cover
Contact Name
Muhammad Ali Adriansyah
Contact Email
ali.adriansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
psikostudia@fisip.unmul.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Psikostudia : Jurnal Psikologi
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 23022582     EISSN : 26570963     DOI : -
PSIKOSTUDIA : JURNAL PSIKOLOGI is a peer-reviewed journal which is published by Universitas Mulawarman, East Kalimantan publishes biannually in June and December. This Journal publishes current original research on psychology sciences using an interdisciplinary perspective, especially within Organitational and Industrial Psychology, Clinical Psychology, Educational Psychology, and Experimental Psychology Studies.
Arjuna Subject : -
Articles 462 Documents
From Challenge to Growth: The Adaptive Journey of a Volunteer Teacher with High AQ Panjaitan, Yoko Jimmy; Anissaniwaty, Myrna; Zulkifl, Muhammad Aiman Alif; Gumilar, Rifan Adhitia
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, September 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i3.18205

Abstract

The teachers, particularly among volunteer teachers, faces complex challenges amid the dynamic landscape of education. In addition to teaching, they must adapt to constantly changing environments without material compensation or job security. In this context, career adaptability becomes crucial to help volunteer teachers navigate career transitions and challenges. One factor that supports career adaptability is adversity quotient (AQ). This study aims to analyze the influence of AQ on the career adaptability of volunteer teachers in Bandung. The proposed hypothesis is that adversity quotient significantly influences career adaptability. A quantitative approach was employed using a survey design with questionnaires that had been tested for validity and reliability. The research subjects were 67 volunteer teachers selected through purposive sampling. Data were analyzed using simple linear regression to examine the influence of AQ on career adaptability. The results indicate that adversity quotient has a significant effect on career adaptability (p < 0.05). These findings highlight the importance of developing adversity quotient to enhance career adaptability. This study is expected to serve as a foundation for designing intervention programs, such as resilience training and mentoring, to support the career sustainability of volunteer teachers in Indonesia.Profesi guru, khususnya guru relawan, menghadapi tantangan yang kompleks di tengah dinamika pendidikan. Selain mengajar, mereka harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang terus berubah tanpa jaminan materi maupun status pekerjaan yang pasti. Dalam konteks ini, adaptabilitas karir menjadi kemampuan penting agar guru relawan mampu menghadapi transisi dan tantangan kerja. Salah satu faktor yang mendukung adaptabilitas karir adalah adversity quotient (AQ). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh AQ terhadap adaptabilitas karir pada guru relawan di Kota Bandung. Hipotesis yang diajukan adalah adversity quotient berpengaruh signifikan terhadap adaptabilitas karir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Subjek penelitian adalah 67 guru relawan yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan regresi linier sederhana untuk menguji pengaruh adversity quotient terhadap adaptabilitas karir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adversity quotient memiliki pengaruh signifikan terhadap adaptabilitas karir (p < 0,05). Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pengembangan adversity quotient untuk meningkatkan adaptabilitas karir. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan program intervensi, seperti pelatihan resiliensi dan mentoring, guna mendukung keberlanjutan karir guru relawan di Indonesia.
Building Bridges to the Workforce: The Role of Career Decision-Making Self-Efficacy in Vocational Students' Work Readiness Nuraini, Alita Dwi; Harahap, Dewi Handayani; Lekahena, Femmy
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, September 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i3.19655

