cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Arjuna Subject : -
Articles 395 Documents
Rancang Bangun Mesin Pembersih dan Pengupas Kentang Wahyu K. Sugandi; Totok Herwanto; Ayuditha Putri Yudi
Agrikultura Vol 29, No 2 (2018): Agustus, 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.179 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v29i2.20850

Abstract

ABSTRACTEngineering of potatoes cleaning and peeling machineChips can be produced from varieties of raw materials including potatoes. To make potato chips on a large scale requires a machine that can facilitate all or one of the manufacturing processes. Therefore, research on the design of potatoes cleaning and peeler machine and its performance tests were required. The research method used was engineering method. The stages of this research were problem identification, data collection, designing, manufacturing and testing machine. This machine consisted of several components, namely frame unit, cleaning unit and peeler, and transmission unit. The mechanism of this machine was to put the water in and then turn on the motor connected to the brush and put the potato in. The potato will rotate and will hit the brush so that the skin peeled off. When the motor turned off, the faucet can be opened to remove the water. The lid on the tube can be opened to take the potato out. The engine design have a total dimension (1000 x 400 x 400) mm, height and diameter of the tube of 330 mm and 380 mm, using two cleaning brushes on one axis. with theoretical capacity of 152 kg/hour, actual capacity of 60 kg/hour.Keywords: cleaning and peeler machine, potato, cleaning brushABSTRAKKeripik dapat diproduksi dari berbagai macam bahan baku diantaranya kentang. Untuk membuat keripik kentang dalam skala yang besar dibutuhkan sebuah mesin yang dapat memudahkan semua atau salah satu proses pembuatannya. Oleh karena itu dibutuhkan penelitian mengenai rancang bangun mesin pembersih dan pengupas kentang serta uji kinerja mesin tersebut. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode rekayasa. Tahapan penelitian ini yaitu identifikasi masalah, pengumpulan data, perancangan, pembuatan dan pengujian mesin. Mesin ini terdiri dari beberapa komponen yaitu unit rangka, unit pembersih dan pengupas, dan unit transmisi. Mekanisme kerja dari mesin ini yaitu memasukkan air lalu menyalakan motor yang terhubung dengan sikat lalu memasukkan kentang dimana kentang itu akan beruputar dan akan mengenai sikat sehingga kulit terkupas lalu motor dimatikan. Kran dapat dibuka sehingga air akan keluar, lalu jika tutup pada tabung dibuka, kentang dapat keluar. Hasil dari rancang bangun mesin memiliki total dimensi (1000 x 400 x 400) mm, tinggi dan diameter tabung masing-masing adalah 330 mm dan 380 mm, menggunakan dua buah sikat pembersih pada satu poros dengan kapasitas teoritis sebesar 152 kg/jam, kapasitas aktual sebesar 60 kg/jam,Kata kunci: Mesin pembersih, mesin pengupas kentang, sikat pembersih
Antagonisme Trichoderma spp. terhadap Jamur Rigidoporus lignosus (Klotzsch) Imazeki dan Penekanan Penyakit Jamur Akar Putih pada Tanaman Karet Endah Yulia Yulia; Noor Istifadah; Fitri Widiantini; Hilda Sandra Utami
Agrikultura Vol 28, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.243 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i1.13226

