cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH GILI SULAT DAN GILI LAWANG Hakim Miftakhul Huda; Yesi Dewita Sari
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 2 (2010): DESEMBER (2010)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6719.336 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v5i2.5796

Abstract

Tingginya intensitas aktivitas penangkapan ikan telah menyebabkan degradasi sumber daya ikan pada beberapa daerah penangkapan ikan. Salah satu langkah untuk menjaga keberlanjutan dan meminimalkan degradasi sumber daya ikan adalah membentuk kawasan konservasi laut daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan dan pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Gili Sulat-Gili Lawang, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian menggunakan metode valuasi ekonomi sumber daya untuk menganalisis gabungan data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan total nilai manfaat KKLD Gili Sulat-Gili Lawang adalah Rp 8,99 milyar per tahun yang meliputi manfaat langsung dan tidak langsung. Hasil penelitian menunjukan pengelolaan terhadap KKLD ditinjau dari biaya, aktor atau pelaku dan aktivitas pengelolaan sampai saat ini belum optimal. Penelitian ini menyarankan perlunya menyusun strategi pengelolaan yang tepat untuk mengoptimalkan maksud dan tujuan dibentuknya KKLD. Tittle:  Utilization and Management of The Gili Sulat and The Gili Lawang Regional Marine Conservation Area.Highly intensive of fishing activities lead to degradation of fish resources in some fishing grounds. One effort to maintain sustainability of fish resources and minimize its degradation is to establish local marine conservation areas. This study aims to analyze utilization and management of Gili Sulat-Gili Lawang local marine conservation areas (or locally known as KKLD) in Wes Nusa Tenggara Province. This study applies economic valuation methods to analyze combination of primary and secondary data. Results of this study show that annual total benefit values of Gili Sulat-Gili Gili Lawang KKLD is IDR 8,99 billion which includes direct and indirect benefits. In terms of costs, actors and management activities, current management of KKLD is less optimal. Therefore, this study recommends to develop appropriate management strategies to optimize the purposes of KKLD establishment.
ANALISIS KETERSEDIAAN GARAM MENUJU PENCAPAIAN SWASEMBADA GARAM NASIONAL YANG BERKELANJUTAN (SUATU PENDEKATATAN MODEL DINAMIK) Sri Dharmayanti; Suharno Suharno; Amzul Rifin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2976.984 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1201

Abstract

Tercapainya swasembada garam nasional secara berkelanjutan merupakan kondisi ideal bagi Indonesia yang memiliki potensi alamiah sebagai produsen garam, namun hal tersebut hingga kini masih sulit terwujud. Kesenjangan antara kemampuan penyediaan dan kebutuhan garam masih cukup besar, sehingga impor masih terus dilakukan. Guna mempercepat terwujudnya swasembada garam nasional, di tahun 2011 pemerintah mengintervensi ketersediaan garam melalui kebijakan swasembada garam nasional. Terkait hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengukur ketercapaian keberlanjutan swasembada garam nasional dengan membangun model sistem ketersediaan garam nasional sebelum dan sesudah ada kebijakan swasembada, (2) Menyusun kebijakan alternatif agar swasembada garam nasional yang berkelanjutan dapat tercapai. Pendekatan dinamika sistem digunakan sebagai alat dalam menjawab tujuan penelitian. Dinamika ketersediaan garam nasional sebelum ada kebijakan swasembada dijadikan sebagai model dasar. Hasil validasi dengan menggunakan uji struktur dan uji kinerja model menunjukkan bahwa model yang dibangun valid. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sebelum ada kebijakan, Indonesia belum dapat mencapai swasembada garam secara berkelanjutan baik garam konsumsi maupun garam industri. Sedangkan setelah ada kebijakan, hasil simulasi menunjukkan bahwa swasembada yang berkelanjutan baru dapat tercapai pada garam konsumsi. Swasembada garam industri dapat tercapai apabila kebijakan alternatif skenario 8 diterapkan, yaitu dengan melakukan peningkatan kuantitas dan kualitas garam rakyat, dan konversi garam secara bersamaan.
NILAI EKONOMI PERIKANAN CUCUT DAN PARI DAN IMPLIKASI PENGELOLAANNYA Agus Heri Purnomo; Tenny Apriliani
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 2 (2007): DESEMBER (2007)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1020.458 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v2i2.5867

