cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 351 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 1 (2026)" : 351 Documents clear
A Perbandingan Efektifitas Terapi Yasmin Dengan Rileksasi Guide Imaginary dalam Meningkatkan Kualitas Tidur pada Lansia di Panti Harapan Kita Ogan Ilir Jaji Jaji; Jum Natosba; Sukmah Fitriani; Khoirul Latifin
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52624

Abstract

Sleep is one of the basic biological needs of humans that is very important for maintaining physiological and psychological functions. Good quality sleep supports overall health, including immunity, brain function, and emotional stability. Sleep disorders in the elderly are influenced by various factors such as physiological changes, chronic medical conditions, and psychosocial factors. Non-pharmacological approaches are a safer and recommended alternative. Two complementary therapies that are increasingly being used are Yasmin flower aromatherapy and guided imagery relaxation therapy. The purpose of this study is to determine which therapy is more effective between Yasmin flower aromatherapy and guided imagery in reducing Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) scores in the elderly. This study is a quantitative study with a quasi-experimental design using a two-group pretest-posttest model without a control group. The aim is to compare the effectiveness of jasmine aromatherapy and guided imagery relaxation on improving sleep quality in the elderly. The sample was selected using purposive sampling. The research instrument, the Indonesian version of the PSQI, was used to measure the respondents' sleep quality and had 7 components with a score range of 0–21. A score > 5 indicated sleep disturbance. The results showed that both interventions, Yasmin aromatherapy and guided imagery therapy, obtained a p-value of 0.001 (p < 0.05) using a paired t-test, indicating a significant effect on improving the sleep quality of the elderly. However, the results of the independent t-test between the two groups showed that the Yasmin aromatherapy group had a greater effect than the guided imagery group. Thus, Yasmin aromatherapy proved to be more effective than guided imagery in improving the sleep quality of the elderly. The effectiveness of Yasmin aromatherapy was influenced by the characteristics of the elderly. Conceptually and practically, Yasmin aromatherapy is a non-pharmacological intervention that is more effective, efficient, and easily accepted by the elderly.
Efikasi Diri dalam Pengelolaan Diet Program Prolanis pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dalam Konteks Budaya Bugis di Kabupaten Sidenreng Rappang: Studi Kualitatif Fenomenologis Ahmad Fikry Iqbal; Rasyika Nurul Fadjriah; Rosa Dwi Wahyuni
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52627

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi, mencapai 11,7% di Indonesia (Riskesdas, 2023). Program Prolanis menjadi strategi utama di fasilitas kesehatan primer untuk memberdayakan pasien dalam pengelolaan diet. Namun, rendahnya efikasi diri masih menjadi kendala dalam menjaga kepatuhan. Penelitian ini bertujuan menggali pengalaman, persepsi, dan faktor yang memengaruhi efikasi diri pasien DM Tipe 2 dalam mengelola diet melalui Program Prolanis di UPT Puskesmas Pangkajene Sidrap. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, data diperoleh melalui wawancara mendalam dan FGD, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan adanya transformasi perilaku makan dari pola tinggi gula menuju diet sehat dan terkontrol. Efikasi diri terbentuk melalui pengalaman keberhasilan, pengalaman vikarius, persuasi verbal, serta kondisi emosional positif. Edukasi tenaga kesehatan dan dukungan keluarga berperan penting dalam memperkuat keyakinan serta motivasi pasien untuk mempertahankan perilaku diet sehat secara berkelanjutan. Program Prolanis terbukti efektif meningkatkan pengetahuan, disiplin diri, dan rasa percaya diri pasien dalam mengelola diabetes, menjadikannya model pemberdayaan yang berorientasi pada perubahan perilaku dan peningkatan kualitas hidup pasien.
Persepsi Terhadap Ekspresi Emosi Orang Tua dengan Risiko Terjadinya Problem Mental pada Remaja Tri Kurniati Ambarini; Nurul Hartini; Inas Ngesti Pribadi; Lailatul Muniroh
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52630

