cover
Contact Name
Vilya Syafriana
Contact Email
v.syafriana@istn.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
sainstechfarma@istn.ac.id
Editorial Address
Fakultas Farmasi ISTN, Jl. Moh. Kahfi II, Jagakarsa, Jakarta Selatan, 12640
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
ISSN : 20867816     EISSN : 27761878     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal ini memuat artikel penelitian kefarmasian meliputi kimia farmasi, biologi farmasi, bahan alam farmasi, teknologi farmasi, farmasi komunitas dan klinis, serta bioteknologi farmasi.
Articles 163 Documents
Stabilitas Kimia Senyawa Etil P-Metoksi Sinamat (EPMS) dari Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L.) dalam Krim Anti Jerawat dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis Densitometer (TLC Scanner) Ika Maruya Kusuma; Berna Elya; Mahdi Jufri
SAINSTECH FARMA Vol 10 No 1 (2017): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v10i1.799

Abstract

Senyawa Etil P-Metoksi Sinamat (EPMS) merupakan senyawa yang tidak stabil dalam suhu panas dan mudah terhidrolisis menjadi asam p-metoksi sinamat (APMS). Senyawa EPMS dengan penyimpanan yang cukup lama dikhawatirkan dapat mempengaruhi pH sediaan krim dan dapat menyebabkan kulit menjadi iritasi yang berbahaya bagi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas kimia senyawa EPMS pada sedian krim anti jerawat tipe O/W yang diukur tiap 2 minggu selama penyimpanan 3 bulan, dengan metode Kromatografi Lapis Tipis Densitometer (TLC Scanner). Dari penelitian ini diketahui stabilitas kimia krim EPMS selama penyimpanan 3 bulan mengalami sedikit perubahan dengan penurunan kadar EPMS dalam krim sebesar 4,89%.
Aktivitas Antifungi Ekstrak Etanol Biji Anggur (Vitis vinifera L.) Terhadap Candida albicans Citra Yuditha Fadillah; Ahmad Wildan Al-Mukholladun; Vilya Syafriana
SAINSTECH FARMA Vol 10 No 1 (2017): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v10i1.800

Abstract

Anggur (Vitis vinifera L.) merupakan tanaman dari Famili Vitaceae yang diketahui memiliki kandungan bahan fitokimia yang banyak terkandung dalam kulit, buah, dan terutama didalam biji anggur, seperti golongan polifenol sebesar 5-8% berupa resveratrol, tanin, flavonoid, kuersetin, katekin, pektin, dan antosianin. Oleh karena kandungan senyawa-senyawa tersebut, biji anggur dapat dimanfaatkan sebagai antifungi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa yang terdapat pada ekstrak biji anggur, serta aktivitas antifunginya terhadap Candida albicans. Biji anggur diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dengan perbandingan 1:7,5 bagian dari simplisia selama 72 jam. Hasil maserasi yang diperoleh dipekatkan dengan vacuum rotary evaporator, lalu dilakukan penapisan fitokimia dan uji aktivitas antifungi. Penapisan fitokimia dilakukan secara kualitatif dengan metode pereaksi perubahan warna meliputi uji alkaloid, flavonoid, tanin, terpenoid, dan saponin. Aktivitas antifungi dilakukan menggunakan metode difusi cakram dengan konsentrasi 5%, 10%, 20%, 30%, 40% , dan 50%. Hasil penapisan fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji anggur mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, terpenoid, dan saponin. Hasil uji aktivitas antifungi menunjukkan adanya aktivitas penghambatan terhadap Candida albicans dengan diameter zona hambat berturut-turut sebesar 12,03 mm; 16,35 mm; 20,08 mm; 22,08 mm; 25,06 mm; dan 29,03 mm pada konsentrasi 5%, 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%. Hasil ini dapat dikategorikan sebagai bahan yang memiliki aktivitas antifungi kuat dan sangat kuat berdasarkan Davis & Stout 1971.
Kajian Ulasan Aktivitas Farmakologi dari Limbah Pisang Ambon dan Pisang Kepok Desy Muliana Wenas
SAINSTECH FARMA Vol 10 No 1 (2017): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v10i1.801

