cover
Contact Name
Krishna Purnawan Candra
Contact Email
candra@faperta.unmul.ac.id
Phone
+6281350044920
Journal Mail Official
jtropicalagrifood@gmail.com
Editorial Address
Department of Agricultural Products Technology, Faculty of Agriculture, Mulawarman University Jl. Tanah Grogot Kampus Gunung Kelua Samarinda - Kalimantan Timur, 75119
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Journal of Tropical AgriFood
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 26853590     EISSN : 26853604     DOI : https://doi.org/10.35941/jtaf
Core Subject : Agriculture,
Tropical AgriFood is academic journal for research article and review in the field of agricultural technology including agricultural engineering, postharvest physiology and technology, agricultural product processing technology, food science and technology, biotechnology, nutrition, herbal, and functional food.
Articles 116 Documents
Pengaruh waktu perebusan terhadap nilai gizi, total padatan terlarut dan karakteristik sensoris susu biji nangka (Artocarpus heterophyllus) Sitohang, Agnes Chrisvera; Naibaho, Netty Maria; Sari, Rinten Anjang
Journal of Tropical AgriFood Volume 6 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.6.1.2024.12713.17-26

Abstract

Susu nabati adalah minuman berbasis bahan pangan nabati yang digunakan sebagai alternatif susu hewani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh waktu perebusan terhadap nilai gizi, total padatan terlarut, dan karakteristik sensoris terhadap susu biji Nangka. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak faktor tunggal (waktu perebusan) dengan 3 taraf perlakuan (15, 30, dan 45 menit), masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diamati meliputi nilai gizi (protein, lemak, kadar abu, kadar air, karbohidrat, dan energi), total padatan terlarut, dan karakteristik sensoris hedonik dan mutu hedonik. Data dianalisis menggunakan ANOVA dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil untuk data nilai gizi dan total padatan terlarut dan uji Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney untuk data sensoris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu perebusan berpengaruh tidak nyata terhadap kadar lemak, kadar air, energi, respons sensoris hedonik untuk warna dan kekentalan, serta respons sensoris mutu hedonik. Namun berpengaruh nyata terhadap kadar protein, kadar abu, karbohidrat, total padatan terlarut, dan respons sensoris hedonik untuk aroma dan rasa.
Pengolahan menggunakan abu dan perendaman dalam air mengalir dapat menghasilkan keripik gadung rendah asam sianida Fauzi, Mukhammad; Zannah, Luluk Nasikhatuz
Journal of Tropical AgriFood Volume 6 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.6.1.2024.13167.59-66

Abstract

Umbi gadung berkarbohidrat tinggi namun mengandung CN sekitar 362 ppm. Praktik Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pengolahan keripik gadung (perendaman dalam air selama 4 hari) di Desa Sidomulyo, Silo-Jember, menghasilkan keripik gadung dengan kandungan HCN sebesar 24,25%. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode pengolahan keripik gadung rendah HCN melalui penggunaan abu dan perendaman dalam air mengalir. Penelitian ini merupakan percobaan faktorial 2x3 yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok. Faktor pertama adalah jenis abu (sekam dan kayu) dan faktor kedua adalah debit aliran air (0,05 L/jam.kg, 0,15 L/jam.kg, 0,25 L/jam.kg). Parameter yang diamati adalah rendemen, warna, daya kembang, kadar air, kadar abu, dan kadar HCN kripik gadung. Semua data dianalisis dengan ANOVA dilanjutkan dengan uji Duncan (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis abu dan debit aliran air berpengaruh nyata terhadap rendemen, tingkat kecerahan/L warna, daya kembang, kadar air, kadar abu dan kadar HCN keripik gadung. Sedangkan interaksi keduanya berpengaruh hanya berpengaruh terhadap tiga parameter (rendemen, tingkat kecerahan (L), dan kadar HCN). Praktik pengolahan keripik gadung dengan menggunakan abu kayu dan perendaman dalam air mengalir (debit 0,25 L/h.kg) selama 2 hari menghasilkan keripik dengan kandungan HCN yang 100% lebih rendah dibanding praktik pengolahan yang dilakukan oleh UMKM di Desa Sidomulyo. 
Komparasi metode presto dan perendaman dalam larutan asam klorida serta kombinasinya dengan papain sebagai pretreatment produksi gelatin kulit sapi Yuliani, Yuliani; Putra, Sepfian Fadilla Setya; Emmawati, Aswita
Journal of Tropical AgriFood Volume 5, Nomor 2, Tahun 2023
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.5.2.2023.10942.112-118

