cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Arjuna Subject : -
Articles 395 Documents
Utilization of Red Mud and Biofertilizer for Peat Quality Improvement and Its Effect on the Growth and Production of Hybrid Corn Juhari, Juhari; Iskandar, Iskandar; Santosa, Dwi Andreas
Agrikultura Vol 35, No 3 (2024): Desember, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i3.59075

Abstract

Peatlands are suboptimal lands that can be improved its quality to be used for agricultural cultivation. One of which is by using red mud and biofertilizer. Red mud, a by-product of bauxite processing, is widely available in West Kalimantan. Red mud has high pH, electrical conductivity, exchangeable sodium and base saturation. Biofertilizers are products containing selected microorganisms that can help enhance plant growth and yield. This study aims to examine the effects of red mud and biofertilizer applications on peat quality improvement and their impact on the growth and yield of hybrid corn. The experiment was arranged in a randomized block design (RBD) with two factors. The first factor was red mud with three dosage levels: control (l0), 6 tons/ha (l1), and 12 tons/ha (l2). The second factor was biofertilizer with three types: control (p0), Mycofer at 10 g/plant (p0), and Provibio at 10 ml/l (p2). The results showed that red mud at a dose of 12 tons/ha significantly affected soil pH, electrical conductivity, plant growth, and hybrid corn yield. The interaction of 12 tons/ha red mud and Provibio biofertilizer significantly increased sodium content and achieved the highest uptake of phosphorus, potassium, calcium, and magnesium.
Kajian Komponen Produksi Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) yang diberi Pupuk Boron dan NPK Huesean, Ahmad; Syafrinal, Syafrinal; Khoiri, M. Amrul
Agrikultura Vol 36, No 1 (2025): April, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i1.55965

Abstract

Rendahnya produktivitas tanaman kelapa sawit merupakan permasalahan yang harus diatasi pada pola perkebunan rakyat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek pemberian pupuk boron dan NPK terhadap peningkatan komponen produksi tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) serta untuk mendapatkan kombinasi perlakuan yang terbaik. Penelitian dilaksanakan di Desa Bencah Kelubi, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar dari bulan Mei sampai November 2023. Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu pupuk boron dan NPK. Faktor pertama adalah dosis pupuk boron dengan taraf  tiga, terdiri dari B0 : Kontrol, B1 : 75 g per tanaman dan B2 : 150 g per tanaman. Faktor kedua adalah dosis pupuk NPK dengan tiga taraf, yaitu P1 : 1,50 kg per tanaman, P2 : 2,50 kg per tanaman dan P3 : 3,50 kg per tanaman. Parameter yang diamati adalah jumlah tandan bunga betina dan bunga jantan, sex ratio, jumlah dan bobot tandan buah, berat dan volume buah segar serta ketebalan mesocarp. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan analisis ragam dan diuji lebih lanjut dengan uji DNMRT pada taraf 5% menggunakan aplikasi SAS versi 9.0. Pemberian pupuk NPK 3,5 kg per tanaman meningkatkan bobot tandan buah segar, bobot buah segar, volume buah segar, dan ketebalan mesocarp. Pemberian pupuk boron tidak berpengaruh terhadap semua parameter pengamatan. Aplikasi pupuk NPK 3,5 kg per tanaman memberikan hasil yang lebih baik yang berbeda secara signifikan dibandingkan perlakuan pupuk NPK 1,5 kg per tanaman, menghasilkan 11,70 kg bobot tandan buah segar, 11,19 g bobot buah segar, 10,08 mL volume buah segar, dan 3,98 mm ketebalan mesocarp.
Perubahan Karakteristik Kimia Tanah Aluvial Akibat Pemberian Biochar Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Fly Ash Batu Bara Setiawan, Beny; Ramanda, Rika Fitry; Nurhayati, Nurhayati
Agrikultura Vol 36, No 1 (2025): April, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i1.59779