Abstract

The open unemployment rate (TPT) of vocational school graduates in February 2025 will reach 8%, the highest compared to other levels of education. In Yogyakarta, the unemployment rate of vocational school graduates in Sleman Regency was recorded at 5.02%. This high unemployment rate reflects a serious challenge in optimizing the role of vocational education as a bridge to the world of work. This study aims to determine the relationship between career decision-making self-efficacy (CDMSE) and work readiness in grade XII students of SMK X. This study uses a quantitative method with a correlational design. The research sample amounted to 152 students who were selected through a population study. Data collection was carried out using the CDMSE scale and the work readiness scale. Data analysis using the Pearson Product Moment correlation test showed a positive and significant relationship between CDMSE and work readiness in grade XII students of SMK X (r = 0.469, p < 0.05). The results of this study show that the higher the CDMSE, the higher the student's job readiness. These findings indicate the importance of strengthening self-efficacy in career decision-making to improve the work readiness of vocational school students.Tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan SMK pada Februari 2025 mencapai 8%, tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lain. Di Yogyakarta, tingkat pengangguran lulusan SMK di Kabupaten Sleman tercatat sebesar 5,02%. Tingginya angka pengangguran ini mencerminkan tantangan serius dalam mengoptimalkan peran pendidikan vokasi sebagai jembatan menuju dunia kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara career decision-making self-efficacy (CDMSE) dengan work readiness pada siswa kelas XII SMK X. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 152 siswa yang dipilih melalui studi populasi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala CDMSE dan skala work readiness. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara CDMSE dengan work readiness pada siswa kelas XII SMK X (r = 0,469, p < 0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi CDMSE, maka semakin tinggi pula kesiapan kerja siswa. Temuan ini mengindikasikan pentingnya penguatan efikasi diri dalam pengambilan keputusan karir untuk meningkatkan kesiapan kerja siswa SMK. 
Overview of Emotional Regulation of Teachers Assisting Students with Autistic Special Need David R. Wardhana, Lauren; Suryanto, Suryanto
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, September 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i3.18664

Abstract

The issue addressed in this study is the importance of emotional regulation in the role of special assistant teachers when dealing with autistic students. This study aims to explore the emotional regulation experiences of special assistant teachers in managing students with autism. The participants consisted of three individuals—one male and two females—who met the criteria of working as special assistant teachers for more than one year. The study employed a qualitative descriptive case study approach. The findings indicate that emotional regulation among special assistant teachers tends to be positive. This is influenced by several factors, including emotional acceptance, the ability to engage in goal-directed behavior and refrain from impulsive actions when experiencing negative emotions, access to perceived effective emotional regulation strategies, and emotional awareness and understanding. The implication of these findings suggests that strengthening emotional regulation skills can be a key factor in supporting the effectiveness and psychological well-being of special assistant teachers in inclusive educational settings. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah pentingnya regulasi emosi dalam peran guru pendamping khusus saat menangani siswa autis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran regulasi emosi yang dialami oleh guru pendamping khusus dalam menangani siswa autis. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah tiga orang, yang terdiri dari satu laki-laki dan dua perempuan dengan kriteria bekerja sebagai guru pendamping khusus dengan masa kerja rentang lebih dari 1 tahun. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus deskriptif. Temuan penelitian menyebutkan regulasi emosi pada guru pendamping khusus cenderung ke arah yang positif. Hal tersebut dikarenakan oleh faktor-faktor seperti penerimaan emosi, kemampuan untuk terlibat dalam perilaku bertujuan, dan menahan diri dari perilaku implusif ketika mengalami emosi negatif, akses terhadap strategi regulasi emosi yang dipersepsikan efektif, serta kesadaran dan pemahaman tentang emosi. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa penguatan kemampuan regulasi emosi dapat menjadi aspek penting dalam mendukung efektivitas kerja guru pendamping khusus serta kesejahteraan psikologis mereka dalam lingkungan pendidikan inklusif.
Breaking Silence: The Power of Peer Support in Alleviating Student Loneliness Lowinsky, Veronica; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, September 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i3.19669

