cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmstkik@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
ISSN : 25796402     EISSN : 25796410     DOI : -
Jurnal ini memuat artikel ilmiah dalam bidang Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Setiap artikel yang dimuat telah melalui proses review. Jurnal Muara diterbitkan dalam rangka mendukung upaya pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah di tingkat Nasional. Jurnal Muara ini juga dapat menjadi wadah publikasi bagi para mahasiswa (S1, S2 maupun S3) dan dosen di lingkungan perguruan tinggi. Jurnal ini dikelola oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - Universitas Tarumanagara (DPPM - UNTAR).
Arjuna Subject : -
Articles 373 Documents
STUDI BIOKULTUR KOMBUCHA UNTUK PENGEMBANGAN MATERIAL BANGUNAN LEMBARAN TERURAI HAYATI Lianto, Fermanto; Trisno, Rudy; Husin, Denny
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v5i2.13047

Abstract

Bioculture development in Indonesia is considered limited in comparison to its global phenomena. It is influenced by Western culture and mainly dictated by market demand. Indonesian advanced bio culture development is dominated by food technology. Few focus on the fashion industry, while the rest is categorized as a traditional home industry. Although Indonesia has many natural and cultural potencies, bio culture has not been developed progressively, especially building material. One of the most promising organic materials that are currently trending is kombucha. It is locally and globally popular in the current situation for herbal tea and cosmetic consumption. Although it is traditionally known for herbal tea production, kombucha SCOBY (Symbiosis Culture of Bacteria and Yeast) is also potentially developed as a synthetic material. It has great economic value, unique character and can be created at home. This paper investigates other benefits of kombucha beyond natural remedies. It is planned to be developed at home by anyone as an alternative building material. The research concentrates on developing kombucha SCOBY as a sheet for making a raw sample for building material and another product design. An experimental method is used by modifying conventional and traditional methods for kombucha brewing. This research emphasizes the variety of nutrients in the form of nutrient solutions and bio culture productivity. This research proves that to produce quality SCOBY. The determinants are a starter, medium (tea and sugar), and room quality, respectively. In the trial, only green tea and black tea that produced SCOBY met the sample criteria. In this trial, the results show that the sample quality is equivalent to paper or leather. It can be developed into wallpaper, space dividers, synthetic leather, and edible food packaging.Keywords: building; bio culture; biodegradable; kombucha; material.AbstrakPengembangan biokultur untuk material bangunan di Indonesia masih sangat terbatas dan digeneralisasi oleh tren mancanegara. Umumnya perkembangan biokultur terdikte oleh permintaan industri dan langka dikembangkan dalam skala rumah tangga. Industri rumahan saat ini lebih banyak didominasi pangan dan sandang daripada papan dan dikelola secara tradisional. Padahal Indonesia memiliki potensi kekayaan material alam dan budaya yang beragam, khususnya biokultur perlu mendapatkan kesempatan dalam pengembangan material bangunan baik untuk kebutuhan harian maupun potensi skala lebih besar. Jamur kombucha adalah salah satu material organik yang cepat berkembang dan tersedia di seluruh pelosok negri. Nilai ekonomis, karakter yang unik dan dapat dikembangkan di rumah merupakan salah satu potensinya, sementara masalahnya material ini sensitif, kurang menarik secara visual dan perlu pengelolaan khusus. Penelitian ini bermaksud mengekplorasi potensi lain biokultur kombucha sebagai bahan bangunan terurai hayati dari sekedar minuman tradisional. Metode percobaan eksperimental melalui pengembangan metode primordial yakni fermentasi berskala rumah tangga: mengeksplorasi pertumbuhan jamur dengan media bervariasi dan menghasilkan material bangunan berupa lembaran. Penelitian ini menekankan pada variasi nutrisi berupa larutan bernutrisi dan produktivitas biokultur. Penelitian ini membuktikan bahwa untuk menghasilkan SCOBY (Symbiosis Culture of Bacteria and Yeast) yang berkualitas, faktor penentu secara berurutan adalah: starter, media (teh dan gula) dan kualitas ruangan. Pada uji coba hanya teh hijau dan teh hitam yang menghasilkan SCOBY memenuhi kriteria sampel. Pada uji coba ini hasil menunjukkan kualitas sampel setara kertas atau kulit sehingga berpotensi dikembangkan menjadi wallpaper, pembatas ruang, kulit sintetis dan kemasan makanan yang bersifat edible. 
PEMODELAN SISTEM LAMPU OTOMATIS HEMAT ENERGI UNTUK RUANG KELAS TANPA PEMROGRAMAN Calvinus, Yohanes; Setyaningsih, Endah
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v5i2.3861

