cover
Contact Name
fikom uniga
Contact Email
fikom@uniga.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
fikom@uniga.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. garut,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian
Published by Universitas Garut
ISSN : 24610836     EISSN : 2580538X     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal komunikasi Universitas Garut diterbitkan bermaksud untuk mengembangkan potensi khususnya bagi dosen ilmu komunikasi Universitas Garut dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang disajikan dalam bentuk tulisan jurnal online. Informasi ini, merupakan kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari para pembaca, paraktisi, mahasiswa dan para peneliti. Komunikasi merupakan sebuah disiplin ilmu yang mengadopsi dari berbagai disiplin ilmu seperti sosiologi, antropologi,dan psikologi.
Arjuna Subject : -
Articles 270 Documents
Persepsi gen z tentang efektivitas kolaborasi perusahaan dalam promosi produk kosmetik lokal menggunakan influencer Korea Ningsih, Suswinda; Gusfa, Henni; Santi, May Rizdiana; Soemiadeny, Soemiadeny
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 12 No 1 (2026): April 2026 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jk.v12i1.43507

Abstract

Abstract This study examines Generation Z’s perceptions of the effectiveness of collaborations between Indonesian local cosmetic brands and Korean influencers in promotional activities amid the growing influence of K-culture in the national beauty industry. Brands such as Somethinc, Dear Me Beauty, and Emina increasingly adopt Korean elements to construct modern and globally appealing brand images. This research employs a descriptive qualitative approach involving ten Generation Z informants residing in Jakarta. Data were collected through in-depth interviews to explore perceptions of brand image, influencer credibility, and purchase decisions. The analysis focuses on how participants interpret the presence of Korean public figures compared to the mere adoption of Korean visual aesthetics. The findings indicate that collaborations involving Korean celebrities, particularly Han So-hee and the K-pop group NCT Dream, significantly strengthen perceptions of product quality, global appeal, and brand credibility. Somethinc is perceived as the most effective brand due to its authenticity and consistency between influencer persona and brand identity. In contrast, Dear Me Beauty and Emina are viewed as less capable of building strong emotional connections with audiences. Grounded in Cultural Hybridization and Influencer Credibility theories, this study emphasizes that authentic value integration and persona brand alignment are more decisive than surface-level Korean visual adoption. These findings offer practical implications for marketers in designing culturally resonant influencer-based promotional strategies targeting young Indonesian beauty market segments. Keywords: Generation Z; local cosmetic brands; cross-cultural collaboration; Korean influencers; cultural hybridization.   Abstrak Penelitian ini mengkaji persepsi Generasi Z terhadap efektivitas kolaborasi antara merek kosmetik lokal Indonesia dan influencer Korea dalam aktivitas promosi, seiring meningkatnya pengaruh Kculture dalam industri kecantikan nasional. Merek seperti Somethinc, Dear Me Beauty, dan Emina semakin mengadopsi elemen Korea untuk membangun citra yang modern dan berdaya tarik global. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan sepuluh informan Generasi Z yang berdomisili di Jakarta. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam untuk mengeksplorasi persepsi terkait citra merek, kredibilitas influencer, dan keputusan pembelian. Analisis difokuskan pada bagaimana partisipan memaknai kehadiran figur publik Korea dibandingkan dengan sekadar adopsi estetika visual Korea. Temuan menunjukkan bahwa kolaborasi yang melibatkan selebritas Korea, khususnya Han So-hee dan grup K-pop NCT Dream, secara signifikan memperkuat persepsi kualitas produk, daya tarik global, dan kredibilitas merek. Somethinc dipersepsikan sebagai merek paling efektif karena menunjukkan autentisitas serta konsistensi antara persona influencer dan identitas merek. Sebaliknya, Dear Me Beauty dan Emina dinilai kurang mampu membangun koneksi emosional yang kuat dengan audiens. Berlandaskan teori Hibridisasi Budaya dan Kredibilitas Influencer, penelitian ini menegaskan bahwa integrasi nilai yang autentik dan keselarasan personamerek lebih menentukan dibandingkan adopsi visual Korea secara permukaan. Temuan ini memberikan implikasi praktis bagi pemasar dalam merancang strategi promosi berbasis influencer yang relevan secara kultural bagi segmen pasar kecantikan muda di Indonesia. Kata-kata kunci: Generasi Z; merek kosmetik lokal; kolaborasi lintas budaya; influencer Korea; hibridisasi budaya.
Representasi peran Ayah dalam pola asuh pada akun tiktok @babehnya seiji Kamilah, Pika Lailatul; Hariyanti, Nunik
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 12 No 1 (2026): April 2026 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jk.v12i1.43509

