cover
Contact Name
Juliandi Harahap
Contact Email
juliandiharahap@yahoo.com
Phone
+6285358792636
Journal Mail Official
scripta@usu.ac.id
Editorial Address
Faculty of Medicine Universitas Sumatera Utara, Jalan dr. T. Mansur No. 5, Kampus USU, Medan 20155, Indonesia
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
ISSN : 20888686     EISSN : 26860864     DOI : https://doi.org/10.32734/scripta.v1i2
Core Subject : Health,
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal is a journal aimed to provide a forum for publishing scientific articles in the field of medical or health science. The main focus of SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal is tropical medicine and oncology medicine also the rest of medical fields as the additional focus. To achieve its aim, SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal publishes research articles, review articles, and case reports especially manuscript with a regional or national data to raise the interest of the reader in tropical medicine or oncology medicine as the main focus and the rest of medical fields as the addition focus.
Articles 148 Documents
Gambaran Hasil Pemeriksaan Ekokardiografi Pasien Gagal Jantung di RSUP H. Adam Malik pada Tahun 2021 Surbakti, Trifena Aurelya Rimna; Lubis, Anggia Chairuddin
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v5i1.10867

Abstract

Pendahuluan. Angka kejadian penyakit gagal jantung masih terus meningkat di tingkat global. Dalam mendiagnosis dan mengevaluasi penyakit gagal jantung, terdapat beberapa modalitas yang dapat diandalkan, salah satunya adalah ekokardiografi. Metode pemeriksaan ekokardiografi berguna dalam banyak aspek termasuk penilaian fungsi dan diameter jantung, yang secara klinis menjadi landasan dalam pilihan pengobatan dan prognosis penderita gagal jantung. Tujuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran hasil pemeriksaan ekokardiografi pasien gagal jantung di RSUP H. Adam Malik Medan pada tahun 2021. Metode. Penelitian ini memiliki desain deskriptif retrospektif dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Hasil. Mayoritas penderita berasal dari kalangan usia produktif. 73,62% pasien berjenis kelamin laki-laki. Etiologi terbanyak pada penelitian ini adalah penyakit iskemik. Ditemukan 49,08% sampel mengalami hipertrofi eksentrik, 46,63% mengalami hipertrofi konsentrik, 1,84% mengalami remodelling konsentrik, dan 2,45% memiliki geometri LV yang normal. Rata rata LVEF adalah 44,70% dengan HFpEF yang paling mendominasi. 77,30% memiliki TAPSE normal dan dari 121 data yang tersedia, 46,63% mengalami disfungsi diastolik grade I, 14,72% mengalami disfungsi diastolik grade III, dan sisanya, 12,88% mengalami disfungsi diastolik grade II. Kesimpulan. Kebanyakan pasien gagal jantung di RSUP H. Adam Malik Medan pada tahun 2021 berasal dari kalangan usia produktif. Etiologi tersering adalah penyakit iskemik. Dimensi dan volume LV mayoritas pasien hipertrofi eksentrik. HFpEF mendominasi dan TAPSE kebanyakan normal. Dari 121 data mengenai disfungsi diastolik LV, disfungsi grade I merupakan yang terbanyak. Kata Kunci: gagal jantung, ekokardiografi, LVEF, TAPSE, gambaran
Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tentang Infeksi HIV dan Perilaku Pencegahan HIV Pranikah Adawiya, Rabiatul; Ilham, Lalu Fahril
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v5i1.11021

