cover
Contact Name
Arif Rahman Hikam
Contact Email
bioeksakta@gmail.com
Phone
+6285741954045
Journal Mail Official
bioeksakta@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No. 63 Purwokerto, Kabupaten Banyumas Kode Pos 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed
ISSN : -     EISSN : 27148564     DOI : -
Jurnal BioEksakta menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang biologi umum termasuk Ekologi dan konservasi, Taksonomi dan Struktur, Biogeografi, Evolusi, Biodeversitas, Fisiologi dan Reproduksi, Biologi sel, Biologi Molekuler dan Genetika.
Articles 401 Documents
Pengaruh pH dan Waktu Inkubasi terhadap Pertumbuhan dan Produksi Metabolit Sekunder Miselium Lentinula edodes Amelia, Aurora Pradipta; Ekowati, Nuraeni; Ratnaningtyas, Nuniek Ina
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 4 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.4.7266

Abstract

Kata kunci: Lentinula edodes, metabolit sekunder, pH, waktu inkubasi.
Keanekaragaman Tumbuhan Bawah pada Vegetasi Riparian Waduk Cacaban Kabupaten Tegal Jawa Tengah Septiani, Dwi Siti; Widyastuti, Ani; Widodo, Pudji
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 3 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.3.7685

Abstract

Zona riparian merupakan area transisi semi-terestrial yang dipengaruhi oleh perairan tawar yang memanjang dari tepian badan air menuju tepian dataran tinggi. Sepanjang daerah riparian, banyak ditemukan vegetasi yang tumbuh berupa pohon, rumput, semak dan herba. Vegetasi riparian berperan dalam menjaga salah satu indikator kualitas air, sumber obat-obatan, dan pangan. Fungsi penting vegetasi riparian sebagai pengontrol erosi dengan sistem perakarannya yang kuat mengurangi endapan, dan mereduksi polutan yang masuk ke perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan spesies dominan tumbuhan bawah pada vegetasi riparian Waduk Cacaban Tegal Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Variabel penelitian yang diamati yaitu keanekaragaman vegetasi riparian tumbuhan bawah dan spesies dominan. Parameter penelitian yang diamati yaitu jumlah spesies dan jumlah individu setiap spesies. Parameter pendukung yaitu suhu, kelembapan, intensitas cahaya, pH tanah. Data yang diperoleh dihitung Indeks Nilai Penting (INP), Indeks keanekaragaman menurut Shannon-Wiener (H'), dan Indeks Kesamaan Sorensen (IS). Hasil penelitian terdapat 17 spesies tumbuhan bawah dengan jumlah total 426 individu yang terdiri dari 10 famili. Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi adalah Celosia argentea dengan jumlah sebesar 29,41%. Indeks keanekaragaman memiliki nilai sebesar 2,38. Indeks kesamaan Sorensen (IS) memiliki nilai 50% yang dibandingkan dengan stasiun 1 dengan stasiun 4.
Analisis ANALISIS KUALITAS KIMIA MADU AKASIA CARPA (Acacia crassicarpa) DARI LEBAH MADU Apis mellifera di KABUPATEN JEMBER Wahyuni, Dhea Ika; Suratno, Suratno; Pujiastuti, Pujiastuti
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 2 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.2.8762

