cover
Contact Name
Hariyadi
Contact Email
hariefamily@yahoo.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
hariefamily@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Pagaruyuang Law Journal
ISSN : 25804227     EISSN : 2580698X     DOI : -
Core Subject : Social,
Pagaruyuang Law Journal (PLJ) is a Peer Review journal published periodically two (2) times in one (1) year, ie in January and July. The journal is based on the Open Journal System (OJS) and is accessible for free, and has the goal of enabling global scientific exchange. PLJ is available in both printed and online versions. The aims of this journal is to provide a venue for academicians, researchers and practitioners for publishing the original research articles or review articles. The scope of the articles published in this journal deal with a broad range of topics, including: Civil Law; Criminal Law; International Law; Constitutional Law Administrative Law; Islamic Law; Business Law; Agrarian Law; Adat Law; and Environmental Law.
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
ASPEK PERLINDUNGAN HAM DALAM PENGATURAN BATAS WAKTU PENAHANAN OLEH PENYIDIK PERSPEKTIF SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA Soalihin Soalihin; Syamsuddin Syamsuddin; Gufran Gufran
Pagaruyuang Law Journal Volume 10 Nomor 1, Juli 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/plj.v10i1.8238

Abstract

Penahanan merupakan tindakan paksa yang dikenal dalam kerangka peradilan pidana, yang menjadi kewenangan penegak hukum khususnya penyidik. Namun penahanan tersebut tidak bisa dilakukan secara sewenang-wenang, melainkan harus berdasarkan prosedur hukum acara pidana, guna menjaga dan melindungi hak asasi tersangka. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah pengaturan batas waktu penahanan oleh penyidik dalam perspektif kerangka peradilan pidana Indonesia serta mengkaji kesesuaiannya dengan prinsip hak asasi manusia nasional maupun internasional. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif (doktrinal) dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana telah mengatur syarat serta batas waktu penahanan sebagai bentuk pembatasan kewenangan penyidik serta perlindungan terhadap hak kebebasan dan kepastian hukum tersangka. Namun, pengaturan tersebut masih menyisakan sejumlah persoalan, terutama lamanya masa penahanan pada tahap penyidikan dan belum optimalnya mekanisme pengawasan yudisial sejak awal penahanan. Dalam perspektif hak asasi manusia internasional, prinsip prompt judicial control menempatkan hakim sebagai pengawas utama terhadap tindakan penahanan. 
Problematika Dan Rekonstruksi Kepastian Hukum Penanaman Modal Asing Dalam Sistem Hukum Investasi Indonesia Pasca Undang-Undang Cipta Kerja Emiel Salim Siregar; Syahrizal Aziz Harahap; M. Bryantara Ramadhan; Dwi Silviani; Bima Aslam Anugerah
Pagaruyuang Law Journal Volume 10 Nomor 1, Juli 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/plj.v10i1.7959

Abstract

Foreign direct investment (FDI) plays a strategic role in driving national economic growth through increased investment, technology transfer, and job creation. To enhance investment competitiveness, the Indonesian government implemented regulatory reforms through the Job Creation Law, which aims to simplify business licensing and strengthen the ease of doing business. However, the implementation of this policy continues to raise various problems related to legal certainty, such as regulatory asymmetry between the central and regional governments, rapid policy changes, and the suboptimal risk-based licensing system through the Online Single Submission (OSS). This study aims to analyze the problems of legal certainty for foreign investment and formulate a legal reconstruction in the Indonesian investment system after the Job Creation Law. The research method used is normative legal research with a statutory and conceptual approach. The results show that legal certainty for investment in Indonesia still faces various obstacles that can affect investor confidence. Therefore, legal reconstruction is needed through regulatory harmonization, strengthening the licensing system, improving institutional quality, and improving investment dispute resolution mechanisms. These efforts are expected to create a stable, fair, and sustainable investment climate in Indonesia.
Analisis Hukum Islam Terhadap Emotional Divorce di Kalangan Millenial Muhammad Abdillah Hasby; Rizki Muhammad Haris
Pagaruyuang Law Journal Volume 10 Nomor 1, Juli 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/plj.v10i1.8189

