cover
Contact Name
Jurnal Crystal
Contact Email
crystaljurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
crystaljurnal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ikan Tongkol No. 22 Kertosari, Banyuwangi
Location
Kab. banyuwangi,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya
ISSN : -     EISSN : 26857065     DOI : https://doi.org/10.36526/jc
Jurnal crystal merupakan jurnal yang diterbitkan oleh program studi kimia Universitas PGRI Banyuwangi. Jurnal ini memuat dan menerbitkan jurnal yang sesuai dengan bidang ilmu kimia murni dan terapannya yang terbit dua kali dalam setahun yaitu bulan maret dan september. adapun penerbitan jurnal didasari dengan komitmen pada kelayakan penulisan artikel ilmiah, prosedur dan format penulisan, dan kontinuitas publikasi.
Arjuna Subject : -
Articles 122 Documents
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN HIDROLISAT PROTEIN KEPALA DAN KULIT UDANG VANAME (Litopenaeus Vannamei) warda, Sindy atteri; Botutihe, Deasy N.; Arviani, Arviani; Musa, Weny J. A.; Iyabu, Hendri
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 7 No. 2 (2025): Literasi Artikel Penelitian Kimia
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v7i2.6189

Abstract

Limbah kepala dan kulit udang vaname (Litopenaeus vannamei) berpotensi mencemari lingkungan karena kandungan proteinnya yang tinggi, namun dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku hidrolisat protein yang mengandung peptida bioaktif dengan aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan hidrolisat protein dari kepala dan kulit udang vaname menggunakan enzim bromelain serta mengevaluasi aktivitas antioksidannya. Proses hidrolisis dilakukan dengan variasi konsentrasi enzim bromelain 4%, 5%, dan 6% pada suhu 55 °C selama 4 jam, kemudian produk dianalisis kadar protein, derajat hidrolisis, uji kualitatif protein, serta aktivitas antioksidan menggunakan metode ABTS. Hasil menunjukkan kadar protein meningkat seiring peningkatan konsentrasi enzim, yaitu 45,16% (4%), 48,27% (5%), dan 50,10% (6%). Nilai derajat hidrolisis tercatat 80,74–84,21% yang menandakan tingkat hidrolisis tinggi. Uji kualitatif memberikan reaksi positif terhadap protein, asam amino, senyawa aromatik, dan tirosin. Aktivitas antioksidan hidrolisat terbaik pada konsentrasi enzim 6% dengan nilai IC50 sebesar 3,14 mg/mL, meskipun masih lebih rendah dibandingkan vitamin C (0,12 mg/mL). Simpulan penelitian ini adalah hidrolisat protein kepala dan kulit udang vaname berpotensi sebagai sumber antioksidan alami, meskipun efektivitasnya masih perlu ditingkatkan untuk aplikasi pangan fungsional. Kata kunci: hidrolisat protein, udang vaname, bromelain, antioksidan
STRATEGIES FOR ENHANCING THE PERFORMANCE OF LI [NIXCOYMN1-X-Y] O2 CATHODE MATERIALS FOR LI-ION BATTERIES HENDRI, YOLA BERTILSYA; Heni Sugesti; Zuqni Meldha; Lisa Legawati; Salma Liska; Yogi Yolanda; Amun Amri
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 7 No. 2 (2025): Literasi Artikel Penelitian Kimia
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v7i2.6193

