Articles
349 Documents
KAJIAN PEMASARAN IKAN LELE (Clarias Sp) DALAM MENDUKUNG INDUSTRI PERIKANAN BUDIDAYA (Studi Kasus di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah)
Riesti Triyanti;
Nensyana Shafitri
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 2 (2012): DESEMBER (2012)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (646.586 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v7i2.5684
Penelitian bertujuan untuk mengkaji saluran pemasaran ikan lele di Kabupaten Boyolali. Penelitian juga dilakukan untuk mengkaji besarnya biaya, keuntungan, margin pemasaran serta efisiensinya. Penelitian menggunakan metode survei. Data yang digunakan adalah data primer yang diambil pada bulan April 2012dengan teknik wawancara, pencatatan dan observasi. Teknik pengambilan sampel pembudidaya dilakukan secara random sampling; sedangkan sampel pedagang diambil secara snowball sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan cost margin analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada empat pola rantai pemasaran ikan lele dengan rantai yang panjang di saluran I dan II dan rantai terpendek di rantai III. Biaya dan keuntungan terbesar untuk penjualan lele hidup terdapat di saluran pemasaran I, sedangkan margin pemasaran terkecil untuk penjualan lele hidup terdapat di saluran pemasaran II. Ketiga saluran pemasaran lele hidup sudah efisien dengan nilai farmer’s share terbesar pada saluran II yaitu 87,34 %; sedangkan saluran IV memiliki nilai farmer’s share terkecil sebesar 8,95%. Hasil penelitian efisiensi saluran pemasaran lele diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan peningkatan nilai tambah dan daya saing produk perikanan budidaya sehingga dapat meningkatkan pendapatan pembudidaya dan industri pengolahan.Title: Marketing Analysis Catfish of to Support Aquaculture Industry (Case Study on Boyolali District, Central Java)This study aimed to assess marketing channels of catfish in Boyolali district. Research was carried out to access costs, benefits, marketing margin and their efficiencies. The research employs survey method. Data were collected in April 2012 using interview techniques, recording and observation. Farmers samples technique used random sampling, whereas traders samples were selected by snowball sampling technique. Data were analyzed using cost margin analysis. Results of this study showed that there were four patterns of catfish marketing chain with the largest chain were in the channel I and II and the shortest chain was in the chain III. The biggest costs and benefits of selling live catfish were in marketing channel I, while the smallest ones was in the marketing channels catfish II. All the three live marketing chanel were efficient with the biggest and smallest value of farmer’s share of 87,34% (marketing chanel II) and 8,95 % (marketing chanel IV), respectively. Results of the study were expected to be used as a basis for increasing value added and competitiveness of fish cultured product so that fish farmers and fish processors income can be increased.
NILAI EKONOMI EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI KABUPATEN WAKATOBI
Andrian Ramadhan;
Lindawati Lindawati;
Nendah Kurniasari
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (795.233 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.3834
Ekosistem terumbu karang memiliki fungsi baik secara ekologi maupun ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengestimasi nilai ekonomi (baik secara langsung maupun tidak langsung) dari ekosistem terumbu karang. Lokasi penelitian dilakukan di Kabupaten Wakatobi pada tahun 2015. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Pemilihan responden dilakukan secara purposive sampling, dengan jumlah responden sebanyak 67 orang. Metode analisis data menggunakan pendekatan produktivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dilihat dari fungsi ekologinya, estimasi nilai ekonomi terumbu karang sebagai penahan gelombang sebesar Rp. 372.208.100.000/tahun (Rp. 18.742.929/ha/tahun), sedangkan estimasi nilai ekonomi sebagai tempat pertumbuhan ikan sebesar Rp, 400.024.550.999/tahun (Rp. 7.339.900/ha/tahun). Selain dari sisi ekologis, keberadaan ekosistem terumbu karang juga dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan tangkap dan budidaya rumput laut. Estimasi nilai ekonomi untuk kegiatan perikanan tangkap sebesar Rp. 373.017.285.444/tahun (Rp. 6.844.354/ha/tahun), sedangkan estimasi nilai ekonomi untuk kegiatan budidaya rumput laut sebesar Rp. 8.160.682.302/tahun Rp.15.397.524/ha/tahun). Oleh karena itu, untuk menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang perlu adanya koordinasi yang intensif antara masyarakat dan pemerintah terkait pengelolaan dan pemanfaatan dari keberadaan ekosistem terumbu karang.Title: Economic Value of Coral Reef Ecosystem in Wakatobi DistrictEcosystem of Coral reef hasecological and economical function. The purpose of this study is to estimate the economic value of the functionsboth directly and indirectly. The research was conducted in Wakatobi in 2015. Data collected consist of primary data and secondary data. Data were collected from 67 respondents which are determined by purposive sampling method. The result estimate the economic value of coral reefs from its function as a wave barrier is Rp. 372.208.100.000/year(Rp. 18,742,929 /ha/year), while the economic value as a fish growth reach Rp, 400.024.550.999/year (Rp. 7.3399 million / ha / year). Ecosystem of coral reef is also used for fishing and seaweed farming where the estimated economic value is 373.017.285.444/year (Rp. 6,844,354 / ha / year)and Rp. 8.160.682.302/year(Rp.15.397.524 / ha / year). Considering these benefits, the ecosystem management need to be coordinated intensively between the community and government especially in the utilization.