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan pengaruh metode pretreatment produksi gelatin, yaitu metode presto dan metode perendaman dalam larutan HCl serta kombinasi keduanya dengan perendaman dalam larutan enzim papain terhadap rendemen dan karakteristik fisika-kimia gelatin kulit sapi. Penelitian ini merupakan penelitian faktor tunggal (metode pretreatment) yang disusun dalam RALdengan 6 taraf perlakuan, yaitu presto (10 dan 20 menit) dilanjutkan dengan perendaman dalam air atau larutan papain 3%, masing-masing selama 3 jam, proses perendaman dalam larutan HCl (1 dan 2%) dilanjutkan dengan perendaman dalam larutan papain 3% selama 3 jam. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pretreatment berpengaruh terhadap rendemen gelatin, tetapi tidak untuk kadar airnya. Kombinasi presto selama 10 menit dan perendaman dalam larutan papain menghasilkan rendemen gelatin tertinggi (19,61%). Presto menghasilkan gelatin dengan viskositas tertinggi. Kadar air gelatin yang dihasilkan dari semua metode kombinasi yang dilakukan memenuhi SNI, yaitu berkisar 5,42-8,31%. Sedangkan kadar abu hanya metode presto dan kombinasi presto-perendaman dalam larutan enzim papain yang memenuhi SNI. Gelatin yang dihasilkan dari semua pretreatment mempunyai kadar protein yang lebih rendah dari gelatin komersial. Warna gelatin yang dihasilkan dari semua metode pretreatment adalah kuning cerah.
Karakteristik fisikokimia dan organoleptik crackers dengan substitusi tepung umbi talas Belitung (Xanthosoma sagittifolium) dan tepung wortel (Daucus carota L.) Br Sidabutar, Tiarida Maynita; Prabowo, Sulistyo; Agustin, Sukmiyati; Andriyani, Yulian
Journal of Tropical AgriFood Volume 7 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.7.1.2025.16321.31-42

Abstract

Crackers merupakan salah satu camilan yang digemari oleh kalangan masyarakat yang umumnya terbuat dari bahan dasar tepung terigu. Saat ini impor gandum di Indonesia cukup tinggi, sehingga salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan impor gandum adalah dengan substitusi terigu menggunakan jenis tepung lain. Dalam penelitian ini tepung talas belitung (TB) dan tepung wortel (TW) digunakan sebagai substitusi tepung terigu (TT) dalam pembuatan crackers. Tujuan penelitian ini adalah menentukan formulasi tepung komposit (TT:TB:TW) terhadap sifat kimia, fisik, dan organoleptik crackers. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan formulasi TT:TB:TW adalah 60%:20%:20%, 60%:25%:15%, 60%:30%:10%, dan 60%:35%:5%, masing-masing diulang empat kali. Dibuat juga perlakuan kontrol dengan bahan TT 100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula tepung berpengaruh nyata terhadap semua sifat kimia crackers, satu sifat fisik, yaitu kekerasan, dan tiga atribut sifat organoleptik hedonik (warna, aroma, dan tekstur). Berdasarkan respons organoleptik, crackers terbaik dihasilkan dari formula tepung 60%:30%:10%. Crackers tersebut mempunyai nilai warna 0,17, kekerasan 1,75 kgf, kerenyahan 3,38 mm, kadar air 3,32%, kadar abu 3,57%, kadar protein 9,40%, kadar lemak 18,49%, kadar karbohidrat 65,22%, dan kadar β-karoten 26,29 mg/gram.
Potensi sediaan granul effervescent ekstrak daun ulin dan kelopak bunga rosela sebagai alternatif penanganan diabetes melitus Candra, Deni; Sagita, Yupita Veby; Nanisha, Yiyin; Raihansyah, Muhammad Rizky; Saroinsong, Yos Andreas; Utoro, Panggulu Ahmad Ramadhani
Journal of Tropical AgriFood Volume 7 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.7.1.2025.16909.1-8