Abstract

ABSTRACTAntagonisms of Trichoderma spp. against Rigidoporus lignosus (Klotzsch) Imazeki and Supression of White Root Disease on Rubber PlantWhite root disease caused by the infection of fungal pathogen Rigidoporus lignosus is an important disease on rubber plants. The pathogen infects the rubber roots but then might cause leaf drop or even kill the plants. Common control method used in controlling the disease is the application of synthetic fungicides besides increasing application of biological control agents (BCA) as an alternative control method. Trichoderma spp. is frequently used as BCA to control diseases in many plants. The aims of this study were to test the antagonism of Trichoderma spp. against R. lignosus and to assess the effectiveness of Trichoderma spp. corn starter in white root disease suppression on rubber seedlings. Trichoderma spp. The antagonism test was conducted using dual culture method in in vitro test. A randomized block design (RBD) experimental design was used in the glass house trial consisted of five treatments and five replications. Application of the Trichoderma spp. corn starter was combined with the application of compost in the treatments of 25 g BCA + 100 g of compost, 50 g BCA + 200 g of compost, 75 g BCA + 300 g of compost, 100 g of BCA + 400 g of compost, and a control treatment without BCA. The BCA Trichoderma spp. was applied in the same time with the inoculation of 20 g of corn mass culture of R. lignosus. The result of antagonism test showed that Trichoderma spp. isolate was effectively suppressed micelial growth of R. lignosus with the supperession percentage reached 90.82%. Meanwhile, the Trichoderma spp. BCA in corn starter was also suppressed the disease development on rubber seedlings with the highest disease suppression of 100% at the dose of 100 g BCA/seedling.Keywords: Trichoderma spp., biocontrol agents, white root disease, rubberABSTRAKPenyakit jamur akar putih (JAP) merupakan penyakit penting pada tanaman karet. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi patogen Rigidoporus lignosus pada akar tanaman karet yang dapat mengakibatkan daun gugur atau bahkan matinya tanaman. Pengendalian yang umum dilakukan adalah pengendalian kimia dengan menggunakan pestisida sintetik tetapi penggunaan agens biokontrol (ABK) juga telah mulai banyak dilakukan. Penggunaan Trichoderma spp. sebagai ABK telah banyak dilakukan untuk mengendalikan penyakit pada beberapa tanaman dengan hasil yang memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji antagonisme Trichoderma spp. terhadap jamur R. lignosus dan penekanan penyakit JAP pada bibit tanaman karet yang diberi perlakuan starter jagung pecah Trichoderma spp. Pengujian antagonisme dilakukan secara in vitro melalui metode dual culture. Percobaan rumah kaca dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas lima perlakuan dan lima ulangan. Aplikasi starter Trichoderma spp. dilakukan dengan tambahan kompos pada perlakuan 25 g ABK + 100 g kompos, 50 g ABK + 200 g kompos, 75 g ABK + 300 g kompos, 100 g ABK + 400 g kompos, dan perlakuan kontrol atau tanpa aplikasi ABK Trichoderma spp. Aplikasi ABK dilakukan bersamaan dengan inokulasi biakan massal jagung pecah jamur R. lignosus sebanyak 20 g/bibit. Hasil uji antagonisme menunjukkan isolatTrichoderma spp. efektif menekan pertumbuhan R. lignosus dengan penekanan mencapai 90,82%. Demikian juga dengan aplikasi starter jagung pecah Trichoderma spp. menunjukkan penekanan penyakit JAP pada bibit tanaman karet dengan penekanan penyakit mencapai 100% pada dosis 100 g ABK/bibit tanaman karet.Kata Kunci: Trichoderma spp., agens biokontrol, jamur akar putih, karet
Populasi Hama Wereng Batang Coklat (Nilaparvata Lugens Stal.) Dan Keragaman Serangga Predatornya Pada Padi Sawah Lahan Dataran Tinggi Di Desa Panyocokan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung Martua Suhunan Sianipar; Luciana Djaya; Entun Santosa; RC Hidayat Soesilohadi; Wahyu Daradjat Natawigena; Mochamad Ardiansyah
Agrikultura Vol 26, No 2 (2015): Agustus, 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.706 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v26i2.8469

