cover
Contact Name
Amda Resdiar
Contact Email
agroteklestari@utu.ac.id
Phone
+6282277483839
Journal Mail Official
agroteklestari@utu.ac.id
Editorial Address
REDAKTUR JURNAL AGROTEK LESTARI JALAN ALUE PEUNYARENG PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN KAMPUS UNIVERSITAS TEUKU UMAR KECAMATAN MEUREUBO KABUPATEN ACEH BARAT 23615
Location
Kab. aceh barat,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Agrotek Lestari
Published by Universitas Teuku Umar
ISSN : 24774790     EISSN : 27218945     DOI : https://doi.org/10.35308
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrotek Lestari (JAL) merupakan media publikasi ilmiah yang membahas isu aktual di bidang agroteknologi mengenai permasalahan yang berkaitan dengan Ilmu Agronomi dan Produksi Tanaman, Ilmu Tanah, dan Proteksi Tanaman. Jurnal Agrotek Lestari terbit dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan April dan Oktober mulai tahun 2015.
Articles 189 Documents
Potensi dan Karakteristik Gambut Padang Pariaman untuk Budiaya Padi Lokal Sumatra Barat Zulkarnaini, Zulkarnaini; Suliansyah, Irfan; Gusmini, Gusmini; Yasin, Syfarimen
Jurnal Agrotek Lestari Vol 10, No 1 (2024): April
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jal.v10i1.8750

Abstract

Keterbatasan lahan subur mengharuskan perkembangan pertanian diarahkan ke lahan-lahan marginal, salah satunya adalah gambut. Lahan gambut memiliki potensi besar bagi penyediaan panagan, oleh karena itu perlu terus dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat potensi dan karakteristik sifat kimia gambut yang akan dijadikan untuk lahan budidaya pertanian khususnya dalam budidaya padi lokal dalam mendukung ketahanan pangan di Sumatra Barat. Eksperimen dilakukan dengan survei ke berbagai lokasi di wilayah Kabupaten Padang Pariaman Sumatra Barat dan Laboratorium Tanah Universitas Andalas, yang dimulai bulan September hingga November 2022. Adapun metode yang dilakukan dengan mengambil sampel dilakukan sebanyak 3 titik sampel yang kemudian di komposit menjadi 1 titik sampel lokasi yang digunakan, dimana titik lokasi terbagi menjadi 3 lokasi yaitu G1 (Sunua Nan Sabaris); G2 (Pungguang Kasik) dan G3 (Parak Pisang, Sintuak Toboh) pada kedalam 0 - 20 cm. Karakteristik pH Gambut berada pada 3.68 – 4.81, Kadar abu dan C organic sekitar 16.27 – 39.13% dan 35.30 – 48.18% C dengan komposisi hara makro N, P dan K Total sebesar 0.76 – 3.52% N; 5.58 – 11.79% P dan 1.74 – 2.31% K. Komposisi hara mikro Fe, Cu dan Zn sebesar 2.71 – 3.03 ppm Fe; 0.23 – 0.26 ppm Cu dan 0.21 – 0.31 ppm Zn. Berdasarkan karakteristik sifat kimia Gambut yang terdapat pada beberapa lokasi di Kabupaten Padang Pariaman Sumatra Barat cocok untuk ditanami komoditas tanaman pangan seperti padi. Namun, perlu peningkatkan karakteristik sifat kimia Gambut pada lokasi G1 (Sunua Nan Sabaris) untuk dikembangkan dalam budidaya padi lokal Sumatra Barat.
Viabilitas Benih Tanaman Cabai Merah Akibat Lama Paparan dan Jenis Musik Jasmi, Jasmi; Zuraidah, Syaripah
Jurnal Agrotek Lestari Vol 10, No 1 (2024): April
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jal.v10i1.8264