Abstract

Emotional expression (EE) is an important indicator for predicting the emergence of mental disorders. EE represents several key dimensions of interpersonal relationships and is commonly classified within families into two major components: critical comments (CC) and emotional over-involvement (EOI) (Nurtantri, 2005). Beyond its predictive capacity for the onset of psychological or psychiatric disturbances, EE also plays a crucial role in preventing relapse among individuals with a history of mental illness. Mapping patterns of emotional expression within families particularly among parents of adolescents with an at-risk mental state (ARMS) is therefore essential for preventive efforts aimed at reducing the likelihood of developing psychological or psychiatric disorders. This study aims to examine the relationship between parental EE patterns and ARMS among adolescents in Surabaya. Using a survey method involving 78 respondents, Pearson’s correlation test revealed a correlation coefficient of r = 0.495 between perceptions of EE and ARMS, indicating that the research hypothesis is supported. The findings demonstrate a positive relationship between perceived EE and ARMS, meaning that higher levels of perceived EE are associated with a greater risk of psychosis.
The Correlation between Patient Load, Working Hours, and Tenure on Job Satisfaction Among Female Nurses in the Different Inpatient Wards of a Private Hospital in Jakarta: A Preliminary Study Helenia Putri; Yohana Stefanie H. Samosir; Tiffany Rebecca; Innocentius Bernarto
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52640

Abstract

In this business era, the hospital’s management must compromise between the human resources and the financial, especially for nurses. The management must analyse between the number of nurses, their workload, primarily their patient load and working hours to reduce turnover rate and higher job satisfaction that can improve their performance. Many studies try to explore these area but, for some variables is still contradictory, so this preliminary study try to see the correlation between patient load, working hours, and tenure on job satisfaction among female nurses in the different inpatient wards. This research employed a quantitative observational analytics with descriptive and associative approach, a cross sectional study. Among 29 female nurses who work in this private hospital in Jakarta, more than half of them have high job satisfaction, and there are no difference between different inpatient wards. The patient load and tenure did not have significant correlation with job satisfaction, but the working hours have significant correlation. Therefore, many other factors that have stronger correlation to the job satisfaction.
Hubungan Indeks Masa Tubuh dan Aktifitas Olahraga dengan Risiko Ergonomi Pada Terapis Gigi dan Mulut Di Puskesmas Kota Tasikmalaya Tita Kartika Dewi; Emma Kamelia; Rudi Triyanto; Samjaji Samjaji
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52648

Abstract

Terapis Gigi dan Mulut di Puskesmas sering menghadapi risiko ergonomi akibat tuntutan postur kerja statis berulang, yang dapat memicu Gangguan Muskuloskeletal. Selain faktor lingkungan kerja, faktor individu seperti Indeks Masa Tubuh dan tingkat aktivitas olahraga diyakini memainkan peran penting dalam kerentanan pekerja terhadap risiko ini. Penelitian bertujuan menganalisis hubungan antara IMT, aktivitas olahraga dengan risiko ergonomi pada TGM di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Tujuan: Mengetahui prevalensi risiko ergonomi, status IMT, dan kebiasaan olahraga, serta menganalisis hubungan statistik antara IMT dan aktivitas olahraga dengan risiko ergonomi pada TGM di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Metode Penelitian: Penelitian menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah seluruh TGM di Puskesmas Kota Tasikmalaya dengan Sampel sebanyak 30 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data IMT melalui antropometri, aktivitas olahraga menggunakan kuesioner Baecke, Risiko ergonomi menggunakan kuesioner Nordic Body Map. Analisis hubungan menggunakan uji rank spearman. Hasil: Dari 30 responden TGM, 56% responden termasuk dalam kategori gemuk. Mayoritas responden menunjukkan kebiasaan fisik yang kurang aktif sebanyak 70%, 50% responden memiliki risiko ergonomi rendah. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara Indeks Masa Tubuh dengan risiko ergonomi (p-value = 0,034) dan tidak terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan olahraga dengan risiko ergonomi (p-value = 0,251). Kesimpulan: Indeks Masa Tubuh tinggi menjadi faktor risiko signifikan terhadap peningkatan risiko ergonomi pada Terapis Gigi dan Mulut di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Meskipun mayoritas responden memiliki kebiasaan olahraga yang tidak aktif, variabel ini tidak terbukti secara statistik berhubungan dengan risiko ergonomi. Intervensi kesehatan kerja perlu difokuskan pada program manajemen berat badan bagi TGM
Psychosocial Pathways Linking Maternal Mental Health and Family Resilience to Child Linear Growth in Low and Middle Income Countries Siti Nafiah; Zuly Daima Ulfa; Afiah Afiah; Syafriani Syafriani; Sri Achadi Nugraheni
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52649

