cover
Contact Name
Wahyudi Rahmat
Contact Email
wahyudirahmat24@gmail.com
Phone
+6285664494180
Journal Mail Official
wahyudirahmat24@gmail.com
Editorial Address
Jl. Daksinapati Barat 4, RT.11/RW.14, Rawamangun, Kec. Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
ISSN : -     EISSN : 26854147     DOI : https://doi.org/10.26499/bahasa
Focuses on publishing the original research articles, review articles from contributors, and the current issues related to language and literature education, linguistics and literature.
Articles 160 Documents
Penggunaan Model Problem Based Learning dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Pada Era Vuca Lisnawati, Iis; Ruslan, Titin Setiartin; Kartadireja, Welly Nores
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 1 (2023): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v5i1.561

Abstract

The purpose of this research is to describe the use of the Problem Based Learning model in Indonesian Language Learning in the Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity (VUCA) era. VUCA is a condition that shows rapid, unpredictable, uncertain, complex, and unpredictable changes in various fields, especially education. In this study used the method of literature study. The data analysis techniques used were (1) Examining VUCA and its possible problems and solutions in learning Indonesian, (2) Examining various components in learning Indonesian that might be a solution to the problems encountered in learning Indonesian, (3) Determine components that have great opportunities as solutions to overcome problems in the VUCA era, namely learning models because in the use of learning models other learning components can be integrated. (4) Synchronization between the characteristics of the problems that might arise in the VUCA era, general learning principles (scientific approach), specific principles of Indonesian language learning (genre-based approaches, genre pedagogy, and Content Language Integrated Learning -CLIL), use of ICT, HR demands XXI century, character that must be built or internalized, and independent learning, and (5) Designing synchronization results in the form of material content and activities to be carried out in PBL steps. The results of the research are in the form of a PBL model design in Indonesian language learning in the VUCA era that collaborates and integrates general learning principles, Indonesian language learning principles, the demands of 21st century human resources, ICT, the character that students must have, independent learning in PBL steps to achieve learning objectives that have been set.  
Peran Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Membentuk Karakter Pada Era Vuca Syamsuri, Andi Sukri; Bur, Eka Yulianti
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 1 (2023): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v5i1.340

Abstract

This study aims to describe the Role of Learning the Indonesian Language and Literature in Character Building during the VUCA Era. In carrying out this research, the authors used a descriptive-qualitative approach. The source of the data in this study was the Class X High School/Vocational High School Indonesian Language Teaching Material Books published by the Ministry of Education, Culture, Research and Technology, the Agency for Research and Development and Books, and the Center for Curriculum and Books. The number of pages in this book consists of 248 pages. The data in this study are in the form of clauses, sentences, and images containing 18 characters set by the Ministry of National Education. The results showed that: 1) The character of creativity is described through a text entitled "Presenting Observation Reports in the Form of a Scrapbook", 2) The character of Responsibility is described through a text entitled "Presenting Observation Reports", 3) the character of Love for Peace is described through the text "Expressing Criticism Through a Smile", 4) the character of Discipline is described through the text "Cellphone Addict" 5) The Character of Concern for the Environment is described through the text "Use Plastic Substitutes From Now On", and finally 6) The Character of Social Care is described through the text "Internet Behavior Bullying”. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Peran Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Membentuk Karakter pada Era VUCA. Dalam melaksanakan penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini, yaitu Buku Bahan Ajar Bahasa Indonesia SMA/SMK Kelas X yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Jumlah  halaman dalam buku ini terdiri atas 248 halaman. Data dalam penelitian ini berupa klausa, kalimat, dan gambar yang memuat 18 karakter  yang ditetapkan oleh Kemendiknas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Karakter kreativitas digambarkan melalui teks yang berjudul “Menyajikan Laporan Hasil Observasi dalam Bentuk Buku Tempel”,  2) Karakter  tanggung jawab digambarkan melalui teks yang berjudul “Mempresentasikan Laporan Hasil Observasi”,  3) karakter cinta damai digambarkan melalu teks “Mengungkapkan Kritik Lewat Senyuman”, 4)  karakter disiplin digambarkan melalui teks “Ponsel Pecandu “ 5)  Karakter Peduli Lingkungan digambarkan melalui teks “Gunakan Barang-Barang pengganti Plastik Mulai Sekarang”, dan terakhir 6) Karakter peduli sosial digambarkan melalui teks“Internet Perilaku Perundungan”. 
Pemetaan konflik di Provinsi Maluku Pariella, Tonny D.; B. Saija, Dominggus E.; Frans, Jouverd F.; Pesurnay, Charles; Alfons, Christwyn
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 1 (2023): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v5i1.649

