cover
Contact Name
Arif Rahman Hikam
Contact Email
bioeksakta@gmail.com
Phone
+6285741954045
Journal Mail Official
bioeksakta@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No. 63 Purwokerto, Kabupaten Banyumas Kode Pos 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed
ISSN : -     EISSN : 27148564     DOI : -
Jurnal BioEksakta menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang biologi umum termasuk Ekologi dan konservasi, Taksonomi dan Struktur, Biogeografi, Evolusi, Biodeversitas, Fisiologi dan Reproduksi, Biologi sel, Biologi Molekuler dan Genetika.
Articles 401 Documents
Respon Pertumbuhan dan Fisiologis Bayam (Amaranthus tricolor) yang Dipapar Timbal pada Sistem Hidroponik Sumbu Yuspiah, Eka Fitriani; Rahayu, Yeni; Miftahuddin, Miftahuddin
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 4 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2021.3.4.4767

Abstract

Green amaranth (Amaranthus tricolor) is a popular vegetable in Indonesia as a source of vitamins and minerals. This plant is susceptible to the contamination of heavy metals such as lead. This study aimed to analyze the growth responses and morphophysiological of A. tricolor in response to the application of lead in the forms of (Pb (NO3)2 using a wick hydroponic system. This study used factorial randomized design with four treatments of lead level, i.e. 0 ppm, 1 ppm, 3 ppm, and 5 ppm, repeated 2 times. Data were analyzed by analysis of one-way ANOVA and post hoc test by Duncan in P-value 5%. The growth responses were observed by measuring the plant height, the number of leaves, leaf color, shoot and roots fresh weight, also its dry weight. Whereas, the physiological responses were observed by analyzing the plant chlorophyll levels. The results obtained that the applications of (Pb(NO3)2 decreased plant height, leaf number, fresh weight of shoot and roots, dry weight of shoot and roots, also the chlorophyll levels. These lead treatments were affecting root loss, changed the color of leaves to become yellowish-green, and showing yellow-spotted close to the midrib. Analysis of lead uptake in stems and leaves showed that the absorption value increased along with the applications of (Pb(NO3)2 in the treatment. The treatment of 5 ppm of (Pb(NO3)2 showed the lowest result on all parameters.
Species Diversity of Understorey Vegetation in Pinewood (Pinus merkusii) Forest in RPH Sempor, BKPH North Gombong Ramadhan, Anang Yanuar; Sudiana, Eming; Widodo, Pudji
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 4 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.4.5767

Abstract

Understorey plant is a type of basic vegetation under forest stands except for saplings. Understorey vegetation includes grasses, herbs, shrubs, and ferns. The presence of understorey vegetation can be used as an indicator of forest conditions and is expected to reduce disturbances to the forest. The purpose of this research is to determine the diversity and the dominance of understorey species under the pinewood stands based on pine ages in RPH Sempor, BKPH North Gombong. This research was conducted using a survey method and systematic sampling techniques at two different age groups pinewood forest of RPH Sempor, BKPH North Gombong. The result showed that the total understorey species found were 34 species from 21 families. The understorey species number found at the 25 years of pine forest was 22 species found and at the 45 years, there were 17 species. Based on the research that has been done, it can be concluded that the younger the age of pine stand, the more understorey species number. Evenness of the understorey species at two different ages of pine stand in RPH Sempor is evenly distributed, so there are no dominant species. The physicochemical factors measurement result showed that the canopy cover affected the temperature and humidity level, thus affecting the number of understorey individuals and the species number in each stand.
Efek Ekstrak Etanol Ganoderma lucidum terhadap Kadar Ureum dan Kreatinin pada Tikus Model Inflamasi Terinduksi Completed Freunds's Adjuvant (CFA) Nahdatulia, Yasinta; Ratnaningtyas, Nuniek Ina; Wibowo, Eko Setio
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 3 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.3.5875

