cover
Contact Name
Lutfiah Ayundasari
Contact Email
lutfiah.ayundasari.fis@um.ac.id
Phone
+6285646664559
Journal Mail Official
jpsi.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jl. Semarang No.5 Kota Malang 65145, East Java
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia
ISSN : -     EISSN : 26221837     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia (JPSI) publish original research papers, conceptual articles, review articles and case studies. The whole spectrum of history learning and history education, which includes, but is not limited to education systems, institutions, theories, themes, curriculum, educational values, historical heritage, media and sources of historical learning, and other related topics.
Articles 153 Documents
PENGEMBANGAN HISTORICAL MODULE AND LAPBOOK (HIMLAP) PERJUANGAN KARAENG GALESONG UNTUK MENINGKATAN PEMAHAMAN SEJARAH LOKAL SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 NGANTANG Rohana, Melda Amelia; Sayono, Joko; Utami, Indah Wahyu Puji
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 7, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v7i1p149-162

Abstract

Abstract:Ngantang, a region in Malang, East Java, is known for its local history detailing the struggle of Karaeng Galesong. Karaeng Galesong, a son of Sultan Hassanuddin from the Kingdom of Gowa in Makassar, actively fought against the Dutch East India Company (VOC) in East Java during the 17th century. After his prolonged struggle, Karaeng Galesong ultimately passed away and was laid to rest in Ngantang. Despite Karaeng Galesong's renown in Ngantang, numerous students in the area remain unfamiliar with the details of his struggle. This unfamiliarity stems from a dearth of references or educational materials pertaining to this particular aspect of local history. To address this issue, researchers developed the 'Historical Module and Lapbook' (HIMLAP) teaching materials, focusing on history of Karaeng Galesong's 17th-century struggle against the VOC in East Java. The objective is to deepen Ngantang students' understanding of their local history and assess HIMLAP's effectiveness as a teaching tool. HIMLAP, an innovative educational tool, merges a module with a lapbook, offering students an engaging and visually appealing learning experience. This research employs Sugiyono's Research and Development (R&D) methodology. However, this research and development phase did not progress to mass production. The validation tests conducted on the materials and teaching resources revealed that the HIMLAP teaching materials, focusing on history of Karaeng Galesong's 17th Century struggle against the VOC in East Java, are exceptionally suitable for pilot testing. In both small and large group trials, an increase in student understanding was observed, as evidenced by the improvement in scores from pretest to posttest. Given these positive outcomes, it can be concluded that the HIMLAP, detailing Karaeng Galesong's struggle, is highly feasible as a local history teaching resource in enhancing student understanding. Abstrak: Ngantang adalah salah satu wilayah di Malang, Jawa Timur yang memiliki sejarah lokal tentang perjuangan Karaeng Galesong. Karaeng Galesong merupakan salah satu anak dari Sultan Hassanuddin dari Kerajaan Gowa (Makassar) yang berjuang melawan VOC di Jawa Timur di abad ke-17. Di akhir perjuangannya, Karaeng Galesong akhirnya meninggal dan dimakamkan di Ngantang. Meskipun tokoh Karaaeng Galesong terkenal di Ngantang, namun banyak siswa di Ngantang yang tidak memahami sejarah perjuangan Karaeng Galesong. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya referensi atau bahan ajar mengenai materi sejarah lokal tersebut. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, peneliti mengembangkan bahan ajar Historical Modul and Lapbook (HIMLAP) sejarah perjuangan Karaeng Galesong melawan VOC di Jawa Timur abad ke-17. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa di Ngantang mengenai sejarah lokalnya dan menguji efektivitas bahan ajar HIMLAP ini sebagai bahan ajar sejarah lokal. HIMLAP ini merupakan bahan ajar inovatif yang menggabungkan modul dengan lapbook agar memberikan tampilan yang menarik bagi siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Research and Development (R&D) Sugiyono, namun peneliti dalam penelitian dan pengembangan ini tidak sampai pada tahap produksi masal. Dari hasil uji validasi materi dan bahan ajar oleh validator, didapatkan hasil bahwa bahan ajar HIMLAP Sejarah Perjuangan Karaeng Galesong Melawan VOC di Jawa Timur Abad ke-17 ini sangat layak untuk di ujicobakan. Dalam ujicoba kelompok kecil maupun ujicoba kelompok besar didapatkan hasil adanya peningkatan pemahaman siswa yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan hasil pretest ke posttest. Dengan adanya hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa HIMLAP perjuangan Karaeng Galesong ini sangat layak untuk menjadi bahan ajar sejarah lokal dalam meningkatkan pemahaman siswa.
KOMPARASI PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN SEJARAH DI INDIA DAN INDONESIA TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS Alfarez, Sidqi; Syaifudin, Syaifudin; Abrar, Abrar
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v7i2p233-253