Abstract

ABSTRACTPopulation of Brown Plant Hopper (Nilaparvata lugens Stal.) and the Diversity of Its Natural Enemyin Highland Paddy Rice Field in the Village of Panyocokan, Ciwidey District, Bandung RegencyBrown lanthopper/BPH (Nilaparvata lugens Stal.) is a main pest of rice in the field. This researchwas aimed to study the population of BPH and the diversity of its natural enemy in highland paddyrice field. The survey was conducted in three paddy plots (15 m x 20 m) located in the village ofPanyocokan, Ciwidey District, Bandung Regency, West Java. The experiment was conducted in thegreenhouse of the Department of Plant Pests and Diseases, Faculty of Agriculture, UniversitasPadjadjaran. The samples of insects were collected systematically using yellow trap and net trap,and visually observed in each rice cluster. The number of BPH were recorded and accumulatedeach week. Fecundity, life cycle, and sex ratio of the new generation of BPH were observed in 3replications by using 1 pair of WBC on each replication. The result showed that the population ofBPH in the highland was below 10, which means that BPH population was still below theeconomic threshold and control threshold. Temperature, humidity, and rainfall did notsignificantly affect the BPH population. This was indicated by the regression analysis of eachtemperature (Y = 0.557-8.167x; R2 = 0.039; P = 0.465), humidity (Y = -0.077+ 9.112x; R2 = 0.045; P =0.428), and rainfall (Y = -0.118 + 3.412x; R2 = 0.136; P = 0.159). Natural enemy diversity indextended to fluctuate widely from low to moderate. In the temperature range from 21.1°C to 34.8°C,BPH could produce 127-207 new generation during its lifetime. BPH needed an average of 37.66days to produce a new generation. The ratio of male to female was 1.06 : 1.Keywords: population, brown planthopper, diversity, predator, highland paddy rice field, Ciwidey,BandungABSTRAKHama wereng batang cklat/WBC (Nilaparvata lugens Stal.) merupakan hama utama tanaman padi.Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari populasi WBC dan keragaman musuh alaminya padatanaman padi sawah di dataran tinggi. Penelitian dilakukan dengan metode survei dan eksperimen.Survei dilakukan pada 3 petak lahan percobaan berukuran 15 mx 20 m bertempat di DesaPanyocokan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung dan eksperimen dilakukan di rumah kacaDepartemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Metodepengambilan sampel dilakukan secara diagonal sistematis. Populasi WBC ditentukan denganmenggunakan perangkap kuning dan perangkap jaring dan dengan pengamatan langsung padarumpun padi. Eksperimen dilakukan dengan meletakkan sepasang WBC dalam wadah, lalu diamatikeperidian, siklus hidup, dan sex ratio keturunannya. WBC yang tertangkap dihitung jumlahnyadan diakumulasikan setiap minggunya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan populasi dilahan survey di bawah 10 ekor/rumpun yang artinya populasi WBC masih di bawah ambangekonomi atau ambang kendali. Suhu, kelembaban, dan curah hujan tidak memberikan pengaruhyang signifikan terhadap populasi WBC. Hal tersebut ditunjukkan dengan analisis regresi masingmasingpada suhu (Y= 0,557 – 8,167x; R2 = 0,039; P= 0,465), kelembaban (Y = -0,077 + 9,112x; R2 =0,045; P = 0,428), dan curah hujan (Y = -0,118 + 3,412x; R2 = 0,136; P = 0,159). Indeks keragamanmusuh alami cenderung mengalami fluktuasi dari rendah sampai sedang. Pada kisaran suhu 21,1oC–34,8oC, hasil pengamatan keperidian menunjukkan WBC dapat menghasilkan 127-207 individubaru selama masa hidupnya. Pada pengamatan siklus hidup, WBC memerlukan rata-rata 37,66 harisampai menghasilkan generasi baru. Pengamatan sex ratio menunjukkan perbandingan (jantan :betina) 1,06 :1.Kata kunci: populasi, wereng batang coklat, keragaman, predator, sawah, dataran tinggi, Ciwidey,Bandung
Keragaman Serangga Hama pada Tanaman Asparagus (Asparagus officinalis L.) di Sentra Budidaya Tanaman Agroduta Lembang Jawa Barat Agus Susanto; Yadi Supriyadi; Tohidin Tohidin; Mohammad Iqbal
Agrikultura Vol 29, No 1 (2018): April, 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.82 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v29i1.17869