Abstract

Mutu benih meliputi tiga aspek, yaitu mutu genetik, mutu fisik, dan mutu fisiologis. Mutu fisiologis merupakan aspek mutu benih yang ditunjukkan oleh viabilitas dan vigor benih. Viabilitas benih merupakan gejala kehidupan benih yang ditunjukkan melalui metabolisme benih dengan gejala pertumbuhan. Vigor benih adalah kemampuan benih untuk tumbuh normal pada kondisi lingkungan suboptimal atau memiliki laju pertumbuhan tinggi dan pertumbuhan sinkron pada kondisi optimum. Kekuatan perkecambahan tergantung pada beberapa variabel biokimia dan molekuler. untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh lama dan jenis pararan musik terhadap viabilitas, pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah dilihat dari perubahan morfologis dan fisiologis tanaman. Penelitian ini akan dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar mulai bulan Maret 2022 sampai dengan selesai. Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah bak penyemaian, plastic, MP-3, dan kayu. Bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain benih cabai dan Polybag. Penelitian ini mengunakan Rancangan Split plot, petak utama adalah jenis musik (S) yang terdiri dari 4 level yaitu: S0: Tanpa Musik (Kontrol), S1: Musik Klasik, S2: Musik Rock, S3: Murotal Al-Quran. Anak petak (L), yaitu lamanya paparan suara terdiri dari tiga tingkatan, yaitu: L1: 1 jam, L2: 2 jam, L3: 3 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya interaksi antara perlakuan jenis musik Murotal Quran dengan paparan selama 3 jam (S3L3) terhadap parameter daya kecambah, keserampakan tumbuh, kecepatan tumbuh.
Multiplikasi Tunas Pisang Barangan Merah (Musa acuminata Colla) Dengan Beberapa Konsentrasi BAP Secara In vitro Multiplication of Banana cv. Barangan Merah (Musa acuminata Colla) Shoots with Several BAP Concentrations In Vitro Fadilla, Fadilla; Kesumawati, Elly; Basyah, Bakhtiar; Setyowati, Mita
Jurnal Agrotek Lestari Vol 10, No 1 (2024): April
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jal.v10i1.8366

Abstract

ABSTRACT Conventional banana propagation has not been able to meet the increasingly widespread need for banana seeds. Therefore, it is necessary to propagate by in vitro culture using growth regulators in the culture medium. The research was conducted at the Plant Tissue Culture Laboratory, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University. This research used a non-factorial Randomized Group Design (RAK). This research consists of 2 stages, namely induction and multiplication. The induction stage used banana weevil of cv. Barangan Merah as explants and induced in medium containing MS+ BAP 3 mgL-1. The second stage was multiplication of treated banana cv. Barangan Merah shoots. The treatment of multiplication stage was the BAP concentration which consisted of 5 levels, namely 0 (control), 8, 10, 12 and 14 mgL-1. Each treatment was repeated 8 times, so that there were 40 experimental units. The results showed that the survival percentage of Barangan Merah explants at the multiplication stage was 100% at 8 weeks after planting (WAP). The BAP concentration of 8 mgL-1 tended to be better for shoot emergence time (7.88 WAP), explant shoot height (2.73 cm), number of explant leaves (2.33 pieces), and plantlet formation time (37.33 HST). BAP concentration of 12 mgL-1 tended to be better for the number of shoots (3.71 shoots). BAP concentration of 14 mgL-1 tended to be better for leaf emergence time (28 HST). The medium without BAP (control) tended to be better for the number of explant roots (4.67 roots). Keywords: Banana shoots, benzyl amino purine, cytokinin, propagation, weevil explant ABSTRAK Perbanyakan pisang secara konvensional belum mampu memenuhi permintaan bibit pisang secara luas sehingga perlu dilakukan perbanyakan secara kultur in vitro dengan menggunakan zat pengatur tumbuh pada media kultur. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola non faktorial. Penelitian ini terdiri dari 2 tahap, yaitu induksi dan multiplikasi. Tahap induksi menggunakan eksplan bonggol pisang Barangan Merah dan diinduksi pada media MS+ BAP 3 mgL-1. Tahap kedua adalah multiplikasi tunas pisang Barangan Merah yang diberi perlakuan. Perlakuan pada tahap multiplikasi adalah konsentrasi BAP yang terdiri dari 5 taraf yaitu 0 (kontrol), 8, 10, 12 dan 14 mgL-1, dengan 8 kali ulangan, sehingga terdapat 40 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hidup eksplan bonggol Barangan Merah pada tahap multiplikasi adalah 100 % pada umur 8 minggu setelah tanam (MST). Konsentrasi BAP 8 mgL-1 cenderung lebih baik terhadap waktu muncul tunas yaitu 7,88 hari setelah tanam (HST), tinggi tunas eksplan (2,73 cm), jumlah daun eksplan (2,33 helai), dan waktu terbentuk planlet (37,33 HST). Konsentrasi BAP 12 mgL-1 cenderung lebih baik terhadap jumlah tunas (3,71 tunas). Konsentrasi BAP 14 mgL-1 cenderung lebih baik terhadap waktu muncul daun (28 HST). Konsentrasi tanpa BAP (kontrol) cenderung lebih baik terhadap jumlah akar eksplan (4,67 akar). Keywords: Benzil amino purin, sitokinin, perbanyakan, tunas, eksplan bonggol
Pengaruh Jarak Tanaman dan Waktu Pemberian Insektisida Tamaron 200 EC Terhadap Kerusakan Daun dan Hasil Kacang Tanah Jauhari, Jauhari; Frisella, Ella
Jurnal Agrotek Lestari Vol 11, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jal.v11i1.10241

