cover
Contact Name
Suparman
Contact Email
suparman@uncp.ac.id
Phone
+6285261455244
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota palopo,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra
ISSN : 24433667     EISSN : 27154564     DOI : https://doi.org/10.30605/onoma
Core Subject : Education,
Onoma adalah jurnal akademik yang diterbitkan pada bulan Mei dan November oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Cokroaminoto Palopo. Jurnal ini menyajikan artikel-artikel ilmiah tentang pendidikan, bahasa dan sastra Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 1,779 Documents
Urgensi Pengembangan Instrumen Pengukuran Kemampuan Berkreasi dan Berinovasi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Zethly Ronaldo; Yuliana Setyaningsih; B. Widharyanto
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i2.3004

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui urgensi dari pengembangan instrumen pengukuran kemampuan berkreasi dan berinovasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terbuka yang dibagikan kepada peserta didik kelas 9 di jenjang SMP. Terdapat tiga aspek yang diberikan dengan total 8 pernyataan. Hasil penelitian menunjukan bahwa peserta didik memberikan tanggapan yang baik mengenai seluruh aspek kuesioner awal kebutuhan peserta didik. Hal ini bisa dilihat dengan skor rata-rata keseluruhan aspek adalah 4,29 atau 85,73%, dengan kategori “sangat setuju”. Aspek pertama mengenai ketersediaan bacaan dan pemberian tugas memiliki pengaruh dalam meningkatkan kemampuan berkreasi dan berinovasi, memiliki skor rata-rata 4,04 dengan persentase 80,77, kategori “sangat setuju”. Aspek kedua mengenai strategi pembelajaran memiliki pengaruh dalam mengembangkan keterampilan berkreasi dan berinovasi, memiliki skor rata-rata 4,46 dengan persentase 89,23%, kategori “sangat setuju”. Aspek ketiga mengenai urgensi pengembangan instrumen pengukuran kemampuan berkreasi dan berinovasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia, memiliki skor rata-rata 4,36 dengan persentase 87,18%, kategori “sangat setuju”.
Asesmen Kurikulum Merdeka Belajar dalam Buku Teks Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia Kelas X SMA Susanti Try Apriliani; Imam Suyitno Imam; Nurhadi Nurhadi
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i2.3018

Abstract

Sistem pendukung yang menentukan keberhasilan dalam pembelajaran salah satunya adalah asesmen. Adanya program baru merdeka belajar disertai dengan perubahan asesmen. Merdeka belajar dapat diimplementasikan dalam pembelajaran, salah satunya dalam buku teks yang berjudul Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk kelas X SMA. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan asesmen merdeka belajar dalam buku teks Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk kelas X SMA. Fokus penelitian ini adalah bentuk asesmen merdeka belajar dalam buku teks Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia kelas X SMA. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian analisis isi. Data dalam penelitian ini adalah kalimat yang terdapat pada kegiatan dan rubrik penilaian dalam buku teks Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia kelas X SMA yang menggambarkan asesmen merdeka belajar. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku teks Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia kelas X SMA. Adapun pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah terdapat empat bentuk asesmen dalam buku teks Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia kelas X SMA. Empat bentuk asesmen tersebut adalah (1) asesmen sikap dan asesmen proses, (2) asesmen performa dan asesmen proses, (3) asesmen formatif dan asesmen responsi reseptif, dan (4) asesmen performa dan asesmen hasil. Akan tetapi, dalam keempat bentuk asesmen tersebut tidak dilengkapi cara penskroran tiap kriteria yang dinilai.
Strategi Bertutur Masyarakat Diglosia dalam Ragam Bahasa Madura Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo Firdausy Rohmah; Martutik Martutik; Roekhan Roekhan
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i2.3019