Abstract

University life is a transitional period that is vulnerable to loneliness due to changes in social environment, academic pressure, and demands for independence. This study aimed to examine the relationship between peer social support and the level of loneliness among students at Satya Wacana Christian University (UKSW). This research employed a quantitative approach with a correlational design. The sample consisted of 100 active students from UKSW, selected using accidental sampling. The instruments used were the Social Provisions Scale (SPS) to measure peer social support and the UCLA Loneliness Scale Version 3 to assess loneliness levels. Data analysis was conducted using Pearson correlation and partial correlation across dimensions. The results showed a significant negative relationship between peer social support and loneliness. The higher the perceived social support, the lower the level of loneliness experienced by the students. All aspects of social support, such as attachment, guidance, and reassurance of worth, were found to have significant correlations with various dimensions of loneliness. The implication of this study highlights the importance for higher education institutions to facilitate the strengthening of peer relationships through mentoring programs, social engagement activities, and the development of interpersonal skills to prevent social isolation and support students’ psychological well-being.Masa perkuliahan merupakan periode transisi yang rentan terhadap perasaan kesepian akibat perubahan lingkungan sosial, tekanan akademik, dan tuntutan kemandirian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan tingkat kesepian pada mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 100 mahasiswa aktif UKSW yang diambil menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan yaitu Social Provisions Scale (SPS) untuk mengukur dukungan sosial teman sebaya dan UCLA Loneliness Scale Version 3 untuk mengukur tingkat kesepian. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson dan korelasi parsial antar aspek. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dengan kesepian pada mahasiswa. Semakin tinggi dukungan sosial yang dirasakan, maka semakin rendah tingkat kesepian yang dialami. Seluruh aspek dukungan sosial seperti attachment, guidance, dan reassurance of worth memiliki hubungan yang signifikan terhadap berbagai dimensi kesepian. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya lembaga pendidikan tinggi untuk memfasilitasi penguatan relasi sosial antar mahasiswa melalui program mentoring, kegiatan sosial, dan pengembangan kapasitas interpersonal guna mencegah isolasi sosial dan mendukung kesejahteraan psikologis mahasiswa.
The Role of Value Internalization in Suppressing the Level of Youth Aggressiveness: An Empirical Study of IKS.PI Kera Sakti Silat College Fauzan, Ahmad Helmy; Widiantoro, Wahyu
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, September 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i3.19687

Abstract

The high tendency of aggressive behavior in adolescents is an issue that needs attention, especially when positive values are not strongly embedded in individuals. In this context, the teaching values of the IKS.PI Kera Sakti martial arts college have the potential to be one of the sources of positive character building. This study aims to examine the relationship between the internalization of IKS.PI Kera Sakti martial arts values and the level of aggressiveness in adolescents. The approach used is quantitative with the subjects as many as 63 teenagers who are active members of the martial arts college. The sampling technique used Purposive Sampling. The data collection method was carried out using a value internalization scale and an aggressiveness scale. The data that has been collected is then analyzed with the Pearson Product Moment analysis test. The results showed a Pearson correlation value of -0.599 with a significant value of 0.000 (p <0.05). Data analysis showed a significant negative relationship between value internalization and aggressiveness (r = -0.599, p < 0.05). This finding indicates that the higher the level of internalization of martial arts values, the lower the level of adolescent aggressiveness. The implication of the results of this study shows the importance of the role of pencak silat institutions in shaping the character of adolescents who are more adaptive and emotionally controlled through strengthening the values of their teachings.Tingginya kecenderungan perilaku agresif pada remaja menjadi isu yang perlu mendapat perhatian, terutama ketika nilai-nilai positif tidak tertanam secara kuat dalam diri individu. Dalam konteks ini, nilai ajaran perguruan silat IKS.PI Kera Sakti berpotensi menjadi salah satu sumber pembentukan karakter yang positif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara internalisasi nilai ajaran perguruan silat IKS.PI Kera Sakti dengan tingkat agresivitas pada remaja. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan subjek sebanyak 63 remaja anggota aktif perguruan silat tersebut. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling. Metode pengumpulan data dilakukan menggunakan skala internalisasi nilai dan skala agresivitas. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan uji analisis Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan nilai korelasi Pearson sebesar -0.599 dengan nilai signifikansi 0.000 (p<0.05). Analisis data menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara internalisasi nilai dengan agresivitas (r = -0.599, p < 0.05). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat internalisasi nilai ajaran perguruan silat, maka semakin rendah tingkat agresivitas remaja. Implikasi dari hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya peran lembaga pencak silat dalam membentuk karakter remaja yang lebih adaptif dan terkendali secara emosional melalui penguatan nilai-nilai ajaran yang mereka miliki.
Mental Health as the Key to Learning Motivation among Psychology Students with Dual Roles Natasya, Natasya; Srefani, Cornelia; Darma Sambo, Surya; Rizki Fadhila, Sherly; Sari, Nurvica; Mirza, Rina; Ayu, Lodiana
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, September 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i3.19945