Abstract

Abstract: The study aims to compare the curriculum of history education at the high school level in India and Indonesia. Especially on the basis of the problem of a decline in the Human Development Index in 2021 due to the COVID-19 pandemic which has an impact on the education sector. With that, we want to see how India and Indonesia can improve the human development index in the field of education through curriculum development. Method: The research method uses qualitative with a descriptive comparative approach with sources obtained through report ministry education. Findings: The results of the study show that India and Indonesia have a way of developing the curriculum. Especially in history education, the high school level has characteristics in approaches, foundations, allocations, and learning materials. Conclusion: India emphasizes humanism and essentialism as the foundation for history learning through interdisciplinary and local history learning, while Indonesia emphasizes the foundation of the philosophy of independent learning derived from humanism. Where the approach to learning history comes from chronological and thematic, especially the study material is in accordance with periodidation and historical themes. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kurikulum pendidikan sejarah di tingkat sekolah menengah di India dan Indonesia. Terutama atas dasar permasalahan penurunan Indeks Pembangunan Manusia pada tahun 2021 akibat pandemi COVID-19 yang berdampak pada sektor pendidikan. Dengan itu, kami ingin melihat bagaimana India dan Indonesia dapat meningkatkan indeks pembangunan manusia di bidang pendidikan melalui pengembangan kurikulum. Metode: Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan komparatif deskriptif dengan sumber yang diperoleh melalui pendidikan kementerian laporan. Temuan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa India dan Indonesia memiliki cara untuk mengembangkan kurikulum. Khusus dalam pendidikan sejarah, jenjang SMA memiliki karakteristik dalam pendekatan, yayasan, alokasi, dan materi pembelajaran. Kesimpulan: India menekankan humanisme dan esensialisme sebagai landasan pembelajaran sejarah melalui pembelajaran sejarah interdisipliner dan lokal, sedangkan Indonesia menekankan landasan filosofi pembelajaran mandiri yang berasal dari humanisme. Dimana pendekatan pembelajaran sejarah berasal dari kronologis dan tematik, terutama materi kajiannya sesuai dengan periodidasi dan tema sejarah.
PENGEMBANGAN MEDIA FLASHCARD GAME TENTANG PERTEMPURAN AMBARAWA 1945 UNTUK PEMBELAJARAN SEJARAH PESERTA DIDIK KELAS XI SMAN 1 DAMPIT KABUPATEN MALANG Sari, Dita Puspita; Sapto, Ari
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 7, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v7i1p94-104