Abstract

Abstract Li[NixCoyMn1-x-y]O2 layered oxides Cathode Materials are among the most widely studied cathode materials for lithium-ion batteries due to their high gravimetric and volumetric energy density compared to other type cathode materials. However, the practical deployment of Ni-rich NCM materials is hindered by severe degradation mechanisms, including cation-mixing, surface reconstruction, electrolyte reactivity, transition metal dissolution, and oxygen release, which compromise cycling stability and safety. This review systematically synthesizes recent progress in advanced modification strategies designed to mitigate degradation in Li[NixCoyMn1-x-y]O2 cathodes. The discussion is structured into four major approaches: (i) surface modification, which employs protective coatings to suppress interfacial reactions and stabilize the cathode–electrolyte interphase; (ii) elemental doping, which strengthens the lattice, reduces cation mixing, and inhibits oxygen evolution; (iii) single-crystal engineering, which eliminates grain-boundary failure and improves thermal stability; and (iv) concentration-gradient architectures, which alleviate internal stress and enhance the durability of Ni-rich cathodes. Empirical evidence demonstrates that these strategies not only extend cycle life but also provide mechanistic insights into the underlying degradation pathways. By consolidating findings from recent experimental, this review highlights the necessity of integrating structural, chemical, and morphological interventions to realize the full potential of Ni-rich NCM cathodes. The insights presented offer a framework for designing safer, higher-performance, and commercially scalable lithium-ion batteries. Abstrak Li[NixCoyMn1-x-y]O2 berbasis oksida berlapis merupakan salah satu material katoda yang paling banyak dikaji dalam pengembangan baterai litium-ion. Keunggulan utamanya terletak pada kerapatan energi gravimetri dan volumetri yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis katoda lain. Namun demikian, penerapan praktis material NCM kaya nikel masih menghadapi sejumlah kendala serius akibat berbagai mekanisme degradasi, antara lain pencampuran kation, rekonstruksi permukaan, reaktivitas dengan elektrolit, pelarutan logam transisi, serta pelepasan oksigen. Mekanisme-mekanisme tersebut secara langsung menurunkan stabilitas siklus dan tingkat keselamatan baterai.Ulasan ini menyajikan sintesis sistematis mengenai perkembangan mutakhir strategi modifikasi lanjutan yang dirancang untuk menekan degradasi pada katoda Li[NixCoyMn1-x-y]O2. Terdapat empat pendekatan utama yang dibahas, yaitu: (i) modifikasi permukaan, melalui penerapan lapisan pelindung guna menekan reaksi antarmuka dan menstabilkan lapisan katoda–elektrolit; (ii) doping unsur, yang berfungsi memperkuat struktur kisi, mengurangi pencampuran kation, serta menekan evolusi oksigen; (iii) rekayasa kristal tunggal, yang mengatasi kegagalan pada batas butir sekaligus meningkatkan stabilitas termal; dan (iv) arsitektur gradien konsentrasi, yang mampu meredam tegangan internal dan memperpanjang daya tahan katoda kaya nikel. Hasil-hasil empiris menunjukkan bahwa penerapan strategi tersebut tidak hanya memperpanjang umur pakai siklus, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang mekanisme degradasi yang mendasari. Dengan mengintegrasikan temuan-temuan eksperimental terbaru, ulasan ini menegaskan pentingnya perpaduan intervensi struktural, kimia, dan morfologis untuk mengoptimalkan kinerja katoda NCM kaya nikel. Wawasan yang dihadirkan sekaligus menawarkan kerangka konseptual bagi pengembangan baterai litium-ion yang lebih aman, berkapasitas tinggi, dan memiliki prospek komersialisasi yang luas.
FORMULASI DAN STABILITAS EMULSI O/W PUREE BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus)-VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DENGAN SORBITOL DAN ESENS LEMON MENGGUNAKAN EMULSIFIER GUM ARAB Asriwulan; Agus, Muh. Awalul
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 7 No. 2 (2025): Literasi Artikel Penelitian Kimia
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v7i2.6205