Abstract

Kajian ini menganalisis aspek sosial ekonomi perikanan cucut dan ikan pari di Indonesia, terkait dengan relevansi aspek tersebut dalam rencana aksi nasional (national plan of action, NPOA) untuk sumberdaya elasmobranchii. Pengambilan data dilakukan pada periode Agustus 2004 - November 2005 di lokasi-lokasi pendaratan utama, yaitu Tanjung Luar (NTB), Kedonganan (Bali), Sungai Kakap (Kalbar), Sungai Liat (Bangka Belitung), Muara Angke (Jakarta) dan Batang (Jateng) serta beberapa lokasi pendukung. Analisis deskriptif tabulatif yang dilakukan terhadap data-data tersebut, menunjukkan bahwa produksi cucut dan ikan pari memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan nelayan, baik yang menangkap cucut sebagai target utama maupun hasil sampingan. Di lokasi dimana cucut atau pari merupakan target utama, yaitu Tanjung Luar, Sungai Liat, dan Sungai Kakap, setiap ABK memperoleh pendapatan berturut-turut sebesar Rp 20,8 juta, Rp 24,1 juta dan Rp 8,5 juta per tahun. Nilai ini sebanding dengan tambahan pendapatan yang diperoleh ABK di lokasi dimana cucut atau pari merupakan hasil samping (Kedonganan dan Batang), yakni sebesar masing-masing Rp 27,7 juta dan Rp 22,4 juta pertahun. Nilai ekonomi perikanan cucut dan pari juga terkait dengan nilai tambah dari aktivitas pengolah, pengrajin, tukang potong, kuli angkut, dsb. Hasil analisis selanjutnya menunjukkan adanya peluang untuk menyusun sebuah NPOA yang selaras dengan kepentingan ekonomi nelayan, misalnya dengan meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan sehingga penurunan volume tangkapan tidak harus menyebabkan turunnya pendapatan. Sejauh ini, nilai tambah perikanan cucut dan pari bervariasi; misalnya, 3,5 % untuk cucut dan 23% untuk pari di Kedonganan, jauh dibawah nilai tambah cucut di Sungai Kakap (290%) dan pari di Batang (75%). Implikasi dari hasil ini adalah pentingnya upaya penciptaan nilai tambah disamping perlunya kajian lanjutan untuk merumuskan mekanisme teknis untuk mengurangi volume produksi sesuai dengan kondisi lapang. Tittle: Economic Value of the Shark and Ray Fishery and their Management ImplicationThis study analyses the socio-economic aspects of Indonesian shark and ray fisheries as related to the relevance of these aspects in a National Plan of Action (NPOA) for elasmobranchii resources. Data were collected in the period of August 2004 to November 2005 in primary shark and ray landing places, namely Tanjung Luar (NTB), Kedonganan (Bali), Sungai Kakap (Kalbar), Sungai Liat (Bangka Belitung), Muara Angke (Jakarta) and Batang (Jateng) and a number of complementary locations. A tabulated-descriptive analysis shows that shark and ray production contributes significantly to the income of the fishers, both who produce shark and ray as main targets and by-catches. In locations where shark or ray is the main target, namely Tanjung Luar, Sungai Liat, dan Sungai Kakap, an individual crew fisher would, respectively, earn as much as Rp 20.8 million, Rp 24.1 million and Rp 8.5 million annually. These values by and large match with the annual additional income earned by every crew producing shark or ray as by-catch in Kedonganan and Batang, who would receive Rp 27.7 million and Rp 22.4 million. A further analysis shows an opportunity to formulate an NPOA which is parallel with the fishers' economic interests, namely through the improvement of added values in such a way that reduction in catch will not necessarily cause decreases in income. So far, the value added for fisheries commodities is various; for example, 3.5 % for shark and 23% for ray in Kedonganan, as compared to shark value added in Sungai Kakap (290%) and ray value added in Batang (75%). The implication of this research is that efforts directed to the creation of value added and the formulation of technical mechanism to reduce production become essential in developing a workable NPOA.
ANALISA DAYA SAING RUMPUT LAUT DI INDONESIA (STUDI KASUS: KABUPATEN KONAWE SELATAN, SULAWESI TENGGARA) Estu Sri Luhur; Cornelia Mirwantini Witomo; Maulana Firdaus
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2012): Juni (2012)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.961 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v7i1.5735