Abstract

Lamps are electronic devices that produce light turned out to be one of the components in spending considerable electrical costs. The bigger the room, the space will require a lot of lighting to achieve the value of a lighting level according to the Indonesian National Standard (SNI) in the room. The more lamps that are used, the more wasteful the energy is used. Wasteful of energy, so the expenditure for operational costs will be even greater. The role of technology can be used alongside a culture of energy saving. One of them is a light automation system. Automation systems can be realized without programming. based on a survey the place that requires this automation system is a school classroom. Automation systems can be directly coupled with light systems and manual light switches in classrooms, replacing conventional light-on and off-turn systems in classrooms. Its easy installation provides an example for installing an automation system for schools that have a large number of classrooms. The automation sensor used is a type of sensor that has a way of detecting the movement of people in the room. The sensor that can be used the easiest is the Passive Infra Red (PIR) sensor. This sensor itself is the sensor that is most easily available and quite cheap. In realizing the use of this sensor, more than 1 PIR sensor point is required. Sensors that are used more than 1 point will make grouping part of the lighting system in the classroom. If the classroom is not fully used up to the back of the classroom, then it is enough only to turn it on from the front lights to the middle of the classroom. This supports energy saving efforts. Through this automation, it is hoped that there will be a change in the culture of energy saving side by side with technological developments in terms of its use for energy saving. Keywords: LED; motion sensor; classroom; without programming; automation system AbstrakLampu merupakan alat elektronika yang menghasilkan cahaya ternyata salah satu komponen dalam pengeluaran biaya listrik yang cukup besar. Semakin besar ruangan, maka ruang tersebut akan membutuhkan banyak lampu penerangan untuk mencapai nilai suatu tingkat pencahayaan yang sesuai Standard Nasional Indonesia (SNI) pada ruangan tersebut. Semakin banyak lampu yang digunakan tentu semakin boros energi yang digunakan. Boros energi maka pengeluaran untuk biaya operasional akan semakin besar. Peran teknologi dapat digunakan berdampingan dengan budaya hemat energi. Salah satu nya dengan sistem otomatisasi lampu. Sistem otomatisasi dapat direalisasikan tanpa pemrograman. berdasarkan survei tempat yang membutuhkan sistem otomatisasi ini adalah ruangan kelas sekolah. Sistem otomatisasi dapat langsung dipasangkan dengan sistem lampu dan saklar lampu manual di ruang kelas menggantikan sistem mati nyala lampu secara konvensional di ruang kelas. Pemasangannya yang mudah menjadikan contoh bagi pemasangan sistem otomatisasi bagi sekolah yang memiliki ruang kelas yang cukup banyak. Sensor otomatisasi yang digunakan merupakan jenis sensor yang memiliki cara kerja untuk mendeteksi pergerakan orang di dalam ruangan. Sensor yang dapat digunakan paling mudah yaitu sensor Passive Infra Red (PIR). Sensor PIR merupakan sensor yang paling mudah didapatkan dan cukup murah. Dalam realisasi penggunaan sensor ini diperlukan lebih dari 1 titik sensor PIR. Sensor yang digunakan lebih dari 1 titik akan membuat pengelompokkan bagian dari sistem pencahayaan di ruang kelas tersebut. Jika ruang kelas tidak digunakan sepenuhnya hingga bagian belakang kelas, maka cukup hanya dinyalakan dari lampu bagian depan hingga ruang tengah kelas. Hal ini mendukung upaya hemat energi. Melalui otomatisasi ini diharapkan ada perubahan budaya hemat energi yang berdampingan dengan perkembangan teknologi dalam hal pemanfaatannya untuk hemat energi.  
PENDEKATAN SEMI-AUTONOMOUS SOCIAL FIELD DALAM STUDI DAN PERENCANAAN PERKOTAAN: TELAAH METODOLOGIS Fahmi, Erwin
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v5i2.8980