Abstract

This research aims to map the types of conflicts that occurred in Maluku Province. Data had collected through interviews, recording techniques, and secondary sources in books, newspapers, reports, and media coverage. The study results show that the Maluku conflicts are generally related to socio-cultural aspects because the problem of petuanan land boundaries and differences in views about adat are still the main causes. The general type of conflict is external/horizontal because it occurs between neighboring countries or villages and only involves community groups. It is manifest (open) due to physical contact and mutual attacks between community members. Apart from the conflict due to cultural aspects, other aspects also contributed to the conflict in Maluku, namely the economic aspect. The economic aspect arises because of competition to meet the needs of life. AbstrakTujuan penelitian ini adalah memetakan jenis-jenis konflik yang terjadi di Provinsi Maluku. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara dan perekaman serta ditunjang dengan sumber sekunder berupa buku, koran, laporan, dan pemeberitaan di media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik Maluku umumnya terkait dengan aspek sosial budaya karena masalah batas tanah petuanan dan perbedaan-perbedaan pandangan tentang adat masih menjadi penyebab pokok. Jenis konflik umumnya, eksternal/horisontal karena terjadi antara negeri-negeri atau desa-desa bertetangga dan hanya melibatkan kelompok-kelompok masyarakat dan bersifat manifes (terbuka) karena adanya kontak fisik dan saling menyerang antar warga masyarakat. Selain konflik dikarenakan aspke budaya, aspek lainnya juga turut membentuk konflik di Maluku, yakni aspek ekonomi. Aspek ekonomi muncul karena adanya persaingan dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup. 
Kajian Sosiologi Sastra Pada Novel “Jamparing” Karya Chye Retty Isnendes Herlina, Yeni; Nurjanah, Nunuy; Isnendes, Retty; Nurhuda, Denny Adrian
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 2 (2023): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v5i2.732

Abstract

The aim of this research is to determine the sociological study of literature on the novel Jamparing by Chye Retty Isnendes. The method in this research is qualitative with a research focus on analyzing the novel (a) the author's world view, (b) socio-cultural background, (c) the author's view of the characters, (d) the characters and relationships between characters and interviews. The result of this research is a novel that shows the conflict between two groups from different social backgrounds as a reflection of complex social reality. The differences are clearly reflected in the lifestyles, values and outlook on life of the two groups from Muhammadiyah Middle Schools and State Middle Schools. The conflict between them represents a larger struggle in society, between traditional and modern, rural and urban. The author uses characters from each group as a vehicle to represent these differences, highlighting the dynamics and growth of the characters. Meanwhile, the dynamics of social relations both within and between groups illustrate the complexity of human interaction. Even though conflict is present, the main message to be conveyed is the importance of tolerance, understanding and respect for diversity in society. AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kajian sosiologi sastra pada novel jamparing karya Chye Retty Isnendes. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan fokus penelitian analisis novel (a) pandangan dunia pengarang, (b) latar belakang sosial budaya, (c) pandangan pengarang terhadap tokoh, (d) karakter tokoh dan hubungan antar tokoh dan wawancara. Hasil dari penelitian ini adalah Novel yang memperlihatkan pertentangan antara dua kelompok dari latar belakang sosial yang berbeda menjadi cerminan realitas sosial yang kompleks. Perbedaan jelas tercermin dalam gaya hidup, nilai-nilai, dan pandangan hidup kedua kelompok dari SMP Muhammadiyah dan SMP Negeri. Konflik yang terjadi antara mereka merepresentasikan pertarungan yang lebih besar dalam masyarakat, antara tradisional dan modern, pedesaan dan perkotaan. Pengarang menggunakan tokoh-tokoh dari masing-masing kelompok sebagai wadah untuk merepresentasikan perbedaan tersebut, menyoroti dinamika dan pertumbuhan karakter. Sementara itu, dinamika hubungan sosial baik di dalam maupun antara kelompok menggambarkan kompleksitas dalam interaksi manusia. Meskipun konflik hadir, pesan utama yang ingin disampaikan adalah pentingnya toleransi, pengertian, dan penghargaan terhadap keragaman dalam masyarakat. 
Fungsi Bahasa dalam Cerpen Berjuta Rasanya Karya Tere Liye: Perspektif Roman Jakobson Luthfialana, Mawaddata; Hasyim, Muhammad; Al Anshory, Abdul Muntaqim
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 1 (2024): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v6i1.744