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di banyak negara berpendapatan rendah dan menengah, sementara faktor psikososial seperti kesehatan mental ibu dan ketahanan keluarga belum sepenuhnya terintegrasi dalam intervensi. Tujuannya mengidentifikasi (1) hubungan antara kesehatan mental ibu dan pertumbuhan linear anak, (2) jalur psikososial yang menghubungkan keduanya, serta (3) peran ketahanan keluarga sebagai faktor protektif atau risiko. Metode Studi ini merupakan tinjauan pustaka sistematis dari studi observasional yang mengkaji jalur psikososial yang menghubungkan kesehatan mental ibu, konteks keluarga dan pengasuhan, serta pertumbuhan linear anak di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, pelaporan tinjauan ini berpedoman pada pernyataan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) 2020, yang memberikan panduan terbaru tentang pelaporan tinjauan sistematis yang transparan. Hasil dua puluh studi memenuhi kriteria inklusi dan dinilai menggunakan instrumen penilaian kualitas Joanna Briggs Institute. Sebagian besar studi menunjukkan bahwa gejala gangguan kesehatan mental ibu berhubungan dengan pertumbuhan linear yang lebih rendah dan risiko stunting yang lebih tinggi, melalui jalur psikososial seperti praktik pengasuhan, kapasitas fungsional ibu, konflik keluarga, dan dukungan sosial. Simpulan temuan tersebut mendukung hipotesis bahwa kesehatan mental ibu yang buruk dikaitkan dengan tinggi badan anak yang lebih rendah dibandingkan usianya dan kemungkinan terhambatnya pertumbuhan (stunting) yang lebih tinggi.
Efektivitas Senam Jantung Sehat Terhadap Tekanan Darah Lansia Hipertensi di Panti Sosial Karawang Beatrix Elizabeth; Aprilina Sartika; Previarsi Rahayu; Aria Wahyuni
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52654

Abstract

Peningkatan usia menyebabkan penurunan fungsi organ, termasuk sistem kardiovaskular, sehingga lansia lebih rentan mengalami hipertensi. Kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup apabila tidak ditangani dengan tepat. Salah satu upaya non farmakologis yang dapat diterapkan adalah senam jantung sehat, yang diketahui mampu meningkatkan kesehatan jantung, menurunkan tekanan darah, serta mencegah penumpukan lemak pada dinding pembuluh darah, sehingga elastisitas pembuluh darah tetap terjaga terutama pada usia lanjut. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh senam jantung sehat terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik pada lansia hipertensi. Desain penelitian menggunakan quasi eksperimental dengan pendekatan Two Group Pre-Post, melibatkan 40 lansia hipertensi yang dipilih melalui random sampling. Tekanan darah diukur sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok intervensi dan kontrol. Uji normalitas menunjukkan data berdistribusi normal, sehingga analisis menggunakan Paired Sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan penurunan signifikan pada kelompok intervensi, dengan tekanan darah sistolik turun dari 165,20 mmHg menjadi 153,65 mmHg dan diastolik dari 100,85 mmHg menjadi 92,95 mmHg (p < 0,001). Sementara itu, kelompok kontrol tidak mengalami perubahan bermakna. Temuan ini menegaskan bahwa senam jantung sehat efektif sebagai intervensi nonfarmakologis untuk membantu mengendalikan hipertensi pada lansia.
Efektivitas Senam Kaki dan Akupresur Terhadap Kadar Gula Darah Pada Lansia Dengan Diabetes Mellitus Tipe 2: Studi Quasi-Eksperimen di PRSLU Karawang Aprilina Sartika; Yulidian Nurpratiwi; Lily Herlina; Nurhayati Nurhayati; Aria Wahyuni
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52655

