cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 723 Documents
PENGARUH ADULT ATTACHMENT STYLE TERHADAP KEPUASAN PERNIKAHAN PADA DEWASA AWAL Sherly Sherly; Denrich Suryadi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i2.19170.2022

Abstract

Relationships with other people are one of the most important things in one’s life. Young adults who are in the phase of forming intimate relationships with others tend to develop romantic relationships and get married. In marriage, marital satisfaction can affect one's life both positively and negatively. Therefore, this study wanted to find what factors could affect marital satisfaction. This study aims to determine whether there is an effect of adult attachment style on marital satisfaction in early adulthood. This study aims to discover the effect of young adults’ adult attachment style on marital satisfaction. This study was conducted on 161 married young adults with children in the age range of 20-40 years old. Moreover, this research is quantitative research by giving a questionnaire that was shared online. The instruments used for this research are Experiences in Close Relationships-Revised (ECR-R) and ENRICH Marital Satisfaction Scale (EMS). The results of this research indicate that anxiety attachment and avoidance attachment have negative impacts on internet addiction (F=83.489, t = -2.630 for anxiety attachment and t= -10.139 for avoidance attachment, p < 0.05). The effect of anxiety attachment and avoidance attachment on marital satisfaction is 51.4%. This effect indicated that individuals with high anxiety attachment or avoidance attachment had a lower level of marital satisfaction.
PERAN MOTIVASI BELANJA DAN KONTROL DIRI TERHADAP PERILAKU KONSUMTIF PADA K-POPER PEREMPUAN REMAJA AKHIR Tarisha Azzahra Saneva; Ninawati Ninawati; Meike Kurniawati
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i2.19230.2022

Abstract

This research aimed to determine the effect of shopping motivation and self-control on consumptive behavior in K-poper late adolescent girls. K-Pop fans or also known as K-popers are a group of people who like / enjoy music that comes from South Korean singers. This study used a non-experimental quantitative method with 387 late adolescent girls as participants aged 18-21 years who buy Korean merchandise in North Sumatra. This study used a measuring instrument The Brief Self-control Scale, a measuring tool for consumptive behavior, and a measuring tool for shopping motivation. Data processing was using Statistical Product and Service Solutions (SPSS) version 25. The results of this study indicated that there is an effect of self-control on consumptive behavior with a percentage of 24% and the effect of shopping motivation on consumptive behavior with a percentage of 1%. The conclusion of this research showed that the role of self-control on consumptive behavior is much greater than shopping motivation.
PERAN INTENSITAS PENGGUNAAN INSTAGRAM DI MASA PANDEMI COVID-19 TERHADAP KECEMASAN PADA DEWASA MUDA Agnes Claristia; Sandi Kartasasmita
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i2.18754.2022

Abstract

Kecemasan adalah kondisi emosional saat orang merasa takut dan cemas berlebihan terhadap sesuatu yang dapat melibatkan ransangan fisik, misalnya jantung berdebar dan berkeringat. Kecemasan dapat dipengaruhi oleh jenis pekerjaan, jenjang pendidikan, dan jenis kelamin. Kecemasan menjadi salah satu penyebab masalah kesehatan mental pada usia muda. Pada usia dewasa muda, individu dituntut untuk lebih bertanggung jawab pada dirinya, mulai mandiri secara ekonomi, memiliki pekerjaan, dan mengambil keputusan sendiri. Padamasa pandemi COVID-19, individu tidak dapat terlepas dari media sosial. Pada dewasa ini, Instagram adalah salah satu media sosial yang memiliki pengguna yang cukup banyak, hingga Desember 2021 pengguna Instagram mencapai 92,53 juta. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran intensitas penggunaan Instagram di masa pandemi COVID-19 terhadap kecemasan pada dewasa muda. Partisipan pada penelitian ini berjumlah 448 orang (335 perempuan; 93 laki-laki) yang berusia 18-25 tahun. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah alat ukur intensitas penggunaan Instagram dan State-Trait Anxiety Inventory (STAI). Teknik analisa yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi linear sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peran negatif intensitas penggunaan Instagram terhadap kecemasan (? = -0.214, p &lt; 0.001). Sehingga dapat disimpulkan bahwa, semakin tinggi intensitas penggunaan Instagram, maka kecemasan semakin rendah, dan sebaliknya. Adapun besar variansi yang diberikan intensitas penggunaan Instagram terhadap kecemasan adalah sebesar 4.6%.
GAMBARAN KONTROL DIRI PADA PENDERITA OBSESSIVE COMPULSIVE DISORDER DI MASA PANDEMI COVID-19 Cherise Ventresca; Debora Basaria; Untung Subroto
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i2.18782.2022