Abstract

This study discusses an approach widely used in the study of legal anthropology, i.e., semi-autonomous social field, for its potential application in the fields of urban studies and planning. This approach is considered highly relevant as it explains what and why discrepancies take place between what is dictated by state policy (including spatial planning) and what is actually accepted and applied in a semi-autonomous social field, like community or organization/company. By understanding these discrepancies, we may be able to appreciate the existence of local norms, values, and habits and, therefore, also of legal pluralism. Once again, as a legal product, urban plan is also bound to such an understanding. Two examples are taken to illustrate the application of this approach. In both illustrations, processes of elaboration, adjustment, acceptance, and conflict were demonstrated. Keywords: semi autonomous social field, rules-in-use, urban studies and planning. AbstrakKajian ini membahas pendekatan yang lazim digunakan dalam kajian antropologi hukum, yaitu bidang sosial semi-otonom, dan potensi penerapannya dalam bidang studi dan perencanaan perkotaan. Pendekatan ini dipandang sangat relevan karena menjelaskan apa dan mengapa terjadi perbedaan antara apa yang ditetapkan oleh kebijakan negara (termasuk rencana tata ruang) dan apa yang sesungguhnya diterima dan diterapkan dalam bidang sosial semi-otonom, seperti komunitas atau organisasi/perusahaan. Dengan memahami ketidaksesuaian tersebut kita dapat mengapresiasi keberadaan norma, nilai dan kebiasaan lokal dan karenanya juga dapat menghargai pluralisme hukum. Sekali lagi, sebagai produk hukum, rencana kota juga terikat pada pemahaman semacam itu. Dua contoh digunakan untuk mengilustrasikan penerapan pendekatan ini. Dalam kedua contoh, proses-proses elaborasi, penyesuaian, penerimaan, dan konflik ditunjukkan.
ANALISA AKAR MASALAH RADIAL RUN OUT BAN MENGGUNAKAN DECISION TREE Biantoro, Bambang; Hernadewita, Hernadewita
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v5i2.9417

Abstract

Problem solving in the multistage production process is a challenge for the industry. The use of modern techniques such as machine learning in solving quality problems continues to be developed. One of the machine learning is decision tree. The tire industry entered the era of industrial revolution 4.0 with the use of information technology. Utilizing data using machine learning in finding the root cause of the problem can support the tire industry in industrial competition. This study aims to explore the process data in the tire industry to solve one of the tire quality problems, namely radial run-out tires. The technique of finding the root of the problem in this research is done using Classification and Regression Tree (CART) technique. Input variables involve 60 factors in the production process. From the research, it was found that the factors that influence the radial run out value are the lot of the Tread, Bead and Sidewall components. The factors causing the high radial run-out of the tires are the variations in the lot of the tire components Tread and Bead. The decision tree model that was formed has a precision level of 74.7% in detecting high radial run-out events. The effects of improvement on the lot tread and bead components resulting from the decision tree can reduce the defect of radial run out rate by 99.9%. Keywords: Decision tree; Root cause analysis;  Radial run-out Tire; Data mining AbstrakPemecahan masalah pada proses produksi multistage merupakan tantangan untuk indusri. Pemanfaatan teknik modern seperti machine learning dalam pemecahan masalah kualitas terus dikembangkan. Salah satu machine learning adalah decision tree. Industri ban memasuki era industri revolusi 4.0 dengan adanya pemakaian teknologi informasi seperti barcode atau radio frequency identification. Pemanfaataan data dengan menggunakan machine learning dalam pencarian akar masalah bisa mendukung industri ban dalam kompetisi industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi data proses pada industri ban untuk memecahkan permasalahan kualitas ban yaitu radial run-out ban. Teknik pencarian akar masalah dilakukan menggunakan Clasification and Regression Tree (CART). Variabel input melibatkan 60 faktor dalam proses produksi. Dari penelitian didapatkan faktor yang mempengaruhi nilai radial run out adalah lot komponen Tread, Bead dan Sidewall. Untuk faktor penyebab tingginya radial run-out ban adalah variasi lot komponen Tread dan Bead. Model decision tree yang terbentuk memiliki tingkat presisi 74,7% dalam mendeteksi kejadian radial run-out berkategori tinggi. Efek perbaikan pada komponen lot Tread dan Bead yang dihasilkan dari decision tree dapat menurunkan tingkat defect radial run- out ban sebesar 99,9%.
ANALISIS DAMPAK PEMBUKAAN GALIAN UNTUK CONNECTING BASEMENT TERHADAP BANGUNAN EKSISTING DENGAN METODE FINITE ELEMENT Amelia, Della; Sumarli, Inda; Iskandar, Ali
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v5i2.10873

