cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Arjuna Subject : -
Articles 395 Documents
Identifikasi Molekuler Isolat Bakteri Entomopatogen, Uji Keamanan Hayati serta Potensinya untuk Pengendalian Serangga Hama Susanti, Rista; Widiantini, Fitri; Dono, Danar
Agrikultura Vol 35, No 3 (2024): Desember, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i3.58413

Abstract

Bakteri entomopatogen merupakan mikroorganisme dengan potensi besar sebagai sumber toksin dan metabolit yang dapat digunakan dalam program pengendalian serangga hama, salah satunya adalah bakteri Serratia marcescens. Toksin dan enzim degradatif ekstraseluler seperti protease dan kitinase yang disekresi oleh S. marcescens merupakan faktor virulensi, sehingga membuat bakteri ini sangat mematikan bagi serangga. Bakteri entomopatogen sebagai agen pengendali hama harus ramah lingkungan dan tidak berbahaya baik bagi manusia maupun spesies non-target. Pengujian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri entomopatogen secara molekuler dengan target S. marcescens dari berbagai sumber serangga terinfeksi, kemudian dilakukan pengujian terkait potensinya dalam mengendalikan serangga hama dan uji keamanan hayati meliputi uji aktivitas kitinase dan uji aktivitas protease, uji hemolisis darah, uji hipersensitivitas, serta uji resistensi antibiotik. Penelitian dilakukan di Laboratorium Agens Hayati dan Laboratorium Molekuler Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari Karawang pada bulan Oktober 2023-Februari 2024. Hasil identifikasi secara molekuler dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) menunjukkan bahwa dari 12 isolat bakteri kode Sm01-Sm12, 11 isolat teridentifikasi sebagai Serratia marcescens sedangkan isolat Sm03 teridentifikasi sebagai Serratia nematodiphila. Isolat Sm02, Sm07 dan Sm11 memiliki aktivitas kitinolitik dan proteolitik serta tidak menunjukkan reaksi hemolisis darah dan hipersensitif tanaman tembakau. Isolat Sm02 dan Sm07 sensitif terhadap 8 jenis antibiotik yang diujikan, yaitu Chloramphenicol 30 µg, Doxycycline 30 µg, Cefotaxime 30 µg, Sulphamethoxazole 25 µg, Ciprofloxacin 5 µg, Gentamicin 10 µg, Amikacin 30 µg, dan Tetracycline 30 µg, sedangkan Sm11 sensitif terhadap 6 jenis antibiotik yang diujikan selain Doxycycline dan Tetracycline. Dengan demikian, bakteri entomopatogen Serratia marcescens isolat Sm02, Sm07 dan Sm11 merupakan isolat yang berpotensi untuk dimanfaatkan dalam pengendalian serangga hama, serta layak untuk pengujian-pengujian tahap selanjutnya.
Keanekaragaman Serangga dan Fungsinya pada Tiga Tipe Perkebunan Kopi Arabika (Coffea arabica L.) di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung Utari, Astarina; Maharani, Yani; Sudarjat, Sudarjat
Agrikultura Vol 35, No 3 (2024): Desember, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i3.58144

