cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Phone
+6287762961886
Journal Mail Official
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia
ISSN : 26156113     EISSN : 26156156     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jabi.v1i1
Jurnal ini memuat hasil penelitian dan pemikiran tentang adat istiadat dan budaya. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian kepada masyarakat dibidang adat dan kajian budaya.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 2 (2025)" : 20 Documents clear
Pemaknaan Gempa Bumi bagi Masyarakat Kabupaten Bandung: Studi Kasus pada Naskah Paririmbon dari Cililin Fitri, Siti Hawa Intan Diani; Sopian, Rahmat; Ruhimat, Mamat
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.87210

Abstract

Gempa bumi sebagai fenomena alam berbahaya telah menimbulkan dampak signifikan di Kabupaten Bandung, sebagaimana tercermin dalam peristiwa September 2024 yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur luas dan korban jiwa. Fenomena ini bukan hal baru, masyarakat lokal memiliki persepsi historis yang tertuang dalam naskah kuno. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pemaknaan gempa bumi bagi masyarakat Kabupaten Bandung berdasarkan analisis Naskah Paririmbon dari Cillin, sebuah manuskrip Sunda abad ke-20 yang ditemukan di Sindangsari, Kabupaten Bandung Barat. Naskah ini merupakan bagian dari tradisi primbon (catatan ramalan berbasis observasi leluhur) dan belum pernah dikaji sebelumnya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis filologis untuk menjaga keaslian teks. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pemilik naskah dan observasi fisik naskah, didukung data sekunder dari katalog manuskrip Sunda dan literatur terkait. Kerangka teori berpusat pada konsep naskah primbon sebagai sistem tanda yang memprediksi peristiwa sosial-alam, serta fungsi sedekah dan doa dalam mitigasi berbasis kepercayaan lokal. Hasil penelitian mengungkap bahwa masyarakat memaknai gempa melalui lensa waktu seperti siang atau malam dan bulan kalender Islam, menghubungkannya dengan peristiwa sosial-ekonomi seperti kelaparan, konflik, kemakmuran. Setiap gempa di bulan tertentu memiliki makna spesifik, diikuti ritual sedekah dan doa sebagai respons simbolis. Pemaknaan ini mencerminkan integrasi nilai religius, kemanusiaan, dan kearifan ekologis, sekaligus berfungsi sebagai mekanisme koping kultural terhadap ketidakpastian bencana. Temuan ini menegaskan peran naskah sebagai repositori pengetahuan lokal yang kompleks dan dinamis.
Pengejawantahan Spiritualitas Roro Kidul dalam Ritual, Kesenian dan Bangunan Damayanti, Fira Nur Vianingtias
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.88567

Abstract

Penelitian ini mengkaji perwujudan spiritualitas Roro Kidul dalam beragam bentuk tradisi, seni, dan bangunan di kalangan masyarakat Jawa. Mitos mengenai Roro Kidul tetap memegang peranan penting dalam kehidupan spiritual masyarakat, baik dalam konteks ritual adat, simbolisme budaya, maupun sinkretisme agama. Signifikansi penelitian ini terletak pada upaya untuk memahami bagaimana mitos dan kepercayaan lokal tetap terjaga di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang semakin cepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan spiritualitas Roro Kidul diekspresikan melalui tiga manifestasi utama: Labuhan sebagai ritual sakral, Tari Bedhaya Ketawang sebagai seni ritualistik, serta Kamar 308 di Hotel Inna Samudra Beach dan Altar Bunda Ratu di Vihara Kalyana Mitta sebagai simbolisme sakral dalam ruang fisik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data yang meliputi tinjauan literatur dan wawancara mendalam dengan tokoh budaya serta masyarakat setempat. Analisis dilakukan secara tematis dengan menerapkan kerangka teori Mircea Eliade, terutama konsep hierophany, Axis Mundi, dan dualitas antara yang sakral dan yang profan. Teori ini berfungsi sebagai alat analisis untuk memahami entitas mitos seperti Roro Kidul dapat menciptakan ruang dan waktu yang sakral dalam konteks budaya Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Labuhan, Tari Bedhaya Ketawang, dan kedua bangunan sakral tersebut merupakan manifestasi nyata dari integrasi antara mitos, kosmologi, dan spiritualitas Jawa. Melalui ketiga objek tersebut, masyarakat Jawa terus melestarikan tradisi yang tidak hanya menjaga hubungan dengan alam dan leluhur, tetapi juga mencerminkan harmoni antara dunia profan dan sakral, serta sinkretisme antara tradisi lokal dengan agama-agama besar seperti Buddha dan Islam.
Eksistensi Tradisi dan Sastra Lisan Sebagai Media Pendidikan Masyarakat Baduy Luar di Era Globalisasi Winursiti, Ni Made; Sapriya, Sapriya; Supriatna, Encep
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.89540