Abstract

Abstract The phenomenon of fatherlessness remains a social problem, especially in Indonesia, caused by the lack of involvement of fathers in child rearing, which is often influenced by social constructs that place fathers solely as breadwinners, with child rearing becoming the responsibility of mothers. The development of social media, especially TikTok, has provided a new space for the dissemination of educational content that can build an understanding of the role of fathers in child rearing. One of the content creators who consistently raises this issue is the @Babehnya Seiji account. This study aims to analyze the representation of the role of fathers in child-rearing patterns as presented through the TikTok content of @Babehnya Seiji using the perspectives of Stuart Hall's representation theory and Diana Baumrind's parenting style theory. This study uses a qualitative approach with content analysis methods. Data was obtained through observation and documentation of a number of videos uploaded by the account, focusing on visual narratives, verbal messages, and parenting practices displayed. The results of the study show that the TikTok content @Babehnya Seiji represents the role of fathers as individuals who are present both physically and emotionally, actively involved in their children's lives, and role models in shaping their children's character, courage, and independence. This representation is a form of deconstruction of the dominant meaning that limits the role of fathers as breadwinners. Keywords: Representasi; Fatherless; pola asuh; TikTok.   Abstrak Fenomena fatherless yang masih menjadi permasalahan sosial terutama di indonesia, diakibatkan minimnya keterlibatan peran ayah dalam pengasuhan anak, karena  seringkali dipengaruhi konstrusi sosial yang menempatkan seorang ayah sebagai figur pencari nafkah, dan pengasuhan anak menjadi tanggung jawab dari ibu. Adanya perkembangan media sosial, terutama TikTok, memberikan ruang baru untuk penyebaran konten edukatif yang mampu membangun pemaknaan peran ayah dalam pengasuhan anak. Salah satu dari konten kreator yang konsisten mengakat isu tersebut adalah akun @Babehnya Seiji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa representasi peran ayah dalam pola asuh anak yang ditampilkan melalui konten TikTok @Babehnya Seiji dengan menggunakan perspektif teori representasi Stuart Hall dan teori pola asuh Diana Baumrind. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode anlisis isi. Berdasarkan hasil observasi dan dokumentasi terhadap sejumlah video yang diunggah akun tersebut, dengan fokus pada narasi visual, pesan verbal, dan praktik pengasuhan yang ditampilkan, hasil penelitian menunjukan, konten TikTok @Babehnya Seiji merepresentasikan peran ayah sebagai seorang yang hadir baik secara langsung maupun emosial, aktif terlibat dalam kehidupan anak, dan menjadi role model dalam mebentuk karakter, keberania, dan kemandirian anak. Representasi ini menjadi bentuk dekonstruksi terhadap makna dominan yang mebatasi peran ayah sebagai pencari nafkah. Meninjau dari pola asuh Diana Baumrind, pola asuh demokratis lebih dominan diterapkan berdasarkan adanya komunikasi dua arah, pemberian ruang serta adanya dukungan emosional. Pola asuh permisif dan otoriter hanya muncul secara kontekstual, menunjukan adanya fleksibilitas dalam pengasuhan. Dengan demikian, konten dari @Babehnya Seiji bermanfaat sebagai edukasi peningkatan sesadaran masyarakat dalam mencegah isu fatherless. Kata-kata kunci: Representasi; Fatherless; pola asuh; TikTok.
Komunikasi kebangsaan berbasis budaya Bali di sekolah multikultural Rachmawati, Dewi
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 12 No 1 (2026): April 2026 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jk.v12i1.43512