Abstract

Abstract: This research was conducted with the objective of identifying the potential and challenges at SMAN 1 Dampit in developing flashcard game learning media on the Battle of Ambarawa material. The findings revealed that the students at SMAN 1 Dampit displayed a high level of curiosity, which was evident throughout the discussion and delivery of results. The research also identified a lack of modification in the use of learning media, which has the potential to reduce students' interest in the learning process. This, in turn, may affect students' interest in learning and understanding. The objective of this research and development is to produce and test the effectiveness of flash card game media as a history learning media for class XI students of SMAN 1 Dampit. Researchers employed the research and development model method, as proposed by Sugiyono, to achieve these goals. The results of this research and development indicate that flashcard media is an appropriate medium for history learning. This assessment is supported by the findings of the media validity test (85 percent), material validity test (95 percent), small group effectiveness test (79 percent), and large group effectiveness test (81.5 percent) Abstrak: Penelitian ini dilakukan berdasarkan potensi dan masalah di SMAN 1 Dampit untuk mengembangkan media pembelajaran flashcard game pada materi Pertempuran Ambarawa. Potensi yang dijumpai pada penelitian ini adalah peserta didik SMAN 1 Dampit memiliki rasa ingin tahu yang tergolong tinggi, hal ini dapat dilihat dari proses diskusi dan penyampaian hasil. Sedangkan, permasalahan penelitian ini adalah kurangnya modifikasi dalam penggunaan media pembelajaran, sehingga peserta didik kurang tertarik pada rangkaian proses belajar yang kemudian berpengaruh kepada minat belajar dan pemahaman siswa. Studi ini bertujuan untuk menghasilkan dan meguji efektivitas media Flash Card Game sebagai media pembelajaran sejarah untuk peserta didik kelas XI SMAN 1 Dampit. Peneliti memakai model penelitian dan pengembangan menurut Sugiyono guna membantu ketercapaian tujuan tersebut. Hasil dari penelitian dan pengembangan ini adalah media flashcard layak dipergunakan sebagai media pembelajaran sejarah berdasarkan nilai yang diperoleh yaitu sangat valid dan efektif. Penilaian ini dibuktikan dengan hasil validitas media sebesar 85 persen, validitas materi sebesar 95 persen, uji efektivitas kelompok kecil sebesar 79 persen, dan uji efektivitas kelompok besar sebesar 81.5 persen.
ANALISIS NILAI- NILAI KETELADAAN MELALUI TOKOH PAHLAWAN MENGUNAKAN MODEL ROLE- PLAYING PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS VIII SMP PUTRA MAJU PLAJU PALEMBANG Rusdiana, Yusinta Tia; Apriana, Apriana
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v7i2p314-325

Abstract

Abstract: The purpose of this study was to analyze the exemplary values of heroic figures in South Sumatra that have been applied in the learning process using the role playing model. The type of research used is descriptive qualitative. Data collection techniques using interview methods, observation and documentation. Data validity techniques with triangulation of sources and techniques and data analysis starting from data collection, data reduction, data presentation, verification. From the results of the study, it can be concluded (1) exemplary values in social studies subjects at SMP Putra Maju through the material of South Sumatran heroic figures, namely Sultan Mahmud Badaruddin II, Adnan Kapau Gani, A,M Thalib, through these figures students are given an understanding of the values of struggle and can apply them in everyday life (2) The planning carried out by the teacher is quite good starting from the creation of lesson plans, implementation and evaluation. Learning devices designed by teachers using the role-playing model. (3) The obstacles faced by teachers in the process of realizing exemplary values through South Sumatran hero figures are the limited supporting books used by students, learning media and teachers still do not use various learning models so that students feel bored. Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis nilai-nilai keteladanan tokoh pahlawan di Sumatera Selatan yang telah di terapkan dalam proses pembelajaran dengan mengunakan model role playing. Jenis penelitian yang digunakan deskriptif kualitatif Teknik pengumpulan data dengan metode wawancara, observasi dan dokumentasi.. Teknik keabsahan data dengan triangulasi sumber dan teknik dan analisis data dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, sajian data, verifikasi. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan (1) nilai nilai keteladanan pada mata pelajaran IPS disekolah SMP Putra Maju melalui materi tokoh pahlawan Sumatera Selatan yakni Sultan Mahmud Badaruddin II, Adnan Kapau Gani, A.M. Thalib, melalui tokoh tersebut peserta didik diberi pemahaman nilai-nilai perjuangan serta dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari hari (2) Perencanaan yang dilakukan guru cukup baik dimulai dari pembuatan rpp, pelaksanaan dan evaluasi. Perangkat pembelajaran yang dirancang guru dengan mengunakan model role- playing. (3) kendala yang dihadapi guru dalam prores perwujudtan nilai keteladanan melalui tokoh pahlawan sumatera selatan yaitu keterbatasan buku penunjang yang digunakan peserta didik, media pembelajaran dan guru masih belum mengunakan macam-macam model pembelajaran sehingga siswa merasa bosan.
PEMBELAJARAN SEJARAH DI THAILAND Mantab, Porntip; Wijaya, Daya Negri
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 7, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v7i1p163-177