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan waktu pemberian insektisida Tamaron 200 EC terhadap kerusakan daun dan hasil tanaman kacang tanah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Ada dua faktor yang diteliti, yaitu jarak tanam dan waktu pemberian insektisida Tamaron 200 EC.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanam insentisitas kerusakan daun umur 42 hst pada perlakuan T1 berbeda nyata dengan T2 dan T3; populasi hama ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites Esper) umur 42 hst pada perlakuan T3 berbeda nyata dengan T1 dan T2; dan produksi per plot netto kacang tanah pada perlakuan T2 berbeda sangat nyata dengan T1 dan T3 akibat pengaruh jarak tanaman. Selain itu, hasil penelitian juga menjelaskan bahwa insentisitas kerusakan daun umur 42 hst pada perlakuan M1 berbeda nyata dengan M2, M3, dan M4; Populasi hama ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites Esper) umur 45 hst pada perlakuan M1 berbeda sangat nyata dengan M2, M3, dan M4;  dan produksi per plot netto kacang tanah pada perlakuan M4 berbeda sangat nyata dengan M1, M2, dan M3 akibat waktu pengaruh pemberian insektisida Tamaron 200 EC.
Pengaruh Berbagai Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Adinda, Zulya; Syukri, Syukri; Adnan, Adnan
Jurnal Agrotek Lestari Vol 11, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jal.v11i1.10221

Abstract

This study aims to determine the effect of various planting media on the growth and yield of shallot plants. This study used a non-factorial Randomized Group Design (RAK) method consisting of 16 treatment levels, namely: M1 = Topsoil + Manure + Husk charcoal, M2 = Topsoil + Cow manure + Coconut shell charcoal, M3 = Topsoil + Cow manure + Wood charcoal, M4 = Topsoil + Cow manure + Sawdust charcoal, M5 = Topsoil + Goat manure + Husk charcoal, M6 = Topsoil + Goat manure + Coconut shell charcoal, M7 = Topsoil + Goat manure + Wood charcoal, M8 = Topsoil + Goat manure + Sawdust charcoal, M9 = Topsoil + Chicken manure + Husk charcoal, M10 = Topsoil + Chicken manure + Coconut shell charcoal, M11 = Topsoil + Chicken manure + Wood charcoal, M12 = Topsoil + Chicken manure + Sawdust charcoal, M13 = Topsoil + compost fertilizer + rice husk charcoal, M14 = Topsoil + compost fertilizer + coconut shell charcoal, M15 = Topsoil + compost fertilizer + wood charcoal, M16 = Topsoil + compost fertilizer + sawdust charcoal. The results showed that the treatment of various planting media had a very significant effect on the parameters of plant height at 10, 20, 30 and 40 HST, wet tuber weight, dry tuber weight and a significant effect on tuber weight loss at harvest. The treatment of various planting media did not significantly affect the parameters of the number of tillers at 21 HST and 42 HST, and the number of tubers per clump. The best results were obtained in the M9 treatment (Topsoil: Chicken manure: Rice husk charcoal = 2:1:1). 
Identifikasi Serangga Vektor dan Penyakit serta Potensi Musuh Alaminya pada Pertanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) di Kabupaten Lombok Timur Mursyidin, Abdul Halim; S, Muhammad Qudsiah
Jurnal Agrotek Lestari Vol 11, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jal.v11i1.10777

