cover
Contact Name
Wahyudi Rahmat
Contact Email
wahyudirahmat24@gmail.com
Phone
+6285664494180
Journal Mail Official
wahyudirahmat24@gmail.com
Editorial Address
Jl. Daksinapati Barat 4, RT.11/RW.14, Rawamangun, Kec. Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
ISSN : -     EISSN : 26854147     DOI : https://doi.org/10.26499/bahasa
Focuses on publishing the original research articles, review articles from contributors, and the current issues related to language and literature education, linguistics and literature.
Articles 160 Documents
Analisis Stilistika Slogan Kampanye Calon Presiden Republik Indonesia 2024 Sunarsih, Sunarsih; Rohman, Tefur Nur; Br Halawa, Maria Veronika; Ulfah, Nufikha
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 1 (2024): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v6i1.979

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk slogan kampanye calon Presiden Indonesia tahun 2024 dengan menggunakan pendekatan teori stilistika. Bentuk data berupa kalimat, frasa, atau klausa yang mempromosikan paslon. Metode analisis melibatkan pemilahan dan identifikasi ciri-ciri stilistika, seperti rima, aliterasi, dan diksi khusus yang digunakan dalam slogan-slogan kampanye. Data diperoleh dari berbagai sumber kampanye, termasuk pidato, iklan, dan materi promosi lainnya seperti tagar di media sosial. Terdapat total delapan belas slogan yang diperoleh peneliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori stilistika membuka pemahaman lebih dalam tentang bagaimana bahasa digunakan untuk memperkuat pesan kampanye dan personal branding. Slogan kampanye yang disebarluaskan, selain untuk menjaga loyalitas konstituen juga untuk menjaring suara dari massa mengambang yang belum menentukan pilihan secara pasti. Oleh sebab itu, upaya persuasi yang dilakukan secara verbal bertujuan untuk meyakinkan pendirian sekaligus menyentuh sisi-sisi emosional terutama generasi muda. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman kita tentang peran stilistika dalam komunikasi politik dan membantu melihat lebih dekat bagaimana bahasa dipergunakan untuk membentuk opini publik selama kampanye pemilihan presiden.
Pengembangan Kurikulum BIPA di Jurusan Tadris Bahasa Indonesia Mulyaningsih, Indrya
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v4i2.777

Abstract

The existence of the BIPA Institute at IAIN Syekh Nurjati Cirebon will also influence higher education accreditation. One component of the BIPA Institute is the curriculum. This research aims to develop the BIPA curriculum in the Indonesian Language Tadris Department. This qualitative research uses descriptive methods. Data was obtained through observation, interviews, and documentation from the BIPA Institute at IAIN Surakarta, IAIN Tulungagung, Yogyakarta State University, and Sebelas Maret University Surakarta. Data were analyzed using the steps of collection, presentation, reduction and drawing conclusions. Validity of data using triangulation: theory, time, sources, methods, and researchers. The research results show that the development curriculum: 1) is new to planning, 2) pays attention to learner needs, 3) uses culture as media and material in learning, and 4) needs to receive support for facilities and infrastructure from IAIN Syekh Nurjati Cirebon.AbstrakKeberadaan Lembaga BIPA di IAIN Syekh Nurjati Cirebon akan turut memengaruhi akreditasi Perguruan Tinggi. Salah satu komponen Lembaga BIPA adalah kurikulum. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangan kurikulum BIPA di Jurusan Tadris Bahasa Indonesia. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dari Lembaga BIPA di IAIN Surakarta, IAIN Tulungagung, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Data dianalisis menggunakan langkah pengumpulan, penyajian, reduksi, dan penarikan simpulan. Keabsahan data menggunakan triangulasi: teori, waktu, sumber, metode, dan peneliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum: 1) baru pada perencanaan, 2) memperhatikan kebutuhan pemelajar, 3) menggunakan budaya sebagai media dan materi dalam belajar, serta 4) perlu mendapat dukungan sarana dan prasarana dari IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Kesalingmengertian dalam Rumpun Bahasa Lamaholot di Pulau Lembata Silaen, Heppy; Saupia, Renhard
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 2 (2023): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v5i2.654