Abstract

Abstract Emulsion is an effort to enhance the potential of a given material. Locally sourced natural ingredients, such as the widely favored red dragon fruit, can be combined with Virgin Coconut Oil (VCO), which is generally less preferred. Through this formulation, the acceptability of the emulsion product can be improved in terms of color, taste, and texture. This study aims to identify the formulation ratio of red dragon fruit puree–VCO emulsion using gum arabic as an emulsifier. In addition, the effects of sorbitol as a sweetener and humectant, as well as lemon essence as a flavoring agent, were also analyzed. The resulting emulsion was an oil-in-water (O/W) emulsion. The emulsions were prepared with varying ratios of red dragon fruit puree–VCO (10, 15, 20, 25% v/v) with gum arabic at 0.75% (w/v), homogenized at 15,000 rpm for 4 minutes. Viscosity measurements were conducted using an Atago viscometer before and after stability testing. Stability tests were carried out physically using the freeze–thaw method for 5 cycles. After determining the best ratio, further analysis was conducted on the addition of sorbitol (1–2% v/v) and lemon essence (0.2–0.8% v/v). The results showed that the best emulsion was obtained at a puree–VCO ratio of 10%, as indicated by relatively stable viscosity and stability both before and after the stability test. The optimum sorbitol addition was 1.5% (w/v), while the best lemon essence addition was 0.2% (v/v). This formulation can be applied to semi-solid foods such as salad dressings and dessert toppings. Keywords: Virgin Coconut Oil, puree, red dragon fruit, emulsion, gum arabic, sorbitol, lemon essence Abstrak Emulsi merupakan upaya untuk meningkatkan potensi yang dimiliki oleh suatu bahan. Bahan alami berbasis lokal seperti buah naga merah yang banyak disukai, dapat dikombinasikan dengan Virgin Coconut Oil (VCO) yang kurang disukai. Kombinasi formulasi ini dapat meningkatkan daya terima produk emulsi melalui perbaikan dari segi warna, rasa dan tekstur. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi formulasi rasio emulsi puree buah naga merah-VCO dengan emulsifier gum arab. Dilakukan pula analisis pengaruh penambahan sorbitol sebagai pemanis dan humektan serta penambahan esens lemon sebagai pemberi aroma. Emulsi yang terbentuk merupakan emulsi minyak dalam air (O/W). Emulsi dibuat dengan variasi rasio VCO-Puree buah naga merah (10,15,20,25%v/v) dengan gum arab 0,75%(%w/v), dihomogenisasi pada kecepatan 15.000 rpm selama 4 menit. Dilakukan pengukuran viskositas terhadap emulsi dengan viskometer Atago sebelum dan sesudah pengujian stabilitas. Pengujian stabilitas dilakukan secara fisik dengan uji Freeze-thaw test selama 5 siklus. Setelah didapatkan rasio terbaik, selanjutnya dilakukan analisis terhadap penambahan sorbitol dengan variasi 1-2%(%v/v) dan penambahan esens lemon dengan variasi 0,2-0,8%(%v/v). Hasil penelitian menunjukkan bahwa emulsi terbaik terbentuk pada rasio puree- VCO 10% yang ditunjukkan oleh viskositas dan stabilitas yang relatif stabil sebelum maupun sesudah pengujian stabilitas. Sedangkan pada penambahan sorbitol yang terbaik yaitu 1,5%(%w/v) dan penambahan esens lemon terbaik yaitu 0,2% (%v/v). Formulasi ini dapat diaplikasikan pada pangan semi-padat seperti salad dressing dan topping dessert. Keywords: Virgin Coconut Oil, puree, buah naga merah, emulsi, gum arab, sorbitol, esens lemon
ANALISIS KADAR BIOETANOL DARI LIMBAH CAIR PULP KAKAO MENGGUNAKAN ADSORBEN ABU SEKAM PADI La Harimu; Haeruddin; Wa Ode Mulyana; Cahyana Mandasari; Afrianti S. Lamuru; Mahirullah
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 7 No. 2 (2025): Literasi Artikel Penelitian Kimia
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v7i2.6211