Abstract

ABSTRAK Latar belakang. HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan retrovirus yang menginfeksi limfosit T CD4 yang dapat menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yang merupakan sindrom akibat menurunnya kekebalan tubuh yang menyebabkan kolapsnya sistem imun oleh infeksi HIV. Prevalensi HIV/AIDS diketahui terus meningkat yang dikaitkan dengan padatnya jumlah penduduk, mobilitas masyarakat, kurangnya edukasi, dan budaya di lingkungan yang berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tentang infeksi HIV terhadap perilaku pencegahan HIV pranikah. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross-sectional study. Sampel dipilih menggunakan teknik consecutive sampling, dengan besar sampel sebanyak 170 orang dengan menggunakan kuesioner. Hasil. Sebanyak 170 responden terkumpul pada penelitian ini yang terdiri atas 35.3% Perempuan dan 64.7% laki-laki. Seluruh responden berada pada kisaran usia 18-21 tahun. Dijumpai seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara memiliki tingkat pengetahuan tentang infeksi HIV dan melakukan perilaku pencegahan HIV Pranikah yang baik. Kesimpulan. Tingkat pengetahuan dan perilaku mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara terhadap infeksi HIV dikategorikan baik. Kata kunci: AIDS, HIV, Pencegahan, Perilaku, Tingkat pengetahuan.   ABSTRACT Background. HIV (Human Immunodeficiency Virus) is a retrovirus infecting CD4 T lymphocytes that may cause AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) which is a collapse of immune system of patients infected by HIV. Prevalence of HIV/AIDS is known to be increasing by time and is related to population growth, urban mobilization, lack of education, and high-risk sociocultural behaviors. This study aimed to describe level of knowledge and attitudes on HIV and pre-marriage prevention among medical student in Faculty of Medicine, Universitas Sumatera Utara. Method. This study is a descriptive research using a cross- sectional study approach. The sample was selected using the consecutive sampling technique with a sample size of 170 people using a questionnaire. Result. 170 questionnaires were gathered in this study. 35.3% among respondents were female and 64.7% were males, with all at the range of 18-21 years old. All medical students in Faculty of Medicine Universitas Sumatera Utara had a good knowledge regarding HIV infection and applied good behavior on pre-marriage prevention of HIV infections. Conclusion. The level of knowledge and behavior of students of the Faculty of Medicine, University of North Sumatra, regarding HIV infection is generally   categorized well. Keywords: AIDS, Behavior,  HIV, Level of Knowledge, Prevention
Gambaran Stretch Mark pada Siswi SMA Global Prima National Plus School Kamila, Rania; Putra, Imam Budi; Dalimunthe, Dina Arwina; Samosir, Fauzan Azmi Hasti Habibi; Kadri, Alfansuri
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v5i1.11035

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang. Stretch mark merupakan jenis skar atrofi pada kulit yang disebabkan oleh peregangan kulit yang berlebihan. Karakteristik stretch mark bervariasi tahap awal yaitu striae rubrae yang berwarna kemerahan, hingga tahap kronis yaitu striae albae, stretch mark yang halus dan berwarna putih. Prevalensi stretch mark pada populasi remaja dilaporkan berkisar antara 6% hingga 86%. Hal ini dapat terjadi diakibatkan oleh beberapa faktor sehingga gambaran stretch mark pada remaja perempuan penting diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran stretch mark pada siswi SMA Global Prima National Plus School. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional study. Subjek penelitian pada penelitian ini adalah siswi kelas XII SMA Global Prima National Plus School sebanyak 47 orang yang memenuhi kriteria inklusi dengan menggunakan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar penelitian yang ditanyakan langsung kepada subjek penelitian lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik pada subjek penelitian secara langsung. Hasil. Stretch mark dijumpai pada 38 siswi dari 47 siswi dengan distribusi paling banyak pada usia 17 tahun (66%) dan reponden dengan usia menarche normal (51,1%) regio stretch mark terbanyak pada regio femur (25,4%) dan jenis stretch mark terbanyak yaitu striae albae (82,5%). Kesimpulan. Secara keseluruhan, sebagian besar subjek penelitian memiliki stretch mark, dimana paling banyak dijumpai pada subjek penelitian dengan IMT kategori normal dan pada subjek penelitian dengan riwayat keluarga memiliki stretch mark. Kata Kunci: Gambaran, stretch mark, striae albae, striae rubrae.   ABSTRACT Background. Stretch mark is a a type of atrophic scar that was caused by excessive stretching of the skin. Stretch mark vary in the early stages as striae rubrae, are characterized with redness and the chronic stage, striae albae which appears white and wrinkly. The prevalence of stretch marks in the adolescent population reportedly ranged from 6% to 86%. This can occur due to several factors so that the picture of stretch marks in adolescent girls is important to know. Aim of this study is to describing stretch mark in Global Prima National Plus School high school students. Methods.This is a descriptive study with cross-sectional study design. The sample in this study were 47 students of SMA Global Prima National Plus School who met the inclusion criteria by using the purposive sampling method. Data acquired by using a research sheet that was asked directly to the research subject followed by physical examination of the research subject directly. Results. Stretch marks were found in 38 students from 47 students with the most distribution at the age of 17 years (66%) and research subject with normal menarche (51.1%) the most common location of stretch marks are in the femur region (25.4%) and the most common types of stretch marks are striae albae (82.5%). Conclusion. Overall, most of the research subjects had stretch marks, where majority of the research subjects had normal BMI with family history of stretch marks with normal BMI and in the research subjects with a family history of stretch marks. Key words: Descriptive,  Stretch mark, striae albae, straie rubrae.
Type 2 Diabetes Mellitus and Pulmonary Tuberculosis: Literature Review of A Bidirectional Relationship Liberty, Peggy; Liberty, Maggie
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v5i1.11517