Abstract

This study investigates which Lamaholot lects can be categorized as distinct, unintelligible languages and which speakers can understand each other and thus would be considered dialects of a single language. This issue has been blurry for decades (Eberhard et al., 2023; Edwards et al., 2019; Elias, 2017; Keraf, 1978). This study applies a participatory approach using dialect mapping (Anderbeck, 2018; Hasselbring, 2012), Lexicostatistics (Keraf, 1978), and observation. The data shows that (a) Ile Ape is understood by all Lamaholot lects (second best) except Lamalera and Levuka. (b) West Lembata (Bour) lect claims that they speak their lect with other Lamaholot which indicates that their intelligibility is high. This claim is lexicostatistical 65%; (c) Lewo Eleng lect understand Ile Ape however the lexical similarity based on Keraf (1978) is 54%. This research concludes that Ile Ape is asymmetrically intelligible to Lembata South, Lembata West, and Lamalera. AbstrakStudi ini menganalisis bahasa Lamaholot yang dapat dikategorikan sebagai bahasa yang berbeda, yang tidak dapat dimengerti, serta penutur mana yang memiliki kesalingmengertian, sehingga akan dianggap merupakan dialek dari bahasa yang sama. Fenomena ini masih menjadi misteri dalam beberapa dekade (Eberhard et al., 2023; Edwards et al., 2019; Elias, 2017; Keraf, 1978). Penelitian ini menerapkan pendekatan partisipatoris dengan menggunakan pemetaan dialek (Anderbeck, 2018;(Hasselbring, 2012), Leksikostatistik (Keraf, 1978), dan observasi. Data menunjukkan bahwa (a) Ile Ape dimengerti oleh semua dialek Lamaholot (terbaik kedua), kecuali pada komunitas Lamalera dan Levuka (b) dialek/bahasa Bour di Lembata Barat berbicara dengan bahasa masing-masing, dengan 65% kemiripan berdasarkan leksikostatistik; (c) Lewo Eleng memahami Ile Ape, tetapi kesamaan leksikal berdasarkan Keraf (1978) adalah 54%. Penelitian ini  menyimpulkan bahwa Ile Ape memiliki kemengertian asimetris dengan Lembata Selatan, Lembata Barat, dan Lamalera.
Mengupas Politik Lewat Animasi Pak Tani & Mawar Kecil, serta Rahasia di Baliknya Mahriyuni, Mahriyuni; Tausya, Resi Syahrani; Hasibuan, Alika Sandra; T.Syarfina, T.Syarfina; Pramuniati, Isda
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 1 (2024): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v6i1.937

