cover
Contact Name
Hamid Mukhlis
Contact Email
jiberdaya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jiberdaya@gmail.com
Editorial Address
Lucky Arya Residence 2 No 18 RT/RW 003/001 Fajar Agung Barat Kecamatan Pringsewu
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Indonesia Berdaya
Published by Utan Kayu Institute
ISSN : 27163822     EISSN : 27210669     DOI : https://doi.org/10.47679/ib
The aim of this journal publication is to disseminate the conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the area of community services. Indonesia Berdaya particularly focuses on the main problems in the development of the sciences of community services areas as follows: - Community Services, People and Health; - Training, Marketing, Appropriate Technology, Design; - Community Empowerment, Social Access; - Student Community Services; - Border Region, Less Developed Region; - Education for Sustainable Development.
Articles 888 Documents
Denda Damai: Hukuman Tanpa Pembuktian: Peace Fines: Punishment Without Proof Nakzim Khalid Siddiq; Lalu Panca Tresna D
Indonesia Berdaya Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20251130

Abstract

Abstrak. Pada prinsipnya dalam penegakan hukum, tidak seorangpun dapat dipidana tanpa adanya kesalahan yang telah terbukti secara sah dan meyakinkan berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap sebagaimnana keberlakuan asas praduga tak bersalah (presumption of innocence) dalam hukum acara pidana.  Tujuan  dari  penelitian ini  adalah  untuk  mengkaji  denda damai termasuk sebagai hukuman dan dasar kewenangan Jaksa Agungmenjatuhkan denda damai. Metode penelitian yang diaplikasikan adalah penelitian  hukum normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Sejalan dengan konsep pidana denda, upaya optimalisasi penegakan hukum pidana yang berorientasi pada keadilan restoratif (restorative justice), melalui perubahan undang-undang kejaksaan terbaru, Jaksa Agung memiliki tugas dan wewenang menggunakan denda damai dalam tindak pidana ekonomi. Denda dami merupakan penghentian perkara di luar pengadilan dengan membayar denda yang disetujui oleh Jaksa Agung. Dengan demikian, denda damai merupakan hukuman finansial yang diberikan oleh kejaksaan terhadap seseorang yang telah melakukan tindak pidana ekonomi sebagai bentuk penerapan asas oportunitas yang dimiliki oleh Jaksa Agung. Jaksa memiliki kewenangan mutlak untuk menggunakan denda damai atas dasar prinsip Restorative Justice. Hal ini jika disandingkan dengan teori kewenangan, maka dapat dianalisis bahwa kewenangan jaksa agung dalam memberlakukan denda damai atas dasar keadilan restoratif merupakan bentuk kewenangan atribusi yakni kewenangan yang bersumber dari hukum positif atau peraturan perundang-undangan. Abstract. In principle, within the enforcement of law, no individual may be subjected to criminal punishment without proven fault that has been legally and convincingly established by a court decision with permanent legal force, in accordance with the presumption of innocence principle in criminal procedural law. The aim of this research is to examine whether peace fines constitute a form of punishment and to explore the legal basis for the Attorney General’s authority to impose such fines. The research method applied is normative legal research, utilising both statutory and conceptual approaches. The findings of this study indicate that, in line with the concept of criminal fines, efforts to optimise the enforcement of criminal law oriented towards restorative justice, through recent amendments to the prosecution law, have vested the Attorney General with the duty and authority to apply peace fines in economic crimes. A peace fine is a means of terminating a case outside of court by paying a fine agreed upon by the Attorney General. Thus, a peace fine constitutes a financial sanction imposed by the prosecution on an individual who has committed an economic crime, as a form of application of the discretionary principle held by the Attorney General. The Attorney General possesses absolute authority to employ peace fines based on the principle of restorative justice. When juxtaposed with the theory of authority, it can be analysed that the Attorney General’s authority to implement peace fines on the grounds of restorative justice represents a form of attributional authority, namely authority derived from positive law or statutory regulations.
Penguatan Kesiapan Karier Siswa SMK Ketintang Surabaya Melalui Pelatihan Strategic Thinking dan Adaptasi Dunia Kerja: Strengthening Career Readiness among Students at SMK Ketintang Surabaya through Strategic Thinking and Workplace Adaptation Training Mohamad Yusak Anshori; Reizano Amri Rasyid; Azmil Chusnaini
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261605