Abstract

Jamur Lingzhi (Ganoderma lucidum) mengandung komponen bioaktif seperti terpenoid, polisakarida, nukleotida, sterol, steroid, asam lemak dan protein/peptida yang memiliki potensi obat. Senyawa bioaktif G. Lucidum sebagai anti inflamasi berhubungan dengan supresi ekspresi NF-κB yang merupakan regulator ekspresi gen mediator inflamasi. Pelepasan mediator inflamasi yang tidak terkontrol berdampak negatif pada ginjal sehingga dapat menyebabkan disfungsi ginjal. Peningkatan kadar ureum dan kreatinin merupakan salah satu biomarker disfungsi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan dosis efektif ekstrak G. lucidum terhadap penurunan kadar ureum dan kreatinin darah tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Wistar yang diinduksi Complete Freund's Adjuvant (CFA). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Kelompok perlakuan (P1, P2, dan P3) diberi perlakuan ekstrak jamur G. lucidum dengan variasi dosis 250, 500, 750 mg.kg-1 BB dengan lima kali ulangan. Parameter yang diamati adalah kadar ureum dan kreatinin sebagai penanda fungsi ginjal. Data pengukuran kadar ureum dan kreatinin dianalisis dengan uji ANOVA, dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol G. lucidum mampu menurunkan kadar kreatinin dan ureum tikus yang diinduksi inflamasi CFA. Ekstrak etanol G. lucidum dengan dosis 750 mg.kg-1 BB dapat menurunkan kadar ureum dan kreatinin pada tikus dengan rata-rata kadar kreatinin 0,75±0,32 mg.dL-1 dan urea sebesar 57,50±4,82 mg.dL-1 dengan penurunan kadar kreatinin dan ureum dibandingkan kontrol negatif sebesar 60,93% dan 20,16%. Ekstrak etanol G. lucidum dengan dosis 750 mg.kg-1 BB efektif dalam menurunkan kadar ureum dan kreatinin pada tikus yang model inflamasi yang diinduksi CFA
Pertumbuhan dan Kandungan Polifenol Selada Merah (Lactuca sativa L. var. Crispa) pada Media Tanam dengan Pemberian Asam Humat ., Khoerunnisa; Proklamasiningsih, Elly; Budisantoso, Iman
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 3 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.3.5876

Abstract

Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang memiliki 15 atom karbon dan tersusun atas dua cincin benzena tersubstitusi yang dihubungkan oleh rantai alifatik tiga karbon. Salah satu tanaman yang banyak mengandung senyawa ini yaitu selada merah (Latuca sativa var. crispa L). Flavonoid yang terdapat pada selada merah berpotensi sebagai antioksidan, antikanker, antitumor, antiinflamasi, dan antivirus. Berbagai manfaat tersebut menyebabkan upaya peningkatan kadar flavonoid pada selada merah perlu dilakukan. Peningkatan kadar metabolit sekunder pada tanaman dapat dilakukan dengan meningkatkan biomassa tanaman. Biomassa tanaman dapat ditingkatkan dengan penambahan asam humat pada media tanam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh asam humat terhadap pertumbuhan dan kandungan flavonoid selada merah, serta menentukan konsentrasi asam humat yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan kandungan flavonoid selada merah. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang digunakan adalah konsentrasi asam humat yang terdiri atas 4 taraf yaitu 0 g.kg-1, 4 g.kg-1, 8 g.kg-1, dan 12 g.kg-1 tanah dengan lima kali ulangan. Parameter yang diamati adalah bobot basah, bobot kering, tinggi tanaman, dan kadar flavonoid daun. Penelitian dilaksanakan di greenhouse dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman dari November 2021 sampai Februari 2022. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji ANOVA dengan tingkat kesalahan 0,05 dan 0,01, dengan uji lanjut Duncan pada tingkat kesalahan 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian asam humat dapat meningkatkan bobot basah, bobot kering, tinggi tanaman, serta kandungan flavonoid pada tanaman selada merah. Konsentrasi asam humat 7,22 g.kg-1 merupakan konsentrasi efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan kandungan flavonoid selada merah.
IDENTIFIKASI JENIS KELAMIN BENIH IKAN NILEM GUNUNG (Osteochilus hasselti Valenciennes, 1842) BERDASARKAN MORFOLOGI Yuninta, Ramadhanola; Bhagawati, Dian; Setiyono, Eko
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 4 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.4.6438