Abstract

Abstract  The era of globalization encourages increasingly intensive exchange of culture, information, and values between countries. This is interesting in the Balinese context because the existence of international schools coexists with strong local cultural values. Balinese culture, which is based on the philosophy of social and spiritual harmony, is an important foundation in building a community life that upholds balance and togetherness, so that schools can function as spaces for cross-cultural communication between local and international communities. Departing from this context, this study aims to understand how Balinese cultural values are integrated into national communication practices in a multicultural school environment. This study uses a qualitative approach with a case study method at one international school in Bali. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, then analyzed thematically using the Social Identity Theory framework and multicultural education theory as an analytical framework. Data analysis was carried out thematically by conducting data reduction, data presentation, drawing conclusions, and verification. The results of the study indicate that national communication in multicultural schools occurs through the process of integrating Balinese cultural values into educational activities. Local values have been proven to function as a reinforcement of national identity and a bridge of harmony between local and international communities in the educational environment in Bali. This research is important to examine how education plays a role as a means of forming national identity in an increasingly diverse global society, and how local wisdom can become the foundation for sustainable national character and education. Keywords: National communication; Balinese culture; multiculturalism; international school.   Abstrak Era globalisasi mendorong pertukaran budaya, informasi, dan nilai-nilai yang semakin intensif antarnegara. Hal ini menjadi menarik dalam konteks Bali karena keberadaan sekolah internasional berdampingan dengan kuatnya nilai-nilai budaya lokal. Budaya Bali yang berlandaskan filosofi harmoni sosial dan spiritual menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi keseimbangan dan kebersamaan, sehingga sekolah dapat berfungsi sebagai ruang komunikasi lintas budaya antara komunitas lokal dan internasional. Berangkat dari konteks tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana nilai-nilai budaya Bali diintegrasikan dalam praktik komunikasi kebangsaan di lingkungan sekolah multikultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus pada salah satu sekolah internasional di Bali. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik dengan menggunakan kerangka Social Identity Theory serta teori pendidikan multikultural sebagai kerangka analisis.  Analisis data dilakukan secara tematik dengan melakukan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi nasional di sekolah multikultural terjadi melalui proses pengintegrasian nilai-nilai budaya Bali ke dalam kegiatan pendidikan. Nilai-nilai lokal telah terbukti berfungsi sebagai penguat identitas nasional dan jembatan harmoni antara masyarakat lokal dan masyarakat internasional dalam lingkungan pendidikan di Bali. Penelitian ini penting untuk mengkaji bagaimana pendidikan berperan sebagai sarana pembentukan identitas nasional dalam masyarakat global yang semakin beragam, dan bagaimana kearifan lokal dapat menjadi landasan bagi karakter dan pendidikan nasional yang berkelanjutan. Kata-kata kunci: Komunikasi nasional; budaya Bali; multikulturalisme; sekolah internasional.
Kontestasi kebhinekaan pancasila dalam ekosistem media sosial Tunggali, Ade Putranto Prasetyo Wijiharto; Nasher, Ahmad
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 12 No 1 (2026): April 2026 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jk.v12i1.43513

Abstract

Abstract The digital age has brought significant changes to society’s communication patterns, including the mechanisms for disseminating national values. Current trends indicate a shift in perception, whereby values such as courtesy, mutual respect, and tolerance—which serve as the nation’s foundational bonds—are increasingly viewed as irrelevant by some citizens. There is a growing tendency to regard local culture as a traditional entity incompatible with modern progress. Consequently, a paradigm shift is needed in national life to respond to intensive interaction with foreign cultures. This study analyzes digital communication patterns to promote the values of Pancasila’s diversity through social media platforms. Pancasila, as the state ideology, now faces both challenges and new opportunities amid the dominance of social media as the primary communication platform. This research aims to examine these changes and analyze effective digital communication patterns to promote the values of Pancasila’s diversity. This study aims to examine these changes and analyze effective digital communication strategies for promoting the values of Pancasila’s diversity. Using a qualitative approach, this study explores various strategic methods to enhance public awareness and participation. The research findings indicate that strategies based on interactive content, collaboration with public figures (influencers), and the optimization of social media algorithms can significantly enhance the effectiveness of disseminating the values of Pancasila. This study concludes that it is crucial to adapt communication strategies to advancements in digital technology and the characteristics of contemporary audiences. This is essential to ensure that national values remain relevant, resilient, and well-received by the younger generation amidst the dynamic currents of globalization. Keywords: Pancasila values; social media; communication patterns.   Abstrak Era digital telah membawa perubahan signifikan dalam pola komunikasi masyarakat, termasuk dalam mekanisme penyebaran nilai-nilai nasional. Fenomena saat ini menunjukkan adanya pergeseran persepsi di mana nilai-nilai kesopanan, saling menghormati, dan toleransi sebagai perekat dasar bangsa mulai dianggap kurang relevan oleh sebagian warga negara. Muncul kecenderungan untuk memandang budaya lokal sebagai entitas tradisional yang tidak kompatibel dengan kemajuan zaman. Akibatnya, diperlukan perubahan paradigma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara guna merespons interaksi intensif dengan budaya asing. Studi ini menganalisis pola komunikasi digital untuk mempromosikan nilai-nilai Kebhinekaan Pancasila melalui platform media sosial. Pancasila, sebagai ideologi negara, kini menghadapi tantangan sekaligus peluang baru di tengah dominasi media sosial sebagai platform komunikasi utama. Penelitian ini bertujuan mengkaji perubahan tersebut serta menganalisis pola komunikasi digital yang efektif untuk mempromosikan nilai-nilai Kebhinekaan Pancasila. Menggunakan pendekatan kualitatif, studi ini mengeksplorasi berbagai metode strategis untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi publik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa strategi berbasis konten interaktif, kolaborasi dengan tokoh publik (influencer), serta optimalisasi algoritma media sosial secara signifikan dapat meningkatkan efektivitas penyebaran nilai-nilai Pancasila. Studi ini menyimpulkan pentingnya adaptasi strategi komunikasi terhadap perkembangan teknologi digital dan karakteristik audiens kontemporer. Hal ini krusial untuk memastikan nilai-nilai nasional tetap relevan, resilien, dan diterima dengan baik oleh generasi muda di tengah arus globalisasi yang dinamis. Kata-kata Kunci: Nilai pancasila; media sosial; communication pattern.
Analisis pengungkapan diri pengguna second account instagram: studi etnografi virtual Pamungkas, Galuh Setyaji; Andreas, Rino
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 12 No 1 (2026): April 2026 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jk.v12i1.43516