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing budidaya rumput laut di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara dan telah dilakukan pada bulan September 2011. Metode analisis penelitianini menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM), dengan menggunakan data rumput laut dari Kabupaten Lombok Timur untuk memperoleh nilai ekonomi (harga sosial). Nilai Domestic Resource Cost Ratio (DRCR) sebesar 0,98 menunjukkan bahwa usaha rumput laut di Kabupaten Konawe Selatan memiliki keunggulan komparatif dan daya saing lebih besar dibandingkan dengan usaha rumput laut di Kabupaten LombokTimur. Sebaliknya, nilai Tradable Resource Cost Ratio (TRCR) sebesar 1,38 menunjukan kurang mampu bersaing dengan usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Lombok Timur. Peningkatan daya saing rumput laut di Kabupaten Konawe Selatan dapat dilakukan melalui kebijakan penurunan harga satuan bibit dan bahan bakar minyak (BBM) secara bersama-sama sebesar 28% serta kebijakan peningkatan harga satuan tenaga kerja upahan dan depresiasi aset produksi secara keseluruhan sebesar 4%.Tittle:Competitiveness of Seaweed Commodity in Indonesia (Case Study: South Konawe Regent, South-East Sulawesi)The study aims to analyze the competitiveness of seaweed farming South Konawe regency, SouthEast Sulawesi was conducted in September2011. Analysis methods of this research using the Policy Analysis Matrix (PAM) using economic value (social prices) data which is collect from the east Lombok seaweed. The value of Domestic Resource Cost Ratio (DRCR) (0.98) indicates that the seaweed business in South Konawe has a comparative advantage and more competitive than the seaweed in East Lombok. Contrarily, based on Tradable Resource Cost Ratio (TRCR) values (1.38) is less able to compete with the cultivation of seaweeds in East Lombok. The seaweed of South Konawe competitiveness should be improve by policy implementation of lowering the unit cost of seed and fuel oil (BBM) jointly by 28% and increase the unit cost of hired labor and depreciation of assets overall production by 4%.
KOMPETENSI NELAYAN RAWAI TUNA DITINJAU DARI STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA (SKKNI) DI PPN PALABUHANRATU Yasinta Anugerah; Tri Wiji Nurani; Muhammad Fedi A Sondita
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.417 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.3693