Abstract

Kesiapan kerja lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi tantangan utama di Indonesia, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tamatan SMK yang tercatat sebagai yang tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lain. SMK Ketintang Surabaya sebagai mitra pengabdian memiliki 1.786 peserta didik dengan lima kompetensi keahlian, namun siswa masih menghadapi kendala dalam hal pemahaman budaya kerja profesional, etika profesional, komunikasi kerja, dan kemampuan pengambilan keputusan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapan karier siswa melalui pelatihan strategic thinking dan adaptasi dunia kerja. Metode pelaksanaan terdiri dari tiga tahap: persiapan, pelaksanaan (sosialisasi dan pelatihan), serta evaluasi. Pelatihan mencakup strategic thinking untuk pengembangan diri dan karier, penguatan adaptasi terhadap budaya kerja profesional, pembelajaran berbasis studi kasus dan simulasi, serta refleksi kesiapan kerja. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai strategic thinking dan budaya kerja profesional, dengan 80% peserta mampu menjelaskan kembali konsep dasar strategic thinking dan 75% peserta menyusun rencana pengembangan diri. Kegiatan ini memberikan kontribusi nyata dalam penguatan soft skills siswa SMK sebagai bekal memasuki dunia kerja.   Abstract. Work readiness among vocational high school graduates remains a major challenge in Indonesia, as graduates of Vocational High Schools (Sekolah Menengah Kejuruan [SMK]) continue to record the highest Open Unemployment Rate compared with graduates from other levels of education. SMK Ketintang Surabaya, as the partner institution in this community engagement program, has 1,786 students across five vocational competency programs. However, students continue to face challenges related to understanding professional workplace culture, professional ethics, workplace communication, and decision-making skills. This community engagement program aimed to strengthen students’ career readiness through strategic thinking and workplace adaptation training. The program was implemented in three stages: preparation, implementation (orientation and training), and evaluation. The training covered strategic thinking for personal and career development, adaptation to professional workplace culture, case-based learning and simulations, and reflection on work readiness. The results indicated improvements in students’ understanding of strategic thinking and professional workplace culture. Specifically, 80% of participants were able to explain the fundamental concepts of strategic thinking, while 75% successfully developed personal development plans. These findings indicate that the program contributed meaningfully to strengthening vocational students’ soft skills and better preparing them for the transition into the workforce.
Sistem Informasi Presensi (SIP) di MI AL-IHSAN: Integrasi Teknologi Absensi Digital dalam Meningkatkan Efisiensi Pendidikan: Attendance Information System (SIP) at MI Al-Ihsan: Integrating Digital Attendance Technology to Improve Educational Efficiency Dike Bayu Magfira; Mulya Nafa; Siti Khotimah; M. Muaffa Aditya; Afrah Amani; Hamidah Izzatul Laila
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261620