Abstract

Abstract The development of social media encourages individuals to seek alternative spaces for more flexible and private self-expression to overcome the limitations of self-presentation on their primary account. This study aims to analyze the phenomenon of self-disclosure among Instagram second account users through a virtual ethnographic study. This study uses a qualitative approach with a virtual ethnographic method within the constructivism paradigm, which views reality as a result of social construction through online interactions. The research subjects consisted of five informants aged 21– 23 years who actively use their second account. Data were collected through in-depth interviews, observation of communication activities on the second account, and documentation in the form of screenshots of posts and interactions that occur. The results show that self-disclosure practices on the second account encompass five main dimensions, namely the intention for personal documentation and emotional release; honesty in presenting oneself as it is and in real-time; depth of information that touches on personal aspects such as self-identity and family; emotional valence, both positive and negative; and a breadth of topics ranging from hobbies and friendships to romantic issues and academic pressure. Through Erving Goffman's dramaturgical perspective, the primary account is understood as a front stage to maintain self-image, while the second account functions as a back stage that provides a sense of security, closeness, and freedom in displaying an authentic identity without the pressure of digital social norms.. Keywords: Instagram second account; dramaturgy; virtual ethnography; self-disclosure.   Abstrak Perkembangan media sosial mendorong individu mencari ruang alternatif untuk mengekspresikan diri secara lebih fleksibel dan privat guna mengatasi keterbatasan presentasi diri pada akun utama (first account). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena pengungkapan diri (self-disclosure) pengguna second account Instagram melalui studi etnografi virtual.. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi virtual dalam paradigma konstruktivisme, yang memandang realitas sebagai hasil konstruksi sosial melalui interaksi daring. Subjek penelitian terdiri atas lima informan berusia 21–23 tahun yang aktif menggunakan akun kedua. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi aktivitas komunikasi pada second account, serta dokumentasi berupa tangkapan layar unggahan dan interaksi yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik self-disclosure pada second account mencakup lima dimensi utama, yaitu intensi untuk dokumentasi pribadi dan pelepasan emosi; kejujuran dalam menampilkan diri secara apa adanya dan real-time; kedalaman informasi yang menyentuh aspek personal seperti identitas diri dan keluarga; valensi emosional baik positif maupun negatif; serta keluasan topik yang beragam mulai dari hobi, pertemanan, hingga persoalan asmara dan tekanan akademik. Melalui perspektif dramaturgi Erving Goffman, akun utama dipahami sebagai front stage untuk menjaga citra diri, sedangkan second account berfungsi sebagai back stage yang menghadirkan rasa aman, kedekatan, dan kebebasan dalam menampilkan identitas autentik tanpa tekanan norma sosial digital. Kata-kata kunci: Akun kedua instagram; dramaturgi; etnografi virtual; pengungkapan diri.
Strategi kampanye Public Relations bank Indonesia Jawa Timur melalui komunikasi publik program ekspedisi rupiah berdaulat Putri, Agika Rahmah; Rahmawati, Dian Hutami
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 12 No 1 (2026): April 2026 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jk.v12i1.43517

