Avant Garde
Avant Garde : Jurnal Ilmu Komunikasi is scientific journal published by the Communication Studies Program, Univ. Budi Luhur, twice a year on Juni & December. The publication of this journal is intended as a medium of information exchange, knowledge based on development, and the study of Communication Sciences and its relation to various other scientific disciplines.
Articles
168 Documents
Pemanfaatan Influencer Sebagai Media Promosi Pariwisata Sulawesi Selatan Pada Akun Instagram @Visitsulsel.Id
Fauzan Hidayatullah;
Muhammad Farid;
Novita Nur Afifah
Avant Garde Vol 10, No 2 (2022): Avant Garde
Publisher : Fakultas Komunikasi & Desain Kreatif - Universitas Budi Luhur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36080/ag.v10i2.2086
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pemanfaatan influencer sebagai media promosi pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan pada akun instagram @visitsulsel.id dan mengetahui kelebihan serta kekurangan penggunaan influencer sebagai media promosi pariwisata Sulawesi Selatan. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang sumber data primernya berasal dari hasil wawancara mendalam kepada pejabat dan staf Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa influencer sebagai media promosi pariwisata provinsi Sulawesi Selatan terwujud karena kegiatan kerjasama kolaborasi antara Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sulawesi Selatan dan sponsor dalam mempromosikan pariwisata Selatan dengan kontrak formal dan semi formal melalui kegiatan fun trip dan diunggah ke akun sosial media masing-masing influencer serta akun Instagram @visitsulsel.id. Kelebihan pemanfaatan influencer pada Akun Instagram yaitu, informasi bisa langsung tersampaikan ke user; Insight pada sosial media meningkat; Adanya peningkatan wisataan yang akan terjadi; Dapat meningkatkan engagement rate Instagram @visitsulsel.id; Kemudahan mengakses dan memperoleh informasi terkait destinasi-destinasi wisata oleh calon wisatawan. Kekurangannya yaitu, belum adanya regulasi yang mengkaji terkait kegiatan digital promotion dan juga pelibatan influencer untuk kegiatan berpromosi; Tidak tersedianya anggaran yang dapat digunakan untuk membiayai kegiatan promosi dengan influencer di Sulawesi Selatan; Followers dari para influencer tidak dapat diketahui apakah sesuai atau tidak dengan target pasar.
Analisis Sentimen Jaringan Pesan Kolom Komentar Video Wonderful Indonesia 2022 Jagad Jawi Yang Dipengaruhi Budaya
Anabel Yevina Mulyadi Wahyu;
Agustinus Rusdianto Berto;
Endah Murwani
Avant Garde Vol 10, No 2 (2022): Avant Garde
Publisher : Fakultas Komunikasi & Desain Kreatif - Universitas Budi Luhur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36080/ag.v10i2.2011
Video Wonderful Indonesia 2022 Jiwa Jagad Jawi merupakan video promosi destinasi wisata Pulau Jawa, yang menggunakan teknik digital storytelling. Video promosi tersebut diunggah melalui kanal YouTube resmi Wonderful Indonesia. Dalam hal ini, komentar pengguna YouTube dapat dimaknai sebagai reaksi secara khusus yang diberikan penonton. Komentar pun bisa dijadikan sebagai masukan Kemenparekraf dalam pembuatan video promosi pariwisata. Komentar yang dilontarkan oleh para aktor cenderung bersifat budaya. Dalam hal ini, brand experience dipengaruhi oleh budaya. Penelitian ini akan menganalisis jejaring sosial yang terbentuk dalam video promosi wisata. Metode yang digunakan penelitian ini menggunakan social media network analysis, untuk menganalisis pada level struktur jaringan, kelompok, dan aktor. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix method, dimana menggabungkan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa struktur jaringan dalam video promosi ini terbentuk karena topik agama, bukan topik tentang destinasi wisata. Hal tersebut terjadi karena video promosi tersebut menampilkan tradisi sembahyang. Sebagian besar komentar yang dilontarkan para aktor berkonotasi positif, dengan mengungkapkan kekaguman terhadap Pulau Jawa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik storytelling memberikan pengaruh terhadap citra destinasi positif pada khalayak. Namun struktur jaringan yang terbentuk justru karena adanya topik tentang agama, bukan Pulau Jawa sebagai destinasi wisata. Padahal kata ‘Jawa’ telah disebut sebanyak 712 kali.