Abstract

Pencarian sumber- sumber energi alternatif terutama berasal dari tumbuhan multiguna yang berbasis lokal dan berkelanjutan terus digalakan. Salah satu bahan bakar nabati (BBN) yang sangat prospektif dikembangkan di Indonesia adalah bioetanol, yaitu senyawa etanol yang dibuat dari tanaman yang mengandung komponen pati atau karbohidrat/gula seperti dari tanaman kakao. Salah satu komponen biji kakao adalah pulp yang mengandung glukosa 8-15% sehingga sangat potensial untuk dijadikan sebagai bahan baku pembuatan etanol melalui proses fermentasi yang selama ini jarang dimanfaatkan cairan lendir pulp yang dihasilkan dari proses fermentasi satu ton biji kakao dapat mencapai 75-100liter dengan bau yang tidak sedap, sehingga dapat mencemari lingkungan. Kadar bioetanol hasil fermentasi pulp kakao dipengaruhi oleh factor pH, kadar ragi, dan lama fermentasi. Sebelum fermentasi dilakukan terlebih dahulu dibuat starter dengan tujuan untuk mengaktifkan enzim. Pemisahan dan pemurnian etanol hasil fermentasi dapat ditingkatkan kadarnya dengan penambahan adsorben abu sekam padi. Abu sekam adi terlebih dahulu dicuci sampai bersih dan terakhir dicuci dengan aquades dan dipanaskan dalam oven pada suhu 1050C. Sampel pulp kakao hasil fermentasi yang mengandung etanol ditambahkan dengan abu sekam padi sebelum di destilasi. Destilat etanol yang diperoleh diukur kadarnya menggunakan Alcohol Meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu fermentasi dan kadar ragi mempengaruhi kadar bioetanol dari pulp kakao yang dihasilkan. Lama fermentasi optimal yang diperoleh adalah 6 hari dengan kadar bioetanol sebesar 4,73%. Kadar ragi optimal terhadap starter (berat starter adalah 1 % dari sampel pulp kakao yang difermntasi) diperoleh pada kondisi dengan perbandingan 1 gram ragi: 1% starter. Kadar bioetanol yang diperoleh dengan penambahan abu sekam padi menggalami peningkatan dari 5,06% menjadi 8,52%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penambahan abu sekam padi pada sampel pulp kakao hasil fermentasi yang menggandung bioetanol dapat ditingkatkan dengan penambahaan abu sekam padi.
ADHESIVE BEHAVIOR OF POLYCAPROLACTONE/HYDROXYAPATITE COATINGS ON 316L STAINLESS STEEL: A DESIGN OF EXPERIMENTS APPROACH Prabowo, Agung; Ahmad Fadli; Heni Sugesti; Muh Irwan; Syarifuddin Oko; Gading Bagus Mahardika; Marlinda
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 7 No. 2 (2025): Literasi Artikel Penelitian Kimia
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v7i2.6212

Abstract

Enhancing the adhesive strength of bioactive coatings is crucial for improving the mechanical stability of metallic implants. This study investigates the effects of three processing parameters—sonication temperature (X₁), PCL/HA ratio (X₂), and drying time (X₃)—on the adhesive strength of poly(ε-caprolactone)/hydroxyapatite (PCL/HA) composite coatings applied to 316L stainless steel substrates. A full factorial 23 experimental design was employed, and the results were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and regression modeling. The adhesive strength response ranged from 19.62 MPa to 63.27 MPa. Among the factors studied, the PCL/HA ratio had the most significant positive effect, while drying time showed a minor influence. Interaction plots and response surface analyses revealed a synergistic effect between sonication temperature and PCL/HA ratio, contributing to improved bonding at the coating-substrate interface. The optimization results yielded a predicted maximum adhesive strength of 25.76 MPa at a desirability score of 0.03, highlighting the complexity of parameter interactions. These findings underscore the importance of processing conditions in tailoring coating performance for biomedical applications.
PENGARUH PRETREATMENT TERHADAP KUALITAS KARBON AKTIF DARI BATANG ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes) Abdul Azis; Afrianti S. Lamuru; Mahirullah; Andi Batari Angka; Nur Aisyah; Rahmila
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 7 No. 2 (2025): Literasi Artikel Penelitian Kimia
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v7i2.6214