Abstract

ABSTRACTVariety of Insect Pest on Asparagus Plant (Asparagus officinalis L.) in Agroduta Plant Cultivation Center Lembang West JavaAgroduta Plant Cultivation Center Lembang West Java is facing some constraints in increasing asparagus production; one of them is the presence of plant pest organisms. Asparagus is a subtropical plant rarely cultivated in Indonesia and may have different types of pests. Therefore, information on the presence and diversity of pests on asparagus planting is important to be assessed. This research aimed to study the diversity of insect pests on the land of asparagus plants in the Agroduta Cultivation Center Lembang, West Java. This study used survey methods where the collected data included the number and type of insects caught that the diversity index then were calculated. The samplings were using adhesive yellow trap and pitfall trap, carried out 6 times a week. The experiments were conducted on a land size of 12 x 6.5 m with an altitude of 1273 meters above sea level (masl). The results showed that the insects caught during the experiment were 7 insects, consisting of 17 families and 21 species, while the number of individual insects was 9.643. The index diversity of insects was categorized low because of the diversity index <1.Keywords: Asparagus, Diversity, Insect PestABSTRAKSentra Budidaya Tanaman Agroduta Lembang Jawa Barat menghadapi kendala dalam peningkatan produksi asparagus yaitu adanya gangguan organisme pengganggu tanaman tanaman (OPT). Asparagus merupakan tanaman subtropis yang jarang dibudidayakan di Indonesia dan kemungkinan memiliki perbedaan jenis OPT. Oleh karena itu informasi keberadaan dan keragaman hama pada tanaman asparagus perlu diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keragaman serangga hama pada lahan tanaman asparagus di sentra budidaya tanaman Agroduta Lembang, Jawa Barat. Penelitian ini mengguanakan metode survey. Data yang dikumpulkan meliputi jumlah dan jenis serangga yang tertangkap yang kemudian dihitung indeks keragamannya. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan perangkap kuning berperekat (yellow sticky trap) dan perangkap jebakan (pitfall) dilakukan selama 6 kali pegamatan dalam setiap minggunya. Percobaan dilakukan pada luas lahan berukuran 12 x 6,5 m dengan ketinggian 1273 meter di atas permukaan laut (mdpl). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa serangga yang tertangkap selama percobaan sebanyak 7 ordo serangga, yang terdiri atas 17 famili dan 21 spesies, jumlah individidu serangga sebanyak 9.643. Indeks keragaman serangga dikatagorikan rendah karena indeks keragaman <1.Kata Kunci: Asparagus, Keragaman, Serangga Hama
Kemampuan Bakteri Endofit Akar dan Ubi Kentang untuk Menekan Penyakit Busuk Lunak (Erwinia carotovora pv. carotovora) pada Ubi Noor Istifadah; Muhamad Salman Umar; Sudarjat Sudarjat; Luciana Djaya
Agrikultura Vol 27, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.23 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i3.10880

Abstract

ABSTRACTThe abilities of endophytic bacteria from potato roots and tubers to suppress soft rot disease (Erwinia carotovora pv. carotovora) in potato tuberSoft rot disease caused by Erwinia carotovora pv. carotovora is one of limiting factors in cultivation and post harvest of potato. The eco-friendly control measure that can be developed for controlling the diseases is biological control. Microbes that are potential as biological control agents include endophytic bacteria. This paper discussed the results of study examining the potential of endophytic bacteria isolated from roots and tubers of potato to inhibit the growth of E. carotovora pv. carotovora in vitro and suppress soft rot disease in potato tuber. The results showed that among 24 isolates examined, four isolates of endophytic bacteria (one isolate from potato tuber and three isolates from potato roots) inhibited the growth of E. carotovora pv. carotovora in vitro with inhibition zone 3.5-6.8 mm. In the in vivo test, the isolates inhibited the soft rot disease in potato tuber by 71.5-86.4%. The isolate that tended to show relatively better inhibition in vitro and in vivo was isolate from potato tuber which is CK U3 (Lysinibacillus sp.)Keywords: Biological control, Endophytic bacteria, Post-harvest, Potato, Soft rot diseaseABSTRAKPenyakit busuk lunak yang disebabkan bakteri Erwinia carotovora pv. carotovora, merupakan salah satu kendala dalam budidaya dan pascapanen kentang. Cara pengendalian ramah lingkungan yang dapat dikembangkan untuk menekan penyakit tersebut adalah pengendalian biologi. Kelompok mikroba yang berpotensi sebagi agens pengendali biologi adalah bakteri endofit. Artikel ini mendiskusikan potensi isolat bakteri endofit yang berasal dari ubi dan akar kentang untuk menghambat pertumbuhan bakteri E. carotovora pv. carotovora secara in vitro dan menekan perkembangan penyakit busuk lunak pada ubi kentang. Hasil percobaan menunjukkan bahwa diantara 24 isolat bakteri yang diuji, terdapat empat isolat bakteri endofit (satu isolat dari ubi kentang dan tiga isolat dari akar kentang) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. carotovora pv. carotovora secara in vitro dengan zona penghambatan sebesar 3,5-6,8 mm. Pada pengujian secara in vivo, isolat-isolat tersebut dapat menekan perkembangan penyakit busuk lunak pada ubi kentang sebesar 71,5-86,4%. Isolat yang cenderung menunjukkan penghambatan relatif lebih baik secara in vitro dan in vivo adalah isolat bakteri endofit asal ubi kentang yaitu isolat CK U3 (Lysinibacillus sp.).Kata Kunci: Pengendalian biologi, Bakteri endofit, Pascapanen, Kentang, Penyakit busuk basah
Role of Nitrogen Fertilizer on Cadmium Uptake by Ramie (Boehmeria nivea (L.) Gaudich) Grown on Cadmium Contaminated Soil Reginawanti Hindersah; Anne Nurbaity; Dedi Nursyamsi
Agrikultura Vol 26, No 1 (2015): April, 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.23 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v26i1.8460