Abstract

Tanah aluvial dalam bidang pertanian memiliki kekurangan seperti nilai pH yang rendah, struktur tanah yang jelek, kapasitas tukar kation dan permeabilitas tanah yang rendah. Upaya mengatasi kendala pada tanah aluvial tersebut salah satunya dapat dilakukan dengan penerapan ameliorasi. Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai sumber ameliorasi yaitu biochar  tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan fly ash batu bara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian biochar TKKS dan fly ash batu bara terhadap sifat kimia tanah aluvial. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 3 ulangan yang terdiri dari 2 faktor yakni penggunaan fly ash (a0 =tanpa fly ash, a1=fly ash 25% dan a3=fly ash 50%) dan pemberian biochar (b0=tanpa biochar, b1= biochar 5% dan b2= biochar 10%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara perlakuan fly ash dan pemberian biochar. Interaksi fly ash 50% dan biochar TKKS 10% memberikan perubahan sifat kimia tanah yang paling baik yakni dapat meningkatkan pH tanah (6,76), meningkatkan kandungan P2O5 (38,29 mg/kg), meningkatkan KTK tanah (23,65 cmol/kg) dan menurunkan kandungan Cu (0,21%). Penambahan ameliorasi biochar TKKS dan fly ash batubara terbukti dapat memperbaiki kualitas tanah aluvial sehingga dapat digunakan untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal.
Uji Kompatibilitas Sumber Inokulan FMA Lokal dan Periode Penjenuh Terhadap Karakteristik Agronomi Tebu (Saccharum officinarum L.) Sefrila, Marlin; Ghulamahdi, Munif; Purwono, Purwono; Melati, Maya; Mansur, Irdika
Agrikultura Vol 36, No 1 (2025): April, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i1.62360

Abstract

Permasalahan pada lahan pasang surut dapat diatasi dengan penerapan sistem teknologi pertanian spesifik lokasi seperti penerapan sistem budidaya jenuh air dan pemanfaatan mikroorganisme lokal seperti jamur mikoriza arbuskular (FMA) sehingga lahan pasang surut marginal dapat menjadi lahan produktif dan tanaman tebu dapat berproduksi secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan beberapa sumber inokulan FMA lokal dan periode pasang surut dan jenuh air terhadap karakteristik agronomi tebu. Percobaan menggunakan Rancangan Blok Lengkap Teracak dengan dua faktor. Faktor pertama adalah inokulasi FMA yang terdiri dari tanpa inokulasi, inokulan jagung, inokulan kedelai, inokulan tebu, dan inokulan tanaman gabungan (tebu-kedelai). Faktor kedua adalah lamanya kejenuhan yaitu 0, 2 dan 4 bulan setelah tanam, sehingga terdapat 15 perlakuan dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara sumber inokulan dan lama kejenuhan tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan dan fisiologis. Aplikasi berbagai sumber inokulan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan fisiologi tanaman tebu, khususnya sumber inokulan jagung. Baik pada umur 2 maupun 4 bulan setelah tanam, kondisi jenuh tanah menunjukkan pertumbuhan dan respons fisiologis terbaik dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional (tanpa kondisi jenuh).
Strategi Pendistribusian Pupuk Bersubsidi di Kecamatan Walenrang Timur Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan Nuryanti, Dewi Marwati; Zainuddin, Akmal; Lilis, Lilis
Agrikultura Vol 36, No 1 (2025): April, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i1.58438