Abstract

 Cabai rawit merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Namun, produksinya terganggu oleh serangan hama dan penyakit. Penggunaan pestisida untuk mengendalikan hama dan penyakit masih marak dilakukan, tetapi hasilnya belum maksimal, bahkan merusak secara sosial, ekonomi, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi serangga vektor dan penyakit yang menyerang pertanaman cabai rawit di Kabupaten Lombok Timur, serta menggali potensi musuh alami yang dapat dijadikan sebagai agen pengendali hayati. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei–Juli 2024 dengan metode deskriptif observatif yaitu dengan melakukan pengamatan langsung (visual) yang ditentukan secara purposive sampling di lokasi penelitian. Pengambilan sampel dilakukan pada umur tanaman 6–8 minggu setelah tanam (MST). Hasil penelitian menemukan sebanyak lima spesies serangga vektor, meliputi Myzus persicae, Aphis gossypii, Pseudococcus sp., Planococcus sp., dan Bemicia tabaci. Serangga tersebut secara aktif menularkan berbagai patogen penyebab penyakit seperti virus dan jamur. Beberapa penyakit yang ditemukan meliputi Pepper Yellow Leaf Curl Virus (PepYLCV), Chili Puckery Stunt Virus (CPSV), bercak daun Cercospora capsici, Alfalfa Mosaic Virus (AMV), embun jelaga Capnodium spp., dan busuk buah antraknosa Collectrotichum spp. Sementara potensi musuh alami yang ditemukan berupa predator: kumbang koksi Menochilus sexmaculatus dan Cryptolaemus montrouzieri, serta parasitoid: tawon dan lalat tachinid. Pengendalian dengan memanfaatkan musuh alami sebagai agensia pengendali hayati sangat potensial untuk mengurangi penggunaan pestisida kimiawi dalam menurunkan populasi hama.  Kata kunci: agen biokontrol, Lombok Timur, patogen, pengendalian hayati, serangga vektor
Respon Adaptif Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Varietas Padi Merah Lokal terhadap Cekaman Salinitas Siregar, Mawaddah Putri Arisma; Harahap, Evi Julianita; Junita, Dewi; Afrillah, Muhammad; Sari, Putri Mustika
Jurnal Agrotek Lestari Vol 11, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jal.v11i1.11866

Abstract

Brown rice is recognized as a food commodity with high nutritional value and considerable health benefits for humans. However, its cultivation remains relatively limited in popularity and is often associated with low productivity, particularly when grown on marginal lands such as coastal areas affected by high salinity. This study aimed to evaluate the adaptive responses in growth and yield performance of several local brown rice genotypes under salinity stress conditions in the coastal region of Pantai Cermin, Serdang Bedagai Regency, North Sumatra. The research was conducted using a non-factorial Randomized Block Design (RBD) involving eight local brown rice genotypes: Beras Merah, Sidrap Merah, Kelik-3, Mesuji, Sijior, Sipenget, Meulaboh, and Si Tappe. The observed parameters included plant height, number of leaves, number of tillers, number of productive tillers, root fresh weight, root length, grain weight, and panicle length. The results indicated that varietal treatments had a statistically significant effect on all observed parameters, except for the number of leaves. The Sijior genotype exhibited the greatest plant height (58.22 cm), while the Meulaboh genotype recorded the highest values for the number of tillers (29.3), number of productive tillers (28.0), and root length (20.7 cm). The Kelik-3 genotype demonstrated the highest root fresh weight (173.3 g), whereas the Si Tappe genotype showed superior performance in grain weight (62.0 g) and panicle length (31.7 cm).Overall, comprehensive analysis of the data suggests that the Si Tappe, Beras Merah, Kelik-3, and Meulaboh genotypes exhibited the most favorable adaptive responses and demonstrated a high degree of tolerance to salinity stress. The robust root development observed in the Meulaboh and Kelik-3 genotypes supports their adaptability to saline environments, while the extended panicle length in Si Tappe positively contributed to enhanced grain weight.
Kajian Tutupan Lahan dan Tekstur Tanah Kawasan Mangrove di Kecamatan Setia Bakti Kabupaten Aceh Jaya Purnomo, Dwi; Pramulya, Rahmat; Subandar, Irvan; Fithria, Dewi; Nasution, Aswin
Jurnal Agrotek Lestari Vol 11, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jal.v11i1.11694

