cover
Contact Name
Agus Herianto
Contact Email
agusherianto.ummat@gmail.com
Phone
+6287864593560
Journal Mail Official
geography.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jl. KH Ahmad Dahlan No 1 Pagesangan, Kota Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan
ISSN : 23392835     EISSN : 26145529     DOI : https://doi.org/10.31764/geography
Core Subject : Science, Education,
Geography : Jurnal Kajian Penelitian & Pengembangan Pendidikan was founded upon the conviction that the development of learning and teaching was vitally important to higher education. It is committed to promote, enhance and share geography learning and teaching in all institutions of higher education throughout the world, and provides a forum for geographers and others, regardless of their specialisms, to discuss common educational interests, to present the results of educational research, and to advocate new ideas.
Articles 202 Documents
META ANALISIS : MODEL PEMBELAJARAN GEOGRAFI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR SPASIAL PESERTA DIDIK DI INDONESIA Nur Isnaini; Dede Sugandi; Yani Yani
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 11, No 2 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v11i2.15710

Abstract

Abstrak : Kemampuan berpikir spasial dapat membantu peserta didik dalam membuat keputusan dari hal yang sederhana sampai dengan hal yang kompleks. Pemilihan model pembelajaran oleh guru berperan penting terhadap peningkatan kemampuan  berpikir spasial peserta didik. Penelitian yang membahas model pembelajaran untuk peningkatan kemampuan berpikir spasial telah banyak dilakukan. Akan tetapi, sintesis penelitian-penelitian tersebut belum banyak dilakukan. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah mensintesis artikel penelitian tentang model pembelajaran untuk diketahui keefektifan model tersebut dalam meningkatkan kemampuan berpikir spasial. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan melalui langkah-langkah literature review meta analisis. Jumlah populasi sebanyak 86 artikel, tetapi setelah disesuaikan dengan kriteria inklusi, jumlah artikel yang dijadikan sampel penelitian ini sebanyak 13 artikel. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik statistika deskriptif berupa perhitungan selisih nilai mean post test kelas eksperimen dengan nilai mean post test kelas kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran yang paling efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir spasial adalah model pembelajaran berbasis proyek berbantuan Google Earth dengan selisih sebesar 22 (nilai mean post tes kelas eksperimen 83, sedangkan nilai mean post tes kelas kontrol 61).Abstract:  Spatial thinking skills can help students make decisions from simple things to complex things. The choice of learning model by the teacher plays an important role in increasing students' spatial thinking skills. Research that discusses learning models to improve spatial thinking skills has been carried out a lot. However, the synthesis of these studies has not been widely carried out. Therefore, the purpose of this research is to synthesize research articles on learning models to determine the effectiveness of these models in improving spatial thinking skills. This study used a quantitative descriptive method by means of a literature review meta-analysis. The total population was 86 articles, but after adjusting for inclusion criteria, the number of articles used as samples in this study were 13 articles. The data analysis technique used is descriptive statistical techniques in the form of calculating the difference between the average post-test scores of the experimental class and the average post-test scores of the control class. The results showed that the most effective learning model for improving spatial thinking skills was a project-based learning model assisted by Google Earth with a difference of 22 (the mean post-test for the experimental class was 83, while the mean post-test for the control class was 61).
PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS SEBAGAI LANGKAH STRATEGIS DALAM PEMETAAN ZONA LONGSOR DI KECAMATAN BANJARWANGI Muhammad Reza Fahlefi; Soraya Tiana Dewi; Muhammad Aditya Makki; Nandi Haerudin; Rahmi Mulyasari
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 11, No 2 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v11i2.15553