Abstract

Mental health and learning motivation are two very important factors in higher education, as both directly impact academic achievement and student well-being. High learning motivation can help students stay more focused and committed to their studies, while good mental health supports their ability to manage stress and academic challenges. Although many studies discuss these two factors separately, few have examined the relationship between learning motivation and mental health, especially in students who work while studying. This study aims to identify the relationship between learning motivation and mental health among students at the Faculty of Psychology, Universitas Prima Indonesia, who are also working while attending classes. Using a quantitative approach with Pearson's correlation technique, this study involved 146 students as the sample. The results show a significant positive relationship between learning motivation and students' mental health, with a correlation value of 0.746 and a significance of p = 0.000, meaning that the higher a student's motivation to learn, the better their mental health. These findings highlight the importance of learning motivation in supporting students' psychological well-being. Educational institutions can develop programs that support the enhancement of both learning motivation and students' mental health, particularly for those who work while studying, to help them effectively cope with academic and personal challenges.Kesehatan mental dan motivasi belajar adalah dua faktor yang sangat penting dalam dunia pendidikan tinggi, karena keduanya berpengaruh langsung terhadap prestasi akademik dan kesejahteraan mahasiswa. Motivasi belajar yang tinggi dapat membantu mahasiswa untuk lebih fokus dan berkomitmen terhadap studi individu, sementara kesehatan mental yang baik mendukung kemampuan individu dalam mengelola stres dan tantangan akademik. Meskipun banyak penelitian yang membahas keduanya secara terpisah, belum banyak yang mengkaji hubungan antara motivasi belajar dan kesehatan mental, terutama pada mahasiswa yang bekerja sambil kuliah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara motivasi belajar dan kesehatan mental pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Prima Indonesia yang menjalani perkuliahan sambil bekerja. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik korelasi Pearson, penelitian ini melibatkan 146 mahasiswa sebagai sampel. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar dan kesehatan mental mahasiswa, dengan nilai korelasi sebesar 0.746 dan signifikansi p = 0.000, yang berarti semakin tinggi motivasi belajar seorang mahasiswa, semakin baik pula kesehatan mental individu. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya motivasi belajar dalam mendukung kesejahteraan psikologis mahasiswa. Lembaga pendidikan dapat mengembangkan program yang mendukung peningkatan motivasi belajar serta kesehatan mental mahasiswa, terutama bagi individu yang bekerja sambil kuliah, guna membantu individu mengatasi tantangan akademik dan kehidupan pribadi secara lebih efektif. 
Self-Concept, Reference Group and Cosmetic Purchase Decision Among Early Adult Man in Yogyakarta Hidayati, Lia Fajrina Binuril; Suseno, Miftahun Ni'mah
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, September 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i3.16877