POLA PEMBAGIAN KERJA DAN KONTRIBUSI GENDER TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA: STUDI KASUS RUMAH TANGGA NELAYAN DI DESA BATANJUNG KABUPATEN KAPUAS
Hikmah Hikmah;
Maharani Yulisti;
Zahri Nasution
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): juni (2009)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (171.215 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v4i1.5822
Penelitian ini dilaksanakan tahun 2007 dengan tujuan memberikan gambaran pola pembagian kerja dan kontribusi gender terhadap pendapatan rumah tangga serta strategi pemberdayaan gender dalam rangka menopang peningkatan pendapatan rumah tangga nelayan. Metode pendekatan secara kualitatif dalam bentuk studi kasus digunakan dalam penelitian ini. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menggambarkan bahwa pola pembagian kerja dan curahan waktu dalam aktivitas produktif pada rumah tangga nelayan di desa Batanjung Kabupaten Kapuas didominasi oleh perempuan. Sementara laki-laki umumnya terlibat sebagai tenaga pembantu saja. Pola pembagian kerja pada aktivitas produktif lebih didominasi oleh laki-laki. Namun demikian, istri juga terlibat dalam aktivitas penangkapan di perairan umum (rawa dan sungai) yang lokasinya dekat dengan pemukiman mereka. Istri nelayan memiliki kontribusi yang cukup besar dan memegang peranan penting dalam ekonomi rumah tangga. Meskipun jika dilihat dari curahan waktu produktifnya, istri nelayan jauh lebih sedikit dibandingkan suami. Namun demikian, tetap saja kedudukan istri dalam kegiatan produktif hanya dianggap membantu suami untuk menambah pendapatan keluarga. Tittle: Work Share Pattern and Gender Contribution to Fisher's Household Income: Case Study of Fisher's Household in Batanjung Village, Kapuas District.This research has been executed in 2007 aiming to give the description concerning with work share pattern and gender contribution to household income, and also to give description of gender empowerment strategy in effort to support increasing income of fisher's household. Descriptive analysis was used in this research. Results show that work share pattern and time spent in reproductive activities at fisher's household in Batanjung village, Kapuas district was dominated by women, whereas men generally were involved as assistant workers. Work share pattern at productive activities was dominated by men. But, women were also involved in fishing activities at inland fisheries (river and swamp) where the fishing ground nearby with their resident. Fisher's wife had a big contribution and hold important role in household economy. Even though wife had more time to spend on productive activities than husband, but wife's position in productive activities was still considered to be an assistant of husband in the household income.