Abstract

Keberadaan serangga dalam suatu ekosistem seringkali dianggap sebagai hama, meskipun demikian serangga memiliki fungsi ekologis yang bermanfaat sebagai penyerbuk, pengurai, musuh alami, dan sebagai bioindikator lingkungan. Perbedaan jenis penggunaan lahan pada perkebunan kopi dapat mengakibatkan perbedaan pada struktur komunitas dan fungsi ekologis serangga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman serangga dan fungsinya pada perkebunan kopi Arabika pemukiman, tumpangsari, dan agroforestri di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sampel diambil dari tiga perkebunan kopi Arabika di Desa Pulosari dan Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung dengan menetapkan lima titik sampling berukuran 100 m2 dengan jarak antar titik sampling berkisar 10–50 m. Sampel serangga ditangkap menggunakan perangkap ayun, perangkap kuning, dan perangkap Brocap. Sampel yang diperoleh diidentifikasi berdasarkan karakter morfologi hingga tingkat morfospesies. Serangga yang berhasil dikumpulkan dari perkebunan kopi Arabika berjumlah 607 individu yang memiliki peran fungsional sebagai musuh alami, 47 individu sebagai polinator, 629 individu sebagai dekomposer, dan serangga yang merupakan herbivor berjumlah 2.821 individu. Indeks keanekaragaman serangga pada perkebunan kopi Arabika pemukiman (H’= 2,43) dan tumpangsari (H’= 2,79) memiliki kriteria sedang, sedangkan pada perkebunan kopi Arabika agroforestri (H’= 3,88) memiliki kriteria tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkebunan kopi berpotensi sebagai habitat yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati serangga. Meskipun dominasi herbivor ditemukan di ketiga tipe perkebunan kopi, namun keberadaan serangga musuh alami, polinator, dan dekomposer membantu menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung produktivitas pertanian. Oleh karena itu, pengelolaan habitat yang tepat dalam praktik budidaya kopi sangat diperlukan untuk mengelola fungsi ekologi yang seimbang.
Evaluasi Kualitas Buah, Komponen Hasil dan Hasil Enam Varietas Tomat Calon Tetua Persilangan Damayanti, Farida; Astri, Ayu; Anas, Anas; Sari, Santika; Bakti, Citra
Agrikultura Vol 35, No 3 (2024): Desember, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i3.49852

Abstract

Tomat (Solanum lycopersicum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura penting karena pemanfaatannya yang beragam dan merupakan sumber antioksidan, vitamin A, dan C yang tinggi. Upaya perakitan tomat yang memiliki kualitas buah baik, hasil tinggi dan toleran cekaman suhu tinggi dapat dilakukan melalui pembentukan populasi Near Isogenic Lines (NILs). Seleksi tetua recurrent menjadi salah satu tahapan penting dalam pembentukan populasi NILs. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi dan seleksi berdasarkan karakter kualitas buah, komponen hasil dan hasil pada enam varietas tomat Indonesia. Percobaan dilakukan di greenhouse Bale Tatanen Padjadjaran menggunakan sistem budidaya hidroponik, pada bulan Juni sampai Desember 2022. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang diulang sebanyak empat kali. Perlakuan yang diuji adalah enam varietas tomat yaitu Intan, Opal, Mirah, Berlian, Mutiara, dan Ratna. Karakterisasi kualitas buah dilakukan dengan menggunakan metode destruksi dengan High Performance Liquid Chromatography (HPLC), Spektrofotometer Uv-Vis dan Texture Analyzer. Data dianalisis menggunakan analisis ragam dan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf nyata 5%. Seleksi calon tetua recurrent dilakukan menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kualitas buah pada karakter kualitas buah, komponen hasil dan hasil pada keenam varietas tomat Indonesia yang diuji. Varietas Mirah dan Intan terseleksi berdasarkan karakter kualitas buah, komponen hasil dan hasil yang tinggi dengan nilai pembobotan sebesar 0,886 dan 0,871. Kedua varietas berpotensi digunakan sebagai tetua recurrent pada pembentukan populasi NILs tomat toleran cekaman suhu tinggi.
Deteksi dan Identifikasi Jamur Stemphylium vesicarium pada Tanaman Bawang Putih di Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung Jawa Barat Afrilia, Hilda Ayu; Hersanti, Hersanti; Yulia, Endah
Agrikultura Vol 35, No 3 (2024): Desember, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i3.59460