Abstract

Cosmetics are only for women to use? That's not the era anymore. Cosmetics were originally only used and intended for women. With the development of the times, now men are starting to take care of themselves by using cosmetics. The influence of self-concept on the needs of the body, skin and appearance and reference groups such as friends, family and the internet make them decide to buy and use cosmetics. This study aims to determine the relationship between self-concept and reference groups with the decision to purchase cosmetics in early adult men. The type of research used is quantitative approach. The subjects in this study were 185 early adult male cosmetic users who live in Yogyakarta. The research hypothesis is that there is a positive relationship between self-concept, reference groups and cosmetic purchasing decisions in early adult men. Data were collected using a purchase decision scale developed from the theory of Peter & Olson, a self-concept scale according to the theory of Calhoun and Acocella, and a reference group scale, developed from Setiadi's theory. The results of the regression analysis showed R = 0.56 and F = 5.01 with a significance of 0.03 (p < 0.05). The results showed that there was a positive relationship between self-concept and reference groups with cosmetic purchase decisions for men in Yogyakarta. Self-concept and reference groups make an effective contribution of 31% to purchase decisions with details of reference groups having an effect of 29% and self-concept by 2%. This shows that the reference group has a greater influence than self-concept in shaping cosmetic purchase decisions.Kosmetik hanya digunakan wanita? Sudah bukan jamannya lagi. Kosmetik pada awalnya hanya digunakan dan ditujukan untuk wanita. Seiring berkembangnya zaman, kini para pria mulai merawat diri dengan menggunakan kosmetik. Pengaruh konsep diri terhadap kebutuhan tubuh, kulit dan penampilan serta referensi kelompok seperti teman, keluarga dan internet membuat mereka memutuskan untuk membeli dan menggunakan kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan kelompok acuan dengan keputusan pembelian kosmetik pada pria dewasa awal. Jenis penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah 185 orang pengguna kosmetik pria dewasa awal yang berdomisili di Yogyakarta. Hipotesis penelitian adalah terdapat hubungan positif antara konsep diri, kelompok acuan dengan keputusan pembelian kosmetik pada pria dewasa awal. Pengumpulan data menggunakan skala keputusan pembelian yang dikembangkan dari teori Peter & Olson, skala konsep diri menurut teori Calhoun dan Acocella, dan skala kelompok acuan yang dikembangkan dari teori Setiadi. Hasil analisis regresi menunjukkan R = 0,56 dan F = 5,01 dengan signifikansi 0,03 (p < 0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif antara konsep diri dan kelompok acuan dengan keputusan pembelian kosmetik pada pria di Yogyakarta. Konsep diri dan kelompok acuan memiliki sumbangan efektif sebesar 31% terhadap keputusan pembelian dengan rincian kelompok acuan berpengaruh sebesar 29% dan konsep diri sebesar 2%. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok referensi mempunyai pengaruh lebih besar daripada konsep diri dalam membentuk keputusan pembelian kosmetik.
Self-Reflection Amid Social Spotlight: A Study on Self-Concept and Social Anxiety Among High School Adolescents Mentari Rezeki, Sabrini; Charmicaell, Marcell; Riyanti Yolanda, Putri; Velisya, Shellen; Aristantya Saragih, Lia
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, September 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i3.19859

Abstract

High school adolescents are at a developmental stage vulnerable to social pressure and identity formation, often leading to social anxiety, especially when their self-concept is not yet firmly established. High levels of social anxiety can hinder students' social interaction and emotional development, whereas a positive self-concept is believed to serve as a psychological buffer. This study aims to examine the relationship between self-concept and social anxiety among high school students and to explore the influence of social anxiety dimensions on aspects of self-concept. The research employed a quantitative correlational approach using Pearson Product Moment correlation and partial regression analysis on 120 students of SMA Yos Sudarso Medan selected through proportionate stratified random sampling. The results revealed a significant negative relationship between self-concept and social anxiety. Furthermore, the fear of negative evaluation dimension positively influenced the physiological and psychological aspects of self-concept, while irrational beliefs negatively affected the psychosocial aspect, and high personal standards had a positive effect on the psycho-spiritual aspect of self-concept. The implications of this study highlight the importance of strengthening students’ self-concept as a strategic measure to reduce social anxiety and support character formation and mental health in the school environment.Remaja SMA berada pada tahap perkembangan yang rentan terhadap tekanan sosial dan pencarian jati diri, yang kerap menimbulkan kecemasan sosial terutama ketika konsep diri belum terbentuk dengan kuat. Kecemasan sosial yang tinggi dapat menghambat interaksi sosial dan perkembangan emosional siswa, sementara konsep diri yang positif diyakini mampu menjadi pelindung psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan kecemasan sosial pada siswa SMA serta mengeksplorasi pengaruh dimensi kecemasan sosial terhadap aspek-aspek konsep diri. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik analisis Pearson Product Moment dan regresi parsial terhadap 120 siswa SMA Yos Sudarso Medan yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara konsep diri dan kecemasan sosial. Selain itu, dimensi fear of negative evaluation berpengaruh positif terhadap konsep diri fisiologis dan psikologis, sementara irrational beliefs berpengaruh negatif terhadap konsep diri psiko-sosial, dan high personal standards memiliki pengaruh positif terhadap konsep diri psiko-spiritual. Implikasi dari penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan konsep diri siswa sebagai langkah strategis dalam menekan tingkat kecemasan sosial serta mendukung pembentukan karakter dan kesehatan mental remaja di lingkungan sekolah.
Loneliness Abroad: The Role of Emotional Support of Boarding House Managers for Students Vidya Putri, Zahra; Nurhayaty, Any; Adzlan Syah, Tansri
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, September 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i3.17526