Abstract

In a deep excavation construction that adjacent to the existing buildings there is a concern that it will have a bad impact or effect on adjacent buildings.  The effect of deep excavation induced deformation of the existing structures due to ground movements and ground surface settlement behind the wall which can cause a tilt of the building. The objective of this study is to observe the effect of deep excavation (7 storey basement) adjacent to the existing buildings with 7 and 5 storey basement located in South Jakarta. The basement is connected to the basement of the existing building so that the effect of diaphragm wall opening for connecting basement towards the substructures of the existing building is observed. This study was conducted by observing the deformation that occurs in the diaphragm of the existing building, and also observing the internal forces acting on the basement floors slabs of the existing buildings. Observations were made using a three-dimensional finite element program with the most commonly used material model for analysis of deep excavation, The Hardening Soil Model. The analysis was performed with drained conditions with phreatic calculation type and only calculated the static conditions. Results indicate that the deflection that occurs after the final stage of excavation is still within the allowable limit according to the SNI 8460:2017, which is less than 14 centimeters on the diaphragm wall of the existing buildings. Keywords: Deep Excavation; Connecting Basement; Diaphragm Wall; Hardening Soil; Finite Element AbstrakPada suatu konstruksi galian dalam yang berdekatan dengan suatu bangunan lain dikhawatirkan akan memberikan dampak atau efek yang buruk terhadap bangunan di sekitarnya. Efek dari galian dalam tersebut menyebabkan terjadinya deformasi pada struktur dari bangunan di sekitarnya akibat dari pergerakan tanah dan penurunan permukaan tanah di belakang dinding yang dapat menyebabkan bangunan tersebut menjadi miring. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengamati pengaruh pekerjaan galian dalam (basement dengan 7 lantai) yang berdekatan dengan bangunan sekitar dengan basement 5 lantai dan 7 lantai yang berlokasi di Jakarta Selatan. Basement yang dimodelkan terkoneksi dengan basement dari bangunan eksisting sehingga diamati pengaruh bukaan dinding diafragma untuk connecting basement terhadap struktur bawah bangunan eksisting. Penelitian ini dilakukan dengan melihat deformasi yang terjadi pada dinding diafragma dari bangunan eksisting, dan juga mengamati gaya-gaya dalam yang bekerja pada pelat lantai basement dari bangunan eksisting. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan program elemen hingga tiga dimensi dengan model material yang paling umum digunakan yaitu Hardening Soil untuk analisis galian dalam. Analisis dilakukan dengan kondisi drained dengan tipe kalkulasi phreatic serta hanya memperhitungkan keadaan static. Hasil menunjukkan bahwa defleksi yang terjadi setelah tahapan terakhir pekerjaan galian dalam yaitu masih dalam batas yang diijinkan menurut SNI 8460:2017 yaitu dibawah dari 14 cm pada dinding diafragma bangunan eksisting. 
PENYESUAIAN PERENCANAAN AREA KOMPETISI DI STADION SEPAKBOLA UNTUK MENGATASI DAMPAK PANDEMI Tjahya, Timmy Setiawan; Lianto, Fermanto; Priyomarsono, Naniek Widayati; Winata, Suwardana
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v5i2.11122