Abstract

ABSTRACTContinues phosphate fertilization as well as organic matter amendment can increase cadmium concentrationin soil and induce more cadmium uptake by plants. Pytoremediation using non edible plant such as ramie(Boehmeria nivea L. Goud) is cheap and effective method to extract Cd from Cd-contaminated soil. Since inplant tissue Cd is bound in phytochelatin peptide which contains nitrogen and sulphur, the objective of thisgreen house experiment was to assess the influence of nitrogen fertilizer in form of urea on cadmiumuptake, nitrogen and sulphur concentration in shoots as well as shoot dry weight of 60-day old ramiegrown in cadmium-contaminated soil. The experiment was set up in a Split Plot Design with two treatmentsand three replications. The main plot was cadmium levels (0, 10 and 15 mg kg-1) and subplot was urea level(0, 5.0 and 7.5 g pot-1). The result showed that the increase of cadmium concentration in soil enhanced itsconcentration in ramie shoot regardless of urea levels. However either cadmium or urea did not changesulphur concentration in ramie shoot. Urea of 7,5 g/pot increased shoot dry weight but adding CdCl2.H2O of15 mg/kg did not change shoot dry weight. This experiment demonstrated that ramie was able to grow inrelatively high level of soil cadmium, and higher cadmium uptake by ramie shoot was not followed by anincrease in nitrogen as well as sulphur uptake.Keywords: Cadmium, Urea, Nitrogen, Sulphur, Ramie.
Strategi Pengentasan Kemiskinan di Pulau Kecil di Propinsi Maluku Wardis Girsang
Agrikultura Vol 20, No 3 (2009): Desember, 2009
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.515 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v20i3.951

Abstract

Kemiskinan masih menjadi salah satu persoalan serius di Indonesia walaupun angka kemiskinan cenderung menurun dari 39 juta pada tahun 2006 menjadi 33 juta atau 15.5 % pada tahun 2008. Bagian terbesar dari penduduk miskin itu adalah petani, khususnya petani tanaman pangan. Di Maluku, angka kemiskinan hampir dua kali lipat dibanding angka kemiskinan nasional yakni sekitar 29 %. Data penelitian telah dikumpulkan dari sejumlah rumah tangga petani melalui survai dan kelompok diskusi fokus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani miskin yang aktif secara ekonomi tersebar di pulau-pulau kecil. Mereka memiliki pola usahatani subsisten dan berpendapatan rendah serta kurang mampu memenuhi kebutuhan dasar. Kajian ini merekomendasikan untuk mengentaskan kemiskinan melalui pengembangan agribisnis komoditi unggulan di tiap pulau yang didukung subsidi input produksi, fasilitasi akses terhadap pasar serta revitalisasi atau penguatan kapasitas kelembagaan kelompok produktif di pedesaan.
Struktur Rantai Pasok pada Klaster Sayuran untuk Tujuan Pasar Terstruktur Dias Cakra Supriatna; Tomy Perdana; Trisna Insan Noor
Agrikultura Vol 27, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.6 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i2.9990

Abstract

ABSTRAKManajemen logistik produk sayuran membutuhkan perlakuan khusus dikarenakan karakteristik sayuran yang bersifat mudah rusak secara fisik maupun secara biologis. Disisi lain, permintaan pasar pada produk segar terus menuntut agar produk dapat sampai ke konsumen dalam kualitas yang tinggi dan pasar menuntut pasokan yang kontinyu. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan struktur rantai pasok sistem logistik yang optimal pada Klaster Sayuran Bernilai Tinggi yang mengelola 6 komoditas sayuran utama diantaranya tomat tw, paprika merah, kuning, hijau, oranye dan kentang berasal dari petani produsen yang tersebar dalam 8 Desa di Kecamatan Pangalengan untuk tujuan pasar terstruktur. Seluruh komoditas dikirimkan setiap hari, pada kualitas dan kuantitas yang telah ditentukan dengan syarat waktu panen, pengelolaan pasca panen dan pengiriman dalam satu hari. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif. Melalui metode ini, penulis membuat gambaran secara sistematis mengenai permasalahan yang diangkat. Pendekatan kualitatif pada studi ini didasarkan atas pertimbangan bahwa penelitian memerlukan informasi yang mendalam (eksploratif) dari beberapa sumber. Teknik penelitian yang dilakukan adalah studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan struktur rantai pasok dalam sistem logistik klaster sayuran. Struktur rantai pasok dikatakan berhasil apabila tercipta sistem yang efektif dan efisien sehingga memberikan manfaat pada seluruh pelaku dalam Klaster Sayuran.Kata Kunci: Struktur rantai pasok, Klaster sayuran, Komoditas sayuran utama klaster, Sistem logistik pertanian
Penilaian Tingkat Bahaya Erosi di Sub Daerah Aliran Sungai Cileungsi, Bogor Nanang Komaruddin
Agrikultura Vol 19, No 3 (2008): Desember, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.894 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i3.1011