Abstract

Abstract: The aim of this research is to explore the current state of history education in Thailand. The research method employed is library research. Findings indicate that history education in Thailand is characterized by an emphasis on learning about historical events and developing an understanding of the nation's past. Teaching methods and approaches often prioritize reading and discussing significant historical events. One method of teaching is by emphasizing active learning, which takes various forms such as Brainstorming, Problem/Project/Case Study-based Learning, Games-based Learning, and others. The goal is to develop students' problem-solving skills and apply knowledge practically. Furthermore, knowledge acquisition is facilitated through student experiences and summaries. Various media tools like illustrations, videos, and storytelling are also utilized to enhance comprehension and enrich learning experiences. History education also emphasizes the development of analytical skills, including the examination of event origins and impacts, and encourages students to derive lessons from experiences and documentaries to create diverse and meaningful learning encounters relevant to their daily lives. Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki kondisi pendidikan sejarah saat ini di Thailand. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian perpustakaan. Temuan menunjukkan bahwa pendidikan sejarah di Thailand ditandai dengan penekanan pada pembelajaran tentang peristiwa sejarah dan pembangunan pemahaman tentang masa lalu negara. Metode pengajaran dan pendekatan pembelajaran seringkali memprioritaskan membaca dan mendiskusikan peristiwa sejarah yang signifikan. Salah satu cara mengajar adalah dengan menekankan pada pembelajaran aktif yang memiliki berbagai macam bentuk seperti Brainstorming, Pembelajaran Berbasis Masalah/Proyek/Studi Kasus, Pembelajaran Berbasis Permainan, dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menerapkan pengetahuan secara praktis. Selain itu, pengetahuan juga diperoleh melalui pengalaman dan ringkasan dari para siswa. Selain itu, berbagai media seperti ilustrasi, video, dan penceritaan digunakan untuk memperkaya pemahaman dan meningkatkan pengalaman belajar. Pendidikan sejarah juga menekankan pengembangan keterampilan analitis, termasuk pemeriksaan asal-usul dan dampak peristiwa, dan mendorong siswa untuk menarik pelajaran dari pengalaman dan dokumenter untuk menciptakan pengalaman belajar yang beragam dan bermakna yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
PERANAN MUSEUM SINGHASARI SEBAGAI SUMBER BELAJAR BAGI WISATAWAN PELAJAR Farhan, Muhammad
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v7i2p254-268