Abstract

ABSTRACT Background: Type 2 diabetes mellitus is a major health problem worldwide. In spite of the high incidence and prevalence, T2DM is often associated with pulmonary tuberculosis infection which is also a world health burden. T2DM is a chronic condition that suppresses immune system. T2DM increases 3 times the risk of pulmonary TB, increases the risk of pulmonary TB relapse, and causes higher mortality. Objectives: In this literature review, writers aimed to provide an overview of the relationship between T2DM and pulmonary TB including epidemiology, risk factor, pathogenesis, clinical manifestation, screening, treatment and prognosis.  Methods: This literature review is conducted by searching for articles using online search engine, including PubMed and Google Scholar. The selected articles include research articles, systematic reviews, meta-analyses and literature reviews published between 2015-2023 and are limited to those in English or Indonesian which are available in free full text. Discussion: T2DM is a risk factor for the occurrence of pulmonary TB. It also increases the severity of disease, incidence of relapse and MDR-TB. On the other hand, pulmonary TB worsening uncontrolled T2DM. Treatment of both T2DM and pulmonary TB must be adjusted if the two diseases co-occur. Mortality of pulmonary TB patients with T2DM is higher than pulmonary TB without T2DM. Conclusion:  T2DM and pulmonary TB are correlated to each other, having a bidirectional relationship. Keywords: diabetes mellitus, literature review, literature searching, pulmonary tuberculosis   ABSTRAK Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan masalah kesehatan dunia. Selain kasusnya yang tinggi, DM tipe 2 sering kali dikorelasikan dengan kejadian infeksi tuberkulosis paru yang juga merupakan beban dalam kesehatan dunia. DM tipe 2 adalah penyakit bersifat kronis yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Hal ini dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi TB paru 3 kali lebih besar dibandingkan non-DM, meningkatkan risiko reaktivasi TB paru serta menyebabkan mortalitas yang lebih tinggi. Tujuan: Kajian literatur ini bertujuan untuk membahas dan merangkum berbagai literatur terkait hubungan DM tipe 2 dan TB paru yang meliputi epidemiologi, faktor risiko, patogenesis, manifestasi klinis, skrining, pengobatan, dan prognosis, guna meingkatkan pengetahuan mengenai hubungan DM tipe 2 dan TB paru. Metode: Kajian literatur ini disusun dengan pencarian literatur dari PubMed dan Google Scholar. Artikel yang dipilih meliputi artikel penelitian, systematic review, meta-analysis, dan kajian literatur. Pencarian artikel terbatas pada publikasi berbahasa Inggris dan Indonesia yang tersedia dalam bentuk free full text dengan tahun publikasi 2015-2023. Pembahasan: DM tipe 2 menjadi faktor risiko untuk terjadinya TB paru, meningkatkan keparahan penyakit TB paru, meningkatkan risiko relaps serta kejadian MDR TB. Sebaliknya, TB paru menyebabkan DM tipe 2 menjadi sulit terkontrol.  Pengobatan DM tipe 2 dan TB paru harus disesuaikan jika kedua penyakit tersebut terjadi bersamaan. Mortalitas pasien TB paru meningkat pada kondisi DM tipe 2. Kesimpulan: DM tipe 2 dan TB paru saling mempengaruhi satu sama lain sehingga memiliki hubungan yang timbal balik. Kata Kunci: diabetes melitus, kajian literatur, pencarian literatur, tuberkulosis paru
Level of Knowledge on Acne Vulgaris and Its Treatment Among Undergraduates Medical Students at Universitas Sumatera Utara Mohamad Khalid Khalid, Lily Khalidatussofina; Dina Arwina Dalimunthe
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v5i1.12494