Abstract

The football stadium is a building for soccer sports activities consisting of a field of play, athlete facilities/competition area, grandstand and facilities for spectators, both for match and training activities. With the COVID-19 pandemic, these facilities have to adapt to health protocols to reduce the spreading of the virus. Currently, there are stadiums in Indonesia that have been built and are still in the planning stage, and this study focuses on adjusting the planning of the Competition Area as part of the athlete/player facilities at the Football Stadium. This study tries to explore, interpret, explain and make adjustments to the planning of the Football Stadium Competition Area following the requirements of the pandemic prevention health protocol. As the result of the study, an adjustment plan is needed in the football stadium competition area to overcome the impact of the pandemic. Redesign in the form of adding access screening facilities for personnel entitled to enter by adjusting the detection facilities on access to the competition area corridor and making restrictions through access control, except for evacuation needs and maintenance. Keywords: Football Stadium; Competition Area; Pandemic; Planning Adjustments AbstrakStadion sepakbola adalah bangunan untuk kegiatan olahraga sepakbola yang terdiri dari arena olahraga/permainan, fasilitas atlit/area kompetisi dan fasilitas untuk penonton, baik untuk kegiatan pertandingan maupun latihan. Dengan adanya pandemi COVID-19, fasilitas ini harus menyesuaikan dengan protokol kesehatan agar tidak menjadi sarana penyebaran virusnya. Saat ini, terdapat terdapat stadion-stadion di Indonesia yang sudah terbangun dan yang masih dalam tahap perencanaan, studi ini fokus kepada penyesuaian perencanaan Area Kompetisi sebagai bagian dari fasilitas atlit/pemain di Stadion Sepakbola. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan metode Studi Kasus, mengeksplorasi dan menyusun penyesuaian perencanaan Area Kompetisi Stadion Sepakbola yang sesuai dengan persyaratan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Pandemi. Sebagai hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perbaikan permanen diperlukan sebagai penyesuaian area kompetisi stadion sepakbola untuk mengatasi dampak pandemi yaitu berupa penambahan sarana penyaringan akses bagi personil yang berhak masuk, dengan melakukan penyesuaian fasilitas pendeteksi pada akses masuk ke koridor area kompetisi dan membuat pembatasan melalui kontrol akses, dengan pengecualian untuk kebutuhan evakuasi dan kondisi non match day untuk pemeliharaan.
MENG-EMPU-KAN PEREMPUAN: DESAIN RUANG PUBLIK YANG AMAN DAN NYAMAN BAGI PEKERJA PEREMPUAN DI SCBD - JAKARTA Melania, Melania; Fahmi, Erwin
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v5i2.12221