Abstract

Nelayan dalam kegiatan operasi penangkapan harus memiliki kualitas yang baik. Kualitas nelayan yang baik dapat dilihat dari kompetensi kerja yang dimilikinya. Tersedianya Standar  Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI) untuk nelayan rawai tuna diharapkan dapat menjadi suatu pendekatan untuk mengetahui kompetensi nelayan tanpa adanya jenjang pendidikan formal. Tujuan dari peneilitian ini adalah menganalisis kompetensi nelayan rawai tuna di PPN Palabuhanratu dalam kegiatan operasi penangkapan tuna sesuai dengan SKKNI. Pengambilan data lapang dilakukan pada bulan Desember 2014 -Februari 2015. Tempat penelitian dilakukan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu, Provinsi Jawa Barat. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dan survei kepada responden. Nelayan rawai tuna yang menjadi responden dalam penelitian ini mayoritas telah melakukan penangkapan ikan di laut selama 5 – 10 tahun. Nahkoda dan ABK masing-masing memiliki lima unit kompetensi, unit tersebut menjelaskan kemampuan yang perlu dimiliki oleh nelayan rawai tuna. Unit Melakukan Penangkapan Ikan di Laut dengan Menggunakan Rawai Tuna pada kompetensi nahkoda memiliki nilai persentase tertinggi. Pada kompetensi ABK unit kompetensi dengan nilai persentase tertinggi adalah Melakukan Perawatan Alat Penangkap Ikan Berbahan Utama Tali dan Pancing di Laut. Unit kompetensi nahkoda dan ABK telah memenuhi 50% standar kompetensi yang seharusnya.Title: Competence of Tuna Longline Fishermen Viewed From Indonesian National Occupational Competency Standards (SKKNI) IN PPN PalabuhanratuFishermen in fishing operations must have good quality. That are can be seen from  their  job competencies. Availability of the Indonesian National Occupational Competency Standards (SKKNI) for tuna longline was expected to be an approach to determine the competency of the fishermen without formal education. The aim of this research was to analyze the competency  of tuna longline fishermen in PPN Palabuhanratu within tuna fishing operations accordance with SKKNI. Data retrieval of this study was conducted on December 2014-February 2015. The study was conducted in PPN Palabuhanratu, West Java Province. The instrument was used in this study were questionnaires and surveys to respondents. Tuna longline fishermen who were respondents in this study the majority has done fishing at sea for 5-10 years. Captain and crew each composed of five unit competence, that unit to explain the capabilities needed by tuna longline fisherman. The competency of captain had the highest percentage was Fishing at Sea by Using Tuna Longline unit. The competency of the crew had the highest percentage unit was Hook and Line Fishing Gear Maintenance and Protection at Sea unit. Captain and crew competency unit had fullfiled 50% of standards of competency that shoud be.  
ANALISIS FINANSIAL PENGGUNAAN LAMPU PETROMAK SEBAGAI PEMANAS PADA BUDIDAYA PEMBENIHAN IKAN PATIN Iis Diatin; Ganang Arytra Dwirosyadha
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 2 (2009): DESEMBER (2009)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.868 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v4i2.5831

Abstract

Kegiatan pembenihan ikan patin, terutama dalam usaha skala kecil pada umumnya menggunakan kompor minyak tanah sebagai pemanas ruangan, agar tingkat kematian benih dapat ditekan. Kenaikan harga minyak tanah akhir-akhir ini, bahkan hilangnya minyak tanah di beberapa tempat, menjadi kendala dalam kegiatan pembenihan ikan patin ini. Oleh karena itu perlu dicari alternatif teknologi pengganti yang lebih efisien dalam penggunaan minyak tanah; dalam hal ini, menggunakan lampu petromak. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara finansial penggunaan lampu petromak sebagai pemanas ruangan pembenihan. Hasil analisis menunjukkan bahwa selama setahun dengan menggunakan kompor minyak tanah mampu memperoleh keuntungan sebesar Rp 52.996.455,56, nilai R/C sebesar 1,97 dan payback period selama 1,73 tahun. Sedangkan analisis usaha dengan menggunakan lampu petromak, diperoleh keuntungan sebesar Rp. 60.556.455,56, nilai R/C sebesar 2,28 dan payback period selama 1,52 tahun. Analisis finansial menghasilkan nilai NPV sebesar Rp 695.550.355,5, Net B/C sebesar 27,69% dan nilai IRR 457,26%. Usaha pembenihan ikan patin dengan menggunakan pemanas lampu petromak ini menjadi tidak layak untuk diusahakan jika terjadi kenaikan harga minyak tanah sebesar 1.161,87%, kenaikan harga pakan sebesar 1.228,65% dan penurunan harga benih sebesar 98,57%. Tittle: Financial Analysis of the used ‘Petromak’ as a Heater in Catfish HatcheryCatfish hatchery, especially in small-scale business is generally using primus stove as column heater in order to reduce mortality of seed produced. An increase in the price of kerosene recently, even the dissapearing kerosene in some place, has been becoming a constraint in this catfish hatchery. Therefore, an alternative technology by using ‘petromak’ in order to reduce the use of kerosene was taken into place. So that, this research was aimed to analyse financially the use of petromak lamp as room heater in hatchery. Results showed that the use of primus stove in hatchery enables to generate profit of Rp 52,996,455.56, a RC-ratio of 1.97 and payback period of 1.73 years. Meanwhile, the use of ‘petromak’ lamp enables to generate profit of Rp 60,556,455.56, a RC-ratio of 2.28 and payback period of 1.52 years. Financially, the latter produces NPV of Rp 695,550,355.5, net BC-ratio of 27.69% and IRR of 457.26%. The business will be loss whenever price of kerosene increases 1,161.87% or price of feed increases 1,228.65% or price of seed decreases 98.57%.
STUDI KETERKAITAN EKOSISTEM LAMUN DAN PERIKANAN SKALA KECIL (Studi Kasus: Desa Malang Rapat dan Berakit, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau) Muhammad Nur Arkham; Luky Adrianto; Yusli Wardiatno
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 2 (2015): Desember (2015)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1250.269 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v10i2.1255