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan sediaan effervescent yang mengandung ekstrak daun ulin (Eusideroxylon zwageri) dan rosela (Hibiscus sabdariffa) sebagai terapi komplementer untuk diabetes melitus. Penelitian dilakukan dengan percobaan faktor tunggal dalam Rancangan Acak Lengkap, menggunakan sembilan level perlakuan meliputi kombinasi ekstrak daun ulin (2-6%) dan rosela (1-5%), masing-masing diulang tiga kali. Parameter yang diamati meliputi sifat fisik dan biokimia (kadar air, waktu larut, pH, dan penghambatan aktivitas enzim α-amilase) serta sifat sensoris hedonik. Formula kombinasi ekstrak daun ulin dan kelopak bunga rosela berpengaruh nyata terhadap respons sensoris hedonik. Formula ekstrak daun ulin 6% dan kelopak bunga rosela 5% menghasilkan sediaan granula effervescent dengan respons terbaik untuk sensoris hedonik keseluruhan. Effervescent yang dihasilkan tersebut memiliki waktu larut terlama (1,47 menit), pH 5,74 dan kadar air 2,49%. Efek penghambatan -amilase dari effervescent ini adalah 60,28%, lebih tinggi dibandingkan acarbose yang hanya 57,67%. Temuan ini menunjukkan bahwa effervescent dari kombinasi daun ulin dan rosela berpotensi sebagai penanganan alternatif untuk diabetes.
Karakteristik fisikokimia dan organoleptik selai dari kombinasi ubi jalar kuning (Ipomoea batatas) dan buah sirsak (Annona muricata L.) Samosir, Chaterina Elsa; Murdianto, Wiwit
Journal of Tropical AgriFood Volume 7 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.7.1.2025.16785.9-16

Abstract

Selai adalah produk olahan pangan yang berasal dari buah-buahan dan termasuk produk makanan yang semi basah. Selai lebih praktis dan lebih mudah dalam penyajiannya dan dapat menjadi alternatif bersama dengan roti untuk santapan pagi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh perbandingan kombinasi ubi jalar kuning dan buah sirsak terhadap sifat fisiko-kimia selai dan mengetahui perbandingan yang tepat untuk menghasilkan selai yang terbaik menurut uji organoleptik. Metode Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan 4 ulangan. Perlakuan yang dimaksud yaitu kombinasi ubi jalar kuning (UB) dan buah sirsak (BS) pada perbandingan p1 (70 g UB : 30 g BS), p2 (60 g UB : 40 g BS), p3 (50 g UB : 50 g BS), p4 (40 g UB : 60 g BS), p5 (30 g : 70 g) untuk setiap 100 g contoh. Parameter yang diamati adalah kadar air, kadar abu, kadar β-karoten, pH, kadar total padatan terlarut, kadar vitamin C, warna L*, a*, b*, daya oles, dan karakteristik organoleptik hedonik untuk warna, aroma, tekstur, dan rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar buah sirsak menghasilkan selai dengan warna yang semakin cerah. Formula kombinasi ubi jalar kuning dan buah sirsak berpengaruh nyata terhadap semua karakteristik kimia yang diamati. Meningkatnya kadar buah sirsak cenderung meningkatkan kadar air dan vitamin C, tetapi menurunkan kadar abu, -karoten, pH, dan TPT. Perlakuan selai terbaik berdasarkan karakteristik organoleptik hedonik adalah p1 (70 g UB : 30 g BS), paling banyak mendapatkan respons disukai.
Pengaruh formula tepung komposit terigu dan tepung kacang hijau (Vigna radiata L.) terhadap nilai gizi, karakteristik fisik dan organoleptik kue ilat sapi Renti, Paskalia; Prabowo, Sulistyo; Rachmawati, Maulida; Andriyani, Yulian
Journal of Tropical AgriFood Volume 7 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.7.1.2025.16719.17-24