Abstract

The SCBD area is a high class complex of office spaces and other uses, who has female workers with several levels and categories. The proportion of female to male workers in SCBD is reltively equal, around 47% and 53%. In supporting activities in the area, there has sharing public facilities and infrastructure. The facilities and infrastructure include pedestrians, public toilets, public open area, bus stop, zebra cross, and guardhouse. Women in general and female workers in particular have unique characteristics which made them feelings, they will be sensitive to certain things that can disturb their feelings of security and comfort. Those characteristics also make them vurnerable to crime, including sexual harassment. This especially true for female workers who come home late at night. Security systems, including the lighting system of the area, are among the most important conditions for female workers. Therefore, in the design of  public space at SCBD the need for secure and comfortable spaces for all categories and levels of female workers was also considered. The purpose of this study is to review the appropriate security system in the area, opinion of female workers toward the system, and to formulate future improvement directions.This research is a qualitative research with case study method. Due to the COVID-19 pandemic, part of the data collection process was conducted online. Finding of the study reveal that there are several things that are not fulfilled by the SCBD management  with respect to the needs for secure and comfortable public spaces for female workers. In the future, it is expected that SCBD management will be more sensitive to the specific collective needs and aspiration of female.Keywords: Public Spaces, Gender, SCBD Jakarta, Women WorkersAbstrakKawasan SCBD merupakan kawasan perkantoran kelas atas dan mixed-use di Jakarta. Di dalamnya juga bekerja kaum perempuan dengan berbagai kategori dan tingkatan. Proporsi pekerja perempuan terhadap pekerja laki-laki di kawasan SCBD relatif sama, yakni 47% berbanding 53%. Dalam menunjang kegiatan di dalam kawasan, terdapat sarana dan prasarana publik yang digunakan bersama. Sarana dan prasarana tersebut berupa pedestrian, toilet umum, ruang terbuka publik, halte transportasi publik, zebra cross, dan pos jaga. Perempuan secara umum, dan pekerja perempuan khusus, memiliki karakteristik khas, yang menjadikan mereka peka terhadap hal-hal tertentu yang dapat mengganggu rasa aman dan nyaman mereka. Sementara, karena karakteristiknya tersebut, mereka juga rentan menjadi korban tindak kejahatan dan pelecehan seksual. Para pekerja perempuan yang karena tuntutan pekerjaannya mengharuskan mereka pulang larut malam paling rentan terhadap tindakan kejahatan tersebut. Sistem keamanan, termasuk pencahayaan kawasan yang memadai, penting untuk menjaga para pekerja perempuan. Karena itu, desain ruang publik di kawasan SCBD juga memperhatikan kebutuhan akan keamanan dan kenyamanan bagi berbagai tingkatan pekerja perempuan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk me-review sistem keamanan yang berjalan saat ini di kawasan SCBD, pandangan pekerja perempuan terhadap sistem keamanan tersebut, dan merumuskan arah perbaikan ke depan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Karena penelitian dikerjakan pada masa pandemi COVID-19, sebagian proses pengumpulan data dilakukan secara online. Hasil penelitian menemukan bahwa masih ada beberapa hal yang belum dipenuhi pihak pengelola SCBD berkatian dengan kebutuhan rasa aman dan nyaman pada ruang publik. Ke depan, pengelola kawasan SCBD diharapkan dapat lebih peka terhadap kebutuhan khas dan aspirasi para pekerja perempuan secara kolektif.
INDIKATOR PERANCANGAN OCEANARIUM TANGGAP PANDEMI Wiraguna, Sidi Ahyar; Lianto, Fermanto
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v5i2.13049