Abstract

Pupuk merupakan komponen vital dalam mendukung produktivitas pertanian. Kebijakan subsidi pupuk oleh pemerintah ditetapkan untuk mendukung akses petani terhadap ketersediaan pupuk. Namun, dalam pelaksanaannya masih menghadapi berbagai permasalahan dalam sistem distribusi pupuk bersubsidi ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pendistribusian pupuk bersubsidi di Kecamatan Walenrang Timur, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Penelitian dilakukan dari Desember 2023 hingga Januari 2024 menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal, serta pendekatan kualitatif untuk merumuskan kebijakan strategi pendistribusian pupuk bersubsidi. Responden terdiri dari dua katagori yaitu petani dan pakar. Responden petani dipilih menggunakan metode cluster sampling. Metode ini memungkinkan pemilihan sampel representatif melalui pengelompokan berdasarkan kelompok tani di setiap desa, sehingga mencakup berbagai wilayah secara menyeluruh. Sementara itu, responden pakar dipilih secara purposive. Data dianalisis menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan faktor internal kekuatan diperoleh skor sebesar 2,57 dan skor kelemahan sebesar 0,42. Faktor eksternal peluang diperoleh skor sebesar 2,53 dan skor ancaman sebesar 0,40. Posisi strategi pendistribusian pupuk bersubsidi di Kecamatan Walenrang Timur berada pada Kuadran I yakni strategi agresif. Strategi ini menekankan bahwa upaya peningkatan strategi difokuskan dengan menggunakan berbagai kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang diterapkan adalah melakukan peningkatan koordinasi lintas sektor, pusat dan daerah terkait alokasi pupuk bersubsidi, keefektifan penyaluran pupuk dan implementasi pemupukan. Melakukan akurasi pendataan lahan dan pengimputan pada aplikasi sesuai luas lahan yang di kelola petani, dan memperkuat kemampuan penyaluran pupuk bersubsidi sampai ke petani melalui sistem pengawasan dan sanksi untuk setiap pelanggaran penyaluran pupuk hal ini sangat penting untuk bisa menjamin pendistribusian pupuk subsidi optimal.
Potensi Bacillus spp. sebagai Agens Biokontrol Pengendali Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum f. sp. cepae) dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Yanti, Yulmira; Nurbailis, Nurbailis; Dwipa, Indra; Suhendra, Dede
Agrikultura Vol 36, No 1 (2025): April, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i1.55165

Abstract

Penyakit layu fusarium pada tanaman bawang merah disebabkan oleh Fusarium oxysporum    f.sp. cepae (FOC). Penyakit ini tergolong penyakit penting pada tanaman bawang merah yang dapat menimbulkan kerugian hingga 50% atau bahkan menyebabkan gagal panen. Alternatif pengendalian penyakit layu fusarium bisa dilakukan dengan memanfaatkan bakteri Bacillus spp. Penelitian ini bertujuan untuk menguji bakteri Bacillus spp. sebagai agens biokontrol untuk menekan perkembangan penyakit layu fusarium dan meningkatkan pertumbuhan serta hasil tanaman bawang merah.  Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan Laboratorium Fitopatologi Departemen Proteksi Tanaman serta di Kebun Percobaan, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang pada bulan April sampai September 2023. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 8 perlakuan (6 galur bakteri Bacillus spp., kontrol positif, dan kontrol negatif) yang diulang sebanyak 6 kali. Bakteri Bacillus spp. yang digunakan adalah B. waihenstephanensis galur RBTLL 3.2, B. cereus galur MRDKBTE 1.3, B. thuringiensis galur MRSNRZ 3.1, B. mycoides galur MRSNUMBE 2.2, B. mycoides galur MRBPBT 2.1, dan B. cereus galur MRPLUMBE 1.3.  Bakteri Bacillus spp., diintroduksi pada umbi bawang merah dengan merendam umbi sebelum ditanam dan inokulasi FOC di sekitar perakaran pada umur tanaman 4 minggu. Variabel yang diamati yaitu perkembangan penyakit (masa inkubasi, kejadian penyakit dan keparahan penyakit) dan pertumbuhan bawang merah (tinggi, jumlah daun, berat basah, dan berat kering umbi). Perlakuan B. cereus galur MRPLUMBE 1.3 menunjukkan kemampuan terbaik menghambat perkembangan penyakit layu fusarium, sedangkan B. mycoides galur MRBPBT 2.1 memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman bawang merah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Bacillus spp. memiliki potensi untuk menekan perkembangan penyakit layu fusarium dan meningkatkan pertumbuhan tanaman bawang merah.
Enhancing Tomato (Lycopersicon esculentum Mill.) Growth in a Green House Using NPK Fertilizer Coated with Endospore-Forming Bacillus Hindersah, Reginawanti; Fitriatin, Betty Natalie; Setiawati, Mieke Rochimi; Suryatmana, Pujawati; Risanti, Rara Rahmatika; Dewi, Yeni Wispa
Agrikultura Vol 36, No 1 (2025): April, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i1.62354