Abstract

Abstrak: Kecamatan Banjarwangi merupakan daerah perkebunan, persawahan, dan perbukitan yang curam serta daerah dengan relief yang sedang hingga tinggi. Sehingga daerah ini memiliki potensi terjadinya longsor. Maka dalam hal ini peran kemitigasian sangat penting untuk meminimalisir dampak terjadinya gerakan tanah (longsor). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi potensi bahaya longsor Kecamatan Banjarwangi sebagai langkah strategis dalam memetakan zona bahaya longsor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan memanfaatkan peta curah hujan, formasi batuan, peta kemiringan lereng, dan peta jenis tanah sebagai bahan analisis bencana longsor. Hasil pada penelitian ini yaitu daerah Banjarwangi memiliki topografi yang curam, intensitas curah hujan yang terbilang tinggi di setiap tahun dengan jenis tanah Ochric Andosols dan Lithosols yang tersusun oleh batuanlempung dan batupasir yang memiliki potensi untuk terjadinya tanah longsor jika dilihat dari struktur dan tekstur batuannya. Tidak tepatnya tata guna lahan dan masyarakat yang tidak tertib aturan menjadi salah satu faktor penyebab longsor. Perlunya sosialisasi dan simulasi bencana agar masyarakat dapat tanggap bencana. Abstract: Banjarwangi District is an area of plantations, rice fields, and steep hills as well as areas with moderate to high relief. So this area has the potential for landslides. So in this case the role of mitigation is very important to minimize the impact of landslides. The purpose of this study is to identify potential landslide hazards in Banjarwangi District as a strategic step in mapping landslide hazard zones. The method used in this study is a Geographic Information System (GIS) by utilizing rainfall maps, rock formations, slope maps, and soil type maps as material for landslide disaster analysis. The results of this study are that the Banjarwangi area has a steep topography, relatively high rainfall intensity every year with Ochric Andosols and Lithosols soil types composed of clay and sandstone which have the potential for landslides when viewed from the structure and texture of the rocks. Inaccurate land use and community regulations that are not orderly are one of the factors causing landslides. The need for socialization and disaster simulation so that people can respond to disasters.
PEMAHAMAN GURU TERHADAP PROBLEM BASED LEARNING KOLABORATIF PADA PEMBELAJARAN IPS SD Vanda Rezania; Zuyyina Fihayati; Muhlasin Amrullah; Farah Isnani Ambarwati; Refi Mutiara Putri
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 11, No 2 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v11i2.16225

Abstract

Abstrak: PBL Kolaboratif merupakan strategi pembelajaran yang mengedepankan analisis permasalahan, penemuan solusi, dan keterlibatan peserta didik. Namun, tidak semua guru memahami prosedur pelaksanaan. Inilah yang melatarbelakangi penelitian untuk mengetahui pemahaman guru terhadap PBL Kolaboratif pada pembelajaran IPS SD yang menggunakan pendekatan kuantitatif non eksperimen (metode survei). Variabel penelitian adalah pemahaman guru terhadap PBL Kolaboratif pada pembelajaran IPS SD. Populasi penelitian adalah guru SDN di Kecamatan Sukodono sejumlah 344 guru. Sampelnya sejumlah 78 guru menggunakan rumus Slovin. Teknik pengumpulan data menggunakan tes sehingga instrumen penelitian menggunakan lembar tes pemahaman PBL Kolaboratif pada IPS SD yang berisi 20 pertanyaan pilihan ganda dan 4 pertanyaan esai mengacu pada indikator penelitian, yaitu: pengertian PBL Kolaboratif; tahap 1: memberikan orientasi permasalahan kepada siswa; tahap 2: mengorganisasikan siswa untuk meneliti (melibatkan dan mengeksplorasi); tahap 3: membantu investigasi mandiri dan kelompok (mengembangkan); tahap 4: mengembangkan dan mempresentasikan hasil (menjelaskan); tahap 5: menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah; dan 4 soal esai tentang penerapan PBL Kolaboratif pada pembelajaran IPS SD. Hasil penelitian adalah pemahaman guru SDN Kecamatan Sukodono tergolong tinggi, dengan skor rata-rata 79,62 yang berada di atas skor mean ideal 62,5. Maka dari itu, diharapkan implementasi PBL Kolaboratif rutin diterapkan sehingga keterampilan berpikir kritis dan kerjasama siswa meningkat. Abstract: Collaborative PBL is a learning strategy that emphasizes problem analysis, finding solutions, and student involvement. However, not all teachers understand the implementation procedure. This is the background of the research to find out teachers' understanding of Collaborative PBL in Elementary Social Studies learning using a non-experimental quantitative approach (survey method). The research variable is the teacher's understanding of Collaborative PBL in Elementary Social Studies learning. The study population was elementary school teachers in Sukodono sub-district with 344 teachers. The sample is 78 teachers using the Slovin formula. The data collection technique used tests so that the research instrument used a Collaborative PBL understanding test sheet on Social Elementary Schools which contained 20 multiple choice questions and 4 essay questions referring to research indicators, namely: the meaning of Collaborative PBL; stage 1: provide problem orientation to students; stage 2: organizing students to research (engage and explore); stage 3: assisting independent and group investigations (developing); stage 4: develop and present results (explain); stage 5: analyze and evaluate problem-solving process; and 4 essay questions about the application of Collaborative PBL in learning social studies in elementary school. The results is the teachers' understanding of SDN Sukodono District was relatively high, with an average score of 79.62 which is above the mean ideal score of 62.5. Therefore, it is hoped that the implementation of Collaborative PBL is routinely applied so that students' critical thinking skills and cooperation increase.
REGULASI DAN TATA LAKSANA PENERAPAN NILAI EKONOMI KARBON BERBASIS VOLUNTARY DAN MANDATORY DI NUSA TENGGARA BARAT Nurjannah Septyanun; Julmansyah Julmansyah; Rina Rohayu Harun; Indra Jaya; Zaenafi Ariani
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 11, No 2 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v11i2.17210