Abstract

Madu adalah cairan alami yang umumnya memiliki rasa manis yang dihasilkan oleh lebah madu dari sari bunga tanaman (nektar bunga) atau bagian lain dari tanaman (nektar bunga ekstra) atau ekskresi serangga. Salah satu madu yang beredar di masyarakat adalah madu Acacia crassicarpa yang merupakan salah satu tanaman penghasil nektar yang banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas kimia madu Acacia crassicarpa yang dihasilkan oleh lebah madu Apis mellifera. Pengambilan sampel madu dilakukan dipusat peternak madu CV dimadu.in. di Desa Mumbulsari, Kabupaten Jember. Data hasil penelitian dianalisis dan dibandingkan dengan standar madu SNI 2018 terhadap mutu kimiawi madu. Kualitas madu yang baik memiliki nilai kadar air maksimal 22% dan nilai keasaman madu maksimal 50 ml NaOH/kg, sedangkan kadar gula total pada madu yang baik berkisar antara 76-83˚Brix. Hasil kadar air madu panen ketiga 20,5% dan madu panen keempat 21%. Keduanya telah memenuhi standar SNI 2018 dimana nilainya di bawah 22. Nilai kadar gula total pada madu panen ketiga sebesar 80,62% b/b dan pada panen keempat madu Acacia crassicarpa sebesar 80,91% b/b. Keduanya telah memenuhi standar SNI 2018. Nilai keasaman madu panen ketiga adalah 43,05 ml NaOH N/kg dan madu panen keempat adalah 44,45 ml NaOH N/kg. Keduanya telah memenuhi standar SNI 2018 dimana nilainya di bawah 50 ml NaOH N/kg. Aktivitas enzim diastase pada kedua sampel madu memiliki hasil yang sama yaitu keduanya memiliki aktivitas enzim diastase
KEPADATAN POPULASI DAN POLA DISTRIBUSI BULU BABI (Diedema setosum) di PULAU ABANG BATAM Efendi, Yarsi; Nurdiana, Juwita; Agustina, Fenny; Campina, Teny; Sefira, Anisa
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 1 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.1.9755

Abstract

This research aims to describe the population density of Sea Urchin (Diadema setosum) and it’s distribution pattern in the waters of Abang Island, Galang District, Batam City - Indonesia. Carried out in June 2023. Observations at 3 stations, using survey methods. Sampling was carried out using 3 line transects 20 meters long at each station, placing the transects from the shoreline towards the sea and placing observation plots 1m x 1m on the left and right of the transects. Measurement of water quality parameters; pH, salinity, depth, Dissolved Oxygen (DO), and temperature. The highest density was 2.28 ind/m2 found at station I with a number of 228 individuals and the lowest was 0.81 ind/m2 found at station II with a number of 81 individuals. The distribution pattern of sea urchins (Diadema setosum) was in clustered were found at all stations.
Keanekaragaman Genus Larva Nyamuk dan Karakteristik tempat Perkembangbiakannya di Sepanjang Selokan Jalan Bandar Raya Kota Bengkulu Singkam, Abdul Rahman; Dayana, Mustika Elmi; Miftahussalimah, Pingkan Luthfiyyah; Kurniawati, Meina Elsa Putri; Latifah, Dina Utfatul; Apriansyah, Dendy
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 4 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.4.10168

Abstract

Kawasan Bandar Raya Kota Bengkulu merupakan daerah pemukiman padat warga yang memiliki selokan sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangga. Hal tersebut menyebabkan banyaknya genangan air pada tempat tersebut yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ragam genus nyamuk dan karakteristik tempat perkembangbiakan untuk setiap genus yang ditemukan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2022 dengan lokasi pengambilan sampel pada tujuh lokasi berbeda di sepanjang Jalan Bandar Raya, Kota Bengkulu. Pengamatan sampel dilakukan di Laboratorium Pembelajaran Biologi Universitas Bengkulu. Penelitian dilakukan secara observasial dengan metode deskriptif. Larva nyamuk yang ditemukan di kawasan Jalan Bandar Raya Kota Bengkulu berasal dari 4 genus yang berbeda, yakni, Aedes, Anopheles, Culex, dan Chironomus. Larva terbanyak yang ditemukan berasal dari genus Culex, sedangkan genus Anopheles merupakan larva yang paling sedikit ditemukan. Selokan bengkel dengan karakteristik berupa selokan yang tidak terlalu dalam, air pada selokan tidak mengalir, warna air tempat perindukan gelap, dan adanya limbah bengkel yang dibuang ke selokan menjadi tempat terbanyak ditemukan genus larva nyamuk, yakni genus Culex, Aedes dan Anopheles. Penelitian ini diharapkan dapat membantu mengidentifikasi karakteristik tempat perkembangbiakan jentik nyamuk guna mencegah penyebarannya.
Perkembangan Morfologi Serbuk Sari Passiflora vitifolia Kunth. Berdasarkan Tahap Antesis Bunga Widyasari, Adristi Shafa; Aryani, Riska Desi; Lestari, Sri; Palupi, Dian; Sukarsa, Sukarsa
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 4 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.4.10215