Abstract

Ekosistem lamun merupakan salah satu bagian penting sebagai bagian penyusun kesatuan ekosistem pesisir bersama dengan mangrove dan terumbu karang. Secara spesifik, keterkaitan masyarakat sebagai pemanfaat sumberdaya pada ekosistem lamun belum banyak diungkapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji keterkaitan sistem sosial-ekologi lamun berdasarkan hasil tangkapan sumberdaya ikan di lokasi penelitian dan mengestimasi besaran manfaat sumberdaya ikan kaitannya dengan jasa ekosistem lamun di lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data yang dibutuhkan adalah data primer dan sekunder. Data primer didapat dari wawancara dengan instrumen kuisioner dan pencatatan hasil tangkapan dan penjualan di pedagang pengepul. Analisis data penelitian ini menggunakan metode analisis diskriptif kualitatif dan net fishing revenue (NFR) yang diperoleh nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan sosial-ekologi dengan keberadaan ekosistem lamun yang dijadikan sebagai tempat penangkapan bagi perikanan skala kecil yang bisa berkontribusi dalam ketahanan pangan dan sebagai mata pencaharian nelayan di desa tersebut. Manfaat yang didapat perikanan skala kecil dari keberadaan ekosistem lamun yaitu kemudahan akses bagi nelayan skala kecil dalam mencari ikan karena lokasinya yang dekat dengan pantai. Secara umum besaran manfaat dari fungsi ekosistem lamun sebagai jasa penyedia terlihat dari pendapatan per hari nelayan skala kecil diatas UMK Kabupaten Bintan yaitu Rp. 93,000,00. Dengan adanya keterkaitan sosial-ekologi lamun tersebut dapat dilakukan pertimbangan pengelolaan pesisir terpadu dengan pendekatan sosial-ekologi lamun di lokasi penelitian. (The Study of Seagrass Ecosystem and Small-Scale Fisheries Linkages (Case Studie: Malang Rapat and Berakit village, Bintan Regency,Riau Islands))Seagrass ecosystem is one of an important coastal ecosystem’s component along with mangroves and coral reefs. However, the linkage between fishers and seagrass ecosystem, had not been fully explored. The objectives of this research were analyze seagrass social-ecological system linkages based on fish caught and estimating the fisheries resource benefits regarding its ecosystem services at the study sites. Qualitative and quantitative approach based on primary and secondary data were used in this study. Data were collected by interviewed using questionaire and also production and sales records from sellers. Descriptive-qualitative and net fishing revenue (NFR) were used to analyze in this study. Results showed that there was a social and ecological linkage between seagrass and small scale fishers that could contribute to food security and livelihood at those sites. Accessibility of fishing ground on shores was one of the benefit for small scale fisheries. While ecological benefit of seagrass as a provisioning service was indicated by the daily small scale fishers’ revenue that was higher than The Minimum District Wage of Bintan District value which was IDR 93,000. Based on those social-ecological linkages, it is possible to use integrated coastal management with seagrass social-ecological approach in those sites.
DAMPAK KINERJA BURUH TERHADAP WAKTU TUNGGU DAN TINGKAT PEMANFAATAN DERMAGA SANDAR DI PPP TEGALSARI Suryanto Suryanto; Hargiyatno Ignatius Tri; Wibowo Sandi; Triharyuni Setiya
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): DESEMBER 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1691.742 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i2.5951