Abstract

According to data compiled by Johns Hopkins University, the COVID-19 virus has spread to all countries and regions of the world, infecting and killing people globally since it first emerged in the Chinese city of Wuhan late last year. The impact of COVID-19 has caused several tourism destinations in Jakarta to be closed. One of the public facilities affected is an oceanarium recreation area which functions as a centre for public entertainment, education and scientific research. The purpose of this study was to obtain design indicators for a pandemic-responsive oceanarium to reduce the risk of spreading and transmitting the COVID-19 virus. This research was conducted using literature studies, interviews, questionnaires and direct observation of similar existing buildings, namely Seaworld Ancol, Jakarta Aquarium and Dunia Fresh Air. The reference theories used that are relevant to the theme of this research include the theory of the spread and transmission of the COVID-19 virus through the air and the HVAC system, the theory of the oceanarium, and other supporting theories. Based on the results of the analysis and discussion, it is concluded that several design indicators can be used as the basis for the concept of a design strategy, namely: 1) The importance of natural air ventilation; 2) HVAC system used; 3) Limiting the duration of visits in a closed room; 3) Design of a separate building mass; 4) Minimizing direct contact between visitors and managers and visitors with visitors; 5) Maintain distance between visitors, visitors and operators. Keywords: HVAC; Design Indicators; Oceanarium; Pandemic Response; Jakarta. AbstrakVirus COVID-19 telah menyebar ke seluruh negara dan wilayah dunia, menginfeksi dan membunuh orang secara global sejak muncul pertama kali di kota Wuhan, China, akhir tahun 2019, menurut data yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins. Dampak COVID-19 menyebabkan sejumlah Destinasi Pariwisata di Jakarta ditutup. Salah satu fasilitas umum yang terdampak adalah tempat tempat rekreasi oceanarium yang berfungsi sebagai pusat hiburan umum, pendidikan dan penelitian ilmiah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan indikator-indikator desain oceanarium tanggap pandemi sehingga dapat mengurangi resiko penyebaran dan penularan virus COVID-19. Penelitian ini dilakukan dengan metode kombinasi studi pustaka, wawancara, kuesioner dan observasi langsung terhadap bangunan sejenis yang sudah ada yaitu, Seaworld Ancol, Jakarta Aquarium dan Dunia Air Tawar. Beberapa teori acuan yang digunakan yang relevan dengan tema penelitian ini diantaranya adalah, teori penyebaran dan penularan virus COVID-19 melalui udara dan sistem HVAC, teori tentang oceanarium dan teori pendukung terkait lainya. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan diperoleh kesimpulan beberapa indikator perancangan yang dapat digunakan sebagai landasan konsep strategi desain yaitu: 1) Pentingnya ventilasi udara alami; 2) Sistem HVAC yang digunakan; 3) Membatasi durasi kunjungan di dalam ruangan tertutup; 3) Desain masa bangunan yang dipisah-pisah; 4) Meminimalisir kontak langsung antara pengunjung dengan pengelola dan pengunjung dengan pengunjung; 5) Menjaga jarak antara sesama pengunjung, pengunjung dengan operator.
STUDI PERBANDINGAN ANALISA KETELITIAN TINGGI MENGGUNAKAN TOTAL STATION DAN SIPAT DATAR Mulyani, Agnes Sri; Tampubolon, Sudarno
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v5i2.7540

Abstract

This research was conducted to analyze and determine the height difference accuracy using the method of measuring the different heights of a closed loop using Waterpass B2 and Total Station Kolida 420SR. The location of research in the Ciloto area, Puncak, West Java with coordinates 107˚ east longitude and 06˚ south latitude, on 14-15 December 2014 using a local high point reference. Measurements were made three times with different looped but the starting and ending points were the same points. Accuracy of calculation is done by calculating the average of the least squares to determine the standard deviation of the measurement results with each equipment. The result is  the standard deviation of the height difference with the waterpass is 0.01mm, while with the Total Station it is 0.02 mm. Based on the results of the standard deviation of the height difference, the Total Station can be used for height measurements in civil engineering project that does not require very high accuracy and height difference measurements with the Total Station are more economical because the time required for measurement is a quarter of the time required height difference measurement with Waterpass. Keywords: height measurement; Waterpass; Total station. AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk menganalisis dan mengetahui ketelitian beda tinggi menggunakan metode pengukuran beda tinggi suatu ring tertutup menggunakan Waterpass B2 dan Total Station Kolida 420SR. Lokasi penelitian terletak di daerah Ciloto, Puncak Jawa Barat dengan koordinat 107o bujur timur dan 06o lintang selatan, pada tanggal 14 dan 15 Desember 2014 dengan menggunakan referensi titik tinggi lokal. Pengukuran dilakukan tiga kali dengan ring yang berbeda namun titik pangkal dan ujung adalah titik yang sama. Hitungan ketelitian dilakukan dengan hitung perataan kuadrat terkecil untuk mengetahui standar deviasi hasil pengukuran dengan masing-masing alat. Hasilnya adalah standar deviasi beda tinggi dengan waterpass sebesar 0.01mm, sedangkan dengan Total Station sebesar 0.02 mm. Berdasarkan hasil perhitungan nilai standar deviasi pengukuran beda tinggi, maka Total Station  dapat digunakan untuk pengukuran beda  tinggi pada pekerjaan teknik sipil yang tidak memerlukan ketelitian yang sangat tinggi, dan pengukuran beda tinggi dengan Total Station lebih ekonomis karena waktu yang diperlukan untuk pengukuran adalah seperempat dari waktu yang diperlukan pengukuran beda tinggi dengan Waterpass. 
INTERAKSI SOSIAL ANTARA WARGA PERMUKIMAN REAL ESTAT DENGAN PENDUDUK DI SEKITAR NYA Rahardjo, Parino; Nuzzela, Softy
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v5i2.9004