Abstract

Pandemi COVID-19 ditemukan dapat memperburuk gangguan Obsessive Compulsive Disorder (OCD), khususnya pada penderita OCD jenis cleaning. OCD adalah gangguan yang ditandai dengan munculnya pikiran atau gambaran yang mengganggu dan/atau perilaku berulang yang dilakukan oleh individu sebagai upaya untuk mengurangi kecemasan. Penderita OCD umumnya merasa tidak memiliki kontrol atas diri mereka sendiri. Kontrol diri adalah kemampuan individu untuk mengendalikan pikiran, perasaan, dan perilakunya dalam menahan atau mengesampingkan keinginannya. Penderita OCD harus memiliki kontrol diri untuk mengatasi obsesi dan/atau kompulsi yang mereka alami. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran kontrol diri pada penderita OCD di masa pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan subjek penelitian ini terdiri dari 3 orang penderita OCD jenis cleaning berusia 20-40 tahun yang berdomisili di Jabodetabek. Berdasarkan hasil penelitian, dari 3 aspek yang terkandung dalam kontrol diri hanya 1 aspek yang dipenuhi oleh ketiga subjek dalam penelitian ini, yaitu kontrol kognitif. Ketiga subjek dalam penelitian ini memenuhi aspek kontrol kognitif dengan melakukan self-reassurance, mempertimbangkan dampak dari perilaku kompulsif, dan mengevaluasi sisi positif dari situasi yang sedang mereka hadapi. Sedangkan 2 aspek kontrol diri lainnya, yaitu kontrol perilaku hanya dipenuhi oleh 1 dari 3 orang subjek dan kontrol keputusan hanya dipenuhi oleh 2 dari 3 orang subjek. The COVID-19 pandemic has been found to exacerbate Obsessive Compulsive Disorder (OCD), especially in cleaning-type OCD sufferers. OCD is a disorder characterized by the appearance of disturbing thoughts or images and/or repetitive behaviors performed by individuals in an attempt to reduce anxiety. People with OCD generally feel they have no control over themselves. Self-control is the ability of individuals to control their thoughts, feelings, and behavior in restraining or overriding their desires. People with OCD must have self-control to deal with their obsessions and/or compulsions. The purpose of this study was to provide an overview of self-control in patients with OCD during the COVID-19 pandemic. This study used a qualitative method and the research subjects consisted of 3 people with cleaning type OCD aged 20-40 years who live in the Greater Jakarta area. Based on the results of the study, of the 3 aspects contained in self-control, only 1 aspect was fulfilled by the three subjects in this study, namely cognitive control. The three subjects in this study fulfilled aspects of cognitive control by doing self-reassurance, considering the impact of compulsive behavior, and evaluating the positive side of the situation they were facing. While the other 2 aspects of self-control, namely behavioral control is only fulfilled by 1 of 3 subjects and decisional control is only fulfilled by 2 of 3 subjects.
HUBUNGAN ANTARA PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DAN PROBLEMATIC INTERNET USE PADA MAHASISWA YANG MENJALANI PEMBELAJARAN DARING SELAMA PANDEMI COVID-19 Lovelyn Meidiana; Sandi Kartasasmita
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i2.18870.2022