Abstract

 Jumlah kapal yang melakukan kunjungan di PPP Tegalsari meningkat dari tahun ke tahun, hingga pada tahun 2014 mencapai 4.237 unit kedatangan kapal yang membawa total hasil tangkapan 48 ribu ton. Salah satu masalah yang banyak dikeluhkan nelayan adalah lamanya waktu tunggu dan bongkar, hingga harus bermalam. Berdasarkan rencana induk PPP Tegalsari, diharapkan pada tahun 2020 memiliki panjang dermaga bongkar sepanjang 1.323 meter disamping prasarana lain yang mendukung. Penelitian yang dilaksanakan tahun 2014 ini bertujuan untuk mencari alternatif solusi di samping pengembangan dermaga sesuai rencana induk tersebut. Alternatif solusi tersebut didapatkan dengan melakukan reka ulang proses produksi PPP Tegalsari Tahun 2014 dengan bantuan perangkat lunak Arena versi 5 “Student Version”. Hasil studi menunjukan tingkat pemakaian dermaga skenario rencana induk tidak ekonomis karena hanya 10,7%. Dikawatirkan kinerja dermaga tersebut akan semakin merosot dengan diberlakukannyanya Permen KP No.2 Tahun 2016 tentang pelarangan penggunaan pukat hela (trawl) dan pukat tarik (seine nets). Studi memberikan alternatif solusi yang lebih bersifat sosial ekonomi dengan meningkatkan jumlah tenaga buruh bongkar dan pemecah es menjadi 200% dari semula dengan tetap menggunakan dermaga bongkar yang ada saat ini. Dampak dari solusi tersebut waktu kerja buruh menjadi lebih sesuai dengan UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003, serta dwelling time rata-rata menurun dari 75,3 menjadi 59,3 jam/kapal atau penurunan 21%. Titlle: Impact of Labour Utility to Dwelling Time and Berth OccupancyRatio in The Tegalsari Fishing Port The number of vessels visiting coastal fishing port (PPP) of Tegalsari has been increased from year to year. In 2014, there were 4,232 vessels arrived and loaded 48 million tons of catches on the port. Length of dwelling time became the major problem causing nights delay. According to the master plan of PPP Tegalsari, it is planned that they will have a 1,323 meter of loading dock and other supporting facilities by 2020. This research was conducted in 2014 and it aims to find alternative solutions more than development of the dock which is already stated in the master plan. The alternative solution was obtained by simulating the production process of PPP Tegalsari based on 2014 fishing vessel arrival using the software of student version of Arena 5. The result showed that the dock occupancy ratio of the master plan is not economical because it is only 10.7%. It could be worsen with the enactment of the Marine and Fisheries Ministerial Regulation No.2/2016 on the prohibition of trawls and seine nets fishing. This study provides a more socio-economic alternative solution by increasing the number of unloading and ice-crushing workers to 200% from the 2014 condition using the existing berth. The solution gives a positive impact on worker’s working time which is conformed with Labour Law No. 13/2003. In addition, average of dwelling time decreased from 75.3 to 59.3 hour/vessel or 21% decreas. 
AKSES DAN STRATEGI AKTOR-AKTOR DALAM PEMANFAATAN SUMBER DAYA WADUK DJUANDA Fatriyandi Nur Priyatna; Rilus A. Kinseng; Arif Satria
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.107 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1190

