cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
heme@unbrah.ac.id
Editorial Address
Gedung Dekanat Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Jalan Raya By Pass Km 15 Aie Pacah Padang – Sumatera Barat
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Health and Medical Journal
ISSN : 26852772     EISSN : 2685404X     DOI : https://doi.org/10.33854/heme
Core Subject : Health, Science,
Health & Medical Journal with registered number pISSN: 2685-2772 and eISSN: 2685-404X is a peer-review journal published by Medical Faculty of Universitas Baiturrahmah. The frequency of publishing is two issues in a year. The topics covered include the fields of Allergy and Immunology, Anesthesiology, Cancer and stem cells, Cardiovascular, Cell and Molecular Biology, Children's Health, Dermato-venereology, Geriatrics, Histopathology, Internal Medicine, Neuro-psychiatric treatment, Ophthalmology, Otorhinolaryngology, Physical medicine and rehabilitation, Physio-pharmacology, Pulmonology, Radiology, Surgery includes orthopedics and urology, Obstetrics and Gynecology, Science of nutrition, Clinical Pathology, Anatomy Pathology, Parasitology, Microbiology, Public Health and Medical Education. Submissions are welcome from other clinically relevant areas. However, the Journal emphasizes publishing high-quality and novel research.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 1 (2026): HEME January 2026" : 10 Documents clear
Manajemen Diri Pasien PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) Stabil Di RSUD Rasidin Padang Sari, Dewi Kartika; Saputra, Nopan; Sari, Yance Komela
Health and Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): HEME January 2026
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v8i1.1695

Abstract

Latar belakang: Manajemen diri pasien PPOK stabil masih menjadi tantangan kesehatan di masyarakat. Hal ini menjadi faktor risiko terjadinya komplikasi eksaserbasi pada pasien PPOK. Oleh sebab itu perlu diketahui gambaran manajemen diri yang bermasalah pada pasien PPOK stabil.Tujuan: Penelitiaan ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana gambaran manajemen diri pasien PPOK stabil di Poliklinik Paru RSUD Rasidin Padang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggambarkan manajemen diri pasien PPOK Stabil di Poliklinik Paru RSUD Rasidin Padang.Sampel dalam penelitian ini sebanyak 66 responden dengan teknik purposive sampling. Manajemen diri dinilai menggunakan Self-Management Scale (CSMS).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa diketahui lebih dari setengah responden (65,2%) berjenis kelamin laki-laki, sebagian besar (83,3%) memiliki tingkat pendidikan SMA, kurang dari setengah responden (48,5%) berada pada kategori usia dewasa akhir dan sebagian besar (71,2%) telah menderita PPOK kurang dari 5 tahun. Manajemen diri pasien PPOK stabil menunjukkan hampir setengah responden (48,5%) memiliki manajemen diri yang kurang baik. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa manajemen diri pasien PPOK stabil masih kurang baik yang berisiko terjadinya eksaserbasi yang akan memperparah kondisi pasien PPOK stabil. Diharapkan petugas kesehatan dapat memberikan edukasi dalam meningkatkan kesadaran pasien PPOK dalam memanajemen diri untuk mencegah terjadinya Eksaserbasi.
Perbandingan Metode Melahirkan Terhadap Risiko Depresi pada Ibu Postpartum di RSIA Mutiara Bunda Kota Padang Fajrima, Mahfira; Dhuha, Alief; Wahyuni, Sri; Rahmadhoni, Berri; Rustam, Raihana
Health and Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): HEME January 2026
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v8i1.1815