Drama Korea Sebagai Tayangan Alternatif di Masa Pandemi Covid-19
Shinta Kristanty;
Rini Lestari;
Riyodina G. Praktikto
Avant Garde Vol 10, No 2 (2022): Avant Garde
Publisher : Fakultas Komunikasi & Desain Kreatif - Universitas Budi Luhur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36080/ag.v10i2.2108
Drama Korea menjadi daya tarik tersendiri khususnya pada saat pandemi covid – 19 melanda Indonesia. Bagi para penonton nya, drama Korea atau biasa disebut drakor ini dapat menjadi tayangan alternatif ditengah maraknya pemberitaan tentang wabah Covid – 19, sehingga penonton di Indonesia jumlahnya meningkat. Plot yang kuat seperti alur cerita yang tidak mudah ditebak oleh penontonya, genre drama yang bervariasi dan tentu saja didukung dengan kemampuan akting dari pemain yang dapat dengan akting nya terkesan apa adanya dan tidak dibuat – buat (misalnya mudah menangis secara alami) menyebabkan banyak warga Asia yang melihat drama Korea menjadi terbawa pada suasana dalam adengan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya tarik drama Korea di masa pandemi Covid – 19. Teori yang digunakan adalah Uses And Gratification. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian antara lain para informan menonton drama Korea di masa pandemi Covid – 19 untuk memenuhi kebutuhan memperoleh informasi yaitu tentang budaya Korea yang dikomunikasikan dalam drama yang disaksikan, memperoleh pengalaman yang menyenangkan yaitu alur cerita yang disuguhkan dapat mempengaruhi perasaan penonton serta akting dari para pemenrannya, memenuhi kebutuhan integritas social yaitu dapat menjadi bahan berdiskusi antar anggota keluarga dan memperoleh hiburan ketika menonton drama Korea, penonton dapat menghilangkan kejenuhan di masa pandemic Covid – 19, serta lebih relaks menjalani kebiasaan baru yaitu di rumah saja.
Sosial Media Sebagai Media Baru dalam Perspektif Praktisi Public Relations Pada Era Generasi Milenial
Eko Putra Boediman
Avant Garde Vol 10, No 2 (2022): Avant Garde
Publisher : Fakultas Komunikasi & Desain Kreatif - Universitas Budi Luhur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36080/ag.v10i2.2119
Teknologi internet melahirkan istilah sosial media sekaligus menjadi sebuah “media baru” yang kini menjadi perangkat mutlak dan wajib bagi para praktisi Public Relations (PR). Fenomena ini terus berlangsung hingga saat ini dan tentu saja memiliki dampak perubahan besar dan mendasar, terutama bagaimana perubahan karakteristik dan alur penyebaran informasi yang terjadi di persimpangan era Generasi Milenial dan Generasi Z ini. Penggunaan media sosial masih didominasi oleh transaksi penjualan langsung online, sementara peran dan fungsi PR belum banyak mewarnai jagad media sosial. Akan tetapi perubahan karakteristik dan gaya hidup generasi saat ini sudah banyak berubah. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan peran dan fungsi Public Relations dalam pemanfaatan sosial media sebagai bagian dari pertumbuhan “new media.”. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menafsirkan suatu realitas dan berusaha merumuskan konsep maupun teori berdasarkan realita yang dialami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyaluran informasi melalui media massa yang awalnya bersifat satu arah, terpatahkan dengan hadirnya sosial media. Penilaian akan suatu fenomena kini menjadi milik publik yang heterogen, anonim dan tersebar karena penyebaran informasi yang lebih cepat, efisien, dan mudah didapat oleh semua lapisan masyarakat. Oleh sebab itu, praktisi Public Relations yang berfungsi menciptakan kesan baik pada sebuah organisasi, selayaknya mempunyai kemampuan menganalisa dan mengolah informasi yang tersebar di sosial media untuk kemudian dimanfaatkan dalam membangun citra sebuah organisasi.