Abstract

This research aims to describe the meaning of connotation, denotation, and political myth through the animation "Pak Tani & Mawar Kecil". This research uses a qualitative approach to analyze the meaning of connotation, denotation and political myth in the animation "Pak Tani & Mawar Kecil". Data was collected from the animation video, as well as additional information from literature and internet studies. Data analysis was conducted using descriptive techniques and Roland Barthes' semiotic analysis method. The results showed that the connotation meaning in the animated film "Pak Tani and Mawar Kecil" refers to the interpretation of symbols and narratives in an animated film that creates political meaning. Denotatively, the images depict physical scenes such as roses, farmers, buffaloes, and others. Then, connotatively, the symbols are associated with certain political parties and political dynamics in Indonesia. Furthermore, the ideology that can be concluded based on the myths in the animation is that each scene creates a political metaphor, such as a rose symbolizing the PSI Party, a buffalo stepping on a rose as a representation of the PDIP Party, and an eagle grabbing a rose as a symbol of the Gerindra Party.There is complexity in the interpretation of these symbols, creating a political narrative related to struggle, competition, and dedication in the Indonesian political arena. The conclusion of this research is that the animation "Pak Tani & Mawar Kecil" contains political messages conveyed through the use of symbols enriched with political connotations.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna konotasi, denotasi, dan mitos politik lewat animasi “Pak Tani & Mawar Kecil”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menganalisis makna konotasi, denotasi dan mitos politik dalam animasi "Pak Tani & Mawar Kecil". Data dikumpulkan dari video animasi tersebut, serta informasi tambahan dari studi pustaka dan internet. Analisis data dilakukan dengan teknik deskriptif dan metode analisis semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna konotasi pada dalam film animasi “Pak Tani dan Mawar Kecil” tersebut mengacu pada interpretasi simbol-simbol dan narasi dalam sebuah film animasi yang menciptakan makna politik. Sedangkan secara denotatif, gambar-gambar tersebut menggambarkan adegan fisik seperti bunga mawar, petani, kerbau, dan lainnya. Kemudian, secara konotatif, simbol-simbol tersebut dihubungkan dengan partai politik tertentu dan dinamika politik di Indonesia. Selanjutnya, ideologi yang dapat disimpulkan berdasarkan mitos yang ada dalam animasi tersebut adalah setiap adegannya menciptakan metafora politik, seperti bunga mawar yang melambangkan Partai PSI, kerbau yang menginjak mawar sebagai representasi Partai PDIP, dan elang yang menyambar mawar sebagai simbol Partai Gerindra.Terdapat kompleksitas dalam penafsiran simbol-simbol tersebut, menciptakan narasi politik yang terkait dengan perjuangan, persaingan, dan dedikasi dalam arena politik Indonesia. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa animasi "Pak Tani & Mawar Kecil" mengandung pesan politik yang disampaikan melalui penggunaan simbol-simbol yang diperkaya dengan konotasi politik.
Konsep Pemeliharaan Lingkungan pada Kata Bakar dalam Bahasa Dayak di Kalimantan Timur: Kajian Ekolinguistik Rijal, Syamsul; Hasyim, Muhammad; Lukman, Lukman; Iswary, Ery
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 2 (2023): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v5i2.726

Abstract

One of the ethnic groups that is known for its cultural strength is the Dayak ethnic group, which is widely spread in East Kalimantan Province. The Dayak ethnic group has local wisdom that is synonymous with the forest environment. Almost all of their activities depend on forests, including their source of food. Forest management as agricultural land reflects a uniform cultural process in the Dayak ethnic agricultural system. They use the word burn with nutung vocabulary which is different from burning food, such as pisak, tinuq, and kahang in several Dayak language dialects. This burn vocabulary is seen in 6 Dayak languages in East Kalimantan, namely Dayak Kenyah, Dayak Bahau, Dayak Benuaq, Dayak Tunjung, Dayak Punan, and Dayak Penihing/Aoheng. These six Dayak languages differentiate the word burn for the context of burning land and burning food. Ideologically, these two words are included in the cognitive system of Dayak speakers. Sociologically, they can carry out customary regulations well. Biologically, the use of these two words can maintain the relationship of all flora and fauna in the forest ecosystem. Therefore, these two words are linguistic evidence of the concept of environmental preservation in the Dayak language. AbstrakSalah satu etnis yang terkenal kekentalan budayanya adalah etnis Dayak yang banyak tersebar di Provinsi Kalimantan Timur. Etnis Dayak memiliki kearifan lokal yang identik dengan lingkungan hutan. Hampir semua aktivitas mereka bergantung pada hutan, termasuk sumber lahan pangan mereka. Pengelolaan hutan sebagai lahan pertanian mencerminkan proses budaya yang seragam dalam sistem pertanian etnis Dayak. Mereka menggunakan kata bakar atau membakar dengan kosakata nutung yang berbeda dengan membakar makanan, seperti pisak, tinuq, kahang dalam beberapa dialek bahasa Dayak. Kosakata bakar ini dilihat dari enam bahasa Dayak di Kalimantan Timur, yakni bahasa Dayak Kenyah, Dayak Bahau, Dayak Benuaq, Dayak Tunjung, Dayak Punan, dan Dayak Penihing/Aoheng. Keenam bahasa Dayak ini membedakan kata bakar untuk konteks membakar lahan dan membakar makanan. Secara ideologi, kedua kata ini sudah termasuk dalam sistem kognitif penutur bahasa Dayak. Secara sosiologis, mereka mampu menjalankan regulasi adat dengan baik. Secara biologis, penggunaan kedua kata tersebut dapat menjaga hubungan semua flora dan fauna dalam ekosistem hutan. Oleh karena itu, kedua kata ini menjadi bukti linguistik adanya konsep pemeliharaan lingkungan dalam bahasa Dayak.    
Inovasi Teknologi Dalam Cerpen Gelang Kak Nenda Karya Liza Erfiana Cahyani, Nilam Putri; Astuti, Hanggraini Dea; Kurniawan, Eva Dwi
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 2 (2023): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v5i2.752