Abstract

The presence of language makes it easier for humans to interact as a means of communication. In its function, literary language can support the creative abilities of writers, and even become a language with artistic value. The aim of this research is to understand and describe the function of language contained in the short story "Berjuta Rasa" by Tere Liye. This research can help broaden understanding of Indonesian literary works, especially the short stories by Tere Liye. This research method is descriptive qualitative. The data collection technique in this research is by taking written sources, namely the short story "Berjuta Rasa" by Tere Liye with the aim of obtaining data as material for analysis. Based on the research results, six language functions were found based on Roman Jacobson's perspective as follows: 1) referential function; 2) emotional function; (3) poetic function; (4) phatic function; (5) conative function; (6) metalingual function;. This research enriches the theoretical understanding of the application of Roman Jakobson's language functions in literary works and provides practical guidance for readers and writers in understanding and utilizing linguistic elements to build meaning and emotion in short stories.  AbstrakKehadiran bahasa memudahkan manusia dalam berinteraksi sebagai alat komunikasi. Dalam fungsi bahasa sastra dapat mendukung kemampuan daya cipta sastrawan, bahkan sekaligus menjadi bahasa yang bernilai seni. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami dan mendeskripsikan fungsi bahasa yang terdapat dalam cerpen Berjuta Rasanya karya Tere Liye. Penelitian ini dapat membantu memperluas pemahaman tentang karya sastra Indonesia, khususnya cerpen karya Tere Liye. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara mengambil sumber tertulis yakni cerpen Berjuta Rasanya karya Tere Liye dengan tujuan memperoleh data sebagai bahan analisis. Berdasarkan hasil penelitian, maka ditemukan enam fungsi bahasa berdasarkan perspektif Roman Jakobson sebagai berikut: 1) fungsi referensial; 2) fungsi emosional; (3) fungsi puitis; (4) fungsi fatis; (5) fungsi konatif; (6) fungsi metalingual; Penelitian ini memperkaya wawasan teoritis tentang penerapan fungsi bahasa Roman Jakobson dalam karya sastra, serta memberikan panduan praktis bagi pembaca dan penulis dalam memahami dan memanfaatkan elemen linguistik untuk membangun makna dan emosi dalam cerpen.
Comparative Analysis of Syntax and Semantics Sering with Jingchang Chandra, Mei Rianto
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 2 (2023): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v5i2.723