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persoalan tata laksana nilai ekonomi karbon pra dan pasca terbitnya peraturan presiden nomor 98 tahun 2021 jo peraturan Menteri lingkungan hidup dan kehutanan nomor 21 tahun 2022 tentang tata laksana penerapan nilai ekonomi karbon. Potensi hutan dan lahan, harus dimaksimalkan melalui integrasi dan rencana aksi daerah. Pelaksanaan kegiatan ekonomi karbon, selama ini berjalan masih bersifat sukarela (voluntary). Menggunakan metode penelitian yuridis doktrinal, dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Selanjutnya menggunakan sumber data sekunder berupa bahan hukum primer, sekunder dan tersier, dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian pertama, tata laksana ekonomi karbon pra Perpres Nomor 98 tahun 2021 jo Permenlhk Nomor 21 tahun 2022, telah dilaksanakan kurang lebih selama 15 tahun dan bersifat sukarela (voluntary) oleh kelompok masyarakat/komunitas penggiat lingkungan, baik dengan mekanisme skema Plan Vivo dan skema lainnya. Kegiatannya bersifat dua pihak (business to business) yaitu pihak komunitas dan pihak investor luar negeri. Kedua, Diterbitkannya Perpres Nomor 98 tahun 2021 jo Permenlhk Nomor 21 tahun 2022, maka kegiatan ekonomi karbon yang dilakukan sebelum regulasi tersebut lahir, diwajibkan (mandatory) untuk melakukan penyesuaian melalui skema Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI). Lahirnya regulasi aquo, memberikan kepastian hukum pelaksanaan nilai ekonomi karbon di Indonesia.   Abstract: This study aims to examine the issue of governance of the economic value of carbon pre- and post-issuance of presidential regulation number 98 of 2021 and regulation of the Minister of Environment and Forestry number 21 of 2022 concerning the implementation of the economic value of carbon. The potential of forests and land must be maximized through integration and regional action plans. The implementation of carbon economy activities, so far, is still voluntary. Using juridical doctrinal research methods, with a library research approach. Furthermore, it uses secondary data sources in the form of primary, secondary and tertiary legal materials, and is analyzed using qualitative descriptive analysis. The results of the first study, the management of the carbon economy pre-Presidential Regulation Number 98 of 2021 jo Permenlhk Number 21 of 2022, has been implemented for approximately 15 years and is voluntary by community groups / communities of environmental activists, both with the mechanism of the Vivo Plan scheme and other schemes. Its activities are two parties (business to business), namely the community and foreign investors. Second, the issuance of Presidential Regulation Number 98 of 2021 and Permenlhk Number 21 of 2022, so carbon economic activities carried out before the regulation was born, are required (mandatory) to make adjustments through the National Registry System for Climate Change Control (SRN PPI) scheme. The birth of aquo regulation, providing legal certainty for the implementation of the economic value of carbon in Indonesia.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING PADA MATERI PERSEBARAN WILAYAH RAWAN BENCANA ALAM DI INDONESIA TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR SPASIAL PESERTA DIDIK Faizah Syafitri; Aris Munandar; Rayuna Handawati
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 11, No 2 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v11i2.15748