Abstract

ABSTRACTCOVID-19 pandemic has created an emergency situation in education field to change the face-to-face learning system becomes online learning. Previous studies have shown that online learning give a negative impact to student’s psychological condition that causes a decrease in student’s Psychological Well-Being. A decrease in Psychological Well-Being will led to a tendency for student to use the internet impulsively, compulsively, and uncontrollably that can cause further problems called Problematic Internet Use (PIU). This study aims to examine the relationship between Psychological Well-Being and Problematic Internet Use (PIU) among university students that undergoing online learning during the COVID-19 pandemic. This study is a non-experimental correlation study with quantitative approach, involving 400 participants obtained using purposive sampling. The instruments used are Psychological Well-Being scale from the Research and Measurement Section of Faculty of Psychology Universitas Tarumanagara and the Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS 2). Hypothesis testing using pearson correlation test analysis obtains r(400) = -0.360; p = 0.000 < 0.05, reveals that there is a significant negative relationship between Psychological Well-Being and Problematic Internet Use (PIU). This result means that when Psychological Well-Being increases, accordingly Problematic Internet Use (PIU) decreases, and vice versa. Furthermore, no significant difference was found in Problematic Internet Use (PIU) variables based on intensity of internet use for professional purposes. Meanwhile, there is a significant difference in Problematic Internet Use (PIU) based on the intensity of internet use for general purposes  ABSTRAKPandemi COVID-19 telah menciptakan situasi darurat pada bidang pendidikan untuk mengubah sistem kegiatan belajar mengajar secara tatap muka menjadi dalam jaringan (daring). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pembelajaran daring berdampak negatif terhadap kondisi psikologis mahasiswa yang menyebabkan penurunan pada Psychological Well-Being mahasiswa. Menurunnya Psychological Well-Being dapat menimbulkan kecenderungan mahasiswa untuk menggunakan internet secara impulsif, kompulsif, dan tidak dapat dikontrol, sehingga dapat menyebabkan masalah lebih lanjut yang disebut Problematic Internet Use (PIU). Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara Psychological Well-Being dan Problematic Internet Use (PIU) pada mahasiswa yang sedang menjalani kegiatan belajar mengajar secara daring selama pandemi COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian korelasi non-eksperimental menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 400 partisipan yang diperoleh menggunakan purposive sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat ukur Psychological Well-Being dari Bagian Riset dan Pengukuran Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara dan Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS 2). Hasil uji korelasi pearson, memperoleh nilai r(400) = -0.360; p = 0.000 < 0.05, menunjukan adanya hubungan negatif yang signifikan antara Psychological Well-Being dan Problematic Internet Use (PIU). Mengartikan bahwa ketika Psychological Well-Being meningkat, maka Problematic Internet Use (PIU) menurun, dan begitupun sebaliknya. Berdasarkan hasil analisa tambahan, ditemukan bahwa tidak terdapat perbedaan pada variabel Problematic Internet Use (PIU) berdasarkan intensitas penggunaan internet untuk tujuan profesional. Sedangkan terdapat perbendaan pada variabel Problematic Internet Use (PIU) bersadarkan intensitas penggunaan internet untuk tujuan umum.
KONTROL DIRI SEBAGAI PREDIKTOR KEPUASAN HIDUP MAHASISWA DI MASA PANDEMI COVID-19 Fellisia Fellisia; Erik Wijaya
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i2.19082.2022