Abstract

 Latar belakang: Melahirkan adalah peristiwa kehidupan yang penting bagi seorang ibu. Peristiwa ini membuat sebagian wanita menjadi bahagia maupun bisa menjadi stres. Stres tersebut terjadi karena setelah melahirkan wanita lebih rentan mengalami gangguan kejiwaan postpartum, seperti kecemasan, depresi dan kehilangan jati diri.. Tujuan: Untuk mengetahui perbandingan metode melahirkan terhadap risiko depresi postpartum di RSIA Mutiara Bunda Kota Padang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan teknik pengambilan sampel yaitu teknik consecutive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 30 ibu postpartum. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji fisher’s exact test. Hasil: Dari 30 ibu postpartum, usia paling banyak berada pada 20-35 tahun berjumlah 21 orang (70%). Mayoritas responden adalah ibu rumah tangga yaitu 17 orang (56,7%%). Selain itu, 12 orang (40%) ibu memiliki tingkat pendidikan terakhir SMA. Ibu metode melahirkan pervaginam yaitu 15 orang (50%) dan persalinan sectio caesarea yaitu 15 orang (50%). Riwayat paritas  multipara yaitu 16 orang (53,3%). Kemudian, responden yang tidak mengindikasi risiko depresi postpartum sebanyak 26 orang (86,7%). Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara metode melahirkan terhadap risiko depresi postpartum di RSIA Mutuara Bunda Kota Padang.
Gambaran Penggunaan Antibiotik pada Kasus Sepsis di Ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar Butang, Dwiputri Djaya; Irwan, Andi Alamanda; Pramono, Sigit Dwi; Sommeng, Faisal; Harahap, Muhammad Wirawan
Health and Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): HEME January 2026
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v8i1.1838

Abstract

Latar Belakang: Sepsis adalah masalah kesehatan global yang signifikan, terutama di unit perawatan intensif (ICU), dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Pengobatan sepsis yang tepat waktu sangat penting, tetapi penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotik pada pasien sepsis di ICU Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar, dengan fokus pada karakteristik pasien, organ yang bermasalah, penyakit penyerta, hasil kultur, dan jenis yang resisten dan resisten terhadap antibiotik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan pengambilan data dari rekam medis pasien sepsis di ICU Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar selama periode Januari-Mei 2024. Subjek penelitian adalah pasien sepsis yang telah diberikan terapi antibiotik dan memiliki hasil kultur. Data dikumpulkan kemudian diolah untuk menarik kesimpulan tentang pola penggunaan antibiotik. Hasil: Dari 32 rekam medis, 13 pasien memenuhi kriteria inklusi. Mayoritas pasien adalah laki-laki (77%) dan berusia di atas 55 tahun (38%). Disfungsi organ gastrointestinal ditemukan pada 46% pasien, dan diabetes melitus adalah kondisi komorbiditas yang paling umum (31%). Hasil kultur menunjukkan Salmonella typhii (38%) sebagai patogen utama. Antibiotik yang paling resisten adalah amikasin, levofloksasin, ofloksasin, dan tetrasiklin (masing-masing 10%), sedangkan sefiksim (24%) dan ampisilin (16%) menunjukkan resistensi yang tinggi. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa sepsis di ICU Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar didominasi oleh pasien laki-laki dengan gangguan fungsi organ pencernaan. Resistensi antibiotik merupakan masalah yang serius, terutama untuk sefiksim dan ampisilin. Peningkatan praktik pengumpulan kultur bakteri dan pemantauan resistensi diperlukan untuk memastikan terapi yang lebih efektif dan mengurangi mortalitas sepsis.
Karakteristik Pasien Gizi Buruk Pada Balita di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo 2024 Purnamasari, Sri; Makmum, ⁠Armanto; Gayatri, Sri Wahyuni; Darussalam, Andi Husni Esa; Nurmadilla, Nesyana
Health and Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): HEME January 2026
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v8i1.1840