Abstract

Abstract: This research was conducted with the aim of knowing the role of the Singhasari Museum as a learning resource for student tourists and describing the suitability of the Singhasari Museum as a learning resource. This research uses a qualitative approach with descriptive research type. The data obtained is described in detail and coherently about the role of the Singhasari Museum as a learning resource for student tourists. The techniques used to obtain data are observation, interviews and documentation. The collected information will be analyzed and presented in the form of descriptive descriptions that will answer existing research problems in the field. Based on the research results, two conclusions were obtained. First, the Singhasari Museum is worthy of being used as a learning resource for student tourists by meeting the criteria, namely the goals to be achieved, economical, practical and simple, easy to obtain, and flexible. Through collection objects, the Singhasari Museum provides information to visitors and cannot be separated from the historical values left behind by the discoveries of the Singhasari Kingdom. Having a tour guide also provides more knowledge to student tourists who visit the Singhasari Museum. The Singhasari Museum also provides complete facilities for student tourists. Second, the role of the Singhasari Museum as a learning resource for student tourists can be known through tourist visits made at the Singhasari Museum. There are several factors behind student tourists coming to the museum, namely push factors and pull factors. It is known that there are various activities of student tourists during their visit to the Singhasari Museum, namely gathering information, history learning activities, group discussions and study tours. The benefits that student tourists get after visiting the Singhasari Museum are growing a sense of concern for historical heritage, enriching information, providing new nuances of learning, developing curiosity and insight, and as a means of recreation in the midst of routine. Abstrak: Penelitian ini memiliki tujuan mengetahui peranan Museum Singhasari sebagai sumber belajar bagi wisatawan pelajar serta mendeskripsikan bagaimana kelayakan dari Museum Singhasari sebagai sumber belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data yang diperoleh dideskripsikan secara detail dan runtut tentang peranan Museum Singhasari sebagai sumber belajar bagi wisatawan pelajar. Teknik yang digunakan untuk memeroleh data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari terkumpulnya informasi akan dianalisis dan dipaparkan dalam bentuk uraian deskriptif yang akan menjawab permasalahan penelitian yang ada di lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh dua simpulan. Pertama, Museum Singhasari layak dijadikan sebagai sumber belajar bagi wisatawan pelajar dengan memenuhi kriteria yaitu tujuan yang ingin dicapai, ekonomis, praktis dan sederhana, gampang didapat, serta fleksibel. Melalui benda koleksi, Museum Singhasari memberikan informasi kepada pengunjung dan tak lepas dari nilai-nilai sejarah yang tertinggal dari penemuan Kerajaan Singhasari. Adanya pramuwisata juga memberikan pengetahuan lebih kepada wisatawan pelajar yang berkunjung ke Museum Singhasari. Museum Singhasari juga memberikan fasilitas lengkap bagi para wisatawan pelajar. Kedua, peran Museum Singhasari sebagai sumber belajar bagi wisatawan pelajar dapat diketahui melalui kunjungan wisata yang dilakukan di Museum Singhasari, terdapat beberapa faktor yang melatari wisatawan pelajar datang ke museum yakni faktor pendorong (push factor) dan faktor penarik (pull factor). Diketahui ragam kegiatan wisatawan pelajar selama berkunjung di Museum Singhasari yakni menggali informasi, kegiatan pembelajaran sejarah, diskusi kelompok, dan studi wisata. Manfaat yang diperoleh wisatawan pelajar setelah berkunjung ke Museum Singhasari yaitu menumbuhkan rasa kepedulian terhadap peninggalan Sejarah, memperkaya informasi, memberikan nuansa pembelajaran yang baru, mengembangkan rasa keingintahuan dan wawasan yang dimiliki, serta sebagai sarana rekreasi di tengah rutinitas.
ANALISIS POTENSI PRASASTI SEBAGAI SUMBER SEJARAH MASA HINDU BUDDHA DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS SEJARAH KEBENCANAAN PADA KELAS X SMA Ikhrom, Anisa Musyaroful; Wahyudi, Deny Yudo
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 7, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v7i1p105-120