Abstract

Upaya rehabilitasi lahan di daerah aliran suangi (DAS) harus dilakukan berdasarkan nilai erosi aktual lahan sehingga degradasi lahan yang lebih parah dapat dicegah. Penelitian ini dilakukan untuk mengklasifikasi lahan di sub DAS Cileungsi Bogor Jawa Barat berdasarkan tingkat bahaya erosi dan kondisi resapan air tanah. Tingkat bahaya erosi ditentukan berdasarkan rumus USLE (Universal Soil Loss Equation), sedangkan analisis resapan air didekati melalui tingkat resapan (infiltrasi) air hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat bahaya erosi di daerah kajian berkisar dari sangat ringan sampai sedang dengan luas 24.620 ha (45,59%) dan berat sampai sangat berat  dengan luas 11.540 ha (21,37%). Lahan dengan tingkat bahaya erosi berat sampai sangat berat umumnya terdapat di bagian hulu Sub DAS. Penyebab utama besarnya erosi pada wilayah Sub DAS Cileungsi adalah faktor tanaman penutup lahan (C) dan faktor pengelolaan/konservasi tanah (P). Kondisi resapan daerah kajian dikelompokkan kedalam kondisi baik seluas 10.076 ha (18,66%), kondisi normal alami seluas 6.158 ha (11,40%), kondisi mulai kritis seluas 12.398 ha (22,96%) dan kondisi agak kritis seluas 7.528 ha (13,94%). Kurangnya penutup lahan pada bagian hulu Sub DAS merupakan salah satu faktor penyebab penurunan  kemampuan tanah meresap air dan  meningkatkan bahaya erosi.
Skrining Ex Situ Genotipe Padi Gogo Haploid Ganda Toleran lntensitas Cahaya Rendah Priatna Sasmita
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008): April, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1830.127 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i1.643

Abstract

Penelitian skrining/penapisan genotipe padi gogo haploid ganda toleran naungan secara ex situ bertujuan untuk mendapatkan galur—galur baru padi gogo unggul toleran terhadap naungan. Percobaan dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2005 di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Bogor. Percobaan dilakukan secara ex situ menggunakan metode Uji Cepat Fase Bibit dan Metode Uji Paranet. Bahan tanaman yang digunakan adalah 91 galur padi gogo haploid ganda hasil kultur antera ditambah Sembilan kultivar dan galur. Kultivar Jatiluhur dan Kalimutu, berturut-turut digunakan sebagai kontrol toleran dan peka terhadap naungan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 22 galur haploid ganda, dua kultivar, dan satu galur termasuk kategori toleran terhadap intensitas cahaya rendah yang konsisten berdasarkan kedua metode skrining yang digunakan. Galur—galur haploid ganda toleran yaitu: GI-7, GI-8, GI-12, lG-l9, IG-38, JW-70, JW-7l, JW-75, WI-43, WI-44, Wl-49, IW-53, IW-54, IW-56, IW-58, IW-59, lW-60, IW-64, IW67, IW-l05, IW-107, dan IW-108. Dua Kultivar termasuk kategori toleran yaitu Jatiluhur dan Dodokan, serta satu galur termasuk toleran yaitu galur ITA-247. Kultivar Jatiluhur dan Kalimutu berturut-turut sebagai kontrol toleran dan peka, pada penelitian ini keduanya konsisten. Untuk mempercepat perolehan genotipe padi toleran naungan, secara ex situ skrining dapat dilakukan dengan Uji Cepat Fase Bibit.

Page 8 of 40 | Total Record : 395