Abstract

Lansia dengan Diabetes Mellitus (DM) tipe 2 memiliki risiko tinggi mengalami ketidakstabilan kadar gula darah akibat penurunan fungsi fisiologis dan keterbatasan aktivitas fisik. Intervensi nonfarmakologis seperti senam kaki dan akupresur banyak digunakan, namun bukti komparatif mengenai efektivitas keduanya pada lansia institusional masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan efektivitas senam kaki dan akupresur terhadap penurunan kadar gula darah pada lansia dengan DM tipe 2. Penelitian kuantitatif dengan desain quasi-experimental two-group pre–post test dilakukan di PRSLU Karawang pada Mei–Juli 2025 dengan sampel 32 lansia DM tipe 2 yang dibagi menjadi dua kelompok intervensi. Kadar gula darah diukur sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann–Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua intervensi efektif menurunkan kadar gula darah, namun penurunan pada kelompok senam kaki lebih besar dibandingkan kelompok akupresur. Senam kaki menurunkan kadar gula darah rata-rata sebesar 42,31 mg/dL, sedangkan akupresur sebesar 3,87 mg/dL. Disimpulkan bahwa senam kaki dan akupresur efektif menurunkan kadar gula darah pada lansia dengan DM tipe 2, namun senam kaki memiliki efektivitas yang lebih besar dan lebih bermakna secara klinis. Senam kaki direkomendasikan sebagai intervensi nonfarmakologis utama dalam pengendalian glikemik pada lansia, khususnya di lingkungan institusional, sementara akupresur dapat digunakan sebagai terapi komplementer pendukung.
The Effectiveness of Early Interventions in Post-Ischemic Stroke Patients on Neurological Recovery And Quality of Life: A Systematic Review Wisnu Guntur Prakoso; Sriyono Sriyono; Erna Dwi Wahyuni
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52684

Abstract

Abstract Introduction: Individuals recovering from ischemic stroke often endure significant neurological impairments, including motor deficits, cognitive challenges, and emotional disturbances. These complications substantially reduce their quality of life and impose a heavy burden on both the healthcare system and caregivers. Objective: This systematic review aims to evaluate the effectiveness of early interventions in improving neurological recovery and quality of life in post-ischemic stroke patients. Method: A structured literature review was conducted following the PRISMA guidelines. Five major databases (Scopus, PubMed, Science Direct, Web of Science, and ProQuest) were systematically searched using defined keywords. Articles were screened and selected based on pre-established eligibility criteria, and quality appraisal was carried out using Joanna Briggs Institute (JBI) tools. Results: A total of 11 studies met the inclusion criteria. Most early interventions were initiated within 24 to 72 hours after stroke onset. The results consistently showed that early rehabilitation, nursing care, occupational therapy, and other multidisciplinary approaches contributed to significant improvements in neurological function, daily living activities, and health-related quality of life. Conclusion: Early interventions administered during the acute phase of ischemic stroke are effective in enhancing recovery and improving quality of life. These findings highlight the importance of timely, structured, and multidisciplinary stroke rehabilitation programs as a standard part of stroke management. Keywords: Early intervention, ischemic stroke, neurological recovery, quality of life, stroke rehabilitation
Peran Early Goal Directed Therapy (EGDT) dalam Managemen Awal Sepsis Terhadap Mortalitas, Keseimbangan Cairan, dan Lama Perawatan: Tinjauan Sistematis Fadilla Nur Safitri; Masfuri Masfuri; Muhamad Adam; Riri Maria
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52685

Abstract

Sepsis is a life-threatening organ dysfunction. Early management of sepsis is key to preventing worsening of the patient's condition. Early Goal-Directed Therapy (EGDT) is a method of early sepsis management that has been used for the past 10 years and is an important intervention in the early care of sepsis, the effectiveness and implementation of which are increasingly developing. EGDT is believed to provide comprehensive sepsis management and provide better benefits to sepsis patients. This systematic review aims to compile research findings from the past 10 years regarding the role of EGDT on outcome variables that indicate improvement in sepsis patients. The literature search used PRISMA guidelines from seven database sources and publishers: Science Direct, ProQuest, PubMed, Clinical Key, Scopus, Taylor & Francis, and Springer Nature. Ten articles were subjected to research critique using JBI Critical Appraisal Tools. Several studies have shown that the implementation of EGDT shows significant improvements in mortality, fluid balance, and length of stay. Modification of EGDT with the use of ultrasonography or echocardiography in monitoring fluid responsiveness shows better results in the initial management of sepsis.