Abstract

Abstract: Indonesia is located in a disaster-prone area. It has been recorded that since the Hindu-Buddhist era, disasters have also occurred. Curriculum requirements also require learning related to the environment. There is a need to learn the history of disasters to increase awareness of disasters. Learning using inscriptions as a source is necessary because it records various events regarding disasters and their mitigation. This research uses a descriptive qualitative method which emphasizes the analysis of historical phenomena seen from descriptive data. The data source used by the author is data found around the area where the inscription was found. The sources used are the Harinjing, Rukam, Warungahan, and Katiden I and II inscriptions. The results of this research, the inscription also mentions mitigation in its efforts to preserve the environment. The inscriptions that mention disasters are the Harinjing (flood), Rukam (mountain eruption), Warungahan (earthquake), and Katiden I and II (forest fire) inscriptions. Disaster history learning can be done using content and context aspects. The aim of the history subject, point 6, is to develop moral, humanitarian and environmental values as the basis for developing environmental historical contexts in learning. There are problems related to disasters and this is in accordance with the needs of history learning objectives, so inscriptions are included in the potential as a historical source that is included in class X high school learning because the material is related to Hindu- Buddhist. Abstrak: Indonesia terletak pada wilayah daerah rawan bencana. Tercatat sejak masa Hindu-Buddha, bencana juga sudah ada. Kebutuhan kurikulum juga menuntuk pembelajaran terkait lingkungan. Perlunya pembelajaran sejarah kebencanaan untuk meningkatkan kewaspadaan akan bencana. Pembelajaran dengan menggunakan prasasti sebagai sumber diperlukan karena mencatat berbagai peristiwa mengenai bencana dan mitigasinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dimana menekankan pada analisis fenomena sejarah dilihat dari data deskriptif. Sumber data yang digunakan penulis adalah data temuan ditemukan di sekitar wilayah penemuan prasasti. Sumber yang digunakan yaitu Prasasti Harinjing, Rukam, Warungahan, dan Katiden I dan II. Hasil dari penelitian ini prasasti juga menyebutkan terkait mitigasi dalam upayanya menjaga kelestarian lingkungan. Adapun prasasti yang menyebutkan tentang bencana yaitu Prasasti Harinjing (banjir), Rukam (gunung meletus), Warungahan (gempa bumi), serta Katiden I dan II (kebakaran hutan). Tujuan mata-pelajaran sejarah poin ke 6 berbunyi menumbuhkembangkan nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan lingkungan hidup menjadi dasar pengembangan konteks sejarah lingkungan dalam pembelajaran. Adanya masalah terkait bencana dan hal tersebut sesuai dengan kebutuhan tujuan pembelajaran sejarah, maka prasasti masuk dalam potensi sebagai sumber sejarah yang masuk pada pembelajaran kelas X SMA karena materi terkait Hindu-Buddha.
KULINER KHAS KOTA TASIKMALAYA SEBAGAI KAJIAN MATERI DALAM MATA PELAJARAN SEJARAH JENJANG SMA Armiyati, Laely; Fachrurozi, Miftahul Habib; Miftahudin, Zulpi; Sofiani, Yulia
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v7i2p326-343

Abstract

Culinary studies from a historical perspective present a picture of the social, cultural, and economic conditions of the local community. Culinary internalization in history subjects at the high school level is an effort to strengthen understanding of the connection between the past, present, and future. The research aims to trace the historical background of the typical cuisine of Tasikmalaya City and analyze the culinary integration strategy in the Senior High School. This research uses qualitative methods with a realist ethnographic approach through four phases, including 1) planning consists of determining the research setting, formulating research questions, and determining informants; 2) data collection includes observation, open interviews, and making ethnographic notes; 3) data analysis consists of content analysis and contextualizing the results of ethnographic notes with the high school history curriculum; and 4) report writing. The results show that the Tasikmalaya culinary specialties such as nasi tutug oncom (tutug oncom rice), bubur ayam (chicken noodle), bacang, baso noodle, rujak honje (honje salad), es sirop bojong (bojong ice), and soto, is closely related to the social, economic, and geographical life in Tasikmalaya. Tutug oncom rice is related to the difficult economic life of the community during the Japanese occupation. Chicken noodle, baso noodle, bacang, and soto illustrate the acculturation between Chinese and Sundanese cuisine. Sirop bojong ice characterizes the European influence on Tasikmalaya society as sirop was first introduced by the Dutch. Culinary integration in the history subjects is carried out by making relevance between the historical content of culinary existence and various concepts listed in the learning outcomes. Based on the results of the analyses and interviews, the culinary history content can be taught in Phase E of the Spice Route material and the relationship between the past, present, and future, as well as in Phase F of Class XI on the Japanese colonization material.
Narasi sejarah yang tidak setara: mengurangi bias gender dalam buku teks sejarah Indonesia Utama, Taqwa Ridlo
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v7i2p%p