Abstract

Latar Belakang: Gizi buruk pada balita merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, dengan prevalensi yang tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan prevalensi kekurangan gizi (underweight) sebesar 19,6%. Di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo, masalah gizi buruk masih menjadi tantangan yang kompleks, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kondisi ekonomi, sanitasi, dan pengetahuan ibu. Penelitian ini dilakukan untuk memahami karakteristik pasien gizi buruk dan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap masalah ini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kasus gizi buruk pada balita, meliputi usia, jenis kelamin, riwayat kelahiran, pemberian ASI, kejadian infeksi, sanitasi lingkungan, pengetahuan ibu, kondisi ekonomi, dan riwayat imunisasi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 44 balita yang mengalami gizi buruk di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan wawancara, kemudian dianalisis secara univariat untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel independen dan dependen. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas balita dengan gizi buruk berusia 13-59 bulan (86,4%), dengan proporsi lebih tinggi pada jenis kelamin perempuan (70,45%). Sebanyak 68,2% balita lahir prematur, dan hanya 20,5% yang mendapatkan ASI eksklusif. Kejadian infeksi berulang juga menjadi masalah, dengan 45,5% balita sedang mengalami infeksi. Dari segi sanitasi, 54,5% balita menggunakan air sungai sebagai sumber utama. Selain itu, 75% ibu tidak memiliki pengetahuan gizi yang memadai, dan 63,6% balita tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Kesimpulan: Penelitian ini mengindikasikan perlunya peningkatan edukasi gizi untuk ibu, peningkatan cakupan imunisasi, dan intervensi pada balita berisiko tinggi. Penguatan peran posyandu dalam pemantauan pertumbuhan juga sangat diperlukan untuk mengatasi masalah gizi buruk.
Gambaran Pasien Tumor Payudara Jinak di RSUD Massenrempulu Enrekang Tahun 2023 Bahri, Miranda Ashari; Gani, Azis Beru; Harahap, Muhammad Wirawan; Dahliah, Dahliah; Hasbi, Berry Erida
Health and Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): HEME January 2026
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v8i1.1866

Abstract

Latar Belakang: Tumor payudara jinak merupakan masalah kesehatan signifikan di seluruh dunia, dengan peningkatan kasus di Indonesia. Tumor payudara jinak, meskipun tidak bersifat kanker, tetap memerlukan perhatian karena dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik pasien tumor payudara jinak di RSUD Massenrempulu Enrekang.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai gambaran pasien tumor payudara jinak, termasuk usia, pekerjaan, indeks massa tubuh (IMT), dan lokasi tumor. Metode: Metode penelitian deskriptif dengan desain observasional dilakukan pada pasien tumor payudara jinak di RSUD Massenrempulu selama periode Agustus hingga Oktober 2024. Data dikumpulkan dari rekam medis dan dianalisis menggunakan SPSS. Hasil: Dari 24 pasien, sebagian besar pasien berusia 17-25 tahun (33%), berstatus pelajar (50%), dengan indeks massa tubuh (IMT) obesitas tingkat 1 (46%), serta lokasi tumor lebih banyak di payudara kiri (59%). Kesimpulan: Tumor payudara jinak di RSUD Massenrempulu Enrekang paling banyak terjadi pada wanita muda usia produktif, berstatus pelajar, memiliki IMT berlebih, dan lebih sering terjadi di payudara kiri.
Accuracy of Fine Needle Biopsy (FNAB) in Lymph Nodes Tuberculosis Sari, Aditya Sita; Kurniasari, Nila; Rahaju, Anny Setijo; Kusumastuti, Etty Hary; Rahniayu, Alphania
Health and Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): HEME January 2026
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v8i1.1875

Abstract

Introduction: Tuberculosis (TB) is an infection caused by Mycobacterium Tuberculosis (Mtb) that can attack various organs such as peripheral lymph nodes. Fine needle aspiration biopsy (FNAB) is often used as one of the modalities of diagnosis of lymph node tuberculosis to determine the management of patients. Objective: The objective of this study is to evaluate the accuracy, efficiency, and effectiveness of FNAB in diagnosing lymph node tuberculosis. The findings will assess whether FNAB can be adopted as a standard diagnostic and management tool for patients with this condition. Methods: This is an observational analytic cross-sectional study in the population of patients with suspicion of lymph node tuberculosis at the Anatomical Pathology Unit of Dr. Soetomo General Academic Hospital Surabaya in one year period. FNAB examination was performed with Modified Grunwald Giemsa (MGG) and Ziehl Nielsen (ZN) staining to detect AFB (Acid Fast Bacilli) organisms, as well as PCR (Polymerase Chain Reaction) of peripheral blood. The results were analysed using Chi square statistic test. Results: The sensitivity, specificity, Positive Predictive Value (PPV) and Negative Predictive Value (NPV) of FNAB examinations were 100%, 33%, 59% and 100%, respectively, meanwhile the sensitivity and specificity of PCR peripheral blood examination were 8% and 70% compared to the ZN examination of the FNA aspiration material. Conclusion: FNAB had a higher sensitivity than PCR of peripheral blood to detect Mycobacterium Tuberculosis infection; on the other hand PCR of peripheral blood had a higher specificity than FNAB to detect Mycobacterium Tuberculosis infection.
Mikosis Subkutan: Tinjauan Komprehensif Terkait Diagnosis, Tatalaksana, Serta Tantangan Diagnostik Ariani, Tutty
Health and Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): HEME January 2026
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v8i1.1896