Abstract

The aim of this research is to examine the use of technology in the short story 'Gelang Kak Nenda' by Liza Erfiana, particularly focusing on the smart bracelet. This research employs a hermeneutical approach to explore the impact and meaning of technology in a literary context. Data collection involves an analysis of various technological aspects presented by the smart bracelet, including a projector, software, mobile phone, and the integrated screen. The analytical process provides in-depth insights into how the smart bracelet can be integrated into the literary narrative, creating new dimensions in understanding the development of technology in literature. The research findings depict the significant role of the smart bracelet in enriching the story, highlighting the complex interaction between characters and technology. Thus, this study contributes to our understanding of how wearable technology can influence and shape narrative storytelling. AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk melhat penggunaan teknologi dalam karya sastra cerpen Gelang Kak Nenda karya Liza Erfiana, khususnya gelang pintar. Metode penelitian ini menggunaan pendekatan hermeneutika untuk mengekplorasi makna dampak penggunaan teknologi dalam konteks satra. Teknik pengumpulan data meliatkan analisis terhadap berbagai aspek teknologi yang dihadirkan oleh gelang pintar, termasuk proyektor, perangkat lunak, ponsel, dan layar ponsel yang terintegrasikan dalam perangkat tersebut. Proses analisis memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana gelang pintar dapat diintegrasikan ke dalam narasi sastra, menciptakan dimensi baru dalam pemahaman perekembangan teknologi dalam karya sastra. Hasil penelitian menggambarkan peran signifikan gelang pintar dalam memperkaya cerita, menyoroti interaksi kompleks anatara karakter dan teknologi, Dengan demikian, penelitian ini memberikan konstribusi pada pemahaman kita tentang bagaimana teknologi wearable dapat mempengaruhi dan membentuk naratif cerita.
Proses Pembentukan Kata Menggunakan Prefiks dalam Bahasa Minangkabau Rahayu, Zona Rida
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 2 (2023): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v5i2.665