Abstract

Baduy merupakan salah satu masyarakat adat yang ada di Indonesia. Masyarakat adat Baduy merupakan suatu kelompok masyarakat adat Sunda yang hidup dan tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Indonesia. Masyarakat Baduy menghadapi tantangan besar terkait akses pendidikan. Meskipun terdapat peraturan adat yang membatasi pendidikan formal, masyarakat mulai terbuka terhadap pendidikan nonformal yang lebih fleksibel. Sastra lisan menjadi jembatan antara tradisi dan pendidikan modern pada masyarakat Baduy. Sastra lisan merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang memiliki peran sentral dalam kehidupan masyarakat adat, termasuk masyarakat Baduy. Dalam tradisi masyarakat Baduy, sastra lisan tidak hanya berfungsi sebagai medium penyampaian cerita, mitos, atau legenda, tetapi juga sebagai sarana pendidikan nonformal yang menanamkan nilai-nilai moral, sosial, dan spiritual kepada generasi muda. Seiring dengan masuknya pengaruh globalisasi ke dalam kehidupan masyarakat Baduy, terutama di wilayah Baduy Luar membawa tantangan baru bagi keberlanjutan sastra lisan ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui eksistensi tradisi dan sastra lisan sebagai media pendidikan masyarakat Baduy Luar di era globalisasi. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kualitatif dengan jenis penelitian etnografi. Metode penelitian ini dilaksanakan melalui tiga tahapan utama yaitu observasi awal, verifikasi data, dan analisis. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini mencakup data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan tradisi dan sastra lisan memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan masyarakat Baduy, baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar. Adapun peran tradisi dan sastra lisan tersebut yaitu sebagai penanaman nilai-nilai luhur, pemeliharaan identitas budaya, pengendalian sosial, dan media komunikasi. Pelestarian sastra lisan tidak hanya penting untuk menjaga identitas budaya Baduy, tetapi juga memberikan kontribusi bagi khazanah budaya Indonesia secara keseluruhan. Upaya pelestarian tradisi dan sastra lisan Baduy memerlukan pendekatan yang komprehensif dan melibatkan berbagai pihak.
Trend of Uang Panai Researches: A Systematic Literature Review Fajri AF, Muh Shadiqul
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.92077

Abstract

One of the enduring traditions in the marriage practices of the Bugis ethnic group is the custom of uang panai. This tradition functions as a mandatory requirement that must be fulfilled prior to marriage negotiations. In Indonesia, a number of studies on uang panai have been published in journals indexed on Google Scholar. The present study aimed to examine the diversity of research approaches, designs, data collection and analysis techniques, as well as research locations in articles published between 2014 and 2024. Using the Publish or Perish (PoP) software, 102 articles were initially retrieved. To minimize bias and avoid duplication, the PRISMA protocol was applied, resulting in a final selection of 18 articles for analysis. The findings of this review led to two primary recommendations for future research. First, uang panai should be explored through ethnomethodological approaches to provide deeper insights into the experiences of grooms. Second, incorporating psychological and Islamic economics perspectives is suggested to further enrich the understanding of uang panai within both individual and socio-economic contexts.
Pemertahanan Wujud Kebudayaan Tradisi Ritual Ceng Beng pada Masyarakat Cina Benteng di Karawaci dan Pasar Lama. Harianto, Jeni; Rahyono, F.X.; Suratminto, Lillie
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.92492