TOTAL FAKTOR PRODUKTIVITAS DAN INDEKS INSTABILITAS PERIKANAN TANGKAP: Kasus di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat
Budi Wardono;
Akhmad Fauzi;
Achmad Fahrudin;
Agus Heri Purnomo
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2015): Juni (2015)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (962.764 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v10i1.1246
Perkembangan produksi perikanan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pelabuhan Ratu secara total mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat pada periode 2002 sampai 2013. Peningkatan produksi hanya terjadi pada armada Kapal Motor (KM) dengan armada lebih 5 GT, sedangkan produksi ikan dari Perahu Motor Tempel (PMT) dengan armada kurang dari 5 GT mengalami penurunan tajam. Pada tahun 2013 share produksi ikan dari KM sebesar lebih 95 % sedangkan produksi ikan dari PMT kurang dari 5 %. Kondisi ini mengakibatkan ketidakseimbangan dalam alokasi sumber daya. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor produktivitas total dan indeks ketidakstabilan pada perikanan tangkap. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus – Desember 2014 di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Teknik analisis menggunakan pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA) dan Coppock Index Instability (CII). Data yang digunakan adalah data time series statistik PPN Pelabuhan Ratu. Hasil analisis yang diperoleh menunjukkan bahwa sebagian besar armada telah mencapai tingkat efisiesni (nilai efisiensi=1); sedangkan perubahan total faktor produktivitas mengalami fluktuasi yang tajam (berada dikuadran III) pertumbuhan tinggi disertai ketidakpastian yang tinggi, mengindikasikan terjadi ketidakstabilan. Kondisi ini mengindikasikan terjadinya persaingan yang ketat diantara pelaku usaha sehingga menyebabkan terjadinya over-fishing dan over-capasity. Oleh karena itu diperlukan kebijakan untuk dapat mengurangi ketidakstabilan dengan cara rasionalisasi armada tangkap terutama alat tangkap yang sudah tidak efisien dan pengendalian kapal tuna long line. (Total Factor Productivity And Instability Index Of Marine Capture Fisheries: Case in Pelabuhan Ratu, West Java)Fishery production at the Nusantara Fishery Harbour in Pelabuan Ratu increases more than double of production from 2002 to 2013. The increase was only occured for number of marine inboard motor size more than 5 GT, while marine outboard motor size less than 5 GT experienced a sharp decrease. In 2013 the production share of marine inboard motor was more than 95 per cent, while the production share of marine outboard motor was less than 5 per cent. This condition had an impact on imbalaced resource allocation. The applied policy was formulated for fishery management in Pelabuhan Ratu based on information of efficiency, productivity change, and instability index. The analysis was done by using Data Envelopment Analysis (DEA) and Coppock Index Instability (CII) approaches. The result showed that most of big boats (more than 5 GT) have been efficient (efficiency value=1), while total productivity factor fluctuated sharply and indicated instability of production. Coppock Index Instability and growth index showed that most of conditions were on positive growth stage with high level of instability. This conditon caused tight competition among businessmen leading to over fishing and over capacity. A policy is needed to reduce instability by rationalizing capturing boat, especially the infficient ones and to controlling tuna long line vessel.
ANALISIS RANTAI NILAI IKAN CAKALANG DI KOTA AMBON, MALUKU
Estu Sri Luhur;
Risna Yusuf
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (864.503 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6303
Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji rantai nilai komoditas ikan cakalang sehingga diperolehbesaran nilai tambah dan tingkat efisiensi pada setiap simpul rantai pasok. Data yang digunakan adalahdata primer dan sekunder dari instansi terkait dan pelaku usaha. Data dikumpulkan melalui wawancarakepada responden dengan teknik purposive dan snowball sampling. Data selanjutnya dianalisis dengananalisis nilai tambah, rantai pasok dan rantai nilai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasaranikan cakalang memiliki tiga saluran distribusi yaitu: (1) dari nelayan ke pedagang pengumpul danke pedagang pengecer; (2) dari nelayan ke pedagang pengumpul kemudian ke pengolah ikan asar,dan; (3) dari nelayan ke UPI/cold storage. Analisis rantai pasok menunjukkan bahwa ikan cakalangsebagian besar (50%) didistribusikan ke UPI/cold storage dan sisanya dengan porsi yang sama (25%)didistribusikan ke pedagang pengecer dan pengolah ikan asar. Analisis rantai nilai menunjukkan bahwanilai tambah terbesar dihasilkan pada saluran pemasaran kedua, yaitu sebesar Rp.23.062/kg. Simpulrantai pasok nelayan cenderung tidak efisien pada ketiga saluran pemasaran. Rekomendasi kebijakanyang diusulkan: (1) koordinasi dengan Bappeda dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan sebagaiupaya pengembangan industrialisasi ikan cakalang; (2) melakukan introduksi dan penyebaran teknologipengolahan ikan cakalang dari Balitbang KP dan perguruan tinggi setempat untuk meningkatkan nilaitambah produk, dan; (3) memperluas akses pasar dengan mengefisienkan sistem distribusi, baik melaluijalur laut maupun udara.Title: Value Chain Analysis of Skipjack Tuna in Ambon, MalukuThe purpose of this research was to analyze value chain of skipjack to get a quantity valueand a level of efficiency on each node supply chain. Research was conducted by using the primaryand secondary data from various relevant agencies and businessmen. Data collection was conductedthrough interview to respondent with using purposive and snowball sampling technique. Data wereanalyzed with value-added, supply chain and value chain analysis. The result showed that there werethree distribution channels of skipjack: (1) fisher’s to broker and to retailers; (2) fisher’s to broker and tofish processors, and; (3) fisher’s to cold storage. Supply chain analysis showed that mostly of skipjack(50%) distributed to cold storage and the rest distributed to retailers (25%) and fish processors (25%).Value chain analysis showed in the second marketing channel has the the largest value added, that isas 23.062 IDR per kilograms. On the third marketing channel, fisherman tend has an ineffiencent supplychain. Therefore,there are some recommendations are: (1) doing coordination among Bappeda,industryand trade office as an effort of developing skipjack industrialization; (2) doing introduction and spread ofprocessing technology of agency’s research and development of marine affairs and fisheries and localuniversity to increase value added products, and; (3) expanding market access both of air and sea routesfor having efficient distribution system.