Abstract

The Minangkabau language is classified in the Malay-West Polynesia family in Sumatera, like Malay. Malay and Minangkabau have a close relationship with Indonesian, so that some vocabulary in Minangkabau is already used in Indonesian. Malay and Minangkabau languages are the forerunners of the Indonesian language which is used to this day. For this reason, research on the word formation process using prefixes needs to be carried out. This research aims to explain the process of word formation using prefixes in the Minangkabau language. This research method is descriptive qualitative, namely research that explains how to look at problems in more depth to provide an understanding of a research object or research participants. The research stages carried out were first, taking an inventory of data including prefixes in the Minangkabau language and second, classifying prefix data in the Minangkabau language. Third, discuss Minangakabu language prefixes based on the process of word formation, and fourth, formulate conclusions and suggestions. The results of the research are word formation in Minangkabau language based on prefixes. These prefixes are ba-, bar-, di-, ka-, maN-, pa-, paN-, par-, sa-, ta-, tar-, baka-, baku-, bapa-, bapar-, basi- , dipa, dipar-, mampa-, mampar-, mampasi-, tapa-, tapar-, and tasi-. In contrast to this research, Minangkabau language prefixes are divided into eight groups, namely ma-, ba-, pa-, ta-, di-, sa-, pi-, and ka-. Especially the prefixes ma-, ba-, pa-, di-, and ta- experience changes after meeting the base word. The change in the prefix is ma- which has changed to mang-, many-, mam-, man-, mampa, mampar- and mampasi-. The prefix ba- has changed to bar-, bapar-, basi-, baku-, bapa-, and basika-. The prefix pa- has changed to par-, pang-, pany-, pam-, and pan-. The prefix ta- has changed to tapa-, tar-, tapar-, and tasi-. The prefix di- changes include di-, dipar-, and dipa-. In word formation through the addition of prefixes, words also experience a change in word class. Word class changes occur in the noun, verb, numerals, and adjective word classes. AbstrakBahasa Minangkabau digolongkan dalam rumpun Melayu-Polinesia Barat yang ada di Sumatera, seperti bahasa Melayu. Bahasa Melayu dan bahasa Minangkabau memiliki hubungan kedekatan dengan bahasa Indonesia, sehingga beberapa kosa-kata dalam bahasa Minangkabau sudah digunakan dalam bahasa Indonesia. Bahasa Melayu dan bahasa Minangkabau ini merupakan cikal bakal dari bahasa Indonesia yang digunakan sampai hari ini. Untuk itulah, penelitian tentang proses pembentukan kata menggunakan prefiks ini perlu dilakukan. Tujuan dalam penelitian ini adalah  menjelaskan bagimana proses pembentukan kata menggunakan prefiks dalam bahasa Minangkabau. Metode penelitian ini adalah deskripstif kualitatif yaitu penelitian yang menjelaskan tentang cara memandang permasalahan lebih mendalam untuk memberikan pemahaman tentang suatu objek penelitian atau partisipan penelitian. Tahapan penelitian yang dilakukan adalah pertama, menginventarisasi data yang termasuk prefiks dalam bahasa Minangkabau. Kedua, mengklasifikasi data prefiks dalam bahasa Minangkabau. Ketiga, melakukan pembahasan tentang prefiks bahasa Minangakabau berdasarkan proses terbentuknya kata, dan. Keempat, merumuskan simpulan dan saran. Hasil penelitian adalah pembentukan kata dalam bahasa Minangkabau berdasarkan prefiks. Prefiks ini adalah ba-, bar-, di-, ka-, maN-, pa-, paN-, par-, sa-, ta-, tar-, baka-, baku-, bapa-, bapar-, basi-, dipa, dipar-, mampa-, mampar-, mampasi-, tapa-, tapar-, dan tasi-. Berbeda dengan penelitian kali ini bahwa prefiks bahasa Minangkabau terbagai menjadi delapan kelompok yaitu ma-, ba-, pa-, ta-, di-, sa-, pi-, dan ka-. Khusus pada prefik ma-, ba-, pa-, di-, dan ta- mengalami perubahan setelah bertemu dengan kata dasar. Perubahan prefiks tersebut adalah ma- mengalami perubahan menjadi mang-, many-, mam-, man-, mampa-, mampar- dan mampasi-. Prefis ba- mengalami perubahan menjadi bar-, bapar-, basi-, baku-, bapa-, dan basika-. Prefis pa-, mengalami perubahan menjadi, par-, pang-, pany-, pam-, dan pan-. Prefiks ta- mengalami perubahan menjadi tapa-, tar-, tapar-, dan tasi-. Prefiks di- perubahan terdiri dari di-, dipar-, dan dipa-. Dalam pembentukan kata melalui penambahan prefiks, kata juga mengalami perubahan kelas kata. Perubahan kelas kata terjadi pada kelas kata nomina, verba, numeralia, dan adjektiva. 
Proses Morfologis pada Tataran Frasa Nomina Bahasa Alor Dialek Marica di Kabupaten Alor, NTT Sulistyono, Yunus; Nabila, Salwa Abid; Wulandari, Adellia Putri
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 1 (2024): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v6i1.939