Abstract

Tradisi penghormatan kepada leluhur adalah karakteristik kebudayaan Tionghoa termasuk kebudayaan masyarakat Cina Benteng di Tangerang. Tradisi ritual Ceng Beng merupakan salah satu bentuk ritual penghormatan kepada leluhur yang tetap dilakukan oleh masyarakat Cina Benteng di Karawaci dan Pasar Lama. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan wujud kebudayaan tradisi ritual Ceng Beng yang dipertahankan oleh masyarakat Cina Benteng di Karawaci dan Pasar Lama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melibatkan lima narasumber kalangan dewasa dan pemangku adat, serta lima narasumber kalangan muda yang masih secara konsisten menjalankan tradisi ritual Ceng Beng. Berdasarkan analisis dengan teori dimensi kebudayaan dan semiotik pragmatik, penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman terhadap gagasan, pranata, serta kebudayaan materi yang berupa tindakan dan persembahan dalam ritual Ceng Beng tidak sama. Pemaknaan tradisi ritual Ceng Beng didominasi oleh pemaknaan simbolis. Pemaknaan yang bersifat indeksikal dan ikonis ditemukan pada sistem sosial dan kebudayaan materi. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa pemertahanan wujud kebudayaan tradisi ritual Ceng Beng lebih mudah dilakukan melalui tatanan sosial dan benda-benda yang mengandungi nilai-nilai kepraktisan. Pemahaman orang tua terhadap makna ritual Ceng Beng sangat berperan dalam pemertahanan tradisi budayanya.
Tradisi Bubak Kawah dalam Perkawinan Masyarakat Adat Jawa Perspektif Islam Nusantara In’am, Salsabila; Muslimin, A.; Asnawi, Habib Shulthon; Nawawi, M. Anwar
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.93341

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang pratik tradisi bubak kawah perspektif Islam Nusantara Desa Candra Jaya, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, yang melatarbelakangi peneliti untuk mengkaji tradisi bubak kawah tersebut terdapat dalam pratiknya, seperti halnya memutari rumah 3 kali dan pembelian es cendol dengan menggunakan transaksi uang genting. Tradisi bubak kawah di Desa Candra Jaya harus dilakukan oleh anak pertama perempuan tidak boleh bungsu. Tradisi bubak kawah dalam pratiknya apakah menyimpang atau tidak dengan ajaran Islam, tetapi dilihat dari masyarakat Desa tersebut ada yang menyakini dan ada yang tidak karena dengan pratiknya dianggap seperti hal-hal yang menyimpang ajaran Islam namun tidak lain dengan masyarakat yang menyakini tradisi ini dengan alasan mengharap berkah dari Allah SWT dan rasa syukur orang tua karena sudah menikahkan anak pertamanya. Pratik tradisi bubak kawah menggambarkan adanya kultur antara Islam dan budaya. Artikel ini untuk mengkaji sinkretisme budaya dan agama, bagaimana Islam Nusantara menyikapi tradisi bubak kawah, serta relevansinya di masyarakat saat ini. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah kualitatif, dengan pendekatan antropologi budaya dan menggunakan teknik pengumpulan data, observasi, dokumen dan wawancara. Sumber data diperoleh dari Tokoh Adat dan orang tua mempelai perempuan sebagai nara sumber data tradisi bubak kawah di Desa Candra Jaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi bubak kawah perspektif Islam Nusantara termasuk dalam Akulturasi antara Islam dan budaya, tidak menyimpang ajaran Islam, Akulturasi anatra Islam itulah yang dapat disebut kedalam Islam Nusantara. Tradisi bubak kawah ini perlu dilestarikan karena mengandung nilai Keislaman dalam budaya. Artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan, menginspirasi, dan menjaga budaya Islam Nusantara, dengan fatwa ulama sebagai refrensi bagi masyarakat dan peneliti. 
Eksistensi Keujreun Blang Dalam Hukum Adat Aceh: Antara Tradisi dan Modernisasi Iqbal, Muhammad; Ulya, Zaki; Natsir, Muhammad
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.93525