Abstract

Ikan nilem (Osteochilus hasselti) merupakan salah satu jenis ikan dari Family Cyprinidae yang hidup di air tawar dan banyak dibudidayakan di Indonesia. Pertumbuhan ikan nilem gunung yang lebih lambat dan warna tubuh yang mencolok dibandingkan ikan nilem jenis lain membuat ikan ini semakin jarang dibudidayakan. Hal tersebut membuat ikan ini semakin sulit diperoleh. Budidaya tunggal kelamin (monosex) menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan produksi dan dapat digunakan sebagai upaya pelestariannya. Kegiatan tersebut memerlukan pengetahuan jenis kelamin sejak ukuran benih, karena tidak semua spesies ikan memiliki seksual dimorfisme. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah karakter morfologi, meristik, dan truss morphometrics dapat digunakan untuk membedakan jenis kelamin benih ikan nilem gunung serta karakter spesifik apa yang dapat membedakan benih ikan nilem gunung jantan dan betina. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan pengambilan sampel purposive random sampling. Sampel yang diambil sebanyak 55 ekor. Sampel yang didapatkan diamati performa morfologi, meristik, dan truss morphometrics. Data performa morfologi dan meristik yang diperoleh dianalisis secara deskriptif, sementara data hasil pengukuran truss morphometric diubah menjadi nilai rasio yang dibagi dengan panjang standar kemudian dianalisis menggunakan SPSS dengan uji Mann Whitney. Hasil dari pengamatan performa morfologi dan meristik tidak menunjukkan adanya perbedaan jenis kelamin benih ikan nilem gunung, sementara hasil pengukuran truss morphometrics menunjukkan bahwa terdapat satu karakter truss yang membedakan antara benih ikan nilem gunung jantan dan betina yaitu pada jarak D4 (pangkal sirip ekor bagian atas-pangkal sirip ekor bagian bawah) atau tinggi pangkal ekor. Berdasarkan hasil rata-rata pengukuran truss morphometrics pada jarak D4, didapatkan bahwa jarak D4 pada benih ikan nilem gunung betina lebih tinggi daripada benih ikan nilem gunung jantan.
Deteksi Seksual Dimorfisme Pada Benih Ikan Tawes (Barbonymus gonionotus Bleeker, 1850) Berdasarkan Morfologi Utaminingtyas, Siwiana Dinar; Bhagawati, Dian; Setiyono, Eko
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 1 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.1.6439

Abstract

Ikan tawes merupakan ikan yang banyak di budidayakan di Indonesia. Budidaya ikan membutuhkan indukan yang berkualitas. Indukan dengan kualitas tinggi dapat didapatkan dari budidaya tunggal kelamin. Budidaya tunggal kelamin dilakukan dengan menyeleksi ikan berdasarkan jenis kelamin sejak benih. Penentuan jenis kelamin pada benih untuk budidaya memiliki kesulitan karena seksual dimorfisme belum terlihat jelas, sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai seksual dimorfisme pada benih ikan tawes untuk mendukung budidaya ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah performa morfologi, meristik, dan truss morphometric dapat digunakan untuk membedakan benih ikan tawes jantan dan betina. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan purposive sampling. Sampel yang diambil adalah 60 ekor sampel benih ikan tawes dengan dua kelompok ukuran. Kelompok pertama adalah benih dengan ukuran 5-6 cm dan kelompok kedua adalah benih dengan ukuran 6,1-7 cm. Sampel yang didapatkan diamati tampilan morfologinya yaitu performa morfologi, meristik, dan truss morphometric. Data performa morfologi dan meristik di analisis secara deskriptif, sedangkat data truss morphometric dianalisis menggunakan SPSS dengan Uji Mann Whitney. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa performa morfologi dan meristik tidak menunjukkan adanya seksual dimorfisme, sedangkan hasil pengukuran truss morphometric menunjukkan perbedaan yang signifikan pada garis A2 yaitu jarak antara ujung mulut dan batas akhir tulang kepala. Berdasarkan hasil rata-rata pengukuran truss morphometric pada garis A2, didapatkan hasil bahwa kepala bagian dorsal dari benih ikan tawes berukuran lebih panjang dan runcing dari benih ikan betina.
Morfologi, Fisiologi, dan Produksi Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Kultivar Grobogan yang Ditanam di Daerah Pantai Cilacap Ramadani, Didi; -, Juwarno; -, Rochmatino
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 3 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.3.6613