Abstract

The learning of a foreign language cannot be separated from an understanding of the structure and characteristics of that language, especially in terms of understanding grammar. This research aims to analyze the syntactic and semantic differences between the Indonesian word sering and the Mandarin word经常jingchang. The research method used in this writing is a qualitative method involving an analysis of two linguistic corpora, namely the Indonesian corpus and the Center for Chinese Linguistics PKU corpus. Based on the corpus data analysis, the results are as follows: 1. Sentence patterns and relationships between sentences in the Indonesian word sering can be used in declarative and interrogative sentence patterns; In sentence position, sering can be used in the middle of a sentence with the condition of use after verbs/adjectives that function as predicates. In informal usage, it can also be used at the beginning of a sentence, but not at the end of a sentence. In terms of synonym usage, the word sering can be used with action verbs, desires, existence, commands, decisions, and with adjectives indicating attitudes and feelings, but cannot be paired with adjectives indicating distance, form, and taste. 2. In terms of meaning, both the Indonesian word sering and the Mandarin word经常jingchang have the meaning of frequency and high intensity. AbstrakPembelajaran bahasa asing tidak dapat terlepas dari pemahaman akan struktur dan kekhasan bahasa tersebut, terutama dalam hal pemahaman akan tata bahasa. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan sintaksis dan semantik kata bahasa Indonesia sering dan bahasa Mandarin经常jingchang. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kualitatif berupa analisis terhadap dua korpus linguistik, yakni korpus Indonesia dan Center for Chinese Linguistics PKU. Berdasarkan pada analisis data korpus, didapatkan hasil: 1. Pola kalimat dan hubungan antarkalimat pada kata bahasa Indonesia sering dapat digunakan pada pola kalimat deklaratif dan interogatif; Pada posisi kalimat, sering dapat digunakan pada tengah kalimat dengan syarat penggunaan setelah kata kerja/sifat yang berupa predikat, pada penggunaan informal, bisa juga digunakan pada awal kalimat, tetapi tidak dapat digunakan pada akhir kalimat; pada penggunaan padanan kata, kata sering dapat digunakan dengan kata kerja penanda tindakan, keinginan, keberadaan, memerintah, dan memutuskan, serta pada kata sifat penunjuk sikap dan perasaan, namun tidak dapat dipadankan dengan kata sifat penunjuk jarak, bentuk dan rasa. 2. Dalam segi makna, bahasa Indonesia sering' dan bahasa Mandarin经常jingchang keduanya memiliki makna berulang dan intensitas tinggi.
Semiotic Analysis of Language in Bullying Discourse: Unveiling Structures and Meanings Farida, NFN; Supardi, NFN; Muchtar, Jumardin
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 1 (2024): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v6i1.935

Abstract

This research delves into the intricate dynamics of bullying by applying a semiotic approach to language analysis, aiming to uncover the inherent structures and meanings embedded in the discourse surrounding bullying. Bullying, a pervasive and complex social phenomenon, demands a nuanced examination of the language employed within its context. Employing semiotic analysis and qualitative research methodology, this study seeks to deconstruct the layers of meaning contained in bullying discourse by understanding the signs and symbols inherent in language. The data for this research were sourced from a diverse array of outlets, including everyday conversations related to bullying. The semiotic analysis was then applied to identify and interpret linguistic signs, encompassing words, phrases, and symbols, thereby elucidating the veiled meanings within the discourse of bullying. The results of the analysis illuminate that language in the context of bullying manifests itself through both verbal and non-verbal signs, collectively shaping structures of power and control. The findings of this study provide valuable insights into the instrumental role of language as a tool for perpetrating bullying and the intricate process of meaning construction within such contexts. Understanding the dynamics of language in social interactions marked by acts of intimidation and humiliation contributes to a broader comprehension of bullying. Acknowledging the intricacies of language in bullying discourse is pivotal for devising effective strategies to address and counteract this prevalent social issue. This research contributes to the ongoing discourse on bullying by underscoring the significance of linguistic analysis in deciphering the layers of meaning within this complex social phenomenon. Ultimately, it calls for a holistic approach that integrates linguistic insights into the broader framework of anti-bullying initiatives, fostering a more comprehensive understanding of the phenomenon. AbsrtakPenelitian ini menggali dinamika rumit perundungan dengan menerapkan pendekatan semiotik terhadap analisis bahasa, bertujuan untuk mengungkap struktur dan makna yang melekat dalam wacana seputar perundungan. Perundungan, sebagai fenomena sosial yang kompleks dan meresap, menuntut pemeriksaan yang mendalam terhadap bahasa yang digunakan dalam konteksnya. Dengan menggunakan analisis semiotik dan metodologi penelitian kualitatif, studi ini berusaha mendekonstruksi lapisan-lapisan makna yang terkandung dalam wacana perundungan dengan memahami tanda dan simbol yang melekat dalam bahasa. Data untuk penelitian ini diperoleh dari berbagai sumber, termasuk percakapan sehari-hari yang terkait dengan perundungan. Analisis semiotik kemudian diterapkan untuk mengidentifikasi dan menafsirkan tanda-tanda linguistik, mencakup kata-kata, frasa, dan simbol, sehingga mengungkap makna terselubung dalam wacana perundungan. Hasil analisis menunjukkan bahwa bahasa dalam konteks perundungan terwujud melalui tanda verbal dan non-verbal, yang secara kolektif membentuk struktur kekuasaan dan kontrol. Temuan studi ini memberikan wawasan berharga tentang peran instrumental bahasa sebagai alat untuk melakukan perundungan dan proses konstruksi makna yang rumit dalam konteks tersebut. Memahami dinamika bahasa dalam interaksi sosial yang ditandai oleh tindakan intimidasi dan penghinaan berkontribusi pada pemahaman yang lebih luas tentang perundungan. Mengakui kerumitan bahasa dalam wacana perundungan sangat penting untuk merancang strategi yang efektif guna menangani dan melawan isu sosial yang meresap ini. Penelitian ini berkontribusi pada wacana yang sedang berlangsung tentang perundungan dengan menekankan pentingnya analisis linguistik dalam menguraikan lapisan makna dalam fenomena sosial yang kompleks ini. Pada akhirnya, penelitian ini menyerukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan wawasan linguistik ke dalam kerangka inisiatif anti-perundungan yang lebih luas, mendorong pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena ini.
Makna Konotatif dalam Puisi Bahasa Sunda yang Berjudul “Do’a Pikeun Guru” Karya Kustian Kurniasih, Kurniasih; Nunuy Nurjanah, Nunuy Nurjanah; Isnendes, Retty; Firdaus, Winci
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 2 (2023): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v5i2.733