Emotional Bonding in Coffee Shops Toward Society 5.0
Lidya Wati Evelina;
Yulianne Safitri
Avant Garde Vol 10, No 2 (2022): Avant Garde
Publisher : Fakultas Komunikasi & Desain Kreatif - Universitas Budi Luhur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36080/ag.v10i2.2089
Penelitian ini menjelaskan tentang perubahan tren yang terjadi di kedai kopi dengan pendekatan 5.0 yang tidak lagi mengandalkan pada lokasi strategis, namun menekankan pada kekuatan dalam promosi yang mengandalkan media sosial Instagram, dan pengalaman pelanggan di kedai kopi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konten media sosial yang diunggah di Instagram dan layanan pelanggan di kedai kopi untuk membentuk ikatan emosional yang pada akhirnya menghasilkan kepercayaan dan komitmen dengan pelanggan. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah strategi digital branding, emotional bonding, guerilla marketing dan customer experience 5.0. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi virtual. Hasil penelitian tentang ikatan emosional antara pelanggan dengan kedai kopi ditunjukkan dengan pelanggan ingin datang berulang kali ke kedai kopi karena kangen dengan suasana kedai kopi, obrolan yang terjadi saat menunggu kopi diseduh dan memantau kapan kedai kopi buka/tutup. Penelitian juga menemukan kedai kopi menyediakan fasilitas Wi-Fi dengan kuota yang besar.l dan mereka mengandalkan kekuatan storytelling pada konten Instagram dan perlakuan khusus bagi konsumen saat melayani. Hal tersebut memperkuat kepercayaan dan komitmen pelanggan untuk kembali lagi. Dari hasil penelitian ini dapat dibentuk sebuah model untuk menunjukkan proses emotional bonding dalam Society 5.0. Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam mendeskripsikan proses emotional bonding yang terjadi di kedai kopi, penelitian selanjutnya dapat mengukur seberapa besar pengaruh emosional bonding yang terjadi terhadap loyalitas pelanggan kedai kopi.
Penggunaan Aplikasi Peduli Lindungi Oleh Lansia Ditinjau Dari Teori Difusi Inovasi
Chici Herlina Malik;
Nadhira Faza Auliya;
Mochamad Iqbal
Avant Garde Vol 10, No 2 (2022): Avant Garde
Publisher : Fakultas Komunikasi & Desain Kreatif - Universitas Budi Luhur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36080/ag.v10i2.1921
PeduliLindungi adalah aplikasi untuk mengurangi skala infeksi COVID-19 di Indonesia. Aplikasi PeduliLindungi dinilai sebagai pembaharuan inovasi berupa aplikasi yang dapat menjadi media komunikasi satu atap untuk penyampaian informasi umum terkait COVID 19 secara terkendali dan transparan. Namun, ternyata banyak pengguna lansia yang kesulitan menggunakannya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan pengguna aplikasi usia lanjut. Inti permasalahan disini terkait inovasi pemerintah mengenai penggunaan aplikasi PeduliLindungi, literasi teknologi lansia yang rendah. Peneliti menganalisis implementasi komunikasi aplikasi PeduliLindungi antara warga lanjut usia di Kota Cimahi dalam kaitannya dengan keputusan inovasi dalam lima tahap, yaitu: tahap pengetahuan, tahap persuasi, tahap pengambilan keputusan, tahap implementasi dan tahap konfirmasi. Teori yang digunakan penelitian kali ini merupakan teori difusi inovasi yang menurut Everett M. Rogers adalah penyebaran inovasi dalam arti proses dimana ide dan gagasan baru ditransmisikan ke sistem sosial dan perubahan perilaku terjadi di masyarakat. Hasil yang diperoleh berfokus pada hasil yang dirasakan oleh pengguna yang lanjut usia ketika selama menggunakan aplikasi PeduliLindungi agar dapat menemukan hubungan antara subjek dan objek penelitian. Berdasarkan hasil penelitian wawancara, terdapat 12 informan menunjukkan sikap penolakkan dan 7 informan lainnya menunjukan sikap menerima terhadap adanya aplikasi Peduli Lindungi.