Abstract

The Bonana settlement is located in Cilandak sub-district, Lebak Bulus village. Built on an area of 38 hectares, it is the result of the conversion of gardens and swamps owned by residents who currently still live in the villages around the settlement. In general, those who work in the Bonana Settlement, live in the villages around the Bonana settlement. The Bonana settlement is equipped with public and social facilities. The Bonana settlement is equipped with green open spaces, in the form of gardens, tennis courts, and green open spaces along the main drainage channel. Green open space equipped with a children's play area (playground), basketball and badminton courts and mosque worship facilities. The facilities in the Bonana Settlement are also used by residents around the Bonana Settlement. Within the Settlement, the formal economic facilities built by the developer are shops with banking facilities, household needs, medical needs, and places to eat, in addition there is an informal market that sells daily necessities. This informal market was formed by the trading community. In general, settlements built by developers are generally closed to the surrounding community, as a preventive measure against crime, but the Bonana Settlement is open between residents of the settlement and the surrounding community. The purpose of the study was to determine the form of participation of the residents of the Bonana Settlement to maintain the security and comfort of their settlements. The study used a qualitative approach with data collection by interviews and observations, and by using sources. The study obtained the participation of residents of the Bonana Settlement to make a safe and comfortable settlement. Keywords: Community; Social Interaction; Green Open Space; Public Open Space AbstrakPermukiman Bonana, berlokasi di Kecamatan Cilandak, kelurahan Lebak Bulus. Dibangun pada lahan seluas 38 Ha, merupakan hasil konversi kebun dan rawa milik penduduk yang saat ini sebagian masih mendiami perkampungan di sekitar Permukiman tersebut.  Pada umumnya mereka yang bekerja di Permukiman Bonana, bertempat tinggal di perkampungan disekitar permukiman Bonana.  Permukiman Bonana dilengkapi dengan fasilitas umum dan sosial. Permukiman Bonana di lengkapi dengan Ruang Terbuka Hijau, berupa taman, lapangan tenis, dan ruang terbuka hijau sepanjang saluran utama drainase. Ruang terbuka hijau yang dilengkapi dengan tempat permainan anak (playground), lapangan basket dan bulu tangkis dan fasilitas peribadatan masjid. Sarana yang ada di dalam Permukiman Bonana dimanfaatkan juga oleh warga sekitar Permukiman Bonana. Di dalam Permukiman, fasilitas ekonomi formal yang dibangun oleh pengembang berupa pertokoan dengan fasilitas perbankan, kebutuhan rumah tangga, kebutuhan medis, dan tempat makan, di samping itu terdapa terdapat pasar informal yang menjual kebutuhan sehari-hari. Pasar informal ini dibentuk oleh masyarakat pedagang. Pada umumnya permukiman yang dibangun oleh pengembang umumnya tertutup terhadap masyrakat sekitarnya, sebagai tidakan preventif terhadap tindak kriminal, namun Permukiman Bonana terbuka  antara warga permukiman dengan masyarakat sekitar. Tujuan penelitian mengetahui bentuk partisipasi warga Permukiman Bonana untuk menjaga keamanan dan kenyamanan permukimannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data dengan wawancara dan observasi, dan  dengan menggunakan narasumber. Penelitian mendapatkan partisipasi warga Permukiman Bonana untuk menjadikan permukiman yang aman dan nyaman.