Abstract

Pisang merupakan salah satu tanaman terpenting dan sangat berguna di dunia. Buah pisang banyak disukai karena mudah dikupas dan seringkali dimanfaatkan untuk energi tambahan bagi kaum penyuka olahraga. Tanaman monokotil perenial tersebut menghasilkan buah hanya satu kali seumur hidupnya dan kemudian mati. Sebagai salah satu produsen pisang terbanyak di dunia, perkebunan pisang di Indonesia menghasilkan limbah organik (kulit buah, pelepah maupun bonggol) yang dapat mengakibatkan masalah pencemaran lingkungan. Beberapa bagian dari tanaman pisang telah dikenal sebagai obat tradisional di masyarakat. Hal tersebut menjadi dasar yang kuat bagi penelitian pengembangan produk fitofarmaka atau industri farmasi lainnya. Informasi mengenai khasiat farmakologi (antibakteri, penyembuhan luka, antidiabetes) maupun kandungan senyawa fitokimia ini diharapkan dapat mendukung penelitian lebih lanjut mengenai pemanfaatan bagian-bagian tanaman pisang yang tidak terpakai tersebut lainnya
GAMBARAN PENGGUNAAN OAD PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 YANAG MENGIKUTI EDUKASI DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FARMAWATI PERIODE JANUARI – JUNI 2013 Refdanita Refdanita; Magdalena Niken; Robiani Robiani
SAINSTECH FARMA Vol 7 No 1 (2014): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v7i1.840

Abstract

Diabetes Melitus (DM) adalah suatu gangguan kronis yang khususnya menyangkut metabolisme glukosa di dalam tubuh. Penyebabnya adalah kekurangan hormon insulin yang berfungsi memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi dan mensintesis lemak, akibatnya ialah terjadi penumpukan glukosa di dalam darah (hiperglikemia) dan akhirnya disekresikan lewat kemih (glisuria). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Gambaran penggunaan OAD pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 yang telah mengikuti edukasi di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Periode Januari – Juni 2013”. Metode yang digunakan secara survei retrospektif menggunakan data sekunder yaitu data rekam medik sebanyak 100 pasien. Sampel penelitian ini adalah rekam medik pasien DM tipe 2 di RSUP Fatmawati yang telah mengikuti edukasi kelompok minimal mengikuti materi keempat tentang OAD (Obat Anti Diabetik) dan insulin di klinik edukasi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati. Data yang diperoleh diolah dalam bentuk tabulasi, selanjutnya dianalisis dengan perhitungan persentase. Gambaran demografi pasien DM tipe 2 setelah mengikuti edukasi selama periode Januari – Juni 2013 diperoleh hasil paling banyak jenis kelamin peremuan sebesar 68% (68 orang) dengan kelompok usia antara 50-60 tahun sebesar 36% (36 orang). OAD tunggal paling banyak digunakan adalah metformin sebanyak 21% (21 orang), dan OAD kombinasi metformin dan glibenklamid sebesar 22% (22 orang). Edukasi yang paling banyak diikuti sebanyak empat kali pertemuan sebesar 37% (37 orang) dan perubahan kadar gula darah setelah mengikuti edukasi yaitu kadar gula darah puasa sebesar 32%, kadar gula darah 2 jam PP sebesar 24% dan kadar HbA1c sebesar 2%. Kata kunci : Diabetes Melitus tipe 2, Kadar Gula darah, HbA1c
Karakterisasi Senyawa Kimia Daun Mint (Mentha sp.) dengan Metode FTIR dan Kemometrik Lia Puspitasari; Suci Mareta; Amlius Thalib
SAINSTECH FARMA Vol 14 No 1 (2021): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v14i1.931