Abstract

Long-term use of NPK composite fertilizers mixed with biofertilizers, including spore-forming Bacillus rhizobacteria, can improve plant quality and growth. This study aims to analyze Bacillus’s growth and spore production in chemical-liquid growing media and to observe the effects of Bacillus-coated NPK formulas (BCN) on the growth of tomatoes in potted Andisol and the Bacillus population in the rhizosphere. The evaluation of Bacillus growth was conducted in the laboratory whereas the effect of the BCN was conducted as a pot experiment in a Randomized Block Design. The treatments included recommended dosage of NPK 16-16-16, liquid inoculant of Bacillus consortium, BCN-C, and BCN-G formulas with 100%, 75%, and 50% of the recommended dosage, respectively. Control plants were not treated with fertilizer. Laboratory assay verified that Yuniarti’s medium supported Bacillus-consortium growth and produced the highest Bacillus vegetative cells and spores. The BCN application significantly increased plant height, number of leaves, root length, and tomato biomass compared to the control up to 6 weeks after planting. Three-quarters of the dosage of BCN-C and BCN-G gave the best growth of tomatoes. Introducing BCN and conventional NPK did not change the population of Bacillus vegetative and spore form in the rhizosphere. Results indicate that BCN can replace conventional NPK 16-16-16 fertilizer for tomato plants in Andisol soil order.
Eksplorasi Jamur Entomopatogen sebagai Agen Biokontrol Lalat Buah Bactrocera spp. pada Berbagai Varietas Jeruk di Kabupaten Garut Keliat, Chrisnasari Yanti; Susanto, Agus; Maharani, Yani; Suganda, Tarkus
Agrikultura Vol 36, No 1 (2025): April, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i1.60842

Abstract

Bactrocera spp. merupakan salah satu hama utama pada buah jeruk yang menyebabkan kerugian hasil yang signifikan. Pengendalian ramah lingkungan diperlukan untuk mengatasi kerugian akibat serangannya. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi keberadaan jamur entomopatogen yang menginfeksi Bactrocera spp. serta menganalisis indeks keanekaragaman, kekayaan, kemerataan, dan dominansi entomopatogen pada tiga varietas jeruk di Kabupaten Garut. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni hingga Oktober 2024 di tiga lokasi, jeruk Siam di Desa Neglasari, jeruk Keprok Terigas di Desa Kadungora, dan jeruk Lemon di Desa Sukatani. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode sistematis pada area seluas 2500 m², dengan lima titik sampling yang ditentukan secara diagonal. Sampel tanah diambil dari 20 pohon pada kedalaman 0–10 cm dan disimpan dalam kondisi gelap pada suhu 4°C sebelum dianalisis. Metode yang digunakan yaitu umpan serangga menggunakan larva Tenebrio molitor. Jamur yang menyelubungi tubuh larva yang terinfeksi diisolasi dan diidentifikasi. Pada varietas Lemon didapatkan 7 isolat (4 B. bassiana, 3 M. anisopliae), varietas Siam 4 isolat (3 B. bassiana, 1 M. anisopliae), dan varietas Terigas 3 isolat (2 B. bassiana, 1 M. anisopliae). Penemuan jamur entomopatogen ini menunjukkan potensi keberadaan agen hayati untuk pengendalian Bactrocera spp. Indeks keanekaragaman (H’) rendah (0,56-0,68), indeks kekayaan (DMg) rendah (0,51-0,91), indeks kemerataan (E) tinggi (0,81-0,99), dan indeks dominansi (C) sedang (0,51-0,63). Meskipun indeks keanekaragaman dan kekayaan rendah, namun tingginya nilai kemerataan menunjukkan distribusi yang merata di dalam habitatnya. Penelitian ini menjadi dasar strategi konservasi, pengelolaan hayati, dan pemilihan isolat unggul untuk pengendalian Bactrocera spp. pada berbagai varietas jeruk.
Keefektivan Campuran Kitosan Nano dan Silika Nano dalam Menekan Alternaria porri dan Penyakit Bercak Ungu pada Tanaman Bawang Merah Hersanti, Hersanti; Aldriana, Suyus Muhammad Landy Haekal; Maharani, Yani; Hartati, Sri
Agrikultura Vol 36, No 1 (2025): April, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i1.59886