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas karbon aktif dari batang eceng gondok yang melalui proses pretreatment dan tanpa pretreatment. Eceng gondok dipilih karena merupakan limbah biomassa yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal. Metode pretreatment dilakukan untuk menghilangkan pengotor yang menutupi struktur selulosa, sedangkan aktivasi dengan asam asetat bertujuan menghasilkan arang aktif yang memiliki luas permukaan besar. Proses pretreatment dilakukan dengan pemanasan terbuka dalam variasi konsentrasi larutan NaOH (3, 5, 7, 9, dan 11%) selama 60 menit lalu ditentukan kadar selulosanya secara gravimetri untuk mengetahui konsentrasi NaOH yang optimal dan digunakan dalam proses pembuatan arang aktif. Proses aktivasi menggunakan metode refluks dalam larutan CH3COOH 5% dengan variasi waktu (30, 60, 90, 120 dan 150 menit). Karbon aktif yang dihasilkan dikarakterisasi berdasarkan SNI No. 06-3730-1995 yang meliputi uji daya serap iod, kadar air, kadar abu. Selain itu dilakukan uji luas permukaan menggunakan metode Brunauer-Emmett-Teller (BET). Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan NaOH yang efektif untuk meningkatkan kadar selulosa yaitu 7%, sedangkan waktu optimal untuk aktivasi karbon dalam larutan CH3COOH 5% yaitu 120 menit. Kualitas karbon aktif dari batang eceng gondok dengan perlakuan pretreatment maupun tanpa pretreatment telah memenuhi standar SNI No 16-3730-1995 untuk uji kadar air dan kadar abu. Karbon aktif batang eceng gondok dengan perlakuan pretreatment untuk daya serap iod telah memenuhi standar SNI No 16-3730-1995, sedangkan tanpa pretreatment tidak memenuhi parameter uji daya serap iod. Luas permukaan karbon aktif yang dihasilkan dari proses pretreatment lebih besar dibandingkan dengan tanpa pretreatment.
ANALISIS SPEKTROFOTOMETRI EKSTRAK BUNGA TELANG BERDASARKAN VARIASI WAKTU MASERASI SEBAGAI KANDIDAT SENSITIZER PADA DYE SENSITIZED SOLAR CELL (DSSC) Fadia Mutiara Putri; Sherly Kasuma Warda Ningsih
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 7 No. 2 (2025): Literasi Artikel Penelitian Kimia
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v7i2.6221

Abstract

Increasing population growth causes an increase in energy demand, which causes global warming and climate change. Therefore, a renewable energy source is needed, namely solar energy. DSSC offers the potential for lower production costs compared to conventional solar cells. However, currently the commonly used sensitizer is ruthenium-based which is expensive and harmful to the environment. Therefore, a natural sensitizer is sought, namely from butterfly pea flowers which contain anthocyanin pigments that can absorb light and convert it into electrons. The purpose of this study was to determine the functional groups of butterfly pea flowers and determine the effect of maceration time on the maximum wavelength of butterfly pea flower extract as a sensitizer candidate in DSSC. The method used was maceration of butterfly pea flower powder using 70% ethanol solvent with variations in maceration time, namely 24 hours, 48 hours and 72 hours. Spectrophotometric analysis was carried out using FTIR to determine the functional groups contained in butterfly pea flowers and UV-Vis to determine the maximum wavelength in butterfly pea flower extract. The result is that there is a strong absorption band at a wave number of 3279.96 cm-1 indicating the presence of O-H group stretching which indicates that the butterfly pea flower is rich in anthocyanins. The maximum wavelength of the butterfly pea flower is that there are 2 peaks at 576 nm and 621 nm. Variations in maceration time do not affect the maximum wavelength of the butterfly pea flower but affect the absorbance, the lowest absorbance is 24 hours of maceration time followed by 48 hours of maceration time and the highest is 72 hours of maceration time. The conclusion is that the main compound contained in the butterfly pea flower is anthocyanin and 72 hours of maceration time shows the highest absorbance so it can be used as the most optimal sensitizer candidate.
ANALISIS PENGARUH FERMENTASI BUAH NANAS DAN JENIS METODE EKSTRAKSI TERHADAP KADAR TOTAL FENOL PADA SERBUK MINUMAN MENYERUPAI KOPI BERBAHAN BAKU BIJI KURMA Desti Nursaleh; Herlan Herdiawan; Iqbal Musthapa
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 7 No. 2 (2025): Literasi Artikel Penelitian Kimia
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v7i2.6234