Abstract

Tanaman mint (Mentha sp.) merupakan salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan, baik untuk bahan baku farmasi, maupun untuk makanan, minuman, flavour agent, dan kosmetika. Tanaman mint merupakan salah satu genus dalam familia Lamiaceae yang memiliki lebih kurang 30 spesies. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakterisasi tanaman mint dari berbagai spesies yang berbeda menggunakan metode spektroskopi Fourier Transform Infra Red (FTIR). Hal ini bermanfaat dalam pengendalian kualitas bahan alam dalam hal identifikasi. Hasil spektrum FTIR dianalisis dengan metode Principal Component Analysis (PCA) untuk mengetahui pola fingerprint pada spesies yang berbeda. Spektrum FTIR pada bilangan gelombang 4000-400 cm-1 yang dianalisis menggunakan PCA menunjukkan bahwa ada perbedaan spesies dan pelarut dengan nilai total varian sebesar 99% (PC-1=93% dan PC-2=6%). Segmentasi spektrum FTIR pada bilangan gelombang 1500-1400 cm-1 dilakukan untuk memperoleh hasil yang lebih baik pada pengelompokkan jenis tanaman. Berdasarkan hasil segmentasi diperoleh hasil plot PCA dengan nilai total varian sebesar 100% (PC-1=100% dan PC-2=0%). Dapat disimpulkan bahwa analisis kemometrik dengan metode PCA dapat dengan jelas mengidentifikasi perbedaan antara absorbansi gugus ikatan senyawa tanaman mint A, B, dan C.
Validasi Dan Penetapan Kadar Kurkumin Pada Jamu Gendong Kunyit Asam Dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Elsa Vera Nanda; Yopi Yopi; Yussi Pratiwi
SAINSTECH FARMA Vol 14 No 1 (2021): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v14i1.932

Abstract

Jamu kunyit asam merupakan obat tradisional Indonesia. Salah satu zat aktif jamu kunyit asam adalah kurkumin. Kurkumin mempunyai aktivitas sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antispasmodik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar kurkumin dalam jamu gendong kunyit asam yang dijual di pasar Kemiri Muka, Depok dengan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Sampel jamu diekstraksi dengan kloroform, diuapkan kemudian dilarutkan dengan etanol. Uji kualitatif dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) menunjukkan nilai Rf yang sama antara ekstrak dan baku. Validasi pada instrumen KCKT menunjukkan nilai akurasi 94,57%-123,24%, presisi 0,697%, batas kuantifikasi 0,3500 µg/ml, batas deteksi 0,1050 µg/ml, lineritas r = 0,99997 dan persamaan regresi yang digunakan y = 115.54x + 4,0661. Hasil penetapan kadar kurkumin dalam sampel dengan KCKT adalah 0,0185766 mg/ml; 0,0188188 mg/ml; dan 0,0580346 mg/ml. Perbedaan kadar kurkumin dalam sampel dapat terjadi karena tempat memperoleh bahan baku, komposisi, pH larutan dan interaksi cahaya.
Formulasi dan Uji Antibakteri Sediaan Gel Ekstrak Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap Pseudomonas aeruginosa dan Propionibacterium acnes Safira Nafisa; Yuslia Noviani; Moch Futuchul Arifin; Calista Nathania
SAINSTECH FARMA Vol 14 No 1 (2021): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v14i1.933