Abstract

Hutan mangrove memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem pesisir, tetapi mengalami degradasi akibat alih fungsi lahan dan aktivitas manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tutupan lahan dan karakteristik tanah mangrove di Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya, menggunakan citra Sentinel-2 dalam Google Earth Engine (GEE). Analisis dilakukan dengan pendekatan indeks vegetasi Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) serta menentukan tekstur tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah mangrove didominasi oleh tekstur lempung berliat dan lempung pasiran, yang memengaruhi pertumbuhan vegetasi. Analisis tutupan lahan mengungkapkan adanya peningkatan luas mangrove dari 147,98 hektare (2019) menjadi 176,67 hektare (2024). Peningkatan ini dipengaruhi oleh proses pemulihan alami dan upaya konservasi, meskipun beberapa area masih mengalami degradasi. Studi ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam upaya pengelolaan mangrove secara berkelanjutan di wilayah pesisir Aceh Jaya.
Pengaruh Trichoderma harzianum dalam Meningkatkan Hasil Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) dan Mengendalikan Penyakit Bercak Daun Savitri, Aurin Aqilla; Oktasari, Wike; Novianto, Esna Dilli
Jurnal Agrotek Lestari Vol 11, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jal.v11i1.11390

Abstract

Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Cercospora arachidicola menurunkan produksi tanaman kacang tanah di Indonesia. Penggunaan fungisida kimia untuk memberantas masalah ini dalam jangka panjang dapat berdampak negatif terhadap lingkungan. Trichoderma harzianum dapat menjadi solusi yang baik, karena dapat mengganggu pertumbuhan jamur patogen. Namun, penggunaan jamur tersebut pada tanaman kacang tanah belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh Trichoderma harzianum terhadap hasil tanaman kacang tanah dan kemampuannya dalam menekan penyakit bercak daun. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Agustus 2024 di Desa Glagahombo, Kecamatan Tegalrejo, Magelang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAL), dengan dua faktor dan tiga kali ulangan sebagai blok. Faktor pertama adalah konsentrasi T. harzianum (0, 3, 5, dan 7 g/100 ml). Faktor kedua adalah interval waktu pemberian T. harzianum (5, 10, 15, dan 20 hari sekali). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA. Data yang signifikan diuji lanjut dengan orthogonal polynomial dan BNT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian T. harzianum dapat meningkatkan jumlah polong, berat polong segar, berat polong kering, berat biji kering/tanaman, berat biji kering/petak, dan menurunkan intensitas serangan penyakit bercak daun pada konsentrasi 4,36 g/100 ml – 5,80 g/100 ml. Pemberian Trichoderma harzianum setiap 5 hari dan interaksi pemberian T. harzianum 5,06 g/100 ml setiap 5 hari merupakan cara yang paling efektif dalam menurunkan intensitas penyakit bercak daun.
Pengaruh Dosis Ampas Kopi dan Pupuk KCl Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah Wilis, Ruhalena; Mailidarni, Novi; Amalia, Sarah
Jurnal Agrotek Lestari Vol 11, No 2 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jal.v11i2.12249

Abstract

This study aimed to determine the optimal doses of coffee grounds and KCl fertilizer, as well as their interaction effects, on the growth and yield of shallot (Allium cepa L.). The experiment was arranged in a Randomized Complete Block Design (RCBD) with a 4 × 3 factorial arrangement and three replications. The first factor was the dose of coffee grounds (A0= 0 ton ha⁻¹, A1= 2 ton ha⁻¹, A2= 4 ton ha⁻¹, and A3= 6 ton ha⁻¹), and the second factor was the dose of KCl fertilizer (K1= 100 kg ha⁻¹, K2= 200 kg ha⁻¹, and K3= 300 kg ha⁻¹). The observed parameters included plant height and number of tillers per clump at 15, 30, and 45 days after planting (DAP), as well as fresh tuber weight, number of tubers, and dry tuber weight per clump. The results showed that the application of coffee grounds had a highly significant effect on plant height, number of tillers, fresh tuber weight, and dry tuber weight per clump, and a significant effect on the number of tubers per clump. The application of KCl fertilizer had a highly significant effect on plant height at 15 and 30 DAP and on the number of tillers at 30 DAP, but had no significant effect on plant height at 45 DAP, the number of tillers at 15 and 45 DAP, or tuber-related parameters. A significant interaction between coffee grounds and KCl fertilizer was observed for plant height at 15 DAP and for the number of tillers at 30 and 45 DAP. These findings suggest that the combination of coffee grounds and KCl fertilizer can improve vegetative growth and yield performance of shallots, highlighting the potential of organic–inorganic nutrient integration for sustainable crop production.Keywords: Coffee Grounds, Potassium Chloride (KCl), Shallot (Allium cepa L.), Plant Growth, Yield