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan Sistem Informasi Presensi (SIP) berbasis digital di MI Al-Ihsan Tebel, Sidoarjo, guna meningkatkan efisiensi dan akurasi pengelolaan kehadiran tenaga pendidik dan staf administrasi. Permasalahan utama yang dihadapi adalah penggunaan sistem absensi manual yang tidak efisien, rentan terhadap kesalahan pencatatan, serta memerlukan waktu lama dalam proses rekapitulasi data. Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model pengembangan Waterfall yang meliputi tahap analisis kebutuhan, perancangan sistem, implementasi, dan pengujian. Partisipan penelitian berjumlah 13 orang, terdiri atas kepala madrasah, tenaga pendidik, dan staf tata usaha MI Al-Ihsan Tebel, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Sistem dikembangkan berbasis web dengan integrasi teknologi Global Positioning System (GPS) untuk validasi lokasi keberadaan secara real-time (geofencing radius 5 meter). Data perbandingan efisiensi sebelum dan sesudah implementasi diperoleh melalui observasi langsung dan pencatatan waktu pada proses absensi serta rekapitulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara deskriptif, sistem yang dikembangkan mampu mempercepat waktu absensi dari rata-rata 2–3 menit menjadi kurang dari 10 detik per pengguna, mempercepat proses rekapitulasi dari 2–3 hari menjadi real-time, serta menurunkan tingkat kesalahan pencatatan dari 10–15% menjadi kurang dari 2%. Pengujian fungsional dengan metode black box testing menunjukkan tingkat keberhasilan 100% pada 127 skenario uji. Mengingat keterbatasan skala sampel serta belum dilakukannya uji statistik inferensial dan evaluasi usability formal, temuan ini bersifat deskriptif dan kontekstual pada satu institusi, sehingga generalisasi memerlukan penelitian lanjutan. Dengan demikian, implementasi SIP menunjukkan potensi yang menjanjikan dalam mendukung transformasi digital di lingkungan pendidikan dasar serta meningkatkan kualitas pengelolaan data kehadiran. Abstract. This study aimed to develop and implement a digital Attendance Information System (Sistem Informasi Presensi/SIP) at MI Al-Ihsan Tebel, Sidoarjo, to improve the efficiency and accuracy of attendance management for teaching and administrative staff. The primary problem addressed was the use of a manual attendance system, which was inefficient, prone to recording errors, and time-consuming in the data recapitulation process. This study employed a Research and Development (R&D) approach using the Waterfall development model, consisting of needs analysis, system design, implementation, and testing stages. The study involved 13 participants, including the head of the madrasah, teaching staff, and administrative staff of MI Al-Ihsan Tebel, who were selected through purposive sampling. The system was developed as a web-based application integrated with Global Positioning System (GPS) technology to validate users’ real-time locations using a geofencing radius of 5 meters. Comparative efficiency data before and after system implementation were obtained through direct observation and time recording of attendance and data recapitulation processes. The findings descriptively indicated that the developed system reduced attendance recording time from an average of 2–3 minutes to less than 10 seconds per user, shortened the data recapitulation process from 2–3 days to real-time processing, and decreased the recording error rate from 10–15% to less than 2%. Functional testing using the black-box testing method demonstrated a 100% success rate across 127 test scenarios. Given the limited sample size, the absence of inferential statistical testing, and the lack of a formal usability evaluation, these findings are descriptive and context-specific to a single institution; therefore, further research is required before broader generalizations can be made. Overall, the implementation of SIP demonstrates promising potential to support digital transformation in primary education and improve the quality and efficiency of attendance data management.
Strengthening MSME Capacity Through Entrepreneurship, Marketing, Branding, and Digital Marketing Training in Kragan Village, Sidoarjo, Indonesia: Penguatan Kapasitas UMKM melalui Pelatihan Kewirausahaan, Pemasaran, Branding, dan Pemasaran Digital di Desa Kragan, Sidoarjo, Indonesia Denis Fidita Karya; Rachma Rizqina Mardhotillah; Mohamad Yusak Anshori; Yeni Fitria Nurahman
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261624

Abstract

This community engagement program aimed to strengthen the capacity of micro, small, and medium enterprises (MSMEs) in Kragan Village, Sidoarjo, through entrepreneurship, marketing and branding, and digital marketing training. The program employed a community needs assessment and participatory approach, beginning with brief interviews and direct observation to identify the main challenges faced by local MSME actors. Based on the identified needs, an interactive socialization and training program was conducted involving 15 MSME participants. Program outcomes were evaluated using pre-test and post-test assessments covering three main aspects: entrepreneurship, marketing and branding, and digital marketing. The results demonstrated positive improvements across all three aspects. The entrepreneurship score increased from 53.3% to 83.3%, marketing and branding increased from 50.0% to 83.3%, while digital marketing showed the largest improvement, increasing from 43.3% to 83.3%. These findings indicate a positive short-term improvement in participants' knowledge and understanding following the intervention, particularly in digital marketing. Overall, the program demonstrates that a needs-based and participatory training approach can contribute to strengthening MSME capabilities and encouraging more systematic, market-oriented, and digitally supported business practices. Continued mentoring and follow-up evaluation are recommended to support the implementation of acquired knowledge into sustainable business practices and improved MSME performance. Abstrak. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Kragan, Sidoarjo, melalui pelatihan kewirausahaan, pemasaran dan branding, serta pemasaran digital. Program ini menggunakan pendekatan asesmen kebutuhan masyarakat dan partisipatif, yang diawali dengan wawancara singkat dan observasi langsung untuk mengidentifikasi tantangan utama yang dihadapi oleh para pelaku UMKM setempat. Berdasarkan kebutuhan yang teridentifikasi, dilaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan interaktif yang melibatkan 15 peserta pelaku UMKM. Hasil program dievaluasi menggunakan asesmen pre-test dan post-test yang mencakup tiga aspek utama, yaitu kewirausahaan, pemasaran dan branding, serta pemasaran digital. Hasil menunjukkan adanya peningkatan positif pada ketiga aspek tersebut. Skor kewirausahaan meningkat dari 53,3% menjadi 83,3%, pemasaran dan branding meningkat dari 50,0% menjadi 83,3%, sedangkan pemasaran digital menunjukkan peningkatan terbesar, yaitu dari 43,3% menjadi 83,3%. Temuan ini menunjukkan adanya peningkatan jangka pendek yang positif dalam pengetahuan dan pemahaman peserta setelah intervensi, terutama pada aspek pemasaran digital. Secara keseluruhan, program ini menunjukkan bahwa pendekatan pelatihan berbasis kebutuhan dan partisipatif dapat berkontribusi dalam memperkuat kapasitas UMKM serta mendorong penerapan praktik usaha yang lebih sistematis, berorientasi pasar, dan didukung oleh teknologi digital. Pendampingan berkelanjutan dan evaluasi tindak lanjut direkomendasikan untuk mendukung penerapan pengetahuan yang telah diperoleh ke dalam praktik usaha yang berkelanjutan serta meningkatkan kinerja UMKM.
Empowering Elementary School Students as Young Dental Health Cadres through the Senyumku Sehat Program: Pemberdayaan Siswa Sekolah Dasar sebagai Kader Kesehatan Gigi Cilik melalui Program Senyumku Sehat Fery Setiawan; Basma Rosandi Prakosa; Dzanuar Rahmawan
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261630