Abstract

Kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) diketahui memiliki aktivitas antibakteri terhadap Pseudomonas aeruginosa dan Propionibacterium acnes. Aktivitas tersebut diduga karena adanya senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin yang terkandung dalam bunga rosela. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan formula optimum dari sediaan gel ekstrak kelopak bunga rosela yang baik secara fisik, kimia, dan efektivitasnya sebagai antibakteri. Metode yang digunakan adalah rancangan faktorial 23 dengan 3 faktor, yaitu Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ekstrak kelopak bunga rosela (6 dan 12%), carbomer 940 (1,5 dan 2,0%), dan propilenglikol (10 dan 15%). Sediaan gel dievaluasi mutu fisik, kimia, dan efektivitas secara in vitro, kemudian dianalisis menggunakan program Minitab 17 untuk mengetahui pengaruh faktor dan interaksinya terhadap respon yang dihasilkan. Hasil uji fisik sediaan gel yaitu berbentuk semisolid; berwarna coklat; berbau khas rosela; dengan viskositas 19375 – 68750 cPs; pH 4,42 – 5,53; daya sebar 18,39 – 31, 08 cm2; diameter daerah hambat Pseudomonas aeruginosa 10,88 – 14,88 mm; dan diameter daerah hambat Propionibacterium acnes 10,63 – 13,88 mm. Pada penelitian ini diperoleh formula optimum yaitu konsentrasi ekstrak 10.18%, carbomer 940 2%, propilenglikol 15%, trietanolamin 2%, natrium benzoat 0,1%, dan air suling ad 100%. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa sediaan gel yang mengandung ekstrak kering kelopak bunga rosela baik secara fisik dan kimia, serta mampu menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Propionibacterium acnes.
Formulasi dan Uji Antibakteri Sabun Mandi Padat Ekstrak Etanol Daun Afrika (Vernonia amygdalina Delile) Terhadap Staphylococcus aureus Amelia Febriani; Ika Maruya Kusuma; Mega Hariyani
SAINSTECH FARMA Vol 14 No 1 (2021): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v14i1.934

Abstract

Daun afrika diketahui mengandung tanin, flavonoid, dan alkaloid yang memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun afrika (Vernonia amygdalina Delile) yang diformulasi dalam sabun mandi padat. Pembuatan sabun dengan metode cold process menggunakan NaOH serta campuran minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak zaitun, minyak biji bunga matahari dengan berbagai variasi konsentrasi ekstrak sebesar 1% (F1), 3% (F2), dan 6% (F3). Sabun padat yang dihasilkan kemudian dilakukan evaluasi berdasarkan SNI No 3532-2016 tentang mutu sabun diantaranya yaitu uji organoleptik, uji pH, uji kadar air, uji asam lemak bebas, uji kekerasan, uji stabilitas busa, persentase busa yang hilang, uji hedonik dan uji aktivitas antibakteri. Hasil evaluasi menunjukkan pH sabun 9,37 - 9,72, kadar air 9,78% - 11,33%, asam lemak bebas 0,14% - 0,2%, kekerasan 18-21 mm/detik, tinggi busa 2,2 - 2,3 cm. Uji hedonik menunjukkan responden lebih menyukai F1dinilai dari bentuk, aroma, warna, kemasan, bentuk kemasan, warna kemasan, dan kenampakan keseluruhan sabun. Hasil uji antibakteri menunjukkan F3 memiliki diameter daya hambat terbesar yaitu 13,83 mm. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sabun mandi padat ekstrak etanol daun afrika memiliki aktivitas antibakteri dan memenuhi mutu fisik sesuai syarat SNI No 3532-2016 tentang mutu sabun
Formulasi Dan Evaluasi Gel Ekstrak Daun Sukun (Artocarpus altilis) Sebagai Antioksidan dan Inhibitor Tirosinase Munawarohthus Sholikha; Amelia Febriani; Suci Asriatul Nirmala
SAINSTECH FARMA Vol 14 No 1 (2021): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v14i1.935