Abstract

The study demonstrates the uniqueness of morphological processes at the level of noun phrases in Alorese, an Austronesian language in NTT, showing innovations in the form of fossilization of proto-morphemes originating from its ancestral language, Lamaholot. Data for this study were collected directly in the field in 2014, 2018, 2020, and 2022. The study will focus on the morphological processes at the level of noun phrases in the Alor dialect spoken in Marica Village. The method applied to achieve the objectives of this research is a comparative method with a quantitative and qualitative approach.The phrase head can be followed by a subordinate relative clause. Meanwhile, the end part of the phrase can be filled by demonstratives that can appear in full forms and short forms, and focus particles that function as focus markers to emphasize subjects or nouns. The morphological processes at the level of noun phrases determine the typological characteristics of Alorese that maintain typological structures of Austronesian languages even though they are spoken in an area dominated by speakers of non-Austronesian languages in Alor. AbstrakKajian ini menunjukkan keunikan proses morfologi pada tataran frasa nomina bahasa Alor di NTT yang menunjukkan inovasi berupa fosilisasi morfem-morfem purba yang berasal dari bahasa moyangnya, Lamaholot. Data dalam penelitian ini diambil langsung di lapangan pada tahun 2014, 2018, 2020, dan 2022. Kajian ini akan difokuskan pada proses morfologi pada tataran frasa nomina bahasa Alor dialek yang dituturkan di Desa Marica.Metode yang diterapkan untuk mencapai tujuan penelitian ini adalah dengan metode komparatif dengan pendekatan secara kuantitatif dan kualitatif. Frasa nomina dalam bahasa Alor bertipe head-initial atau inti frasa di awal. Inti frasa dapat diisi nomina, lokatif, dan numeral. Kata benda dalam bahasa Alor dapat dimodifikasi dengan kata nomina, yang mencakup kata benda umum, yang mengacu pada entitas umum dalam bahasa Alor.Inti frasa dapat diikuti oleh klausa relatif yang subordinat. Sementara itu, bagian akhir frasa dapat diisi oleh demonstratif yang dapat muncul dalam bentuk-bentuk lengkap dan bentuk-bentuk pendek, partikel fokus yang berfungsi sebagai penanda fokus untuk memberi penekanan pada subjek atau kata benda. Proses morfologis pada tataran frasa nomina ini menentukan ciri khas tipologis bahasa Alor yang mempertahankan struktur tipologis bahasa-bahasa Austronesia meskipun dituturkan di wilayah yang didominasi oleh penutur bahasa-bahasa non-Austronesia di Alor.
The Phatic Category in Toraja Dialect Kendek on Buying and Selling Transactions in Ge'tengan Market Milka, Milka; Simega, Berthin; Mangera, Elisabet
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 2 (2023): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v5i2.728