Abstract

Keujreun Blang merupakan institusi adat yang memiliki peran strategis dalam pengelolaan pertanian dan irigasi di Aceh. Keberadaannya sejak masa Kesultanan Aceh menempatkan Keujreun Blang sebagai bagian integral dari hukum adat yang mengatur pola tanam, distribusi air, dan penyelesaian sengketa agraria. Namun, modernisasi, intervensi kebijakan pemerintah, serta perubahan nilai sosial telah mendorong terjadinya pergeseran kewenangan yang memengaruhi eksistensinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran, kewenangan, serta tantangan Keujreun Blang dalam konteks modern, sekaligus mengaitkannya dengan teori teori hukum adat dan implikasinya terhadap pengembangan ilmu hukum. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan hukum normatif yang dikombinasikan dengan analisis kualitatif. Data diperoleh melalui kajian literatur, regulasi adat, peraturan perundang-undangan, serta dilengkapi wawancara dengan informan kunci yang memahami praktik adat Keujreun Blang. Analisis dilakukan dengan menelaah hubungan antara norma hukum adat, praktik lapangan, dan teori hukum adat dalam konteks modernisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Keujreun Blang masih diakui sebagai otoritas lokal, terjadi tumpang tindih kewenangan dengan lembaga formal seperti dinas pertanian dan pengairan. Keujreun Blang juga menghadapi tantangan berupa perubahan iklim, modernisasi teknologi, serta menurunnya kepatuhan generasi muda terhadap hukum adat dan memperlihatkan bahwa perubahan kewenangan Keujreun Blang berimplikasi pada teori living law dan pluralisme hukum, di mana hukum adat tetap eksis sepanjang mendapat pengakuan sosial meskipun berada dalam tekanan hukum formal. Dengan demikian, eksistensi Keujreun Blang tidak hanya memiliki signifikansi praktis dalam pengelolaan pertanian, tetapi juga kontribusi teoritis dalam memperkaya kajian pluralisme hukum dan keberlanjutan lembaga adat di tengah modernisasi. 
Pelestarian Kesenian Wayang Kulit di Kampung Arang Limbung Kabupaten Kubu Raya Kamini, Tri; Firmansyah, Andang; Mirzachaerulsyah, Edwin
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.93627

Abstract

Penelitian ini berfokus pada pelestarian kesenian wayang kulit di Kampung Arang Limbung, Kabupaten Kubu Raya. Wayang kulit adalah salah satu budaya daerah yang mencerminkan jati diri bangsa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa, pertama, wayang kulit telah ada di Kampung Arang Limbung selama kurang lebih 50 tahun, dibawa oleh seniman. Kedua, dalam upaya pelestarian kesenian wayang kulit, dibentuklah sanggar baru, yaitu Sanggar Hamiluhung yang berarti mulia atau agung. Sanggar ini didirikan pada tanggal 19 September 2019 dengan tujuan melestarikan kesenian Jawa, yaitu wayang kulit, di Kampung Arang Limbung. Hal ini sejalan dengan krisis identitas bangsa terhadap budaya daerah. Pelestarian dilakukan dengan memperkenalkan kesenian wayang kulit melalui media sosial, pelatihan bagi siswa SDN 15 Sungai Raya. Ketiga, hambatan yang dirasakan dalam pelestarian kesenian wayang kulit adalah penggunaan bahasa dan fakta bahwa dalam era globalisasi, budaya asing lebih dikenal daripada budaya daerah.
The Islam dan Kearifan Lokal: Pelestarian Tradisi Grebeg Besar Demak Sebagai Wujud Identitas Lokal Hidayat, Rafi; Fu'adah, Laily
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.95229