Abstract

Daun sukun (Artocarpus altilis) mengandung senyawa flavonoid yang dapat berperan sebagai antioksidan dan menghambat aktivitas enzim tirosinase yang berkhasiat sebagai pencerah kulit. Pada penelitian sebelumnya, uji aktivitas antioksidan ekstrak etil asetat daun sukun menunjukkan nilai IC50 66,52 ppm dan uji penghambatan enzim tirosinase menunjukkan hasil IC50 245,43 ppm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etil asetat daun sukun yang mengandung flavonoid memiliki kemampuan sebagai antioksidan dan antitirosinase saat dibuat sediaan gel. Gel dibuat dengan variasi konsentrasi ekstrak etil asetat daun sukun pada formula I, II, dan III berturut-turut yaitu 2%, 4% dan 6%. Uji evaluasi dilakukan pada sediaan gel yang sudah dibuat dengan variasi konsentrasi ekstrak etil asetat daun sukun yaitu organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, waktu lekat, dan sineresis. Pada uji stabilitas fisiknya dilakukan dengan menyimpan gel pada suhu 4°C selama 24 jam lalu dipindahkan ke dalam oven bersuhu 40±2°C selama 24 jam (satu siklus). Uji dilakukan selama 6 siklus. Aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1 diphenyl-2-picrylhidrazil) dan penghambatan tirosinase menggunakan substrat L-DOPA. Hasil uji evaluasi fisik ketiga gel bersifat homogen, pH 5,8-6,0, nilai viskositas 27.000-36.000 cPs, waktu lekat >30 menit dan tidak sineresis. Hasil uji stabilitas menunjukkan gel stabil secara fisik. Ekstrak sukun memiliki nilai IC50 antioksidan 31,25 ppm. Nilai antioksidan gel formula I, II, III berturut-turut sebesar 10%, 13,71% dan 20,48%. Penghambatan tirosinase dengan substrat L-DOPA diperoleh gel formula I, II, III berturut-turut sebesar 40,35%, 39,11% dan 37,21%.
Analisis Pengaruh Sikap dan Norma Subjektif Terhadap Niat Beli Kosmetik Pemutih Wajah pada Remaja Putri SMK X Jakarta Ainun Wulandari; Firdha Aprilya Utami
SAINSTECH FARMA Vol 14 No 1 (2021): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v14i1.936

Abstract

Masa remaja merupakan masa pembentukan identitas diri. Identitas diri biasanya terbentuk melalui interaksi sosial. Kebanyakan remaja putri beranggapan bahwa cantik identik dengan putih, sehingga mereka terdorong untuk membeli produk kosmetik pemutih wajah. Niat berperilaku menurut teori perilaku terencana dipengaruhi oleh sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang dipersepsikan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dari sikap dan norma subjektif terhadap niat beli kosmetik pemutih wajah pada remaja putri. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah remaja putri SMK X Jakarta berusia 15-17 tahun, sebanyak 253 sampel. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Analisis data menggunakan uji analisis regresi linier sederhana untuk melihat pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan pengaruh variabel sikap terhadap niat beli adalah 13,9% (p value < 0,05), dan pengaruh variabel norma subjektif terhadap niat beli adalah 13,2% (p value < 0,05). Niat membeli kosmetik pemutih wajah pada remaja putri SMK X Jakarta dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh sikap dan norma subjektif.

Page 9 of 17 | Total Record : 163


Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 18 No 2 (2025): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 18 No 1 (2025): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol. 18 No. 1 (2025): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 17 No 2 (2024): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 17 No 1 (2024): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 16 No 2 (2023): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 16 No 1 (2023): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 15 No 2 (2022): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 15 No 1 (2022): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 14 No 2 (2021): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 14 No 1 (2021): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 13 No 2 (2020): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 13 No 1 (2020): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 12 No 2 (2019): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 12 No 1 (2019): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 11 No 2 (2018): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 11 No 1 (2018): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 10 No 2 (2017): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 10 No 1 (2017): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 9 No 2 (2016): SAINSTECH FARMA Vol 9 No 1 (2016): SAINSTECH FARMA Vol 8 No 2 (2015): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 7 No 1 (2014): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 6 No 2 (2013): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 4 No 2 (2012): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 2 No 1 (2011): Sainstech Farma More Issue