Abstract

Penelitian dalam tulisan ini bertujuan, (1) menganalisis akses sumber daya berbasis hak kepemilikan sumber daya, dan (2) menganalisis mekanisme akses berbasis struktural dan relasional. Penelitian dilakukan di Waduk Djuanda, Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Penelitian menggunakan paradigma kritis dan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan akses sumber daya berbasis hak diperoleh melalui regulasi formal dan teridentifikasi perbedaan kepentingan diantara pihak otoritas. Perum Jasa Tirta II (PJT II) cenderung membatasi dan mengurangi jumlah keramba jaring apung (KJA), namun Dinas Peternakan dan Perikanan cenderung mempertahankan jumlah KJA. Hasil analisis mekanisme akses berbasis struktural dan relasional menunjukkan aktor pengguna menggunakan mekanisme akses sebagai strategi memperoleh, mempertahankan dan mengontrol akses sumber daya. Mekanisme akses berbasis struktural dan relasional meliputi konfigurasi teknologi, modal, pasar, pengetahuan, otoritas, identitas sosial dan relasi sosial. Implikasi kebijakan penelitian ini perlu dilakukannya redistribusi hak pemanfaatan bertujuan mengantisipasi ketimpangan dan ketidakadilan sosial serta kesempatan usaha.
PERSEPSI MASYARAKAT PESISIR TERHADAP PENGGUNAAN ENERGI ALTERNATIF UNTUK MELAUT Mira Mira; Riza Zulkarnen
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2008): DESEMBER (2008)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.331 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v3i2.5855

Abstract

Tujuan dari tulisan ini difokuskan untuk mengkaji persepsi masyarakat pesisir (nelayan) terhadap penggunaan energi alternatif untuk melaut, selain itu juga akan dianalisis faktor-faktor yang mempengaruhi nelayan untuk mengganti solar dengan biodiesel dalam mengatasi kelangkaan BBM. Lokasi penelitian yang dipilih adalah Cilacap dan penelitian dilakukan pada tahun 2006. Dari hasil pengolahan data, sebesar 72,50 persen nelayan mempunyai persepsi yang tinggi (positif) terhadap keberadaan biodiesel sebagai energi alternatif dalam mengatasi kelangkaan BBM. Persepsi nelayan yang rendah (negatif) akan menghambat pelaksanaan program desa nelayan mandiri energi, sedangkan persepsi yang tinggi (positif) merupakan dukungan dalam mencapai tujuan program desa nelayan mandiri energi. Terdapat 27,50% nelayan yang masih ragu-ragu tentang keberadaan biodiesel. Menurut nelayan keberadaan biodiesel belum tentu harganya lebih murah dibanding solar. Ada juga responden yang meragukan kualitas biodisel. Ada tiga faktor yang sangat mempengarugi responden dalam proses keputusan pembelian biodiesel harga, kualitas (keamanan), dan distribusi. Pada uji signifikansi 0,05 hasil analisis Spearman memperlihatkan adanya hubungan yang sangat tinggi (derajat asosiasi tinggi) antara harga dengan keputusan membeli biodisel, yaitu sebesar 1 (nilai koefisien korelasi), artinya semakin murah harga biodisel maka semakin besar keinginan responden untuk mengganti solar dengan biodiesel. Faktor distribusi menunjukkan adanya korelasi yang rendah, yaitu sebesar -0, 293 pada uji signifikansi 0,05.  Tittle: Coastal Community Perception to Use Alternative Energi for FishingThis paper was focused on analyzing the coastal community perception on the use of alternative energy for fishing, as well as the factors influencing the fisher to substitute diesel fuel by biodiesel to overcome the high cost problem of fossil fuel. Research was conducted in Cilacap in 2006. The results showed that 72,50% of fishers indicated a high perception (positive) to biodiesel as alternative energy while 27,50% of fisher were uncertained to the use of biodiesel. According to fishers biodesel price was not lower then the solar price.Some fishers were also doubted to the quality of biodesel. There were 3 factors affecting responden to decide on the use of biodiesel : price, quality and distribution. The decision was highly affected by the price (coefficient value=1) based on Spearman analysis. It means, the cheaper the price, the more probability of respondents to use the biodiesel will be. Distribution factor shows a low correlation with value of = -0,293 at level significancy of 0.05.