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi bertutur ragam bahasa Madura pada masyarakat diglosia Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Orientasi teoretis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sosiolinguistik. Data penelitian ini berupa kata atau kalimat dalam tuturan ragam bahasa Madura, sedangkan sumber data penelitian ini adalah masyarakat diglosia Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode observasi, yaitu teknik simak bebas libat cakap dan teknik rekam. Analisis data yang digunakan penelitian ini terdiri atas tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Pengecekan keabsahan temuan dalam penelitian ini menggunakan triangulasi lapangan. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa Strategi bertutur yang digunakan oleh masyarakat diglosia menunjukkan adanya keberagaman bahasa Madura yang dimiliki oleh masyarakat Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo dalam setiap tuturan. Bahasa Madura memiliki tiga ragam bahasa, yaitu bahasa Madura Enje’-Iye, Enggi-Enten dan Engghi-Bhunten. Ketiga ragam bahasa Madura tersebut digunakan oleh mayoritas masyarakat Kecamatan Besuki sesuai dengan fungsi penggunaan bahasa yang berbeda sehingga dalam menggunakan ragam bahasa Madura tersebut masyarakat menggunakan strategi berbeda dalam menggunakan tuturan tersebut. Adapun strategi bertutur yang ditemukan pada tuturan ragam bahasa Madura masyarakat diglosia Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo terdapat dua strategi, yaitu strategi langsung dan tidak langsung. Strategi langsung yang ditemukan terdiri atas enam data. Enam data tuturan tersebut memiliki rincian, yaitu (1) strategi bertutur langsung berupa tindak permintaan dengan 3 data, (2) strategi bertutur langsung berupa tindak memuji dengan 1 data, (3) strategi bertutur langsung berupa tindak mengeluh dengan 1 data, dan (4) strategi bertutur langsung berupa tindak melarang dengan 1 data, sedangkan strategi tidak langsung yang ditemukan terdiri atas empat data, yaitu (1) strategi tak langsung berupa tindak permintaan dengan tiga data, dan (2) strategi tak langsung berupa tindak permintaan dengan satu data.
Analisis Semiotika Roland Barthes dan Nilai Moral dalam Film Pendek Tilik 2018 Karya Wahyu Agung Prasetya Maulida Laily Kusuma Wati; Fatkhur Rohman; Tommi Yuniawan
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i2.3023

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk pemaknaan berdasarkan leksis semiotika menurut Roland Barthes menggunakan kode-kode Roland Barthes, selain penggunaan kode-kode untuk mengungkap makna dalam film tersebut peneliti menganalisis pesan moral dalam film Tilik 2018. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data simak dan catat. Melalui tokoh dalam film Tilik 2018 diungkapkan kehidupan masyarakat yang sesungguhnya, bukan hanya permasalahan sosial tetapi bentuk nilai moral dalam kehidupan bermasyarakat. Hasil analisis yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes dalam film Tilik 2018 meliputi; (1) kode hermeneutik, (2) kode semik (3) kode simbolik (4) kode proaretik (5) kode kultural. Pesan moral film Tilik 2018 ini mungkin menggarisbawahi pentingnya memegang teguh nilai-nilai etika dalam interaksi sosial. Sikap positif dan menghindari pencemaran nama baik adalah contoh bagaimana etika dapat membentuk perilaku dan hubungan sosial. Budaya menjenguk orang sakit di Indonesia adalah contoh yang baik dari bagaimana nilai-nilai moral, social dan budaya membentuk perilaku dan interaksi manusia. Ini mencerminkan komitmen kuat terhadap kemanusiaan dan perhatian terhadap kesejahteraan sesama anggota masyarakat.
Bentuk Budaya Jawa dalam Film Kartini: Kajian Pragmatik dan Etnografi Madu Trisna Devi; Anang Santoso; Gatut Susanto
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i2.3029