Abstract

Gender bias in Indonesian history education remains a significant issue that requires attention. This research aims to reduce such disparities by exploring the often-overlooked representation of women's roles. Using a descriptive qualitative method and a literature review approach, this study analyzes the historiography dominated by patriarchal perspectives in 10th-grade high school history textbooks, specifically on the topic of the Islamic kingdoms in Indonesia. By applying feminist pedagogy, the research highlights issues of gender inequality in historical narratives. The analysis is conducted within the framework of cultural feminism, exploring Indonesian values and culture to enrich women's narratives. Prominent female figures in leadership, military, politics, law, and economics are highlighted to create a more inclusive narrative. The findings of this study are expected to contribute to the development of gender-sensitive teaching materials that align with a more flexible and contextual curriculum paradigm.
ANALISIS NILAI-NILAI KEPAHLAWANAN KH. MASJKUR DALAM PERJUANGAN KEMERDEKAAN INDONESIA Winata, Arif Pandu; Sayono, Joko; Hudiyanto, Reza
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 8, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v8i1p30-41

Abstract

Abstract: KH. Masjkur merupakan salah satu tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama dalam perannya sebagai ulama dan pejuang yang membangkitkan semangat jihad di kalangan umat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai kepahlawanan KH. Masjkur dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, baik dari segi pemikiran, strategi perjuangan, maupun warisan yang ditinggalkannya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode sejarah. Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan dengan menelusuri sumber-sumber primer dan sekunder, seperti dokumen, arsip, serta literatur yang membahas peran KH. Masjkur dalam perjuangan nasional. Analisis data dilakukan dengan metode kritik sumber dan interpretasi historis untuk memahami secara mendalam kontribusi dan nilai-nilai kepahlawanan yang dapat diteladani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KH. Masjkur memiliki tiga nilai utama dalam perjuangannya, yaitu keberanian (courage) dalam menghadapi penjajah, keteguhan (perseverance) dalam membela kemerdekaan, serta kepemimpinan religius (religious leadership) yang mampu menyatukan umat dalam semangat jihad fisabilillah. Selain itu, sebagai Menteri Agama pertama pasca-kemerdekaan, KH. Masjkur juga berperan dalam membangun fondasi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan bernegara. Nilai-nilai kepahlawanan yang dimilikinya tetap relevan untuk ditanamkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, terutama dalam memperkuat nasionalisme dan moderasi beragama. Abstract: KH. Masjkur was a significant figure in Indonesia’s independence struggle, particularly in his role as an Islamic scholar and fighter who instilled the spirit of jihad among Muslims. This study aims to analyze the heroic values of KH. Masjkur in Indonesia’s independence movement, focusing on his thoughts, strategies, and legacy. This research employs a qualitative approach using the historical method. Data collection is conducted through literature studies by examining primary and secondary sources, such as documents, archives, and literature discussing KH. Masjkur’s role in the national struggle. Data analysis is carried out using source criticism and historical interpretation to gain an in-depth understanding of his contributions and the heroic values that can be emulated. The findings indicate that KH. Masjkur embodied three primary values in his struggle: courage in resisting colonial forces, perseverance in defending independence, and religious leadership that united people under the spirit of jihad fisabilillah. Furthermore, as the first Minister of Religious Affairs after independence, KH. Masjkur played a crucial role in establishing Islamic values in the national framework. His heroic values remain relevant today in fostering nationalism and religious moderation in Indonesia.