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena emotional divorce pada generasi milenial serta meninjau kedudukannya dalam perspektif hukum Islam. Penelitian ini menggunakan metode normatif-empiris dengan pendekatan sosiologi hukum, psikologi hukum, dan ilmu hukum. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap tujuh informan yang mengalami emotional divorce dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling, sedangkan data sekunder diperoleh dari peraturan perundang-undangan, literatur fikih, buku, dan jurnal ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emotional divorce terjadi melalui beberapa tahapan, yaitu menurunnya komunikasi emosional, munculnya jarak emosional, dan keterasingan emosional yang berkepanjangan. Faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya emotional divorce meliputi kesibukan pekerjaan, rendahnya kualitas komunikasi, penggunaan media sosial, perbedaan harapan dalam perkawinan, serta kurangnya perhatian terhadap kebutuhan emosional pasangan. Dalam perspektif hukum Islam, fenomena tersebut memiliki keterkaitan dengan konsep nusyuz, syiqaq, dan al-hijr, serta menunjukkan tidak optimalnya penerapan prinsip mu'asyarah bi al-ma'ruf. Selain itu, emotional divorce berpotensi menghambat terwujudnya tujuan perkawinan dan bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam maqashid al-syari'ah, khususnya perlindungan jiwa (hifz al-nafs) dan keturunan (hifz al-nasl). Oleh karena itu, diperlukan upaya rekonsiliasi dan penguatan komunikasi dalam rumah tangga untuk mewujudkan kembali tujuan perkawinan menurut Islam.
Aspek Hukum Perdata dan Pidana dalam Kasus Kekerasan terhadap Pekerja Migran Indonesia yang Berdampak pada Kesehatan Mental dan Fisik Cici Rifla; Heriyanto Saputra
Pagaruyuang Law Journal Volume 10 Nomor 1, Juli 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/plj.v10i1.8144

Abstract

The issue of violence against Indonesian migrant workers continues to be a significant legal concern, particularly for those working in the domestic sector in Hong Kong. Acts of physical, mental, sexual, and economic violence not only violate criminal and civil law but also impact the health and well-being of the victims. This study aims to evaluate criminal and civil legal protections for Indonesian migrant workers who are victims of violence and to assess the effectiveness of online legal and health education in raising awareness of their legal rights. The study employs an empirical legal method with a socio-legal approach through legal analysis and data collected from virtual educational sessions via Zoom with Indonesian migrant workers in Hong Kong. The findings indicate that legal protections are available in various national and international legal instruments; however, their implementation still faces obstacles such as low legal literacy, limited access to legal aid, fear of reporting, and a lack of knowledge regarding mental health recovery. Online legal and health education has proven to help improve migrant workers’ understanding of their legal rights, reporting mechanisms, and recovery efforts. These findings indicate that comprehensive legal protection and sustained digital education are necessary to strengthen access to justice and protection for Indonesian migrant workers.
Keterwakilan Perempuan PDIP di DPR RI Hasil Pemilu 2024: Analisis Normatif-Empiris Kebijakan Afirmasi Perempuan Ardhana Ulfa Azis; Ofis Rikardo
Pagaruyuang Law Journal Volume 10 Nomor 1, Juli 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/plj.v10i1.8076

Abstract

AbstractWomen’s representation in legislative bodies is a key indicator of an inclusive and gender-equitable democracy. Indonesia has implemented affirmative action policies in the form of a minimum 30% quota for women’s representation in political party leadership and legislative candidacy. However, the increase in the number of female candidates has not fully translated into a corresponding increase in the representation of elected women in parliament. This paper aims to analyze the implementation of the 30% affirmative action policy for women’s representation in the Legislative Elections within the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P) using a normative-empirical research methodology. Normatively, this study examines the constitutional basis and regulations for women’s affirmative action, while empirically, it analyzes the implementation of this policy in electoral practice. The research findings indicate that, normatively, this policy has a strong legal foundation, both in the constitution, national legislation, and international instruments ratified by Indonesia, such as CEDAW. However, the implementation of affirmative action policies in electoral political practice within the PDIP still faces various obstacles, including those influenced by internal party factors, particularly leadership patterns and political recruitment mechanisms that are centralized in nature. Affirmative action policies within the PDIP remain largely normative and have not been followed by more progressive concrete actions. Keywords: Women's Affirmative Action Policies, Legislative Elections, Political Representation  AbstrakKeterwakilan perempuan dalam lembaga legislatif merupakan salah satu indikator penting dalam demokrasi yang inklusif dan berkeadilan gender. Negara Indonesia telah menerapkan kebijakan afirmasi berupa kuota minimal 30% keterwakilan perempuan dalam kepengurusan partai politik dan pencalonan legislatif. Namun, peningkatan kuantitas calon perempuan belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan keterwakilan perempuan terpilih di parlemen. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan afirmasi 30% keterwakilan perempuan dalam Pemilu Legislatif di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan melalui metodologi penelitian normatif-empiris. Secara normatif, penelitian ini mengkaji dasar konstitusional dan regulasi afirmasi perempuan, sedangkan secara empiris menelaah implementasi kebijakan tersebut dalam praktik pemilu. Hasil penelitian bahwa secara normatif, kebijakan ini telah memiliki dasar hukum yang kuat, baik dalam konstitusi, peraturan perundang-undangan nasional, maupun instrumen internasional yang telah diratifikasi Indonesia, seperti CEDAW. Namun implementasi kebijakan afirmasi dalam praktik politik elektoral kasus di PDIP masih menghadapi berbagai kendala antara lain dipengaruhi oleh faktor internal partai, terutama pola kepemimpinan dan mekanisme rekrutmen politik yang bersifat sentralistik. Kebijakan afirmasi di internal PDIP masih bersifat normatif dan belum diikuti tindakan khusus yang lebih progresif. Kata kunci: Kebijakan Afirmasi Perempuan, Pemilu Legislatif, Keterwakilan Politik
Penyelesaian Hukum Dalam Sengketa Wanprestasi Yang Dilakukan Nasabah Terhadap PNM Mekar Melalui Mediasi Windi Windi; Adnan Adnan; Didik Irawansah
Pagaruyuang Law Journal Volume 10 Nomor 1, Juli 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/plj.v10i1.8184