ANALISIS NILAI TUKAR NELAYAN (NTN) PELAGIS BESAR TRADISIONAL
Andrian Ramadhan;
Maulana firdaus;
Rizki Aprilian Wijaya
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (706.487 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.30
Pemanfaatan sumber daya perikanan tangkap pelagis besar tidak hanya dilakukan oleh kapalkapal besar berskala industri akan tetapi juga oleh kapal-kapal berskala kecil atau tradisional. Tulisan ini bertujuan untuk memahami dinamika usaha perikanan tangkap berskala trasional tersebut dan kaitannya dengan ekonomi rumah tangga nelayan dalam suatu ukuran bernama Nilai Tukar Nelayan (NTN). Metode survei digunakan dengan bantuan kuesioner untuk monitoring usaha, pendapatan dan harga bulanan input-ouput Analisis penelitian menunjukkan bahwa usaha ini memiliki karakteristik usaha yang dinamis. Hal ini mempengaruhi indeks yang diterima oleh nelayan dimana berfluktuasi cukup tinggi antar bulannya. Pada awal tahun NTN mengalami tekanan karena merupakan musim barat yang sulit melakukan penangkapan ikan. Tren positif penangkapan terjadi pada awal pertengahan tahun dimana NTN secara general berada diatas 100. Pada sisi pengeluaran terjadi pula peningkatan pada pertengahan tahun karena terjadi inflasi umum akibat kenaikan harga BBM. Kenaikan komponen yang diterima dan dibayar pada waktu yang sama membuat NTN relatif stabil meski terdapat tendensi penurunan dari waktu ke waktu(Title: Term of Trade Analysis of Traditional Fishers of Big Pelagic)Large pelagic fisheries is not merely captured by large industrial ships but also by small boats or traditional scale. This paper was aimed to understand the dynamics of fishing condition of traditional scale regarding fishers’ household economy by measuring Fishers Trade Index (NTN). The results indicated that the fishing activity was very dynamic and affected the fishers’ revenue index and also the payment index which was highly varied for each months. In the beginning of the year, NTN was low due to “west season” where fishing activities were hardly being carried out. Positive trend of fisheries activities happened in the mid-year where NTN in general was above 100. However, there was also increasing in the expenditure in mid-year because of general inflation which was triggered by fuel price upturned. The increasing in both revenue and expenditure components in the same periods made NTN relatively steady in spite of decreasing trend over time.