Abstract

Oral health promotion among school-aged children requires approaches that improve knowledge while encouraging active participation. The Senyumku Sehat Program aimed to evaluate changes in oral health knowledge and establish Young Dental Health Cadres as a school-based empowerment mechanism. This community service program involved 176 students from Grades 1–4 at MI PSM Gempolan 2, Kediri Regency, Indonesia, using a one-group pre-test–post-test design. Knowledge was assessed using a ten-item questionnaire before and immediately after interactive oral health education. The overall median score increased from 45 to 65, with all participants achieving higher post-test scores (Z = −12.047, p<0.001; r = 0.91). Significant improvements occurred in all grades (all p<0.001). Knowledge gains differed significantly across grade levels (H = 16.82, p<0.001), with Grade 4 demonstrating significantly greater gains than Grades 1–3. Eight students were established as Young Dental Health Cadres for one academic year under teacher supervision, supported by cadre pins, a rotating trophy, and a guidance book as planned continuity mechanisms. The program was associated with substantial immediate knowledge improvement while establishing a structured school-based cadre mechanism. Longitudinal evaluation is required to assess knowledge retention, cadre effectiveness, and program sustainability.   Abstrak. Promosi kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah memerlukan pendekatan yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mendorong partisipasi aktif. Program Senyumku Sehat bertujuan untuk mengevaluasi perubahan pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut serta membentuk Kader Kesehatan Gigi Cilik sebagai mekanisme pemberdayaan berbasis sekolah. Program pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan 176 siswa kelas 1–4 di MI PSM Gempolan 2, Kabupaten Kediri, Indonesia, dengan menggunakan desain one-group pre-test–post-test. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner yang terdiri atas sepuluh butir sebelum dan segera setelah pemberian edukasi kesehatan gigi dan mulut secara interaktif. Skor median keseluruhan meningkat dari 45 menjadi 65, dengan seluruh peserta menunjukkan skor post-test yang lebih tinggi (Z = −12,047, p < 0,001; r = 0,91). Peningkatan yang signifikan terjadi pada seluruh tingkat kelas (semua p < 0,001). Peningkatan pengetahuan juga berbeda secara signifikan antarjenjang kelas (H = 16,82, p < 0,001), dengan siswa kelas 4 menunjukkan peningkatan yang secara signifikan lebih besar dibandingkan siswa kelas 1–3. Delapan siswa ditetapkan sebagai Kader Kesehatan Gigi Cilik selama satu tahun ajaran di bawah supervisi guru, dengan dukungan berupa pin kader, piala bergilir, dan buku panduan sebagai mekanisme keberlanjutan program yang telah direncanakan. Program ini berkaitan dengan peningkatan pengetahuan secara langsung yang substansial sekaligus berhasil membentuk mekanisme kader berbasis sekolah yang terstruktur. Evaluasi longitudinal diperlukan untuk menilai retensi pengetahuan, efektivitas kader, dan keberlanjutan program.
Efektivitas Pelatihan Sanggah Jiwa dalam Meningkatkan Kapasitas Kader tentang Pendampingan Kesehatan Mental: Effectiveness of Sanggah Jiwa Training in Enhancing Cadres’ Capacity for Mental Health Assistance Elsy Junilia; Mifta Quroifah; Halimi Halimi; Laila Sari; Novalya Zaura Salsabila
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261633