Abstract

ABSTRACT Backgorund:  Acne vulgaris (AV) is a skin disorder commonly found on late teens, young adults and most patients are females. The classic pathophysiology circulates the relationship between inflammation, bacterial colonization, sebum excretion and follicular epidermal hyperproliferation. Other factors may include diet, stress level, self-hygiene, and hormones especially in female patients.  A proper diagnosis and the right treatment approach will help treat patient significantly. Sufficient knowledge on acne vulgaris and its treatment is important for a person to self-medicate or a visit to the dermatologist can be another option. Commonly used self-medication for acne are clindamycin and benzoyl peroxide (BPO). Treatment can either be single or combined therapy to achieve better results. Acne treatments might take some time to show its effects and it may also relapse. Objectives: The study aims to see the level of knowledge on acne vulgaris by the respondents. Methods: This cross-sectional study was conducted to medical undergraduates at Universitas Sumatera Utara. Results: 85.2% from total respondents have had acne before. 142 (55.5%) students chose to seek treatment with a dermatologist which majority of them are females (34.4%). Female students contribute the most with 160 responses. Most respondents are from age category of 16 to 21 (75.4%). Conclusion: Students do have the knowledge on acne vulgaris and its treatment hence almost half of them chose to self-medicate. Students are also aware that other treatment options are available. Keywords: acne vulgaris, behavior, Cutibacterium acnes, knowledge, treatment   ABSTRAK Latar Belakang: Akne vulgaris (AV) merupakan kelainan kulit yang sering ditemukan pada remaja akhir, dewasa muda dan kebanyakan penderitanya adalah wanita. Patofisiologi klasik mengedarkan hubungan antara peradangan, kolonisasi bakteri, ekskresi sebum dan hiperproliferasi epidermal folikel. Faktor lain mungkin termasuk diet, tingkat stres, kebersihan diri dan hormon terutama pada pasien wanita. Diagnosis yang tepat dan pendekatan pengobatan yang tepat akan membantu merawat pasien secara signifikan. Pengetahuan yang cukup tentang akne vulgaris dan pengobatannya penting bagi seseorang untuk mengobati sendiri atau kunjungan ke dokter kulit bisa menjadi pilihan lain. Pengobatan sendiri yang umum digunakan untuk jerawat adalah klindamisin dan benzoil peroksida (BPO). Perawatan dapat berupa terapi tunggal atau kombinasi untuk mencapai hasil yang lebih baik. Perawatan jerawat mungkin membutuhkan waktu untuk menunjukkan efeknya dan mungkin juga kambuh. Tujuan: Mengetahui gambaran pengetahuan dan pemilihan pengobatan akne pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Metode: Menggunakan metode desain penelitian potong lintang (cross sectional) dengan membagikan kuesioner kepada mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Hasil: 85,2% dari total responden pernah menderita akne sebelumnya. 142 (55,5%) mahasiswa memilih berobat ke dokter spesialis kulit dengan mayoritas berjenis kelamin perempuan (34,4%). Mahasiswa perempuan berkontribusi paling banyak dengan 160 respon. Responden terbanyak adalah dari kelompok usia 16 sampai dengan 21 tahun (75,4%). Kesimpulan: Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang akne vulgaris dan pengobatannya sehingga hampir separuh dari mereka memilih untuk berobat sendiri. Siswa juga menyadari bahwa pilihan pengobatan lain tersedia. Kata Kunci: akne vulgaris, Cutibacterium acnes, over-the-counter, pengetahuan, perilaku
The Overview of Coronary Heart Disease Risk Factors in Perimenopausal and Postmenopausal Female Patients at Haji Adam Malik General Hospital in 2021 Faustine, Elaine; Andra, Cut Aryfa; Dalimunthe, Dina Arwina; Haykal, Teuku Bob; Andriyani, Yunilda
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v5i1.12615