Analisis Resepsi Crew BudiLuhur TV Tentang Youtube Channel Radio 101.8 Bahana FM Jakarta #VLOGBODJO
Muhammad Iqbal Naufal
Avant Garde Vol 10, No 2 (2022): Avant Garde
Publisher : Fakultas Komunikasi & Desain Kreatif - Universitas Budi Luhur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36080/ag.v10i2.2087
Radio merupakan media yang disiarkan melalui alat pemancar dalam jarak tertentu. Penemuan teknologi digital telah mengubah total cara manusia berkomunikasi, termasuk penyiaran radio. Radio dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, terutama dengan cara berkomunikasi khalayaknya. Agar khalayak mau bertahaan, radio harus beradatasi dengan cara komunikasi khalayaknya. Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui penerimaan khalayak terhadap tayangan youtube channel Bahana 101,8 FM Jakarta #VLOGBODJO. Rumusan masalah berfokus pada bagaimana penerimaan khalayak tentang tayangan video pada youtube channel Bahana FM playlist #VLOGBODJO. Teori Analisis Resepsi versi Stuart Hall digunakan sebagai alat analisis dalam penelitian ini. Teori ini membagi penerimaan khalayak dalam 3 kategori: Dominan, Negosiasi, Oposisi. Metode yang digunakan adalah Analisis Resepsi. Subyek penelitian adalah produser Bahana 101,8 FM Jakarta VlogBodjo dan 10 orang orang penggiat konten youtube yang tergabung dalam komunitas BudiLuhur TV. Hasil analsis data penelitian ini menunjukkan 7 dari 10 informan memiliki penerimaan Dominan, 3 Negosiasi terhadap youtube channel Radio Bahana 101,8 FM Jakarta. Berkaitan dengan konsistensi penayangan, 5 dari 10 informan memiliki pemaknaan Negosiasi dan 5 informan memiliki pemaknaan Oposisi. Berkaitan dengan host dalam vlog ini, 8 dari 10 informan memiliki pemaknaan Dominan dan 2 memiliki pemaknaan Negosiasi. Berkaitan dengan konten, 4 informan memiliki pemaknaan Dominan, 4 memiliki pemaknaan Negosiasi, dan 2 memiliki pemaknaan Oposisi.
Representasi Makna Maskulinitas Iklan MSGlow For Men: Analisis Multimodal Kress dan Van Leeuwen
Santika Vania Putri
Avant Garde Vol 10, No 2 (2022): Avant Garde
Publisher : Fakultas Komunikasi & Desain Kreatif - Universitas Budi Luhur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36080/ag.v10i2.1930
Iklan selalu bersifat manipulatif dan memiliki kemampuan untuk mengubah sudut pandang seseorang. Maskulinitas merupakan sebuah konsep yang dikonstruksi oleh masyarakat, seringkali melalui iklan yang memperlihatkan standar ketampanan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa meskipun menggunakan model non-dominan maskulin, stereotip maskulin tetap ada. Media seharusnya memberdayakan kelompok termarjinalkan dan bukan memaksakan stereotip. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Multimodal oleh Kress dan Van Leeuwen. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa iklan merupakan salah satu media massa yang termasuk dalam wacana multimodal karena terdiri dari sumber semiotika yang lebih kompleks dalam membentuk makna. Kompleksitas ini disebabkan oleh pesan yang disampaikan adalah melalui verbal dan visual, yang menciptakan unit makna keseluruhan. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana makna maskulinitas direpresentasikan dalam iklan MSGlow For Men. Objek iklan MSGlow For Men dipilih karena terbilang unik karena menampilkan laki-laki yang berasal dari kelompok marjinal dan termasuk dalam maskulinitas non-dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan MSGlow For Men tidak mendobrak stereotip ketampanan laki-laki yang telah hadir, melainkan memarjinalisasi kelompok maskulinitas non-dominan. Pembuatan iklan dan penggunaan brand ambassador bukan untuk menjual produk atau mendobrak stereotip, melainkan untuk melanggengkan stereotip yang sudah ada dan viralitas.