Abstract

Poetry is an artistic expression that uses words creatively and rhythmically. It is a way to convey feelings, thoughts, or experiences through specially selected language to create an aesthetic impression, rhythm, and beauty. Poetry can be an expression of deep feelings, a picture of nature, a narrative about life, or simply a reflection of various aspects of life. The purpose of this study was to determine the connotative meaning in Sundanese poetry entitled Do'a Untuk Guru by Kustian. The method in this study is a qualitative method, with data collection through reading, understanding, and translating. The result of this study is 1 type of associative meaning found in the poem entitled "Prayer for the Teacher" namely connotative meaning, social meaning, affective meaning, reflective meaning, and colloquial meaning. There are 3 lines of poetry containing connotative meanings, 2 lines of poems containing social meanings, 4 lines of poems containing affective meanings, 4 lines of poems containing reflective meanings, and 4 lines of poems containing colloquial meanings according to Leech's theory. AbstrakPuisi adalah ungkapan seni yang menggunakan kata-kata secara kreatif dan berirama. Ini adalah cara untuk menyampaikan perasaan, pemikiran, atau pengalaman melalui penggunaan bahasa yang dipilih secara khusus untuk menciptakan kesan estetika, ritme, dan keindahan. Puisi bisa berupa ekspresi perasaan yang mendalam, gambaran alam, narasi tentang kehidupan, atau sekadar refleksi dari berbagai aspek kehidupan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna konotatif dalam puisi bahasa Sunda yang berjudul “Do’a Pikeun Guru” karya Kustian. Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan pengumpulan data melalui membaca, memahami, dan menerjemahkan. Hasil dari penelitian ini adalah jenis makna asosiatif yang ditemukan dalam puisi berjudul “Doa Pikeun Guru” yaitu makna konotatif, makna sosial, makna afektif, makna reflektif dan makna kolokatif. Dalam puisi tersebut, terdapat 3 baris puisi yang mengandung jenis makna konotatif, 2 baris puisi yang mengandung jenis makna sosial, 4 baris puisi yang mengandung jenis makna afektif, 4 baris puisi yang mengandung jenis makna reflektif, dan 4 baris puisi yang mengandung makna kolokatif menurut teori Leech.
Penamaan Perumahan di Jalan Ciputat-Parung: Kajian Toponimi Pratiwi, Brillianing; Hartati, Rahma Dewi
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 1 (2024): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v6i1.936