Abstract

Keterbatasan akses terhadap tenaga profesional dan masih adanya stigma terhadap permasalahan kesehatan mental menjadi tantangan dalam pemberian pendampingan psikologis di masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas kader dalam memberikan pendampingan awal kesehatan mental melalui Pelatihan Sanggah Jiwa. Kegiatan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan rancangan one-group pretest-posttest, yang diperkuat melalui observasi dan refleksi peserta. Pelatihan Sanggah Jiwa melalui program SIGAP METRO (Siaga Gerakan Aktif Pulihkan Mental Kota Metro) dilaksanakan pada 2 Agustus 2026 di Kota Metro dengan melibatkan kader relawan Komunitas Rumah Peluk di bawah naungan BKKBN Kota Metro. Materi pembekalan meliputi pemahaman peran dan batas kader, active listening, validasi emosi, teknik stabilisasi sederhana, dukungan sebaya, perawatan diri kader, serta pemanfaatan ruang terbuka hijau sebagai “Klinik Alam”. Kegiatan dilakukan melalui penyampaian materi, simulasi, role-play, praktik keterampilan, dan refleksi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti pembekalan, terutama pada aspek peran konselor sebaya, respons terhadap kondisi berisiko, dan pemahaman mengenai konsep “Klinik Alam”. Pelatihan Sanggah Jiwa dapat menjadi salah satu upaya penguatan kapasitas kader dalam mendukung pendampingan kesehatan mental di masyarakat dengan tetap memperhatikan batas kompetensi dan kebutuhan rujukan kepada tenaga profesional.   Abstract. Limited access to mental health professionals and the persistence of stigma surrounding mental health problems remain major challenges in providing psychological support within communities. This activity aimed to improve cadres’ knowledge and capacity to provide initial mental health assistance through the Sanggah Jiwa Training. The activity employed a descriptive quantitative approach with a one-group pretest–posttest design, complemented by participant observations and reflections. The Sanggah Jiwa Training, conducted as part of the SIGAP METRO (Siaga Gerakan Aktif Pulihkan Mental Kota Metro) program, was held on August 2, 2026, in Metro City and involved volunteer cadres from the Rumah Peluk Community under the auspices of the Metro City BKKBN. The training materials covered an understanding of cadres’ roles and boundaries, active listening, emotional validation, simple stabilization techniques, peer support, cadre self-care, and the utilization of green open spaces as a “Nature Clinic.” The activities included instructional sessions, simulations, role-plays, skills practice, and reflection. Evaluation results indicated an improvement in participants’ understanding following the training, particularly regarding the role of peer counselors, appropriate responses to high-risk situations, and the concept of the “Nature Clinic.” Sanggah Jiwa Training may serve as an approach to strengthening cadres’ capacity to support community-based mental health assistance while maintaining appropriate competency boundaries and recognizing the need for referral to mental health professionals.
A Model of Academic Supervision Based on Self-Evaluation to Improve Pedagogic Competence of Elementary Teachers: Model Supervisi Akademik Berbasis Evaluasi Diri untuk Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru Sekolah Dasar Hamid Mukhlis; Yoga Fernando Rizqi
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261634