Abstract

Stemphylium vesicarium merupakan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) A2 di Indonesia dan dilaporkan dapat menginfeksi spesies Allium, cabai, asparagus, dan pir di beberapa negara. Gejala hawar daun menyerupai infeksi S. vesicarium pada bawang putih ditemukan di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung namun belum dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi S. vesicarium sebagai patogen penyebab penyakit hawar daun pada bawang putih menggunakan pendekatan morfologi dan molekuler. Identifikasi morfologi dilakukan berdasarkan pengamatan karakteristik makroskopis dan mikroskopis, sedangkan identifikasi molekuler dilakukan melalui amplifikasi DNA menggunakan primer ITS (Internal Transcribed Spacer) dengan primer forward ITS1 dan reverse ITS4 serta sekuensing genetik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni hingga September 2024. Pengambilan sampel daun yang terinfeksi S. vesicarium dilakukan di tiga lokasi pertanaman di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Isolasi patogen dan identifikasi morfologi dilakukan di Laboratorium Fitopatologi, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Uji patogenesitas pada tanaman bawang putih dilakukan di lahan percobaan di Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata persentase kejadian penyakit hawar daun di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung adalah sebesar 33,78%, sementara rata-rata persentase keparahan penyakitnya mencapai 10,67%. Isolat yang diperoleh memiliki ciri morfologi khas S. vesicarium, seperti bentuk konidia lonjong dengan sekat transversal dan sekat longitudinal dan tidak terbentuk dalam rantai. Analisis molekuler mengonfirmasi kesesuaian hasil identifikasi dengan urutan gen ITS S. vesicarium yang dilaporkan di basis data genetik. Studi ini berhasil mengidentifikasi S. vesicarium sebagai patogen utama penyebab hawar daun pada tanaman bawang putih.
Identifikasi Perubahan Suhu dan Curah Hujan serta Korelasinya dengan Produksi Padi di Kabupaten Garut Jawa Barat Ruminta, Ruminta; Wicaksono, Fiky Yulianto; Narmadhia, Salsabila
Agrikultura Vol 35, No 3 (2024): Desember, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i3.59136

Abstract

Perubahan iklim merupakan ancaman bagi kegiatan budidaya pertanian termasuk budidaya tanaman padi Indonesia. Padi merupakan tanaman serelia yang sangat peka terhadap indikator perubahan iklim sehingga dapat menyebabkan perubahan hasil. Maka dari itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya perubahan curah hujan dan suhu serta korelasinya dengan produktivitas dan produksi padi di Kabupaten Garut. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif menggunakan analisis regresi, korelasi, dan klimogram yang masing-masing untuk mengetahui pola trend dari perubahan curah hujan dan suhu udara, pengaruh peruhaban curah hujan dan suhu udara terhadap produksi dan produkstivitas tanaman padi, serta kombinasi perubahan curah hujan terhadap suhu udara. Analisis korelasi dilakukan secara temporal selama periode 1982 hingga 2018 dan secara spasial untuk 42 kecamatan di kabupaten Garut. Data yang digunakan meliputi data iklim dan data budidaya tanaman padi yang diperoleh dari Dinas Pertanian, LAPAN, BPS, dan BMKG Kabupaten Garut pada tahun 1982 hingga 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kabupaten Garut terjadi trend peningkatan curah hujan sebesar 485 mm dan peningkatan suhu udara sebesar 0,2 oC serta pergeseran klimogram dari kiri ke arah kanan yang mengindikasikan perubahan curah hujan yang lebih besar dan perubahan suhu yang relatif kecil. Korelasi secara temporal antara curah hujan dengan luas panen dan produksi padi adalah signifikan dengan koefisien korelasi masing-masing sebesar 0,470 dan 0,385. Korelasi temporal antara suhu udara dengan luas panen, produktivitas, dan produksi padi adalah sigfinikan dengan koefisien korelasi masing-masing sebesar 0,424, 0,420 dan 0,423. Koefisien korelasi secara spasial antara curah hujan dengan produktivitas dan produksi padi di 42 Kecamatan Kabupaten Garut masing-masing berkisar antara 0,350–0,590 dan 0,390–0,794. Koefisien korelasi secara spasial antara suhu udara dengan produktivitas dan produksi padi masing-masing berkisar antara 0,572–0,648 dan antara 0,400–0,790. Fakta ini menunjukkan bahwa perubahan curah hujan dan suhu udara berpengaruh signifikan terhadap produktivitas dan produksi padi di Kabupaten Garut.
Pengaruh Naungan Berlebih pada Pertumbuhan dan Hasil Varietas Kangkung Darat (Ipomoea reptans Poir) Gustiar, Fitra; Ria, Rofiqoh Punama; Marlina, Marlina; Dedik, Budianta; Anggraini, Yeni
Agrikultura Vol 35, No 3 (2024): Desember, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i3.55563