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses penyelesaian sengketa wanprestasi antara nasabah dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Mekaar melalui jalur mediasi, serta mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya wanprestasi tersebut. PNM Mekaar merupakan lembaga keuangan mikro berbasis kelompok dengan sistem tanggung renteng yang menyalurkan modal usaha kepada perempuan prasejahtera. Masalah utama dalam penelitian ini memfokuskan pada tingginya risiko kredit bermasalah akibat nasabah yang melanggar kesepakatan kontraktual, seperti terlambat membayar angsuran bahkan melarikan diri, sehingga merugikan anggota kelompok lain dalam sistem tanggung renteng. Guna menyelesaikan konflik perdata ini secara damai tanpa beban proses persidangan yang lambat dan mahal, mediasi diterapkan sebagai alternatif penyelesaian sengketa (Alternative Dispute Resolution) non-litigasi yang mengutamakan pendekatan kekeluargaan dan prinsip musyawarah untuk mencapai win-win solution. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah jenis penelitian yuridis empiris dengan pendekatan sosiologis (sociological approach). Penelitian lapangan ini melihat langsung hubungan hukum perjanjian dalam realitas sosial masyarakat. Sumber data diklasifikasikan menjadi data primer yang dikumpulkan langsung melalui wawancara bebas terpimpin bersama pihak staff PNM Mekaar, ketua kelompok, serta nasabah bermasalah, serta dilengkapi dengan observasi langsung di lapangan. Data sekunder didapatkan melalui studi dokumen tertulis, peraturan kebijakan, buku, dan hasil penelitian terdahulu. Seluruh data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data secara naratif, dan penarikan kesimpulan berdasarkan teori wanprestasi (breach of contract) dan teori mediasi (mediation). Hasil analisis diharapkan dapat memberikan solusi praktis dalam merumuskan inovasi sistem pembayaran yang fleksibel serta peningkatan efisiensi mediasi internal bagi kelangsungan permodalan mikro yang berkelanjutan.
Kerangka TheoLegis Berbasis Tafsir Surah Al-Buruj Pada Pembuktian Peradilan Tata Usaha Negara Abdul Madjid Podungge; Devika Rahayu Daud; Irfan Gani
Pagaruyuang Law Journal Volume 10 Nomor 1, Juli 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/plj.v10i1.8163

Abstract

Penegakan keadilan substantif dalam penyelesaian sengketa administrasi di Indonesia terhambat oleh patologi legal tunnel vision akibat formalisme hukum positif yang kaku. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi kualifikasi perbuatan administratif yang adaptif melalui pengembangan kerangka kerja TheoLegis. Menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, komparatif, dan historis, penelitian ini mengeksplorasi dekonstruksi rigiditas prosedural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi model pembuktian hibrida kontemporer dengan dimensi spiritual transendental Surah Al-Buruj dalam Tafsir Al-Jawahir melahirkan model TheoLegis. Kerangka ini mampu memurnikan alat bukti secara material melampaui keabsahan formal dokumen melalui konsep legal shifts, yang memaksa pejabat publik memenuhi kewajiban administratif secara objektif berdasarkan keselarasan fakta makro-kosmos. TheoLegis meruntuhkan dominasi absolut asas praduga keabsahan (praesumptio iustae causa) dan mendorong keberanian moral hakim untuk melakukan koreksi yuridis di persidangan. Sebagai kontribusi orisinal, penelitian ini menawarkan cetak biru pembaruan hukum acara peradilan tata usaha negara yang transparan, akuntabel, dan berintegritas moral tinggi demi mengejawantahkan adagium fiat justitia ruat caelum. Inovasi ini memberikan perlindungan hukum yang humanis dan transformatif bagi hak-hak konstitusional warga negara.
IMPLEMENTASI BEBAN PEMBUKTIAN TERBALIK DALAM PERTIMBANGAN HAKIM PADA PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI Muhammad Ilham; Rasina Padeni Nasution
Pagaruyuang Law Journal Volume 10 Nomor 1, Juli 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/plj.v10i1.8180