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari penggunaan model pembelajaran discovery learning terhadap kemampuan berpikir spasial peserta didik SMA pada materi persebaran wilayah rawan bencana alam di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan quasi eksperimen. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi dan tes kemampuan berpikir spasial berdasarkan indikator AAG, 2008. Teknik yang digunakan untuk menganalisis yaitu uji instrumen, uji persyaratan analisis data, dan uji analisis data menggunakan uji persamaan dua rata-rata menggunakan independent sample T-test. Berdasarkan hasil pengujian terdapat pengaruh yang signifikan pada nilai kemampuan berpikir spasial peserta didik kelas eksperimen. Kelas eksperimen mengalami peningkatan nilai kemampuan berpikir spasial sebesar 12,65 menjadi 80,59, kelas kontrol mengalami peningkatan nilai sebesar 6,03 menjadi 74,12. Kesimpulan ini juga diambil dari nilai Sig. pada independent sample T-test sebesar 0,00<0,05 (0,05=nilai rujukan), yang artinya terdapat pengaruh signifikan dalam penggunaan model pembelajaran discovery learning terhadap kemampuan berpikir spasial peserta didik. Peningkatan terjadi terutama pada indikator berpikir spasial aura yang mengalami peningkatan 51% yaitu peserta didik dapat menjelaskan dampak dari keberadaan suatu wilayah bersamaan dengan faktor terjadinya bencana di lokasi yang berdekatan dan paling rendah terjadi pada indikator region sebesar 5% yaitu peserta didik dapat mendelineasi wilayah yang memiliki kesamaan jenis atau karakteristik kerawanan bencana alam di Indonesia.Abstract:  This study aims to determine the effect of using the discovery learning model on the spatial thinking ability of high school students on the material of the distribution of natural disaster-prone areas in Indonesia. This research uses quantitative methods with a quasi-experimental approach. Data collection in this study used observation and spatial thinking ability tests based on AAG indicators, 2008. The techniques used to analyze are instrument test, data analysis requirement test, and data analysis test using the two average equality test using the independent sample T-test. Based on the test results, there is a significant effect on the value of the spatial thinking ability of experimental class students. The experimental class experienced an increase in the value of spatial thinking ability by 12.65 to 80.59, the control class experienced an increase in value by 6.03 to 74.12. This conclusion is also taken from the Sig. value on the independent sample T-test of 0.00 <0.05 (0.05 = reference value), which means that there is a significant influence in the use of the discovery learning model on the spatial thinking ability of students. The increase occurred mainly in the aura spatial thinking indicator which experienced an increase of 51%, namely students can explain the impact of the existence of an area together with the factors of disaster occurrence in adjacent locations and the lowest occurred in the region indicator by 5%, namely students can delineate areas that have similar types or characteristics of natural disaster vulnerability in Indonesia.
MENGONSTRUKSI POTENSI BUDAYA LOKAL PATORANI DAN PENERAPANNYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR GEOGRAFI Erman Syarif
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 11, No 2 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v11i2.15256