Abstract

This research examines the naming of housing on Jalan Ciputat-Parung as a form of toponymy study. The aim is to describe the naming of housing and find out what aspects are used for naming. The method used is descriptive qualitative with data sources from the naming of housing on Jalan Ciputat-Parung. Data was collected through observation, interviews, documentation and literature review. The research results show that the naming of housing on Jalan Ciputat-Parung is influenced by various factors, such as landscape, language, regional name, residential category, and so on. This research shows that housing naming is not just a label, but also reflects various aspects, such as the identity of the developer, target consumers, and characteristics of the housing environment. The study of toponymy can help us understand the meaning behind housing naming and how it influences people's perceptions and preferences. AbstrakPenelitian ini meneliti penamaan perumahan di Jalan Ciputat-Parung sebagai bentuk kajian toponimi. Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan penamaan perumahan dan menemukan aspek yang digunakan untuk penamaan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data dari penamaan perumahan di Jalan Ciputat-Parung. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penamaan perumahan di Jalan Ciputat-Parung dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti bentang alam, bahasa, nama daerah, kategori hunian, dan lain-lain. Penelitian ini menunjukkan bahwa penamaan perumahan bukan hanya sebuah label, tetapi juga mencerminkan berbagai aspek, seperti identitas pengembang, target konsumen, dan karakteristik lingkungan perumahan. Kajian toponimi dapat membantu kita memahami makna di balik penamaan perumahan dan bagaimana hal itu memengaruhi persepsi dan preferensi masyarakat.
Pergeseran Bahasa Moi [MXN], Seget [SBG], dan Kalabra [KZZ] (Papua Barat) Ekklesia, Dia Gloria; Bunga, Jacklin
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 2 (2023): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v5i2.725

Abstract

This paper presents a study related to the shift of three languages in West Papua, namely Moi, Seget, and Kalabra. The purpose of this research is to examine the language vitality of these three languages over time, the causes of language shift in Moi, Seget, and Kalabra, and to update language data regarding the vitality of Moi, Seget, and Kalabra, while also exploring the potential for their preservation. The author employs a participatory approach utilizing the Wheel of Vitality tool, 2010 census data, observations, and the Expanded Graded Intergenerational Disruption Scale (EGIDS). The research findings indicate that the language vitality of Moi has shifted to EGIDS 7 (shifting). The vitality of Seget is at EGIDS 7 (shifting) towards 8a (nearly extinct), and Kalabra is at EGIDS 7 (shifting). Efforts for language preservation through the Sustainable Use Model (SUM) for sustainable identity emerge as a viable path for the communities of these three languages. AbstrakMakalah ini menyajikan kajian terkait pergeseran tiga bahasa yang ada di Papua Barat, yaitu bahasa Moi, Seget, dan Kalabra. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat ketahanan bahasa dari tiga bahasa seiring berjalannya waktu; mengetahui penyebab terjadinya pergeseran bahasa dalam tiga bahasa tersebut; memperbarui data bahasa mengenai ketahanan bahasa Moi, Seget, dan Kalabra; dan melihat potensi pemertahanannya. Penulis menggunakan pendekatan partisipatoris dengan menggunakan alat roda ketahanan bahasa (wheel of vitality), data sensus 2010, observasi, dan Expanded Graded Intergenerational Disruption Scale (EGIDS) atau skala gangguan antargenerasi yang diperluas. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ketahanan bahasa Moi telah bergeser menjadi EGIDS 7 (bergeser). Ketahanan bahasa Seget berada pada EGIDS 7 (bergeser) menuju 8a (hampir punah) dan bahasa Kalabra berada pada EGIDS 7 (bergeser). Upaya untuk pemertahanan bahasa melalui SUM (sustainable use model) untuk upaya berkelanjutan menjadi jalan yang dapat diambil bagi komunitas ketiga bahasa ini.

Page 10 of 16 | Total Record : 160