Abstract

This study aims to develop a supervision model academics to improve competence pedagogic of elementary school teachers in Lampung province, produce a model of supervision academic based evaluation self through the school KKG program to improve competence pedagogic elementary school teachers, as well as to know is use technique supervision academic with evaluation self through the school 's KKG effective Upgrade competence Elementary school pedagogy in Lampung Province. Method research used in this research is Research and Development (R&D) with trial implementation limited to 2 elementary school in Lampung Province. Test the development model supervision using the One Group Pretest-Posttest Design. From the results analysis with the t test obtained tstatistik -6.156, t table 1.943 with thereby tstatistik (-6.165) < t-table (1.943) this means there is change or enhancement competence subject teacher pedagogy testing after given supervision results development, so its can interpreted that supervision model academic evaluation self effective Upgrade competence pedagogy of elementary school teachers in Lampung Province.   Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model supervisi akademik guna meningkatkan kompetensi pedagogik guru sekolah dasar di Provinsi Lampung, menghasilkan model supervisi akademik berbasis evaluasi diri melalui program Kelompok Kerja Guru (KKG) sekolah untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru sekolah dasar, serta mengetahui efektivitas penggunaan teknik supervisi akademik berbasis evaluasi diri melalui KKG sekolah dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru sekolah dasar di Provinsi Lampung. Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan uji coba implementasi terbatas pada dua sekolah dasar di Provinsi Lampung. Pengujian model supervisi yang dikembangkan menggunakan desain One Group Pretest-Posttest Design. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji t, diperoleh nilai t statistik sebesar −6,156 dan t tabel sebesar 1,943. Dengan demikian, t statistik (−6,165) < t tabel (1,943). Hasil tersebut menunjukkan adanya perubahan atau peningkatan kompetensi pedagogik guru yang menjadi subjek uji coba setelah diberikan supervisi menggunakan model yang dikembangkan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa model supervisi akademik berbasis evaluasi diri efektif dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru sekolah dasar di Provinsi Lampung.
Empowering Posyandu Cadres Through Participatory Training for Child Growth Monitoring and Stunting Prevention in Fakfak Regency: Pemberdayaan Kader Posyandu melalui Pelatihan Partisipatif untuk Pemantauan Pertumbuhan Anak dan Pencegahan Stunting di Kabupaten Fakfak Elzina Dina de Fretes; Isra Nur Utari Syachnara Potabuga; Yasni La Harsani
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261635

Abstract

Stunting remains a major public health concern in Indonesia, particularly in areas with limited resources and access to health services. This community service program aimed to strengthen posyandu cadre knowledge and practical skills in child growth monitoring, health education, and stunting prevention through participatory training supported by the Ibu Hebat Anak Sehat educational book. Thirty cadres from five posyandu in the Puskesmas Fakfak catchment area participated in a two-day program involving needs assessment, interactive learning, practical simulation, supervised field application, reflection, and follow-up mentoring. Knowledge was assessed using a validated 20-item questionnaire before and after training, while practical skills were assessed using a structured 10-item observation checklist. The mean knowledge score increased from 58.3 (SD = 12.4) before training to 86.5 (SD = 8.7) after training, with a mean difference of 28.2 points (p < 0.001). The proportion of cadres with good knowledge increased from 13.3% to 80.0%. All 30 cadres achieved the predefined practical competency threshold of at least 18 of 20 points. Qualitative findings indicated increased confidence, perceived usefulness of the educational book, and continued need for mentoring and supervision. The program was associated with improved cadre knowledge and observed practical performance, while longer-term effects require further evaluation. Abstrak. Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, khususnya di wilayah dengan keterbatasan sumber daya dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis kader posyandu dalam pemantauan pertumbuhan anak, edukasi kesehatan, dan pencegahan stunting melalui pelatihan partisipatif yang didukung oleh buku edukasi Ibu Hebat Anak Sehat. Sebanyak 30 kader dari lima posyandu di wilayah kerja Puskesmas Fakfak mengikuti program selama dua hari yang mencakup asesmen kebutuhan, pembelajaran interaktif, simulasi praktik, penerapan lapangan dengan supervisi, refleksi, dan pendampingan tindak lanjut. Pengetahuan kader diukur menggunakan kuesioner tervalidasi yang terdiri atas 20 butir sebelum dan setelah pelatihan, sedangkan keterampilan praktis dinilai menggunakan daftar tilik observasi terstruktur yang terdiri atas 10 butir. Rerata skor pengetahuan meningkat dari 58,3 (SD = 12,4) sebelum pelatihan menjadi 86,5 (SD = 8,7) setelah pelatihan, dengan selisih rerata sebesar 28,2 poin (p < 0,001). Proporsi kader dengan kategori pengetahuan baik meningkat dari 13,3% menjadi 80,0%. Seluruh 30 kader mencapai ambang kompetensi praktis yang telah ditetapkan, yaitu sekurang-kurangnya 18 dari total 20 poin. Temuan kualitatif menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri kader, persepsi positif terhadap kebermanfaatan buku edukasi, serta kebutuhan berkelanjutan terhadap pendampingan dan supervisi. Program ini berkaitan dengan peningkatan pengetahuan kader dan kinerja praktis yang teramati, sedangkan dampak jangka panjangnya masih memerlukan evaluasi lebih lanjut.