Abstract

Mikosis subkutan merupakan infeksi jamur yang terjadi akibat inokulasi jamur ke dalam jaringan dermis melalui trauma kulit, yang berpotensi menyebabkan infeksi sistemik, terutama pada individu dengan imunokompromais. Mikosis ini termasuk dalam kelompok mikosis profunda dan mencakup beberapa jenis, antara lain cutaneous sporotrichosis, chromoblastomycosis (jenis yang paling sering ditemukan), phaeohyphomycosis, mycetoma, dan basidiobolomycosis. Meskipun termasuk dalam sepuluh besar penyakit jamur yang paling umum di dunia, kasus mikosis subkutan sering kali tidak terdiagnosis secara tepat, terutama di daerah dengan fasilitas kesehatan terbatas dan kurangnya kesadaran klinis terhadap penyakit ini. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk tinjauan pustaka dengan mengumpulkan dan menganalisis berbagai artikel ilmiah yang relevan guna memperoleh pemahaman yang komprehensif terkait aspek epidemiologi, manifestasi klinis, metode diagnostik, serta tatalaksana mikosis subkutan. Berdasarkan hasil analisis literatur, mikosis ini umumnya menyerang individu berusia 20–60 tahun, khususnya laki-laki yang bekerja di sektor pertanian atau yang sering terpapar lingkungan berjamur. Diagnosis yang akurat memerlukan pemeriksaan penunjang seperti kultur jamur, histopatologi jaringan, dan teknik diagnostik molekuler. Penatalaksanaan utamanya adalah pemberian antijamur sistemik, yang sering dikombinasikan untuk mencegah kekambuhan. Di samping itu, beberapa inovasi dalam bidang diagnostik dan terapeutik terus dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas pengobatan. Mengingat masih rendahnya pencatatan dan pelaporan kasus serta seringnya terjadi salah diagnosis, diperlukan peningkatan pemahaman klinis dan penelitian lanjutan agar mikosis subkutan dapat dikenali secara dini dan ditangani secara optimal.
Therapeutic Hypothermia in Severe Neonatal Hypoxic-Ischemic Encephalopathy: A Case Report and Literature Review Yantri, Eny; Zulfahmi, Zulfahmi
Health and Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): HEME January 2026
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v8i1.1901

Abstract

Hypoxic-ischemic encephalopathy (HIE) remains a leading cause of neonatal mortality and long-term neurodevelopmental disability worldwide, with therapeutic hypothermia emerging as the standard neuroprotective intervention for eligible neonates with moderate to severe HIE. We report a case of a late preterm female neonate (36-37 weeks gestation) born via emergency cesarean section due to severe maternal preeclampsia with respiratory failure, who presented with severe birth asphyxia (APGAR scores 1/3), profound metabolic acidosis (umbilical cord pH 6.7, base excess -20 mmol/L), and severe encephalopathy (Thompson score 15). Therapeutic hypothermia was initiated within 6 hours of birth and continued for 72 hours, followed by controlled rewarming, with the patient requiring mechanical ventilation for 10 days and hospitalization for 17 days total. The patient demonstrated progressive neurological improvement with Thompson scores decreasing from 15 to 3 over the first four days of treatment, while cerebral regional oxygen saturation remained within normal limits throughout cooling therapy. The infant was successfully weaned from mechanical ventilation, achieved full enteral feeding, and was discharged home without apparent neurological sequelae. This case demonstrates the successful implementation of evidence-based therapeutic hypothermia protocols in severe HIE management, emphasizing that early recognition, appropriate patient selection, precise temperature control, and comprehensive supportive care are critical for optimal outcomes, while long-term neurodevelopmental follow-up remains essential for all HIE survivors.
Peran Vitamin D dalam Regulasi Pubertas Dini dan Pubertas Prekoks Sentral pada Anak: Tinjauan Sistematis Nurafifah, Diana; Jovi, Shavita Tri Andara; Fikma, Silva Putri; Handayani, Kurnia Maidarmi
Health and Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): HEME January 2026
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v8i1.2095