Abstract

Kangkung (Ipomoea reptans Poir) merupakan salah satu sayuran daun yang banyak digemari masyarakat karena kandungan gizi tinggi. Peningkatan kebutuhan kangkung perlu diikuti dengan peningkatan produksinya. Salah satu cara peningkatan produksi kangkung dapat dilakukan dengan perluasan area budidaya. Pemanfaatan areal dengan intesitas cahaya yang minim seperti di antara tanaman tahunan atau pekarangan di kawasan urban dapat menjadi alternative tempat budidaya tanaman kangkung. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat toleransi tanaman kangkung terhadap naungan dan menentukan varietas kangkung yang toleran terhadap kondisi cahaya minimum. Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Desa Permata Baru (104º46’44”E; 3º01’35”S) Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan dengan mengunakan naungan artificial pada bulan Juli hingga September 2023. Penelitian ini menggunakan rancangan petak terbagi dengan 2 faktor. Taraf naungan sebagai petak utama terdiri dari 0% (tanpa naungan), 55%, 70% dan 95%. Varietas sebagai anak petak terdiri dari varietas Bangkok LP-1 dan varietas Bika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menurunnya intensitas cahaya matahari akan menurunkan pertumbuhan tanaman kangkung. Naungan 55% menurunkan secara signifikan pertumbuhan dan hasil kangkung, semakin bertambahnya tingkat naungan maka semakin menekan pertumbuhan kangkung. Varietas Bangkok LP-1 dan varietas Bika tidak terdapat perbedaan baik pertumbuhan maupun hasil.
Pengaruh Kultivar dan Berbagai Konsentrasi Rootone F terhadap Keberhasilan Setek Batang Bambu Jepang (Dracaena surculosa) Tobing, Oktavianus Lumban; Yulianti, Nani; Fuaadah, Fathiati
Agrikultura Vol 35, No 3 (2024): Desember, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i3.55197

Abstract

Bambu jepang (Dracaena surculosa) adalah tanaman hias dengan bentuk batang seperti bambu dan memiliki corak daun indah yang umumnya diperbanyak melalui setek. Keberhasilan setek dapat didukung dengan pengaplikasian zat pengatur tumbuh (ZPT). Akan tetapi, perbedaan varietas tanaman seringkali memberikan respon berbeda terhadap ZPT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kultivar dan berbagai konsentrasi Rootone F terhadap pertumbuhan setek batang bambu jepang (D. surculosa). Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiri atas dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu kultivar bambu jepang yang terdiri dari Godseffiana dan Florida beauty. Faktor kedua adalah konsentrasi Rootone F terdiri atas 4 taraf yaitu 0 mg/l, 200 mg/l, 400 mg/l, dan 600 mg/l. Hasilnya menunjukkan kultivar tanaman bambu jepang godseffina memberikan hasil pertumbuhan yang lebih baik pada semua peubah dibandingkan Florida beauty. Konsentrasi Rootone F 200 mg/l memberikan hasil lebih baik pada parameter persentase setek hidup, persentase setek bertunas, jumlah akar, panjang tunas, jumlah tunas, dan waktu muncul tunas tetapi tidak berbeda dengan konsentrasi Rootone F 400 mg/l dan 600 mg/l. Lebih lanjut terdapat interaksi antara jenis kultivar dan konsentrasi Rootone F pada parameter jumlah tunas.
Strategi Peningkatan Pemahaman Petani terhadap Sertifikasi ISPO-RSPO untuk Mendukung Sawit Rakyat Berkelanjutan Nainggolan, Hotden Leonardo; Butar-Butar, Kasih Marito; Lawolo, Omirais; Sitompul, Josua Benget Martua; Nainggolan, Lamtiur Hotmaida
Agrikultura Vol 35, No 3 (2024): Desember, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i3.56588