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk budaya Jawa yang ada dalam film Kartini dengan menggunakan kajian pragmatik dan etnografi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif. Data dalam penelitian berupa tuturan lisan. Sumber data dalam penelitian yaitu penggalan peristiwa komunikasi antartokoh dalam film Kartini. Teknik pengumpulan yang digunakan dalam penelitian adalah dokumentasi, simak dan catat. Tahapan untuk analisis adalah (1) peneliti menyimak bahasa lisan fim Kartini tersebut, (2) peneliti memahami makna tuturan lisan yang diujarkan para tokoh, (3) peneliti mengidentifikasi setiap tuturan objek yang diamati dalam film Kartini, (4) peneliti mencatat data yang didapatkan dalam tabel yang sudah disusun sebelumnya untuk mempermudah proses pengumpulan data. Hasil penelitian ini ditemukan tujuh bentuk budaya Jawa dalam film Kartini berupa aktivitas, silsilah panggilan, sistem kekerabatan dan organisasi sosial, ide, peralatan hidup dan tekhnologi, wujud kebudayaan sebagai system artefak, serta sistem religi. Unsur budaya yang terdapat dalam film Kartini tersebut dapat dijadikan sebagai wujud kebudayaan yang sebagian besar harus tetap dilestarikan. Wujud kebudayaan tersebut bersifat penghormatan terhadap orang yang lebih tua, orang yang memiliki kedudukan lebih tingi, maupun kesopanan sosial masyarakat dalam bentuk tuturan maupun tingkah laku.
A Study of Presupposition and Conversational Implicatures in the Comic Strip of “The Diary of a Wimpy Kid” Helena Verusha Ali; Dini Hidayati; Yanuarius Yanu Dharmawan
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i2.3034

Abstract

This study aims at exploring the application of presupposition and conversational implicature in communication within comic strips from pragmatics field of study as proposed by Yule, (2006). The research design of this study is a qualitative design. The data were utterances and sentences in "The Diary of a Wimpy Kid" comic strip. This study reveals that there were four types of presuppositions implemented by the characters in “The Diary of A Wimpy Kid” comic, namely counter-factual presupposition, existential presupposition, factive presupposition, and lexical presupposition. Additionally, the research revealed that the characters in the comic employ two distinct forms of conversational implicatures: generalized conversational implicatures and particularized conversational implicatures.
Re-Examing the Indonesian Language Pragmatic Abilities of Students Majoring in Hospitality as a Basis for Exploring Students' Intercultural Abilities in Japanese Devita Widyaningtyas Yogyanti; Dwi Iswahyuni; Angela Bayu Pertama Sari
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i2.3036

Abstract

This research focuses on the intercultural competence of Japanese language students majoring in hospitality at three vocational schools in Yogyakarta. To be able to find out students' intercultural competence, a contrastive analysis method is used regarding politeness strategies in the context of greeting guests, asking the guest's name, asking for general information, rejecting the guest's wishes, asking for something from the guest and confirming. There are three things compared in this research, namely, politeness strategies in Indonesian sentences made by students, politeness strategies in Japanese sentences from native Japanese and the suitability of Indonesian translations into Japanese made by students. Brown and Levenson's face-threatening act (FTA) management theory was used as the theoretical basis for this research. The research results show that politeness strategies in the mother tongue do influence how students translate. In general, there are many similarities in strategies between Indonesian and Japanese regarding politeness strategies in the hospitality context. The similarity of these strategies will make it easier for students to achieve intercultural competence. It is just that a lack of linguistic ability still causes pragmalingustic failure and sociopragmatic failure. Furthermore, the difference in strategy is that the use of bald on record in Indonesian produces a bald on record translation in Japanese, which causes sociopragmatic failure.
Comparing Malangan And Mataraman Javanese Dialect: A Case Study in The Border Area of Malang And Blitar Roosi Rusmawati; Ismatul Khasanah; Ismi Prihandari; Khilmi Mauliddian
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i2.3054

Abstract

This study aims to observe differences in the Javanese dialect of Malangan and Mataraman and the factors that influence the phenomenon, as both dialects are spoken in the border region of Malang and Blitar. The method used in this research is qualitative, which is to provide a general description of a situation as clearly as possible without any treatment of the object under study. This research is a sociolinguistic study based on the language phenomenon that occurs in the community in the cultural border area of a ​​language, especially regarding the form of dialect differences that occur. The results suggest that the differences lie in the description markers in Ngoko Javanese. Such phenomenon is observed based on various words spoken in various situations in both regions. In addition, despite the differences of the description markers between the two dialects, the meanings behind them are not significantly different. As for the factors that make the differences between the Malangan and Mataraman dialect spoken in the Malang and Blitar border areas, they are divided into four: speakers’ habits, self-identity, region/geography, and feeling of having a different dialect/language.
Retorika Pembawa Acara X Factor Indonesia Wienike Dinar Pratiwi; Ahmad Abdul Karim
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 8 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v8i2.3057