Abstract

Selama masa pandemi, memberikan pengaruh pada aspek-aspek kehidupan masyarakat, terutama pada pendidikan. Proses pembelajaran yang awalnya dilakukan secara offline sekarang dilakukan secara online. Hal ini pun memberikan dampak pada kepuasan hidup mahasiswa. Pada penelitian sebelumnya, masyarakat China dan Amerika telah menunjukkan adanya hubungan positif pada kontrol diri dan kepuasan hidup (Li et al., 2016). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kontrol diri terhadap kepuasan hidup mahasiswa selama masa pandemi. Oleh karena itu, untuk mendukung penelitian ini, penulis memperoleh partisipan penelitian sebanyak 431 mahasiswa/i yang berusia antara 18 – 25 tahun. Selanjutnya, peneliti menggunakan teknik non-probability sampling dengan jenis sampel yaitu convenience sampling untuk mencari partisipan. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini, yaitu Brief Self - Control Scale yang telah diadaptasikan versi Indonesia oleh Arifin dan Milla (2020) dan Satisfaction with Life Scale. Melalui uji regresi linear, telah dibuktikan bahwa kontrol diri memiliki pengaruh positif secara signifikan terhadap kepuasan hidup mahasiswa selama masa pandemi (F= 8.683, t=2.947, p < 0.05), yang berarti individu yang memiliki kontrol diri yang tinggi, maka memiliki kepuasan hidup yang tinggi.
PERAN SELF-INADEQUACY TERHADAP PHUBBING DENGAN DISTRES PSIKOLOGIS SEBAGAI MEDIATOR Merry Ningtias; Rostiana Rostiana; Abdul Malik Gismar
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i2.19176.2022

Abstract

Adanya distres psikologis yang dialami diasumsikan berperan dalam pembentukan fenomena phubbing. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran self-inadequacy terhadap phubbing serta untuk mengetahui peran distres psikologis sebagai mediator dalam hubungan antara self-inadequacy dan phubbing. Penelitian ini dilakukan pada 320 partisipan berusia 14-48 tahun. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif deskriptif. Alat ukur yang digunakan adalah adaptasi Phubbing Scale dari Karadag (2015) dalam Bahasa Indonesia, adaptasi The Forms of Self-Criticism/Self-Reassuring Scale dari Gilbert (2004) dalam Bahasa Indonesia, dan adaptasi The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) dari Kessler (2002) dalam Bahasa Indonesia. Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada peran yang signifikan dan positif antara self-inadequacy dan phubbing (R2 = 0.099, F = 35.061, B = 0.354, p = 0.000 < 0.05). Artinya, semakin tinggi self-inadequacy yang dimiliki oleh seseorang maka akan semakin tinggi kecenderungan untuk melakukan phubbing, begitu pula sebaliknya. Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa distres psikologis berperan sebagai mediator dalam hubungan antara self-inadequacy dan phubbing. Artinya, kontribusi self-inadequacy terhadap phubbing akan semakin besar ketika individu mengalami distres psikologis.
PENGARUH OVERPARENTING TERHADAP KEPRIBADIAN Heryanti Satyadi; Fransisca Iriani R. Dewi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i2.19346.2022