Abstract

Abstract This study examines the limited access of communities in Indonesia’s frontier, outermost, and disadvantaged regions (3T) to payment system services and the low level of literacy regarding the function and meaning of the Rupiah as a symbol of national sovereignty. Geographic barriers, limited infrastructure, and insufficient financial education contribute to the circulation of unfit and counterfeit currency in these communities. Public communication in 3T areas also requires adaptive and locally based approaches to ensure policy messages are delivered effectively. Bank Indonesia, through the Expedition of Sovereign Rupiah (Ekspedisi Rupiah Berdaulat/ERB) Program, not only distributes fit-for-circulation currency but also strengthens the Love, Proud, and Understand (Cinta, Bangga, dan Paham/CBP) Rupiah campaign as part of its public communication strategy. This study aims to analyze the public communication strategy of Bank Indonesia East Java through the ERB Program in supporting the CBP Rupiah campaign in 3T regions. This research employs a qualitative approach with a case study method. Data were collected through in-depth interviews, field observations, and documentation. Data analysis used the interactive model of Miles and Huberman, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that the Public Relations strategy is implemented through four stages: fact-finding, planning and programming, action and communication, and evaluation. The program is adaptive and participatory, supported by the Indonesian Navy (TNI AL) to expand distribution and education outreach. However, evaluation still focuses on operational indicators and has not fully measured changes in public attitudes and behavior toward the use of Rupiah. Keywords: Public relations; bank Indonesia; ekspedisi rupiah berdaulat; CBP rupiah; public communication.   Abstrak Fenomena penelitian yaitu terbatasnya akses masyarakat wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) terhadap layanan sistem pembayaran serta rendahnya literasi fungsi dan makna Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara. Tantangan geografis, keterbatasan infrastruktur, dan minimnya edukasi keuangan menyebabkan masih ditemukannya peredaran uang tidak layak edar dan uang palsu di masyarakat. Selain itu, komunikasi publik di wilayah 3T memerlukan pendekatan yang adaptif dan berbasis kebutuhan lokal agar pesan kebijakan dapat diterima efektif. Bank Indonesia melalui Program Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) tidak hanya berfokus pada distribusi uang layak edar, tetapi juga memperkuat kampanye Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah sebagai bagian dari strategi komunikasi publik. Penelitian bertujuan menganalisis strategi komunikasi publik Bank Indonesia Jawa Timur melalui Program ERB dalam mendukung kampanye CBP Rupiah di wilayah 3T. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman; reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi Public Relations dilaksanakan melalui empat tahapan utama, yaitu fact-finding, planning and programming, action and communication, serta evaluation. Pelaksanaan program bersifat adaptif dan partisipatif dengan dukungan TNI AL untuk memperluas jangkauan distribusi dan edukasi masyarakat. Namun, tahap evaluasi lebih menekankan indikator operasional dan belum mengukur perubahan sikap serta perilaku masyarakat terhadap penggunaan Rupiah. Penelitian ini menyimpulkan Program ERB berperan sebagai instrumen komunikasi publik strategis dalam memperkuat literasi keuangan, identitas nasional, dan kedaulatan Rupiah di wilayah 3T. Kata-kata kunci: Public Relations; bank Indonesia; ekspedisi rupiah Berdaulat; CBP rupiah; komunikasi publik.
Pola komunikasi orang tua dalam komunitas pushbike SBB Sumedang dalam mendukung kepercayaan diri anak Husnusyifa, Annisa; Pratiwi, Resty Mustika; Mujianto, Haryadi; Firmansyah
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 12 No 1 (2026): April 2026 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jk.v12i1.43521