Abstract

This study aims to describe (1) the form of phatic categories of the Toraja language in the Mengkendek dialect, (2) to describe the functions of the phatic categories of the Mengkendek dialect in buying and selling transactions at the Ge'tengan market. This research uses a qualitative descriptive research type. The techniques used in data collection are note-taking and recording techniques. The data in this study are the utterances of the Toraja people. The data source in this study is the Toraja people who use the Mengkendek dialect in buying and selling transactions at the Ge'tengan market. The benefits of this research can be used as teaching material in local content subjects at the elementary school level and can be used as an alternative material in the use of Toraja language for the Toraja people. In this study using a hermeneutic approach. The hermeneutic approach is used to complete the data found in the field. The tool in this research is the researcher himself. Data analysis techniques were carried out by (1) transcribing the recorded and observed data, (2) identifying data in the form of phatic categories found in buying and selling transactions at the Ge'tengan market, (3) grouping recorded data based on phatic category forms, (4) violation of the form of phatic categories used by the Toraja people in carrying out buying and selling transactions at the Ge'tengan market, (5) conclusion. The results of the study include the form of phatic categories including (a) particles in the form of le, oh, (b) words in the form of iyo, mi, na, (c) phrases in the form of kurre sumanga, ta lendu' opa, maballo liu, lendu maballona, phatic function includes (a) starting communication between sellers and buyers (b) starting conversations between sellers and buyers, (c) stopping communication, and (d) arranging communication. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk kategori fatis bahasa Toraja dialek Mengkendek, (2) mendeskripsikan fungsi kategori fatis dialek Mengkendek dalam transaksi jual beli di pasar Ge’tengan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik catat dan rekaman. Data dalam penelitian ini berupa tuturan masyarakat Toraja. Sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat Toraja yang menggunakan dialek Mengkendek dalam transaksi jual beli di pasar Ge’tengan. Manfaat penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan ajar dalam mata pelajaran muatan lokal di tingkat sekolah dasar dan dapat dijadikan sebagai bahan alternatif dalam penggunaan bahasa Toraja bagi masyarakat Toraja. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika. Pendekatan hermeneutika digunakan untuk menafsirkan data yang ditemukan di lapangan. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Teknik analisis data dilakukan dengan (1) mentranskripsi  data hasil rekaman  dan simakan, (2) mengidentifikasi data berupa kategori fatis yang ditemukan dalam transaksi jual-beli di pasar Ge’tengan, (3) mengelompokkan data hasil rekaman berdasarkan bentuk kategori fatis, (4) menafsirkan bentuk kategori fatis yang digunakan masyarakat Toraja dalam melaksanakan transaksi jual beli di pasar Ge’tengan,  (5) penyimpulan. Hasil penelitian  meliputi bentuk kategori phatic meliputi (a) partikel berupa le, oh,  (b) kata berupa iyo, mi, na, (c) frasa berupa kurre sumanga, ta lendu' opa, maballo liu, lendu maballona,  Fungsi fatis meliputi (a) memulai komunikasi antara penjual-pembeli (b) memulai pembicaraan antara penjual-pembeli, (c) menghentikan komunikasi, dan (d) merangkai komunikasi
Pelatihan Penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Berorientasi HOTS (Higher Order Thinking Skills) Bagi Guru Bahasa Indonesia di MTs se-Kota Cirebon Nuryanto, Tato; Rochmansyah, Bagaskara Nur; Nurasiah, Desi; Syadad, Anwar
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 1 (2023): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v5i1.778

Abstract

This study program-based service is carried out in an effort to assist MTs teachers in carrying out HOTS-oriented Indonesian language learning. Apart from that, this activity also aims to ensure teachers' knowledge regarding HOTS-based learning as required by the 2013 Curriculum. The method used is training and mentoring for 25 Indonesian MTs teachers throughout Cirebon City. The activity was held for two days, namely Friday – Saturday, 1 – 2 November 2019. The activity took place on the 2nd Floor of the IAIN Syekh Nurjati Cirebon Rectorate Building. The results of this activity include: 1) MTs teachers do not yet know the difference between RPPs currently used and HOTS-laden RPPs, 2) teachers need a forum for discussion, 3) teachers have not been able to prepare HOTS-oriented learning evaluations.AbstrakPengabdian berbasis program studi ini dilaksanakan dalam upaya untuk membantu para guru MTs dalam melakukan pembelajaran Bahasa Indonesia berorientasi HOTS. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memastikan pengetahuan para guru terkait pembelajaran bermuatan HOTS sebagai tuntutan Kurikulum 2013. Metode yang dilakukan adalah dengan pelatihan dan pendampingan kepada 25 guru Bahasa Indonesia MTs se-Kota Cirebon. Kegiatan dilaksanakan selama dua hari, yakni Jumat – Sabtu, tanggal 1 – 2 November 2019. Kegiatan bertempat di Lantai 2 Gedung Rektorat IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Adapun hasil dari kegiatan ini, meliputi: 1) para guru MTs belum mengetahui perbedaan RPP yang selama ini digunakan dengan RPP bermuatan HOTS, 2) para guru memerlukan wadah untuk berdiskusi, 3) para guru belum dapat menyusun evaluasi pembelajarn berorientasi HOTS.

Page 11 of 16 | Total Record : 160