Abstract

Dalam perkembangannya, anak membutuhkan pengasuhan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan dan usianya agar berkembang secara maksimal. Pengasuhan orang tua berpengaruh atas pembentukan kepribadian anak. Dalam perkembangan hidupnya, terdapat tahap emerging adulthood, yakni tahap masa transisi dari selesainya masa remaja menuju dewasa muda. Ketika itu seorang anak berada pada msa melepaskan diri dari pengasuhan orang tua. Anak sedang berfokus dengan dirinya sendiri dan memiliki otonomi yang besar dalam menjalani kehidupannya, sehingga penting bagi orang tua untuk memberikan kesempatan bagi anak belajar mandiri. Keterlibatan orang tua yang berlebihan pada tahap perkembangan ini disebut overparenting. Hal ini terjadi karena orang tua menyadari peluangnya semakin singkat untuk mengasuh dan membantu anak mencapai potensi terbaiknya. Dampak pengasuhan ini antara lain: anak kehilangan otonomi atas dirinya, tingginya kecemasan serta stres, hingga mengembangkan trait negatif. Selain itu juga dapat menghambat anak dalam mengambil tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, yang seharusnya perlu dikuasai anak menjelang memasuki masa dewasa. Individu yang terhambat oleh overparenting dan gagal memenuhi tuntutan psikologis, dikhawatirkan tidak mencapai kedewasaan secara sempurna, sebaliknya mengembangkan trait maladaptif. Penelitian menguji pengaruh overparenting terhadap terbentuknya trait kepribadian seseorang. Partisipan adalah 184 laki-laki dan perempuan (rerata usia 21.25 tahun). Pengumpulan data dengan Helicopter Parenting Instrument (HPI) dan NEO-Five Factor Inventory (NEO-FFI). Hasil pengujian menunjukkan bahwa overparenting dari ayah secara signifikan dapat menjadi predictor pembentukan trait Neuroticism pada dewasa muda (t-value = 1.97 > 1.96, dengan p < 0.05). Semakin tinggi pengasuhan overparenting ayah, maka semakin tinggi kemungkinan anak memiliki trait neuroticism di usia dewasa muda. Hasil ini sejalan penelitian Odenweller, Booth-Butterfield dan Weber (2014) serta Montgomery (dalam Bradley-Geist & Olson-Buchanan, 2014), adanya hubungan antara overparenting dengan trait neurotisme. Sementara, overparenting ayah maupun ibu tidak berperan signifikan terhadap pembentukan trait lainnya (Extraversion, Openness, Agreeableness serta Conscientiousness).
AKTIVITAS FISIK, GANGGUAN PERILAKU MAKAN, DAN KUALITAS HIDUP: BENARKAN PANDEMI MENGUBAH KESADARAN HIDUP SEHAT? Dhini Andriani; Shally Novita; Mariusz Lipowski
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i2.14892.2022

Abstract

Situasi pandemi dan PSBB menyebabkan perubahan perilaku terutama gaya hidup seperti aktivitas fisik dan makan secara massif. Riset ini berujuan untuk mengetahui bagaimana perubahan aktivitas fisik dan gangguan perilaku makan sebelum dan saat pandemi, serta bagaimana perubahan tersebut berpengaruh terhadap kualitas hidup, yaitu kesehatan fisik dan kesehatan mental. Sampel terdiri dari 172 responden (usia rata-rata = 23.77; SD = 7.73; 90.70% wanita) yang diperoleh melalui online survei. Alat ukur yang digunakan adalah SF-12 dan Eating Attitude Tes (EAT). Analisis statistik menggunakan t-test dan Structural Equation Model (SEM). Hasil menunjukkan bahwa kesadaran untuk melakukan aktivitas fisik jauh lebih tinggi pada saat pandemik daripada sebelumnya. Hal ini dapat disebabkan karena meningkatnya kesadaran untuk menjaga kesehatan sehingga tidak mudah tertular COVID-19. Sementara itu, pada saat pandemi terdapat kecenderungan untuk melakukan kontrol makan yang lebih ketat daripada sebelumnya. Menjaga pola makan menjadi lebih ketat membuat individu untuk tetap dapat menjaga berat badannya, berat badan yang tetap terjaga dapat menjaga kesehatan fisik dan kesehatan mental. Analisis SEM menunjukkan bahwa usia, tingkat pendidikan dan gangguan perilaku makan berdampak terhadap kesehatan fisik sedangkan area tempat tinggal dan gangguan makan berdampak signifikan terhadap kesehatan mental selama pandemi. Aktivitas fisik tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan fisik dan kesehatan mental. Pandemi memberi dampak positif dengan membangun gaya hidup yang lebih sehat dengan melakukan aktivitas fisik. Riset lanjutan dibutuhkan untuk dapat mengetahui keberlajutan pola hidup sehat tersebut.
FANS K-POP DAN ISU SOSIAL: SEBUAH KAJIAN ETHNOGRAFI DIGITAL PADA KETERLIBATAN FANDOM K-POP DENGAN ISU SOSIAL DI MEDIA SOSIAL Kusnul Fitria
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i2.16299.2022