Abstract

Latar belakang: Pubertas prekoks, khususnya central precocious puberty (CPP), semakin sering dilaporkan dan berhubungan dengan konsekuensi jangka panjang. Vitamin D berperan dalam regulasi sumbu hipotalamus–hipofisis–gonad (HPG), metabolisme tulang, dan fungsi reproduksi, namun bukti hubungan dengan pubertas dini masih bervariasi. Tujuan: Meninjau secara sistematis hubungan antara status vitamin D dan pubertas prekoks/CPP pada anak. Metode: Tinjauan ini mengikuti pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan di PubMed, Scopus, dan EBSCOhost untuk artikel berbahasa Inggris tahun 2014–2024 dengan populasi anak usia 5–12 tahun, penilaian serum 25-hydroxyvitamin D [25(OH)D], luaran pubertas prekoks/CPP, dan desain observasional. Sepuluh studi disertakan. Hasil: Mayoritas studi melaporkan kadar 25(OH)D lebih rendah dan prevalensi defisiensi vitamin D lebih tinggi pada anak perempuan dengan CPP dibanding kontrol. Kadar vitamin D rendah sering berhubungan dengan peningkatan risiko CPP, maturasi tulang lebih cepat, dan indeks massa tubuh lebih tinggi, meskipun beberapa studi tidak menemukan perbedaan bermakna. Obesitas, gaya hidup sedentari, paparan sinar matahari, dan faktor genetik tampak memengaruhi asosiasi ini. Kesimpulan: Status vitamin D merupakan salah satu faktor dalam regulasi waktu pubertas, tetapi bukan determinan tunggal. Optimalisasi kadar vitamin D dan intervensi gaya hidup dapat dipertimbangkan sebagai bagian pendekatan komprehensif, sementara bukti penggunaan vitamin D sebagai terapi tunggal pada CPP masih terbatas.
Vitamin D and Traumatic Brain Injury: A Systematic Review of Preclinical Evidence Jaslindo, Lieka Nugrahi; Sari, Widia; Dhuha, Alief; Handayani, Kurnia Maidarmi; Khudri, Ghaniyyatul Nugrahi; Maribeth, Annisa Lidra
Health and Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): HEME January 2026
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v8i1.2096

Abstract

Traumativ Brain Injury (TBI) triggers multiple secondary injury processes, such as inflammation, oxidative stress, apoptosis, BBB disruption, and impaired autophagy. These mechanisms contribute to progressive neuronal damage and functional decline. Vitamin D has emerged as a potential multi-target neuroprotective agent due to its regulatory roles in immune signaling, oxidative balance, neuronal survival, and autophagy pathways. This systematic review synthesized preclinical evidence evaluating the effects of Vitamin D supplementation in animal models of TBI. A comprehensive search of PubMed, OVID, and ProQuest identified six eligible studies. Across diverse dosing regimens and formulations, Vitamin D consistently improved key TBI outcomes. Reported benefits included reduced apoptosis, decreased neuroinflammation, attenuation of oxidative stress, preservation of BBB integrity, restoration of autophagy flux, and enhanced cognitive performance. Mechanistically, Vitamin D influenced several pathways, including Nrf2 activation, TLR4/MyD88/NF-κB suppression, mTOR and TRPM2 normalization, and improved microglial polarization. Although methodological quality varied, most studies demonstrated moderate rigor and supported the neuroprotective actions of Vitamin D. Heterogeneity in injury models, dosing strategies, and outcome measures limits direct comparison and highlights the need for standardized experimental approaches. Overall, current preclinical evidence indicates that Vitamin D confers robust neuroprotection following TBI. Further studies examining its mechanistic pathways, optimal therapeutic windows, and translational potential are warranted to inform future clinical applications.

Page 1 of 1 | Total Record : 10