Abstract

Alternaria porri merupakan jamur penyebab penyakit bercak ungu pada tanaman bawang merah. Penyakit ini mengakibatkan kerugian lebih dari 57%.  Kitosan dan silika merupakan bahan alami yang dapat digunakan sebagai fungisida bahan alam. Pemanfaatan teknologi nano dalam mengembangkan fungisida bahan alam bertujuan untuk memperkecil ukuran partikel bahan tersebut, agar lebih mudah diserap oleh tanaman sehingga lebih efisien dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kosentrasi campuran kitosan nano dan silika nano yang efektif dalam menekan jamur A. porri (in vitro) dan menekan penyakit bercak ungu pada tanaman bawang merah (in vivo).  Uji in vitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap dan uji in vivo menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Perlakuan yang diuji dalam percobaan meliputi aplikasi campuran bahan nano dalam perbandingan 1:1 serta kontrol dan pembanding meliputi kitosan nano 100 ppm, silika nano 100 ppm, campuran kitosan nano dan silika nano pada empat tingkat konsentrasi (50 ppm, 100 ppm, 200 ppm, dan 300 ppm), asam asetat 1%, fungisida mankozeb 80%, serta kontrol akuades. Setiap perlakuan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran kitosan nano 300 ppm dan silika nano 300 ppm mampu menyebabkan penekanan tertinggi terhadap pertumbuhan koloni A. porri sebesar 94,44% dan perkecambahan konidia sebesar 85%, serta paling efektif menekan penyakit bercak ungu pada tanaman bawang merah sebesar 73%.
Strategi Pengembangan dan Peningkatan Produksi Sektor Basis pada Tanaman Hortikultura di Kabupaten Sidenreng Rappang Sapriyadi, Sapriyadi; Ambar, Abdul Azis; Toaha, Sahabuddin
Agrikultura Vol 36, No 1 (2025): April, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i1.57420

Abstract

Kabupaten Sidenreng Rappang memiliki potensi pertanian lain selain tanaman pangan yang memerlukan upaya optimalisasi untuk meningkatkan produksi pertanian pada sektor hortikultura. Komoditas hortikultura yang sedang dikembangkan di Kabupaten Sidenreng Rappang yaitu cabai besar, sawi, tomat, kacang panjang, terung, mentimun, kangkung, bayam dan cabai rawit. Penentuan komoditas sektor basis khususnya di sektor hortikultura belum dilakukan secara mendalam sehingga belum diketahui komoditi yang menjadi basis untuk difokuskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sektor basis tanaman hortikultura serta merumuskan strategi yang dapat diterapkan untuk mengembangkan dan meningkatkan produksi sektor basis tersebut di Kabupaten Sidenreng Rappang. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2024 di Kabupaten Sidenreng Rappang. Metode analisis data yang digunakan ada dua yaitu analisis Location Quotient (LQ) dan analisis Interpretive Structural Modeling (ISM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas hortikultura yang menjadi sektor basis yaitu cabai rawit dan kacang panjang. Komoditas yang menjadi fokus pada strategi pengembangan adalah cabai rawit karena memiliki nilai LQ lebih besar dari pada komoditi kacang panjang meskipun sama-sama berada pada sektor basis yaitu 2,87 dan 2,76. Strategi pengembangan dan peningkatan produksi komoditas cabai rawit berdasarkan hasil analisis ISM  menghasilkan rekomendasi praktis yang sesuai dengan kondisi lokal yaitu pendidikan dan pelatihan penyuluh pertanian, pembinaan kelompok tani, pelatihan petani, dan penggunaan benih bermutu. Penelitian memberikan solusi spesifik pengembangan ekonomi di Kabupaten Sidenreng Rappang dengan menyesuaikan strategi berdasarkan kondisi geografis, sumber daya, dan permintaan lokal serta internasional.