Abstract

Serbuk sari merupakan salah satu karakter khas dan unik yang dimiliki oleh setiap tumbuhan berbunga. Serbuk sari dapat dijadikan sebagai salah satu karakter dalam menentukan klasifikasi tumbuhan karena memiliki karakter morfologi berbeda pada setiap bunga dan pada tahap perkembangan bunganya (antesis). Proses perkembangan atau mekarnya bunga dapat berpengaruh pada perkembangan morfologi terhadap pembentukan serbuk sari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan morfologi serbuk sari Passiflora vitifolia Kunth. berdasarkan tahapan antesis bunga. Penelitian menggunakan serbuk sari dari 3 tahap antesis bunga: tahap 1 berupa kuncup ukuran 2 – 3 cm, tahap 2 berupa kuncup ukuran 5 – 8 cm dan tahap 3 bunga mekar sempurna. Hasil penelitian menunjukkan serbuk sari pada setiap tahap mekarnya bunga memiliki perbedaan karakter morfologi. Serbuk sari pada tahap 1 memiliki bentuk bikonkaf dengan warna hijau, sedangkan serbuk sari pada tahap 2 dan 3 memiliki bentuk bulat dengan warna coklat. Serbuk sari P. vitifolia memiliki tipe monad dan ornamentasi reticulate. Pada tahap 3 sebagian serbuk sari sudah terbentuk tabung serbuk sari (pollen tube).
A Reproductive Performance of Black Soldier Fly (Hermetia illucens) With Pennisetum purpureum Extract Rifai, Lutfin Agri; Haryanto, Trisno; Ambarningrum, Trisnowati Budi; Hashifah, Fathimah Nurfitri; -, Mutala'liah
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 3 (2024): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.3.10560

Abstract

Black soldier fly (Hermetia illucens) is one of the biological agents for organic waste decomposition and this process produced insect biomass with significant economic value. Giving of juvenile hormone (JH) which is thought to be present in nappier grass (Pennisetum purpureum) can increase the number of BSF egg production. The purpose of this research is to determine the effect of nappier grass extract on the reproductive performance of H. illucens based on the number of eggs produced, the percentage of eggs hatched, and the sex ratio of BSF flies. The research was conducted experimentally using a completely randomized design (CRD). The number of eggs produced and the percentage of eggs hatched analyzed using non-parametric analysis with the Kruskal-wallis test and followed by the Mann Whitney test. Statistical testing using SPSS version 16.0. The sex ratio of BSF flies was analyzed descriptively. Phytochemical test analysis was carried out to ensure the content of compounds present in nappier grass extract (P. purpureum). The result shows that nappier grass extract has significant effect (P<0.05) on number of eggs produced and the percentage of eggs hatched based on Kruskal-wallis test. Based on the results of the Mann Whitney test, it was found that all treatments of nappier grass extract on the number of BSF egg production and the percentage of eggs hatched was significantly different (P<0.05). The highest egg production effect which the average number of egg production was 209 mg at 600 ppm. At 600 ppm had the highest percentage egg that hatched effect which the average of percentage egg that hatched was 88,759%. The optimum sex ratio for the cultivation was at 200 ppm, which is 60.42% female and 39.58% male Keyword: . Black Soldier Fly, Pennisetum purpureum, Reproductive performance
Uji Efektivitas Antibakteri Sediaan Gel Pembersih Tangan Berbahan Aktif Water kefir Terhadap Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Yanti, Sharfina Maulida; Octaviana, Musliha; Situmorang, Ing Mayfa Br
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 2 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.2.10706

Abstract

kefir air adalah minuman probiotik. Sifat antibakteri kefir disebabkan oleh senyawa seperti asam laktat, yang dihasilkan selama fermentasi sukrosa. Kefir air dapat digunakan sebagai bahan aktif dalam pembersih tangan, antiseptik seperti gel yang sering digunakan sebagai pencuci tangan yang nyaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan gel pembersih tangan yang telah ditambahkan air kefir untuk menguji kekuatan penghalang pembersih tangan. Metode penelitian ini diawali dengan pembuatan fermentasi water kefir, water kefir yang menjadi bahan aktif hand sanitizer kemudian diuji menggunakan cara difusi cakram dengan konsentrasi 3%, 4%, dan 5%. Berdasarkan hasil penelitian uji daya hambat sediaan gel hand sanitizer berbahan aktif water kefir dengan konsentrasi 3% yaitu berdiameter rerata 12,3 mm (intermediet), 4% berdiameter 15 mm (intermediet) dan 5% berdiameter 18,3 mm (intermediet) pada bakteri E.coli. 3% berdiameter 12,6 mm (intermediet),4% berdiameter 14 mm (intermediet) dan 5% berdiameter 17,5 mm (intermediet) pada bakteri S.aureus. Kesimpulan pada penelitian ini adalah konsentrasi yang lebih efektif untuk menghambat pertumbuhan dari bakteri E.coli dan S.aureus yaitu pada konsentrasi 5%.
Anatomi Bentuk Dan Tipe Spora Pteridophyta Dari Kelas Polypodiopsida Nasution, Hasbi Assidiqi; Dalimunte, Elvina Yanti Br; Furqan, Zahlul; Sarjani, Tri Mustika
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 2 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.2.10932