Abstract

Migrant students often experience loneliness due to separation from their families and familiar environments. This loneliness is not merely caused by the absence of social interaction but also by a lack of meaningful emotional support in the new setting. This study aims to examine the relationship between emotional support provided by boarding house managers and feelings of loneliness among migrant students. A quantitative method with a correlational design was used. The sample consisted of 210 migrant students living in boarding houses or dormitories, and data were collected using two instruments: an emotional support scale and a loneliness scale. Data were analyzed using the Spearman correlation test. The results indicate a significant negative relationship between emotional support from boarding house managers and the level of loneliness among students. This means that the higher the emotional support perceived from the boarding house managers, the lower the level of loneliness experienced by the students. Future research is encouraged to include mediating variables such as attachment or emotion regulation to further explore the underlying mechanisms of this relationship. The implication of this study highlights the importance of involving boarding house managers as informal agents of emotional support to foster a more supportive and psychologically healthy living environment for migrant students.Mahasiswa perantauan kerap mengalami kesepian akibat keterpisahan dari keluarga dan lingkungan asal. Kesepian ini tidak hanya disebabkan oleh ketiadaan interaksi sosial, melainkan juga oleh kurangnya dukungan emosional yang bermakna di lingkungan baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan emosional dari pengelola kost dengan perasaan kesepian pada mahasiswa perantauan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel terdiri dari 210 mahasiswa perantauan yang tinggal di kost atau asrama, dan data dikumpulkan menggunakan dua instrumen: skala dukungan emosional serta skala kesepian. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan emosional dari pengelola kost dan tingkat kesepian mahasiswa perantauan. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi dukungan emosional yang dirasakan dari pengelola kost, maka semakin rendah tingkat kesepian yang dialami mahasiswa. Penelitian ini menyarankan agar studi selanjutnya mengikutsertakan variabel mediasi seperti keterikatan atau regulasi emosi untuk memahami mekanisme hubungan lebih dalam. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya pelibatan pengelola kost sebagai agen dukungan emosional informal untuk menciptakan lingkungan tinggal yang lebih suportif dan sehat secara psikologis bagi mahasiswa perantauan.
The Effectiveness of Cognitive Behavioral Therapy for Reducing Social Anxiety Disorder: A Meta-Analysis Putra, Timothy Quinn Hartono; Yudiarso, Ananta
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, September 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i3.19909