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan : 1) untuk mengetahui bentuk konservasi nelayan patorani dalam konservasi wilayah pesisir dan laut di Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar, dan 2) mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam budaya patorani sebagai sumber belajar Geografi di Sekolah Menengah Atas. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Sumber data diperoleh dari informan dengan melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk konservasi nelayan patorani yakni nilai, norma, kepercayaan, pengetahuan, alat tangkap, dan kasipalli (pantangan), dan nilai-nilai budaya patorani antara lain: 1) nilai adaptasi lingkungan, 2) nilai integritas keruangan, 3) nilai keseimbangan, 4) nilai kesinambungan, 5) nilai ketaatan, 6) nilai kebersamaan, 7) nilai keselarasan, 8) nilai gotong royong, dan  8) nilai budaya. Nilai-nilai budaya lokal patorani penting untuk diketahui oleh peserta didik sehingga dapat dijadikan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran Geografi. Abstract:  This study aims: 1) to determine the form of conservation of patorani fishermen in the conservation of coastal and marine areas in Galesong District, Takalar Regency, and 2) to identify the values contained in patorani culture as a source of learning geography in high school. This type of research is a qualitative research using a case study approach. Sources of data obtained from informants by conducting observations, interviews, and documentation. The data analysis used is data reduction, data presentation and conclusion drawing/verification. The results showed that the forms of conservation of patorani fishermen are values, norms, beliefs, knowledge, fishing gear, and kasipalli (abstinence), and the values of patorani culture include: 1) environmental adaptation values, 2) spatial integrity values, 3) values balance, 4) the value of sustainability, 5) the value of obedience, 6) the value of togetherness, 7) the value of harmony, 8) the value of mutual cooperation, and 8) the value of culture. The values of the local patorani culture are important for students to know so that they can be used as learning resources in learning geography.
PERBEDAAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI KELAS PEMINATAN IPS DENGAN LINTAS MINAT BERDASARKAN PERSEPSI DAN MINAT SISWA TERHADAP GEOGRAFI Muhammad Ayub Djoda; Yusuf Suharto; Purwanto Purwanto; Didik Taryana
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 11, No 2 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v11i2.15219

Abstract

Abstrak: Penelitian terdahulu menyebutkan jika kelas peminatan IPS memiliki hasil belajar geografi yang lebih rendah daripada kelas Lintas Minat. Perbedaan hasil belajar terjadi karena terdapat perbedaan faktor internal, seperti persepsi dan minat siswa terhadap geografi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar geografi kelas peminatan IPS dengan Lintas Minat berdasarkan persepsi dan minat siswa terhadap geografi. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan statistik inferensial. Populasi berasal dari siswa kelas XI peminatan IPS dan Lintas Minat geografi di SMA Negeri Kota Malang. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada hasil belajar geografi kelas peminatan IPS dengan Lintas Minat berdasarkan persepsi dan minat siswa. Siswa kelas peminatan  IPS dengan persepsi positif dan minat tinggi memiliki hasil belajar yang lebih rendah daripada siswa Lintas Minat dengan persepsi negatif dan minat rendah. Hal tersebut menunjukkan bagaimana rendahnya aspek pengetahuan siswa peminatan IPS dibandingkan Lintas Minat. Berdasarkan penelitian ini, pemangku kebijakan kurikulum dan guru geografi perlu menelaah kembali terkait pembelajaran geografi. Abstract: Previous studies stated that Social Science Specialization class had lower geography learning outcomes than Cross-Interest class. The difference in learning outcomes occurs due to differences in internal factors, such as students’ perception and interest of geography. This paper aims to determine the difference of geography learning outcomes of Social Science Specialization and Cross-Interest based on students’ perception and interest of geography. This research was conducted with a quantitative approach using inferential statistics. The research population was XI-grade students from the Social Science Specialization and geography Cross-Interest program at Malang City Public Senior High School. The results showed significant differences in geography learning outcomes of Social Science Specialization and Cross-Interest based on students’ perception and interest. Social Science Specialization students with positive perception and high interest had lower learning outcomes than Cross-Intrest students with negative perception and low interest. This showed how low the cognitive aspect of Social Science Specialization students compared to Cross-Interest. Based on this study, curriculum policy makers and geography teachers need to re-examine geography learning.
MEDIA PEMBELAJARAN GEMPA BUMI BERBASIS ANDROID UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KESIAPSIAGAAN SISWA TERHADAP BENCANA DI SMA NEGERI 2 TOMIA
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 11, No 2 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v11i2.15054