Abstract

Abstract This study aims to examine the patterns of parental communication within the SBB Sumedang pushbike community and their contribution to the development of self-confidence in early childhood. Pushbike activities not only help develop children's motor skills but also function as a social interaction space involving parents, children, and community members. This research employs a qualitative approach using a descriptive-interpretative method. The research subjects consisted of eight parents selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation in the form of photographs, videos, and digital communication within the community. Data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing using thematic analysis. The results indicate that parental communication patterns are supportive, participatory, and oriented toward the child's learning process. Affirmative verbal communication, calming nonverbal communication, and consistent emotional presence play important roles in fostering children's courage, independence, and social abilities. Parents interpret courage as the child's willingness to try, failure as part of the learning process, and success as the ability to complete training activities. The pushbike community functions as a social learning space for parents, shaping communication norms that support children's psychosocial development. These findings emphasize that supportive parental communication patterns within children's sports communities can serve as an important medium in shaping early childhood self-concept and self-confidence. Keywords: Parental communication; children's sports community; pushbike; child self-confidence; family communication.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola komunikasi orang tua dalam komunitas pushbike SBB Sumedang dan kontribusinya terhadap pembentukan kepercayaan diri anak usia dini. Aktivitas pushbike tidak hanya melatih keterampilan motorik anak, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial antara orang tua, anak, dan anggota komunitas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-interpretatif. Subjek penelitian adalah delapan orang tua yang dipilih melalui purposive sampling, dengan data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi berupa foto, video, serta komunikasi digital komunitas. Analisis data dilakukan melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi orang tua bersifat suportif, partisipatif, dan berorientasi pada proses belajar anak. Komunikasi verbal afirmatif, komunikasi nonverbal yang menenangkan, serta kehadiran emosional konsisten, berperan penting dalam membangun keberanian, kemandirian, dan kemampuan sosial anak. Orang tua memaknai keberanian sebagai kemauan anak untuk mencoba, kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, dan keberhasilan sebagai kemampuan menyelesaikan latihan. Komunitas pushbike berfungsi sebagai ruang pembelajaran sosial bagi orang tua, membentuk norma komunikasi yang mendukung perkembangan psikososial anak. Temuan ini menegaskan bahwa pola komunikasi orang tua yang suportif dalam komunitas olahraga anak dapat menjadi medium penting dalam membentuk konsep diri dan kepercayaan diri anak usia dini. Kata-kata kunci: Komunikasi orang tua; komunitas olahraga anak; pushbike; kepercayaan diri anak; komunikasi keluarga.
Peran artificial intelligence dan media digital sebagai instrumen penguatan nasionalisme generasi muda melalui pendekatan edukatif dan komunikatif dalam konteks revolusi industri 4.0 Cindrakasih, RR Roosita; Novianita, Riastri; Atmaja, Jaka; Aziz, Abdul
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 12 No 1 (2026): April 2026 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jk.v12i1.43522

Abstract

Abstract This study examines the role of Artificial Intelligence (AI) and digital media as strategic instruments in strengthening youth nationalism within the context of the Industrial Revolution 4.0. The rapid development of digital technology has significantly influenced patterns of communication, information consumption, and identity formation among young generations, creating both opportunities and challenges for fostering national values. This research aims to analyze how educational and communicative approaches based on AI and digital media can reinforce nationalism among youth. Employing a qualitative descriptive method with a literature review and thematic analysis approach, the study explores various digital practices, AI-driven platforms, and communication strategies relevant to civic education and national awareness. The findings indicate that AI and digital media can function as effective tools for disseminating national narratives, promoting critical digital literacy, and encouraging participatory engagement in civic life when integrated with contextual, inclusive, and value-based educational strategies. Furthermore, interactive digital content, algorithmic personalization, and social media campaigns contribute to shaping constructive national identity among young people. The study contributes theoretically by integrating communication and educational perspectives in understanding digital nationalism, and practically by offering strategic recommendations for policymakers, educators, and media practitioners in optimizing AI and digital media to strengthen youth nationalism in the digital era. Keywords: Artificial Intelligence; digital media; youth nationalism; educational approach; industrial revolution 4.0.   Abstrak Penelitian ini mengkaji peran Artificial Intelligence (AI) dan media digital sebagai instrumen strategis dalam memperkuat nasionalisme generasi muda pada era Revolusi Industri 4.0. Perkembangan teknologi digital yang pesat telah mengubah pola komunikasi, konsumsi informasi, serta pembentukan identitas generasi muda, sehingga menghadirkan peluang sekaligus tantangan dalam internalisasi nilai-nilai kebangsaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pendekatan edukatif dan komunikatif berbasis AI dan media digital dapat digunakan untuk memperkuat nasionalisme di kalangan generasi muda. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur dan analisis tematik terhadap berbagai praktik digital, platform berbasis AI, serta strategi komunikasi yang relevan dengan pendidikan kewarganegaraan dan penguatan kesadaran nasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan, di mana data dikumpulkan dari berbagai jurnal ilmiah dan buku akademik yang relevan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI dan media digital berpotensi menjadi sarana efektif dalam mendiseminasikan narasi kebangsaan, meningkatkan literasi digital kritis, serta mendorong partisipasi aktif generasi muda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara apabila diintegrasikan melalui strategi edukatif yang kontekstual, inklusif, dan berbasis nilai. Selain itu, konten digital interaktif, personalisasi algoritmik, dan kampanye media sosial berkontribusi dalam membentuk identitas nasional yang konstruktif. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis melalui integrasi perspektif komunikasi dan pendidikan dalam memahami nasionalisme digital, serta kontribusi praktis berupa rekomendasi strategis bagi pembuat kebijakan, pendidik, dan praktisi media dalam mengoptimalkan AI dan media digital untuk penguatan nasionalisme generasi muda di era digital. Kata-kata kunci: Artificial artificial intelligence; media digital; nasionalisme generasi muda; pendekatan edukatif; revolusiiindustri 4.0.
Melampaui transmisi pesan: rekonstruksi konsep komunikasi rasa melalui blending mikrokosmos–makrokosmos Qoriah, Desi; Ramdani, Wilman; Nirwana, Ria
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 12 No 1 (2026): April 2026 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jk.v12i1.43538