Abstract

Kedelai merupakan salah satu komoditas protein nabati yang pemanfaatannya sangat luas di Indonesia. Saat ini sebagian besar kebutuhan kedelai dalam negeri dipenuhi dari hasil impor. Pemenuhan kebutuhan kedelai dalam negeri dapat dilakukan dengan cara meningkatkan produksi dengan cara penanaman kedelai pada lahan marginal, khususnya lahan salin. Lahan tersebut dapat digunakan sebagai lahan tanam kedelai, akan tetapi kedelai merupakan tanaman yang peka terhadap toksisitas garam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter morfologi, fisiologi, dan produksi kedelai kultivar Grobogan tahan salinitas yang ditanam di Pantai Lengkong, Cilacap. Penelitian dilakukan pada dua lahan dengan salinitas 20 mM dan 30 mM yang berada di pantai Lengkong Cilacap dengan menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 10 kali ulangan. Pengukuran faktor lingkungan (salinitas, pH, kelembapan tanah, suhu, kelembapan udara, intensitas cahaya) dilakukan dengan 5 kali ulangan. Penelitian dilakukan pada bulan Maret –Mei 2021. Variabel yang diamati adalah morfologi, fisiologi, dan produksi dengan parameter yang diukur adalah tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, kadar klorofil a, klorofil b, total klorofil, karotenoid, dan jumlah polong. Data dianalisis menggunakan uji rerata (uji-t) dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada parameter diameter batang, klorofil a, klorofil b, karotenoid, dan jumlah polong tanaman kedelai pada salinitas 30 mM lebih rendah dibandingkan dengan salinitas 20 mM dan tidak ada perbedaan yang nyata pada parameter lainnya. Jumlah polong berkorelasi dengan kadar klorofil a, klorofil b, dan karotenoid.
Pembuatan Biokomposit Menggunakan Jamur Pelapuk Putih Auricularia auricula dan Lentinus squarrosulus serta Bahan Lignoselulosik Serbuk Gergaji Kayu dan Tatal Kayu Nugraha, Tiara Hadi; Mumpuni, Aris; Dewi, Ratna Stia
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 3 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.4.6635

Abstract

Abstract Biocomposite is a composite material that uses natural materials that contain lignocellulose. The manufacture of composite boards by utilizing agricultural waste will get added value, namely reducing the impact on the environment. Biocomposites that utilize the mycelium of white rot fungi, namely Auricularia auricula and Lentinus squarrosulus as binders and lignocellulosic materials such as sawdust and wood chips which contain the main components of cellulose, hemicellulose, and lignin which are good for fungal growth. The purpose of this study was to determine the effect of the type of white rot fungus with lignocellulosic material composition and to determine the optimal type of fungus and lignocellulosic material on the manufacture of biocomposites. This study used an experimental method with a completely randomized design with 10 treatments with 3 replications, the treatment was carried out on lignocellulosic materials in the form of sawdust and wood chips with a composition (25%, 50%, 75%, and 100%). The research variables consisted of independent variables in the form of white rot fungi and wood species, while the variable was the quality of the resulting biocomposite material. The parameters measured in this study were the main parameters, namely fungal mycelium growth, composite density, composite air content, composite thickness expansion, modulus of elasticity and modulus of fracture of the composite. The supporting parameters are composite biodegradability. The results showed that the types of fungi and lignocelluloic materials had an effect on the manufacture of composite boards. The best fungus used in the manufacture of biocomposites is L. squarrosulus and the best lignocellulosic material used is a mixture of the two lignocelluloic materials that is 25% sawdust + 75% wood chips. Keywords: biocomposite, lignocellulosic material, white rot fungus
Optimasi Jenis Jamur Pelapuk Putih dan Bahan Lignoselulosik Limbah Pertanian dalam Pembuatan Biokomposit berbasis Miselium Rahmadianti, Maghfira Rizki; Mumpuni, Aris; Ekowati, Nuraeni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 1 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.1.6636