Abstract

ABSTRACT Background: Cardiovascular diseases are taking an estimated 17, 9 million lives each year, 85% were caused by coronary heart disease. After menopause, there are physiological changes that occurs in women’s body that increase the risk of coronary heart disease. Risk factors associated with the incidence of coronary heart disease are, family history, age, hypertension, diabetes, dyslipidemia, obesity, and smoking. Objectives: To examine the risk factors associated with the incidence of coronary heart disease in perimenopausal and postmenopausal women at RSUP Haji Adam Malik in 2021. Methods: This study is a descriptive study with cross sectional design and retrospective approach, carried out at RSUP Haji Adam Malik. The data were taken from 1 January-31 December 2021. Results: The results showed that out of 75 perimenopausal and postmenopausal women who suffered from CHD, 61 patients (81,3%) were >50 years old, 3 patients (4%) had a family history of CHD, 53 patients (70,7%) had hypertension, 45 patients (60%) had diabetes, 58 patients (77,3%) with dyslipidemia, 10 patients (13,3%) were obese, and 14 patients (18,7%) had a history of smoking. Conclusion: Risk factors for CHD in perimenopausal and postmenopausal women, are having a family history of CHD, age, hypertension, diabetes, dyslipidemia, obesity, and smoking. Keywords: coronary heart disease, risk factors, perimenopausal women, postmenopausal women, women with CHD   ABSTRAK Latar Belakang: Penyakit kardiovaskular menyebabkan kematian 17,9 juta penduduk dunia setiap tahunnya, dan 85% diantaranya disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Pada wanita yang telah mengalami menopause, terjadi perubahan fisiologis pada tubuh wanita sehingga risiko penyakit jantung koroner meningkat. Faktor risiko yang meningkatkan kejadian penyakit jantung koroner antara lain, usia, riwayat keluarga, hipertensi, diabetes, dislipidemia, obesitas, dan merokok. Tujuan: Untuk mengetahui faktor risiko yang menyebabkan terjadinya penyakit jantung koroner pada pasien wanita perimenopause dan postmenopause di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2021. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional dengan pendekatan retrospektif, yang dilakukan di RSUP H. Adam Malik. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan, dari 75 orang wanita perimenopause dan postmenopause yang menderita PJK, sebanyak 61 pasien (81,3%) berusia >50 tahun, 3 pasien (4%) memiliki riwayat keluarga dengan PJK, 53 pasien (70,7%) menderita hipertensi, 45 pasien (60%) menderita diabetes, 58 pasien (77,3%) mengalami dislipidemia, 10 pasien (13,3%) mengalami obesitas, dan 14 pasien (18,7%) memiliki riwayat merokok. Kesimpulan: Faktor risiko PJK pada wanita perimenopause dan postmenopause, meliputi riwayat keluarga, usia, hipertensi, diabetes, dislipidemia, obesitas, dan merokok. Kata Kunci: faktor risiko, penyakit jantung koroner, wanita dengan PJK, wanita perimenopause, wanita postmenopause
Tingkat Pengetahuan Siswi tentang Penyakit Kanker Serviks, Vaksin HPV, dan Sikap terhadap Vaksin HPV di SMA Shafiyyatul Amaliyyah Medan Gunawan, Andy; Harahap, Feby Yanti; Situmorang, Grecia Febriana
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v5i1.13325