Abstract

Abstract  Dominant communication paradigms in communication studies continue to rely on message transmission models that emphasize the delivery of information from sender to receiver. Such paradigms reveal significant limitations in explaining non-verbal communication, affectivebased communication, and communicative relations between humans and the universe. This study aims to reconstruct the concept of communication by examining blending practices within the Lanthera Bandung community, positioning blending as a communicative process rather than merely a spiritual ritual or subjective experience. This research employs a qualitative approach using communication ethnolinguistic perspective, involving participant observation, in-depth interviews, and documentation of blending practices. Peircean semiotics is applied as the analytical framework to interpret feelings, bodily sensations, and natural phenomena as communicative signs operating within an arena of semiosis. The findings indicate that meaning in blending practices does not emerge through verbal message transmission but through interpretative processes of signs that are pre-linguistic, embodied, and relational between the human microcosm and the natural macrocosm. Blending functions as a communicative space where sensations, the body, and nature resonate to produce collective meaning. This study contributes to communication scholarship by proposing an affective semiotic perspective that extends beyond classical transmission models and offers an alternative conceptual framework for understanding non-verbal and human–nature communication in contemporary communication studies. Keywords: Affective communication; communication ethnolinguistics; peircean semiotics; blending practice; microcosm–macrocosm.   Abstrak  Paradigma komunikasi dominan dalam studi komunikasi masih bertumpu pada model transmisi pesan yang menekankan pengiriman informasi dari pengirim ke penerima. Paradigma ini terbukti memiliki keterbatasan dalam menjelaskan praktik komunikasi nonverbal, komunikasi berbasis rasa, serta relasi komunikatif antara manusia dan alam semesta. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi konsep komunikasi melalui kajian praktik blending pada komunitas Lanthera Bandung dengan memosisikan blending sebagai proses komunikasi, bukan semata ritual spiritual atau pengalaman subjektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif etnolinguistik komunikasi, melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap praktik blending yang dijalankan komunitas. Kerangka analisis menggunakan semiotika Peirce untuk membaca rasa, sensasi tubuh, dan fenomena alam sebagai tanda-tanda komunikasi yang beroperasi dalam arena semiosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna dalam praktik blending tidak lahir melalui transmisi pesan verbal, melainkan melalui proses interpretasi tanda yang bersifat pralinguistik, embodied, dan relasional antara mikrokosmos manusia dan makrokosmos alam. Blending berfungsi sebagai ruang komunikasi di mana rasa, tubuh, dan alam saling beresonansi membentuk pemaknaan kolektif. Kontribusi penelitian ini terletak pada pengembangan perspektif komunikasi berbasis semiosis rasa yang memperluas batasan teori komunikasi klasik, sekaligus menawarkan kerangka konseptual alternatif untuk memahami komunikasi non-verbal dan komunikasi manusia–alam dalam kajian komunikasi kontemporer. Temuan ini memperkuat urgensi pembaruan paradigma dalam studi komunikasi Kata-kata kunci: Komunikasi rasa; etnolinguistik komunikasi; semiotika peirce; blending; mikrokosmos–makrokosmos.
Pemanfaatan key opinion leader dalam strategi digital PR BNNP Jawa Timur Ihzabella, Chintya; Rahmawati, Dian Hutami
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 12 No 1 (2026): April 2026 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jk.v12i1.43551