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh fermentasi dengan nanas dan jenis metode ekstraksi terhadap Kadar Total Fenol dalam bubuk minuman mirip kopi yang terbuat dari biji kurma (Phoenix dactylifera L.). Biji kurma terlebih dahulu difermentasi menggunakan nanas, kemudian dikeringkan dalam oven, disangrai, dan digiling menjadi bubuk. Proses ekstraksi dilakukan dengan tiga metode: dekokta, maserasi etanol, dan seduh dingin. Kadar total fenol diukur menggunakan metode Folin-Ciocalteu dan hasilnya dinyatakan dalam mg GAE/g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi meningkatkan kadar fenol pada semua metode ekstraksi yang diuji. Kadar fenol tertinggi diperoleh pada perlakuan fermentasi yang dikombinasikan dengan metode maserasi etanol, yaitu sebesar 124,265 mg GAE/g, sedangkan kadar terendah terdapat pada perlakuan tanpa fermentasi dengan metode seduh dingin, yaitu sebesar 36,123 mg GAE/g. Metode ekstraksi maserasi etanol terbukti paling efektif dalam mengekstrak senyawa fenol jika dibandingkan dengan dekokta dan seduh dingin. Dengan demikian, kombinasi fermentasi dan maserasi etanol merupakan perlakuan terbaik untuk meningkatkan kadar total fenol pada tepung biji kurma.
STUDI KINETIKA EKSTRAKSI TEMBAGA DARI BIJIH ENARGIT DALAM LARUTAN ASAM SULFAT Sukamto, Kostiawan; Kamumu, Isal; Kadir Kilo, Ahmad; La Kilo, Akram
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 7 No. 2 (2025): Literasi Artikel Penelitian Kimia
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v7i2.6239

Abstract

This study investigates the kinetics of copper extraction from enargite ore (Cu₃AsS₄) using sulfuric acid (H₂SO₄) solution with hydrogen peroxide (H₂O₂) as an oxidizing agent. Leaching experiments were carried out under various operating conditions, including H₂SO₄ concentrations (1, 1.5, and 2 M), H₂O₂ concentrations (1, 1.5, and 3 M), solid percentages (5%, 10%, and 15%), and temperatures (30, 40, and 50 °C), with a leaching time of up to 480 minutes. The results indicated that higher concentrations of H₂SO₄ and H₂O₂ significantly enhanced copper extraction efficiency, while increasing solid percentage reduced the leaching performance. The optimum condition was achieved at 2 M H₂SO₄, 3 M H₂O₂, 5% solids, and 50 °C, resulting in a maximum copper extraction of 97.95%. Kinetic analysis revealed that the leaching process was predominantly controlled by diffusion through a porous product layer based on the shrinking core model, but shifted to interface reaction control at higher temperatures. These findings provide new insights into the leaching mechanism of enargite ore and serve as a foundation for developing more efficient and environmentally friendly hydrometallurgical processes for copper recovery.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI POLIMER BERCETAKAN MOLEKUL TARTRAZIN UNTUK PEMISAHAN WARNA TARTRAZIN PADA KERUPUK Sembiring, Junita Br
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 7 No. 2 (2025): Literasi Artikel Penelitian Kimia
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v7i2.6280

Abstract

Tartrazine (E102) is a synthetic food dye that imparts a bright lemon-yellow coloration. The compound is composed of phenolic derivatives, polycyclic hydrocarbons, and heterocyclic structures. Its extensive application in the food sector is attributed to its remarkable stability against light, oxygen, heat, and pH variations, along with its relatively low production cost. In Indonesia, the National Agency of Drug and Food Control (BPOM) authorizes the use of tartrazine at a maximum concentration of 70 mg/kg in food and beverage products. However, excessive consumption may trigger adverse health effects such as allergic responses, skin irritation, migraines, and visual disturbances. Detection of tartrazine using molecularly imprinted polymers (MIPs) offers greater selectivity and precision compared to conventional analytical techniques. In this work, MIP was synthesized employing methacrylic acid (MAA) as the functional monomer, tartrazine as the template molecule, trimethylolpropane trimethacrylate (TRIM) as the crosslinking agent, benzoyl peroxide (BPO) as the radical initiator, and dimethylformamide as the porogenic solvent. The synthesized polymer was evaluated alongside a non-imprinted polymer (NIP) and characterized through FTIR, TGA, and SEM analyses. FTIR spectra revealed absorption bands at 1149.57 cm⁻¹, 1732.08 cm⁻¹, 2966.52 cm⁻¹, and 3441.01 cm⁻¹, corresponding respectively to C–H bending, carboxylate C=O stretching, C–H stretching, and O–H vibrations. The research results showed that a sample of crackers sold in a shop in the city of Bandung contained 0.42 mg/g or the equivalent of 420 mg/kg with a recovery of 95.47%.

Page 12 of 13 | Total Record : 122