Abstract

Acara tradisi Grebeg Besar di Kabupaten Demak disambut dengan antusiasme tinggi oleh masyarakat Kabupaten Demak pada setiap penyelenggaraannya. Meskipun demikian, terdapat kurangnya minat dari masyarakat untuk dapat memahami secara mendalam seluruh prosesi acara tradisi ini, termasuk tahapan persiapan, pelaksanaan acara dengan ritual dan simbolisme di balik penyelenggaraan tradisi ini. Tujuannya ditulisnya artikel ini untuk mengumpulkan informasi berupa data yang diambil dari lokasi secara langsung, sekaligus memberikan wawasan kepada masyarakat agar mengenal dan memahami tentang tradisi Grebeg Besar Demak. Metode penelusuran dalam penelitian ini mengaplikasikan model kualitatif dengan pendekatan studi lapangan. Berdasarkan proses pengumpulan data lapangan, dihasilkan bahwa memang dari pihak masyarakat Kabupaten Demak hanya menonton acara Grebeg Besar saja. Akan tetapi, tidak mengetahui secara mendalam apa saja dan bagaimana prosesi Grebeg Besar dapat dilaksanakan. Dari kajian analisis mendalam didapatkan bahwa dalam tradisi Grebeg Besar Demak terdapat sarat akan makna spiritual, budaya, dan sosial. Dimulai dengan prosesi pisowanan sebagai bentuk penghormatan kepada kasepuhan Kadilangu, ziarah makam raja-raja Demak, pembukaan Grebeg Besar, serta berbagai ritual seperti Abon-Abon, arak-arak-arakan Tumpeng Songo, serta iring-iringan Prajurit Patangpuluhan.
Intertwined Spiritualities: Exploring the Acculturation of Sufism and Javanese Mysticism in the Keduk Beji Tradition, Ngawi, Indonesia Yasinatul, Puspa Arum
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.95260

Abstract

This research explores the acculturation of Sufi values and Javanes mysticism as manifested in the Keduk Beji tradition in Tawun, Ngawi, East Java. Indonesia. Beyond the aim of honoring ancestors by cleaning the sacred well, this tradition contains profound elements of self-cleansing, meditation and communal prayer, along with with mass chanting of dhikr and other sacred ritual processions. Whel many studies focus on religious syncretism. This research is crucial because it offers a unique insight into how a specific local tradition serves as dynamic vehicle for spiritual transformation and social cohesion amidst the pressures of modernization. The process of writing this article uses a qualitative approach with the type of anthropology. This research applies Peter L.’s social construction theory through the collection of primary and secondary data, aiming to construct a deeper understanding. Berger & Thomas Luckman. This theory consists of subjective reality, symbolic reality, objective reality, as well as extrenalization, objectification and internalization. Then in order to find the main values contained in the “Keduk Beji” tradition using explorative descriptive analysis. The result of the analysis of this article is that the symbolic use of water in these rituals becomes an important element, symbolizing purification and renewal, while reflecting a deep meaning about life and spiritually. The tradition emphasizes the transformative nature of these practices, which not only enhance individual spiritual experiences but also strengthen community bonds through shared beliefs and values. This research highlights the significance of sustaining the tradition in the context of modernization, showing that Keduk Beji continues to serve as a cultural anchor for the local community. By integrating Sufi principles with Javanese mystical practices, this tradition exemplifies the harmonious coexistence of diverse spiritual heritages. Ultimately, the Keduk Beji tradition is described as a vital expression of the rich cultural and religious identity of Javanese society, demonstrating the continued relevance of spirituality in contemporary society and encouraging a deeper understanding of the complexity of faith and culture.

Page 1 of 2 | Total Record : 20