Abstract

Kue Ilat Sapi merupakan makanan tradisional khas Kalimantan timur, makanan ini berbahan baku utama terigu dan gula merah. Kue Ilat Sapi memiliki tekstur yang menyerupai kue bolu kering atau roti dan memiliki rasa manis. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari nilai gizi, serta karakteristik fisik dan organoleptik kue Ilat Sapi yang diolah dari menggunakan tepung komposit terigu (T) dan tepung kacang hijau (TKH). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan, yaitu formula tepung komposit: 200 g T (p0), 200 g T dan 25 g TKH (p1), 200 g T dan 55 g TKH (p2), serta 200 g T dan 85 g TKH (p3). Data nilai gizi dan karakteristik fisik dianalisis menggunakan Anova dilanjutkan dengan DMRT, sedangkan data organoleptik dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula tepung komposit terigu dan tepung kacang hijau berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, serta daya kembang dan karakteristik organoleptik (warna, aroma dan tekstur) kue ilat sapi. Berdasarkan karakteristik organoleptik hedonik, kue ilat sapi yang diolah menggunakan formula p1 (200 g T dan 25 g TKH) mendapatkan respons paling baik (disukai). Nilai gizi kue ilat sapi yang diperoleh adalah kadar air 12,45%, kadar abu 0,010%, kadar protein 9,72%, dan kadar lemak 0,126%.
Formulasi tepung komposit daun kelor dan kacang merah pada kue tetu Mandar sebagai cemilan pencegah anemia bagi remaja putri Sari, Swasti Purnama; Utami, Riana Pangestu; Joto, Nur Abri; Naibaho, Netty Maria
Journal of Tropical AgriFood Volume 7 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.7.1.2025.17216.25-30

Abstract

Kue Tetu Mandar adalah jajanan tradisional Mandar dibuat dengan tepung terigu, gula merah, dan santan. Tujuan penelitian ini untuk menentukan formula tepung daun kelor (Moringa oleifera) dan kacang merah (Phaseolus vulgaris) pada kue Tetu Mandar untuk meningkatkan nilai gizinya sebagai cemilan alternatif untuk mencegah dan menangani anemia pada remaja putri. Penelitian ini adalah percobaan faktor tunggal (formula tepung komposit daun kelor (DK) dan kacang merah (KM)) yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap. Formula tepung komposit yang dicobakan adalah 2,5-7,5 g masing-masing untuk DK dan KM. Parameter yang diamati adalah sifat sensoris hedonik, serta kandungan protein dan zat besi kue Tetu Mandar. Data sifat organoleptik dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis, sedangkan data kandungan protein dan besi dianalisis dengan ANOVA. Dilakukan pemilihan formula kue dengan perangkingan, dan perhitungan Angka Kecukupan Gizi (AKG) dari kue Tetu Mandar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula tepung komposit daun kelor dan kacang merah berpengaruh tidak nyata terhadap sifat organoleptik untuk atribut warna, tekstur dan aroma, serta kandungan protein dan zat besi kue Tetu Mandar, tetapi berpengaruh nyata terhadap sifat organoleptik untuk atribut rasa dan keseluruhannya. Formula 2,5 g DK dan 7,5 KM (F1) menjadi formula terpilih. Panelis memberikan respons organoleptik hedonik keseluruhan suka pada kue Tetu Mandar yang diperoleh dari F1. Kue tersebut mempunyai kandungan protein dan zat besi berturut-turut 4,82% dan 1,12%. Kadar protein ini memenuhi syarat mutu untuk biskuit (SNI 2973:2022). Konsumsi dua potong kue Tetu Mandar (@ 50 g) mencukupi AKG zat besi untuk remaja putri.
Karakteristik dan daya simpan olahan mandai, produk inovasi asal Kalimantan, setelah proses pengalengan suhu tinggi Puspasari, Annisa; Karhani, Raghib; Mawarti, Mawarti; Alviannur, Muhammad Rani; Nurwahid, Akhmad; Utoro, Panggulu Ahmad Ramadhani
Journal of Tropical AgriFood Volume 6 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.6.2.2024.16890.125-134