Abstract

Tulisan ini menitik beratkan pada permasalahan bagaimana fans K-pop terlibat pada isu-isu sosial terutama di media sosial. Tujuan utama penulisan artikel ini adalah untuk menujukkan sisih lain kegiatan fans K-pop sehingga fans Kpop tidak lagi dipandang sebagai sekumpulan orang yang fanatik dan bodoh. Dengan menggunakan metode etnografi digital, penelitian ini menunjukkan hasil bahwa fandom K-pop yang dikenal dengan berbagai stigma negatif yang melekat pada diri dan berbagai aktivitasnya ternyata memiliki sisi positif. Aktivitas ini dikenal dengan istilah fans activism dan aktivitas yang menujukkan keterlibatan fans K-pop pada isu sosial ini banyak terjadi melalui berbagai sosial media. Ada banyak cara yang digunakan oleh fans K-pop untuk terlibat dengan isu sosial, salah satunya adalah dengan cara melakukan mengunggah yang berkaitan dengan isu sosial secara serentak sehingga menjadi viral dan bisa menutupi permasalah lainnya. Salah satu contoh keterlibatan penggemar K-pop dengan isu sosial di media sosial adalah Ketika penggemar K-pop membuat unggahan fancam idolanya untuk membantu kampanye gerakan #BlackLivesMatter. Keterlibatan fans K-pop pada isu sosial juga terjadi pada ranah politik seperti permasalahan Omnibus law dan keberhasil fans K-pop menyabotase kampanye salah satu calon presiden Amerika Serikat. Keterlibatan fans k-pop dalam berbagai isu sosial juga terjadi saat pandemi Covid 19 berlangsung dimana dalam masa pandemik COVID-19, penggemar K-pop beramai-ramai saling mengingatkan untuk jaga kesehatan dan mematuhi aturan yang sudah ditetapkan. Keterlibatan fandom K-pop pada isu sosial juga dilakukan dengan cara menggunpulkan donasi melalui berbagai media sosial mereka. Keterlibatan penggemar K-pop dalam isu sosial merupakan salah satu cara bagi fandom K-pop yang mayoritas adalah anak muda untuk menujukkanrasa kepeduli terhadap masalah sosial yang sedang terjadi dan untuk membuktikan bahwa fandom K-pop bukan hanya sekeompok orang yang bodoh.  This paper focuses on the problem of how K-pop fans is involved in social issues, especially on social media. The main purpose of this article is to show another side of the activities of K-pop fans so that K-pop fans are no longer seen as a bunch of fanatics and stupid people. By using the digital ethnography method, this study shows that the Kpop fandom, which is known for its various negative stigmas attached to itself and its various activities, actually has a positive side. This activity is known as fan activism and activities that show the involvement of K-pop fans on social issues often occur through various social media. There are many ways that K-pop fans use to engage with social issues, one of which is by simultaneously uploading related social issues so that they become viral and can cover up other problems. One example of the involvement of K-pop fans with social issues on social media is when K-pop fans make uploads of their idol fancam to help the #BlackLivesMatter movement campaign. The involvement of K-pop fans in social issues also occurs in the political realm, such as the problem of the Omnibus law and the success of K-pop fans in sabotaging the campaign of one of the United States presidential candidates. The involvement of k-pop fans in various social issues also occurred during the Covid 19 pandemic where during the COVID-19 pandemic, K-pop fans flocked to remind each other to take care of their health and obey the rules that had been set. K-pop fandom involvement in social issues is also done by collecting donations through their various social media. The involvement of K-pop fans in social issues is one way for the K-pop fandom, which is mostly young people, to show concern for the current social problems and to prove that K-pop fandom is not just a bunch of stupid people.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 3 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni More Issue