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Kanker serviks (kanker leher rahim) adalah kanker yang terjadi pada leher rahim wanita. Hampir seluruh penyebab kanker serviks diakibatkan oleh Human Papiloma Virus (HPV). Beberapa faktor risiko dari kanker serviks dapat diubah dan dicegah sehingga edukasi dan pencegahan merupakan hal yang sangat penting untuk menurunkan angka terjadinya kanker serviks. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap siswi tentang kanker serviks di SMA Shafiyyatul Amaliyyah. Metode: Penelitian observasional yang bersifat analitik dengan desain cross sectional study dengan cara purposive sampling. Pengumpulan data dari kuisoner yang diisi oleh siswi SMA Shafiyyatul Amaliyyah Medan yang memenuhi kriteria inklusi kemudian dianalisis dengan aplikasi SPSS. Hasil: Dari 55 sampel dapat disimpulkan bahwa mayoritas memiliki tingkat pengetahuan terhadap kanker serviks baik (90%). Namun untuk tingkat pengetahuan terhadap vaksin HPV antara baik dan cukup memiliki hasil yang sama (36,3%) sementara untuk sikap terhadap vaksin HPV mayoritas baik (90%). Kesimpulan: Tingkat pengetahuan siswi tentang penyakit kanker serviks, vaksin HPV, dan sikap terhadap vaksin HPV di SMA Shafiyyatul Amaliyyah Medan adalah baik. Kata Kunci: kanker serviks, tingkat pengetahuan, vaksin HPV   ABSTRACT Background: Cervical cancer is cancer that occurs in a woman's cervix. Almost all causes of cervical cancer are caused by the Human Papilloma Virus (HPV). Several risk factors for cervical cancer can be changed and prevented, so education and prevention are very important to reduce the incidence of cervical cancer. Objectives: This study aims to determine the level of knowledge and attitudes of female students about cervical cancer at SMA Shafiyyatul Amaliyyah. Methods: Observational research which is analytic in nature with a cross sectional study design by means of purposive sampling. Data collection from questionnaires filled out by SMA Shafiyyatul Amaliyyah Medan students who met the inclusion criteria were then analyzed with the SPSS application. Results: Of the 55 samples, it can be concluded that the majority had a good level of knowledge about cervical cancer (90%). However, the level of knowledge about the HPV vaccine between good and sufficient had the same results (36.3%) while for attitudes towards the HPV vaccine the majority were good (90%). Conclusion: SMA Shafiyyatul Amaliyyah Medan’s female student have the level of knowledge of female students about cervical cancer, the HPV vaccine, and attitudes towards the HPV vaccine is good. Keywords: cervical cancer, level of knowledge, HPV vaccine
Faktor yang Memengaruhi Penggunaan Pengobatan Herbal pada Pasien di Puskesmas Pekan Labuhan tahun 2023 Alnaz, Ahmad Razi Maulana; Nasution, Rizki Fauzan Ghali; Nasution, Abdul Hakim; Fauzi, Muhammad Rado; Annisa, Dinda; Alifa, Cut Safira; Amelia, Rina
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v5i1.13656