Abstract

Social Anxiety Disorder (SAD) is an anxiety disorder characterized by excessive fear of social situations and can impair an individual's interpersonal functioning. The increasing prevalence of SAD in various countries, including Indonesia, has created an urgent need for effective interventions. Cognitive Behavioral Therapy (CBT), in both face-to-face and internet-based formats (Internet-based CBT/ICBT), has become a common approach to treating this disorder. This study aims to evaluate the effectiveness of CBT in reducing SAD symptoms through a meta-analytic method following the PRISMA-P 2020 guidelines. A total of 14 independent studies employing CBT and ICBT were analyzed. The results showed no significant difference in effectiveness between CBT and ICBT, with a small effect size. The modest effectiveness may be due to the use of control groups that received similar behavioral interventions. These findings suggest that both CBT and ICBT can serve as effective and flexible alternatives for addressing SAD, particularly for individuals with limited access to conventional therapy. This study highlights the importance of combining CBT with other therapeutic approaches and emphasizes the need to consider cultural context in the implementation of therapy.Social Anxiety Disorder (SAD) merupakan gangguan kecemasan yang ditandai dengan ketakutan berlebihan terhadap situasi sosial dan dapat menghambat fungsi interpersonal individu. Peningkatan prevalensi SAD di berbagai negara, termasuk Indonesia, menimbulkan kebutuhan mendesak akan intervensi yang efektif. Cognitive Behavior Therapy (CBT), baik dalam pendekatan tatap muka maupun berbasis internet (Internet-based CBT/ICBT), telah menjadi pendekatan umum untuk mengatasi gangguan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas CBT dalam menurunkan gejala SAD melalui metode meta-analisis yang mengikuti prosedur PRISMA-P 2020. Sebanyak 14 studi independen yang menggunakan CBT dan ICBT dianalisis. Hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan dalam efektivitas antara CBT dan ICBT, dengan nilai effect size kecil (small effect size). Rendahnya efektivitas kemungkinan disebabkan oleh penggunaan kelompok kontrol dengan intervensi sejenis, seperti terapi perilaku lain. Temuan ini mengindikasikan bahwa baik CBT maupun ICBT dapat menjadi alternatif intervensi yang efektif dan fleksibel dalam menangani SAD, terutama bagi individu dengan keterbatasan akses terhadap terapi konvensional. Penelitian ini menyarankan perlunya kombinasi CBT dengan pendekatan lainnya serta pentingnya mempertimbangkan konteks budaya dalam implementasi terapi.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 4 (2025): Volume 14, Issue 4, Desember 2025 Vol 14, No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, September 2025 Vol 14, No 2 (2025): Volume 14, Issue 2, Juni 2025 Vol 14, No 1 (2025): Volume 14, Issue 1, Maret 2025 Vol 13, No 4 (2024): Volume 13, Issue 4, Desember 2024 Vol 13, No 3 (2024): Volume 13, Issue 3, September 2024 Vol 13, No 2 (2024): Volume 13, Issue 2, Juni 2024 Vol 13, No 1 (2024): Volume 13, Issue 1, Maret 2024 Vol 12, No 4 (2023): Volume 12, Issue 4, December 2023 Vol 12, No 3 (2023): Volume 12, Issue 3, September 2023 Vol 12, No 2 (2023): Volume 12, Issue 2, Juni 2023 Vol 12, No 1 (2023): Volume 12, Issue 1, Maret 2023 Vol 11, No 4 (2022): Volume 11, Issue 4, Desember 2022 Vol 11, No 3 (2022): Volume 11, Issue 3, September 2022 Vol 11, No 2 (2022): Volume 11, Issue 2, June 2022 Vol 11, No 1 (2022): Volume 11, Issue 1, March 2022 Vol 10, No 3 (2021): Volume 10, Issue 3, November 2021 Vol 10, No 2 (2021): Volume 10, Issue 2, Juli 2021 Vol 10, No 1 (2021): Volume 10, Issue 1, Maret 2021 Vol 9, No 3 (2020): Volume 9, Issue 3, November 2020 Vol 9, No 2 (2020): Volume 9, Issue 2, Juli 2020 Vol 9, No 1 (2020): Volume 9, Issue 1, Maret 2020 Vol 8, No 2 (2019): Volume 8, Issue 2, December 2019 Vol 8, No 1 (2019): Volume 8, Issue 1, June 2019 Vol 7, No 2 (2018): Volume 7, Issue 2, December 2018 Vol 7, No 1 (2018): Volume 7, Issue 1, June 2018 Vol 6, No 2 (2017): Volume 6, Issue 2, December 2017 Vol 6, No 1 (2017): Volume 6, Issue 1, June 2017 Vol 5, No 2 (2016): Volume 5, Issue 2, December 2016 Vol 5, No 1 (2016): Volume 5, Issue 1, June 2016 Vol 4, No 2 (2015): Volume 4, Issue 2, December 2015 Vol 4, No 1 (2015): Volume 4, Issue 1, June 2015 Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Issue 2, Desember 2014 Vol 3, No 1 (2014): Volume 3, Issue 1, June 2014 Vol 2, No 2 (2013): Volume 2, Issue 2, December 2013 Vol 2, No 2 (2013): Volume 2, Issue 2, December 2013 Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Issue 1, June 2013 Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Issue 2, December 2012 Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Issue 1, Juni 2012 More Issue