Abstract

Muncul beberapa isu global yang menyatakan bahwa perkebunan kelapa sawit di Indonesia berkontribusi terhadap deforestasi, pembukaan lahan illegal dan menyebabkan terganggunya habitat mahluk hidup dan hilangnya beberapa spesies. Untuk menangkal dampak merugikan dari perluasan perkebunan kelapa sawit, sebuah lembaga yang beranggotakan pendiri World Wildlife Fund, Malaysian Palm Oil Association (MPOA), Unilever, AAK, dan Migros  telah membentuk sistem sertifikasi untuk produk minyak sawit bernama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesia juga telah membuat standar atau sertifikasi untuk produk kelapa sawit yang disebut Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Tujuan penelitian ini adalah: a) untuk mengidentifikasi pemahaman petani terkait sertifikasi ISPO-RSPO pada usahatani kelapa sawit rakyat, dan b) untuk mengidentifikasi strategi peningkatan pemahaman kelapa sawit rakyat terhadap ISPO-RSPO pada usahatani kelapa sawit rakyat sehingga mendukung sawit berkelanjutan. Kegiatan penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan di Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hilir dan Sinembah Tanjung Muda Hulu dengan jumlah populasi sebanyak 3.710 KK petani sawit rakyat dan sampel sebanyak 98 responden ditentukan menggunakan Slovin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat ketidakpahaman petani terhadap sertifikasi ISPO dan RSPO masih cukup tinggi. Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai strategi meningkatkan kesadaran petani terhadap manfaat dan peluang yang diperoleh melalui partisipasi dalam program ISPO dan RSPO.
Consumer Actual Purchases on Premium Healthy Beverages: A Study of New Technology Cold-Pressed Fruit Processing Utami, Hesty Nurul; Putri, Rifa Fajriani; Wiyono, Sulistyodewi Nur; Nurseto, Hardian Eko; Noor, Trisna Insan
Agrikultura Vol 35, No 3 (2024): Desember, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i3.55834

Abstract

The paper focuses on the factors influencing consumers' actual purchase decisions for healthy products using new technology to produce fresh product-based beverages. Cold-pressed juice is a premium beverage made from fresh produce with a new technology-based process that can produce high nutrition as an alternative for the consumer's diet. The research examines the relationship between price, promotion, and product quality on consumers' purchase decisions on beverages with premium categories. A survey was conducted among 50 respondents of urban consumers who have experience buying premium healthy beverages of the brand XYZ in two outlets in Jakarta. The mean value and rank Spearman correlation analysis revealed that product quality, promotion, and price, in a particular order, were the best factors evaluated by customers, and these factors significantly correlate with purchase decisions. Product quality is the most considered by customers; however, only product quality affects consumer purchase decisions among the three factors. The findings may help processed fresh produce beverage processors and outlet owners understand the factors affecting customer purchase decisions to buy such premium fresh produce beverages. It also enables them to make better decisions in emerging technology-based beverage production for fresh produce commodities and food retail development, including supporting consumer diet choices.
Pendugaan Umur Simpan Biji Kopi Arabika Menggunakan Metode Accelerated Shelf-Life Test (ASLT) Model Arrhenius Berdasarkan Parameter Kadar Air Afina, Nudiya; Sinaga, Hotnida; Lubis, Zulkifli
Agrikultura Vol 35, No 3 (2024): Desember, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i3.56832

Abstract

Peningkatan produksi kopi harus disertai dengan pemeliharaan mutu biji kopi yaitu dengan cara penyimpanan dan pemilihan jenis kemasan yang tepat sehingga dapat mempertahankan mutu biji kopi. Penurunan mutu biji kopi dapat berakibat pada penurunan umur simpannya. Umur simpan biji kopi dapat ditentukan berdasarkan perubahan yang terjadi pada mutu biji kopi selama penyimpanan yaitu dapat dilakukan dengan menggunakan metode Accelerated Shelf-Life Test (ASLT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dugaan umur simpan biji kopi arabika dari Sidikalang dengan menggunakan metode ASLT model Arrhenius berdasarkan parameter kadar air. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan empat jenis kemasan, yaitu aluminium foil, Grainpro, kertas, dan goni rami dengan tiga suhu penyimpanan, yaitu 30 °C, 40 °C, dan 50 °C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur simpan biji kopi dengan kemasan kantong aluminium foil, kantong Grainpro, kantong kertas, dan karung goni adalah 42 hari, 46 hari, 29 hari, dan 28 hari pada suhu 30°C; 20 hari, 21 hari, 15 hari, dan 13 hari pada suhu 40°C; dan 10 hari, 11 hari, 8 hari, dan 6 hari pada suhu 50°C.