KARAKTERISTIK DAN NILAI EKONOMI SUMBERDAYA PERAIRAN KOMPLEK DANAU TEMPE, SULAWESI SELATAN
Andrian Ramadhan;
Riesti Triyanti;
Sonny Koeshendrajana
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): JUNI (2008)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (161.254 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v3i1.5845
Sumberdaya perairan umum daratan merupakan sumberdaya yang memiliki karakteristik unik, baik menurut tipologi, dinamika hidro-bioekologi maupun pola pemanfaatannya. Salah satu tipe yang ada adalah sumberdaya perairan Komplek Danau Tempe. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik sumberdaya, jenis dan pola pemanfaatan serta nilai ekonomi sumberdaya di Komplek Danau Tempe. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2007. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survey. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Komplek Danau Tempe terbentuk pada saat musim hujan ketika air yang berasal dari sungai-sungai disekitarnya meluap dan menggenangi sebagian wilayah daratan. Kondisi tersebut mempengaruhi cara masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya di Komplek Danau Tempe. Nilai ekonomi total dari pemanfaatan sumberdaya yang diperhitungkan dari kegiatan penangkapan ikan, pertanian dan transportasi umum masyarakat adalah sebesar Rp.1.489.149.383.605 Besarnya nilai tersebut mencerminkan bahwa keberadaan sumberdaya perairan danau Tempe memiliki peranan penting secara ekonomi baik bagi masyarakat maupun pemerintah. Tittle: Characteristics and Economic Value of Water Resource of the Tempe Lake, South SulawesiInland water resources have unique characteristics, in terms of not only typological and hydrobioecological dynamic, but also utilisation pattern. One example of the resource is the Tempe lake. This research was aimed to explore resource characteristics, type and pattern of resource utilization, and its economic value. This research was conducted on July 2007. Method used in this research was a survey method. Data were analyzed descriptively and quantitatively. Result showed that Tempe Lake is being formed by rivers flew during rainy season. This, in favor affects utilization pattern of society who live surrounding the resources. Total economic value of resource utilization was Rp. 1.489 billion, onsisting of fishing, agriculture and public transportation activities. This indicate that water resource of the Tempe Lake plays an important role economically for society and government.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN AREAL PERLINDUNGAN LAUT – BERBASIS MASYARAKAT DI KABUPATEN ADMINISTRASI KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA
Erwiantono Erwiantono;
Siti Amanah;
Pang S. Asngari;
Rilus A. Kinseng
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (461.334 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5673
Pada dua dekade terakhir, kondisi ekosistem terumbu karang di perairan Kepulauan Seribu telah menunjukkan degradasi yang mengkawatirkan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, mulai tahun 2004 Pemda Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu bersama masyarakat menerapkan program Areal Perlindungan Laut–Berbasis Masyarakat (APL–BM) di lima kelurahan. Tujuan penelitian adalah : (1) menganalisis tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan APL–BM, dan; (2) menganalisis faktor – faktor yang berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat. Pengumpulan data dilakukan selama periode Juni 2011–Mei 2012 dengan menggunakan kuesioner, pengamatan dan kajian pustaka. Populasi pada penelitian ini adalah individu pemanfaat utama sumberdaya alam berbasis ekosistem terumbu karang secara langsung. Metode pengambilan contoh yang digunakan adalah acak berproporsi sehingga terpilih 202 responden. Data dianalisis dengan menggunakan statistika deskriptifdan inferensia dengan model persamaan struktural (SEM). Hasil penelitian menunjukkan : (1) tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan APL–BM pada keseluruhan tahapan kegiatan adalah rendah dan (2) faktor – faktor yang berpengaruh terhadap tingkat partisipasi masyarakat adalah kemampuan organisasi dan motivasi masyarakat. Kedua faktor tersebut dipengaruhi oleh indikator pendekatan komunikasi, kesesuaian konsepsi program dan intensitas peran penyuluhan. Title: Community’s Participation in Managing Community Based – Marine Protected Area in Kepulauan Seribu District, DKI JakartaIn the last two decades, the coral reef ecosystem in Kepulauan Seribu has shown a significant degradation. Considered this, in 2004 the government of Kepulauan Seribu District initiated collaborative program in five villages and the program called as community based–marine protected area. The researchobjectives were: (1) to analyze community’s participation level in managing marine protected area in Kepulauan Seribu District and (2) to analyze the determinant factors that influence the community’s participation. The data were collected from June 2011 – May 2012 by using questionnare, observation and reviewing existing documents. Units of analizing were 202 respondents of primary stakeholders that utilize fisheries–marine resources directly. The data were analyzed using descriptive and inferential statistics based on structural equation modelling (SEM). The conclusions of the study are: (1) the levelof community’s participation in managing marine protected is low and (2) this condition is influenced by community organisation’s ability and community’s motivation. Community organisation’s ability and motivation are in low level. The factors which influence community organisation’s’ ability and community’s motivation are communication approaches, the compatibility of program conception and intensity of extention agents roles.