Abstract

Abstrak: Media pembelajaran berbasis android memudahkan siswa untuk belajar secara mandiri karena dirancang dengan konsep yang modern dan praktis. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis efektivitas penggunaan produk yang telah dikembangkan yaitu media pembelajaran gempa bumi berbasis android dalam meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan siswa terhadap bencana. Penelitian ini menggunakan tahapan model pengembangan ADDIE, alur pengujian one group pretest-posttest design, teknik pengambilan sampel menggunakan probability sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, soal latihan dan studi pustaka, teknik analisis data menggunakan uji validitas, reliabilitas, normalitas, homogenitas, analisis ketuntasan rata-rata, uji N-gain dan uji paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata validasi ahli media sebesar 87% dan ahli materi sebesar 81%. Persentase ketuntasan rata-rata saat pretest aspek pengetahuan sebesar 28% dan aspek kesiapsiagaan sebesar 39% setelah mendapatkan treatment mengalami peningkatan saat posttest yaitu aspek pengetahuan mendapatkan persentase sebesar 61% dan aspek kesiapsiagaan sebesar 78%. Hasil uji N-Gain aspek pengetahuan sebesar 0,37 dan uji N-Gain aspek kesiapasiagaan sebesar 0,34. Hasil uji paired sample t-test baik aspek pengetahuan maupun kesiapsiagaan memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000. Berdasarkan data tersebut sehingga penelitian ini berhasil mengembangkan media pembelajaran gempa bumi berbasis android yang valid dan layak digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan siswa terhadap bencana. Abstract: Android-based learning media aided students to learn independently since it was designed in a modern and serviceable concept. This study aimed to analyze the effectiveness of using the development product of Android-based earthquake learning media in increasing students' knowledge and preparedness for disasters. The study used the phase of the ADDIE development model, the one-group pretest-posttest design. The sampling technique was probability sampling. The data collection techniques were observation, interviews, practice questions, and literature study. The data analysis techniques used were validity test, reliability test, normality test, homogeneity test, average completeness analysis, N-gain test, and paired sample t-test.The results showed that the average value of validation by media experts was 87% and by material experts was 81%. In the pretest, the average percentage on the knowledge aspect was 28%, and the preparedness aspect was 39%. After getting treatment, the posttest faced an enhancement in the average percentage of completeness. The knowledge aspect got 61%, and the preparedness aspect was 78%. In addition, the result of the N-Gain test for the knowledge aspect was 0.37, and the preparedness aspects were 0.34. The result of the paired sample t-test on both the knowledge and preparedness aspects obtained a significance value of 0.000. The result indicated the study was successful in developing a valid and feasible Android-based earthquake learning media to increase students' knowledge and preparedness for disasters.
APPLICATION OF CA-MC FOR PREDICTION OF DEVELOPED LAND EXPANSION IN THE PERSPECTIVE OF KOLKATA CITY, INDIA AND MATARAM CITY, INDONESIA Astuty, Yulia Indri; Koestoer, Raldi Hendro
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 12, No 1 (2024): APRIL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v12i1.15872

Abstract

Abstrak: Saat ini, negara berkembang seperti India dan Indonesia mengalami peningkatan populasi penduduk di wilayah perkotaan sebagai dampak adanya urbanisasi. Peningkatan penduduk ini berkaitan erat dengan peningkatan lahan terbangun yang menjadi indikator adanya pertumbuhan perkotaan. Pertumbuhan perkotaan yang tidak terkendali dapat menyebabkan kerusakan pada ekosistem serta berbagai permasalahan keruangan. Oleh karena itu, diperlukan prediksi perubahan penggunaan lahan/tutupan lahan (LU/LC) sebagai masukan dalam kebijakan tata ruang yang berkelanjutan. Tujuan dari kajian ini adalah untuk melihat tren penelitian di India dan Indonesia serta melihat perbandingan pola perluasan lahan terbangun di Kota Kolkata, India dan Kota Mataram, Indonesia. Kajian ini dilakukan dengan metode studi literatur dan deskriptif komparatif prediksi perluasan lahan terbangun. Hasil dari penelitian ini adalah metode CA-MC dan remote sensing menjadi tren metode prediksi LU/LC di India dan Indonesia. Kota Kolkata, India dan Kota Mataram, Indonesia mengalami perluasan lahan terbangun yang polanya mengikuti pola pembangunan infrastruktur transportasi. Peningkatan luas lahan terbangun ini diimbangi dengan penurunan luas lahan pertanian.Harapannya penelitian ini dapat digunakan oleh pemangku kebijakan sebagai masukan perencanaan wilayah khususnya di Kota Mataram. Abstract: Currently, developing countries such as India and Indonesia are experiencing an increase in population in urban areas as a result of urbanization. This increase in population is closely related to the increase in built-up land which is an indicator of urban growth. Uncontrolled urban growth can cause damage to ecosystems as well as various spatial problems. Therefore, it is necessary to predict changes in land use/land cover (LU/LC) as input for sustainable spatial planning policies. The purpose of this study is to look at research trends in India and Indonesia and to see a comparison of the expansion patterns of built-up land in the City of Kolkata, India and the City of Mataram, Indonesia. This study was carried out using the method of comparative descriptive and literature study in predicting the expansion of built-up land. The results of this study are that the CA-MC and remote sensing methods are becoming a trend in LU/LC prediction methods in India and Indonesia. The city of Kolkata, India and the city of Mataram, Indonesia experienced an expansion of built-up land whose pattern followed the pattern of transportation infrastructure development. The increase in built-up land area was offset by a decrease in agricultural land area.  Hopefully, this research can be used by policy makers as input for regional planning, especially in Mataram City.
PEMETAAN PERAN SERTA KETERLIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM PENGELOLAAN RTH PUBLIK DI KOTA MATARAM DENGAN PENDEKATAN STAKEHOLDER ANALYSIS Adiansyah, Joni Safaat; Johari, Harry Irawan; Muladi, Agum
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 12, No 1 (2024): APRIL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v12i1.17870

