2022): Volume 4 Nomor 6 2022 Vol 4, No 5 (2022): Volume 4 Nomor 5 2022 Vol 4, No 4 (2022): Volume 4 Nomor 4 2022 Vol 4, No 3 (2022): Volume 4 Nomor 3 2022 Vol 4, No 2 (2022): Volume 4 Nomor 2 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 Januari 2022 Volume 3 Nomor 4 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 3 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 2 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021 Volume 2 Nomor 4 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 3 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 1 Tahun 2020 Volume 1 Nomor 2 Tahun 2019 Volume 1 Nomor 1 Tahun 2019 More Issue