Abstract

Melimpahnya ketersediaan bahan lignoselulosik berupa limbah ampas tebu dan batang tanaman jagung serta kemampuan jamur pelapuk putih Ceriporia lacerata dan Auricularia auricula mendegradasi lignoselulosik dapat dimanfaatkan sebagai pengembangan biokomposit berbasis miselium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara jenis jamur pelapuk putih dengan komposisi bahan lignoselulosik limbah pertanian terhadap kualitas produk biokomposit yang dihasilkan serta mendapatkan jenis jamur pelapuk putih dan jenis substrat bahan lignoselulosik limbah pertanian yang optimal dalam pembuatan biokomposit berbasis miselium. Penelitian ini menggunakan metode experimental Rancangan Acak Lengkap dengan 10 perlakuan dan 3 kali ulangan. Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas berupa jenis bahan lignoselulosik limbah pertanian dan jenis jamur pelapuk putih, sedangkan variabel terikat yaitu kualitas biokomposit berbasis miselium yang dihasilkan. Parameter yang diukur dalam penelitian ini yaitu parameter utama dan parameter pendukung. Parameter utama yaitu pertumbuhan jamur pada bahan komposit, kerapatan komposit, kadar air, pengembangan tebal komposit, modulus elastisitas dan modulus patah komposit. Parameter pendukungnya berupa biodegradabilitas komposit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur pelapuk putih dan komposisi bahan lignoselulosik yang berbeda berpengaruh secara nyata terhadap kualitas biokomposit yang dihasilkan kecuali pada parameter kadar air dan modulus patah. Hasil penelitian untuk parameter pertumbuhan miselium, kerapatan komposit, kadar air, pengembangan tebal, modulus elastisitas, dan modulus patah secara berturut-berturut berkisar antara 9,38-18,49 mm/hari, 0,11-0,21 g/cm3, 8,34%-16,19%, 3,01%-10,93%, 1188,33-14873,33 MPa, dan 1,76-25,11 MPa. Berdasarkan hasil skoring biokomposit yang dilakukan, perlakuan C. lacerata dengan komposisi pada ampas tebu 100% menghasilkan kualitas biokomposit terbaik.
Panjang Gonad Relatif, Indeks Kematangan Gonad, dan Indeks Hepatosomatik Ikan Sidat (Anguilla bicolor Mcclelland) Hasil Budidaya Nadeak, Rizki Kustanti; Rachmawati, Farida Nur; Susilo, Untung
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 3 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.3.6696

Abstract

Ikan sidat (Anguilla bicolor McClelland) merupakan ikan katadromous yang sulit matang gonad dalam kondisi budidaya, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji nilai IKG, IHS, hubungan antara IKG dan panjang gonad relatif ikan sidat hasil budidaya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui nilai IKG, IHS, hubungan antara IKG dan panjang gonad relatif ikan sidat hasil budidaya pada ukuran berbeda dan mengetahui korelasi antara IKG dengan Panjang Gonad Relatif ikan sidat hasil budidaya. Penelitian dilakukan dengan metode survei secara purposive random sampling. Sampel ikan sidat sebanyak 29 ekor diperoleh dari pembudidaya ikan sidat di wilayah Cilacap dikelompokkan berdasarkan fase reproduksinya yaitu yellow eel dan silver eel. Variabel yang diamati ialah panjang gonad relatif sebagai variabel bebas dan IKG sebagai variabel terikat. Parameter yang diukur, yaitu panjang tubuh ikan, bobot tubuh ikan, bobot gonad, panjang gonad, dan bobot hati. Hasil yang didapat pada penelitian ini, rata-rata panjang gonad fase yellow eel 16,93 ± 2,09 cm, sementara fase silver eel 19,93 ± 3,46 cm. Rata-rata IKG yellow eel 1,356±0,992 %, sementara silver eel 2,408±1,053 %. Hasil rata-rata IHS fase yellow eel 1,163±0,201 % dan silver eel sebesar 1,339±0,264 %. Analisis korelasi Spearman’s Rank antara panjang gonad relatif dengan IKG didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,167 (P > 0,05). Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa Nilai IKG dan IHS Anguilla bicolor McClelland hasil budidaya pada ukuran berbeda memiliki nilai yang berbeda. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara panjang gonad relatif dengan IKG.