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang. Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati terutama di bidang pertanian, yang menyebabkan tingginya angka pemanfaatan herbal untuk pengobatan tradisional. Praktik tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor terutama faktor sosio-demografis, ekonomi, pendidikan dan lainnya.Tujuan. Untuk menganalisis  jumlah dan tipe-tipe dari pengobatan herbal di Puskesmas Pekan labuhan dan juga faktor yang memengaruhi penggunaan obat-obatan herbal.Metode.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan analitik observasional dengan desain potong lintang, pada 119 pasien dewasa di Puskesmas Pekan Labuhan pada rentang waktu penelitian. Sampel diambil dengan metode purposive sampling pada pasien yang datang ke puskesmas. data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Data di analisis secara univariat dan bivariat menggunakan tes pearson χ2  atau Fischer's Exact test menggunakan Statistical Package for Social Science (SPSS) versi ke-21 untuk windows pada interval kepercayaan 95%.Hasil. Penggunaan pengobatan herbal pada masyarakat sekitar Puskesmas Pekan Labuhan sebesar 49%. Umumnya pengobatan herbal digunakan sebagai obat komplementer, dengan jamu sebesar 39% dan pil ekstrak 23.7%. Penggunaan pengobatan herbal tersebar merata diantara kelompok demografis dan faktor pengobatan. Terdapat 2 faktor yang paling memengaruhi yaitu kepercayaan terhadap keamanan dari pengobatan herbal (PR 3.58, p<0.001) dan persepsi akan mahalnya pengobatan konvensional (PR 1.69, p=0.013). Kesimpulan : Penggunaan pengobatan herbal umum digunakan di lingkungan Puskesmas Pekan Labuhan, yang tersebar secara merata dalam berbagai factor latar belakang sosiodemografis. Oleh karena itu, dibutuhkan penelitian lebih lanjut yang lebih detail dan dengan cakupan yang lebih luas   Kata Kunci: Pusat Kesehatan Masyarakat, Pengobatan alternatif, Pengobatan herbal, Pengobatan komplementer, Pengobatan tradisional   ABSTRACT Background. Indonesia rich in biodiversity mainly in agriculture, causing high number of herbal utilization for medication among local traditional medication. The practice was affected by many factors mainly sociodemographic, economic, education, and other factors. Objectives. To analyze numbers and types of herbal medication in Pekan Labuhan Primary Health Centre and factors affecting the utilization.Methods. This is a descriptive and analytic observational study which is conducted in cross sectional design, on 119 selected adult in the Pekan Labuhan Primary Health Care Center visiting during research time range. Samples were obtained by purposive sampling on patient presenting to the PHC. Data were collected using questionnaires. Data were analyzed with univariate, bivariate analysis was using Pearson χ2 test or Fischer’s Exact test using Statistical Package for Social Science (SPSS) version 21 for windows on Confidence Interval of 95%.Results. Utilization of herbal medication among public around Pekan Labuhan PHC were approximately 49% of total. Most of herbal medication were used as complementary medicine using jamu for 39% and extract pills for 23.7%.  The use of herbal medication were similar among groups of demographic and medication factors, however we reported 2 main affecting factors which were local belief on safety of herbal medication (PR 3.58, p<0.001) and expensive perception of conventional medication (PR 1.69, p=0.013)Conclusion : Utilization of herbal medication is common around Pekan Labuhan PHC, which were similar on most factors. Hence, further detailed and larger research will be required to be conducted Keywords: Alternative Medicine, Complementary Medicine, Herbal Medication, Traditional medicine, Primary Healthcare Center
Hubungan Status Gizi dengan Kualitas Hidup Pasien Lansia di Puskesmas Medan Amplas pada Tahun 2023 Ridha, Rasyid; Laras, Naomi Laksita; Aldreyn, Amalia Faghira; Simanjuntak, Anju Marlina; Rhamadany, Cindy Clara; Mildsi, Adam Rizky; Alona, Ivana
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v5i1.13806

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Penuaan adalah proses yang kompleks dengan perubahan fisiologis, psikologis, dan faktor sosial dan mempengaruhi berbagai aspek termasuk nutrisi. Aspek tersebut meliputi indera penciuman dan rasa, kemampuan mengunyah dan menelan serta fungsi gastrointestinal yang dapat mempengaruhi kualitas hidup. Studi ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara status gizi dengan kualitas hidup lansia Metode: Penelitian ini merupakan studi penelitian analitik dengan desain penelitian cross sectional menggunakan data primer yang berasal dari kuesioner, serta data status gizi. Status gizi dinilai dengan indeks massa tubuh serta lingkar pinggang. Sampel penelitian dipilih dengan metode purposive sampling. Data disajikan dalam bentuk kategori dan hubungan antar variabel dianalisis dengan Fisher exact Hasil: Pada analisis 28 responden, didapatkan nilai p berturut-turut untuk hubungan indeks massa tubuh dengan domain kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan, adalah 0,596; 0,971; 0,935; dan 0,817 (p > 0,05). Terkait dengan lingkar pinggang dengan kualitas hidup, didapatkan nilai p berturut-turut untuk domain kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan adalah 0,886; 1,000; 0,599; dan 1,000 (p > 0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara indeks massa tubuh maupun lingkar pinggang dengan kualitas hidup lansia. Kata Kunci: indeks massa tubuh, kualitas hidup, lanjut usia, lingkar pinggang, status gizi   ABSTRACT Introduction: Aging is a complex process encompassing many changes in physiological, psychological, social, and also nutritional aspects. Olfactory sense, gustatory sense, mastication, swallowing process, and gastrointestinal function are nutritional problems commonly found in elderly that can influence their quality of life. This study aimed to analyze the association between nutritional status and quality of life in elderly. Methods: This study is an analytical study with a cross-sectional design, using primary data from questionnaires and nutritional status. Nutritional status was assessed by measuring body mass index and waist circumference. The sample was selected by using the purposive sampling method. Variables were shown in categorical variable. The association between variables was analyzed using Fisher exact. Results: Analysis of 28 respondents, the p-value was 0,596; 0,971; 0,935; and 0,817 (p > 0.05) for association between body mass index and physical health, psychological, social, environmental domain, respectively. Regarding association between waist circumference and quality of life, the p-value was 0,886; 1,000; 0,599; dan 1,000 (p >0,05) for physical health, psychological, social, environmental domain, respectively. Conclusion: There is no significant relationship found between nutritional status (body mass index and waist circumference) and quality of life of elderly. Keywords: body mass index, elderly, nutritional status, quality of life, waist circumference
Toksoplasmosis Serebral Pada Pasien dengan HIV/AIDS: Laporan Kasus Mardaningrat, Gede Ari Mahendra; Pramartha, Dwiputra Yogi; Darmiastini, Ni Komang
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2024): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v5i2.14312