DAMPAK KENAIKAN HARGA BBM TERHADAP KINERJA SEKTOR KELAUTAN DAN PERIKANAN
Mira Mira;
Rikrik Rahadian;
Armen Zulham
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (371.206 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v9i2.1219
Tujuan dari penelitian ini mengevaluasi dampak kenaikan harga BBM terhadap kinerja sektor kelautan dan perikanan. Penelitian ini menggunakan data input-output nasional yang dianalisis dengan computable general equilibrium model. Hasil analisis mengindikasikan pertama, dampak kenaikan harga BBM dalam kurun waktu 10 tahun (17,94%) menyebabkan output perikanan tangkap TCT (Tuna, Cakalang dan Tongkol) turun sebesar 0,132%, tapi dampak kenaikan harga BBM terhadap penurunan output perikanan budidaya tidak terlalu besar contohnya output patin turun sebesar 0,012%. Kedua, dampak kenaikan harga BBM terhadap harga ikan tidak sebanding dengan kenaikan harga BBM, kenaikan harga rata-rata output ikan TCT akibat penurunan subsidi hanya sebesar 0,567%. Ketiga, penurunan total ekspor sektor perikanan tangkap lainnya akibat kenaikan harga BBM adalah 1,211%. Keempat, kenaikan harga BBM, meningkatkan impor perikanan tangkap laut lainnya sebesar 0.51%, dan untuk komoditas Tuna dan Cakalang sebesar 0.48%. Kelima, kenaikan BBM menurunkan jumlah tenaga kerja sebesar 0,346% pada usaha perikanan TCT. Keenam, kenaikan harga BBM membuat household demand menurun pada komoditas ikan tangkap (0,103%) dan ikan hasil olahan dan kering (0,109%). Diharapkan ketika terjadi kenaikan harga BBM pemerintah tetap harus mendukung kebijakan mata pencarian alternatif untuk nelayan ketika mereka tidak bisa melaut, seperti usaha budidaya laut.
STRATEGI PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN KELOMPOK NELAYAN SEBAGAI KELEMBAGAAN PENGELOLA WADUK DI PERAIRAN WADUK WADAS LINTANG, KABUPATEN WONOSOBO
Fatriyandi Nur Priyatna;
Kunto Purnomo
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 2 (2007): DESEMBER (2007)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (189.041 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v2i2.5872
Tulisan ini bertujuan untuk mempelajari kelembagaan lokal yang ada di Waduk Wadas Lintang dan peluang serta upaya pengembangannya menjadi kelembagaan pengelola waduk. Penelitian dilakukan di empat desa di Kecamatan Wadas Lintang, Waduk Wadas Lintang, Kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah pada bulan Agustus - Oktober tahun 2006. Pemilihan ini didasari pertimbangan mengenai konsentrasi nelayan, sifat kelembagaan nelayan yang sudah ada dan aksesibilitas lokasi. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif dan studi kasus intrinsik, yaitu penetapan tujuan penelitian dilakukan berdasarkan ketertarikan suatu fenomena kelembagaan nelayan di perairan waduk. Data primer yang dikumpulkan terkait dengan kelembagaan lokal dan persepsi masyarakat terhadap status pemanfaatan sumberdaya perikanan. Pemilihan informan dilakukan secara sengaja dan pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam, diskusi kelompok dan pengamatan. Analisis data menggunakan pendekatan model interaksi dengan alat analisis data berupa pendekatan kelembagaan dan prinsip-prinsip co-management. Hasil penelitian menunjukkan kelembagaan yang ada adalah kelembagaan formal dan kelembagaan informal dan memiliki pengaruh signifikan terhadap faktor penerimaan anggota terhadap keberadaan dan fungsi kelembagaan lokal serta tingkat partisipasi anggota yang lebih tinggi pada kelembagaan formal. Pilihan strategi fasilitasi dapat diterapkan oleh pemerintah dalam upaya pengembangan kelembagaan kelompok nelayan dengan melalui tahapan pembentukan dan penyusunan kelembagaan; penguatan; dan pengembangan kelompok nelayan menggunakan pendekatan partisipasi dan “learning process” dalam semua proses pengambilan keputusan. Tittle: Strategy for Local Fisheries Local Institution Development as Reservoir Management Authority at the Wadas Lintang Reservoir of Wonosobo DistrictThe objectives of this research were to study local institution at the Wadas Lintang reservoir and its opportunity to be promoted as a reservoir management authority. The research was conducted in August to October 2006 using qualitative and intrinsic case study at four villages of Wadas Lintang Sub District, Wonosobo District, Central Java Province considering fishers concentration sites, current local fishers institution and also sites' accessibility. Primary data were mostly related to current local fishers institution and resource utilization perception which were collected using in depth interview, group discussion and observation from informants which were selected using purposive technique. Data were analyzed descriptively using interaction model technique with institutional theory and co-management principles. Results indicated that there were formal and informal local institution which is significantly influenced to the members' acceptance of institution existence and roles and also the level of member's participation which is higher at formal institution. Facilitating strategy could be chosen by local government as fishers local institution development strategy following the stage of initiating, developing and empowering local institution with participation and learning process approach on each stages.