Abstract

Abstract   This study examines the digital public relations strategy implemented by the National Narcotics Agency of East Java Province in utilizing Key Opinion Leaders (KOLs) to support public communication. The institution is responsible for implementing programs aimed at preventing and combating drug abuse and illicit drug trafficking. However, it faces challenges related to public communication that tends to be formal and one-way, which limits its ability to build emotional connections with the public and encourage greater community engagement.This research employs a descriptive qualitative approach to understand the communication processes and strategies carried out by the institution. Data were collected through in-depth interviews with key informants involved in the communication strategy and through direct observation of communication activities conducted by the agency.The findings indicate that the digital public relations strategy is implemented systematically based on the stages of The ROSTIR Model. The initial stage involves identifying public communication needs by monitoring mass media coverage and reviewing public complaint channels. The next stage focuses on determining communication objectives, including expanding audience reach and increasing public engagement. Strategic planning is carried out by determining the characteristics of suitable Key Opinion Leaders, designing the selection mechanism, and developing communication messages. Tactical implementation is conducted through content competitions, collaboration programs with KOLs, strengthening internal capacity, and integrating various communication media. The final stage involves evaluation using performance indicators to assess the effectiveness of the strategy and to provide a basis for improving future communication strategies. Keywords: Digital public relations;key opinion leader; public communication; bnnp east java, communication strategy. Abstrak Penelitian ini menganalisis strategi digital public relations yang diterapkan oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Timur dalam memanfaatkan Key Opinion Leaders (KOL) untuk mendukung komunikasi publik. Lembaga tersebut memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan program pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan serta peredaran gelap narkoba. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat tantangan berupa pola komunikasi publik yang cenderung formal dan bersifat satu arah, sehingga belum sepenuhnya mampu membangun kedekatan emosional dengan masyarakat dan meningkatkan keterlibatan publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memahami proses dan strategi komunikasi yang dilakukan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan informan yang terlibat dalam pelaksanaan strategi komunikasi serta observasi langsung terhadap aktivitas komunikasi yang dijalankan oleh lembaga tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi digital public relations dijalankan secara sistematis dengan mengacu pada tahapan dalam The ROSTIR Model. Tahap awal dilakukan melalui identifikasi kebutuhan komunikasi publik dengan memantau pemberitaan media massa serta menelaah laporan atau pengaduan masyarakat. Selanjutnya, organisasi menetapkan tujuan komunikasi yang berfokus pada perluasan jangkauan audiens serta peningkatan keterlibatan masyarakat. Tahap perencanaan meliputi penentuan karakteristik Key Opinion Leaders, penyusunan mekanisme pemilihan, serta perancangan pesan komunikasi yang relevan. Implementasi strategi dilakukan melalui kompetisi konten, program kolaborasi dengan KOL, penguatan kapasitas internal, serta integrasi berbagai saluran media komunikasi. Tahap evaluasi dilakukan dengan menggunakan indikator kinerja untuk menilai efektivitas strategi sekaligus menjadi dasar penyempurnaan strategi komunikasi di masa mendatang. Kata-kata kunci: Digital public relations; key opinion leader; komunikasi publik; bnnp jawa timur; strategi komunikasi.

Filter by Year

2015 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 12 No 1 (2026): April 2026 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 11 No 2 (2025): Oktober 2025 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitia Vol 11 No 1 (2025): April 2025 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 10 No 2 (2024): Oktober 2024 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitia Vol 10, No 1 (2024): April 2024 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 10 No 1 (2024): April 2024 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 9, No 2 (2023): Oktober 2023 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitia Vol 9 No 2 (2023): Oktober 2023 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 9, No 1 (2023): April 2023 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 8, No 2 (2022): Oktober 2022 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitia Vol 8, No 1 (2022): April 2022 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 7, No 2 (2021): Oktober 2021 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitia Vol 7, No 1 (2021): April 2021 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 6, No 2 (2020): Oktober 2020 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitia Vol 6, No 1 (2020): April 2020 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 5, No 2 (2019): Oktober 2019 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitia Vol 5, No 1 (2019): April 2019 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 5, No 1 (2019): Jurnal Komunikasi Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 4, No 2 (2018): Oktober 2018 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitia Vol 4, No 1 (2018): April 2018 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 3, No 2 (2017): Oktober 2017 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitia Vol 3, No 1 (2017): April 2017 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 2, No 2 (2016): Oktober 2016 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitia Vol 2, No 1 (2016): April 2016 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 1, No 2 (2015): Oktober 2015 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitia Vol 1, No 1 (2015): April 2015 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian More Issue