Abstract

Background: Toxoplasma encephalitis (ET) is the most common opportunistic infection that causes encephalitis or focal cerebral lesions in HIV/AIDS sufferers which occurs in approximately 3% to 40% of patients. Case Ilustration: A 39 years old male patient was brought to the Emergency Room (IGD) with complaints of weakness in the left hand and leg for 2 days before entering the hospital. Complaints of weakness in the left hand and leg were felt suddenly when the patient was about to move, as well as headaches that seemed to be pressing in almost all areas of the head since the previous month. On physical examination, candidiasis was found in the mouth area and redness on both hands and feet. Lab examination results showed CD4 levels of 68 cells/µL and anti-toxoplasma IgG 156.10 IU/mL. CT scan of the head shows several lesions occupying space in the right and left frontal lobes, left basal ganglia, right cerebellar hemisphere. The patient was diagnosed with cerebral toxoplasmosis accompanied by stage IV HIV. Discussion: Toxoplasma encephalitis (ET) is a form of central nervous system complication in HIV/AIDS patients. This condition is the most frequent cause of focal intracerebral lesions in patients. Serological examination has an important role in establishing a diagnosis in patients with ET quality. Conclusion: Comprehensive management is the key to success in treating patients with toxoplasma encephalitis (ET) accompanied by HIV/AIDS Keyword: AIDS, CD4, HIV, Toxoplasma Encephalitis Latar Belakang: Ensefalitis toksoplasma (ET) adalah infeksi oportunistik paling umum yang menyebabkan ensefalitis atau lesi serebral fokal pada penderita HIV/AIDS yang terjadi di sekitar 3% hingga 40% pasien. Ilustrasi Kasus: Seorang pasien laki-laki berusia 39 tahun dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan keluhan lemah pada tangan dan kaki kiri sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan lemah pada tangan dan kaki kiri dirasakan mendadak ketika pasien hendak beraktivitas serta nyeri kepala yang seperti tertekan di hampir seluruh area kepala sejak 1 bulan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya kandidiasis pada daerah mulut serta kemerahan pada kedua tangan dan kaki. Hasil pemeriksaan lab menunjukkan kadar CD4 68 sel/µL dan IgG anti toksoplasma 156,10 IU/mL. CT Scan kepala menunjukkan adanya gambaran beberapa space occupying lesion di lobus frontal kanan kiri, basal ganglia kiri, hemisfer cerebellum kanan. Pasien didiagnosis dengan toxoplasmosis serebri disertai dengan HIV stadium IV. Pembahasan: Ensefalitis toksoplasma (ET) merupakan bentuk komplikasi sistem saraf pusat pada pasien dengan HIV/AIDS. Kondisi ini adalah penyebab paling sering dari adanya lesi intraserebral fokal pada pasien. Pemeriksaan serologi memiliki peranan penting dalam menegakkan diagnosis pada pasien dengan kecurigaan ET. Kesimpulan: Penatalaksanaan yang komprehensif merupakan kunci dari keberhasilan dalam terapi pasien dengan ensefalitis toksoplasma (ET) disertai HIV/AIDS. Keyword: AIDS, CD4, Ensefalitis Toksoplasma, HIV

Page 10 of 15 | Total Record : 148