Abstract

Pembawa acara atau presenter memainkan peran penting dalam mendukung acara. Pembawa acara dituntut mampu memikat audiens untuk terlibat aktif dalam kegiatan yang dibawakan. Oleh karena itu, pembawa acara diharuskan memiliki keterampilan retorika yang mumpuni. Tujuan penelitian mendeskripsikan retorika, diksi, dan gaya bahasa pembawa acara X Factor Indonesia. Penelitian ini memanfaatkan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Subjek penelitian video final dan result ajang pencarian bakat X Factor Indonesia dari musim pertama hingga musim ketiga. Sumber data penelitian tuturan Robby Purba selaku pembawa acara ajang pencarian bakat X Factor Indonesia. Teknik pengumpulan data memanfaatkan teknik dokumentasi, teknik rekam, teknik simak, dan teknik catat. Data penelitian yang terkumpul diolah melalui beberapa tahapan, meliputi pemilihan data, interpretasi data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan Robby Purba memanfaatkan gaya retorika persuasif, diksi beragam, serta gaya bahasa beragam untuk memandu acara X Factor Indonesia. Pemanfaatan retorika persuasif digunakan untuk membujuk, meyakinkan, dan memengaruhi audiens. Diksi-diksi yang digunakan oleh Robby Purba yaitu denotasi, konotasi, umum, khusus, dan populer. Penggunaan diksi-diksi tersebut untuk menciptakan suasana yang sesuai dengan tema acara, menciptakan suasana lebih akrab dan mengundang partisipasi audiens, menjelaskan konsep atau informasi kompleks menjadi lebih sederhana, membantu penonton mendapatkan gambaran terkait topik yang dibahas, bentuk kreativitas dan ekspresi pembawa acara, sarana menyampaikan emosi, mengakomodasi audiens yang berbeda, dan upaya branding diri. Sementara gaya bahasa yang digunakan oleh Robby Purba yaitu metafora, klimaks, antiklimaks, repitisi, personifikasi, dan hiperbola. Penggunaan gaya bahasa tersebut untuk menarik perhatian audiens, memungkinkan pembawa acara mengkomunikasikan informasi dengan lebih baik kepada audiens, menyesuaikan diri dengan audiens yang beragam, memberikan fleksibilitas untuk lebih kreatif dalam menyampaikan pesan, meningkatkan daya tarik visual pada audiens, membangun identitas dan branding diri, serta mengaitkan pesan dengan realitas sehari-hari. Hasil penelitian memberikan kontribusi bagi para profesional yang berperan sebagai pembawa acara. Selain itu, hasil penelitian dapat dimanfaatkan sebagai alternatif materi ajar keterampilan berbicara jenjang SLTP dan SLTA, serta relevan dengan mata kuliah berbicara dan retorika di perguruan tinggi.
Ma’kombongan Based Group Investigation Learning Model In Analyzing Controversial Cases Related To The Teaching Of Civic Education Roberto Salu Situru; Trivena Trivena; Resnita Dewi; Arnold Sule
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i2.3069

Abstract

Civic Education learning is considered boring by some students, mainly because the subject matter and delivery are presented in a one-way format. Civic Education in higher education should transition to a problem-based learning approach, making it more contextual and dynamic. Civic Education in college shouldn't be monotonous memorization; instead, it should focus on enhancing analytical and applicative thinking skills and the ability to provide input on existing phenomena or issues. Therefore, a learning model that encourages active student participation, such as the problem-based , is needed. This model aims to explore the depth of controversial issues discussed by students. The research results reveal the controversial issues and how the ma'kombongan-based group investigation process can improve students' analytical skills and reasoning abilities.

Page 35 of 178 | Total Record : 1779