Mediamorphosis Sebagai Strategi Pertahanan Eksistensi Radio Prambors 102,2 FM Jakarta
Liza Dwi Ratna Dewi;
Faiz Fachreza
Avant Garde Vol 11, No 1 (2023): Avant Garde
Publisher : Fakultas Komunikasi & Desain Kreatif - Universitas Budi Luhur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36080/ag.v11i1.2274
Environmental changes, especially the development of Communication Information Technology (ICT) required change. The process of changing media is known as mediamorphosis. This study determines the formulation of the problem: how is mediamorphosis carried out by Prambors 102.2 FM Radio (Prambors) as a strategy to maintain existence. This study uses the concept of Fidler's mediamorphosis and Castells’s network society. This study applies a qualitative descriptive method. Research subject is Prambors Management. Risearch object is Prambors metamorphosis. Primary data collection by interviewing resource persons: Agatha Theodora, Mayada Sugkar, Filnest Fandary; Observations on the Prambors multiplatform related to Kuis “Kabur Libur” and field observations at “Mendadak Sepedahan” event. Secondary data is collected via the internet from various sites. The research was conducted in June 2021 – April 2022. The analysis divides into 3 parts, namely: work method, media form and media content. In the past, the work method of program design were carried out by brainstorming creative teams, currently it is carried out by brainstorming or listener research which is packaged in various forms of quizzes. The data from this research is then processed by the creative team in a work program called story art. Media form that were originally on air and off air, now exist in multiplatforms that are popular with audiences by not leaving on air and off air. This form will continue to change following the desired form of media audiences. Content that used to contain songs, broadcasters and guest stars, now audiences are part of the content.
Citra Diri dan Motif: Fenomena Perempuan Bertato di Kota Metropolitan Jakarta
Aurora Amira;
Ruslan Ramli;
Erna Febriani;
Ballian Siregar
Avant Garde Vol 11, No 1 (2023): Avant Garde
Publisher : Fakultas Komunikasi & Desain Kreatif - Universitas Budi Luhur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36080/ag.v11i1.2324
This study was intended to determine the relationship between self-image and tattooed women who live in the metropolitan city of Jakarta. The purpose of this study was to examine the meaning of symbolic communication and the self-image built by tattooed women in the metropolitan city of Jakarta. The grand theory used in this research is George Herbert Mead's theory of symbolic interaction and also the theory of self-image. The research method used is a qualitative approach with a phenomenological perspective. The interviewees were ten women with tattoos, using the snowball sampling technique. This research has succeeded in revealing several factors of women's motives with tattoos, e.g., tattoos as works of art, media for self-expression, expressions of depression, history, spirituality, and pleasure only. The conclusion of this study is that tattooed women believe that tattoos can form a positive self-image because, with tattoos, they can increase self-confidence and get to know themselves better. These tattooed women do not want a negative view of their tattoos because not all tattooed women are criminals or have deviant behavior. The implication of this research is that women with tattoos do not need to hear negative views from other people and can build a good self-image for themselves; thus, their tattoos are not underestimated by other people.