Abstract

Bentuk spora tumbuhan paku bermacam-macam, tetapi sebagian besar memiliki bentuk elips atau bilateral, bulat, ginjal, dan segi tiga. Tipe apertura spora pada tumbuhan paku secara umum dibedakan menjadi dua tipe yaitu monolet dan trilete. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis anatomi bentuk dan tipe spora pteridophyta dari kelas polypodiopsida baik dari segi persamaan dan perbedaannya. Metode yang digunakan pada penelitian adalah dengan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui teknik observasi langsung, dan analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif pada teknik observasi. Analisis tersebut mencakup perbandingan karakter seperti tipe/jenis, bentuk, dan ornamentasi spora pada tumbuhan paku. Hasil penelitian mengidentifikasi 10 jenis tumbuhan paku dari golongan polypodiopsida, yakni Phlebodium aureum, Lygodium microphyllum, Nephrolepis biserrate, Asplenium nidus, Pronephrium triphyllum, Cyclosorus heterocarpus, Lygodium flexuosum, Dicranopteris linearis, Rumohra adiantiformis, dan Nephrolepis exaltata. Delapan spesies memiliki tipe spora monolet, sedangkan dua spesies memiliki tipe spora trilet. Setiap spesies memiliki bentuk spora dan jenis ornamen yang unik, seperti bentuk elips, ginjal, bulat atau segitiga dengan jenis ornamen yang terdiri dari empat tipe yaitu verrucate, reticulate, faveolate, dan psilate
Identifikasi Jenis Tumbuhan Asing Invasif di Wana Wisata Batu Kuda Manglayang Amalia, Risqi; Aulia, Sekar Rahma; Mustahiq A, Rahmat Taufiq
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 2 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.2.11033

Abstract

Ancaman terhadap kawasan lindung dan wisata alam seringkali muncul dalam bentuk invasi tumbuhan asing. Proses invasi ini dapat merusak keanekaragaman hayati, mengganggu fungsi alamiah, dan mengurangi keindahan kawasan tersebut. Kawasan wisata Batu Kuda Manglayang tidak luput dari masalah sebaran tumbuhan asing invasif. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan asing invasif yang telah menyebar di daerah tersebut. Metode survei lapangan, yang melibatkan penjelajahan, observasi, dan identifikasi jenis, diterapkan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 22 jenis tumbuhan asing dari 14 famili yang memiliki potensi invasif dan telah mulai menyebar di kawasan wisata Batu Kuda Manglayang. Jenis-jenis ini berasal dari berbagai famili, dengan Asteraceae (6 jenis), Poaceae, Solanaceae, dan Verbenaceae (masing-masing 2 jenis) sebagai kontributor utama, serta masing-masing 1 jenis dari famili lainnya seperti Amaranthaceae, Balsaminaceae, Commelinaceae, Euphorbiaceae, Iridaceae, Lamiaceae, Melastomaceae, Mimosaceae, Passifloraceae, dan Piperaceae. Tumbuhan-tumbuhan ini memiliki habitus yang beragam, termasuk semak, herba, perdu, dan liana. Dalam penelitian ini, ditemukan setidaknya lima jenis tumbuhan yang perlu mendapatkan perhatian khusus, yaitu Chromolaena odorata, Clidemia hirta, Lantana camara, Mikania micrantha Kunth, dan Mimosa pigra. Jenis-jenis ini telah dikenal secara nasional dan internasional sebagai tumbuhan asing invasif yang memiliki potensi besar untuk menyebabkan degradasi ekosistem dan kehilangan habitat.