Abstract

Indonesia, dengan kekayaan kulinernya yang tersebar di berbagai pulau, termasuk Kalimantan, memiliki potensi besar dalam pengembangan produk pangan berbasis lokal. Salah satu makanan fermentasi tradisional yaitu mandai yang berasal dari kulit dalam (mesokarp) cempedak (Artocarpus champeden). Penelitian ini mengevaluasi pengaruh metode high temperature canning (HTC) terhadap produk fermentasi, umur simpan, dan kandungan gizi oseng mandai ready to eat (RTE). Metode yang dilakukan yaitu mandai difermentasi dengan larutan garam 2%-6% selama 6 hari; kemudian dilakukan pengolahan; pengujian organoleptik; penentuan formulasi terbaik; pengalengan; sterilisasi menggunakan autoclave suhu 121°C selama 20 menit; uji mutu kimia dan umur simpan. Hasil menunjukkan oseng mandai dengan fermentasi menggunakan garam 6% memiliki skor sensorik tertinggi dari uji hedonik dan mutu hedonik. Pengalengan oseng mandai dengan metode HTC dapat mematikan patogen dan memperpanjang umur simpan. Perubahan kadar abu menjadi 10%, pH 4,40, lemak 51,70%, air 7,32%, karbohidrat 22,98%, dan protein 8%. Produk ini memiliki umur simpan 24 hari dengan karakteristik warna coklat kemerahan, aroma mandai dan bumbu bawang, tekstur lembut, serta rasa gurih sedikit asam.
Aplikasi bakteri asam laktat (BAL) untuk meningkatkan keamanan mikrobiologis terhadap Staphylococcus aureus pada proses olah minimal buah apel Malang (Malus sylvestris Mill.) Rahmadi, Anton
Journal of Tropical AgriFood Vol 1, No 1 (2005): JURNAL TEKNOLOGI PERTANIAN Universitas Mulawarman
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minimally processed apple usually came from partially-broken apple with some parts are still in very good condition. Minimally processed fruits are perishable foods due to quality degradation caused by microorganism activity. Main purpose of this research was to study the application of LAB culture in minimally processed apple fruit of Malang in order to increase safety against Staphylococcus aureus. Malang apple was used in this research while age of ripe 4.5 months and weight of around 90-100 grams. Lactic acid bacteria used were Lactobacillus brevis, and three strains of L. plantarum. Steps of this research are selection of potential LAB strains using well diffusion method, determining LAB concentration and soaking time, study of minimally processed apple shelf life and total acid titration. pH and total LAB colonies (Total Plate Count) in MRS agar medium, as well as total Staphylococcus aureus. Best inhibition-zone of S. aureus are was resulted from strain of L. brevis AE 1.6 (14.33mm). Optimum concentration to inhibit pathogenic bacteria is 10^6 cfu per mL with 30 minutes of soaking. Pathogenic bacteria life colonies decreased for 1 to 2 of log unit following soaking in optimal LAB concentration. LAB application in minimally processed apple did succeeded to increase safety against pathogens specially S. aureus. Shelf life could be extended up to 12 days with S. aureus life colonies not more than 100 cfu per g.

Page 9 of 12 | Total Record : 116