Abstract

Kesatu, berdasarkan hasil penelitian mekanisme beban pembuktian terbalik dalam tindak pidana korupsi di Indonesia diatur secara khusus dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 sebagai bentuk penyimpangan terbatas dari sistem pembuktian umum dalam KUHAP. Penerapannya tidak bersifat mutlak melainkan menganut konsep limited and balanced reverse burden of proof, yaitu penuntut umum tetap memikul kewajiban utama untuk membuktikan unsur-unsur tindak pidana korupsi, sementara terdakwa diberikan hak sekaligus kewajiban untuk menjelaskan asal-usul harta kekayaan, penerimaan gratifikasi, atau aset yang diduga berkaitan dengan tindak pidana korupsi. Dengan demikian pembuktian terbalik berfungsi sebagai instrumen pendukung pembuktian yang bertujuan meningkatkan efektivitas pemberantasan korupsi tanpa mengabaikan asas praduga tidak bersalah dan hak-hak terdakwa dalam proses peradilan pidana.Kedua, hasil penelitian terhadap putusan tindak pidana korupsi di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Medan Tahun 2025 serta hasil wawancara dengan Hakim ad hoc Tipikor menunjukkan bahwa penerapan beban pembuktian telah diterapkan di Pengadilan Negeri Medan tetapi belum digunakan secara eksplisit dalam setiap perkara, tetapi tampak dalam pertimbangan hakim yang berkaitan dengan pembuktian asal-usul harta kekayaan, gratifikasi, kerugian negara, dan pembayaran uang pengganti. Hakim tetap memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk mengajukan bukti yang menguntungkan dirinya, namun penilaian akhir tetap didasarkan pada keseluruhan alat bukti yang diajukan di persidangan. Oleh karena itu, implementasi beban pembuktian terbalik di Pengadilan Negeri Medan telah mencerminkan prinsip pembuktian yang terbatas dan berimbang, sehingga mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan pemberantasan korupsi, kepastian hukum, dan perlindungan hak asasi terdakwa.
Hukum Integrasi Artificial Intelligence dan Non-Fungible Token terhadap Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual di Era Blockchain Haliza Nur Fazriyah; Upik Mutiara; Amiludin Amiludin
Pagaruyuang Law Journal Volume 10 Nomor 1, Juli 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/plj.v10i1.7706

Abstract

Perkembangan teknologi blockchain yang terintegrasi dengan Artificial Intelligence (AI) melalui mekanisme Non-Fungible Token (NFT) telah melahirkan bentuk baru kekayaan intelektual digital yang menimbulkan kompleksitas hukum tersendiri, khususnya dalam perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerangka hukum integrasi AI–NFT serta implikasinya terhadap perlindungan hak cipta, kepemilikan digital, dan mekanisme penyelesaian sengketa HKI di Indonesia dalam perspektif hukum nasional dan internasional. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan perbandingan hukum, yang didukung oleh studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, doktrin hukum, laporan lembaga internasional, serta studi kasus pelanggaran hak cipta dalam ekosistem NFT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum positif Indonesia belum sepenuhnya mampu mengakomodasi karya yang dihasilkan oleh AI karena sistem perlindungan hak cipta masih berorientasi pada pencipta manusia. NFT tidak menciptakan hak cipta baru, melainkan berfungsi sebagai alat pembuktian kepemilikan digital yang memiliki nilai evidensial tinggi dalam sengketa hukum. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan harmonisasi regulasi nasional dengan standar internasional serta pengembangan kerangka hukum adaptif berbasis teknologi guna mewujudkan perlindungan HKI digital yang efektif dan berkeadilan di era blockchain.
POTENSI FINTECH UNTUK FINANCIAL CRIME Deden Setiadin Putra; Abdul Malik; Zuhrah Zuhrah
Pagaruyuang Law Journal Volume 10 Nomor 1, Juli 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/plj.v10i1.7613

Abstract

Perkembangan teknologi finansial (fintech) menghadirkan transformasi signifikan dalam sistem keuangan modern melalui efisiensi, kecepatan transaksi, dan aksesibilitas yang lebih luas. Namun, kemajuan ini juga membuka ruang baru bagi financial crime yang semakin kompleks, seperti pencucian uang, pendanaan terorisme, penipuan digital, dan penyalahgunaan data pribadi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara inovasi fintech dan potensi penyalahgunaannya untuk kejahatan keuangan, dengan menelaah kerangka regulasi, celah hukum, serta tantangan pengawasan di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan normatif dengan analisis peraturan perundang-undangan, literatur akademik, serta praktik internasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa karakteristik fintech kecepatan, anonimitas, dan borderless system menjadi faktor utama meningkatnya risiko financial crime. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan regulasi berbasis risiko, peningkatan kolaborasi antara regulator dan pelaku industri, serta pembangunan sistem deteksi transaksi mencurigakan berbasis teknologi.