Abstract

Abstrak: Keterlibatan serta peran aktif dari para pihak menjadi faktor utama dari keberhasilannya pelaksanaan sebuah program pengelolaan ruang terbuka hijau publik. Tujuan dari penelitian ini untuk memetakan bagaimana stakeholder terlibat dalam pemeliharaan RTH Kota Mataram. Analisis pemangku kepentingan digunakan untuk mengidentifikasi secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan responden yang dipilih dengan snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat DLH Kota Mataram, Perkim Kota Mataram, Bappeda Kota Mataram, dan PUPR Kota Mataram di kuadran I yang bertanggung jawab dalam mengelola RTH publik di Kota Mataram. Dinas Pariwisata, Perdagangan, Pertanian, BKD, dan Balitbang Kota Mataram berada di kuadran II. Pengelola lokasi, Pokdarwis Taman Wisata Rakyat Loang Baloq, terletak di Kuadran III. Masyarakat Kota Mataram berada di Kuadran IV. Ketidakmampuan stakeholder untuk berkoordinasi dan berkomunikasi secara maksimal serta minimnya pendanaan untuk pembebasan lahan dan potensi RTH Publik Kota Mataram menyebabkan tidak tercapainya target minimal RTH Publik Kota Mataram. Hal tersebut merupakan tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan RTH Publik di Kota Mataram. Untuk memenuhi target minimal 20% dari luas wilayah perkotaan untuk RTH Publik di Kota Mataram, diperlukan peningkatan pendanaan untuk proses pembebasan lahan serta peningkatan komunikasi, koordinasi, serta kolaborasi multi stakeholder untuk menjamin ketersediaan dan keberlanjutan RTH Publik.Abstract:  The involvement and active role of the parties are the main factors in the successful implementation of a public green open space management program. The purpose of this research is to map how stakeholders are involved in the maintenance of public green spaces in Mataram City. Stakeholder analysis was used to identify descriptively qualitative using respondents selected by snowball sampling. The results showed that there are DLH of Mataram City, Perkim of Mataram City, Bappeda of Mataram City, and PUPR of Mataram City in quadrant I which are responsible for managing public green spaces in Mataram City. The Tourism, Trade, Agriculture, BKD, and Balitbang of Mataram City are in quadrant II. The site manager, Pokdarwis Taman Wisata Rakyat Loang Baloq, is located in Quadrant III. The people of Mataram City are in Quadrant IV. The inability of stakeholders to coordinate and communicate optimally and the lack of funding for land acquisition and the potential of Public RTH in Mataram City has caused the minimum target of Public RTH in Mataram City not to be achieved. This is a challenge faced in managing public green spaces in Mataram City. To meet the target of at least 20% of the urban area for Public Green Space in Mataram City, it is necessary to increase funding for the land acquisition process and increase communication, coordination, and multi-stakeholder collaboration to ensure the availability and sustainability of Public Green Space.